Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Bahaya di Balik slogan “Kembali ke al-Qur’an dan Sunnah”

alquranAnda mungkin sering mendengar kata-kata seperti judul di atas, anda di nasehati untuk kembali ke Al-Qur’an dan Hadist. Sekilas nasehat tersebut baik, tentu saja baik karena kita dianjurkan untuk menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup, tapi kalau direnung lebih dalam kita juga wajib bertanya, apakah semua orang diberi kebebasan untuk menafsirkan al-Qur’an? Kalau anda ada persoalan kemudian buka al-Qur’an dan Hadist kemudian memahami sendiri? Lalu dimana anda mau letakkan pendapat para ulama yang telah menyusun tafsir dan penjelasan lengkap selama 1400 tahun?

Ciri khas aliran yang muncul 100 tahun lalu di tanah arab tidak lain menjauhkan ummat dengan Ulama dengan berbagai cara, mulai dengan menghancurkan kuburan ulama dengan dalih syirik, melarang menghormati ulama dengan alasan dalam ajaran Islam dilarang mengkultuskan manusia, termasuk slogan di atas, “Kembali ke al-Qur’an dan Hadist” dengan slogan itu ummat tidak lagi perlu bertanya ke ulama, setiap manusia diberi kedudukan yang sama di hadapan Allah termasuk dalam menafsirkan al-Qur’an.

Slogan ini kemudian melahirkan orang-orang yang “sok tahu” tentang al-qur’an, kemudian dengan mudah menvonis orang dengan ayat-ayat yang dipahami dengan keterbatasan ilmunya. Saya sendiri sudah kenyang melihat jenis ulama gadungan, baru rajin shalat 3 bulan dan membaca al-Qur’an terjemahan, kemudian dengan mudah mengeluarkan “fatwa”, yang ini sesat, ini bid’ah, ini tidak sesuai al-Qur’an dan Hadist dst.

Lahirnya orang-orang yang dangkal memahami agama ini memang dirancang oleh kelompok tertentu, saya tidak berani menuduh mereka Yahudi atau orientalis, anda bisa menyebut mereka dengan sebutan yang anda sukai, dengan tujuan agar ummat ini mudah di ombang ambing seperti buih di lautan. Terputusnya ummat dengan Ulama Pewaris Nabi akan mudah bagi mereka kemudian menyodorkan ulama versi mereka, andai pun memahami al-Qur’an hanya sebatas tekstual, yang tertulis semata.

Selama 100 tahun ummat Islam telah berhasil di perdaya, coba anda lihat hasilnya, ayat-ayat tentang jihad dimaknai apa adanya, maka lahirnya al-Qaida, kemudian ISIS dan lain-lain, diantara sesama muslim jadi saling mencurigai, ini hasil unggul produk “Kembali ke al-Qur’an dan Hadist” yang di dengungkan 100 tahun lalu, slogan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Tulisan ini tolong dipahami dengan kepala dingin, saya tidak sedang mengkritik al-Qur’an dan Sunnah dan tidak pula melarang orang berpedoman kepada keduanya, yang saya kritik adalah cara orang memahami keduanya, memahami tanpa dengan bimbingan. Menafsirkan al-Qur’an dengan akal pikiran akan membuat manusia tersesat, Nabi memberikan nasehat :

“Barang siapa yang menafsirkan al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya dari api neraka” (HR. Muslim)

Dari awal Nabi sudah khawatir akan muncul suatu generasi yang dengan sekehendak hatinya menafsirkan ayat al-Qur’an. Siapa yang paling paham dengan firman Allah? Tentu saja Nabi dan siapa orang paling paham dengan Nabi? Tentu sahabat, dan siapa yang paling paham dengan sahabat? Tentu saja orang yang pernah hidup dengan sahabat Nabi, hubungan berantai itu yang menyebabkan Islam lestari hingga hari ini.

Paham yang di usung 100 tahun lalu tersebut kemudian menafikan mazhab, dengan alasan karena mazhab ummat ini terpecah, kemudian dengan alasan ini pula slogan “Kembali ke al-Qur’an dan Sunnah” terasa sangat masuk akal, akhirnya seluruh orang dengan gaya masing-masing menartikan al-Qur’an menurut akal pikirannya, hasilnya TERSESAT!.

Pemikiran paham yang muncul 100 tahun lalu tersebut memang rancu, satu sisi anda di suruh mengikuti al-Qur’an dan Sunnah, mengikuti ulama salaf, tapi sisi lain anda dilarang mengikuti mazhab, bukankah Imam Mazhab tersebut termasuk ulama salaf?

Imam Mazhab menurut saya ibarat ahli masak, Koki terkenal yang mempunyai resep masak, kemudian resep itu diwariskan dan dipakai sekian lama dan terbukti memang sangat enak. Ibarat masak kambing, ada berbagai jenis seperti: kari, rendang, sop dan sate, ke empat jenis ini mempunyai keungulan dan kelemahan masing-masing, silahkan anda mengikuti menurut kebutuhan masing-masing. Bagi sebagian orang kari kambing adalah makanan yang sangat cocok untuk mereka, bahan-bahan pendukung seperti kelapa dan rempah-rempah kebetulan banyak di daerahnya, sebagian yang tinggal didaerah tanpa buah kelapa, sate atau sop adalah pilihan paling bagus. Semua jenis masakan berdasarkan resep warisan koki terkenal tersebut sangat baik, karena telah diteliti oleh mereka.

Kemudian muncul satu golongan (100 tahun lalu) yang menolak bahkan membuang resep-resep bagus ahli masak yang telah terbukti selama 1000 tahun ampuh dan hebat, mereka membuang semua resep, bagi mereka gara-gara resep masakan kita jadi tidak kompak, semua orang harus kembali ke alamiah, tidak perlu bumbu-bumbu, itu semua bid’ah. Akhirnya orang disuruh makan daging mentah, hasilnya: hambar dan sakit perut!

Cara terbaik agar kita selalu mendapat bimbingan dari Allah adalah berguru kepada orang yang mempunyai hubungan baik dan dekat dengan Allah, orang-orang yang memahami firman Allah dengan hati yang disinari oleh cahaya-Nya. Menutup tulisan ini saya kutip firman Allah dalam surat an-Nahl 43 :

“…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]

Single Post Navigation

82 thoughts on “Bahaya di Balik slogan “Kembali ke al-Qur’an dan Sunnah”

Navigasi komentar

  1. Hatur nuhun yai sufimuda….

  2. Tindakan Yg cukup bijak adl berdoa. Doakan saja agar diri kita, keluarga kita, umat Muslim Indonesia dan seluruh dunia selalu diberikan taufik dan hidayah Allah Swt dan sll diberi petunjuk kejalan yg lurus yi jalannya orang2 yg telah diberi nikmat, bukan jalannya orang2 yg dimurkai Allah dan bukan pula jalannya orang2 yg sesat. Aamiin Yra.

  3. terima kasih artikel nya Abang….

    di beberapa literatur surat An Nahl 43, secara umum diterjemahkan begini :

    “…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan* jika kamu tidak mengetahui…”

    *) orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab

    padahal kalimat asli dalam latin berbunyi:

    “…fais-aluu ahla aldzdzikri in kuntum laa ta’lamuuna…”

    ahli dzikir

    • Betul, Ahli Dzikir diterjemahkan menjadi orang2 mempunyai pengetahuan akhirnya makna jadi beda. Spt juga kata “Waliyammursyida” dlm surat al kahfi 17 diterjemahkan menjadi “pemimpin”. Makna sebenarnya Wali Mursyid, Sang Pembimbing atau Pemberi Irsyad (petunjuk)

      • salam bang sufi..

        benar apa yg di tulis bang sufimuda,
        kalau Paham yang di usung 100 tahun lalu itu lebih sibuk mencari cari kesalahan2 saudara muslim sendiri dari pada berlombah-lombah beribadah kpd ALLOH.
        dan parahnya lagi begitu mudah mengkafirkan sesama muslim.

        mohon maaf pabila kata2 saya kurang berkenan maklum anak-anak 😋 yang masih butuh belajar dan belajar.

        WASSALAM ..
        oh ya mohon di balas email saya bang sufi, terima kasih

  4. Fenomena ini banyak sekali di hembuskan kepada generasi muda, khususnya di lingkungan kampus kampus, sehingga yang baru saja mengenal agama, seolah seolah mereka merasa baru dilahirkan, dan merasa paling pintar dalam mencari pembenaran. Firman Tuhan sering diterjemahkan oleh pemikiran sendiri berdasar akal dan logika. Semoga generasi Muslim Indonesia lebih arif dan bijaksana dalam menanggapi fenomena ini.

  5. knp harus kpd ahli dzikir,karna mnurut pemahan saya orang yg ahli berdzikir ,alloh swt mengaruniainya ilmu laduni yaitu suatu ilmu gabungan antara pengetahuan dan pengalaman,yg langsung alloh berikan dari sisiNYA.

  6. pandangan yg sangat bijak dan tepat…. alhamdullilah

  7. Terima kasih..tulisannya sangat bermanfaat untuk menyadarkan kita semua….belajar agama tanpa bimbingan guru yg adil akan dibimbing oleh syaitan, maka rusaklah ilmu dan akhlaknya.

  8. Sae 🙂 nanti tk ijin share

  9. Islam itu ada untuk membentuk peribudi luhur dan Islam adalah kafah. Kafah kepada si pemilik Rahmat yaitu Junjungan Rasullulah SAW. Dengan berlindungnya Junjungan Rasullulah maka mewariskan 3 hal yaitu: 1. Ulama Pewaris Nabi; 2. Quran; dan 3. Hadist.

    Saat ini yang di populerkan hanya no 2 dan no 3 saja sedangkan Ulama Pewaris Nabi yang merupakan salah satu wasiat Nabi dilupakan sehingga Quran itu hanya menjadi musaf saja……!!!!

    Belajar agama hanya berdasarkan buku dan yang mengaku ulama saja… sehingga apa yang menjadi isi Quran tidak menjadi KONGKRET, FAKTA DAN NYATA….!!!!

  10. MasyaAlloh, tulisan abang ini benar-benar indah(menyejukkan) tanpa menggurui. Ditunggu yaa bang tulisan-tulisan berikutnya.

  11. Tulisan yang bagus dan informatif sekali, biasanya kaum sempalan macam Wahabi yang dangkal udah marah-marah pas baca tulisan ini hi hi hi….

    Hayo ada yang sensi gak? Hihihi

  12. Saya melihat dan merasakan bahwa ini diawali dengan masuknya para “ulama” ke dalam ranah politik sehingga, Karena keterbatasan keterampilannya dalam berkomunikasi, maka menjelekkan ulama yg lain agar memilih partainya, nemilih dirinya.

    Namun….ada benarnya juga “kembali ke alquran dan alhadits”, bukankah ada hadits (maaf jika salah) taroktu fiikum amroini ….. (Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang jika kalian memegang keduanya secara erat maka tidak akan tersesat selamanya).

    Ditambah lagi, banyak (maaf) “ulama” yang “ngawur”.
    Ko?

    Ingatkah saat bulan romadlon kemarin yg menampilkan tarawih 20 rakaat ditambah witir selama 8 menit?

    Lantas ulama yang sudah kondang mengomentari kira2 berkata “yaahhhh….gapapa”.
    Nah….mestinya, dipilih suatu jawaban yang masuk akal dan melegakan, padahal saat mereka tarawih dan witir toh, yang disembah juga Allah, mengapa dibedakan antara shalat wajib dan tarawih?

    Saya khawatir pula jika pendapat para ulama dipatuhi 100% tanpa referensi alquran dan alhadits, jika “ulama” tadi “ngaco”.

    Sudah pernahkah mendengar pendapat bahwa “orang Islam harus kaya”?

    Padahal, menurut saya, kaya adalan suatu hasil dari takdir Allah swt yg umumnya didapat dengan kerja keras. Jadi, menjadi kaya bukanlah suatu keharusan melainkan diusahakan.
    Jika dalil itu benar maka seolah-olah orang Islam yg tidak kaya berada pada kedudukan yang salah. Apakah sahabat Ummar bin Khottab ra kaya?
    Apakah sahabat alghifari ra kaya?
    Jika pada akhirnya tidak kaya sampai akhir hayat maka jika berdasar dalil itu, mereka sahabat yg mulia rodhiya llooHu anHum “salah” dalam ber-Islam, nu’uudzu billaaHi min dzaalik.

    Nah….mengapa saya ungkapkan ini?

    Dalam pikuran saya, mestinya “da’i” muda yg berdakwah seperti itu dipanggil dan dinasihati untuk kembali ke jalan yg benar.
    AsyHadu an las ilaaHa illa llooH
    Wa asyaHadu anna muhammadan= rosuulu llooH

    WallooHu a’lam bishshowaab
    Alafwu minkum

  13. Ping-balik: Saya Tidak Tahu | Sufi Muda

  14. Tapi ini saya agak gak setuju karna lahirnya alqaeda dan isis bukannya dari invasi amerika dan pembunuha pembunuhan yang di lakukan kaum syiah ???

  15. dodi tanjung on said:

    alhamdulillah
    trmksh bngda sm atas artikelnya
    klau saya pilih smua resep yg di atas kari ,sop,soto,sate krna smu resepnya mdah di tmui dan saya tidak mau hnya milih satu resep dan menolak resep lain

  16. mau tanya kepada bung sufi muda, mohon penjelasan / ulasan tentang:
    1. pendapat seorang pimpinan sebuah majlis : daging anjing termasuk yg tidak diharamkan oleh Allah sbgmn disebutkan dalam Quran.
    2. Al Quran Surat An Nahl (16) : 115-116 dalam terjemahannya berbunyi:
    sesungguhnya Allah “hanya” mengharamkan ….dst
    mengapa dalam banyak sumber terjemah ada kata “hanya” . kalau ditranslate arab-indonesia darimana muncul kata “hanya”?
    apakah ada asbabun nuzul nya atau apa/ bgmn?
    mohon penjelasannya.
    terima kasih.

    • Kalau merujuk Surat An nahl memang tidak disebut anjing Haram.
      Menurut mazhab Syafii, yang memasukkan anjing kategori Haram dgn dalil hadist.
      Dengan dalil hadist yang sama mazhab Maliki tidak mengharamkan.
      Mungkin sahabat2 pembaca sufimuda.net bisa membantu memberikan jawabannya, sy persilahkan…

  17. Juga jangan cepat menyimpulkan orang yg berkata kembali ke alquran dan hadist diterjemahkan dengan ” menafsirkan sendiri “. Bisa jadi maksudnya janganlah menyimpang dari kedua kitab tsb .

  18. saya sering tertawa sndiri kalau ada orang yang bilang terjadi pembunuhan/pembantaian yg di lakukan oleh syiah, kalau memang terjadi pembantaian yg di lakukan oleh syiah yang dateng itu pasukan PBB bukan ISIS, dan kenapa ISIS datang ke irak yang notabenenya berpenduduk mayoritas suni bukanya iran atau libanon, saya bisa menangkap pesan yg di sampaikan oleh SUFIMUDA bahwasanya gerombolan radikal itu muncul akibat pemahaman yang sangat kurang terhadap Al Qurran sehingga mudah di hasut dengan mencatut bagian dari surat2 tertentu dalam al quran tanpa penafsiran yang benar adanya dari ahli tafsir terdahulu,

  19. Firman Allah tabaraka wa ta’ala :
    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. KEMUDIAN JIKA KAMU BERLAINAN PENDAPAT TENTANG SESUATU, MAKA KEMBALIKANLAH IA KEPADA ALLAH (AL QURAN) DAN RASUL (SUNNAHNYA), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa 59)

    Allah tidak menyuruh untuk kembali kepada kyai atau ustadz atau habib atau ulama atau yang lainnya, tetapi kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

    kembali kepada Quran dan Sunnah bukan berarti memahami Quran dan Sunnah langsung dengan akal pikiran sendiri.
    kembali kepada Quran dan Sunnah dilakukan ketika menemui perbedaan dalam suatu permasalahan. sedangkan perbedaan dalam suatu permasalahan itu terjadi di kalangan ulama.

    jika kita menemui perbedaan dalam suatu permasalahan, kemudian kita serahkan kepada ulama, maka ini akan memupuk perselisihan dan akan menyebabkan perpecahan.

    Adapun QS An-Nahl 43 (dan Al-Anbiya’ 7) merupakan tahapan awal seseorang ketika belajar tentang agama. urutannya adalah sebagai berikut :
    1. kewajiban menuntut ilmu agama : “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)
    2. bertanya kepada ulama jika tidak mengetahui : QS An-Nahl 43 dan Al-Anbiya’ 7
    3. kembali kepada Quran dan Sunnah ketika menemui perbedaan pendapat : QS An-Nisa 59

    • Kembali ke Al Qur’an Hadist Inti nya kan bertanya kepada ulama, anda boleh menyebut ulama tsb Kiayi, habib atau ustad.
      Uraian anda mempertegas bahwa berpedoman kepada al Qur’an hadist bukan menafsirkan menurut akal masing2 tapi bertanya kepada yang ahli bidang tsb.

      • saya setuju dengan anda bahwa tidak boleh menafsirkan Quran dan Sunnah menurut akal pikirannya sendiri, melainkan harus di bawah bimbingan ulama.
        dan memang Wahabi atau Salafi yang sedang anda kritik slogannya tidak pernah meninggalkan ulama.
        kami juga mempelajari kitab tafsir seperti At-Thabari, Ibnu Katsir dan lainnya.
        kami juga mempelajari kitab syarh seperti Fathul Bari dan lainnya.

        bertanya kepada ulama adalah ketika tidak mengetahui suatu persoalan.
        kembali kepada Quran dan Sunnah adalah ketika menemui perbedaan pendapat di antara ulama.

        keduanya dilakukan dalam keadaan yang berbeda.

        kalau perbedaan pendapat dikembalikan kepada ulama, -sedangkan perbedaan itu ada di kalangan ulama-, ini sama saja dengan memupuk perselisihan dan menciptakan perpecahan.

      • kembali kepada Quran dan Sunnah tidak hanya dilakukan oleh seorang penuntut ilmu, tetapi juga dilakukan oleh seorang ulama.

        seorang ulama apabila menemui perbedaan pendapat dengan ulama lain, dia bukan kembali kepada dirinya sendiri atau kembali kepada ulama yang lain, melainkan harus kembali kepada Quran dan Sunnah.

        tujuannya adalah untuk menyatukan perbedaan tersebut, karena yang dapat memeprsatukan perbedaan-perbedaan adalah Quran dan Sunnah.

        • KEMUDIAN JIKA KAMU BERLAINAN PENDAPAT TENTANG SESUATU, MAKA KEMBALIKANLAH IA KEPADA ALLAH (AL QURAN) DAN RASUL (SUNNAHNYA), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa 59)

          jika pendapat ustadz,kiyai,syaikh nya bertentangan dengan qur’an dan sunnah. lantas kemana lagi kita harus kembali kalau tidak “kembali kepada qur’an dan sunnah” yaa sufi muda?

      • KEMUDIAN JIKA KAMU BERLAINAN PENDAPAT TENTANG SESUATU, MAKA KEMBALIKANLAH IA KEPADA ALLAH (AL QURAN) DAN RASUL (SUNNAHNYA), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa 59)

        jika pendapat ustadz,kiyai,syaikh nya bertentangan dengan qur’an dan sunnah. lantas kemana lagi kita harus kembali kalau tidak “kembali kepada qur’an dan sunnah”?

        • Selama dg kembali ke Quran dan Sunnah itu tdk menghasilkan fatwa yg mengakibatkan madharat ya tdk masalah, tp kl kemudian malah mengakibatkan munculnya golongan takfiri, ini masalah besar.

  20. 100 tahun yang lalu? bukannya mereka merujuk ke 1400 tahun yang lalu, yaitu para sahabat?

  21. Kitty Suryo on said:

    Firman Allah tabaraka wa ta’ala :
    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. KEMUDIAN JIKA KAMU BERLAINAN PENDAPAT TENTANG SESUATU, MAKA KEMBALIKANLAH IA KEPADA ALLAH DAN RASUL NYA, JIKA KAMU BENAR-BENAR BERIMAN KEPADA ALLAH DAN HARI AKHIR. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa 59)

    Mengembalikan perselisihan ke Allah dan rasul-Nya kok diubah menjadi kembali ke Quran dan hadits atau diubah menjadi dikembalikan ke ulama?

    Padahal disitu ada “JIKA KAMU BENAR-BENAR BERIMAN KEPADA ALLAH DAN HARI AKHIR”.

    Serahkan perselisihan itu kepada Allah dan rasul-Nya, yang akan memutuskan siapa yang benar di antara pihak yang berselisih tersebut di HARI AKHIR.

  22. Hawatir orang sembarangan mentafsirkan Alquran? seolah pendapat itu benar wkwk…

    tapi kok Ulama saja mentafsirkan sembaangan ya hhaha… buktinya tiap ulama beda beda tafsir, sering berdebat, bahkan dinegara timur tengah sampai konflik karna beda akidah, beda tafsir alquran. Konyol sih kalo pendapat kembali ke alquran dan sunnah dianggap salah. Yang salah itu justru yang ingin menjauhkan Umat dari Alquran dan sunnah. Udahmah pada males baca eh dibilangin gitu ya udah anak muda milih hura hura, pacaran, maksiat dr pada baca alquran. Alquran ternyata untuk Ulama ya? lalu ayat pertama itu Iqro (bacalah) Allah lagi salah ya? harusnya Allah kasih ayat pertama belajarlah sama ulama ahahaha… adminnya asal ngomong nih….

    • Iqra’ itu sebagian menafsirkan bacalah, sebagian lagi memaknai itulah awal bermula dzikir Allah Allah dalam qalbu dgn menggunakan metodologi dari Allah dgn itu Nabi selalu kontak dgn Allah secara zahir bathin.
      Yang Jelas perintah Iqra’ itu bukan untuk anda dan saya karena kita belum lahir saat itu. Perintah itu berupa firman Allah langsung di dengar oleh Nabi lewat ucapan Jibril AS.
      Kalau ingin tahu makna sebenarnya dari Iqra’ tentu kita harus tanyakan langsung kepada penerima perintah yaitu Nabi Muhammad SAW, ketika Nabi tiada ummat bertanya kepada sahabat2 yang hidup bersama Nabi, seterusnya bertanya kepada Ulama Pewaris Nabi sehingga maknanya tepat.
      Menafsirkan Iqra’ yang satu kata itu saja bisa keliru besar, konon menafsirkan Al Qur’an?
      Maka diperlukan orang2 yang ahli dibidang tsb, anda bisa menyebut mereka ulama, kiayi, habib dll.
      Syukur Alhamdulillah sekarang semangat ummat menghapal Al Qur’an sangat tinggi, sMoga nanti berlanjut kepada semangat mengamalkan.
      Demikian

    • Al quran itu kalau di berikan ke gunung hancur gunungnya .kenapa nabi mampu mengembannya sedangkan beliau dr golongan manusia (secara zahir lemah terdiri dr tulang dan daging) dan knp tdk hancur ?? Karena manusia adalah mahluk sempurna yg mempunyai wadah ( hati ) untuk menampung alquran yg suci dan hebat itu .pertanyaannya sejauh mana kemampuan wadahnya dalam menampung al qur an ?? Tentulah harus wadah yg suci pula .. seperti wadah para nabi ,sahabat dan penerus para nabi .kadar iman manusia dijaman ini beda dengan jaman dahulu , mereka kaum arif terdahulu taunya nuntut ilmu agama menyebarkannya dan ibadah dan iklas .tidak tenggelam didalam dunia keserbaragaman mahluk seperti dijaman kita saat ini yg riuh dan sulit untuk mencari jati diri karena hati dan pikiran selalu dikaburkan oleh sekitar . oleh sebab nya dijaman salaf banyak melahirkan ulama yg arif karena paham dan piawai akan makna alquran dan hadist . tdk seperti banyak ulama saat ini bertingkah seperti tuhan dengan mudahnya mengkafirkan dan menyesatkan suatu golongan dgn tuduhan yg belum jelas kesalahannya dimata tuhannya .yg akhirnya menimbulkan pertikaian sampai akhirat sampai menimbulkan peperangan dan kericuhan dimuka bumi .sungguh sesungguhnya nabi diutus bukanlah untuk itu .

    • Jangankan di timur tengah disini saja banyak orang berbeda pendapat termasuk anda sendiri. Tidaklah sembarangan mentafsirkan al-qur’an dan hadist itu bila kita tidak cukup ilmu mengenai itu. Ulama itu tidak sembarang mentafsirkan al-qur’an dan sunnah, anda saja yang tidak mau menerima. Ummat ini bukan mau dijauhkan dari al-qur’an dan sunnah tetapi maksud admin menurut saya belajarlah terhadap orang yang ahli didalamnya, makanya kita harus dekat kepada Ulama. Memang banyak sudah bermunculan pendapat yang menyalahkan kebiasaan ummat Islam contohnya di Indonesia, seperti qunut, zikir zahri, doa mengangkat tangan selepas sholat dikatakan bid’ah tidak ada dalil. Coba cek bagaimana pendapat Ulama terdahulu seandainya mereka tidak setuju dengan qunut tersebut tapi mereka tidak langsung menghukum bid’ah dan sesat kepada orang yang melakukannya. Kalau orang yang ahli dalam ilmu mengenai ini memang mereka harus mengeluarkan fatwa supaya orang tidak bingung mau kemana arah dan tujuan umpama adanya dalam perkara agama itu hal yang belum jelas sekali, berbeda dengan kita yang tidak didasari dengan ilmu tidak boleh sembarangan mengatakan sesuatu mengenai al-qur’an dan sunnah walaupun itu pendapat yang kita sampaikan benar. Memang kalau di Timur Tengah apalagi arab saudi sana banyak pendapat bermunculan itu diakibatkan munculnya gerakan wahabi. Dalam tubuh wahabi saja banyak perbedaan pendapat diantara para Ulamanya karena mereka ini terlalu membuka ruang cukup lebar mengenai berpendapat tentang al-qur’an dan sunnah berbeda dengan ulama terdahulu sangat berhati-hati sekali menyampaikan perkara yang demikian bahkan banyak mereka lebih senang mengikuti yang sudah masyhur contohnya imam nawawi rah.a mengikut mazhab syafi’i padahal ilmu beliau bila kita lihat dari sejarah sungguh sangat tinggi sekali. Imam Nawawi banyak menyempurnakan pendapat Imam Syafii.

  23. Justru artikel inilah yang berbahaya dan menyesatkan, karena ingin memadamkan dakwah Tauhid untuk mengajak umat Islam kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

  24. Lebih bahaya jika tidak mau kembali ke quran dan hadist.

  25. terimakasih pak , sangat penting kita ini belajar kepada ulama yang memang diakui ahli dzikirnya, ini tulisan yang sangat penting dan perlu diketahui terutama untuk saya /kalangan muda/pelajar/mahasiswa , yang masih menggelora semangatnya tetapi pengalaman dan filter fikiran yang masih kurang ,, supaya terhindar dari virus pemahaman radikalisme/wahabi yang ujung2nya membuat hidup menjadi kaku, hati tidak pernah bahagia karena adanya kebencian dan kebencian…

  26. Koreksi: Aliran yang muncul 100 tahun lalu di tanah arab adalah kembali ke Al Qur’an dan Sunnah melalui pemahaman salafush shalih

    • kalau Salafus shalih yang anda maksud:
      Imam Hanfi, Imam Malik, Imam Syafi’ie, Imam Hanbali, Imam Asy’ari saya setuju.

      tapi kalau Salafus shalih yang anda maksud:
      Ibnu taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdullah bin Baz, Syeikh Albani, Yeikh Utsaimin NANTI DULU!!!

      Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang MDUA USIA dan LEMAH AKAL (Bego). Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

      “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh (TOLOL), mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

      “Suatu kaum dari umatku akan keluar membaca Al Qur’an, mereka mengira bacaan Al-Qur’an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan dirinya. Shalat mereka tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka.” (HR. Muslim)

      “Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.” (HR. Al-Hakim)

      “ Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan, mereka lepas dari Islam sebagaimana anak panah lepas dari busurnya, mereka tidak akan kembali (pada Islam) hingga panah itu kembali pada busurnya. Mereka seburuk-buruknya makhluk. Beruntunglah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, APA CIRI KHAS MEREKA? Rasul menjawab “ BERCUKUR GUNDUL “. (Sunan Abu Daud : 4765)

      jika yg saudara maksud shalafus shalih 100thn yang lalu golongan golongannya Muhammad bin Abdul Wahhab maka saran saya untuk anda;

      “NIKMATILAH HIDUP INI SEPUAS-PUASNYA SADARAKU, MUMPUNG ENGKAU MASIH HIDUP DIDUNIA INI”.

      • Alhamdulillah, bermanfaat sekali artikelnya, izin share gan, untuk teman ane yg faham wahabi kolot, trimaksih

        • percumah!!!

          “Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk”.

          apakah Tuhan Kejam?

          sy rasa “Mungkin Tuhan Mulai Bosan” (lirik lagu Ebiet) bosan di nasihati!

          jangan pernah menolak / meremehkan yang namanya NASIHAT/PETUNJUK/TEGURAN/KRITIKAN atau apa saja, jika itu baik maka AMBILAH/AKUI, jangan perturutkan EGO mu! jangan bikin TUHAN mulai BOSAN memberi nasihat!!!

          Hingga di TETAPKAN SESAT seperti IBLIS La’natullah

          Jika Tuhan sudah Bosan maka CELAKA, CELAKA, CELAKA!!!!

          • bung Damai;

            rupanya tulisan anda tidak sedamai nama nya…. 🙂

            saya kira di dunia ini tidak ada seorang pun yg 100% benar atau 100% mutlak salah…

            jangankan wahabi yang masih seiman dengan kita… atheis sekalipun masih punya harapan bisa menemukan jalanNya…

            dan tidak ada seorang manusia pun ditetapkan Nya sesat, selama masih ada pilihan…

            • klu begitu coba aja bung arkana selamatkan mereka n kabarkan padaku jika berhasil (1 orang saja ga usah banyak2), ane kasih ente 4 jempol jika berhasil menyadarkan 1 orang saja 😀

    • my rasyad on said:

      Astaghfirullah, slogan yg baru lahir 100 tahun lalu anda jadikan pedoman untuk beribadah. Mana lebih baik, zaman para tabiin yg dekat masanya dgn Rasulullah apa zaman 100 tahun yg lalu???

  27. Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang MUDA USIA dan LEMAH AKAL (Bego). Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

    “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh (TOLOL), mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    “Suatu kaum dari umatku akan keluar membaca Al Qur’an, mereka mengira bacaan Al-Qur’an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan dirinya. Shalat mereka tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka.” (HR. Muslim)

    PENJELASAN :
    Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka > Ngajinya tidak sampai ke hati karena tenggorokan adalah suatu lorong yang gelap.

    Mereka keluar dari agama > Hatinya sudah kehilangan SIFAT shiddiq, amanah, tabligh, fathonah. Bicara agama tetapi tidak sampai kepada telinga bathin karena tujuannya hanyalah dunia, harta, pangkat, jabatan, kehormatan dlsb.

    Secepat anak panah meluncur dari busur > Ngajinya sudah keluar dari poros dirinya.

    Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat > Bunuhlah dengan nasihat yg bijak

    Suatu kaum dari umatku akan keluar membaca Al Qur’an, mereka mengira bacaan Al-Qur’an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan dirinya > Memahami Allah Swt dengan akal dan fikiran

    Shalat mereka tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka > Sholatnya hanya menjadi amalan jasad, tidak mencakup kepada amalan bathin.

  28. julkarnain on said:

    Assalamu’alaikum, mohon izin nanya sama abang SM. Jika belajar tasawuf diharuskan mencari seorang guru, maka bagaimanakah cara saya mencari guru yang arif, karena dijaman sekarang saya merasa sangat susah untuk mendapatkannya. Al’afwu

    • Mas julkarnain coba anda datang ke pondok pesantren kedunglo (kediri, bandar lor) disitu pondok pesantren yang mendalami bab keimanan khusunya tasawuf, disana juga ada makam al arif billah. Anda bisa riyadhoh disana. Semoga bermanfaat.

  29. dimarakusumahakimgmailcom on said:

    Para imam mazhab selalu berusaha dalam kebenaran. Untuk kemudahan bisa ikuti 1 imam mazhab, misalnya Syafi’i.

    Yang jadi masalah di indonesia ini, sering kita dapai orang yg dianggap ulama, tapi pemahamannya tercampur berbagai macam filsafat, ini yang bahaya jika terkait aqidah.
    Sehingga, kita sendiri yang harus cross check mana perkataannya yang benar dan mana yang salah.
    Kembalikan kepada al quran & sunnah, karena imam mazhab ketika berselisih pendapat pun tetap mengembalikannya kepada quran & sunnah.

    Imam mazhab “tidak pernah berselisih pendapat terkait Tauhid”. Kalau hanya masalah qunut / tidak qunut, berapa rakaat tarawih, ini masalah teknis saja.

  30. pemikiran anda terlalu sempit dalam memaknai tulisan “kembali kepada alquran dan sunnah” = “kebebasan untuk menafsirkan al-Qur’an dan hadist sendiri”, sehingga anda bilang berbahaya, tidak semua orang memaknai itu seperti anda.

  31. Jalani saja sesuai keyakinan masing2, belum tentu argumen yg dijabarkan merupakan sebuah kebenaran karena hanya Allah lah yg Maha Benar dan Mengetahui. Demi ukhuwah lebih bijak untuk menghargai perbedaan dan cobalah menahan diri untuk menghakimi masalah furuiyah dalam Islam biarlah Allah SWT yg menghakimi kelak di akhirat (QS Al An’am : 169). Janganlah masing2 merasa benar dan menyudutkan yang lain.

  32. Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (aza zukruf ; 76)

    Sesungguhnya Kami benar-benar telah memhawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu. (aza zukruf ; 78)

    Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka. (aza zukruf ; 83)

    dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.” (aza zukruf ; 88)

    Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah:
    “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk). (aza zukruf ; 89).

  33. NASEHAT!!!

    Jika kita bingung dihadapkan dua masalah, yang mana keduanya dalam kebenaran. yang ini berdakwah dengan al Quran dan Sunnah, yang satu lagi juga berdakwah dengan al Quran dan Sunnah, caranya ialah lihatlah kepada AKKHLAK mereka.

    Di mana adanya akhlak yang mulia, pada diri orang itu, tandanya telah hidup agama dan ilmunya, Sekiranya tiada akhlak yg mulia di dalam hatinya, maka tiada ilmu dan agama di dalamnya.

    Tidaklah mungkin ilmu dan agama hidup jika tanpa akhlak yang mulia di dalam hati.

    Tidaklah mungkin adanya sifat kesolehan di dalam hati seseorang tanpa akhlak yang mulia.

    Maka setiap orang yang mengaku berilmu dan beragama namun tak ada akhlak yang mulia di dalam sanubarinya, maka di situ ada kecacatan kepada orang yang menuntut ilmu.

  34. Ihsan Fauzi on said:

    Itu bukan slogan mas tapi firman Allah dalam surat An Nisa : 59

  35. Ping-balik: Bahaya di Balik slogan “Kembali ke al-Qur’an dan Sunnah” – perindusyurgasite

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: