Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Memandang Tuhan dalam Segelas Kopi (2)

photo(2)Pencarian yang paling serius manusia sepanjang sejarah adalah pencarian Tuhan atau mencari eksistensi Tuhan yang bisa benar-benar dikenal sehingga akan bisa disembah dan dicintai dengan benar. Konsep Tuhan pada semua agama adalah sama, bahwa Dia adalah pencipta seluruh alam, mengatur segalanya dan Dia ada Pemilik Kekuatan Maha Dahsyat, kekuatan super diluar kemampuan manusia. Seluruh manusia tanpa kecuali menyadari ada sesuatu diluar dirinya yang mempunyai kekuatan luar biasa, kekuatan itu kemudian disebut Tuhan.

Karena keterbatasan manusia, maka apapun gambaran tentang Tuhan merupakan hasil dari imajinasi dan pemikirannya sehingga diseluruh dunia konsep tentang Tuhan berbeda-beda. Di dalam Islam sendiri pemahaman tentang Tuhan juga berbeda walaupun pada hakikatnya sama. Syariat yang merupakan hukum tertulis tentang agama hanya bisa menjelaskan tentang “ciri-ciri” Tuhan, kita hanya bisa diajarkan tentang nama-nama-Nya (asmaul husna), tentang sifat-sifat-Nya namun ketika sampai pembasahan kepada Dzat Allah Yang Maha Agung, maka syariat akan menjadi buntu. Guru-guru yang belajar agama hanya pada tataran lahiriah tidak bisa menjelaskan kepada kita secara memuaskan tentang Dzat Allah, maka cara yang paling mudah untuk menenangkan para murid adalah dengan argument-argumen yang menyatakan bahwa Dzat Allah tidak boleh ditanyakan sama sekali.

Kenapa demikian, karena memang syariat bukanlah ilmu yang bisa digunakan agar manusia sampai kepada Dzat Allah, syariat hanya menjelaskan kepada kita tentang konsep Ketuhanan, sifat dan namanya yang kemudian dikenal dengan ilmu Tauhid, ilmu Meng-Esa-kan Tuhan. Ilmu yang bisa mengantarkan manusia kepada Dzat Allah adalah ilmu tasawuf. Karena ilmu tasawuf sangat halus dan dikhawatirkan bisa dipahami secara keliru, maka diperlukan penyambung antara ilmu syariat dan tasawuf sebagai ilmu hakikat, penyambung itu lah ilmu tauhid.

Belajar ilmu tauhid tanpa belajar tasawuf lewat bimbingan Guru Mursyid tidak ada bedanya dengan belajar ilmu filsafat yang juga mengajarkan konsep Ketuhanan yang pada akhirnya akan berujung kepada pencarian tanpa batas atau ujung.

Di kalangan sufi, mereka tidak lagi berbicara tentang “mengenal”, tapi sudah pada tahap jatuh cinta, rindu, mabuk akan Tuhan yang kesemua itu bisa kita baca pada karya-karya sufi klasik seperti Abu Yazid al-Bisthami, Rabi’ah al-Adawiyah, Jalaludin Rumi dan lain-lain. Tidak mungkin manusia bisa sampai kepada tahap Mabuk kepada Tuhan sebelum dia benar-benar pernah meminum anggur Tuhan. Jatuh cinta secara mendalam seperti yang diungkapkan oleh para tokoh sufi hanya bisa terjadi pada orang yang sudah mengenal Tuhan secara sempurna, memandang wajah-Nya dan berkomunikasi dengan mesra lewat ibadah-ibadah yang dilakukannya setiap saat.

Bagaimana mungkin kita bisa jatuh cinta pada sosok Abstrak yang tidak dikenal sama sekali, pada sosok yang konon kabarnya berada di langit sana. Karena meyakini Tuhan berada di langit barangkali yang menyebabkan manusia setiap berdoa wajahnya memandang ke atas. Kalau kita bahas langit secara hakikat, tentu saja bukan langit yang Nampak biru ketika siang dan hitam ketika malam, karena di langit itu tidak ada apa-apa selain awan, bintang, planet dan galaksi.

Waktu saya kecil, ada seorang ulama yang sangat tidak percaya bahkan menolak dengan keras tentang kemampuan manusia sampai ke bulan. Beliau menjelaskan bahwa langit itu ada pintu dan setiap pintu di jaga oleh malaikat dengan demikian tidak mungkin orang kafir yang tidak pernah mengambil wudhuk bisa melawati pintu langit yang di jaga malaikat. Setelah saya berguru kepada seorang Auliya Allah dan melakukan suluk, baru saya paham perbedaan antara langit tempat berada arwah para Nabi dengan langit zahir yang terlihat setiap hari. Jadi langit 7 lapis yang dimaksud oleh Nabi bukanlah langit yang terlihat.

Pencarian Tuhan lewat akal pikiran dan perenungan hanya bisa membawa kita kepada keyakinan bahwa Tuhan itu memang ada di dunia ini, namun untuk bisa sampai kehadirat-Nya diperlukan seorang Master, Pembimbing yang sudah berulang kali bolak balik kesana sehingga jalan yang kita tempuh bukan jalan keliru yang membawa kita kepada kesesatan.

Tidak mungkin manusia  yang tercipta bisa sampai kepada Sang Pencipta, tidak mungkin manusia yang baharu sampai kepada Allah yang Maha Qadim, kecuali lewat bimbingan para Nabi dan Para Wali yang diberi ilmu oleh Allah unuk membimbing manusia kejalan-Nya. Tujuan Tuhan menurunkan agama tidak lain agar manusia bisa mengenal dan berkomunikasi sempurna dengan Allah, sehingga manusia mengetahui dengan pasti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan kepada dirinya.

Satu hal yang harus di pahami bahwa ibadah, shalat dan lain-lain bukanlah sarana untuk mengenal Allah, ibadah adalah sarana untuk menyembah-Nya, tentu saja untuk bisa menyembah terlebih dahulu kita harus mengenal yang kita sembah agar penyembahan kita tidak keliru.

Kalau sampai hari ini di dalam ibadah kita tidak menemukan getaran Ilahi, tidak berefek apa-apa pada jasmani dan rohani kita berarti adalah yang salah dalam ibadah yang kita lakukan. Agama pada hakikatnya adalah ilmu eksak, ilmu pasti bukan ilmu menduga atau mencoba-coba. Kalau Rasulullah SAW, Para sahabat bisa akrab dengan Tuhan memakai suatu ilmu tentu saja ketika kita memakai ilmu dan rumus yang sama maka hasilnya akan sama, itu PASTI.

Ketika belum sampai kepada tahap PASTI, berarti kita baru belajar agama secara zahir yang bisa dipelajari oleh siapapun karena pelajaran agama zahir merupakan pelajaran akal pikiran yang akan hilang ketika manusia meninggal dunia. Manusia harus meng-upgrade ilmu agamanya sehingga bukan hanya jasmaninya yang beragama tapi juga rohani karena nanti yang kembali kepada Allah bukanlah jasmani tapi rohani.

Ketika manusia belum mengenal Allah, dalam ibadah formal yang sangat tenang sekalipun dia tidak akan bisa mendapatkan apa-apa selain kekosongan dan kehampaan serta menduga-duga bahwa dia sedang berhadapan dengan Allah.

Ketika ilmu agamanya telah di upgrade dibawah bimbingan Guru Yang Ahli, dan ketika kita telah mengenal Tuhan dengan sebenar kenal tanpa keraguan sedikitpun, maka dimanapun kita bisa menjumpai-Nya, tidak hanya ketika melakukan ibadah formal saja, ketika menghirup segelas kopi pun akan ada wajah-Nya disana….

Single Post Navigation

50 thoughts on “Memandang Tuhan dalam Segelas Kopi (2)

  1. Apa wajib belajar dengan guru, sedangkan Allah mengajarkan ilmu kepada siapa yg dikehendaki-Nya?
    mohon pencerahanny.

    • kalo mnurut sya wajib,, cntoh,, sya ingin prgi k jakrta tp sya tdk prnah ksna,, sya sma skli tdk tau jlnnya,, apakah sya bisa prgi ksna? tntu tdk,, lalu sya brdoa,, dan Allah mngarjakn ilmu kpd sya mlalui hati,, dan hati itu brbicara kpd sya “cari orang yg sudah prnah ke jakarta dan tnyakan padannya jlan mnuju jakarta”,, lalu sya mnmukan org yg sdh prnh k jkrta dan dia mmbritahu sya cara munju jakrta,,

      dsini kata hati sya anggap sbgai ilmu dri Allah dan org yg mnunjukan cara prgi k jakrta sya anggap sbgai guru

  2. Apa wajib belajar dengan guru, sedangkan Allah mengajarkan ilmu kepada siapa yg dikehendaki-Nya?
    mohon pencerahanny

    • betul mas bro, Allah mengajarkan Ilmu kepada siapa yang dikehendaki-Nya!

      “yang dikehendaki-Nya” ya mereka Para Nabi itu, lalu Nabi mengarjakan pada para sahabat beliau, lalu ke Tabi’in dst.

      Kalau semua orang minta diajari oleh Allah langsung! ya percumah Nabi Diutus!

  3. awwaludin ma’rifatullah
    man arofa nafsahu faqod arofa robbahu

  4. ………ketika menghirup segelas kopi pun akan ada wajah-Nya disana….sufi muda apa ini pendapatmu sendiri atau ada dalil hadist dari rasulullah…tolong penjelasan krn yg dimaksud dengan wajah disini Allah itu berbentuk…???? dan tentu saja sufi muda pasti sdh melihat bentuk wajahNYA…subahanallah….tolong penjelasan..????

    • @imet;
      anda betul…bahkan saya juga bertanya-tanya apakah Rasul juga suka minum kopi yaa…?

      menurut saya, kisah ini dituturkan berdasarkan pengalaman pribadi sang Penulis. apakah setiap pengalaman spritual harus ada dalil nya? saya kira tidak.

      • pengalaman pribadi tidak bisa dijadikan sebuah rujukan sebagai study pemikiran tentang akhidah.. apalagi pemikiran itu dituangkan dalam tulisan yang jutaan orang membacanya…kadang kita umat islam terlalu bersemangat membuat tulisan2 yg membingungkan dan justru terjebak pada pemikiran sendiri bukan berdasarkan al-qur’an dan hadist…

        • Kebanyakan kitab2 tasawuf bingung di baca oleh orang yg tidak belajar tasawuf, pengalaman saya dulu begitu. Jangankan karya sufi, kitab “duratun nasihin” yg sudah umum pun bisa membingungkan. Disana diceritakan bahwa yg shalatkan jenazah Nabi pertama adalah Allah, kemudian Jibril, Mikail, israfil baru kemudian para sahabat. Dulu saya bingung koq bisa Allah yg menshalatkan jenazah Nabi. Setelah berguru baru saya bisa paham.

          Dengan karya2 yg sudah banyak dihasilkan oleh ulama yg sebagian membingungkan orang sementara banyak yg tercerahkan, lalu kita mau berdiri di bagian mana? Yg membingungkan atau mencerahkan?

          Kalau anda membaca karya tasawuf klasik, tulisan yg saya tulis di atas adalah hal yg biasa,,,

          Jalaluddin Rumi berkata, “Bagi orang yg tenggelam dalam cinta Allah ketika dia minum ada wajah Allah dalam cangkirnya tapi bagi orang awam yg dilihat hanya wajah dia sendiri”.

          Ibnu Arabi, “Ketika aku tawaf, ada melihat Allah dalam diri seorang pemuda tampan”.

          Silahkan direnungi,,,,

          • untuk lebih jelasnya baca penjelasan tulisan sufi muda mengenai “tajali”yg telah ditulis beberapa bulan yg lalu
            kalo masih belum jelas/faham tak ada salahnya untuk ditemui sufi muda…
            trims bg sufi muda atas tulisanya yg selalu hadir di email saya…

        • @imet:

          saya kira dasar pemikiran Anda sudah tepat. Anda punya pengetahuan yang sangat luas untuk dapat memilah sesuatu pemikiran temasuk di level aqidah atau level lainnya, membedakan mana saja hal hal yg termasuk dalam Alquran dan Hadits atau yg bukan. dengan begitu Anda punya filter yg sangat selektif.

          mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain, termasuk pengalaman spiritual, untuk bahan perenungan saya kira bukan sesuatu yg salah dan bertentangan dg Alquran & Hadits.

          ilmu dan pengetahuan Anda yg menjadi filternya.

          • klo membaca tulisan2 diblog ini selalu membahas tentang esensi ALLAH…bahwa SM sudah sangat mengetahui dengan PASTI zat ALLAH dan tentu hal ini berbeda dengan pemikiran sy.. sy juga sering membaca buku2 tasawuf klasik..jalaluddin rumi, al-attar, ibnu arabi dll..tapi makna yg mendalam tentang kitab2 tersebut menurut sy harus dipahami dgn intuisi yg berbeda bukan sebaliknya..
            Jalaluddin Rumi berkata, “Bagi orang yg tenggelam dalam cinta Allah ketika dia minum ada wajah Allah dalam cangkirnya tapi bagi orang awam yg dilihat hanya wajah dia sendiri”. menurut sy untuk memahami perkataan ini BUKAN WAJAH ALLAH YG DILIHAT RUMI tapi rasa kecintaannya…

            • menurut pemikiran sy rasa kecintaan inilah kebanyakan si pecinta TUHAN mengungkapkan PERASAAN…disini sudah faktor RASA yang dominan…makanya disemua buku TASAWUF klasik.. tidak ditemukan ada seorang sufi yang bisa menggabarkan bentuk zat ALLAH secara PASTI.. dan klo SM bisa secara PASTI melihat ZAT ALLAH sungguh sangat luar biasa… mohon penjelasan dan pencerahannya…???

            • Saudara Imet Abduh
              Tulisan saya kalau dibandingkan dengan karya2 sufi Agung spt Rumi, al-Attar dan Ibnu Arabi tentu bagai bumi dengan langit, Beliau-Beliau itu semua sudah sempurna hati dan pikiran serta sempurna ilmunya sedangkan saya adalah anak muda yang ilmunya terbatas.
              Mereka itu ibarat seorang Profesor yang sangat ahli. Semua orang bisa membaca karya profesor, anak SD pun bisa, akan tetapi untuk bisa memahami seperti yang dimaksud oleh profesor tentu level ini yang dimiliki harus sama minimal mendekati, kalau tidak maka kita akan keliru memahaminya.
              Sebelum saya membaca karya2 tasawuf, 3 tahun saya mengamalkankan dzikir tarekat dan suluk sampai saya merasakan “rasa” yang harus dirasakan oleh pencari. Setelah mendapatkan “Rasa” itu baru kemudian saya membaca karya2 tasawuf dan Subhanallah, disana ditulis dengan saya terang tentang segala hal yang andai saya membaca sebelum dibimbing oleh Guru maka saya tidak akan mendapatkan apa2.
              Para Guru sufi yang mulia menulis kitab dengan bahasa kias yang tinggi, sedangkan saya anak muda menulis dalam bahasa anak muda, langsung ke intinya. Mungkin seiring berjalannya waktu, tentu saja gaya penulisan sufimuda akan berubah, menyembunyikan hal yang tidak mungkin dicari oleh orang yang hanya membaca dan mengungkapkan yang tersembunyi bagi para pencari lewat amalan dan mujadah.
              Jadi, karya2 sufi klasik menulis dengan sangat jelas tentang apa yang anda tanyakan, cuma pemahaman pembaca berbeda-beda.
              Coba anda baca Kitab AL-LUMA’ Karya Abu Nashr as-Sarraj di bagian WAJD (Menemukan Sesuatu Dalam Hati), disana dijelaskan tentang itu.
              Akan tetapi, bacaan sebanyak apapun tidak akan bisa membawa kepada hakikat, ketika mata hati terbuka segala yang Gaib akan tersikap semua.
              “Karena Sesungguhnya bukanlah buta mata, tetapi buta hati yang ada di dalam dada”. (Q.S. al-Hajj : 46).
              Kita harus menemukan letak matahati yang ada dalam dada, kemudian menyembuhkan dengan dzikir dan bimbingan Auliya Allah, barulah akan terbuka hijab.
              Demikian, mudah2an penjelasan ini bisa mewakili apa yang anda tanyakan…
              salam

    • kondisi spritual sufimuda saat mnuliskannya jauh berbeda dgn kondisi spiritual anda saat mmbaca’y,, anda akan mmahaminya jika kondisi spiritual anda sama,, sufimuda mmberikan isyarat kpd kita bahwa dia sllu ingat pda Allah tdk hanya sdang bribadah tp dlm stiap prbuatan yg dia lakukan,, sllu bersyukur,, tanpa Allah sufimuda tdk akan prnah bisa mnghirup segelas kopi,, karna itu sufimuda melihat wajahNya dgn mata hati bukan mata lahir,,Nabi SAW bsabda: Ruyatullohi ta’alla fidunya biaenil qobi,, melihat Allah di dunia harus dgn hati yg bersih (maaf jika penulisannya salah,, sya tdk pernah ikut pesantren)

    • Kita hanya sekear memahami mksud dan tujuannya saja, kalau tidak faham, sudah tentu kita bingun…

  5. pahmi hidayat on said:

    assalamu’alaikum. oleh karena itu bg sayo mohon tunjukan saya seorang mursyid yang kamil mukammil, karena sudah lamo nian impian saya untuk mempunyai seorang mursyid.tolonglah saya bang ini email saya bg pahmihidayat78@gmail.com

  6. man arofa nafsahu faqod arofa robbahu, wa man arofa robbahu………….

  7. bagaimana kalau langsung dibimbing oleh sang Guru yang hakiki?

  8. memandang iblis dalam sebotol arak hehe

  9. tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak mencintai, tak mencintai maka tak kecewa …

  10. tak kenal maka tak kecewa, tak kecewa maka tak tersakiti

  11. lebih baik tak kenal, daripada kenal tpi tersakiti, namun itulah yg membuat kita lebih dewasa, kaya pengalaman dan lebih ber hati2 dlm mengenal dgn menggunakan HATI

  12. ane kagum baca tulisan2 di blog ini, dan agan benar bahwa menuntut ilmu makrifat tanpa lewat tahapan toriqot dan hakikat itu cukup mengagetkan pikiran normal ane gan.

    Tetaplah berdakwah kepada orang awam, dan jangan lupa tingkatkan ilmu agan agar tulisannya makin berkualitas

  13. hehe setelah baca terasa bingung gan..

  14. Muhammad Dharmawan on said:

    ~CAHAYA DIATAS CAHAYA~

    Kenalilah dirimu niscaya engkau akan mengenal Penciptamu!

    Ambilah sebuah buku tulis dan pena lalu tulislah dengan akurat setiap pikiran yang terlintas diotak kita, perasaan-perasaan yang terpapar, kata-kata hati yang terbesit dan gerakan-gerakan yang sengaja atau tidak sengaja yang terjadi secara rinci, akurat dan mendetail dalam 5 menit yang lalu dan 5 menit kedepan !

    Jawabnya : tidak bisa dan tidak tahu! Kenapa ? Bagaimana kalau menulis secara rinci semuanya dari semenjak lahir hingga wafat nanti?  Lalu makhluk mana kira-kira yang kita anggap bisa dan tahu (tentang itu), baik pada dirinya dan pada semua makhluk-makhluk yang ada baik pada masa lalu, saat ini dan kedepan?

    Jika setiap makhluk tidak mampu menulis secara mendetail rinci dan akurat setiap pikiran-pikiran yang terlintas, kata-kata hati yang terbesit, perasaan-perasaan yang terpapar, gerakan-gerakan yang terjadi pada dirinya sendiri baik masa yang lalu maupun yang depan? Bagaimana dengan Allah Swt Pencipta setiap makhluk-mahkluk itu, Mungkinkah DIA itu juga tidak tahu menahu?

    Jika begitu anggapannya jadi siapa yang tau persis (tentang itu semua secara rinci dan mendetail) dan yang mengendalikan segala mahkluk hidup dan segala sesuatu didalam semesta ini? Milik siapakah segala-galanya  itu, selain Allah Swt? Apakah kelebihan manusia-manusia padahal tidak tau semua yang telah terjadi dan yang akan terjadi pada dirinya sendiri selain kesesatan,  ketidaktahuan dan kesombongan?

    Pikirlah sejenak Jika ternyata hanya Allah Swt itu yang sesungguhnya mengetahui secara mendetail segala pikiran, perasaan, katahati dan gerakan kita,  baik yang dimasa lalu maupun kedepan , maka pikirkanlah, renungkanlah!, bagaimana dekatnya Allah Swt itu kepada kita?

    Dimanakah kita bisa sembunyi tanpa diketahuiNYA? atau kemanakah kita menghadap tanpa diketahuiNYA? Apa yang bisa kita sembunyikan dariNYA? Atau Apa yang bisa kita sombongkan dihadapanNYA? Apa yang akan terjadi atas kita dan segala sesuatunya yang tidak diketahuiNYA terlebih dahulu?

    Jika saudara bisa “merasakannya” atas ijin Allah Swt, Inilah “Cahaya Hakikat Iman Yang Sejati! Terasa dekatnya tidak terucapkan bahkan “Tak terukur”, dan jauhnya juga tak terhingga “ Tak terjangkakan”! Dan tidak ada keimanan yang lebih tinggi dari ini, yang bisa lebih mendekatkankan kita lagi kepada Allah selain nanti bertemu dengan Allah swt kelak di akhirat itupun jika kita termasuk orang yang beruntung, yaitu orang-orang yang patuh dan setia kepadaNYA tanpa mensekutukanNYA dengan satu apapun serta sungguh-sungguh mencintai dan merindukan untuk bertemu denganNYA kelak.

    Jika saja kita mau sedikit berpikir maka kita sadar dan betapa lemahnya kita demikian juga dengan makhluk semuanya , maka salahkah kita jika “menyerah, berserah diri” kepada Allah Swt Pencipta kita dan alam semesta ini yang mengetahui apa yang ada dibelakang “ semua yang telah terjadi dan kedepan “ yang akan terjadi” atas kita dan semua ciptaanNYA, seraya bersyukur dan bersabar atas semua ketetapanNYA dan meminta PertolonganNYA?

    Menjadi cerdaslah! Dengan berpikir kenapa kita bisa berpikir? Demikian juga dengan seluruh manusia? dan Dimana tercatat dan tersimpan semua pikiran-pikaran  itu jika kita lupa atau otak kita sudah jadi tanah atau abu? dan Dimana pula perbendaharaan pikiran-pikiran, ide-ide, ilmu-ilmu pengetahuan itu  itu sebelum terlintas diotak-otak manusia selama ini padahal sebelumnya mereka-mereka tidak tau menahu?

    Jika saudara bisa menghayati bacaan ini, dan mendapat Bimbingan “Cahaya dari Allah, Insya Allah saudara akan paham tentang semua yang terjadi dimuka bumi ini, dan tidak ada tanya lagi kenapa? dan mengapa? dan pahamlah saudara makna kalimat Laa illaha Illallah = Tidak.ada Penguasa “Yang Kuasa” Kecuali Allah ! Dengan mengimani ini maka tidak ada khawatiran dan duka  yang tak berujung,

     Dan selanjutnya dengan akidah dan keimanan ini Insya Allah saudara akan lebih tenang, sabar, dan syukur sebab apapun keadaan  kita pastilah itulah yang terbaik bagi kita saat ini dan kedepan Insya Allah   saudara akan lebih mengerti dan lebih paham  ketika anda berdialog dengan Allah Swt via Al Qur’an, dan juga mengerti  tujuan Sunnah-sunnah Nabi Muhammad Saw, dan ungkapan-ungkapan keimanan dan kerinduan orang-orang takwa yang terdahulu! Sebab tidak mugkinlah Allah Swt dan Nabi Muhammad menyuruh sesuatu yang tidak ada maksud dan tujuannya, Pastilah sesuatu yang baik untuk kemaslahatan, sebagai pangkal hidup bahagia didunia, bahagia diakhirat dan selamat dari api neraka dan segala siksaan! Dan selanjutnya lagi Allah lah yang akan membimbing kepada orang yang DIA kehendaki!

    Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah paling mengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)

    mohon bantuan, agar dibagi kepada orang lain!

    Wasalam.

    Oleh: Muhammad Dharmawan

  15. untuk mncapai itu maka berzikirlah selalu dalm hatimu..nyawamu..dan rahasiamu….ingatlh sellu ALLAH dalm setiap detikmu…jngn lupakn naik turunnya nafasmu kau ingatkn ALLAH….teruslah bermujahdah dgn itu..ciri2mujahadah yg bnar pasti nantinya kmu akn sangat mncintai syariat..n hatimu mnjdi ikhlas..sabar..sellu bersyukur…n kmu akn sellu tnang n terpesona saat memandangnya dengn basirahmu…kmu akn cinta n bner bner htimu akn terbang kpadnya..sellu berkomunikasi dngannya…bermujahadahlah dngn ikhlas…mudah2n sampai…kosongkan hti dari selain ALLAH…hiduplah kmu didalamdua negri..yg maksudnya ingatlah ALLAH dihatmu walaupun kau dkeramaian..jasadmu untuk dunia hatimu untuk ALLAH…mngingat ALLAH bukn brarti sellu memegang tasbih dan berdiam diri..jdi lakukanlh kwajibanmu didunia n hatimu sellu bersama ALLAH…krna yg dsebut mnusia itu..tubuh hati nyawa dan rahasia…mungkin secara umumnya dhohir batin..merasalh kau selalu dilihat ALLAH..itulh kerjanya rahasiamu…itu yg mawas diri..

    • perbanyaknlah selawat karena selawatlah yang dibalas 10 x oleh Allah, yang terpenting bukan zikir nafasnya tapi kata sambutan dari zikir itu sendiri, apa sambutan dari zikirmu, sesunguhnya kekuatan terbesar itu adalah keikhlasan dan niat yang tulus, dan berlakulah sebagi seorang hamba bukan sebaliknya, walaupun kamu mengetahui rahasianya…

  16. @bung Iwan

    subhanallah saya sangat setuju dengan anda……setiap nafas selalu keluar kalimat Allah dan slalu mengingat Allah dgn Dhikirulah!

    @ Sufi Muda

    Sudah lama saya tidak berkunjung kesini, alhamdulilah ternyata sudah ada 10 tulisan terbaru yg belum saya baca.
    dan seperti biasa ada getaran” di hati bila membaca tulisan sufi muda.
    smg Sufi Muda selalu diberikan berkah dan hidayah oleh Allah Swt. sehingga dapat memberikan pencerahan” kepada saya khususnya dan pada orang” yg sedang mencari Tuhan agar cahayanya melekat dalam hati….amin..amin..amin yarobalalamin.
    Maju terus Sufi Muda ….Salam…

  17. Bersyukur kalo kite pernah jatuh cinta, pada lawan jenis, mau makan kebayang dia, mau minum kebayang dia… itulah analogi yg terjadi bila kita udah jatuh cinta pada Yang Maha Kuasa, kemanapun kau hadapkan akan ketemu wajah2 Allah.
    Sederhana bila akan menempuhnya, diawali dengan Tobat Nasuha, selanjutnya meminta maaf dan minta ridha pada orang tua… selanjutnya… lakukan amal ibadah seperti biasa…. bila engkau sudah bergetar mendengar panggilan Adzan…. pertahankan.. karna itu rizki yg paling indah…

    • Trims sufi muda emang,bagi mereka yang tidak memahaminya.arti hidup yang sebenarnya setelah kematian.barang siapa buta di dunia maka,akan lebih buta di akhirat

  18. @sufimuda

    benar sekali kalu manusia hanya berimajinasi tentang Tuhan,, dan saya rasa manusia tdk akan pnh bisa mngimajinasikan Sang Pembuat Imajinasi itu sndri,,hanya dgn “pergi melihat langsung” dan merasakan’y kita akan tahu,,

    sya ingin satu saat nanti bertemu dgn anda disini atau disana,,

  19. Hilangkan “AKUAN” yg mengaku2…klo sdh tahu diam

  20. Kalempau CallegeLege on said:

    mencari unta dengan menunggangi unta

  21. Benhur Nasution on said:

    Wafi anfusikum apala tubsirun, Aku ada didalam kamu kenapa kamu tdk mau menjenguk-Ku. Allah Maha Meliputi (Al Muhith), innahu bikulli sya’in Muhith”., sedangkan Allah itu tdk mengambil tempat. Mohon pencerahan dari sufiMuda utk memahamkan ini. Salam…

    • Allah bersemayam dalam diri hamba-Nya, lalu apa syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar manusia bisa mendapat kedudukan sebagai hamba. Perumpamaan yang mudah untuk dipahami adalah ibarat TV, ketika ada siaran langsung sepak bola dari brazil yang jaraknya ribuan mil dari Indonesia, kita dapat menyaksikan dari Indonesia, dari dalam rumah kita. Teknologi bisa menghadirkan pemain bola dari brazil dalam hitungan detik ke rumah kita, begitu juga teknologi Allah, bisa menghadirkan Dia langsung dalam qalbu kita, walaupun dalam jarak tak terhingga. Itulah maknanya Allah lebih dekat dari Urat leher. Jadi Dia yang Esa dan ada di mana2, begitu penjelasannya. Pemain bola yang kita saksikan dalam TV itu benar pemain yang sedang bertanding di brazil tapi dia tidak “menempati” secara zahir di rumah kita. demikian

      • Mantholabal bhigairi nafsihi faqod dolla,dolaalammba’iida…
        Siapa orang yang mencari ilmu luar drpd diri,maka termasuk orang dholim..sungguh indah bila dimaknai,
        Sebab”
        – lebih nyata Alloh dalam kegungan pada diri kita.
        – lebih nyata Alloh dalam ke Esaan pada diri kita.
        – lebih nyata Alloh dalam kegagahan pada diri kita.
        – lebih nyata Alloh dalam kekuasaan pada diri kita.
        – lebih nyata Alloh dalam kemanuggalan pada diri kita.
        – lebih nyata Alloh dalam rasa pada diri kita……..????
        Rasa meliputi rasa,Rasa sampurnaning Rasa…Amiiin.
        Iman teguhing Roh..
        Dzikir teteping rasa…
        Ma’rifat ilanging rasa…
        Islam sampurnaning rasa…
        mohon maaf,bila kata salah…

  22. Muhammad Dharmawan on said:

    Kenalilah hakikat dirimu niscaya engkau akan meng ucapkan “ Laa haula wa laa quata illaa billaahil ‘aliyil ‘azhiim(i ) Tidak ada daya dan upaya (kuasa) kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Tinggi dan Agung, Kenalilah Pencipta dan Pemilikmu pasti engkau akan mengucapkan  Laa ilaaha illallah dgn makna “ Tidak ada Yang Kuasa kecuali Allah.” yang berkuasa mutlak atas seluruh ciptaan-Nya, lalu engkaupun  akan menyerah dan pasrah hanya pada-Nya, mengabdi dan meminta pertolongan kepada-Nya, perlu dipahami apa yang menyebabkan setiap orang mau menyembah, mengagungkan sesuatu ?  karena sesuatu itu dianggap memiliki kuasa atau kemampuan untuk menolong penyembahnya dan sudah pasti tidak ada yang mau menyembah sesuatu jika mereka tau dan sadar bahwa apa yang mereka agungkan dan sembah itu lemah dan tak berdaya. 

       Demikianlah jaman dahulu banyak orang yang menganggap bahwa para raja, penguasa, dewa, patung dan arwah orang mati, benda2 keramat dianggap memiliki kuasa yang dapat menolong dan menyelamatkan orang yang mengabdi dan menyembahnya, demikianlah juga dengan Buddha dan Yesus disembah karena dianggap mampu “kuasa”  memberi pertolongan, menyelamatkan dan melindungi para penyembahnya dan Nabi Muhammad Saw diutus saat itu untuk mendakwahkan kepada seluruh umat manusia  bahwa “ Tidak ada Yang Kuasa kecuali Allah “ Penguasa mutlak  atas seluruh alam semesta dan segala yang telah diciptakan-Nya dari tidak ada menjadi ada. Selain dari Allah, maka semua itu adalah lemah dan tidak berdaya bahkan untuk menolong dirinya sendiri, dakwah inilah yang banyak ditentang oleh para penguasa dan  penyembah selain dari Allah pada saat itu, dengan berbagai argumen  yang menunjukkan kesombongan dan ketakutan yang timbul diantara mereka sendiri.

    Ketahuilah bahwa Kita menyembah, mengabdi, berbakti” bertaqwa’ kepada Allah yang “ Pengasih lagi Penyayang” bagaimana mungkin kita memiliki sifat sebaliknya, ” serakah dan pendengki” ?  Sesungguhnya sifat tidak setia dan tidak patuh kepada Allah, serakah dan pendengki pada sesama, itu adalah sifat dasar iblis dan orang2 yang mengikuti jalannya menuju neraka sesuai dengan tingkat2nya.

    Al Qur’an bukanlah hiburan atau syair tetapi pelajaran, peringatan, pembeda antara benar dan salah, baik dan buruk, . Maka bacalah Al Qur’an, pahami & amalkanlah dan dirikan shalat dgn bahasa aslinya itu berguna agar kita bisa mengerti bacaan imam dimana saja kita shalat dimuka bumi ini, sebagai bahasa persatuan dan berusahalah untuk mengerti apa yang kita ucapkan agar khusyuk yaitu penjiwaan dan penyelarasan antara niat, ucapan, katahati dan gerakan yang sungguh2 dan konsentrasi ketika kita berhadapan dengan Allah Swt, ketahuilah itu adalah suatu kewajiban bagi orang yang berakal,

    Bukankah, amalan yang pertama kali dihisab kelak adalah shalat ? Jika baik shalatnya maka akan baiklah perbuatan2nya karena “ Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka tentu akan ringanlahlah hisabnya namun jika shalatnya buruk maka tentu buruk jugalah perbuatan2nya maka shalatnya tidak dapat mencegahnya untuk berbuat keji dan mungkar justru hanya akan menambah celakanya saja ketika dihisab kelak. Salah satu ciri orang2 yang shalat yang mendapat celaka ialah orang yang rajin shalat tetapi hanya untuk pamer namun enggan memberi bantuan atau kikir sedangkan kikir itu salah satu ajaran utama iblis sebagai wujud dari pembangkangan dan ketidak percayaan kepada janji2 Allah Swt, mulai dari kikir ilmu, harta, dll sehingga orang tersebut tidak bermanfaat bagi orang lain sebaliknya hanya memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya, padahal wujud syukur seorang hamba kepada Rabbnya ialah dengan berbagi pada sesama yang membutuhkan.

           Ingat! bukanlah semata-mata ibadah atau amal shaleh kita yang menentukan hak surga atau neraka kita, tetapi keridhaan Allah dan mustahil pula kita dapat meraih keridhaan Allah jika kita sendiri tidak ridha/rela berkorban dijalan-Nya serta mematuhi segala ketetapan,  perintah dan larangan-Nya.

     Pahamilah setiap perintah dan larangan yang datang dari Allah yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw bukanlah suatu hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tetapi semua itu bentuk dari kepatuhan dan kesetiaan yang mengandung suatu ajaran dan pelatihan yang sarat dengan makna guna mendidik seseorang itu agar tercegah dari perbuatan keji dan mungkar serta membentuk karakter manusia yang mulia dan terpuji  ( ikhlas, jujur, adil, tanggungjawab dan kasihsayang)  sehingga  bermanfaat bagi misi agama Islam dan misi kemanusiaan, yaitu karakter manusia calon surgawi sesuai dengan tingkatannya, namun harus kita akui orang2 demikian ini susah ditemukan karena sering terpinggirkan atau terkontaminasi dari orang2 jahil, karena kejujuran orang jujur dan keadilan orang yang adil akan dianggap kekejian bagi orang fasik, dan kebaikan orang2 yang ikhlas adalah batu sandungan bagi orang kikir dan serakah yang berambisi. Sementara orang fasik, kikir dan serakah masih lebih banyak saat ini dan kelebihan mereka hanyalah fitnah dan hasut maka tidak heran kalau Nabi bersabda ” diakhir zaman memegang agama seperti memegang bara api “ Tetapi, beruntunglah orang yang sabar dan pasrah (tawwakal ) kepada Allah Swt karena akhir yang baik adalah hak mereka.

      Mengertilah, agama itu bukanlah bahasa tetapi bahasa itu adalah media untuk menyampaikan agama agar mudah dimengerti dan dipahami sehingga bisa diamalkan, membesar2 kan urusan bahasa tanpa usaha pemahaman dari bahasa itu sendiri adalah suatu kesalahan fatal dalam syiar Islam dan salah satu pembodohan dan pengalihan dari substansi juga tujuan dari pewahyuan kitab suci.

    Perlu disadari bahwa amanah adalah  barometer utama atas ujian keimanan ” kepercayaan”, kepatuhan dan kesetiaan seseorang kepada Allah Swt, karena Allah tidak tampak hadir langsung dialam semesta ini maka Allah mengangkat manusialah yang menjadi perpanjangan tangan dalam pengurusan alam dan urusan sesama manusia itu sendiri sesuai dengan kapasitasnya , untuk inilah setiap manusia akan diminta pertanggung jawaban atas setiap aktifitasnya, apakah perbuatannya menyebabkan kerusakan dan pertumpahan darah atau membawa kebaikan/perbaikan dan persaudaraan dan untuk masing2 akan mendapat ganjaran sesuai dengan perbuatannya. jika seseorang itu beriman “percaya ” kepada Allah, bahwa Allah Swt pasti akan membalas setiap kebaikan yang diperintahkan-Nya dengan balasan yang jauh lebih baik, pastilah orang tersebut akan berlomba2 untuk berbuat baik, bahkan mengorbankan harta, ilmu, tenaga, waktu bahkan nyawa sekalipun terutama dalam urusan agama dan hanya berharap balasan dari Allah semata hingga sampai derajat taqwa “tanpa pamrih ( berbakti)” namum orang  yang minus iman pastilah mereka akan mengharap upah dari manusia atau menjadikan agama sebagai proyek untuk mencari nafkah, bukan berkorban demi agama, tapi mengorbankan agama untuk kepentingannya, bagi orang yang beriman “percaya” bahwa Allah akan membalas setiap kejahatan yang diperbuatnya pastilah mereka akan takut, namun bagi mereka yang tidak ada  iman   ” siapa takut  ?”                                                                                                          

               Pikirkanlah ! atas misi pengembanan amanah inilah Allah senantiasa membuka diri bagi setiap hambanya yang memohon pertolongan dari-Nya kapan saja dan dimana saja, karena hanya Dia sajalah yang mampu mendengar katahati, pikiran serta doa  setiap manusia dan kuasa menyelesaikan seluruh permasalahan setiap manusia dan mahkluk yang sekarang ada dimuka bumi ini juga  semua mahkluk-Nya yang telah ditelan oleh kesunyian itu.

              Perlu diwaspadai, bahwa setiap orang atau kelompok memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan keagamaannya dalam bentuk ritual dan amal “perbuatan” maka nilai akhir dari penilaian benar salah atau baik buruknya dapat melalui nash-nash Al Qur’an dan Sunnah atau hasil dari amal itu sendiri jika amal tersebut tidak memberi manfaat apapun kecuali pembodohan,keburukan, kekacauan dan pencemaran maka dapat dipastikan itu adalah amalan yang salah atau keliru, karena sudah jelas tegas visi dan misi diturunkannya agama Islam adalah sebagai agama yang baik juga memperbaiki dan rahmat bagi semua.

               Iblis adalah satu sosok mahkluk yang terkutuk karena kesombongan, keserakahan dan kedengkiannya kepada manusia. misi penyesatan dan penghancuran yang dilakukan iblis ini terhadap manusia sangat sistematis diantaranya: menduakan lalu menghilangkan Nama Pencipta alam semesta ini yaitu  “ Allah “ dari  hati, pikiran dan mulut manusia, lalu mengaburkan bukti2 kekuasaan Allah,  kemudian mengagungkan nama2 atau sebutan2 lain seperti god, tuhan, dewa2, budha, dll dan menjadikan  benda2 atau manusia  sebagai media sembahan yang  diasumsikan sebagai alat konsentrasi, perantara atau anakNYA yang memiliki berbagai kasih dan kuasa yang dapat menolong dan menghubungkan mereka dengan Penciptanya, padahal itu hanya tipu daya untuk menyesatkan manusia sesuai dengan sumpahnya iblis bahwa dia berusaha  agar manusia itu tidak mengenal dan bersyukur langsung kepada Penciptanya yang telah memberikan berbagai  fasilitas selama ini untuk kita.

              Ingatlah ! Pencipta Alam Semesta ini hanya memberikan Nama-Nya saja pada manusia sejak dahulu kala yaitu “ ALLAH ” Itulah jalan /penghubung bagi kita untuk kontak atau kembali kepada-Nya kelak, dan tidak ada yang pernah melihat-Nya juga tidak ada satupun yang mampu menggambarkan-Nya, jadi ingatlah Nama itu, tanamkan didalam hati dan jagalah ! Senantiasalah menyebutnya agar kita tidak lupa dan Sucikanlah,  Besarkan dan Bersyukurlah kepada-Nya sebanyak2nya dan mohon ampunlah atas segala dosa2 .  

              Sesungguhnya syetan itu akan selalu berusaha agar kita jangan menyebut “ Allah “ dimulut / lisan  dan hati kita agar terputus hubungan kita kepada Allah, Yaitu lain dimulut lain dihati atau sebaliknya, seperti gambaran orang munafik dan musyrik  

                     Serulah Allah Swt sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad Saw, yaitu dengan seruan Rabb “ Pemilik/Tuan” dan kita adalah milik-Nya / hamba-Nya, atau Illahi (Penguasa/Yang Kuasa) dan kita serta semua yang ada dialam semesta ini berada dalam Kekuasaan-Nya atau sesuai Asma Ul Husna, karena pengertian sebutan2 itulah kita bisa memahami posisi siapa kita dan siapa Allah, dan bagaimana kita harus bersikap kepada-Nya seperti jika Allah adalah Rabb =Pemilik kita maka Dia lah Tuan atau majikan kita dan kita adalah milikNYA dan hambaNYA maka mengertilah kita bagaimana harus bersikap kepada Tuan kita agar Dia mengasihi dan menyanyangi kita dan tidak menghukum kita, dll. Sementara biarkanlah kata god, tuhan dll itu menjadi milik orang Kristen sebab merekalah yang pasti akan mempertahankannya mati2an karena itu diwajibkan sesuai dengan pengakuan iman dalam kitab suci mereka lagipula tanpa kata god atau tuhan tersebut mereka akan kesulitan mempromosikan Yesus kepada agama-agama lain. Dan tanpa kata tuhan atau god itu sebagai gelar yang disematkan kepada Yesus maka otomatis Yesus akan kehilangan pamornya dan kembali menjadi manusia atau Nabi, mesiah, utusan sesuai dengan jati dirinya.

     Ketahuilah keterpurukan yang melanda umat Islam saat ini adalah Sunatullah suatu hal yang sudah menjadi ketetapan yang telah tertulis, bahwa kemuliaan umat Islam adalah Al Qur’an, jika meninggalkannya berarti kehidupan yang sempit, kekacauan dan kehinaanlah yang akan menerpa baik didunia maupun diakhirat. Maka, marilah kita kembali dan awali dengan berusaha untuk memahami Al Qur’an dan menjadikannya sebagai petunjuk untuk perbaikan serta penyempurnaan keimanan dan ibadah menuju perbaikan akhlak,  Jika ini dapat direalisasikan dengan baik maka kita dapat melihat terbitnya matahari falaq yang akan menerangi otak dan hati kita, bukankah keadaan kita masih malam dan gelap sebagaimana yang tersirat dilambang bulan sabit dan bintang diatas kubah di tempat2 ibadah . kita masih merayap dalam kegelapan tanpa cahaya (ilmu pengetahuan), dan saling menyerang antar kita secara membabi-buta seakan tidak melihat dan mengenal bahwa kita seharusnya adalah bersaudara bagaikan satu tubuh, maka tidak heran jikalau umat Islam kerap saling berbenturan antara mereka sendiri mulai dari pribadi, golongan “mahzab”, negara dan lain-lain. juga kecintaan yang sangat kepada diri, keluarga dan harta membutakan mata kita sehingga kita menghalalkan segala cara untuk memenuhi setiap keinginan kita, bahkan lupa bahwa semua yang bersifat materi yang kita miliki dan cintai pasti akan kita tinggalkan atau meninggalkan kita, cepat ataupun lambat.

    Sedangkan ruh  “ segenap perasaan,(termasuk rasa “ keber-ada-an atau ke-aku– an “), pikiran dan ingatan,  katahati dan keinginan kita“ akan kembali kepada Allah untuk diminta pertanggung jawaban.

    Amanah yang dibebankan Pencipta alam semesta kepada setiap manusia yang diciptakan Nya diantaranya:

    -. Mensucikan, memuliakan dan membesarkan Nama, Sifat-Sifat dan Zat-Nya. Dan jangan sekali-kali  mensekutukan, mempersamakan atau  mensetarakan semua itu dengan satu apapun.

    -, Ingat, berterimakasih ” bersyukur” , Patuh dan Setia kepadaNya meski kita tidak harus melihat-Nya, tetapi ketahuilah kita tidak pernah luput dari penglihatan dan pengawasan Allah Swt.

    -. Memelihara dan merawat apa yang telah diciptakan-Nya dibumi ini  untuk kemaslahatan dan kesinambungan hidup serta berlaku adil dan berbuat baik  pada sesama.

       Tips menjaga Keimanan ” Keyakinan ” yang pasti tidak akan tersesat selamanya diantaranya:

    -. Meyakini bahwa kita dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini berasal dari Allah Swt dan tujuan kita diciptakanNYA /dilahirkan ke dunia ini  untuk mengabdi dan berbakti kepada Allah Swt dalam segala aktivitas kita dan meyakini bahwa kita pasti akan mati dan kembali kepada Allah Swt untuk mempertanggung jawabkan  perbuatan2  kita dan pasti menerima ganjaran dari-Nya

    -. Meyakini bahwa “Tidak ada Yang Kuasa  kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah)   Khalik (Pencipta), Rabb (Pemilik/Tuan), Malik (Raja),  Ilahi ( Penguasa )  atas manusia dan seluruh alam semesta serta segala isinya dan selain dari Allah itu, semua adalah mahkluk ciptaan-Nya yang lemah dan tidak punya kepemilikan atau kekuasaan apapun dimuka bumi ini secara permanen, tetapi semua hanya titipan sementara, dan kalaupun merasa ada itupun hanya sebatas omongan belaka karena apa yang dianggap pemilik atau ilah “yang kuasa”  yang selama ini disembah dan diharapkan manusia selain dari Allah Swt, itu  hanyalah benda-benda hasil karya manusia juga, demikian juga sosok-sosok yang zaman dahulu dianggap memiliki, berkuasa dan dapat melindungi juga sudah mati, dan semua yang hidup sekarang ini juga tinggal tunggu mati,  sehingga tidak pantas bagi kita mengandalkan dan menggantungkan harapan selain dari pada Allah Swt yang Dia tidak pernah tidur atau mati dan Takutlah kepada Allah karena Dia tidak hanya kuasa menyiksa orang hidup tetapi juga kuasa menyiksa orang yang sudah mati. ,  serta Meyakini Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah yang menyampaikan kebenaran dari Allah, yaitu Al Qur’an dan Sunnahnya,  sebagai rekam jejak yang diwariskan kepada kita agar kita tidak tersesat dan sengsara.

                  Tips sifat/akhlak yang pasti akan membuat kita bahagia di dunia dan akhirat : -. Ikhlas, -.Jujur, -. Tanggung jawab. -. Kasihsayang pada sesama -, Sabar. serta beribadah dan berakhlaklah sesuai tuntunan Nabi Muhammad Saw.

         Orang yang hidup pasti akan mempersiapkan diri utk menghadapi kematiannya, mencari tau bagaimana keadaan disana dan mengantisipasi segala sesuatu yang akan membuatnya menderita dan meraih apa-apa yang akan membuatnya bisa bahagia, tetapi bagaimana dgn orang mati ? Tentu tidak peduli,  karena mereka telah mati dalam kehidupannya.

           Demikianlah setiap orang baru akan benar2 menyadari ketidak kekuasaannya serta tidak ada satu kuasapun yang dapat menolongnya ketika nyawanya akan dicabut “sakaratul maut” syukurlah orang2 yang masih sempat menyadari dan mengaku bahwa Laa ilaaha illallah Muhammadurasullullah (Tidak ada Yang Kuasa kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).

           Renungkanlah “ Jika aku menyembah, memuji, mengabdi, berbakti dan bersyukur kepada Penciptaku yaitu Allah Swt yang telah menciptakanku dan semua yang ada di alam semesta ini yang selama ini menolongku memberi petunjuk-Nya  kepadaku serta mengasih-sayangiku dan memberikan berbagai nikmat yang tidak terhitung kepadaku, dianggap sebagai suatu Kebodohan dan Kesesatan ! Maka apakah orang2 yang menyembah dan memuji serta mengharapkan pertolongan  selain Allah yang jelas2 terbukti tidak pernah memberikan fasilitas apapun untuk mendukung kehidupan mereka selama ini bahkan sebagian mereka justru memberi makan pada apa yang mereka sembah adalah suatu Kebenaran?  

    Kebenaran akan berbicara dengan bahasa logika dan kenyataan sedangkan kebathilah berbicara dengan bahasanya sendiri yaitu : fitnah,  janji2, khayalan dan dusta.

     Akhirnya segala urusan kembali kepada Allah Swt,  Karena hanya Allah Swt yang Paling Benar dan Paling Mengetahui segalanya. 

    QS: “Sesungguhnya Allah  menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

                                                                           Oleh : Muhammad Dharmawan

  23. Muhamad Ilham on said:

    Pelajaran dan ulasan yang sangat bagus…..

  24. Ping-balik: Memandang Tuhan dalam Segelas Kopi (2) – Bin Azmatkhan

  25. “Dan kepunyaan-Nya-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah (ada) wajah-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Luas, lagi Maha Mengetahui.” – (QS.2:115).

  26. Mantab masbro! Memang tiada tempat selain Alloh, karena semua tempat adalah Alloh sendiri, karena mustahil ada tempat atau sesuatupun yang lebih besar dari Alloh, jadi kita dan seluruh alam semesta hanyalah berada di dalam Alloh Yang Maha Besar mutlak tak terbatas, tidak ada yang membatasi Alloh apapun itu…karena itulah semua ciptaan-Nya berada di dalam Alloh belaka, mustahil berada di luar Alloh…& ingat, Alloh itu Maha Suci, jadi tidak ada sesuatupun yang sanggup mengotori-Nya, semua ciptaan-Nya is nothing, karena hakekatnya semua mahluk awalnya tidak ada, yang Maha Ada hanya Alloh yang Maha kekal…

  27. jazakalah khair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: