Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Tidak Ada Perantara Antara Manusia dengan Allah.

kaligrafi-allah-3Hal yang menjadi bahan utama perdebatan antara kalangan pengamal tasawuf atau pengamal tarekat dengan kalangan yang belum menekuninya adalah masalah hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Syariat sebagaimana kita ketahui meyakini hubungan manusia adalah hubungan langsung tidak ada perantara sama sekali karena Allah Maha Segalanya tidak mungkin Allah memerlukan perantara. Sementara orang yang belum menekuni tarekat menganggap pengamal tarekat menjadikan Guru sebagai perantara manusia dengan Tuhan. Dua hal ini tidak akan menemui titik temu karena keduanya menggunakan ilmu yang berbeda dan pandangan keduanya juga berbeda, padahal pada hakikatnya sama karena semua sumber ilmu tersebut berasal dari Rasulullah SAW.

Pendapat yang mengatakan Allah Maha Segalanya, karena itu Dia tidak memerlukan perantara, Hal ini pun sebenarnya bisa dibantah dengan pendapat lain, justru karena Allah Maha Segalanya maka Dia akan menggunakan segala sarana yang telah diciptakan-Nya untuk menyalurkan rahmat-Nya di muka bumi, Malaikat, Rasul/Nabi, seluruh alam ini adalah media penyaluran rahmat-Nya. Bagaimana Allah menyalurkan hujan ke muka bumi, tentu Dia menggunakan sistem yang telah diatur-Nya yang kita kenal dengan sunatullah sehingga turunnya hujan di dunia ini terjadi dengan sendirinya.

Kata-kata perantara yang juga sering digunakan di sebagian pengamal tarekat sebenarnya mengganggu perasaan saya pribadi karena memang hubungan antara manusia dengan Allah itu adalah hubungan langsung. Perbedaan antara pengamal tarekat dengan yang bukan adalah dalam hal memaknai hubungan langsung ini. Syariat, siapapun manusia bisa langsung beribadah kepada Allah (masalah hasil itu urusan masing-masing), sementara Islam sendiri telah menurunkan sebuah metode yang disebut Tarekatullah sebagai sarana untuk bisa berhubungan dengan Allah.

Perbedaan pengertian ini yang menjadi bahan perdebatan berabad-abad yang menguras energi sangat besar di kalangan umat Islam. Syukur Alhamdulillah, di akhir abad ke-14 Hijriah, seorang ulama tasawuf yang juga merupakan Guru Mursyid, Maulana Prof. Dr. S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc bisa menjelaskan tentang ini secara ilmiah eksakta sehingga bisa diterima dengan baik oleh segala kalangan.

Beliau mengatakan bahwa Wasilah itu bukanlah perantara antara manusia dengan Allah tapi itu adalah hubungan yang LANGSUNG dengan Allah. Sama hal nya orang menonton TV, ada siaran langsung, semua orang yang memiliki TV dan berada pada chanel yang tepat akan bisa melihat siaran langsung di TV, sementara orang yang tidak menghidupkan TV atau menggunakan chanel yang salah akan menyaksikan hal yang berbeda.

Kalau di TV kita menyaksikan siaran langsung sepak bola U19 antara Indonesia dan Korea, kita memang sedang menyaksikan pertandingan tersebut, kalau di Gelora Bung Karno terjadi gol maka dalam detik itu pula kita mengetahui dan melihat langsung gol tersebut, ini teknologi buatan manusia sementara Wasilah adalah teknologi buatan Allah sebagai hubungan yang langsung antara manusia dengan Allah.

Ketika orang menganggap Wasilah itu manusia atau Guru maka orang menganggap bahwa Guru sebagai perantara manusia dengan Allah, padahal bukan seperti itu, sama halnya dengan TV tadi, yang kita saksikan di TV bukanlah bukan sekedar layar kaca tapi kejadian-kejadian yang jaraknya ribuan kilometer, dengan teknologi itu bisa kita saksikan dalam detik itu juga.

Allah berada dalam jangkauan jarak tak terhingga, tentu diperlukan teknologi yang Maha Dahsyat untuk bisa berhubungan dengan-Nya, teknologi itu tidak bisa diciptakan manusia karena manusia hasil ciptaan tidak mungkin menciptakan alat berhubungan dengan Sang Pecipta. Dengan alasan itu maka Allah menurunkan Para Rasul, Nabi dan Wali untuk membuka rahasia teknik berhubungan dengan Allah yang dikenal dengan Wasilah.

Begitu penting Wasilah sebagai hal yang utama dalam tarekat dan hal utama yang harus diketahui oleh segenap manusia, saya sendiri telah menulis banyak tulisan yang membahas tentang wasilah. Sebelum kita lanjutkan pembahasan tentang hubungan manusia dengan Allah tanpa perantara ada baiknya sahabat sekalian membaca tulisan saya sebelumnya :

Wasilah Cara Berjumpa Dengan Allah, Lebih Dalam Tentang Wasilah dan Mursyid bag-1, bag-2, Wasilah Cara Berkenalan Dengan Allah Bag-1, Bag-2, dan dalil-dalil tentang wasilah sangat lengkap bisa di baca di berwasilah kepada Mursyid.

Bersambung…

Single Post Navigation

13 thoughts on “Tidak Ada Perantara Antara Manusia dengan Allah.

  1. munawwar hamidi on said:

    assalamualaikum wr.wb.. kanda Sufi muda, saya munawwar hamidi, abang sepupu Zuhri dan Ridwan Syukri dan juga abang kandung Rahmat Hadi, mereka katanya belajar pada kanda sufi muda. saya titip adik2 saya kanda, mudah2an Allah selalu membimbing kanda dan adik2 saya menuju jalan yang benar. sedikit pengalaman ketika saya belajar dulu kanda, saya belajar tarekat yang mungkin sudah agak asing di negeri kita ini (QADARIYAH). tidak lama memang saya belajar karena pada masa itu dalam keadaan konflik, diperparah lagi masa itu banyak murid murid yang nalar dan pemahamannya agak kurang sehingga banyak murid2 yang memahami tarekat ini setengah2, demikian juga sebagian mereka melanggar pantangan dari guru dengan menceritakan secara salah ilmu ini kepada orang yang bukan murid demikian juga mereka mulai menampakkan tindak tanduk yang berbeda dari sebelum mereka belajar, mereka seakan berusaha memisahkan diri dari masyarakat sehingga terbentuk sebuah jarak karena berpendapat bahwa orang salah semua sebelum belajar tarekat. tak pelak hal ini membuat masyarakat mengklaim ajaran kami sebagai sebuah ajaran sesat dan tidak baik dibiarkan tumbuh, puncaknya pada bulan rajab tahun 2002 guru Kami Sabirullah Almukarram Bahrul Walidin ditembak oleh Gam dan meninggal dunia, setelah itu tidak ada lagi yang meneruskan, paling kami sekali2 berkumpul dan bermuzakkarah ala kadarnya, saya menyadari bahwa banyak sekali cobaan ketika kita belajar ilmu ini, bagi saya sudah 13 tahun masa itu berlalu. kini sedikit2 saya mulai memahaminya secara utuh, saya juga mulai menyadari betapa banyak kekurangan kami dahulu, kami terlalu egois dalam belajar sehingga menganggap diri lebih baik dan lebih sempurna dibandingkan orang yang hanya belajar syariah, sehingga seakan ada batas besar antara orang tarekat dan orang syariah, kini saya merasakan itu setelah sekian lama menanjak mencari kebenaran akan pengenalan kepadaNYA dan ternyata pengenalan itu pada akhirnya membawa saya kembali turun dan menata kembali syariah itu sebagai bagian dari ibadah sebagai bentuk ketundukan yang sebenarnya kepada Allah ta’ala. saya mulai merasakan adalah salah ketika kita membuat dinding yang tebal antara syariah dan tarekat, apalagi kita menunjukkan hal itu kepada orang lain, karena yang membedakan hal itu hanyalah masalah pemaknaan ibadah secara benar. orang tarekat berusaha memaknai ibadah lahir dan batin sedangkan orang syariah cukup memahami sebagaimana telah disyariatkan. inilah yang membedakan ibadah orang berilmu dan tidak berilmu.
    terus terang kanda ini suatu pengalaman pahit bagi kami yang sedang belajar ketika harus kehilangan guru kami secara lahiriah, walaupun sebelumnya beliau telah meletakkan dasar bahwa beliau hanyalah sebagai pembimbing, sedangkan Ilmu ini pada ahiirnya Allah yang akan menanamnya dihati kami dan menjadi guru kami.
    demikian kanda sekilas pengalaman saya, saya ceritakan kepada kanda dengan maksud mudah2an dapat menjadi pelajaran dan hikmah bagi kita semua sembari berdo,a mudah2an pengalaman pahit saya ini tidak terjadi pada adik2 saya. semoga bimbingan Allah selalu bersama kanda dan keluarga juga kepada murid2 kanda. Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wa nikman nasir.. wassaslamualaikum wr wb.

  2. Ahmad Haydar on said:

    Assalamualaikum….salam hormat utk Abang Sufimuda…semoga abang selalu dalam ridho ALLAH SWT, saya sering membaca tulisan2 abang…dan saya sangat tertarik utk ikut ” mengaji ” sama abang……
    Dimana kah saya bisa menghadiri ta’lim abang sufimuda? Saya bertempat tinggal di jakarta utara…demikian…jazakumulloh khoiron kasiroh

  3. Assalamualaikum wr.wb,
    apabila Allah telah merahmati hambaNYA dan mengajaknya berbicara seluruh ciptaaNYA pun mengajaknya berbicara,begitu besar rahmat Allah kepada orang-oarang yg diberkahiNYA.Hati (kalbu) kita ini milik Allah hanya dengan ini kita dapat sampai kepadaNYA.
    semoga mas sufimuda bertambah ilmunya dan meraih kedudukan yg baik disisi Allah insyaAllah.

    wassalam,

    sayyid.

  4. mpmajalengka on said:

    Asslm.wr.

    Pertanyaan yang selalu menggelitik adalah
    Apakah ibadah yg dilaksanakan tiap insan/umat/abdi allah yang telah beribadah dengan menyandarkan kepada syariat/hadits/fiqih(mgkn yang dibaca hanya sebatas leterlekz) dan sudah sesuai mengikuti syariat secara ketat diterima oleh allah? Apakah ada ciri/tanda bhw ibadah kita sdh diterima oleh allah(baik yg mengikuti tarikat atau tidak)?
    Mhn pencerahan

    Jika tuan muda sufi membaca pertanyaan sy tersebut..adakah tuan melihat/membaca pribadi sy?mksh

    Yayat Hendrayana
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

    • Sebenarnya masalah ibada kepada ALLAH itu masalah ruh, dalam konsep ibadah itu bukan masalah diterima atau tidaknya ibadah kita, tapi sampai dan tidaknya kita (ruh) kepada ALLAH, yang akhirnya dapat berhampir dan dihampiri oleh ALLAH, karena tujuan beribadah adalah berhampir dengan ALLAH,

      • Assalamualaikum wr.wb,
        mas jomblo,
        soal ruh adalah urusan Allah.
        anda jangan salah bahwa ruh tak dpt berbuat apa2 tanpa jasad oleh karena adanya jasad dpt kita tunduk dan sujud kepada Allah dengan fisik ketekunan kita sendiri kepada Allah.
        penyembahan secara ruh adalah perbuat orang2 keristen yg lalai.

        wassalam,
        sayyid.

    • Wa’alaikum salam
      Ketika manusia belum mengenal Allah dengan sebenarnya maka selamanya dia mengkhawatirkan tentang apakah ibadahnya diterima atau tidak, tapi ketika dia telah beserta Allah, memandang wajah-Nya yang Maha Agung maka dia tidak lagi mempersoalkan tentang ibadah yang dilakukan karena yang menjadi fokusnya hanya Allah.

      Mohon maaf saya tidak bisa membaca pribadi orang…

      salam

  5. mpmajalengka on said:

    Asslm.wr.

    Pertanyaan yang selalu menggelitik adalah
    Apakah ibadah yg dilaksanakan tiap insan/umat/abdi allah yang telah beribadah dengan menyandarkan kepada syariat/hadits/fiqih(mgkn yang dibaca hanya sebatas leterlekz) dan sudah sesuai mengikuti syariat secara ketat diterima oleh allah? Apakah ada ciri/tanda bhw ibadah kita sdh diterima oleh allah(baik yg mengikuti tarikat atau tidak)?
    Mhn pencerahan

    Jika tuan muda sufi membaca pertanyaan sy tersebut..adakah tuan melihat/membaca pribadi sy?mksh

    Yayat Hendrayana
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

  6. sebuah jembatan yang indah yang saya lihat disini, amin…

  7. bukan pertentangan yang didapat tetapi sebuah jembatan yang indah yang saya lihat disini, amin…

  8. kenapa ruh kita harus mengenal allah padahal ruh itu sendiri milik allah yg di pinjamkan kepada jasad kita agar bisa sujud mengenal allah, dengen sendirinya ruh sudah kenalkan kepada allah, yg perlu dikenalkan kepada allah ruh atau jasad agar menemukan nurullah…?

  9. muhamad saban on said:

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Salang ta’jim mohon pentunjuk apakah boleh saya silaturahmi ke tempat janengan. Saya ingin dibimbing.
    Mohon di jawabannya.

    • Wa’alaikum salam
      Saya sedang menyiapkan tempat untuk sahabat2 semua, tempat kita berdzikir, berkumpul dan bersilaturahmi, mohon doanya agar bisa selesai tahun 2014 ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: