Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Wasilah, Cara Berkenalan Dengan Allah (Bag. 1)

Satu hal yang selalu saya syukuri dalam hidup ini karena Allah Yang Maha Pemurah berkenan memperkenalkan Kekasih-Nya, Seorang Guru Mursyid kepadaku sehingga lewat Beliau saya diizinkan oleh Allah untuk mengenal-Nya dengan sebenar-benar kenal.

“Kenal” dengan “tahu” adalah dua kata yang berbeda. Kebanyakan kita mengetahui tentang Allah tapi tidak mengenal-Nya. Kita mengetahui nama Presiden RI, yang sekarang sedang menjabat bernama Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab di panggil SBY dan seperti umumnya masyarakat Indonesia pasti mengetahui nama Presidennya dan mungkin ada yang pernah melihat wajahnya secara langsung atau lewat TV. Hubungan kita dengan Presiden umumnya adalah hubungan “mengetahui” bukan hubungan “berkenalan”. Kita dianggap kenal, apabila pernah berjumpa, berjabat tangan dan saling menatap dan paling tidak ada ucapan sepatah dua patah kata dari Presiden kepada kita atau dialog kecil dengan demikian maka perkenalan kita dengan presiden menjadi sah. Hampir semua orang mengetahui dan mempunyai pengetahuan tentang sosok Presidennya minimal mengenal nama namun hanya segelintir orang yang benar-benar pernah berkenalan dengan Presiden. Istri dan anak2 Presiden sangat dekat hubungan dengan Beliau begitu juga dengan para pembantunya, Para Menteri, Gubernur, bupati sampai kepada Pak Lurah, kesemuanya adalah orang-orang yang mempunyai hubungan dengan presiden dan semakin kecil jabatan yang dipegang akan semakin kecil pula peluang untuk bisa berkenalan dengan Presiden.

Dalam kasus tertentu, bisa jadi orang yang tidak mempunyai jabatan sama sekali, hanya rakyat kecil bisa begitu kenal dengan Presiden. Bisa pembantu Rumah Tangga Presiden, atau tukang sapu yang bertugas menyapu jalan di depan rumah Presiden sehingga setiap pagi bisa melihat bahkan mendapat sapaan akrab dari presiden.

Senang atau tidak senang, untuk bisa berkenalan dengan Presiden harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan, kalau tidak sesuai dengan aturan sampai kapanpun kita tidak akan pernah berkenalan dengan presiden atau malah kita kenal dengan Presiden gadungan atau sok kenal dengan presiden padahal belum pernah sekalipun berjumpa dengan Presiden.

Kenal dengan Presiden saja harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan, begitu juga dengan kenal dengan Allah Sang Maha Raja Dunia Akhirat, tentu aturannya lebih ketat lagi. Selain kelompok Atheis, semua orang mengakui adanya Tuhan, dan sebagian besar mengetahui nama Tuhannya dengan baik bahkan menghapal sifat-sifat Baik dan nama-nama baik (Asmaul Husna) dari Tuhannya, namun sedikit sekali yang bisa berkenalan dengan Tuhannya. Analogi Presiden yang saya tulis diatas untuk memudahkan kita memahami hubungan antara manusia dengan Tuhan agar kita tidak merasa kenal apalagi merasa dekat.

Allah memberikan aturan bagaimana manusia bisa berkenalan dengan Allah lewat firman-Nya dalam surat Al-Maidah 35, “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah WASILAH (Frekwensi/gelombang yang bisa mendekatkan) kepadaNya dan berjuanglah di jalanNya agar kalian beruntung.” Tentang WASILAH, Allah juga berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 57,Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari “Al Wasilah” kepada Rabb mereka, siapakah diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)….”.

Kali ini kita tidak membahas tentang WASILAH secara luas karena sudah pernah saya bahas pada tulisan-tulisan lalu seperti Berwasilah Kepada Mursyid atau Rabithah Mursyid yang intinya Wasilah adalah sesuatu yang bisa mendekatkan kita dengan Allah. Banyak orang yang keliru memahami Wasilah dan menganggap Wasilah itu manusia sehingga hal inilah yang menyebabkan orang luar Tarekat menuduh pengamal Tarekat melakukan perbuatan Syirik (Menduakan Tuhan).

Wasilah bukanlah manusia, bahkan Para Nabi dan Rasul, Wali Allah atau  Guru Mursyid bukanlah Wasilah, mereka hanya sebagai pembawa Wasilah yang berasal dari sisi Allah SWT. Wasilah dalam surat An-Nur 35 adalah Nur ala Nurin (Cahaya di atas Cahaya) yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki. Muhammad bin Abdullah adalah manusia biasa kemudian menjadi Rasulullah (utusan Allah) karena Beliau dipercayakan Allah untuk membawa cahaya-Nya berupa Nur Muhammad, sebagai Wasilah manusia dengan Allah.

Menghadirkan Wajah Rasulullah SAW (Bagi ummat yang hidup sezaman dengan Nabi) atau menghadirkan wajah Guru Mursyid sebagai ulama pewaris Nabi (Bagi ummat yang hidup sesudah Nabi) di dalam zikir dan ibadahnya berfungsi untuk menemukan WASILAH yang adalah dalam diri Nabi/Guru Mursyid sehingga menemukan frekwensi dan gelombang Allah, dengan demikian rohani seluruh ummat Muhammad akan berhubungan dengan Allah SWT. Itulah sebabnya ketika sahabat Nabi Saidina Ummar bin Khattab meminta izin kepada Nabi untuk melakukan Umrah, Nabi berpesan kepada Umar, “Wahai saudaraku umar, dimanapun engkau berada dan ibadah apapun yang kau lakukan, jangan lupakan Kami”. Tentu saja “Kami” yang dimaksud oleh Rasulullah adalah Allah dan Rasul-Nya.

Bersambung ke Bagian Dua


Single Post Navigation

28 thoughts on “Wasilah, Cara Berkenalan Dengan Allah (Bag. 1)

  1. awan lintang kelana on said:

    ditunggu kelanjutannya bang,,

  2. Arul Adi Sanjaya on said:

    SUBHANALLAH…!!! Terima kasih atas pencerahannya.

  3. andi wahyu nugroho on said:

    Alhamdulillah dgn adanya aktivitas abangda & mozaik surau saya bs mengikuti kegiatan serta menambah wawasan walau jarak memisahkan,terima kasih,wass.

  4. alhamdulillah….
    Terima kasih…..
    Telah membuka pintu hati kami..
    serta memberikan pencerahan bg kami…
    kami menunggu Kelanjutan’a ….

  5. kerinduanku teramat sangat, matur nuwun pencerahannya bang SM. salam kenal. baru kali ini mampu menulis, sebelumnya hanya menyimak. maju terus bang.

  6. Fauzan Albantani on said:

    Alhamdulillah, semoga abang dan kita semua diberi kelapangan begitu juga dengan ilmu, semoga ilmu ini juga menjadi ladang amal buat abang dan kita semua.
    Dinantikan kelanjutannya Bang, teruslah berkarya, semua anak ayah saya kira juga sangat mendambakan blog ini.
    Wassalam.

  7. Kajian yang menarik…terima kasih…
    (maaf lama tak berkunjung…)

  8. Di tunggu sambungan nya bang…

  9. taat budiono on said:

    SALAM KASIH DALAM RIDHO ALLAH.
    Saudaraku, saya mau nanya, sebenarnya syetan itu apa dan siapa? juga terbuat dari apa? dan Malaikat itu dapat pengetahuan dari mana sehingga bisat mengetahui tentang keadaan manusia yang akan berbuat kerusakan dan berdarah darah di muka bumi ini? serta siapa yang menggoda atau mempengaruhi si Iblis sehingga berani membangkang perintah Allah SWT. Saya mohon pencerahannya terimakasih.

    • setan itu dicitaptakan Allah melalui Nafsu manusia….dan nafsu manusia itu tercipta dari unsur api. itulah sebabnya setan selalu menyulut kehendak manusia yang selalu menyipang dari ajaran Tuhan dan nabi-nabinya.
      Malaikat tidak menyebutkan “manusia” coba anda lihat kembali teks ayat tersebut. “atajalu fiha manyufsidu fiha wayasfiquddima'” akankah Engkau menciptakan dimuka bumi yang akan merusak dan akan menumpahkan darah padanya. sebelum manusia ada di muka bumi Allah telah terlebih dahulu menciptakan makhluk-makhluk yang diberikan wewenang dalam menggunakan dan menjaganya. yakni yang berupa Jin. “dan aku telah menciptakan jin terlebih dahulu ketimbang manusia”. dari perkara itulah mereka para malaikat mengetahui bahwa khalifah terdahulu yang dipercayai allah telah melakukan perbuatan yang menghancurkan bumi dan melakukan banyak peperangan di antara mereka.

  10. ahmad muharror on said:

    like this site

  11. apa yang anda fikirkan tentang sufi sangatlah dangkal dan tidak beralasan sesuai dengan pengalaman sufistik anda.. apa yang anda katakan hanya sebatas pengalaman dan pendapat orang lain tentang tasawuf. dan di dalam ajaran sufi apa yang orang lain rasakan belum tentu menjadi apa yang sering diucapkan dan diceritakan kepada orang lain. sehingga jadikanlah ajaran sufi hanya sebagai wadah untuk menyebarkan syariat dan bukan menggembar-gemborkan sufi pada permukaannya saja dan akan menyesatkan syarak.

    • Saya pengamal Tasawuf yang selalu di bimbing oleh Guru Mursyid yang kamil mukamilk. Seluruh yang saya tulis berdasarkan pengalaman bukan berdasarkan fikiran dan berbagai referensi dari kitab2 Tasawuf.
      Karena yang saya tulis berdasarkan pengalaman Sufistik, tentu saja hanya orang-orang yang telah mengamalkan tasawuf yang paham. Saya mohon maaf kalau tulisan saya sulit anda pahami, silahkan cari Guru Mursyid untuk membimbing anda. Belajar kepada Beliau dan kemudian anda baca lagi tulisan ini, nanti akan beda pemahamannya.

      • Taat Budiono on said:

        Saudaraku Sufi Muda. Saya sangat mengharapkan sekali sumbangsih ilmunya untuk memberikan pencerahan pada pertanyaan saya diatas,. serata saya mohon maaf karena selama ini saya telah mengcopy beberapa tulisannya tampa ijin dulu, namun meskipun demikian saya yakin Anda pasti ridho, sebab bathin saya mengatakan semua yang anda lakukan disini semata mata hanya mencari manfaat ilmu untuk sesama dan mendapat ridho Allah, semoga amin.

        • Saya berterima kasih karena tulisan2 saya disebarkan sehingga lebih banyak orang membaca dan mudah2an bisa bermanfaat. Saya menulis dengan tujuan agar banyak orang yang tertarik dengan Tasawuf sebagai jalan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus memperbaiki akhlak manusia.
          Siapapun sayang izinkan untuk menyebarkan tulisan2 saya itu sebabnya dibawah tulisan ada ikon Sharing kebeberapa media : (Facebook, Twitter, email) atau langsung di print. Kalau tulisan ini disebarkan lewat blog atau media lain mohon di cantumkan alamat blog sufimuda agar orang lain bisa membaca tulisan2 lain di sufimuda.

          Saya buat blog ini sebagai media silaturahmi dan media untuk berbagi. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, amin.

          • Taat Budiono on said:

            Asalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
            Saudaraku Sufi muda yang batk. semoga anda tetap ikhlas menerima kehadiran tulisan saya, dan juga dapat memaklumi atas segala kealpaan dan kehilapannya,.baik dalam tuturkata bahasanya juga penyampaiyan maksudnya.maklumlah saya adalah pemain yang tidak diperankan Tuhan untuk menjadi murid yang baik dan duduk manis menimba ilmu di bangku akademis. dan juga tidak pula di perankan sebagai pemain yang merasakan belaiyan kasih sayang,serta mengenal wajah rupawan seorang Ayah, karena Ayah hanya diperankan Tuhan satu tahun menemani kehidupan saya didunia fana ini. dan saat ini saya diperankan sebagai penadah ilmu agama dari saudara Sufi muda, atau dari saudara saudara yang lain yang ikhlas berbagi manfaat ilmunya, saya akan menerimanya dengan senang hati, tampa prasangka dan curiga, apalagi menghakimi salah dan benarnya, karena saya percaya dan mengimanni tiada kuasa yang lain yang mampu menggoyangkan sehelai rambutpun selain daripada kuasanya Allah SWT. apa lagi tarian jari jemari yang menari merangkai kata dalam mengiringi niat apapun, adalah juga merupakan kuasa dan kehendakNYA, jadi bagi siapapun yang mampu menjalankan peran kehiduppannya dengan baik sesuai dengan arahan sang sutradara, pasti akan bisa mendapatkan manfaat kebaikan dari setiap saat dan peristiwa kehidupannya.

  12. Assalammualaikum..sy blm pernah menemukan anda dalam online..bolehkah sy bertemu dng anda dng media lain..

  13. semoga kita semua jadi wali allah……..
    ada wali allah di ketahui allah saja……
    ada wali allah di ketahui allah dan para walinya……
    ada wali allah di ketahui allah dan setingkat dgnya…….SETERUSNYA

  14. Alhamdulillah.., Subhannallah.., tulisan ini sangat bemanfa’at dan menjadi berkah adaNya..Aamin InsyaAllah (*Suhudul Wahdah Fil Katsrah, Suhudul Katsrah Fil Wahdah *) Salam Sejahtea..!! buat Ikhwan Semua

  15. Ruslianto on said:

    MENGAPA RASULULLAH SAW DISEBUT ALLAH SEBAGAI RAHMATAL LIL ‘ALAMIIN

    Wa maa arsal naaka illa rahmatal lil alamiin (Qur’an Suraah Al Anbia ayat 107) Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

    Ada pertanyaan menggelitik (berbunyi seperti ini) : Rahmatal lil ‘alamiin- itu berarti Rahmat bagi seluruh alam,(seluruh jenis alam, alam dunia/sampai kiamat, alam ghaib,alam Kubur,alam Malakut,alam akhirat, alam Ilahiyah dll) sedangkan saat ini (alam dunia) belum kiamat, padahal Rasulullah sudah berlindung (telah berpulang kerahmatullah ). Bagaimana Rahmat (yang difirmankan Allah SWT/Janji Allah SWT ) itu dapat diterima oleh seorang Hamba Allah dan Kaum Muslimin, sepeninggal Rasulullah ?
    Jawabnya ialah : Karena didalam Arwahul Muqadasahnya, sesungguhnya“ tertanam/membawa” WASILAH yang Maha Akbar yang langsung dari Allah SWT yang mengandung frekwensi dan dimensinya luar biasa , yang mampu membuatnya dapat berkomunikasi secara langsung dengan Allah SWT- Naah,… maka sekarang dapat-lah kita fahami pula, bahwa Arwahul Muqadasah dari anak Abdullah itu tiada mati, tetapi hidup terus pada sisi Allah SWT, hanya jasmaninyalah yang berlindung , sedang Arwahnya membawa “THE BIG MISSING LINK” dari Allah SWT ( Wasilah itu bukan manusia, tetapi Rasulullah is the “Wasillah Carrier”)
    Nah sekarang sadar-lah kita, bahwa yang dimaksud dengan Rahmatal lil’alamiin, adalah “Wasilah”. Yang tertanam dalam Arwahul Mukadasahnya Rasulullah, karena Rasulullah dengan “Wasilah-Nya”(itu) merupakan corong yang tak habis-habisnya dari Rahmatal lil’alamiin, yang mengalir-kan Rahmat Allah SWT, Rahmat yang sebanyak bintang di langit dan sebanyak pasir di pantai serta sangat luas dan dalam sedalam lautan.
    Selama ini “Wasilah” sulit dimengerti , wasilah hanya dapat diuraikan dengan Ilmiah Fisika Tinggi bersama dengan Ilmu Tasauf Islam; maka selama itu pula persoalan “wasilah” selalu saja di kesampingkan oleh kebanyakan umat Islam, karena rumit dan payah dimengerti sama sekali !! Padahal Wasilah Allah adalah kunci terbesar “pembuka Rahmat Allah”serta (kata Guru-ku) mengandung frekwensi yang tak terhingga, yang mampu menyampaikan Amaliah kita langsung kepada Allah SWT. Maka oleh sebab itu siapa yang beruntung dapat menggabungkan Arwah/”Spirit”nya dengan Arwahul Mukaddasah Rasulullah, Ya-TENTU arwahulnya “disucikan” pula terlebih dahulu, seperti Rasulullah juga disucikan Arwahnya, maka Spiritnya kita itu akan mampu pula akhirnya untuk memiliki Wasilah (yang sama) Yang Maha berharga itu.

    Siapakah yang beruntung memiliki Wasilah itu ??, Apakah ia seluruh kaum muslimin, (jika memang benar ? begitu), maka pasti keseluruhan kaum muslimin itu akan menjadi Khalifah Allah yang hebat di atas bumi, karena ia akan mampu pula menyalurkan Rahmat Allah SWT kepada kelilingnya, karena ia (orang tsb) mampu pula berkomunikasi langsung dengan Allah SWT seperti Para Rasul-Rasul yang terdahulu, karena Wasilah/Komputer yang dipakainya adalah SAMA.
    Jika kamu lihat seorang laki-laki yang menebarkan rahmat-rahmatKu kepada orang banyak, maka naik saksilah engkau bahwa laki-laki itu adalah seorang Kekasih-Ku yang Ku-tugaskan untuk menebarkan rahmat-Ku pada ummat-Ku ! (Hadist Qudsi).

    Wahai Saudara-Ku Terus-lah sampean berkekalan berdzikir dengan bermursyid berwasilah pasti engkau Menang (karena sesuai dengan janji Allah, itu sebab janji Allah itu adalah pasti bukan mudah-mudahan).

    Wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil ‘aalamiin.
    Wass: Mohon maaf, Buat Yth. Sdr.Ku Sufi Muda Teruslah berkarya.

  16. Fuad rosidi on said:

    Sy sk tata cara dlm pembahasan

  17. maju terus sufi muda…

  18. KORI ARIFF on said:

    Memarik sekali….hati saya semakin menyala2 utk memahami lebih

  19. Qodratamalyah on said:

    Terima Kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: