Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Ikhlas”

Selamat Idul Fitri, sMoga Mencapai Derajat Taqwa dan Ikhlas.

8-Selamat Idul FitriHari ini adalah hari terakhir kita berada di bulan suci Ramadhan, bulan ampunan, rahmat dan pembebasan dari siksa neraka. Ramadhan mengajarkan kepada kita banyak hal, tentang hikmah lapar dan dahaga, tentang saling berbagai kepada saudara dan yang terpenting adalah tentang keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT. Derajat Taqwa sebagai buah dari pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan mudah-mudahan bisa kita raih. Baca selengkapnya…

Setelah Shalat Shubuh (6)

sujud1Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya salat dan banyaknya puasa, tapi karena sesuatu yang bersemayam di hatinya.” (HR at-Tirmidzi).

Dalam hadist di atas Nabi sedang menjelaskan kepada ummat tentang lebih penting kualitas di banding kuantitas, lebih penting nilai dari pada jumlah. Ketika ibadah dilakukan tanpa di iringi dengan kahadiran hati di dalamnya maka ibadah hanyalah gerak jasmani semata atau mengulang gerakan untuk memenuhi kewajiban. Baca selengkapnya…

Kisah Menarik Dahsyatnya Ikhlas Sedekah


Alkisah……Ada seorang mengumpulkan hartanya yang banyak untuk bersedekah sembunyi-sembunyi. Ia kumpulkan uang sampai berjumlah sekian ribu dinar dalam setahun. Sesudah uang nya terkumpul, ia pergi keluar rumah pada malam hari. Dilihatnya ada seorang wanita tidur dijalanan. “Wah, ini orang susah,” begitu kira-kira ia berpikir. Dan, sambil menutup wajahnya, agar tidak diketahui, ia memberikan bungkusan uang itu dan lari, supaya tidak diketahui.


Pada Pagi harinya di kampung itu ribut , ada seoranng pelacur mendapatkan bungkusan uang yang diberikan oleh orang tak dikenal. Maka orang itupun berguman, “Subhanallah!! Salah beri, aku kira dia wanita susah, ternyata pelacur.” “Ya Rabb, setahun kukumpulkan uang untuk dapat pahala sedekah yang sembunyi-sembunyi, ternyata uangku hanya untuk pelacur. Tapi ia tidak putus asa, Dikumpulkannya lagi sekian ribu dinar.
Baca selengkapnya…

keikhlasan 36 persen

oleh : Abu Hafidzh Al Faruq

Qadha dan qadar adalah salah satu rukun iman yang terpaksa kita hapal ketika SD (sekolah dasar) dulu untuk mendapat nilai bagus pada mata pelajaran agama. Kita mempercayai takdir hidup kita masing masing walau tidak mengetahuinya sehingga setiap peristiwa baik dan buruk kita anggap sebagai takdir baik dan takdir buruk. Kalau tengku (ustadz) di kampung kami mengatakan bahwa ketika  manusia hendak dilahirkan kedunia telah ditetapkan terlebih dahulu oleh TUHAN garis hidupnya sebagai takdirnya, jadi apa dia kelak, kapan dan dengan siapa dia kawin sampai kepada kapan matinya. Entah betul atau tidak pendapat tersebut kemudian menjadi perdebatan seru sampai kami SMA (sekolah menengah atas), semisal kalau TUHAN sudah menentukan takdir manusia maka tuhanlah sesungguhnya yang menjadikan manusia baik atau jahat, kalau demikian kenapa TUHAN berfirman ‘aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak berusaha merubah nasibnya’?, dan seterusnya… perdebatan tersebut tidak pernah selesai sampai hari ini, walau demikian saya tak bermaksud hendak membawa debat tersebut ketengah wacana ini.  Lama mengendap di benak kami bahwa perjalanan hidup ini ibarat suatu garis lurus yang disebut takdir dengan panjang garis yang terukur dengan satu satuan umur sehingga pada jarak jarak tertentu dari titik nol ketika manusia lahir, sang manusia mengalami peristiwa peristiwa penting dalam hidupnya dan terus menjalani garis takdirnya secara linear.

Baca selengkapnya…

IKHLAS BERGURU KEPADA WALI ALLAH

 

Kata ikhlas seringkali kita dengar dalam keseharian, sebuah kata yang mudah diucapkan akan tetapi dalam pelaksanaannya tidak semudah pengucapannya. Saya jadi teringat film “Kiamat Sudah Dekat” yang dibintangi oleh Dedi Mizwar. Bagian yang menarik dari film itu adalah disaat Pak Haji (Dedi Mizwar) membuat sebuah sayembara barangsiapa bisa Ikhlas maka dia berhak untuk menikah dengan anaknya. Di akhir cerita, Fandi memenangkan sayembara yang dibuat Pak Haji, dia menemukan hakikat Ikhlas dan itu didapat bukan dari membaca buku akan tetapi dari pengalaman, dia menyadari bahwa dirinya tidak cocok untuk anak Pak Haji yang baik, cantik dan alim, dia menyadari dirinya bukan siapa-siapa dibandingkan dengan saingannya yang kuliah di Mesir yang alim dan religius, dia menyadari kekeliruannya selama ini yang jauh dari Tuhan, disaat kesadaran itu timbul maka dia ikhlas sang pujaan hati dipersunting oleh orang lain demi kebahagiaannya, justru disaat itulah dia menemukan hakikat Ikhlas, dan Pak Haji menikahkah dia dengan anaknya.

Baca selengkapnya…

Post Navigation