Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

keikhlasan 36 persen

oleh : Abu Hafidzh Al Faruq

Qadha dan qadar adalah salah satu rukun iman yang terpaksa kita hapal ketika SD (sekolah dasar) dulu untuk mendapat nilai bagus pada mata pelajaran agama. Kita mempercayai takdir hidup kita masing masing walau tidak mengetahuinya sehingga setiap peristiwa baik dan buruk kita anggap sebagai takdir baik dan takdir buruk. Kalau tengku (ustadz) di kampung kami mengatakan bahwa ketika  manusia hendak dilahirkan kedunia telah ditetapkan terlebih dahulu oleh TUHAN garis hidupnya sebagai takdirnya, jadi apa dia kelak, kapan dan dengan siapa dia kawin sampai kepada kapan matinya. Entah betul atau tidak pendapat tersebut kemudian menjadi perdebatan seru sampai kami SMA (sekolah menengah atas), semisal kalau TUHAN sudah menentukan takdir manusia maka tuhanlah sesungguhnya yang menjadikan manusia baik atau jahat, kalau demikian kenapa TUHAN berfirman ‘aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak berusaha merubah nasibnya’?, dan seterusnya… perdebatan tersebut tidak pernah selesai sampai hari ini, walau demikian saya tak bermaksud hendak membawa debat tersebut ketengah wacana ini.  Lama mengendap di benak kami bahwa perjalanan hidup ini ibarat suatu garis lurus yang disebut takdir dengan panjang garis yang terukur dengan satu satuan umur sehingga pada jarak jarak tertentu dari titik nol ketika manusia lahir, sang manusia mengalami peristiwa peristiwa penting dalam hidupnya dan terus menjalani garis takdirnya secara linear.

Benarkah perjalanan hidup kita linear seperti yang kita duga? Kalau anda belajar atau kuliah pada fakultas kedokteran misalnya apakah pasti anda kelak menjadi dokter dan berprofesi sebagai dokter? Siapa sangka kemarin anda belajar hukum internasional lalu hari ini anda menjadi koki atau chef terkenal? Banyak orang mengatakan kita tidak tau apa yang akan terjadi besok. Sepertinya ada momen momen tertentu yang diakui sebagai “simpang jalan” dalam perjalan hidup yang merubah segalanya dari yang kita duga.

Kalau anda simak sebuah program televisi yang bertema “tolong” dimana diperlihatkan seseorang yang minta tolong kepada orang orang sekitarnya, kemudian banyak yang mengacuhkan sampai tiba pada seseorang yang benar benar ikhlas menolong. Kesemua adegan direkam tanpa rekayasa dan tanpa sepengetahuan sang penolong. Di akhir cerita si penolong diberikan hadiah berupa sejumlah uang tunai oleh program tersebut sebagai imbalan atas keikhlasannya dalam membantu orang kesusahan, lalu dengan rasa keterkejutan dan emosi yang  meluap luap menerima rezeki yang sama sekali tidak pernah diduganya. Jika anda turut menyaksikan acara tersebut saya yakin nurani anda juga akan ikut tergugah untuk setuju memberikan hadiah kepada sang hero tadi sebagai ganjaran atas keikhlasannya. Jikalau manusia mampu mengexploitasi sisi kemanusiaan antar sesamanya untuk dipertontonkan lalu bagaimana dengan TUHAN yang maha pengasih memberikan anda rezeki atau jalan hidup yang jauh lebih baik dari apa yang bisa diberikan manusia dan dari apa yang sedang anda jalankan sekarang jikalau anda suka menolong? Syaratnya juga sama, IKHLAS! Ikhlas demi TUHAN! GURU saya yang sangat saya cintai mengajarkan menjadi ikhlas itu harus belajar, belajar ikhlas namanya. Yang namanya belajar itu harus dipaksa. Awalnya mungkin tidak iklhas tapi kalau sering sering mudah mudahan akhirnya bisa ikhlas beneran.

Kita mungkin curiga kenapa Michael Jackson menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk kegiatan kegiatan amal dan mendonasi lebih dari 200 organisasi sosial di amerika sana, atau ford foundation dari perusahaan mobil terbesar dunia yang menyediakan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi di seluruh dunia atau untuk ukuran lokal Indonesia, beasiswa Toyota lebih banyak dikenal karena selalu diluncurkan setiap tahun untuk siswa dan mahasiswa berprestasi. Dengar dengar Bill Gates si orang terkaya sejagat menyumbangkan 90% dari penghasilannya untuk kegiatan kegiatan sosial, penelitian aids  dan lain lain. Terlepas dari apa keyakinan dan siapa tuhannya,  kenapa mereka begitu dermawan? Sedikit bocoran yang saya dapatkan adalah mereka sangat mempercayai “charity (dermawan)” untuk mendapatkan apa yang mereka beri. Kalau mereka charity dengan uang maka mereka akan mendapatkan uang yang jauh berlipat dari hasil usahanya, atau apa saja yang tidak mereka duga. Kalau mereka memberi “waktu” maka mereka akan mendapat keluangan waktu yang sangat leluasa, kalau mereka memberi kemudahan urusan bagi orang susah maka merekapun mendapatkan kemudahan dalam segala urusan mereka dan seterusnya… Mereka begitu mempercayai TUHAN yang senantiasa memantulkan apa saja objek yang mereka donasikan dalam bilangan pangkat berlipat yang tak terduga. Dalam agama kita Bukankah ALLAH telah memberi sinyal “jika kau pandai bersyukur maka kutambah nikmatmu, jika engkau kufur maka azabku teramat pedih”. Simpang jalan sepertinya menjadi ‘kesempatan untuk memilih’ yang disediakan TUHAN untuk manusia, semacam fasilitas tambahan bagi penumpang VIP yang tidak terdapat di kelas ekonomi.

Hidup memang adalah takdir, namun bukanlah satu garis lurus yang linear. Banyak persimpangan persimpangan yang sesungguhnya telah dipersiapkan untuk menuju arah lebih baik atau sebaliknya. Tanpa kita sadari pilihan pilihan tersebut sesungguhnya kita sendirilah yang memilihnya, begitu banyak rambu rambu dan tanda persimpangan yang kita acuhkan. Seberapa besar kita bersedia membagi rezeki kita untuk TUHAN? Tidak hanya persembahan (sedekah) yang bersifat sporadis, melainkan juga termasuk seluruh penghasilan yang kita dapatkan yaitu zakat!

Nabi berpesan besarnya zakat penghasilan adalah 2,5% . Abang saya mengatakan ‘ah itu kan zakatnya anak anak!’ yang saya artikan sebagai zakatnya para pemula. GURU saya mengajarkan kalau engkau sudah mampu di 2,5% tingkatkanlah menjadi 10%, kalau sudah ikhlas di 10%  tingkatkan menjadi 36% dan seterusnya. Saudara, tak usah pusing dengan angka 36, angka angka itu menunjukkan peringkat atau level. Lalu berapa angka yang maksimal?

Sesungguhnya kita semua berlatih menuju keikhlasan 100% seperti yang selalu kita ikrarkan dalam stiap tegak shalat kita dengan wajah menghadap …Inna shalati, wanusuki, wamahyaya, wamamati,  liLLAhi RABbil ‘alamin… (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk ALLAH tuhan seru sekalian alam…).

Tuhan..

ampunkan kami yang slalu berdusta padamu

hidup matiku hanya untuk ENGKAU

padahal kami sibuk mempertuhankan nafsu kami sendiri!

bimbinglah kami

menggenggam bara sekalipun

tetap di jalan MU

(ila ANTA maqsudi

waridhaKA mathlubi)

ENGKAUlah yang kami maksud

ridhaMU lah yang kami tuju..

Single Post Navigation

30 thoughts on “keikhlasan 36 persen

  1. Tulisan yang sangat luar biasa. Ikhlas mudah di ucapkan tapi sulit dilaksanakan.
    Tulisan Abu Hafidzh Al Faruq mengajarkan kita untuk mempraktekkan Ikhlas

  2. ini menarik sekali, sampai sekarang pun para ulama kalau ditanya tentang takdir jawabnya biasanya akan muter2 karena memang itu rahasiaNya, dengan ikhlas lah kita bisa memahami takdir karena ikhlas bisa juga berarti tiada sangkaan apapun thd Dia, biarlah Dia memberikan yg terbaik buat kita

  3. Ikhlas dengan ridlo Allah swt. Seperti do’a Syekh : “Ya Allah, berikan kepadaku apa saja yang Engkau ridloi..”

    Terimakasih untuk artikel yang penuh inspirasi ini.
    Salam takzim.

  4. bang, gk nyambung tuh.. izin ngoreksi dikit gk papa kan??kalau ayat
    إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم
    diterjemahkan “aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak berusaha merubah nasibnya”seperti diatas dan dihubungkan dgn kemampuan manusia untuk merubah nasibnya meski tanpa kehendak allah itu kurang tepat.
    yang saya fahami dari kitab2 tafsir, maknanya gini:
    Sesungguhnya Allah tidak akan merubah(mencabut kenikmatan yg telah diberikan pada)suatu kaum sampai kaum tersebut merubah keadaan (yang telah berlaku dikalangan) mereka (dari yang awalnya tho’at menjadi maksiat).
    inti ayat itu, selama suatu kaum masih tho’at, allah akan membiarkan mereka dengan semua kenikmatan yg telah allah limpahkan pada mereka, allah tidak akan mengganggu mereka. tapi jika mereka telah berubah menjadi maksiat, barulah allah akan mencabut kenikmatan dari mereka..
    aku gk melihat adanya hubungan ayat itu dgn kemampuan manusia mengendalikan takdir dan nasib..
    sekian… afwan…

    • Assalamu’alaikum
      bismillahirrrahmanirrahim,,,
      menurut pemahaman saya tentang ketetapan Allah itu benar adanya baik itu qadar baik ataupun buruk.
      Saya adalah contoh hamba yang hina bahkan sangat hina dan saya ikhlas kalaupun Allah menempatkan saya di neraka nantinya karena saya memang tidak pantas mendapat surgaNya.
      Karena hidup saya di bumi adalah mencari ridhoNya apakah itu baik atau buruk tidak ada manusia yang bisa mencegahnya.
      Contoh, apabila ada 2 orang hanyut di lautan tanpa makanan apapun’ anda hanya tinggal menunggu waktu apakah memakan atau dimakan.
      Itu kisah nyata dimasa perang jerman dn banyak kisah lain,,,search d google.

      Itu adalah rahasia Allah dan aku hanyalah hambanya yang hina tapi aku ikhlas dan Ridhoe karna aku adalah hambaNya.

  5. happy hell on said:

    osama.
    Pada dasarnya saya rasa aplikasi ayat tsb sudah tepat baik seistilah artikel maupun seistilah osama.
    Artikel diatas menurut saya samasekali tidak mendeskripsikan manusia mengendalikan takdir dan nasib. Semua tetap dibawah kekuasaan Allah SWT seperti halnya ayat yang kurang lebih berbunyi : “…… siapa yang bertakwa padaNya, dialah yang menyelesaikan semua problemnya. Dia kan memberikan rizki dari jalan yg tak diduga. Siapa yg pasrah padaNya, Dia mencukupi sgala kebutuhannya. Dia menyelesaikan urusanNya, Dia menetapkan takdir segala sesuatunya…”
    Sama sprt ayat yg osama bawa, keduanya menyuratkan adanya hukum sebab akibat.
    Allah Maha Adil, Maha Bijaksana. Dia memberikan rumusan pada KallamNya agar manusia bisa memilih jalan hidup mereka. Setelah manusia memilih rumus yg digunakan, barulah Dia Sang Maha Absolut yang menetapkan hasilnya.

    Tentu saja ini hanya pemikiran otak saya. Bagaimana maksud ayat tsb sebenarnya, hanya Allah yang tahu. Jadi mari kita bertanya kepada Allah, apa maksud sebenarnya dari ayat tersebut.
    Atau, kita cari KekasihNya dimuka bumi sekarang ini. Sebagai orang yang dekat dengan Nya, tentulah KekasihNya juga tahu betul makna sesungguhnya dan cara aplikasinya dari seluruh isi Al Quran.

    Salam

  6. salam sukses selalu ….shobat…..

    Siapa Bilang Noordin M Top Mati

  7. percaya atau tidak percaya aku harus yakin Tuhan ada didiriku salam kenal dari kami di http://batjoe.wordpress.com
    semoga berkenan berkujung ke rumah kami yang masih hijau..

  8. menurut saya (murni menurut saya, bukan berdasarkan dalil), taqdir bukanlah berarti kesewenang-wenangan Allah, tetapi lebih menunjukkan sifat Yang Maha Tahu, dimana Allah sudah mengetahui bahkan sebelum langit dan bumi ini diciptakan, bahwa disebabkan oleh beberapa faktor dan kondisi, seseorang akan menjadi apa kelak.

    Jadi, takdir bukan berarti Allah dengan sewenang2 menentukan seseorang masuk neraka atau masuk surga.

    Disini, manusia diberi kemampuan untuk mengusahakan yang terbaik buat dirinya.

    Wallahu a’lam…

    .

  9. qarrobin on said:

    Rabbi Zidni Ilmi

    salam takzim

  10. celetukansegar on said:

    Ikhlas itu susah sekali, Bos!

    Meskipun begitu suatu ketika saya pernah berkata, ikhlas itu mudah.

    Bagaimana caranya? Caranya lakukan sesuatu dengan spontan, tanpa berfikir panjang.

    Dan berlatihlah melakukan tes amaliyah semacam shodaqoh. Misalnya kita biasa memberikan uang sebesar Rp 1.000,- di kaleng Masjid tiap Jum’at, coba ubah menjadi Rp 10.000,- Kita kepikiran apa nggak, jika menjadi kepikiran besok Jum’atnya lakukan lagi sampai 3x. Jika 3x masih kepikiran, siksa pikiran kita, dengan meningkatkan jumlah amaliyah menjadi Rp 100.000,- . Meskipun terlihat ekstrim cara ini, namun sebenarnya ini adalah salah satu cara terindah untuk melakukan cek validitas terhadap keimanan kita.

    Karena sebagian daripada kita suka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tak penting, tapi ketika untuk bersedekah pelitnya nggak ketulungan!

  11. KALAU KAMI 35% BUKAN 36%.MAKLUM TIDAK DITAMBAH2 (ASLI)

  12. KangBoed on said:

    Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh..

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  13. Marhaban Ya Ramadhan
    Mohon Maaf Lahir Bathin.
    Semoga puasa kita dapat diterima Allah SWT
    amin

  14. Assalamu’alaikum,

    Mohon maaf lahir dan bathin.
    Selamat beribadah di bulan Ramadhan ini.
    Semoga blog ini dapat memberikan pencerahan dan pemahaman yang terbaik bagi para pengunjungnya.

    Salam.

  15. Abu Ridho on said:

    Sering kita dengar argument sahabat-sahabat kita yang menyatakan, misalnya : ” Walau saya hanya bisa ngasih “segini” yang penting ikhlasnya, kan?”.
    Tentu kebanyakan kita akan menjawab : ” Iya lah..! saya setuju !”.
    Namun kita juga mungkin bisa menjawab hanya dengan tersenyum, apalagi kalau kita sudah ada sedikit gambaran nita dari ucapannya.

    Dalam penegrtian ikhlas yang luas, tentu kita akan sering berucap : Ya robbana, biyadikal khoir, innaka ‘ala kulli syai’ing qodir.

  16. @mas jontor..
    35%, bukan 36%, ga dtambah2in, ASLI.

    Uhmmm menurutku, yg makin dkt menuju 100 lbh ok d,, selisihnya pun makin dikit,, dmana slhnya?
    tp itu mnurutku lhoo..
    yg masalah itu yg 0%..hehe

  17. bagus tuh….

  18. menyentuh banget tuh kata”….
    so sweet

  19. saya sangat gembira dgn tapsir yg berbunyi ALLOH tdk akan merubah suatu kaum klw kaum itu sendiri tdk mau merubahnya

  20. ikhlas itu gak usah dibikin repot, misal kalo ada masjid yg butuh sumbangan karena atapnya bocor pada musim hujan trus kita dimintai sumbangan, kalau kita mikir2 ikhlas nggaknya sulit lho mending lgsng aja nyumbang yg banyak. Rp. 5000 ikhlas tp atap nggak bisa segera tertutup tapi kalo 200rb gak ikhlas tp atap segera tertutup, pilih aja yg 200rb. ntar lama2 jg akan ikhlas. Ini sistem belajarku dulu harus dipaksa

  21. Gak usah ihlas-ihlasan yang penting ditandangi/ dijalankan…

  22. semuanya milik Allah dan akan kembali ke Allah……kenapa harus takut kehilangan?maka ikhlaskanlah!teruslah belajar untuk ikhlas,ikhlas dan ikhlas…..!

  23. Salam.. Mmbaca tulisan diatas jd teringat almarhum teman saya seangkatan d Pesantren dan satu guru dbawah bimbingan Al-‘Allamah KH. M. Zaini Abd. Ghani (Guru Sekumpul), bbrp hari sblm wafat, teman saya yg masih lajang tsb menyedahkn hartanya sampai habis (hanya trsisa baju dbadan dan sdkt uang biaya penguburan). Luar biasa..

  24. Aslmkum wr wb.

    Beginilah cara2 orang berilmu mngajarkan ilmunya. Spt kang Abu Hafidzh al Faruq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: