Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Sabar, Tunggu Waktunya Tiba! (1)

Agama adalah sarana bagi manusia untuk mencapai sebuah tujuan yaitu makrifatullah atau mengenal Allah. Ketika Makrifat kepada Allah dicapai maka manusia akan lebih sempurna melakukan pengabdian kepada Allah lewat ibadah dan amal-amal kebaikan yang diperintahkan Allah di dalam agama. Dengan agama manusia akan lebih memahami hakikat hidup dan ketika makrifat dicapai maka tindakan-tindakannya secara otomatis akan selaras dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Tuhan dalam agama. Sayangnya orang terlalu fokus kepada Agama sebagai sarana atau wadah dan melupakan tujuan dari agama itu sendiri yaitu Tuhan.

Untuk mencapai tujuan beragama yaitu mencapai kehadirat-Nya, maka didalam agama ada tingkatan yang harus ditempuh oleh manusia. Dimulai dengan tahap pertama yaitu pengenalan terhadap hukum-hukum dan aturan-aturan yang tertulis dalam kitab suci. Apa yang tertulis di dalam kitab suci menjadi pedoman dasar bagi manusia untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. Disana terdapat hukum-hukum yang harus dipatuhi beserta penjelasan akibat bagi yang melanggar hukum tersebut dan penghargaan atau pahala bagi yang melaksanakan hukum-hukum itu. Pada tahap ini agama menjadi begitu kaku dan tidak hidup sama sekali, tahap pertama ini dikenal dengan Syariat.

Syariat tersebut akan menjadi benda mati, hukum tertulis di atas kertas, akan tetap kaku tanpa ada kehidupan didalamnya kalau tidak ada metodologi pelaksanaan teknisnya. Syariat memerintahkan manusia untuk untuk ibadah, tatacara ibadah tapi disana tidak dijelaskan bagaimana cara menghidupkan ibadah itu. Syariat dalam hal ini Rasulullah mengatakan bahwa kebanyakan orang berpuasa hanya mendapat lapar dan dahaga, tidak akan menemukan hakikat dari puasa. Orang mengerti apa yang diucapkan nabi tentang puasa yang hanya mendapat lapar dan dahaga akan tetapi sekali lagi syariat tidak bisa menyelesaikan problem ini, tidak ada solusi bagaimana agar puasa tidak sekedar mendapat haus dan lapar saja. Untuk pelaksanaan teknis dari ibadah diperlukan sebuah metodologi yang tepat yaitu thareqatullah.

Di dalam Thareqatullah sebagai jenjang kedua dalam agama akan didapat rahasia pelaksanaan secara teknis segala yang berhubungan dengan ibadah. Di tarekat juga akan diajarkan bagaimana cara kita berhubungan dengan Allah secara benar baik dalam ibadah maupun dalam keseharian. Di dalam tarekat kita mengenal seorang Master Ahli yang akan menjelaskan secara detail bagaimana cara melaksanakan apa yang diperintahkan Allah di dalam kitab suci. Di Tarekat juga seorang akan diajarkan bagaimana cara membersihkan hati, taubat dengan benar sebagai langkah awal menuju kehadirat Allah SWT.

Ketika metodologi itu dilaksanakan dengan baik dan benar barulah membuahkan hasil yaitu menyelami dunia hakikat dan mencapai tahap makrifat yaitu mengenal Tuhan Pemilik Bumi dan Langit. Jadi makrifat itu bukan cara tapi hasil dari melaksanakan aturan-aturan agama dengan menggunakan metodologi yang tepat.

Dalam menempuh jalan kepada Allah tidak ada cara instan, semua harus melewati proses, baik proses aturan maupun waktu. Untuk urusan sederhanapun seperti memasak nasi walaupun rukun dan syarat telah dipenuhi harus dengan sabar menunggu sampai beras yang dimasak menjadi nasi. Untuk sempurna menjadi nasi diperlukan waktu 30 menit, apa yang terjadi kalau kita paksa dalam waktu 5 menit? Maka beras tidak akan sempurna menjadi nasi, beras akan tetap menjadi beras.

Manusia memiliki sifat tidak sabar, ingin memperoleh hasil yang cepat sehingga ketika ada tawaran bersifat instan langsung diterima tanpa berfikir lebih dalam. Kalau ada orang yang memberikan tawaran bisa mencapai makrifat kepada anda dalam waktu cepat maka wajib anda curigai. Kenapa? Karena makrifat itu urusan Allah, manusia hanya bisa melaksanakan rukun syaratnya sedangkan hasil sepenuhnya hak Allah, tidak ada manusia yang bisa memberikan jaminan. Seorang Guru Mursyid yang berkualitas yang Kamil Mukamil dan mampu mengantarkan rohani murid kepada tahap makrifat biasanya tidak terlalu bernafsu untuk menerima murid apalagi memberikan iming-iming gaib berupa makrifat dan lain-lain.

Bersambung…

Single Post Navigation

7 thoughts on “Sabar, Tunggu Waktunya Tiba! (1)

  1. Muhammad Basori on said:

    Assalamualaikum…
    Kalo org mengatakan syariat suatu yg kaku…mestinya ada tanda petik..menghargai sesuatu yg kecil sm saja dgn menghargai yg besar krn semua diciptakan Allah, kesantunan Islam krn adanya syariat…tetapi syariat kt mestinya mengikuti kedewasaan diri kita…ketika kita mengajak org untuk baik…sabar…mk gunakanlah kata-kata yg sabar…tanpa hrs menyepelekan/menjelekan atau menyakiti org lain yg suka dgn kata2/kalimat dll…syariat tdk lah akan sia-sia atau menjadi benda mati (astagfirullah….) syariat pun ciptaan Allah yg tetaphrs kt hargai….krn ini adalah bagian dari suatu perjuangan di bumi Allah yang Agung….syariat…tarikat…hakikat…ma’rifat…dst…adalah bagian dari sebuah proses….tlg jelaskan dgn bijaksana mengapa syarit begitu tdk berharga bg org merasa sdj tinggi ilmunya, tp syariat…itupun luas sebagaimana taikat…hakikat dan ma’rifat…wasslam

    • @Muhammad Basori, Kalau saya sementara ini belajar koperatif, sebab komprontatatif terkadang menutup hati u/ menerima sesuatu yg baru & boleh jadi yg baru itu jauh lebih baik daripada apa yg kita pahami sebelumnya.

  2. arkana on said:

    @Basori;
    komentar anda benar. “…syariat…tarikat…hakikat…ma’rifat…dst…adalah bagian dari sebuah proses…”
    tapi ane juga tidak melihat tulisan SM terkesan “melecehkan” salah satu proses tsb, karena SM hanya menjelaskan realita nya.
    memang itu fenomena yg ada. kita tidak bisa pungkiri faktanya.

  3. Arieffriadi on said:

    Ass wr wb
    Jika kita melihat perjuangan Rasululloh SAW, hal pertama yang beliau tanamkan adalah ilmu tauhid (Lailahailalloh Muhammadurrosululloh) setelah itu baru beliau mengajarkan mengenai syariat syariat islam. Sangat berkebalikan dengan keadaan sekarang, contoh yang paling mudah untuk diambil hikmahnya adalah adanya seorang pemimpin partai islam di indonesia yang berbuat korupsi sekarang ini. Syariat adalah untuk lahiriah, hakikat adalah untuk batiniyah. Apabila hanya mengerjakan syariat saja maka termasuk orang fasik dan apabila hanya menyelami hakikat termasuk orang zindiq.
    Mari kita bersama sama tingkatkan ketauhidan kita agar semua ibadah kita diterima oleh Alloh
    “Bersamalah kalian dengan Allah Swt, bila kalian tidak bisa bersamaNya, bersamalah dengan orang yang bersama Allah Swt, karena ia menyambungkan dirimu denganNya.”

  4. Mayoritas umat b’ada pd maqom Islam,sedikit yg brad pd maqom Iman dan yg sgt memprihatinkan adlh btp langkanya yg b’ada pd maqom Ihsan.Para Sahabat alayhimussalam dg bimbingan Rasulullah saw berhasil merasakan manisnya iman,shg Allah swt memuji mereka dg sebutan “kuntum khoiro ummah” (kalian adalah ummat terbaik),yg mnjd cntoh buat kita…

  5. Teapkan kami agar istiqomah ya Allah… amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: