Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Menciptakan Takdir

tanya1Menarik memang untuk di kaji tentang Takdir, ketetapan Allah atas segala sesuatu terutama menyangkut dengan nasib manusia, apakah Allah telah menentukan segala sesuatu dari awal tanpa bisa di ubah sama sekali atau Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan nasibnya sendiri berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Dalam sejarah, Takdir menjadi perdebatan panjang yang tidak selesai sampai sekarang dan mungkin sampai kapan pun. Tentang Takdir ada 3 pendapat berbeda dari masing-masing kelompok besar yakni :

Menurut konsep Asy’ariyah (Sunni): semua sudah ditentukan Allah, tidak ada freewill (keinginan atau kehendak bebas). Asy’ariyah meyakini konsep ‘Jabbariah‘ (semacam keterpaksaan), yakni bahwa perbuatan manusia adalah kehendak Tuhan. Seorang teman menganalogikan ini seperti wayang yang tergantung pada keinginan dalang. Menurut Asy’ariah: Qadha dan Qadr itu mutlak (100 prosen) merupakan ketetapan Allah, termasuk yang baik (khair) dan yang buruk (syar).

Mu’tazilah meyakini semuanya adalah murni seratus prosen kehendak bebas (freewill) manusia, dan tidak ada campur tangan Allah. Mu’tazilah percaya pada konsep ‘Qadariyah‘. (Qadara = kemampuan). Mereka meyakini perbuatan manusia adalah perbuatannya semata, tanpa campur tangan kekuatan Allah. Bagi Mu’tazilahQadha dan Qadr itu 100 prosen adalah hasil ikhtiar manusia sendiri.

Sedangkan Syi’ah meyakini bahwa kehendak Allah di atas kehendak manusia. Artinya Allah berkehendak apabila manusia menghendakinya. Konsep Syiah Ja’fari/ Itsna’asarriah dalam hal ini berada di tengah, antara kedua yang di atas — Tafwid bayna asy’ari wa mu’tazili (Tidak Asy’ari dan Tidak Mu’tazili, melainkan di antara keduanya). Syiah berpendapat bahwa Qadha dan Qadr merupakan ketetapan Allah berdasarkan hasil ikhtiar manusia..Artinya, Allah menetapkan hukum-hukum dan manusia memiliki freewill untuk memilih, tetapi Allah memiliki pengetahuan tentang apa yang akan terjadi. (syafiqb.com)

Saya tidak membahas secara rinci tentang 3 pendapat ini karena masing-masing mempunyai dalil yang kuat untuk mendukung pendapatnya. Bagi kalangan sunni pada umumnya yang meyakini bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah dan manusia tidak mempunyai pilihan sama sekali tentu tidak akan menerima pendapat dari kalangan muktazilah yang meyakini manusia berperan 100 persen dalam menentukan nasibnya.

Sebagaimana yang kita ketahui, manusia terlahir ke dunia dalam keadaan fitrah (suci), tanpa dosa, orang tua nya ikut berperan menentukan akan menjadi seperti apa anak tersebut, baik atau buruk, beriman atau kafir, termasuk lingkungan dimana dia tinggal. Seorang anak yang terlahir dalam suku terpencil dan terbelakang tanpa mengenal budaya dan agama, tidak pernah mendapat informasi tentang kebenaran, sudah bisa dipastikan anak tersebut kelak akan mengikuti keyakinan orang tua nya, mengikuti tradisi yang dia kenal, lalu apakah takdirnya memang menjadi orang tersesat? Padahal manusia ditakdirkan Allah seluruhnya lahir dalam kondisi suci.

Manusia juga secara keseluruhan pada hakikatnya berada dalam kondisi makrifat (mengenal Allah) jauh sebelum lahir ke dunia, seluruh roh manusia terlebih dulu berjumpa dengan Allah, ada sebuah janji yang langsung di ucapkan dihadapan Allah bahwa kelak ketika dia terlahir kedunia akan selalu mengingat-Nya. Dalam perjalanan nya di dunia, kemudian manusia mengikuti adat dan perilaku dimana dia terlahir, kalau lahir dalam lingkungan tidak beriman maka dia menjadi tidak beriman dan lupa kepada Allah.

Karena pada hakikatnya manusia semua bermakrifat kepada Allah sebelum terlahir di dunia, maka diperlukan sebuah usaha yang sungguh-sungguh untuk kembali kepada jati diri nya sebagai manusia yang mengenal Allah, diperlukan bimbingan khusus agar dia bisa kembali berjumpa dengan Allah, bermakrifat kepada Allah. Sebagian mengenal kembali Allah semasa dia hidup, sementara sebagian lain tidak mengenal sama sekali sampai ajal menjemput.

Begitu juga tentang nasib, kaya atau miskin merupakan sebuah pilihan yang diberikan oleh Allah. Saya meyakini Allah menciptakan sebuah system di alam ini dan manusia diberi kebebasan untuk memilih dan pilihannya akan menentukan nasib nya sendiri. Orang yang terlahir dalam keluarga miskin dan tinggal dalam lingkungan miskin, menerima informasi hanya tentang kemiskinan bisa dipastikan dia akan menjalani kehidupan sebagai seorang miskin. Sementara ada yang terlahir sebagai anak orang miskin, kemudian dia hidup dalam lingkungan berbeda bisa jadi karena pendidikan membuat lingkungannya berubah, maka ada yang kemudian menjadi kaya raya bahkan kejadian ini banyak terjadi di dunia.

Tentang takdir ada sebuah kisah menarik yang dikisahkan dari sahabat Abdullah Abbas, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Umar bin Khattab dan rombongannya, suatu saat berangkat ke negeri Syam (daerah Syiria sekarang). Waktu akan memasuki wilayah itu, para pembesar negeri Syam melaporkan kepada Umar, bahwa daerah itu sedang berjangkit wabah penyakit menular. Umar Ibn Khattab kemudian bermusyawarah dengan para sahabat Muhajirin dan Ansar untuk mencari way out yang baik dari masalah itu. Umar dan rombongan sepakat untuk kembali ke Madinah, tidak memasuki daerah yang berbahaya itu. Tiba-tiba Abu Ubaidah bin Jarrah, salah seorang anggota rombongan tampil dan melontarkan satu pertanyaan kepada Umar:

“Apakah kita hendak lari menghindari takdir Allah?”

Umar menjawab: “Benar, kita menghindari suatu takdir Allah dan menuju takdir Allah yang lain”.

Untuk meyakinkan sahabatnya, Umar memberikan contoh yang sangat tepat. Kata Umar:
“Sekiranya engkau sedang menggembalakan ternakmu, unta atau kambing, kamu dapati ada dua lembah, yang keduanya merupakan takdir Allah. Lembah pertama merupakan padang rumput yang hijau dan subur, sedang lembah kedua merupakan bukit-bukit berbatu yang gersang, tidak ada rumput atau tumbuhan lain. Apakah kamu akan membawa ternakmu ke lembah yang gersang itu? Tentu tidak, tetapi akan membawanya ke lembah yang pertama yang subur itu. Bila anda pergi ke lembah yang subur itu berarti anda mengikuti takdir Allah, demikian pula bila anda menuju lembah yang gersang itu”.

Kalau anda meyakini bahwa takdir Allah tidak bisa diubah maka yang diperlukan bukan mengubah takdir tapi menciptakan takdir baru yang lebih baik dengan cara melakukan ikhtiar sebagaimana telah diwajibkan Allah dengan demikian kehidupan anda akan menjadi lebih baik. Umar Ibn Khattab telah memberikan teladan yang baik tentang menciptakan takdir baru lewat nasehatnya.

Demikian.

Single Post Navigation

32 thoughts on “Menciptakan Takdir

  1. Terima kasih

  2. jmam subagio on said:

    Artikel membuat hati segar, tampilannya baru dan semakin menyegarkan…. terima kasih Abangnda.

  3. wahyu.triianingrum@gmail.com on said:

    berusaha semampu sbgai manusia, kmdian berpasrah krn memahami alloh lah yg berkehendak atas segala sesuatu, dan alloh maha baik.. trmksh

  4. Saiin Ngalim on said:

    saya belum memahami apa yang dimaksud dengan menciptakan takdir baru. bukankah usaha manusia itu juga sudah Allah takdirkan? lihat QS AL Hadiid: 22-23
    bagaimana pula memahami QS Ar Ra’du ayat 39?
    apa pula maksud hadits Nabi: tiada yang dapat menolak takdir selain doa…

    Mohon pencerahannya Sufimuda… SYukran.

    • Menurut saya kedua Ayat dan hadist Nabi tersebut sinkron..

      “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”

      (QS. Al Hadid: 22-23)

      Segala sesuatu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh, disitu tidak jelaskan tentang ketetapan yang tidak bisa di ubah,
      Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).

      (QS: Ar-Ra’d Ayat: 36)
      Kalau kita memahami secara sederhana ketika yang tertulis di sana diubah maka nasib jadi berubah. Bagaimana mengubahnya? Dengan ikhtiar dan doa sebagaimana yang tercantum dalam Ar Raad : 11

      “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,”

      dan ucapan Nabi “Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa”.
      “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min 60), artinya kita bisa mentukan takdir kita sendiri dan tentu saja atas kehendak Allah karena seluruh alam ini bergerak atas kehendak-Nya. Allah memberikan pilihan kepada manusia seperti yang di uraikan oleh Umar bin Khattab dalam kisah di atas.
      Demikian…

      • benar,,, takdir dan nasib sangat berbeda. nasib dapat dirubah dgn usaha dan do’a. tapi takdir mutlak rahasia Allah. dan akhir dari segala usaha itulah takdir.

      • maaf saya kurang sependapat karena (usaha) yg kita lakukan untuk memilih takdir yg baru itupun merupakan takdir dari allah dan memang sudah ditentukan untuk kita menjalani takdir yg baru tersebut…والله اعلم

  5. Bayazid Rumi on said:

    takdir Allah diketahui setelah terjadi , jadi baru bisa ngomong takdir kalau sudah terjadi , kalo belum ya ga bisa ngomong takdir , takdir adalah salah satu misteri terbesar, dan manusia tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit , jadi setiap kita berjalan kemanapun kita kalo sudah lewat baru dinamakan takdir , kita berdoa pun ya sudah takdir kita berdoa lalu terselamatkan , kalo saya pribadi memahami faham sunni , segala sesuatu sudah tercatat di “naskah” lauhul mahfudz , cuma kita “baca”nya setelah menjalani yg terdapat di naskah tsb .

    • @bayazid;
      mungkin anda betul. tp pemahaman anda tidak menjawab pertanyaan Bang SM diatas. bahwa setiap manusia dilahirkan dlm keadaan ma’rifat. faktor external (orang tua, keluarga, lingkungan, dll) yg membentuk orang menjadi kenal Allah kembali atau seterusnya lupa. jika demikian apakah benar takdir yg menentukan nasib orang itu? apakah orang itu tidak punya pilihan untuk kembali mengenal Tuhan nya?

  6. berarti Allah mentakdirkan manusia untuk bisa menciptakan takdir baru ya, Abang….

  7. manusia itu tempat rahasia allah sedangkan allah itu rahasia takdir itu rahasia allah, oleh karena itu manusia tidak tahu rahasia takdir adanya doa dan usaha maka ramailah dunia ini (ada yang miskin, ada kaya ada jahat, ada baik, ada ulama) semua ketentuan allah.

  8. Siti Chotidjah on said:

    Takdir lain apa yg dpt diusahakan oleh anak miskin dari dusun terpencil yg disebut dalam contoh anda?

    • Ketika dia menerima informasi yang berbeda maka nasib nya akan berbeda juga.

    • amir karyo on said:

      Anda akan terkejut oleh Maha Penyayang-Nya Alloh. Tidak ada yang namanya satu tempat terpencilpun, kecuali ada seorang penyampai kebenaran di situ. Di setiap tempat maupun di setiap generasi. Tinggal manusia mau atau tidak, peka atau tidak, peduli atau tidak untuk mendengar dan mentaatinya.

      Tuhan Maha adil, setiap manusia mendapat kesempatan yang sama untuk meraih-Nya. Pertanyaannya: Mau atau tidak untuk berusaha meraih Tuhan? Kenyataannya hampir semua manusia cenderung memilih ‘tidak’. Wajar saja, karena memang sangat sulit sekali menjalani hidup untuk meraih Syurga, apalagi menjalani hidup untuk meraih Alloh.

      Manusia lebih senang hidup untuk memenuhi kebutuhan bilologis dan syahwatnya saja, lebih senang hidup untuk menghiasi fisiknya saja, lebih senang hidup untuk memoles status sosialnya saja, lebih senang hidup untuk memikirkan masalah dan persoalan pribadinya saja.

      Idul adha sudah dekat, mari kita sembelih hewan-hewan yang ada di dalam hati kita, yang sudah beranak-pinak dan mengganas di hati kita. Agar hati kita benar-benar menjadi hati manusia, bukan hati hewan yang berjasad manusia. Karena dari pandangan hewan, kita ini lebih buruk dari mereka. Kita ini tidak pantas berjasad manusia, kita ini palsu.

      Mohon maaf atas kelancangannya, barangkali ada manfaatnya.

  9. Sangat jelas apa maksud Umar hanya saja perlu pengetahuan lebih utk memahaminya. Manusia diciptakan dgn sempurnanya penciptaan. Manusia dikaruniakan akal sbg alat bertimbang. Tentu akal yg sdh Islam lah yg dapat menghasilkan pemikiran2 yg berdampak baik dan memberi keselamatan bagi dirinya.
    Ingat “Bismillahirrahmanirrahim”, disitu jelas Allah tdk bersifat zalim melainkan kasih sayang. Tdk ada ketentuan buruk utk manusia dari Allah melainkan atas pilihan manusia itu sendiri. Semua peringatan, larangan, perintah yg terkumpul di dlm al quran yg kita kenal bukankah semua itu utk keselamatan manusia ?

    Ini hanya pendapat sy pribadi, mohon maaf jika kurang berkenan. Wassalam

  10. maaf sebelumnya, setahu sy asy’ariyah (sunni) tidak sama dengan jabariyah. kok dalam artikel ini dianalogikan seperti wayang? apakah sy salah? trims.

  11. pahmi hidayat on said:

    Subhaanalloh. mantap bang amir. salam kenal

  12. brfikir sblm brbuat’
    stiap mnsia hnxa bisa usaha & mncba’ tp tkdir allh lah di ats sgla nya’

  13. terlalu naif bagi seorang sufi memberikan pernyataan menciptakan takdir, sungguh segala sesuatu telah tertulis dan berjalan sesuai dengan kehendakNYA, pernyataan Umar menjawab: “Benar, kita menghindari suatu takdir Allah dan menuju takdir Allah yang lain”, ( apakah benar tafsir kalimatnya seperti itu ? )…takdir Allah lah yang menjadikan mereka dan rombongan kembali ke madinah, seandainya tidak adanya informasi mengenai hal tsb bisa jadi mereka akan terus melanjutkan perjalanan. Bagaimana dapat dikatakan kita dapat menciptakan takdir atau berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain sedangkan kita tidak mengetahui dan mempunyai pengetahuan secara pasti sebelumnya apakah memang hal tsb merupakan sesuatu yang sudah ditakdirkan?sungguh hanyalah Sang Maha Awal dan Maha Akhir yang mengetahui hal tsb.

  14. Ketika semua taqdir-Nya sudah ditetapkan di lauhul-mahfudz dan ketika Dia menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya, maka yang tersisa pada diri manusia hanyalah meRESPON taqdir-Nya dengan ACTION sepenuh hati bersama-Nya dan dengan cara-Nya. Kemudian selebihnya adalah hak prerogatif- Nya.

    Walau taqdir telah ditetapkan jauh hari sebelum makhluk diciptakan, namun Dia dapat menembus lorong waktu ke masa lalu untuk merubahnya karena ada doa manusia yang ingin Dia kabulkan. Kemudian dengan ke-Maha-Kuasa-anNya, Dia turunkan kembali taqdir yang-telah-dirubah-tersebut ke muka bumi dan mensinkronkannya dengan taqdir yang sudah Dia tetapkan sebelumnya. Bagi Tuhan YME, tidak ada lagi yang namanya dimensi waktu. Yang lalu, sekarang dan yang akan datang menjadi satu kesatuanNya.
    “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-taqdir-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, serta -berilah aku ilham juga- untuk -selalu dapat menindaklanjuti taqdir tersebut dengan- mengerjakan amal saleh -berupa ACTION yang nyata- yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.
    (Q.027: 019).

  15. Hamba Allah on said:

    yang di atas itu bukan sunni,tapi Qodariyah.ini fitnah..justru sunni yang berada di tengah,tolong pahami lagi antara Qodariyah dan Jabariyah..

  16. Hakikatnya takdir itu tidak pernah berubah. Yang berubah itu manusia dan makhluk alam semesta. Kalau Takdir bisa dirubah, berarti Allah swt, bergantung pada makhlukNya. Jika itu terjadi, pasti bukan Tuhan.

    Do’a dan usaha bisa merubah takdir. Itu adalah pandangan sayaari’at. Hakikatnya tidak bisa. Jika anda berdo’a dan berusaha, lalu ternyata nasib anda berubah, apakah takdirnya Allah swt. itu berubah karena do’a dan usaha keras anda? Bukan!

    Hakikatnya, usaha dan do’a anda ternyata juga takdir. Maknanya, bila Allah swt, menghendaki sesuatu keadaan tertentu pada hambaNya, maka si hamba juga ditakdirkan berupaya menuju sesuatu tersebut. Usaha dan do’a itu pun juga ketentuan Allah swt.
    Segalanya tetap bergantung kepada Allah swt, dan gantungkan segalanya kepada Allah swt. Ikhtiar dan do’a adalah upaya menjalankan perintahNya dan sebagai ‘ubudiyah kepadaNya

    KH.Lukman hakim – pengasuh http://www.sufinews.com/index.php/kolom-sufi/interaktif/psikologi-sufi/item/1071-taqdir-bisa-diubah

  17. nandalukita160892 on said:

    Bagi Anda yang menyatakan dan meyakini bahwa Takdir adalah buatan Allah dan telah tetap atau tidak berubah, bagaimana Anda menjelaskan pertanyaan, “Apakah Allah kejam karena Dia telah menetapkan seorang Hamba untuk masuk ke dalam Neraka? Apakah ini semua salah Allah bila seseorang menjadi Kafir? Kenapa harus manusia yang disiksa?” Yang menyatakan takdir bisa diubah, “Apakah kita bisa mengubah takdir dari orang tua yang mana kita dilahirkan? Padahal dari lahir hingga kita mati kita hanya bisa memiliki satu pasang orangtua Biologis, bagaimana mengubah takdir ini?”

    • pertanyaan @nandalukita ini ada penjelasan nya di artikel Bang SM “Nasib mu ditentukan oleh Variable”….

      silakan dibaca…

    • sy jg pernah berfikir seperti itu;
      “Apakah Allah kejam karena Dia telah menetapkan seorang Hamba untuk masuk ke dalam Neraka?

      Dan mungkin semua juga sempat berfikir seperti itu. tapi tentang masalah ini coba cari vidio ZAKIR NAIK di youtube karena ada wanita yang menanyakan tentang hal yang sama. sy ga kepikiran untuk save linknya. saya rasa jawaban dari ZAKIR NAIK itulah yang terbaik.

      berhubung paket inet sy dah mu abis jd yah…. selamat mencari 😀

  18. menciptakan takdir, hasilnya adalah takdir itu sendiri…

  19. menciptakan takdir dan hasilnya adalah takdir itu sendiri… apa yang berubah?? takdir is choice

  20. Wahai saudaraku perbanyaklah kalian belajarrr yaaaaa

  21. Maaf tanpa bermaksud menilai ketentuan Allah nan agung…sebagai seorang awam dlm Islam saya melihat pada saat seorang manusia dihadapkan dengan pilihan ia sedang berada disatu titik bernama “nasib” disitu juga manusia sedang menjalankan perannya sebagai mahluk yg paling sempurna, namun jika manusia telah memilih satu diantara pilihan-pilihan..apa yg dialami, dirasa, dan didapat akibat pilihannya itulah yg dinamakan takdir…
    mohon maaf..jika ada perbedaan pendapat juga dibukakan pintu maklum dalam hati setiap pembaca komentar awam saya

  22. “Barang siapa melihat sesuatu pada SEBAB-SEBAB, maka dia akan menjadi pemuja bentuk.
    Namun orang yang mampu menatap pada SABAB PERTAMA, maka dia akan menemukan cahaya yang memancarkan makna”

    Jalaluddin Rumi

  23. TAKDIR dan NASIB

    TAKDIR adalah KETETAPAN

    contoh takdir;
    Api ditetapkan panas, (jadi ga mungkin api itu dingin karena Allah
    sudah menetapkannya demikian) kalau tidak ditetapkan demikian alam ini
    akan kacau balau, dan ilmu fisika tidak akan pernah ada dan tidak berguna untuk dipelajari.

    contoh;
    Motor/mobil untuk menjalankannya perlu energi dari bahan bakar bensin
    yang dibakar dengan api, hasil pembakaran akan menciptakan ledakan yang mendorong
    piston untuk memutar engkol dan menggerakkan system mekanik roda
    sehingga motor/mobil bisa bergerak (jalan). lha kalau api tidak ditetapkan
    (ditakdirkan) Panas (energi merusak/membakar), menjadi dingin (semau gua kata api :D)
    ga bakalan ada motor/mobil yg anda liat saat ini, yg ada anda akan melihat
    Kuda/unta/keledai sebagai kendaraan manusia.

    sedangkan NASIB adalah PILIHAN

    Tuhan sudah mengirimkan (Rasul) utusan-Nya menyampaikan Al-Quran sebagai
    pedoman hidup manusia (petunjuk)

    tiap langkah kita selalu di beri pilihan;
    pilih baik/buruk!
    Pilih Surga/Neraka!
    Pilih Selamat/Celaka!

    dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (An Nisa;79)

    mengenai TAKDIR DI TETAPKAN SELAMAT/CELAKA

    “Tidaklah ada seorang pun dari kalian melainkan telah dituliskan (ditetapkan) tempat
    duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.” Bertanyalah para sahabat,
    “Ya Rasulullah, (kalau begitu) apakah tidak (sebaiknya) kita pasrah saja terhadap
    tulisan itu dan kita tinggalkan amalan-amalan itu.” Beliau menjawab, “ Beramallah kalian,
    (sesungguhnya) tiap-tiap diri itu akan dimudahkan (jalan menuju) apa-apa yang telah
    Allah ciptakan (tetapkan), adapun ahli keberuntungan mereka pun akan dimudahkan
    (jalan menuju) amalan ahli keberuntungan, sedangkan ahli celaka, mereka pun akan
    dimudahkan (jalan menuju) amalan ahli celaka.” [HR Bukhari Juz 6 Kitab at-Tafsir]

    ada yg pernah berfikir (termasuk saya dulu :);
    “wah kalau gitu saya ga usah shalat ah, toh tuhan juga yang tentukan saya masuk surga/neraka”

    jawaban saya adalah sudah PASTI anda (yg tidak shalat) akan masuk NERAKA.
    karena anda memilih yang salah (tidak mematuhi) karena kebodohan anda (kurangnya ilmu agama)

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (Shalat) akan masuk
    neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al Mu’min’60).

    maaf… biasanya para pengikut thariqat nih dgn berbagai hujah n alasannya 🙂
    walau tidak semuanya lho!

    kenapa ditetapkan CELAKA sama TUHAN, karena Tuhan yang MAHA TAU yg AWAL dan yg AKHIR
    TAU PILIHAN ANDA. bahwa nanti/besok/kelak anda akan berfikir seperti itu dan
    nanti/besok/kelak juga anda tidak mau mematuhi perintahnya jadi konsekwensinya anda
    dimasukkan ke NERAKA karena pilihan anda sendiri.

    contoh lain;
    biar tidak panjang yg saya tulis n pertimbangannya kasihan yg pakai HP
    cari Hadits tentang sahabat yg berjihad dan bunuh diri karena tidak kuat menahan sakit.

    Nabi tau tentu diberi tau oleh Allah yg Maha Tau (wa Awalu wa akhiru) bahwa sahabat itu
    akan bunuh diri sehingga ditetapkan ahli Neraka!

    padahal Sahabat nabi lho, sudah bertemu nabi, ikut jihad pula tapi … renungkan sendiri ya

    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: