Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Tidak Ada Perantara Antara Manusia dengan Allah (Bag. 4)

photo-1Abu Bakar Siddiq khawatir kalau tidak memberi ketegasan, maka nanti orang akan tetap melakukan rabithah langsung kepada Nabi tanpa mau dibimbing oleh para khalifah Beliau, padahal syarat untuk bisa melakukan rabithah adalah seseorang harus mengenal betul Gurunya dan pernah hidup semasa Gurunya hidup.

Kita ummat Nabi yang hidup dalam rentang waktu 14 abad ini sebenarnya tidak ada masalah sama sekali tentang hubungan kita dengan Beliau. Jarak dan waktu hanya akan menghalangi jasmani dengan jasmani akan tetapi tidak mempengaruhi rohani dengan rohani. Rohani Rasulullah SAW akan tetap bisa membimbing ummatnya walaupun dalam rentang jarak ribuan tahun. Untuk bisa kontak dengan rohani Rasulullah SAW tentu kita harus mengenal salah seorang khalifah Beliau yang masih hidup di zaman ini, sebagai pembawa wasilah yang ada dalam diri Beliau, dengan cara ini maka kita akan bisa langsung berhubungan dengan Rasulullah SAW.

Guru Mursyid adalah khalifah Rasul, penerus wasilah yang membimbing ummat agar bisa mengenal Rasulullah SAW secara langsung lewat kontak rohani, lewat hubunga langsung inilah kemudian kita memperoleh kontak langsung dengan Allah SWT. Inilah hubungan langsung yang dipahami di kalangan tasawuf.

Jadi hubungan langsung bukanlah hubungan tanpa bimbingan, dengan hanya membaca buku, belajar al-Qur’an dan Hadist kemudian meyakini bahwa hubungan dia dengan Allah langsung lewat ibadah-ibadah yang dilakukan, padahal dia sendiri tidak pernah merasakan kontak yang disebut langsung tersebut. Tidak pernah bisa merasakan kehadiran getaran Nur-Nya dalam qalbu apalagi sampai bisa memandang wajah-Nya sebagai syarat wajib dalam menyembah.

Tentang hubungan dengan Allah, menarik untuk disimak ucapan seorang Guru Sufi: “Jalan menuju Allah itu ada tiga yaitu : via Rasul ini jalan yang wajib di ikuti, via setan ini yang di lakukan oleh orang tersesat dan yang ketiga langsung disambar setan yaitu orang tersesat yang tidak mengetahui dia tersesat  karena tidak menggunakan metode yang tepat untuk berhubungan dengan Allah”.

Bersambung

Single Post Navigation

11 thoughts on “Tidak Ada Perantara Antara Manusia dengan Allah (Bag. 4)

  1. assalamu’alaikum bang sufimuda, apakah sholawat merupakan akses tercepat memperoleh bimbingan rosululloh tanpa adanya mursyid?

    • Wa’alaikum salam
      Dlm hadist qudsi Allah berfirman bahwa doa dan munajat tidak akan sampai kepada Allah kecuali orang tsb bershalawat kepada Nabi.
      Secara syariat shalawat itu berupa ucapan dan semua manusia bisa mengucapkannya, apakah hanya dgn ucapan rohani kita bisa langsung sampai kehadirat Allah? Ini harus di riset dan dibuktikan sehingga ibadah kita tidak sia2.

      Shalawat secara hakikat bukan hanya ucapan, tapi rohani tersambung dgn rohani Nabi. Ketika bershalawat baik dlm shalat maupun diluar shalat saat itu pula rohani kita berjumpa dgn rohani Rasulullah SAW dalm detik per detik.

      Untuk bisa berhampiran dgn Rasulullah tidak bisa hanya dgn ucapan krn ucapan keluar dari unsur jasmani yg tidak akan bisa tersambung kepada Rasul.

      Untuk bisa tersambung harus dgn bimbingan Seorang yang ahli dalam hal itu.

      Demikian

  2. wah dalam bahasa IT untuk bisa koneksi dengan tujuan kita kudu koneksi ke server2 penghubungnya dulu begita ya?

  3. bahasa sederhanya bgini, kalo terus menerus komunikasi pasti ada koneksi(keterkaitan), kalo sudah ada koneksi pasti ada solusi, tpi untuk mengadakan komunikasi perlu adanya mediumisasi dari seorang moderator.

  4. maaf ingin tanya bang SM mohon dijelaskan ciri2 dari ketiga orang yang menempuh perjalanan kehadiratNya baik yang bermetoda dgn benar ataupun yang tidak benar setelah mereka mengaku berhasil telah mengenalNya sebenar benar kenal ………..ada kata2 nasehat dari Abu yazid al Bustami kira2 begini ” apabila bertemu dgn yg mengaku dia walialloh meskipun dia bisa terbang diudara tapi dia meninggalkan perkara syariat maka jangan kau ikuti ” maaf bila keliru ….salam

    • Apa yang disampaikan oleh Abu Yazid adalah ciri2 umum, artinya orang yang dekat dengan Allah maka akhlaknya akan mengikuti akhlak Rasulullah, apabila ada yang mengaku bermakrifat tapi akhlaknya tercela maka kita meragukan makrifatnya karena Hakikat beragama adalah membentuk akhlak yang terpuji, itulah ciri secara umum.
      Namun secara spesifik akan sulit dibedakan krn orang yang “langsung disambar setan” istilah lain untuk orang yg tidak bermusyid, menjalankan ibadah hanya dengan membaca dan mengikuti orang lain rata2 mempunyai akhlak yang mulia juga.
      Coba perhatikan para ustad, mereka tidak berwasilah tapi akhlak mereka baik krn mrk mengikuti ajaran agama yang tertulis.
      Jadi ahklak yang baik juga bukan menjadi ukuran seseorang dekat atau tidak dengan Allah.
      Cara paling awam untuk mengetahui adalah dengan menyelidiki sumber ilmu, apakah dia mempunyai silsilah guru yg bersambung atau tidak.

      Namun bagi orang yg sudah bermakrifat, dia akan mengetahui dengan mudah siapa yang telah sampai dan siapa yang hanya mengaku-ngaku, hanya dlm hitungan detik. Hanya dengan menyebut nama saja sudah langsung tahu apakah orang tsb benar2 telah sampai kehadirat-Nya atau tersesat di alam tanpa batas. Ilmu mengetahui ini disebut dengan muraqabah. Ini tidak di dapat dengan membaca tapi merupakan karunia Allah atas ibadah dan ubudiahnya secara istiqamah.
      Suluk 2 kali seharusnya sudah mendapatkan ilmu ini (Muraqabah itlak), cuma “duduk” ilmunya belum tentu dengan mudah, sudah khalifah pun tidak pernah datang muraqabah.
      Orang2 yang mengabdi langsung dengan Guru atau menjadi khadam biasanya tanpa suluk pun bisa dapat Muraqabah.
      Tentang muraqabah dan ilmu suluk jadi ingat ucapan Ayahanda Guru, “Ilmu suluk ini bisa kalian hapal dalam semalam, sampai suluk terakhir kaji suluk terakhir pun bisa kalian dapat dalam semalam, tapi duduk ilmu itu dalam diri kalian membutuhkan waktu yang lama, harus istiqamah”.

  5. Achmad Basir on said:

    kalau begitu bagaimana pandangan saudara sufimuda tentang bertawasul kepada Rasulullah ?. karena saya kalau ada hajat saya selalu bertawasul kepada rasulullah agar Allah mengabulkannya.

  6. Ping-balik: 3 Perkara Yang Dibolehkan Untuk Perdusta | Fuh.My

  7. assalamualaikum..klo membaca tulisan sdr SM seakan-akan ALLAH SWT adalah Raja atau presiden yang sulit ditemui oleh rakyatnya pada hal ALLAH bukanlah demikian.. disamping mempunyai sifat RAHMAN DAN RAHIM..ALLAH mempunyai sifat MAHA MENGETAHUI..MAHA MENDENGAR..MAHA MELIHAT…bukankah shalat itu adalah sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada ALLAH…????

    • Karthik Freedom on said:

      Betul Bung Imet Abduh…setelah membaca beberapa artikel dari SM mengenai cara mendekatkan diri dengan Allah, saya mendapat gambaran bahwa begitu susah untuk dekat dengan Allah. Yang menjadi kekhawatiran saya adalah munculnya rasa pesimis bagi yang awam dan menganggap usaha yang mereka lakukan adalah sia-sia, apalagi yang tidak pernah diajar oleh seorang Mursyid. Apakah kemudian hanya dengan membaca literatur misalnya juga akan sia-sia tanpa adanya Mursyid?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: