Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

MELIHAT ABU YAZID

….Seandainya engkau melihat Abu Yazid sekali saja, itu lebih bermanfaat bagimu daripada melihat Allah SWT tujuh puluh kali….

 

Diceritakan bahwa Abu Turab an-Nakhsyabi merasa kagum pada pemuda, lalu ia mendekatinya dan mengerjakan tugas-tugasnya. Sedangkan si pemuda sibuk dengan ibadah. Lalu pada suatu hari Abu Turab berkata kepadanya, “Seandainya engkau melihat Abu Yazid.” Lalu ketika abu Turab berulang-ulang pernyataan, “ Seandainya engkau melihat AbuYazid” kepadanya, sang pemuda menjadi kesal dan langsung berkata, “Celaka kamu, apa yang harus aku perbuat dengan abu Yazid?”

Melihat sikapnya, jiwa Abu Turab bergejolak, ia marah dan tidak dapat menahan diri lagi sehingga berkata, “Celakalah engkau, engkau telah menipu Allah SWT. Seandainya engkau melihat Abu Yazid sekali saja, itu lebih bermanfaat bagimu daripada melihat Allah SWT tujuh puluh kali.” Sang pemuda tercengang dengan ucapan Abu Turab dan mengingkarinya dengan bertanya, “Bagaimana bisa demikian?” Abu Turab menjawab, “Celaka kamu, engkau melihat Allah SWT hanya dari sisimu, lalu ia memperlihatkan dirinya-Nya kepadamu sesuai dengan kemampuanmu. Sedangkan jika kamu melihat Abu Yazid di sisi Allah, maka ia akan memperlihatkan diri-Nya sesuai dengan kemampuan Abu Yazid.”

Sang pemuda pun memahami perkataan Abu Turab, lalu ia berkata, “Bawa saya kepadanya.” Di akhir kisah, Abu Turab dan sang pemuda berdiri di atas bukit untuk menunggu Abu Yazid keluar dari dalam hutan yang penuh dengan hewan buas. Lalu Abu Yazid melintas di hadapan mereka sambil membawa seekor burung di pundaknya. Maka Abu Turab berkata kepada sang pemuda, “Itu dia Abu Yazid, lihatlah.”

Saat sang pemuda melihatnya, seketika itu pula ia pingsan. Lalu Abu Turab menggerak-gerakkan badannya, namun ternyata ia telah meninggal. Maka Abu Turab dan Abu Yazid berusaha menguburkannya. Saat sedang prosesi pemakaman,Abu Turab berkata kepada Abu Yazid, “Wahai tuanku, melihatmu membuat ia meninggal.” Abu Yazid berkata, “Tidak, tetapi temanmu dalam posisi benar. Dalam hatinya bersemayam rahasia yang tidak dapat terungkap oleh dirinya sendiri, lalu ketika ia melihat kita, barulah ia menyingkap rahasia hatinya sehingga ia pun merasa berat menanggungnya karena ia berada di tingkatan murid yang rendah. Karena menanggung beban itulah ia meninggal.

 

Sumber : Ihya’ Ulumuddin Karya Imam Al-Ghazali

Single Post Navigation

28 thoughts on “MELIHAT ABU YAZID

  1. BANDITJAHIL on said:

    🙂

  2. people on said:

    waah…… sekarang kmana mo cari abu yazid?

  3. alexander on said:

    benar banget ……..

  4. sufimuda on said:

    Syekh Abu Yazid Al-Bisthami adalah Maha Guru ke-7 dalam Silsilah Thariqat Naqsyabandiah, terhitung dari Saidina Abu Bakar Siddiq yang memperoleh Ilmu dari Rasulullah SAW dengan perantaraan Jibril AS yang berasal dari Allah SWT
    Mau ketemu Abu Yazid ya cari penerus silsilahnya, penerus keilmuannya, cari seseorang yang punya Tali Keguruan yang bersambung ke Abu yazid, carilah Ahli Silsilah yang terakhir, yaitu Maha Guru ke-36
    Melihat Wajah Maha Guru ke-36 sama dengan Melihat Wajah Abu Yazid karena isinya sama yaitu Nurun ‘Ala Nur…
    Semoga Allah SWT memberikan petunjuk-Nya, Amin

  5. anggota FBI(bukan FPI) on said:

    mas….sufi tu bener?

  6. sufimuda on said:

    ya, sufi itu bisa benar bisa tidak karena sufi adalah orang yang mengamalkan kesufian/tasauf, sedangkan kesufian/tasawuf sudah pasti benar, lewat kesufian/tasawuf kita mengenal Allah SWT dengan sebenar-benar kenal.

  7. hamba'79 on said:

    .Seandainya engkau melihat Abu Yazid sekali saja, itu lebih bermanfaat bagimu daripada melihat Allah SWT tujuh puluh kali….

    ??? ABU YAZID NUR MUHAMMAD ALLAH SWT ???

  8. sufimuda on said:

    ya Abu Yazid adalah pancaran Nur Muhammad yang telah berdampingan dengan Nur Allah..
    “Nurun A’ala Nur…”
    “Cahaya di atas cahaya yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (Surat Annur 35).
    Abu Yazid adalah salah seorang yang dikehendaki-Nya..

  9. Berry pratama on said:

    Kalau anda ingin melihat abu yazid pergilah ke bengkulu,di bengkulu ada penerus silsilah dari abu yazid,yaitu silsilah yang ke 39 dari rasullulah saw.Atau hubunggi no :085267263612

  10. QA management on said:

    niqmatnya orang yg bisa bertatap muka dg Abu Yasid…apa msh mungkin 🙂

  11. sufimuda on said:

    semua bisa terwujud asal lengkan RUKUN dan SYARATNYA 🙂

  12. QA management on said:

    kalo ada seribu orang saja seperti sufimuda ini…ahhh…alangkah indahnya dunia ini 🙂

  13. sufi muda nampaknya sangat menekankan penerima Nur Muhammad itu hanya sampai ahli silsilah ke 36 saja……..
    kenapa tidak dikatakan mulai dari Syaikh Abu Bakar sampai dengan seterusnya………. dan seterusnya…………
    Ada apa ini……?????????

  14. ajak-ajak on said:

    @Didiet
    Berry pratama malah punya Guru silsilah yang ke 39. Kenapa tidak bertanya kenapa? Ada juga di komen artikel lain ada rekan2 yang berGuru silsilah sampai ke 42, 31, atau cuma 12, that’s not the matter. Selama punya Guru yang bisa membawa kita sampai ke posisi sama seperti posisi Abu Yazid, posisinya Abubakar, posisinya Nabi Muhammad SAW, ga masalah silsilah keberapa Mursyidnya.
    Kalau Guru sekedar untuk bercerita tentang Abu Yazid, tentang Abu Bakar, tentang Nabi Muhammad SAW, waah banyak sekali. So, daripada nanya silsilah keberapa, mendingan dijalankan saja biar kita bisa sejalan dengan para ahli silsilah tsb, sejalan dengan para Sahabat, sejalan dengan para Nabi.

  15. @Didiet
    Makasih Mas Didiet udah mampir dan mamberikan komentar disini…
    Jawaban dari ajak-ajak sudah mewakili apa yang ingin saya sampaikan. Terimakasih ajak-ajak atas tanggapannya.

    Mungkin maksud Mas didiet silsilah itu harus dicantumkan lengkap mulai dari pertama sampai ke-36. Kalau itu maksudnya, saya tidak mencantumkan keseluruhan Silsilah disini karena setiap Tarekat punya silsilah tersendiri.

    Sufi Muda hanya mambahas masalah Tasawuf terlepas Terakat apa yang dijalani.

    Siapapun Guru kita, apakah ke-35, ke-36 atau bahkan ada silsilah ke-42 tidak jadi masalah, inti nya kita telah memiliki seorang Guru Mursyid

    Salam

  16. abu jabir on said:

    mereka kafir setelah beriman

  17. lelaki pendosa on said:

    mhn maaf saudaraku abu jabir.
    Siapa yg anda maksud dgn ‘mereka’??!
    Sebb disini sy menyimak yg sdg di bicarakan ada abu yazid, ada abu bakar, ada rasulullah ada Allah swt..dan yg lain lain..

  18. MeAhmad on said:

    Web site aneh… Semoga Allah Subhanahuwata’ala senantiasa menetapkan hidayanya kepadku dengan sebenar-benar ke-islaman dan semoga Allah memberikan hidyah untuk kalian semua.. dengan hidayah islam sebagaimana Rasulullah mengajarkannya ke pada para sahabat.

  19. Ruslianto on said:

    PENYEMBUHAN ALA ABU YAZID AL BUSTHAMI (1)

    Pada kali lain Bayazid berkata: “Jika Allah akan memberikan padamu keakraban dengan diri-Nya atau Ibrahim a.s, kekuatan dalam doa Musa a,s dan keruhanian Isa a,s Maka jagalah agar wajahmu terus mengarah “menatap” kepada-Nya saja, karena Ia memiliki khazanah-khazanah yang bahkan melampaui semuanya ini”.
    Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepadanya: “Selama tigapuluh tahun aku telah berpuasa di siang hari dan bersembahyang di malam hari, tapi sama sekali tidak kuadapati kebahagiaan ruhaniah yang kamu sebut-sebut itu”. Bayazid menjawab: “Kalaupun engkau berpuasa dan bersembahyang selama tigaratus tahun sekalipun, engkau tetap tak akan mendapatinya”. “Kenapa?”, tanya sang sahabat. “Karena”, kata Bayazid, “Perasaan mementingkan diri sendirimu telah menjadi tirai antara engkau dan Allah”. “Jika demikian, katakan padaku cara penyembuhannya”.
    “Cara yang ingin kusampaikan ini, takkan mungkin bisa kaulaksanakan”. Meskipun demikian ketika sahabatnya itu memaksanya untuk mengungkapkannya, Bayazid berkata: “Pergilah ke tukang cukur terdekat dan mintalah ia untuk mencukur jenggotmu. Bukalah semua pakaianmu kecuali korset yang melingkari pinggangmu. Ambillah sebuah kantong yang penuh dengan kenari, gantungkan di lehermu, pergilah ke pasar dan berteriaklah: “Setiap orang yang memukul tengkukku akan mendapatkan buah kenari. Kemudian dalam keadaan seperti itu pergilah ke tempat para Qadhi dan Faqih”. “Astaga!” kata temannya, “Saya benar-benar tak bisa melakukannya.
    Berilah cara penyembuhan yang lain”. “Itu tadi adalah pendahuluan yang harus dipenuhi untuk penyembuhannya”, jawab Bayazid. “Tapi, sebagaimana telah saya katakan padamu, engkau tak bisa disembuhkan”.

    Wass: Sebagai bahan renungan (bersambung),….

    • hasirama on said:

      cerita yg anda sampaikan ini BAGUS!!!

      inilah tujuan kita bertasauf (berthariqat)
      “menyembuhkan penyakit2 yang ada didalam Dada”

      Tasauf itu untuk orang-orang yang mengaku Islam! bukan untuk diluar islam.

      “Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati.” (H.R. Bukhori Muslim).

      jadi buat saudara-saudaraku yang berthariqat berhati-hatilah dalam berkomentar (walau dalam bentuk tulisan), karena komentar anda memperlihatkan siapa dan bagaimana anda.

      nasehat ini berlaku juga untuk saya 🙂

      jadi mohon maaf juga jika ……

      wassalam….

  20. Ruslianto on said:

    PENYEMBUHAN ALA ABU YAZID AL BUSTHAMI (2)

    Alasan Bayazid untuk menunjukkan cara penyembuhan seperti itu adalah kenyataan bahwa sahabatnya itu adalah seorang pengejar kedudukan dan kehormatan yang ambisius.
    Ambisi dan kesombongan adalah penyakit-penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan cara-cara seperti itu. allah berfirman kepada Isa: “Wahai Isa, jika Kulihat di hati pada hamba-Ku kecintaan yang murni terhadap diri-Ku yang tidak terkotori dengan nafsu-nafsu mementingkan diri sendiri berkenaan dengan dunia ini atau dunia yang akan datang, maka Aku akan menjadi penjaga cinta itu”.

    Juga ketika orang-orang meminta Isa a,s menunjukkan amal yang paling mulia, ia menjawab: “Mencintai Allah dan memasrahkan diri kepada kehendak-Nya”. Wali Rabi’ah pernah ditanya cintakah ia kepada Nabi. “Kecintaan kepada Sang Pencipta”, katanya, “telah mencegahku dari mencintai makhluk”. Ibrahim bin Adam dalam doanya berkata: “Ya Allah, di mataku surga itu sendiri masih lebih remeh daripada “sebuah agas” jika dibandingkan dengan kecintaan kepada-Mu dan kebahagiaan mengingat Engkau yang telah Kau anugerahkan kepadaku”.

    Orang yang menduga bahwa mungkin saja untuk menikmati kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Allah, sudah terlalu jauh tersesat, karena inti kehidupan masa yang akan datang adalah untuk sampai kepada Allah sebagaimana sampai pada suatu obyek keinginan yang sudah lama didambakan dan diraih melalui halangan-halangan yang tak terbilang banyaknya. Penikmatan akan Allah adalah kebahagiaan. Tapi jika ia tidak memiliki kesenangan akan Allah sebelumnya, ia tidak akan bergembira di dalamnya kelak; dan jika kebahagiannya di dalam Allah sebelumnya sangat kecil sekali, maka kelak ia pun akan kecil. Ringkasnya, kebahagiaan kita di masa datang akan sama persis kadarnya dengan kecintaan kita kepada Allah sekarang.
    Tetapi na’udzu billah, jika di dalam hati seseorang telah tumbuh suatu kecintaan terhadap sesuatu yang bertentangan dengan Allah, maka keadaan kehidupan akhirat akan sama sekali asing baginya. Dan apa-apa yang akan membuat orang lain bahagia akan membuatnya bersedih.
    Hal ini bisa diterangkan dengan anekdot berikut ini……

    Wass: Sebagai bahan renungan (bersambung),….

  21. Ruslianto on said:

    PENYEMBUHAN ALA ABU YAZID AL BUSTHAMI (3-TERAKHIR)

    Hal ini bisa diterangkan dengan anekdot berikut ini; Seorang manusia pemakan bangkai pergi ke sebuah pasar yang menjual wangi-wangian. Ketika membaui aroma yang wangi ia jatuh pingsan. Orang-orang mengerumuninya dan memercikkan air bunga mawar padanya, lalu mendekatkan misyk (minyak wangi) ke hidungnya; tetapi ia malah menjadi semakin parah.

    Akhirnya seseorang datang; dia sendiri adalah juga seorang pemakan bangkai. Ia mendekatkan sampah ke hidung orang itu, maka orang itu segera sadar, mendesah penuh kepuasan: “Wah, ini baru benar-benar wangi-wangian!” Jadi, di akhirat nanti manusia tak akan lagi mendapati kenikmatan-kenikmatan cabul dunia ini ; kebahagiaan ruhaniah dunia itu akan sama sekali baru baginya dan malah akan meningkatkan kebobrokannya.
    Karena, akhirat adalah suatu dunia ruh dan merupakan pengejawan- tahan dari keindahan Allah; kebahagiaan adalah bagi manusia yang telah mengejarnya dan tertarik padanya. Semua kezuhudan, ibadah dan kajian-kajian tentang keilmuan dari hakekat diri merupakan hal menjadikan rasa tertarik itu sebagai tujuannya dan itu adalah cinta. Inilah arti dari ayat Al-Quran: “Orang yang telah menyucikan jiwanya akan berbahagia”. Dosa-dosa dan syahwat langsung bertentangan dengan pencapaian rasa yang tertarik (seperti) ini.
    Oleh karena itu, Al-Quran berkata: “Dan orang yang mengotori jiwanya akan merugi”. Orang-orang yang dianugerahi wawasan ruhaniah telah benar-benar memahami kebenaran ini, sebagai suatu kenyataan pengalaman, bukan sekadar sebuah pepatah tradisional belaka.
    Pehamahan tentang pengecapan jiwa mereka yang amat jelas tergambar terhadap kebenaran ini adalah benar-benar seorang Nabi, dan bagaimana ia yakin sedang berhadapan dan bertemu dengan Seorang Wali Allah,….sebagaimana missal yakinnya seseorang yang telah mempelajari pengobatan ketika ia mendengarkan omongan seorang dokter. Ini adalah sejenis keyakinan yang tidak membutuhkan dukungan berupa mukjizat-mukjizat, seperti mengubah sebatang kayu menjadi seekor ular yang masih mungkin digoncangkan dengan mukjizat-mukjizat luar biasa sejenisnya yang dilakukan oleh para ahli sihir.

    Pada kesimpulannya jiwa yang diprediksi “tak mengenal” di kala diberi kesempatan hidup di dunia ini, dikatakan buta di akherat karena kelalai-annya…… naifnya ia menyadari “buta” hendak balik ke dunia tak bisa lagi. Na udzubillahi min zalik.

    Wass: Menjadikan ini sebuah renungan, buat saya pribadi dan Sahabat sekalian dan Yang merasa Sakit pun tersembuhkan, hm,..Insya Allah bermanfaat.

  22. alhamdulillah bang Ruslianto …..terimakasih

  23. Ass.
    Seorang murid telah berbakti kepada Abu Yazid selama tiga puluh tahun. Dalam masa yang cukup lama itu setiap kali Abu Yazid bertemu dengan muridnya itu, beliau bertanya siapa namanya. Setelah diberi tahukan beliaupun berlalu dan barulah disuruhnya murid tsb melakukan sesuatu pekerjaan. Hal seperti itu slalu terjadi dan timbulkan rasa heran dihati sang murid, mengapa Abu Yazid slalu lupa dengan namanya, padahal ia menjadi murid telah puluhan tahun lamanya.

    Suatu hari sang murid memberanikan diri untuk bertanya : “Tuan guru, mengapa tuan mempermainkan saya ?, padahal saya telah bekerja dengan tuan sejak tiga puluh tahun yang lalu, tetapi tuan masih juga tidak ingat nama saya”.

    Abu Yazid yang senantiasa tenggelam dalam mengingat Allah, menjawab : “Oleh karena nama Allah itu telah meliputi seluruh sudut hatiku, sehingga aku tidak ingat lagi nama lain kecuali nama Allah”.

    Wass: sMoga bermanfaat.

  24. Terimakasih kak Ruslianto,,

  25. Saya mimpi abu yazid menziarahi saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: