Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Taqwa Dalam Pandangan Guru Sufi-1

ya AllahAnda bisa mencari definisi Taqwa lewat buku-buku atau bisa search di Google, disana akan banyak pembahasan tentang taqwa. Kali ini saya tidak focus membahas denisifi-difinisi itu karena saya yakin anda sudah sangat paham dan memiliki referensi yang sangat lengkap. Saya ingin mengajak anda memaknai taqwa dari pandangan Guru Sufi.

Guru Sufi mengatakan, “Orang yang telah mencapai tahap Taqwa, tidak ada perasaan berat baginya dalam melakukan ibadah yang diperintahkan Allah”. Berarti taqwa bisa didenisikan sebagai kondisi dimana seorang hamba melakukan perintah Allah dengan senang hati bahkan memiliki gairah dalam ibadah tersebut.

Gairah dalam beribadah sangat mudah di temukan dalam komunitas sufi, mereka melakukan ibadah-ibadah sunnat dalam jumlah yang banyak. Ada sufi yang mengerjakan shalat tengah malam ratusan rakaat, sementara ada yang mengerjakan puasa secara terus menerus. Dalam kitab “Kasful Mahjub” diceritakan ada seorang sufi ketika memasuki bulan Ramadhan hanya berbuka puasa 2 kali. Dia selama 15 hari tidak makan dan minum dan berbuka pada pertengahan Ramadhan, kemudian melanjutkan puasa dan berbuka ketika memasuki Hari raya, padahal tiap malam dia menjadi imam shalat tarawih. Tubuh dari sufi yang telah memiliki kecintaan mendalam kepada Tuhan adalah sebuah misteri yang sulit diungkapkan dengan akal fikiran manusia.

Tidak usah terlalu jauh menyelami dunia sufi ratusan tahun yang lalu seperti yang diceritakan oleh kitab-kitab tasawuf klasik, di zaman ini saya ikut menyaksikan sendiri bagaimana Guru Sufi berdzikir selama 3 hari 3 malam tanpa berhenti dalam ruang khusus dan  Beliau berhenti berdzikir ketika melakukan shalat fardhu. Saya juga menyaksikan sendiri sahabat-sahabat saya yang melakukan puasa selama 7 hari 7 malam tanpa makan dan minum tapi masih tetap bisa melakukan aktifitas sehari-hari dan mereka melakukan ibadah-ibadah khusus itu dengan penuh gairah.

Bagaimana mungkin kita bisa menuduh kaum sufi meninggalkan syariat sementara dalam keseharian mereka tidak pernah meninggalkan ibadah-ibadah pokok bahkan memperbanyak ibadah-ibadah yang sunnat.

“Hai orang-orang beriman, bertqwalah kamu kepada Allah dan carilah Wasilah (jalan kepada Allah), bersungguh-sungguh lah engkau di jalan itu, pasti engkau akan mendapat kemenangan”. (QS. Al-Maidah, 35).

Kalau kita menyimak surat al-maidah 35 akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang tuduhan yang dilancarkan kepada pengamal tarekat yang meninggalkan ibadah-ibadah wajib, tuduhan itu tidak masuk akal sama sekali. Hanya orang beriman yang sudah mencapai tahap taqwa yang diperintahkan oleh Allah untuk mencari wasilah, melanjutkan tingkatan ibadah agar menemukan gairah-gairah baru sehingga terasa surga Allah yang maha tinggi menghampiri qalbu dari hamba.

Makanya ada benarnya pendapat yang mengatakan bahwa untuk bisa menekuni tarekat harus sempurna syariat terlebih dahulu, sudah terbiasa melakukan ibadah-ibadah wajib dengan senang hati barulah belajar ilmu tarekat, melanjutkan ke tahap lebih khusus dengan ibadah-ibadah khusus. Tapi karena sifat penyayang dari guru mursyid, maka Beliau menerima siapa saja yang ingin menekuni tarekat tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Walaupun di awal belajar Guru dengan tegas mengatakan “Disini tidak memerlukan murid, kalau ingin belajar ikuti aturan yang ada”, ucapan Beliau itu untuk menguji tingkat keseriusan seorang murid.

Nasehat yang seringkali saya dengar dari Guru adalah, “Tambahi ilmu mu dan jaga syariat mu”, artinya seorang murid harus meng-upgrade ilmu-ilmu lain tentang apapun dan juga selalu menjaga syariat Islam dengan baik. Bahkan Beliau mengatakan “Sempurnakanlah ilmu mu agar engkau sempurna men-Tauhid-kan Tuhan”. Kenapa tidak semua orang yang belajar terakat itu bisa mencapai tahap makrifat bahkan gugur di tengah jalan, tidak jarang memushui tarekat, jawabanya bisa di baca di tulisan Jangan Hanya Sekedar menjadi Aksesoris.

Bersambung

Single Post Navigation

7 thoughts on “Taqwa Dalam Pandangan Guru Sufi-1

  1. Assalamu’alaikum, Bang SM
    Maaf kira nya komentar saya disini tidak berkenan, saya belum mendapat email balasan dari Bang SM, makanya lewat komentbox ini saya ingin tanyakan, bisakah kira nya Bang SM membantu saya ddalam menemukan Mursyid tarekat di daerah saya. Saya tinggal di daerah Indragiri Hulu, Riau

    Wassalam

  2. Muhammad Basori on said:

    assalamualaikum…
    kita (manusia) merasa hidup sendiri…padahal kita menikmati (merasakan langsung nikmat dunia karya Allah) fasilitas Allah dalam dunia ini, lalu bagaimana kalo kita hubungkabn dengan konsep sederhana dengan tentang komunikasi yg effektive (improvisasi ilmu) (REACH=Respect,Emphaty,Adible,Clarity…dan humble) kt terhadap Allah…dlm pandangan sufi yg tak terceritakan tak adalah pekerjaan (ibadah) yang diperintahkan kepadanya…sehingga ia tak harus mengerjakan sesuatu karena diperintah…(jd banyak sangka2 kt saat ini terhadap segala sesuatu karena akal kitalah yang menjadi pijakan…cerita sufi insya Allah akan dpr diceritakan oleh pelaku sufi…tapi sayangnya mereka tak banyak mau cerita tentang sgala apa yg dilakukannya termasuk ibadahnya…ia malu…ia takut dengan ria…dst…dst…he…he…he,inilah pendapat lapuk yg km bs katakan…karena yg tak lapuk/kekal (absolut) hanya Tuhanku yg Agung…Allah ta’ala (maaf ini pendapatku yg tak dapat kubuktikan…tp aku yakin ini benar…he..he…inilah yg aku sebut kesalahan yg benar…hik…hik…

  3. Rachmat on said:

    Assalamu’alaikum …
    “Tambahi ilmu mu dan jaga syariat mu” setuju sekali sebagai kalimah yang sangat tepat bagi seorang pencari kebenaran, ketika mencari ilmu harus dengan cara yang haq agar kita mampu menjaga syariat yang haq pula.
    Mohon maaf kalau melihat tulisan diatas dicontohkan para sufi yang melakukan puasa romadhon hanya berbuka dua kali selama satu bulan, atau puasa 7 hari 7 malam tanpa makan dan minum, saya belum pernah mendengar ada dalil yang mana Rosululloh mensyareatkan yang demikian . . . sehingga paham seperti itu tentu termasuk kategori yang tidak lagi menjaga syariat ….

    • Wa’alaikum Salam.
      Agama Berlapis dan Pemahaman juga berlapis. Rasulullah SAW berpuasa sampai malam kemudian ada yang mengikuti tapi Rasulullah SAW melarang. Ucapan Beliau yang terkenal, “Aku di beri makan oleh Tuhan”. Yang Boleh mengikuti puasa khusus seperti yang dilakukan Rasulullah hanya orang khusus juga yaitu orang yang sudah mencapai tahap, “Di beri makan oleh Tuhan…”
      Ini ucapan yang sangat dalam makna nya…

  4. Puasa 7 hari 7 malam tdk berbuka kalau dalam adat jawa disebut puasa ngebleng. Puasa ini banyak dilakukan ole Kyai pimpinan pesantren. hanya tidak diajarkan kepada semua muridnya. Hali ini diajarkan kepada murid tertentu yang sudah mencapai pemahaman ilmu hakikat. kalau hal ini dikaji oleh orang yg hanya menguasai ilmu syariat maka akan menimbulkan kontroversi dan penolakan.

  5. Repoeblik_Armand on said:

    Jangan sekali-kali menakar ilmu tasawuf dgn pemahaman syariat

  6. kalau agama tanpa syariat ….waduh agama apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: