Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Nasehat Imam al-Ghazali

Jika sampai saat ini masih ada orang yang menolak Tasawuf dan segala praktik dzikir dalam Tarekat adalah hal yang wajar karena ilmu dalam agama tersebut berlapis atau bertingkat. Antara satu tingkat dengan tingkat lain kelihatan berbeda namun pada hakikatnya sama. Anak kelas 1 SD berhitung dengan memakai jari tangan karena jumlah hitungan masih bisa dihitung oleh tangan, cara ini tidak lagi diperlukan oleh anak SMP karena hitungan mereka sudah lebih banyak dan rumit. Cara membaca anak SD dengan suara keras dan nyaring tidak berlaku di SMP apalagi di Perguruan Tinggi tapi tujuannya sama yaitu membaca agar memperoleh ilmu.

Imam al-Ghazali sebagai contoh awalnya tidak sepakat dengan pemahaman Tasawuf tapi kemudian Beliau menerimanya. Al-Ghazali berkata, “Pada awalnya aku adalah orang mengingkari kondisi spiritual orang-orang saleh dan derajat-derajat yang dicapai oleh para ahli makrifat. Hal itu terus berlanjut sampai akhirnya aku bergaul dengan mursyid-ku, Yusuf an Nasaj. Dia terus mendorongku untuk melakukan mujahadah, hingga akhirnya aku memperoleh karunia-karunia ilahiyah”.

Kalau anda melihat ada ustad berpendapat bahwa tasawuf sebagai ajaran menyimpang dari Islam, itu tidak aneh karena seperti saya kemukakan di awal tulisan bahwa agama itu berlapis, kalau di SD anda benar maka belum tentu di SMP cara dan pemahaman anda tetap benar. Imam al-Ghazali dengan tegas mengatakan, “”Bergabung dengan kalangan sufi adalah fardhu ‘ain. Sebab tidak seorang pun terbebas dari aib atau kesalahan kecuali para nabi”.

Berikut saya kutip nasehat dari Imam al-Ghazali tentang betapa pentingnya seorang memiliki Guru dalam menempuh jalan kepada Allah SWT, agar selamat dan sampai kepada tujuan.

“Di antara hal yang wajib bagi para salik yang menempuh jalan kebenaran adalah bahwa dia harus mempunyai seorang mursyid dan pendidik spiritual yang dapat memberinya petunjuk dalam perjalanannya, serta melenyapkan akhlak-akhlak yang tercela dan menggantinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji. Yang dimaksud dengan pendidikan di sini, hendaknya seorang pendidik spiritual menjadi seperti petani yang merawat tanamannya. Setiap kali dia melihat batu atau tumbuhan yang membahayakan tanamannya, maka dia langsung mencabut dan membuangnya. Dia juga selalu menyirami tanamannya agar dapat tumbuh dengan baik dan terawat, sehingga menjadi lebih baik dari tanaman lainnya. Apabila engkau telah mengetahui bahwa tanaman membutuhkan perawat, maka engkau akan mengetahui bahwa seorang salik harus mempunyai seorang mursyid. Sebab Allah mengutus para Rasul kepada umat manusia untuk membimbing mereka ke jalan yang lurus. Dan sebelum Rasulullah Saw. wafat, Beliau telah menetapkan para khalifah sebagai wakil Beliau untuk menunjukkan manusia ke jalan Allah. Begitulah seterusnya, sampai hari kiamat. Oleh karena itu, seorang salik mutlak membutuhkan seorang mursyid.”

“Murid membutuhkan seorang mursyid atau guru yang dapat diikutinya, agar dia menunjukkannya ke jalan yang lurus. Jalan agama sangatlah samar dan jalan-jalan Syetan sangat banyak dan jelas. Oleh karena itu, jika seseorang yang tidak mempunyai Syaikh yang membimbingnya, maka pasti Syetan akan menggiringnya menuju jalannya. Barang siapa berjalan di jalan yang berbahaya tanpa petunjuk, maka dia telah menjerumuskan dan membinasakan dirinya. Masa depannya ibarat pohon yang tumbuh sendiri. Pohon itu akan menjadi kering dalam waktu singkat. Apabila dia dapat bertahan hidup dan berdaun, dia tidak akan berubah. Yang menjadi pegangan seorang murid adalah Syaikhnya. Maka hendaklah dia berpegang teguh kepadanya.”

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Dia akan memperlihatkan kepadanya penyakit-penyakit yang ada di dalam jiwanya. Barang siapa mata hatinya terbuka, niscaya dia akan dapat melihat segala penyakit. Apabila dia mengetahui penyakit itu dengan baik, maka dia dapat mengobatinya. Namun mayoritas manusia tidak dapat mengetahui penyakit-penyakit jiwa mereka sendiri. Seorang di antara mereka dapat melihat kotoran di mata saudaranya. Tapi dia tidak dapat melihat kotoran di matanya sendiri. Barang siapa ingin mengetahui penyakit-penyakit dirinya, maka dia harus menempuh empat cara. Pertama, dia harus duduk di hadapan seorang mursyid yang dapat mengetahui penyakit-penyakit jiwa dan menyingkap aib-aib yang tersembunyi. Dia harus mengendalikan hawa nafsunya dan mengikuti petunjuk mursyidnya itu dalam melakukan mujahadah. Inilah sikap seorang murid terhadap mursyidnya atau sikap seorang pelajar terhadap gurunya. Dengan demikian, mursyid atau gurunya akan dapat mengenalkannya dengan penyakit-penyakit yang ada dalam jiwanya dan cara mengobatinya.”

sMoga bermanfaat…

Single Post Navigation

6 thoughts on “Nasehat Imam al-Ghazali

  1. Nur Afrianti on said:

    Assalamualaikum , maaf saya mau tanya. Pada saat saya begabung dengan taekat, mursyid saya sudah almarhum. Bagaimana saya bisa mendapatkan bimbingan tarikat sesuai amalan yang telah diajarkan?

    • Wa’alaikum salam.
      Ketika Mursyid telah wafat, Beliau pasti telah mempersiapkan penerus berikutnya, maka berguru lah kepada khalifah yang ditunjuk sebagai pengganti Guru.
      Demikian

      • Nur Afrianti on said:

        Musyid saya adalah Almarhum Ayahanda SS. Khadirin yahya. Namun beliau telah wafat pd saat sya bergabung. Dan saya skrg sudah lama tidak ke surau. Krn setiap ke surau saya hanya berdzikir,. Saya fikir akan ada semacam pengkajian ilmu islamnya. Tp bbrpa bulan saya disurau tidak ada semacam majelis ta’lim.

  2. esa iakandar on said:

    assalamualaikum bangda… andai bangda deket dekat guru. tolong sampaikan salam ku bangda… karena saya belum pernah bertemu dgn guru. saya baru masuk toriqoh 2bulan yg lalu. doakan saya tetap istiqomah bangda..

    • Wa’alaikum salam.
      Dekat kepada Guru ada dua jenis yaitu dekat dzahir dan dekat bathin. Kadang kala orang keseharian dekat secara fisik dengan Guru akan tetapi secara bathin jauh dari Guru, namun ada pula orang yang secara fisik tidak berdekatan dengan Guru namun bathinnya dekat. Uwais al-Qarni adalah salah seorang contoh manusia yang dekat bathin dengan Rasulullah SAW tapi secara fisik jauh.
      Murid yang merasakan kerinduan kepada Guru nya adalah tanda dia dekat dengan Gurunya. Tugas seorang murid adalah berusaha selalu mendatangi Guru nya secara fisik agar bathin Guru senatiasa mendatanginya.
      Saya ikut berdoa semoga bang Esa bisa dekat secara zahir dan bathin dengan Guru…
      Salam

  3. saya dari surau baitul amin karawang jawa barat bangda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: