-
Kisah Imam Al-Ghazali Berguru Kepada Tukang Sol Sepatu
Suatu malam disaat orang sedang terlelap, Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat itu masih muda dan sedang berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabbal Qubis Makkah sedang membersihkan kamar mandi Gurunya menggunakan kedua tangannya tanpa merasa jijik dan melakukan dengan penuh ikhlas. Di saat Beliau melakukan tersebut, tiba-tiba Guru Syekh Sulaiman Zuhdi lewat dan berkata, “Kelak tanganmu akan di cium raja-raja dunia”. Ucapan Gurunya itu dikemudian hari terbukti dengan banyak raja yang menjadi murid Beliau dan mencium tangan Beliau salah satunya adalah Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja di Kerajaan Langkat, Sumatera Utara.
-
Detik-detik Wafatnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Jasadnya memang sudah terkubur lebih dari delapan abad. Namun nama dan tauladan hidupnya tetap membekas kuat di kalangan umat Islam. Dialah Syekh Abdul Qadir al-Jailani, ulama sufi kelahiran Persia yang kemasyhurannya setingkat dunia. Syekh Abdul Qadir terkenal sebagai pribadi yang teguh dalam berprinsip, sang pencari sejati, dan penyuara kebenaran kepada siapapun, dan dengan risiko apapun. Usianya dihabiskan untuk menekuni jalan tasawuf, hingga ia mengalami pengalaman spiritual dahsyat yang mempengaruhi keseluruhan hidupnya. Jejak Syekh Abdul Qadir juga dijumpai dalam belasan karya orisinalnya.
-
…Gurumu adalah Guruku Juga… (Selesai)
Mursyid itu SATU. Pada hakikatnya Guru Mursyid itu SATU, karena memang “isi” nya adalah sama yaitu Kalimah Allah Yang Maha Esa. Setiap Guru Mursyid membawa kebenaran dari Rasulullah SAW, menyebarkan Tauhid yang murni agar manusia tidak hanyut dalam kemusyrikan, inilah inti utama dakwah dari Guru Mursyid.
-
…Gurumu itu adalah Guruku Juga…(2)
Guru kita Benar, Guru lain juga Benar. Sangat wajar dan sempurna bagi seorang murid menganggap Gurunya adalah paling utama dan paling hebat di dunia, khalifah utama Rasulullah dan seterusnya. Satu hal yang lazim dalam tarekat memposisikan hanya Guru nya yang bisa menyampaikan orang kepada Tuhan, selain dari itu diragukan. Didikan ini satu sisi sangat bagus, karena memang seorang murid harus fokus kepada satu orang Guru. Bahkan dalam Adab (sopan santun) seorang Guru yang di tulis dalam kitab Tanwiril Qulub karya Syekh Amin al-Kurdi, Guru berhak melarang muridnya untuk berkunjung kepada Syekh lain dan salah satu Adab dari murid tidak boleh berkunjung kepada Guru Mursyid lain tanpa se izin dari Gurunya.
-
…Gurumu itu adalah Guruku juga…
Syukur yang begitu mendalam kepada Allah SWT atas kesehatan dan karunia yang begitu melimpah diberikan di bulan suci ini, diberi kekuatan untuk beribadah baik wajib maupun sunat. Salam takzim yang se khalis-khalisnya kita haturkan kepada baginda Rasulullah SAW, kepada para Sahabat, kepada sekalian Guru Mursyid yang dengan ikhlas membimbing dan menuntun para murid tidak terkecuali saya pribadi sehingga bisa merasakan nikmatnya beribadah di bulan penuh rahmat ini. Walaupun telah berlalu satu minggu, saya mengucapkan selamat memasuki bulan Ramadhan kepada para sahabat sekalian, memasuki bulan latihan menuju kesempurnaan. Tulisan “…Gurumu itu adalah Guruku juga..” terilham dari pengalaman pribadi saya bertemu secara rohani dengan seorang Syekh yang telah lama wafat, artinya Beliau…
-
Setelah Shalat Subuh (3)
Berkunjung atau mendatangi Guru Mursyid walaupun Beliau masih hidup disebut ber ziarah atau sering disebut berziarah kepada Guru Mursyid. Di Awal saya menekuni tarekat, kata ziarah digunakan untuk Guru yang masih hidup terasa mengganggu, bukankah ziarah itu mengunjungi kuburan atau mendatangi tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai spiritual. Kemudian baru saya ketahui bahwa sebenarnya ketika berkunjung kepada Guru Mursyid atau seorang Syekh Tarekat sebenarnya yang dikunjungi bukan sekedar zahir atau fisiknya tapi yang lebih penting adalah mengunjungi rohaninya, itulah sebabnya disebut berziarah. Dalam diri seorang Guru Mursyid tersimpan Nur Muhammad sebagai wasilah bagi seluruh ummat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
-
Setelah Shalat Subuh (2)
Pagi ini badan saya terasa sudah membaik dan segar kembali setelah selama seminggu lebih kondisinya kurang stabil. Saya merasakan kondisi yang benar-benar segar, setelah selesai shalat shubuh tadi saya teringat untuk mencoba menulis karena sudah sekian lama saya tidak menulis. Tentang shalat subuh saya teringat nasehat Guru, “Tidak ada hakikat untuk orang yang meninggalkan shalat maghrib dan subuh” dan saya belum pernah melihat Guru meninggalkan shalat dalam kondisi sakit sekalipun terutama shalat subuh dan magrib. Tentang menulis, bagi saya menuangkan apa yang saya ketahui dalam bentuk tulisan sudah menjadi kebutuhan dan memberikan perasaan bahagia tersendiri bagi saya. Tanggal 20 Juni lalu saya memaksakan diri dalam kondisi sakit untuk berziarah ke…