-
Pendapat Para Tokoh Sufi Tentang Mujahadah
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan Allah) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69). Abu Nadhrah telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, suatu hari, Rasulullah SAW ditanya tentang jihad yang paling utama, Beliau bersabda, “Menyampaikan kalimat yang benar kepada raja yang zhalim.” Mendengar sabda Rasulullah SAW, berlinanglah air mata Abu Said RA. Abu Ali Daqaq berkata,”Barangsiapa menghiasi lahirnya dengan mujahadah, Allah SWT akan mempercantik hatinya dengan musyahadah.”
-
Adab Seorang Murid Kepada Guru (Kedua)
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Di antara adab yang harus dimiliki oleh seorang murid adalah murid tidak diperkenankan berbicara di depan guru kecuali seperlunya, dan tidak menampakkkan sedikit pun keadaan dirinya di depan guru. Dia juga tidak sepatutnya menggelar sajadahnya di depan guru kecuali pada waktu melakukan shalat. Jika telah selesai shalat, hendaknya dia segera melipat kembali sajadahnya. Murid harus selalu siap melayani gurunya dan orang yang duduk diruangannya dengan senang hati, ringan dan cekatan. Seorang murid harus bersunguh-sungguh jangan sampai menggelar sajadahnya sedang di atasnya ada orang yang lebih tinggi tingkatannya. Dia juga tidak boleh mendekatkan sajadahnya kepada sajadah orang yang lebih tinggi itu kecuali dengan izinnnya. Karena hal demikian…
-
Adab Seorang Murid Kepada Guru (Pertama)
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Salah satu adab seorang murid kepada gurunya adalah tidak melawan gurunya secara lahir dan tidak menolaknya dalam batin. Orang yang durhaka secara lahir berarti meninggalkan adabnya. Orang yang menolak secara batin berarti menolak pemberiannya. Bahkan, sikap tersebut bisa menjadi permusuhan dengan gurunya. Karena itu, dia harus bisa menahan diri untuk tidak menentang guru secara lahir maupun secara batin dan banyak membaca do’a: “Wahai Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman terlebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hasyr: 10).
-
ILMU TEBU
Guru saya selalu menyampaikan pesan-pesan moral kepada murid-muridnya lewat cerita pendek yang bersahaja dan mudah untuk dipahami. Disamping cerita pendek, Beliau juga menyampaikan tamsilan-tamsilan tentang hakikat dan makrifat dalam bentuk yang sederhana sehingga bisa diterima oleh semua kalangan baik murid lama maupun yang baru belajar thariqat. Salah satu cerita yang sering Beliau sampaikan setelah zikir bersama (tawajuh) adalah Ilmu Tebu
-
Tidak Menyadari Kesalahan Adalah Suatu Kebodohan
Syaikh Ibnu Atha’illah Diantara kebodohan murid adalah saat jika ia tidak sopan, kemudian hukumannya ditangguhkan, maka ia berkata, “Seandainya ini adalah ketidaksopanan, maka tentu pertolongan akan diputus, bahkan dijauhkan.” Bisa saja ia tidak menyadari bahwa pertolongan Allah dihentikan, sekalipun hanya berupa tidak adanya tambahan. Bisa pula pertolongan itu dijauhkan darinya tanpa ia menyadarinya, sekalipun hanya membiarkan dirimu dan apa yang engkau inginkan.
-
Mengoreksi Diri Sendiri
Syaikh Ibnu Atha’illah Usahamu untuk mengetahui beberapa kekurangan yang ada pada dirimu adalah lebih baik daripada engkau mencari sesuatu yang ghaib dan tersembunyi dalam dirimu Hendaknya kita jangan terkonsentrasi hanya mencari sesuatu yang ghaib, yang tersembunyi di dalam diri kita. Jika kita tenggelam dalam kesibukan mencari yang tidak jelas hasilnya, maka sesuatu yang juga penting menjadi terabaikan. Keghaiban yang tersembunyi di dalam hati kita akan dengan sendirinya dapat ditemukan jika kita telah membersihkan kotoran-kotoran yang berupa kesalahan diri.
-
Istiqamah Itu Adalah Karena Karunia Allah
Jika kamu melihat seorang hamba yang telah ditetapkan Allah untuk menjaga wirid, tapi lama sekali datangnya pertolongan Allah kepadanya, maka janganlah meremehkan. Karena sesungguhnya engkau tidak mengerti tanda-tanda orang yang diberi jalan makrifat dan orang-orang yang dicintai-Nya, maka seandainya tidak ada warid (karunia Allah) tentu tidak ada wirid (istiqamah dalam menjalankan ibadah tertentu).