Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Ketiadaan Cahaya Allah

kaligrafi-allah-3Seorang profesor atheis berbicara dalam seminar dikampus.
Prof: “Apakah Tuhan menciptakan segala yg ada?”
Mahasiswa semua : “Betul, Dia yg menciptakan semuanya.”
“Tuhan menciptakan semuanya?” tanya prof sekali lagi.
“Ya prof, semuanya,” kata mahasiswa itu.
Prof: “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan kesulitan menjawab hipotesis profesor tersebut.
Suasana hening dipecahkan oleh suara mahasiswa lainnya, “Prof, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor.
Mhs : “Prof, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu ?
Tentu saja dingin itu ada.”
Mahasiswa itu menyangkal, “Kenyataannya, Prof, dingin itu tdk ada. Menurut hukum fisika, yg kta anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu-460F adalah ketiadaan panas sama sekali & semua partikel menjadi diam & tdk bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas”.
Mahasiswa itu melanjutkan…
“Prof, apakah gelap itu ada ?”
Profesor menjawab, “Tentu saja itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Prof. Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tdk ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bsa menggunakan prisma Newton utk memecahkan cahaya jadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dgn berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia utk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Prof, apakah kejahatan itu ada ?”
Dengan bimbang Profesor itu menjawab, “Tentu saja !”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Prof. Kejahatan itu TIDAK ADA. Kejahatan adalah ketiadaan TUHAN di dalam DIRI seseorang. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adlh kata yg dipakai manusia utk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan di dalam diri. Tuhan tdk menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tak adanya Tuhan dihati manusia.” Profesor itu terdiam..
Tahukah Anda.. mahasiswa itu adalah: ALBERT EINSTEIN..

Saya tidak tahu persis apakah dialog ini memang pernah terjadi atau hanya semua dialog imajiner dan saya mengutipnya dari Facebook. Menarik bagi saya adalah definisi kejahatan menurut Albert Einstein, dimana kejahatan adalah ketiadaan Tuhan dalam diri seseorang. Ketika manusia tidak mampu menyerap cahaya Ilahi dalam dirinya atau Qalbu nya tidak tertutup untuk menerima cahaya Tuhan, maka kejahatan akan bersemayam dalam jiwanya.

Manusia adalah wadah untuk menampung cahaya Allah dan juga untuk menampung unsur-unsur syetaniyah. Ketika cahaya Allah masuk dalam Qalbu dan menerangi seluruh tubuh manusia, mengisi setiap bagian terkecil dari tubuh, maka manusia tersebut akan naik derajatnya bahkan melebihi derajat malaikat yang juga seluruh tubuhnya tercipta dari cahaya. Kedudukan apa melebihi Malaikat? Yaitu Nabi dan Rasul. Nabi pada hakikatnya adalah cahaya Allah yang berjalan di muka bumi demikian juga seorang Wali Allah dan orang-orang yang telah mencapai derajat keimanan tinggi. Mareka adalah manifestasi cahaya Allah sebagai mana firman Allah, “Telah Aku ciptakan rupa Nur-Ku sebagaimana rupa hamba-Ku”

Manusia tidak akan mampu berkomunikasi dengan Allah kecuali lewat perantaraan wahyu, lalu apa itu wahyu? Hakikat wahyu adalah cahaya Allah, hanya cahaya Allah yang sampai kepada sisi-Nya. Kitab suci yang diturunkan kepada manusia via Nabi tidak lain manifestasi dari wahyu sedangkan hakikat wahyu itu sendiri adalah merupaka cahaya Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara.

Ketika hati manusia bersih dan bisa menerima cahaya Allah, maka akan terbuka ruang yang langsung kepada Allah SWT, ruang yang disebut sebagai Alam Rabbaniah yang membuat manusia bisa mendengarkan firman-Nya dan berkomunikasi dengan sang pencipta, itulah sebabnya Shalat disebut sebagai Mikraj bagi orang mukmin karena rohaninya akan sampai kepada ruang Alam Rabbani dimana disitu hanya ada Allah SWT.

Salah satu sifat Allah adalah Kalam atau berkata-kata dan sifat itu akan berlaku sepanjang zaman. Allah akan terus berfirman kepada hamba-hamba-Nya dan hanya hamba dengan kualitas tertentu mampu menangkap firman-Nya yang jika terjadi pada seorang Nabi disebut wahyu sedangkan pada selain nabi disebut ilham sebagaimana sabda Nabi “Sesungguhnya dalam umatku ada orang yang dibisiki dan diajak bicara (oleh Allah), dan Umar termasuk di antara mereka.

Ketika cahaya Allah tidak ada maka hati manusia menjadi gelap dan setan akan menggerakkan manusia untuk melakuan semua sesuai dengan skenerionya. Ketika cahaya Allah tidak masuk ke dalam hati manusia, maka akan tertutup dialog antara manusia dengan Allah. Andai pun si hamba beribadah, maka ibadahnya hanya gerak-gerak zahiriyah semata.

Demikian.

Single Post Navigation

23 thoughts on “Ketiadaan Cahaya Allah

  1. budisufi on said:

    Hatur nuhun

  2. Selamat pagi abang.. salam dan sejahtera ku haturkan bagimu .

    Mantap.. keren.. dan pagi ini sy merasa harus mengatakan saya jatuh cinta pd tulisan dan isi serta kandungannya. Andai saya bisa bertatap muka .. wow.. smoga tiada heran dan takjubku.

    Terpujilah Allah yg telah berkenan aku mengenal saudaraku.

    Doakan saya bang selalu sadari makna diri.

    Wassalaamu alayika warohmatullahi wabarokaatuhu.

  3. izin copas bang SM

  4. karena ketiadaan…… hmmm…..

  5. Assalamualaikum wr.wb,
    alhamdulillah.
    teringat saya saat yg lalu ketika Allah mengajak saya berbicara dan memberi nasehat.
    *ingat selalu padaKU
    *sebut selalu namaku
    *sholatlah untuk mengingatKU
    *mintalah kepadaKU niscaya KU kabulkan
    *makanlah yg halal
    *sayang pada keluarga
    *sayang pada hamba-hambaKU
    *jagalah kesehatanmu
    *Allah menyuruhku melihat kelangit, maha besar Engkau iya Allah,Allah jawab IYA.
    *Allah menyuruhku sekali lagi melihat kelangit,lantas ku jawab,kenapa iya Allah,lantas Allah jawab,duniaKU ini sudah mau hancur.
    air mataku mengalir saat itu dan aku tunduk.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid

  6. Muhammad Agus Fajri on said:

    Asslm. Wr. Wb. Subhanallah, Walhamdulillah, Walailahaillallahuallahuakbar.
    Izin Copas ya Bang SM.
    Maaf Izin Untuk Sekedar Saran,
    Dalam Upaya Untuk Mensyiarkan Tulisan Bang SM, Akan Sangat Membantu Apabila Sesuatu Yang Menyangkut Firman Allah SWT, dan Hadist Rasulullah Saw, Bang SM Melampirkan Referensi Surah/Ayat Al-Qur’an dan Riwayat Hadistnya.
    Salam Kenal
    Dari Muhammad Agus Fajri, KA II-Batam

  7. Tulisan Agus Mustofa………

    SELURUH ALAM SEMESTA BERTAUHID DI DALAM DIRI-NYA
    Admin / 20/11/2013

    AL QUR’AN SEBAGAI SUMBER FILOSOFI BAGI SAINS (20-habis)

    Jika kita tidak membatasi tulisan ini, maka sampai berakhirnya usia kita pun hikmah-hikmah di dalam Al Qur’an tak akan habis-habisnya dibahas. Bahkan, saking banyaknya hikmah yang terkandung di dalamnya, Allah menggambarkan dengan tinta tujuh lautan tak cukup untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah di alam semesta. Kenapa demikian? Karena, sesungguhnya segala realitas ini memang adalah manifestasi dari kalimat-kalimat Allah itu sendiri. Yakni, yang disebut sebagai ayat-ayat kauniyah. Note ini adalah catatan terakhir untuk tema ‘Al Qur’an sebagai Sumber Filosofi Bagi Sains’.

    *******

    Ungkapan di dalam Al Qur’an bahwa alam semesta ini adalah manifestasi kalimat Allah bukanlah bersifat metaforis belaka. Saya memahaminya sebagai ungkapan yang nyata. Bahwa, Alam semesta ini memang berasal dari kalimat Allah ‘KUN’, yang dalam bahasa sains setara dengan sistem informasi. Berawal dari kalimat perintah KUN itu, segala yang tadinya tidak ada menjadi ada. Ruangan, dari tidak ada menjadi ada. Waktu, dari tidak ada menjadi ada. Materi dan energi juga dari tidak ada menjadi ada. Semua itu didahului oleh kalimat perintah KUN, yang kemudian menjalar di keempat variabel itu, menjadi koridor bagi dinamika alam semesta. Maka, perhatikanlah, seluruh realitas alam semesta ini menyimpan sistem informasi yang menjadi koridor bagi semua peristiwa yang dialaminya. Setiap cikal bakal, mulai dari skala makrokosmos sampai mikrokosmos menyimpan sistem informasi di dalamnya, sehingga segala yang ada ini seperti ‘sudah tahu harus berbuat apa’. Sop kosmos sebagai cikal bakal alam semesta misalnya, ia sudah tahu harus berdinamika seperti apa agar menjadi alam semesta seperti yang sekarang kita pahami ini. Yang kalau ditulis, sejarahnya akan menjadi seperti berikut ini. Waktu ke-0: Kalimat perintah KUN membuat alam semesta muncul dari ketiadaan dalam bentuk Big Bang. Maka, bermunculanlah variabel ruang, waktu, materi dan energi. Ruang alam semesta saat itu berukuran sangat kecil – hampir nol – yang muncul bersamaan dengan variabel waktu yang juga hampir nol. Materi belum terbentuk, sedangkan energi berada dalam kondisi kerapatan yang hampir tidak berhingga. Sesaat kemudian kondisi itu menghasilkan dinamika kuantum yang menggerakkan alam semesta mengembang. Sehingga periode ini disebut sebagai Quantum Gravity Epoch. Waktu ke- sepersepuluh juta triliun triliun triliun detik alias 10^(-43) detik. Alam semesta mengembang dengan kecepatan tinggi dari ukuran sebesar atom menjadi sebesar buah anggur, yang disebut sebagai fase inflasi. Saat itu disebut sebagai periode Grand Unification, dimana gaya nuklir lemah, nuklir kuat dan elektromagnetik masih menyatu dan belum bisa dibedakan. Fase inilah yang diprediksikan oleh Prof Abdus Salam, sehingga dia memperoleh hadiah Nobel di tahun 1979. Waktu ke-sepersepuluh miliar triliun triliun detik alias 10^(-34) detik. Partikel quark sebagai penyusun materi mulai terbentuk, berpasangan secara asimetri dengan antiquark, lepton dengan antilepton. Karena itu, periode ini disebut sebagai Quark Epoch. Gaya Electroweak pun muncul sebagai pengikat partikel-partikel dasar pembentuk semesta. Fase ini, juga sudah diprediksikan oleh Prof Abdus Salam dalam Grand Theory-nya. Waktu ke-sepersepuluh miliar detik alias 10^(-10) detik. Antiquark menghilang, demikian pula positron sebagai salah satu bentuk antilepton. Dan mulailah kumpulan quark membentuk cikal bakal inti atom berupa proton dan neutron. Periode ini disebut sebagai periode Lepton alias Lepton Epoch. Waktu ke-seratus detik alias 10^(2) detik. Terjadi nukleosintesis alias penggabungan inti-inti Hidrogen menjadi inti Helium. Kedua jenis unsur ini adalah ‘unsur-unsur tua’ yang terkandung di kebanyakan bintang atau matahari generasi awal. Di periode ini mulailah muncul partikel kuantum foton yang menjadi partikel pembawa gaya elektromagnetik. Alam semesta yang masih berusia beberapa detik itu pun mulai bercahaya. Sehingga periode ini disebut sebagai Photon Epoch. Waktu ke-sepuluh triliun detik alias 10^(13) detik. Disini mulai terbentuk beragam atom yang menjadi unsur pembentuk berbagai benda di alam semesta. Sekaligus terjadi proses pemisahan antara materi dan radiasi, dimana alam semesta terlihat semakin transparan di segala penjurunya. Proses ini berlangsung sampai sekitar 1 miliar tahun. Waktu ke- 1 miliar s/d 5 miliar tahun Bintang-bintang alias matahari bermunculan dimana-mana. Di fase ini selain lahir matahari atau bintang-bintang, juga sudah terjadi kematian bintang yang menghasilkan black hole. Waktu ke-5 miliar s/d 15 miliar tahun Bermunculan gugusan bintang atau galaksi-galaksi, dimana setiap galaksi berisi ratusan miliar bintang atau matahari. Di fase ini pula terbentuk berbagai tatasurya yang berisi planet-planet, termasuk Bumi. Alam semesta pun kelihatan berkerlap-kerlip demikian indahnya, sebagaimana yang kita lihat dewasa ini. Dan seterusnya, dilanjutkan dengan munculnya kehidupan di muka bumi, di fase ini pula. Apa yang saya uraikan di atas adalah untuk menggambarkan betapa seluruh proses itu sedemikian runtut dan sangat teliti. Sehingga, sampai dalam ukuran mendekati ‘batas ketiadaan’. Ini persis dengan clue yang diinformasikan Allah di dalam kitab suci. Bahwa, di dalam proses itu tergambar semacam aturan main yang harus ditaati oleh proses yang sedang berlangsung, agar tercapai tujuan yang sudah ditetapkan. QS.Al Furqaan (25): 1-2 Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar kitab itu menjadi sumber pelajaran bagi seluruh alam. Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan. Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan sangat teliti (fa qaddarahu taqdiiran). Bukan hanya di alam semesta ‘ukuran yang sangat teliti’ itu berlaku, tetapi pada segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. Termasuk yang terjadi pada diri kita. Selalu ada cikal bakal yang sudah menyimpan informasi penciptaan, dengan ‘ukuran yang sangat teliti’ itu, yang di dalam diri kita berbentuk sistem informasi genetika. Di sanalah terdapat DNA yang memberikan kode-kode penciptaan bagi manusia, sejak saat pembuahan, menjadi stem cell, membelah menjadi zigote, embrio, janin, dan terlahir sebagai manusia. Sebagaimana terbentuknya alam semesta, penciptaan manusia di dalam rahim juga mengalami fase-fase yang krusial dengan ketelitian yang luar biasa. Kenapa kepala kita bentuknya bulat, kenapa telinga dan mata berjumlah dua. Demikian pula tangan dan kakinya. Dan segala proses pembentukan organ-organ dalam, tulang, daging, kulit, darah, otak, dan sebagainya, yang secara seluler membentuk sekitar 200 jenis sel yang tidak boleh tertukar satu sama lainnya. Ini sungguh sebuah keajaiban penciptaan yang luar biasa. Dimana seluruh proses itu dikendalikan oleh sistem informasi yang rumit dan canggih. Oleh suatu Kehendak dan Kecerdasan yang sangat menakjubkan..! Maka tidak heran, Al Qur’an mengambarkan Allah sebagai Zat yang selalu dalam kesibukan untuk mengatur segala urusan. Setiap saat kalimat perintah KUN itu bertebaran di segala penjuru semesta. Yang kalau digambarkan, bakal bersifat kontinum tak ada putus-putusnya. Bukan hanya dalam skala menit atau detik, melainkan dalam sepersekian triliun triliun triliun detik pun, Allah selalu dalam kesibukan. Dengan kata lain, sebenarnya kalimat KUN itu sudah ada, dan terus menerus ada sejak saat awal penciptaan alam semesta sampai berakhirnya kelak. Kalimat itu telah menjadi sistem informasi yang melekat dan inheren dengan eksistensi ruang, waktu, materi dan energi. Dan membentuk segala peristiwa yang terjadi di seluruh penjuru langit dan bumi. QS. Ar Rahman (55): 29 Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Jadi, Tuhan yang diceritakan oleh Al Qur’an bukanlah Tuhan yang menganggur setelah menciptakan. Karena sesungguhnya seluruh proses dan peristiwa yang terjadi itu berada di dalam Diri-Nya. Bukan di luar diri-Nya, serta berjarak dari eksistensi-Nya. Itulah sebabnya, di ayat lain Allah memberikan gambaran bahwa Dia telah meliputi segala ciptaan-Nya, dan lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita sendiri, yang sebenarnya sudah tak berjarak dengan kita itu. QS. An Nisaa’ (4): 126 Kepunyaan Allah-lah segala yang di langit dan segala yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu. QS. Qaaf (50): 16 Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Akhirnya, di ujung pembahasan ini, saya cuma ingin mengatakan bahwa segala realitas ini sebenarnya memang tak lebih hanya pancaran cahaya-Nya belaka. Sistem informasi KUN yang mengontrol jalannya peristiwa adalah pancaran cahaya-Nya. Ruang dan waktu yang menjadi kanvas bagi berlangsungnya peristiwa juga adalah pancaran cahaya-Nya. Dan materi beserta energi yang mengisi alam semesta pun tak lebih hanyalah pancaran cahaya-Nya. Termasuk, seluruh kesadaran dan eksistensi diri kita tak lebih hanyalah pancaran cahaya-Nya. Inilah sosok makhluk yang memiliki ruh dengan kualitas tinggi, yang otaknya menjadi alat monitor bagi keberadaan alam semesta beserta isinya. Yang mana, di balik otak itu terdapat jiwa sebagai pusat kesadaran kemanusiaan. Dan kemudian jiwa itu terhubung dengan ruh yang menjadi media bagi sistem informasi ilahiah, yang menggerakkan segala sifat-sifat kehidupan. Dan, ternyata hal itulah yang menjadikan kita semua ‘merasa ada’..!! Padahal, eksistensi yang benar-benar ADA itu sesungguhnya hanyalah DIA. Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qadiir.. Wallahu a’lam bissawab ~ salam ~

  8. Subhanallah.. suka tulisannya 🙂

  9. @mas ruslian

    maksudnya segala peristiwa alam ini dalam diri-Nya …?
    lho… mas

  10. jawaban yg sederhana tapi bisa menggugah semua….

  11. ilmu allah mencakup ilmunya orang kafir

  12. yuliansyah on said:

    sufi muda mantap semangat jalan terus…aku selalu merindukan kasihmu allah swt

  13. Subhanallah, dalam ketiadaan cahaya, aku masih diberikan jalan untuk mencari cahaya setelah membaca artikel di blog ini. Terima kasih banyak 🙂

  14. Aniza Che Mohd Noor on said:

    Sent from Samsung Mobile

  15. SubhanAllah,, Teruslah berkarya kepada sufi Muda,

  16. Saya menemukan tulisan http://www.snopes.com/religion/einstein.asp ketika mencari sumber dari anekdote yang dikutip di atas dan artikel tsb mengatakan sumber anekdoke sama sekali bukan einstein tapi namanya dicatut untuk menambah kredibilitas argumen dari anekdote itu.
    Apapun tulisan dan bahasan anda bagus untuk menambah wawasan.

  17. Assalamualaikum wr.wb,
    Teringat saya akan pengalaman saya di kuala lumpur pada th 2013 bulan mei yg lalu.
    ketika berjalan menuju suatu tempat kota di kuala lumpur , saya melihat banyak sekali orang berdiri menyaksikan ilmu yg telah diperlakukan seorang yg berbaju putih dan juga berserban putih, beliau telah meletakkan batu yg sangat besar yg agak runcing sedikit, kepada ujung botol yg terbuka sehingga botol dan batu tersebut tidak jatuh.perbuatan beliau disini sangat menyentuh khalayak ramai yg melihatnya, mereka semua pada bertepuk tangan, tetapi saya tau apa yg saya lihat,saya mohon ijin kepada Allah untuk menerobos keramaian ini dan bertemu dengannya.saya tanya pada beliau,pak ,kepada siapa bapak memohon untuk melakukan ini, kepada Allah ,jawab bapak tersebut,lantas saya bilang, jika bapak mohon kepada Allah kenapa saya lihat ada jin yg menolong bapak?

    cobalah bapak letakkan batu tersebut lagi pada ujung botol, saya yakin bahwa bapak tidak akan bisa kecuali persetujuan dari Allah.saat beliau meletakkan batu tersebut pada ujung botol,saya bilang kepada jinnya dengan jari telunjuk saya ke atas, jika engkau menolongnya tanpa persetujuan dari Allah,Allah akan murka kepadamu.
    kira-kira 15 menit bapak tersebut mencoba meletakkan batu itu pada ujung botol tetapi tidak bisa.bapak tersebut kebingungan.lantas saya bilang sekali lagi,pak cobalah sekali lagi,kali ini saya mohon kepada Allah,iya Allah tolonglah bapak ini,kemudian dia berhasil.lain kali mohonlah kepada Allah iya pak karena Allah adalahTuhan kita,kata saya.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid.

  18. Wong Bego on said:

    IZIN NYIMAK DAN BELAJAR ! BAHASAN MANTAB ,MEMBUKA AKAL PIKIR DAN MATA HATI TENTANG ADANYA TUHAN DAN IBLIS / CAHAYA DAN KEGELAPAN ! TRIMA KASIH MAS SUFI MUDA …….

  19. ‘Albert einstein’ albert einstein saya anggap seseorang dengan banyak kelebihan. Terlepas daripada latar belakangnya, namun karyanya bukanlah hal yang menuntun manusia pada sebuah peradaban yang lebih maju. Dia tokoh yang berkarya dan sangat bersusah payah ? Mungkin bisa dibilang hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk kemajuan peradaban kita agar kita bisa semakin memahami mahakarya yang maha kuasa. Memahami alam semesta secara lebih baik.apapun itu memiliki tujuan yang variablenya banyak, namun apapun itu kita selalu ingin mengetahui siapa dia? Padahal kita pasti kembali pada pencipta, kita adalah karya.

  20. jumjum trialata on said:

    Subhanalloh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: