Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Tasawuf, Mencari Cinta Yang Hilang

tasawuf-ilustrasi-_120223161409-667Tasawuf di Indonesia masih merupakan usaha pencarian pencerahan diri yang bersifat individual.

Tasawuf di Indonesia masih merupakan usaha pencarian pencerahan diri yang bersifat individual. Padahal, dalam sejarahnya dahulu tidak seperti itu. Tasawuf pada masa kemunculannya dahulu merupakan gerakan sosial untuk melakukan koreksi sekaligus pemberdayaan umat. Kalau begitu, masih perlukah tasawuf dimunculkan kembali?

Mengapa umat Islam akhir-akhir ini terlihat berwajah keras? Bila pertanyaan ini ditanyakan kepada pakar filsafat Islam, Abdul Hadi WM, dia dengan tegas menjawab ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Menurut dia, dua hal di antaranya adalah karena umat Islam, khususnya Indonesia, banyak sekali yang tidak tahu lagi soal tasawuf dan juga tak paham akan tarikh (sejarah) Islam.
”Saya yakin kalau mereka mengenal sisi batin ajaran Islam (tasawuf) secara mendalam, mereka tidak akan seperti itu. Situasi ini semakin menjadi, selain juga karena ada hal yang menjadi pemicunya yang berasal dari luar Islam, pendidikan di kalangan masyarakat Indonesia betul-betul total sekuler. Akhirnya, umat Islam sebagai bagian terbesar dari rakyat Indonesia tercabut dari akar sejatinya. Maka, wajar bila banyak terjadi kesalahpahaman,” kata Abdul Hadi.

                                                                  *****
Adanya kenyataan tersebut jelas menggelisahkan. Belakangan ini sebagian tokoh pun mulai menggagas sebuah aktivitas yang diberinama ‘Gerakan Islam Cinta’. Di antara mereka ada Emha Ainun Nadjib, Muchtar Pabottingi, Azyumardy Azra, Alwi Shihab, Seto Mulyadi, Haidar Bagir, dan banyak lainnya. Melalui gerakan itu, mereka ingin kembali menghidupkan pemahaman tasawuf yang selama ini mulai hilang dari benak umat Islam. Berbagai diskusi, pengajian, pementasan musik, dan pementasan sastra akan digelar di banyak tempat. Awalnya, kegiatan mereka akan muncul dalam festival tasawuf yang dimunculkan pada enam kota besar, seperti Makassar, Medan, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Surabaya.

”Kegiatan pertamanya sudah digelar di ITB Bandung, beberapa pekan lalu. Namun, perlu dipahami, ‘Gerakan Islam Cinta’ ini, semangat dan nilai tasawuf yang kami bawa berbeda dengan pemahaman awam terhadap tasawuf pada masa sebelumnya, misalnya masa 70-an hingga 90-an. Kami ingin menggagas tasawuf sebagai gerakan sosial yang muaranya kemaslahatan umat selaku makhuk Allah yang mahapengasih dan penyayang itu. Jadi, gerakan ini bukan semacam perkumpulan atau tarikat yang ingin mencari pengalaman atau pemuasan rasa spritual individual dari masing-masing anggotanya,” kata Ketua Gerakan Islam Cinta, Haidar Bagir.

Menurut Haidar, belakangan ini memang yang menggelisahkan terkait soal citra Islam di ruang publik, baik itu ruang publik domestik maupun internasional. Hal itu adalah terciptanya kesan bahwa Islam adalah agama yang hanya berkutat pada soal fikihh—hanya sebatas soal halal dan haram—bukan agama yang mengajarkan rasa cinta antarsesama insan. Imaji bahwa Islam itu gampang marah seolah menutupi kenyataan bahwa ajaran Islam itu pada intinya adalah membawa sifat Allah SWT sebagai Zat yang Maharahman dan Maharahim itu.

”Pada intinya melalui gerakan ini, kami ingin membalikkan citra Islam yang diekspresikan ‘berwajah keras’ itu. Kami ingin mengembalikan lagi kenyataan bahwa sebagai agama, Islam adalah merupakan simbol cinta kasih. Inilah yang kita ikhtiarkan ke publik,” ujar Haidar menegaskan.

Bila dicermati, gagasan untuk menampilkan tasawuf sebagai gerakan sosial sebenarnya pula bukan hal yang terlalu baru. Semenjak dahulu kala, aktivitas tasawuf ternyata sudah menjadi sebuah gerakan sosial. Bila dilihat dalam sejarahnya, misalnya, para pemimpin spiritual atau ‘guru tarekat’ di kawasan Afrika Utara sudah lama menjadikan aktvitas tasawuf sebagai usaha pengayoman kehidupan sosial masyarakat. Para guru sufi di kawasan Afrika itu sudah semenjak dahulu mempraktikkan secara konkret dan luas. Bahkan, nilai ajaran tasawuf mereka bawa ke medan perjuangan melawan kekuatan kolonial.

*****

Khusus untuk umat Islam Indonesia, posisi gerakan tasawuf ternyata juga telah menjadi bagian penting dari penyebaran umat Islam. Dari berbagai literatur sejarah, secara jelas malah membuktikan para pendakwah yang dahulu mengislamkan nusantara adalah para sufi atau pengikut tasawuf. Ini terlihat jelas dalam kiprah para pendakwah di Jawa pada kurun zaman yang lalu, yakni Wali Songo. Kiprah ini kemudian juga diteruskan oleh para pendakwah sekaligus ulama pada generasi berikutnya, seperti Syekh Yusuf dari Gowa,  Hamzah  Fansuri, Syekh Muhyi al-Din al-Jawi, Syekh Nur al-Din al-Raniri, Syekh ‘Abd al-Shamad al-Palimbani, serta Syekh Yusuf al-Makassari.

Adanya fakta tersebut, pakar falsafah Islam Abdul Hadi WM kembali menegaskan, sebenarnya sudah semenjak awal kehadirannya, munculnya gerakan tasawuf itu jelas merupakan sebuah gerakan sosial yang melakukan kritik keras pada situasi kehidupan para pemimpin umat atau negara yang saat itu hidup serbabermewah-mewahan.

”Gerakan tasawuf itu muncul sekitar abad ke-11 Masehi. Namun, bedanya dengan gerakan sosial biasa lainnya, gerakan sosial tawasuf itu berlandaskan pada sisi spritualitas. Ekspresi ini tampak jelas dengan munculnya beberapa tokoh sufi pada masa awal, yakni seperti  Rabi’ah al-Adawiyah dan  Ma’ruf  al Farkhi. Para tokoh ini kemudian memperkenalkan metode ajaran Islam sebagai laku atau doktrin ‘mahabah’ (cinta) itu,” ujar Abdul Hadi menjelaskan.

Melalui melalui ‘mahabbah’ ini, lanjut Abdul Hadi,  para sufi kemudian memperkenalkan  bahwa aspek vital dalam agama itu bukan hanya pada pengetahuan. Sebab, kalau beragama hanya sekadar tahu, menurut kaum tasawuf, itu adalah tidak cukup. ”Jadi, di dalam beragama setelah mengetahui ajaran agamanya, kaum sufi kemudian mengajarkan bila ingin sempurna, maka seseorang harus bisa menghayati ajaran agamanya sebagai bagian dari cinta manusia kepada Tuhan,” kata Abdul Hadi.

Maka, dalam hal ini menjadi jelaslah bahwa gerakan tasawuf adalah kritik keras atas situasi kehidupan yang menyimpang. Dan untuk mengembalikannya, para pengikut tasawuf berkeyakinan hanyalah cinta yang bisa menyelamatkan semua kerusakan dunia. Tanpa cinta, peradaban tak akan bisa berkembang. Tanpa cinta, agama pun tak akan bisa menghasilkan apa-apa.

*****

Terkait dengan kegiatan tasawuf pada masa sekarang, pegiat tarekat Syaeful Hadmar yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat, mengatakan, sampai sekarang berbagai forum pertemuan antaranggota tarekat masih tetap berjalan seperti biasa. Bentuknya bisa merupakan pengajian, melakukan zikir bersama, hingga pergi berziarah bersama ke berbagai makam Wali Songo.

”Ya, masih seperti yang dahulu. Berbagai forum pengajian tarekat, misalnya melakukan zikir bersama tetap saja dihadiri ribuan orang. Forum ini tersebar di banyak tempat, mulai dari Jawa, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara. Kegiatan ini malah sudah bersifat rutin, bisa bulanan maupun tengah bulanan,” katanya.

Dari pengamatan Syaeful, belakangan ini minat masyarakat terhadap tasawuf mulai meninggi kembali. Berbagai buku mengenai tasawuf terlihat laris di pasaran. Bahkan, banyak sekali orang yang kini menjadi sibuk mencari guru-guru spiritual yang tersebar di berbagai wilayah. Mereka menemuinya untuk belajar tasawuf guna mencari ketenangan batin.

”Namun, saya akui aktivis kegiatan tasawuf yang kini tetap marak itu masih merupakan sarana ekspresi pencarian spiritual yang bersifat pribadi. Jadi, masih belum bisa menjadi sebuah gerakan sosial yang dapat memengaruhi masyarakat yang berada di luar kelompoknya. Atau dengan kata lain, ekspresinya tetap belum berubah, padahal kelompok tarekat itu punya potensi besar untuk menjadi wadah terjadinya perubahan wajah dalam ekspresi umat Islam Indonesia secara keseluruhan. Adanya situasi ini memang patut kita sayangkan,” kata Syaeful menandaskan.

Sumber : Republika.co.id

Single Post Navigation

2 thoughts on “Tasawuf, Mencari Cinta Yang Hilang

  1. Jenggot on said:

    Hasrat Untuk Berubah. Kala aku muda dan bebas berkhayal. aku bermimpi ingin mengubah dunia. Sejalan dengan bertambah usia dan kearifanku, kudapati dunia tak kunjung berubah. Maka cita cita itupun ku persempit,dan kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku, namun itupun tampaknya tiada hasil. Ketika usiaku makin senja,dengan upaya terakhir penuh putus asa,kuputuskan untuk mengubah keluarga ku semata,orang -orang terdekat denganku. Tapi malangnya,merekapun tak mau diubah. Dan kini saat terbaring menanti ajal, tiba-tiba ku sadari: Andai yang pertama kuubah diriku sendiri dengan menjadikan diriku teladan mungkin aku dapat mengubah keluarga. lalu berkat ilham dan dorongan mereka akupun mampu memperbaiki negeriku. dan siapa tahu, bahkan akupun dapat mengubah dunia. ( karya seorang Bishop Anglikan, 1100 M, tertulis di ruang pemakaman wetsminter Abbey)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: