Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Berdamai dengan Diri Melalui Thariqah Menuju Kedamaian Hakiki

al_habib_luthfi_bin_yahyaThariqah adalah pertama, untuk meningkatkan kedudukan atau maqamatil ‘ubudiyyah secara individu, sehingga sadar dan meningkatkan kesadaran apa saja kewajiban-kewajiban yang diperintah oleh Allah dalam meningkatkan taat kepada syari’atillah yang disertai khidmah (pengabdian) kepada Allah Ta’ala. Kedua, meningkatkan ketaatan dan khidmahnya kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang disertai mahabbah (cinta) kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ketiga, mengetahui dan mengerti thariqah sebagai pengantar menuju jalan Allah dan Rasul-Nya. Keempat, thariqah adalah menghasilkan buah bernama tasawwuf dalam rangka tashfiyatul quluub (membersihkan hati) wa tazkiyatun nufus (menyucikan jiwa). Penyakit hati diantaranya dengki atau hasad, sombong (takabbur), riya’, dan lupa kepada Allah serta lupa kepada Rasul-Nya. Sehingga, menyebabkan individu tidak mencapai maqamatil ihsan karena iman yang ada di qalbu (hati) cahayanya (yang sebenarnya mampu menerangi rongga-rongga hati, kedua mata, kedua telinga, mulut, tutur kata, kedua tangan, dan kedua kakinya, serta membersihkan darah yang banyak mempengaruhi pertumbuhan fisik organ tubuh dari sebab darah yang kotor tersebut mampu mempengaruhi kejernihan pola pikir), menjadi gelap atau keruh yang akhirnya bisa berpengaruh dan menjadi sebab terjadinya kesempitan dan ketidak jernihan dalam menafsirkan Al Quran, Hadits, dan perkataan salafuna ash-shalihin (dalam nasehat atau kitabnya).

Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan suatu alat ialah wudlu’ dengan air atau tayammumdengan debu untuk menjadi sarana bersuci. Akan tetapi, karena wudlu tersebut kurang mampu menembus bathiniyahnya, sehingga wudlu’ tersebut hanya bagian syarat shalat dan lainnya, dari yang wajib sampai yang sunnah. Apabila wudlu’ tersebut mencapai bathiniyahnya, semua yang diwudlui akan mempengaruhi jiwa dan badannya, sebab menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak terpuji di sisi Allah dan Rasul-Nya. Bila kita mau berpikir, alat pembersih badan adalah air, mulai dari mandi biasa sampai mandi besar serta wudlu’. Tubuh kita secara fisik telah dibersihkan dengan air tersebut. Dihitung mulai dari per hari mandi berapa kali, wudlu berapa kali, cuci muka berapa kali, sampai alat-alat rumah tangga sangat memerlukan peranan air.

Pertanyaannya, berapa kalikah kita setiap hari mencuci hati? Sadar atau tidak, bila kita tidak mandi satu hari, dua hari, atau tiga hari, dan tidak berganti pakaian, secara logika tidak betah karena bau yang ada pada dirinya atau pakaiannya. Bagaimana bau hati kita yang tidak pernah dicuci? Tebalnya kotoran hati tersebut tidak bisa kita bayangkan!!!

Akan tetapi, Allah Ta’ala Maha Pemurah. Seandainya Allah Ta’ala tidak menutupi bau tersebut, jangankan lagi orang lain, dirinya sendiri tidak mampu menahan baunya, tiada satu alat yang mampu untuk membersihkan hati itu semua terkecuali thariqah, yang mana isinya dari mulai istighfar, shalawat, dan dzikir khususnya. Apabila melihat keterangan tersebut di atas, maka wajib hukumnya masuk thariqah. Akan tetapi, kalau sekadar belajar untuk aurad (dzikir/wiridan), menambah nilai ibadah, maka sunnah hukumnya masuk thariqah.

Thariqah mempunyai jalur silsilah, artinya kalimah thayyibah yang diamalkan mempunyai silsilah atau sanad dari guru mursyidnya sampai kepada Rasulullah SAW dan Allah Ta’ala. Dari silsilah tersebut yang melalui para pembesar para walinya, dari Allah dan Rasul-Nya, maka mengalir madaad (anugerah), al-fuyuudl al-asraar, rahasia dan asrar, dan beberapa rahasia yang sampai kepada para murid atau para muriidiin. Dari sebab madaad tersebut, sangat berpengaruh mendorong mencapai kepada wushul artinya sampai tujuan kepada Allah, an ta’budallaha ka-annaka taraah, fa in lam takun taraahu, fa innahuu yarak (Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka kamu merasa dilihat-Nya). Dari situ bisa meningkatkan maqamatil ‘ubuudiyyah sebagaimana tersebut di atas, sehingga akan menjadi sebab hamba Allah tersebut selamat dari ke-suu-ul khatimah-an. Wallahu A’lam.

Penulis : Syukron Ma’mun, S.Pd, Disampaikan oleh Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya kepada Pengurus Muslimat Thariqah Jawa Timur.

Sumber : Habibluthfiyahya.net

Single Post Navigation

6 thoughts on “Berdamai dengan Diri Melalui Thariqah Menuju Kedamaian Hakiki

  1. ninanaiguana on said:

    Sufimuda kasih semangat dong buat kita2 yg sedang dlm proses pembersihan, krn kan sampe kpn ini proses kelar kan gak ada yg tau, blm lg yg kebanyakan dosa jd nyakar2 jambak2 mlintir2 badan sendiri.. Huhu takut patah semangat.. Walaupun sbnrnya udh tau kl bgitu itu tandanya Allah sayang sm kita, dan lewat wali2 penunjuk itulah kita dibersihkan, leluhur2 & sesepuh2 emang the best.. Tp ya gitu suka ada perasaan down krn jd makin sadar kl byk dosa huhu

  2. warsa abdi on said:

    syukron?

  3. gajahmada on said:

    setuju seharusnya begitu..

  4. Ruslianto on said:

    Inilah intisari dari semua ilmu, yang sangat dibutuhkan semua manusia, sayangnya tidak semua manusia (pula) yang mendapat petunjukNYA.

  5. Ilmu Allah itu tak terhigga banyaknya,luasnya,dalamnya n tingginya nilainya.Tak ada ilmunya
    yang rendah atau hina.
    Istigfar !
    Tasawuf a tariqah hanya ibarat sebutir debu dalam ‘hamparan padang pasir’
    ilmu-Nya.
    Petunjuk Allah juga tiada terhingga banyaknya,menfonis orang lain yang tak mendalami ilmu yg kita puja,berarti memfonis Dia sebagai yang terbatas.
    Istiqfar lagi !

  6. ingin mggali lbih dlm lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: