Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Murid yang Tamat Berguru

Berikut adalah cerita sufi tentang seorang murid yang telah tamat berguru. Cerita ini seringkali disampaikan oleh Guru saya kepada murid-muridnya. Biasanya cerita ini disampaikan kepada murid-murid yang masih tinggal bersama Beliau di Surau.

Suatu ketika anak surau yang berjumlah 35 orang itu dikumpulkan. Maklum, para pengabdi itu pun sudah dewasa dan mereka juga memikirkan ujung pengabdian. Mereka harus ke mana, mereka harus hidup berumah tangga, mencari pekerjaan dan lain-lain. Guru bila bercerita sangat menarik, mempesona dan membuat pendengar tak bergerak. Guru berkata, “Ada murid yang baru tamat berguru lalu ia pulang ke rumahnya. Di tengah jalan dilihatnya ada seorang putri raja yang aduhai cantiknya, sang putri sedang duduk di depan rumahnya yang indah. Si murid ini sangat terpesona dan tertarik dengan paras cantik putri itu. Dalam hatinya ia berkata, “Alangkah eloknya jika ia jadi istri dan pendamping hidup saya…?”

Terangan-angan paras gadis sampai di rumahnya, ia berkata kepada ibunya, “Ibu, anak gadis yang saya jumpai di rumah indah di pinggir jalan itu apa sudah ada yang punya?” Ibu menjawab, “Apa maksudnya?” ujar ibu menimpali pertanyaan anaknya. Anaknya berkata, “Kalau belum ada yang punya, tolong ibu lamarkan untuk saya.” “Sadar nak” begitu sergah ibunya. “Dia putri raja, kaya raya, sedangkan engkau anak orang biasa dan miskin.”

Untuk tidak mengecewakan anaknya yang baru lulus berguru dan pantas menikah itu. Sebagai ibu yang bijaksana, sang ibu pergi mencoba bertanya. Ia pergi ke rumah gadis tersebut. Maka ibu mengetok pintu sambil mengucap salam “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikum salam”, jawab tuan rumah. “Ada apa bu?” kata tuan rumah. “Ini anak saya kemarin lewat di depan rumah raja kebetulan dilihatlah olehnya seorang gadis manis putri raja dan ia merasa tertarik. Si anak baru tamat berguru pada wali Allah (tidak disebut nama si wali), dan maksud kedatangan hamba kemari ingin melamar anak gadis raja itu, bila raja berkenan dan bila putri itu belum ada yang punya!”

Raja memang bijaksana, untuk menolak dengan terang-terangan dan supaya tidak menyakiti hati sebagian rakyatnya ia menjawab, “Oh, ibu mau melamar untuk anak ibu. Begini bu, saya tidak bisa memutuskan sendiri, apakah lamaran itu diterima atau tidak. Karena ini adalah masalah Negara maka saya akan panggil dan mengumpulkan semua menteri untuk memutuskan hal ini. Dan ibu sebaiknya pulang dulu dan barang seminggu sudah ada keputusan.”

Sesampainya di rumah, si anak bertanya “Bagaimana bu, beritanya?” “Oh tunggu seminggu lagi nak, karena raja tidak bisa memutuskan seorang diri maka raja akan panggil menteri-menterinya untuk membahas masalah ini.” Raja memanggil menteri-menteri dan memberitahukan bahwa anak si ibu yang bernama Fulana telah datang menemui raja dengan maksud ingin melamarkan si anak pada putri raja dan bagaimana caranya supaya lamaran di tolak, dengan tidak menyakiti hati ibunya.” “Ah itu mudah raja” jawab menteri. “Buat saja persyaratan yang berat kepadanya yang sekiranya tidak dapat dipenuhi.” “Nah apa itu?” kata raja. “Minta saja tujuh buah mutiara sebesar telur, pasti ia tidak akan bisa memenuhi dan karena itu persyaratan untuk mempersunting putri raja menjadi gagal.” “Wah pandai kau menteri. Aku setuju dengan caramu itu, nanti akan aku katakan pada ibu si anak itu jika ia datang ke sini untuk menanyakan keputusan raja.” Benar saja seminggu kemudian pintu raja terketuk dan terdengar “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam”, pintu dibukakan dan si ibu pun dipersilakan masuk untuk menanyakan bagaimana kabar beritanya. “Begini, lamaran ibu diterima asalkan anak ibu menyiapkan tujuh butir mutiara sebesar telur lalu diserahkan pada raja. Itu persyaratannya.” jelas raja. “Kalau begitu saya beritahukan pada anak saya, sanggup atau tidak.” jawab ibu. “Oh ya, ya silakan.”

Si ibu pun pulang dari rumah raja, di pintu dia sudah disambut oleh anak itu sambil bertanya, ”Bagaimana kabarnya bu?” ”Aduh itu nak, tujuh turunan dari kakek sampai anak cucu, mencari duit untuk tidak dibuat makan, tatapi dibuat untuk membeli tujuh butir mutiara sebesar telur ayam itu tidak akan bisa terkumpul.” “Oh itu rupanya yang menjadi persyaratan diterimanya lamaran saya Bu?” “Betul nak, itu mana mungkin.” “Ah, Itu soal kecil, Bu!” tanggap anaknya. “Ha, soal kecil?” ibunya terheran. “Allah Ta’ala kan kaya bu” kata si anak, dan si ibu dibuat bingung mendengarnya. Si anak berkata, “Mutiara sebesar dan sebanyak itu hanya ada di Laut Cina Selatan.”

Diam-diam si anak keluar dengan membawa tempurung kelapa dan pergi ke Laut Cina Selatan. Dia kuras laut itu dengan batok kelapa (tempurung kelapa) sambil membaca: laa ilaaha illa Allah pada tiap kurasan, sehingga hampir habis air laut itu(secara gaib). Tiba-tiba geger penghuni-penghuni laut, berupa jin-jin penjaga laut itu dan mereka berteriak, “Stop…stop…! jangan kau teruskan nanti kering laut ini dan matilah anak buah kami. Sebenarnya apa yang engkau cari?” “Saya akan mencari tujuh butir mutiara sebesar telur ayam dan mutiara itu hanya ada di laut ini. Karena itu saya harus menguras dan mengeringkan laut ini.” begitu kata si murid wali itu dengan tegas.

Panglima jin penghuni laut itu berkata, “Kalau soal itu gampang, nanti saya akan memerintahkan anak buahku untuk mencari mutiara-mutiara itu dengan menyelami laut ini, dan tidak usah kau teruskan untuk menguras laut.” “Nah kalau kau sudah menjamin begitu, baiklah akan saya hentikan menguras laut ini.” Sesaat kemudian anak buah penghuni Laut Cina Selatan itu diperintahkan menyelam ke dasar laut sampai ditemukan ketujuh batu mutiara, lalu oleh penghulu jin mutiara itu disampaikan pada anak tadi dan ketujuh butir mutiara itu dibawa pulang oleh anak tadi.

Sesampainya di rumah, ibu menyapa “Sudah datang nak?” “Ya sudah datang dan ini tujuh buah mutiara yang diminta raja” kata anaknya. Oleh ibunya ketujuh butir mutiara itu di ambil dan ditimang-timang, dibalik-balik setengah tidak percaya. Lalu si anak menyeletuk, “Itu mutiara asli, bukan batu atau plastik bu!” meyakinkan pada ibunya. Sang ibu pun terdiam.

Esok harinya si ibu mengantarkan ketujuh butir mutiara itu kehadapan raja.” Assalamu’alaiku” “Wa’alaikum salam. Apa kabar bu?” “Kabar baik, dan ini tujuh butir mutiara yang raja minta dari anak saya, saya disuruh untuk mengantarkannya ke hadapan raja dan menyerahkannya.

Ketujuh butir mutiara itu pun diterima oleh raja, si raja terbelalak kedua matanya, terheran-heran hampir tidak percaya, seolah-olah dalam mimpi saja. Di balik-balik mutiara-mutiara itu, terheran melebihi kehendaknya. Raja terkagum diam. lalu si ibu berkata, “Tak usah khawatir raja, itu asli mutiara, bukan palsu, batu, atau plastik mainan, kata anak saya.” Raja pun terhentak dan akhirnya perkawinan pun dilaksanakan.

Single Post Navigation

130 thoughts on “Murid yang Tamat Berguru

  1. FAQIR PENGEMBARA KSA on said:

    S@lam utk Abu khalid…..mungkin anda tersesat masuk blog ini….sebaiknya anda melanglangbuana….yang sesuai dengan pemikiran anda diblog lain….dialam Maya yang lain….dan Copy paste dalil2 yang sesuai dengan anda….semoga abu khalid menjadi ustad tersohor…..tapi jangan baca kitab2 seperti : Kasyiful mahjub ,Takdhirah AlAulia dll.nanti bingung lagi….Saya sendiri tersesat…..tersesat dijalan Allah….melalui Blog sufimuda ini Aku mengenal Butir2 airmata…..Berkontemplasi…banyaknya buah2an yang disajikan….sehingga aku tidak mengharapkan lagi buah2an disurga.Abu khalid kepintaran itu baik tapi kesabaran lebih baik,Salam hormat untukmu From FAQIR PENGEMBARA KSA.

    • sedikit nasehat utk semua, jika kalian suah mengenal akan AKU tidak pantas kalian mengatakan seseoang tersesat masuk dalam blog ini, dia suga hanyalah sifatKU yang tidak ada daya dan upaya,,, semuanya atas ijin dan kehendakKU. Hebat benar jika seseorang sudah mengaku mengenal tapi masih berani berbicara / menulis seperti itu

  2. Wa’alaikum salam, buat saudaraku faqir pengembara KSA mohon maaf sebelumnya jika tanggapan saya agak keras. Saya memang sedang melanglang buana di alam maya ini dan coba-coba masuk ke blog ini. Na’udzu billah terus terang saya merinding membaca artikel-artikelnya. Tulisan-tulisannya sangat sedikit landasan pijakannya dengan pegangan umat islam yakni Al-qur’an dan As-sunnah justru yang jadi pijakan dalam beragama adalah akal yang sangat lemah, kias-kias yang bathil dan perasaan-perasaan karena isi ceritanya penuh dengan cerita-cerita khurofat. Itulah hakikatnya agama orang-orang sufi, padahal Nabi SAW bersabda : Inni taroktu fiikum ma in tamasaktum biha lan tudhillu ba’di, kitabullah wa sunnatii ( sesungguhnya telah aku tinggalkan pada kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya maka tidak akan kalian tersesat sepeninggalku yaitu kitabullah dan sunnahku) (HR. Malik dan Al-Hakim dari abu huroiroh ra).
    Ini yang telah dilupakan oleh orang-orang sufi. Berbicara tentang agama itu harus ada landasannya dan tidak lain adalah Al-qur’an dan sunnah yang shohih. Alloh SWT berfirman : wala taqfu ma laysa laka bihi ‘ilma, inna sam’a wal abshoro wal fu aada kullu ulaaika kaana ‘anhu mas uula (dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yang kalian tidak ilmu tentang hal tersebut karena sesungguhnya pendengaran, penghilatan dan hati kalian kelak akan dimintai pertanggung jawabannya) (S. Al-Isro : 36). Bukan berarti saya lantas menuduh saudaraku tidak berilmu tapi yang wajib bagi kita adalah mengilmui agama kita ini dengan tuntunan yang benar, dengan pemahaman yang benar dan pijakkannya tidak lain adalah Al-Qur’an dan sunnah yang shohih. Mudah-mudahan saudara-saudara semua menyadari hal itu.

    • wah…wah ada yang nyasar ni .wah langsung motong aja tanpa tau awal cerita paya.lebih baik belajar dongeng aja

    • mangnya dah hafal brapa hadits om..??
      Kalau boleh tahu silsilah keilmuan om dari mana..???

    • assalamualaikum…
      salam kenal. sebelumnya diucapkanterima kasih atas saran dan nasehat saudara Abu Khalid. agar kita semua menjadi seorang hamba Allah yang terbaik. setelah saya membaca tanggapan saudaraku hendaklah saudaraku memahami isi dari Al Qur’an itu secara tersirat bukan tersurat. Insya Allah jika saudara memahami Qur’an itu secara tersirat makna yang ada didalam kandungan Qur’at tersebut mudah2an saudaraku diberi hidayah utk memahami makna dari Alqur’an
      tersebut.

    • mamo cemani gombong on said:

      abu kholid ….. itu sufi palsu . , jelas sekali itu sufi sesat, ….. tulisan anda jelas anda nol kosong dalam ilmu tasawuf …..baca semua artikel sufi muda disitu ilmu yang sebenarnya pertanyaan anda terjawab . sekali lagi baca semua baru komentar . maaf

  3. BABILORENG on said:

    Ass. Wr. Wb.

    Nabi Khidir ditugaskan membimbing Nabi Musa yang hidup dizamannya, sebagaimana kita sekarang wajib menyampaikan dakwah kepada orang lain disekeliling kita. Beliau tidak dikurniakan Mukjizat seperti Nabi Musa sebaliknya diajarkan ilmu secara Laduni. Hal ini turut dimiliki Para Wali Allah dan Alim Ulama yang dianugerahkan Allah Ilmu Makrifat serta Kasyaf. Golongan ini selalu berhati-hati untuk tidak membusungkan dada dengan Ilmu yang mereka miliki. Sifat Warak dan merendah diri pada beliau inilah yang diamalkan oleh para Wali Allah seperti Syekh Abdul Qadir Jailani yang namanya senantiasa disebut-sebut sampai hari ini walaupun telah wafat ribuan tahun yang lampau.

    Salah satu kisah Al-Qur’an yang sangat mengagumkan dan dipenuhi dengan misteri, kisah seorang hamba yang Allah SWT memberinya rahmat dari sisi-Nya dan mengajarinya ilmu. Yang mana kisah tersebut terdapat dalam surah al-Kahfi di mana ayat-ayatnya dimulai dengan cerita Nabi Musa, yaitu:

    “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun.” (QS. al-Kahfi: 60)

    Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Musa telah bertekad untuk meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama kecuali jika beliau mampu mencapai majma’ al-Bahrain (pertemuan dua buah lautan). Seandainya tempat itu harus disebutkan niscaya Allah SWT akan rnenyebutkannya. Namun Al-Qur’an al-Karim sengaja menyembunyikan tempat itu, sebagaimana Al-Qur’an tidak menyebutkan kapan itu terjadi. Begitu juga, Al-Qur’an tidak menyebutkan nama-nama orang-orang yang terdapat dalam kisah itu karena adanya hikmah yang tinggi yang kita tidak mengetahuinya. Kisah tersebut berhubungan dengan suatu ilmu yang tidak kita miliki, karena biasanya ilmu yang kita kuasai berkaitan dengan sebab-sebab tertentu. Dan tidak juga ia berkaitan dengan ilmu para nabi karena biasanya ilmu para nabi berdasarkan wahyu. Kita sekarang berhadapan dengan suatu ilmu dari suatu hakikat yang samar; ilmu yang berkaitan dengan takdir yang sangat tinggi; ilmu yang dipenuhi dengan rangkaian tabir yang tebal. Di samping itu, bahkan Al-Qur’an sengaja menyembunyikan pahlawan dari kisah ini.

    Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam firman-Nya:

    “Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”(QS. al-Kahfi: 65)

    Al-Qur’an al-Karim tidak menyebutkan siapa nama hamba yang dimaksud, yaitu seorang hamba yang dicari oleh Musa AS agar ia dapat belajar darinya. Nabi Musa adalah seorang yang diajak bebicara langsung oleh Allah SWT dan ia salah seorang ulul azmi dari para rasul. Beliau adalah pemilik mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya dan seorang Nabi yang Taurat diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah ini, beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana yang harus belajar kepada gurunya dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya itu yang didalam hadis yang suci disebutkan bahwa ia adalah Khidir as. Musa berjalan bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT tanpa sebab-sebab penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui. Mula-mula Khidir menolak ditemani oleh Musa. Khidir memberitahu Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Akhirnya, Khidir mau ditemani oleh Musa tapi dengan syarat, hendaklah ia tidak bertanya tentang apa yang dilakukan Khidir sehingga Khidir menceritakan kepadanya. Khidir merupakan simbol ketenangan dan diam; ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa. Sebagian tindakan yang dilakukan oleh Khidir jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata Musa; sebagian tindakan Khidir yang lain dianggap Musa sebagai hal yang tidak memiliki arti apa pun; dan tindakan yang lain justru membuat Musa bingung dan membuatnya menentang. Meskipun Musa memiliki ilmu yang tinggi dan kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya dalam keadaan kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan karunia ilmunya dari sisi Allah SWT.

    Ilmu Musa yang berlandaskan syariat menjadi bingung ketika menghadapi ilmu hamba ini yang berlandaskan hakikat. Syariat merupakan bagian dari hakikat. Terkadang hakikat menjadi hal yang sangat samar sehingga para nabi pun sulit memahaminya. Kisah ini menunjukam bahwa adanya hamba-hamba Allah SWT yang bukan termasuk nabi dan syuhada namun para nabi dan para syuhada “cemburu” dengan ilmu mereka. Kisah ini di awali pada saat Nabi Musa as berbicara di tengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran. Setelah beliau menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israil bertanya: “Apakah ada di muka bumi seseorang yang lebih alim darimu wahai Nabi Allah?” Dengan nada emosi, Musa menjawab: “Tidak ada.” Allah SWT tidak setuju dengan jawaban Musa. Lalu Allah SWT mengutus Jibril untuk bertanya kepadanya: “Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?” Musa mengetahui bahwa ia terburu-buru mengambil suatu keputusan. Jibril kembali berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di majma’ al-Bahrain yang ia lebih alim daripada kamu.” Musa bertanya bagaimana ia dapat menemui orang alim itu. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk pergi dan membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat ke lautan maka di tempat itulah Musa akan menemui hamba yang alim. Akhirnya, Musa sampai di tempat di mana ikan itu melompat. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki yang dijelaskan oleh Al-Qur’an:

    “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba -hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahrnat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. “

    Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah. Allah SWT berfirman:

    “Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan hita ini.’ Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. “(QS. al-Kahfi: 61-65)

    Firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi:

    “Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’” (QS. al-Kahfi: 66-70)

    Allah SWT berfirman:

    “Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’ Dia (Khidir) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’ Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’ Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Khidir berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?’ Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.’ Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidir berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.’” (QS. al-Kahfi: 71-82)

    Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar.

    Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik temyata justru di balik itu terdapat keburukan. Mula-mula Nabi Allah SWT Musa menentang dan mempersoalkan tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.

    (dari berbagai sumber)

    Kesimpulan :

    1. Suatu ilmu yang dijalankan oleh para ahli Sufi tidak semuanya harus dipertanyakan karena sudah mengandung hakikat bukan lagi syari’at.
    2. Kepatuhan dan kesabaran adalah kunci dari Ilmu hakikat, karena dari kepatuhan dan kesabaran itulah ke-Ikhlasan akan muncul tanpa disadari. (STAR)

    Wassalam BABILORENG.

  4. Saudara BABIL ORENG yang mudah2an diberi petunjuk oleh Alloh SWT, dari kesimpulan anda yang pertama ” Suatu ilmu yang dijalankan oleh para ahli Sufi tidak semuanya harus dipertanyakan karena sudah mengandung hakikat bukan lagi syari’at “. Inilah letak kerusakannya pemahaman orang-orang sufi. Singkat saja saya katakan, jika orang-orang sufi yang telah merasa mencapai hakikat dari pencariannya selama ini yakni melihat wajah Alloh (telah makrifat kepadaNya) bahkan merasa telah menyatu dengan Nya. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya dengan penemuan barunya itu ? dia mungkin akan berkata : ” aku telah mencapai wujud tuhan bahkan aku telah menyatu dengannya. Inilah hakikat dan aku tidak terikat lagi dengan syari’at karena itu adalah kewajibannya orang-orang awwam. Dengan pencapaian ini maka gugurlah segala kewajiban syari’at bagiku dan tidak berlaku lagi hukum-hukum syari’at itu bagiku “. Jika ini perkataannya dan menjadi keyakinannya apa yang akan dia lakukan ?….semuanya akan ditinggalkanya, sholat, dll. Bagaimana status orang seperti ini ? tidak lain adalah kekafiran yang nyata. Inilah akhir dari pencarian orang-orang sufi itu dan ujung dari ilmu tasawuf. Na’dzubillah min dzaalik.

    • wah ..kayaknya anda pintar ya … tapi kayaknya gak juga dan merabah rabah ….apa bisah anda menujuki jalan kepada allh .kalou bisa saya mau jadi murid tuan

    • "JPE"pro79 on said:

      maaf ye.. Sedikit memberi gambaran dari sudut pandang orang awam..
      Syariat.. hakikat .. tarikat.. Makrifat.. adalah satu kesatuan yang utuh yang ga bisa dipisahkan.. sejatinya semua itu sdh ada sejak manusia dilahirkan.. please dech.. jangan lah saling dipertentangkan..
      Didalam perjalan INSAN.. Seumpama kita mengambil sekolah dasar dari kelas 1 ampe kelas 6 dan ampe kita lulus dan mendapatkan ijasah.. begitu juga dengan perjalan menuju ALLAH.. itu pasti ada tamatnya.. Kalo udah tamat kenapa kita mesti belajar dari kelas 1 lg cabe dech.. he..
      Maksudnya ialah bahwa ISLAM dan AGAMA lain yang ada didunia ini adalah “Jalan” menuju ALLAH atau apalah menurut agama laen dan ISLAM adalah Jalan yang “LURUS” dan jalan yg terbaik dari semua jalan.. dan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul adalah “Petunjuk JALAN tersebut” artinya adalah obor atau lentera atau lampu penerang biar kita kaga kesesat dijalan itu tadi.. Didalam ISLAM itu ada yang namanya Sholat.. Puasa.. Zakat.. HAJI.. nah itu semua adalah pelajaran saja.. dan termasuk didalam jalan itu td.. Jangan lah hanya bertahan dan sampe disitu saja.. itu semua adalah jalan yang ada didalam ISLAM tadi.. emang sampeyan semua mau cuman sampai dijalannya saja..?? he.. Kan jalan itu ada tujuannya.. ya mestinya harus sampai kepada ujung atau tujuannya jalan itu.. yaitu ALLAH.. kalo udah sampe ya noproblem.. sangat bagus.. sehingga segala amal ibadah kita yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW menjadi BENAR semua.. dan diterima ALLAH.. he.. LOVE&PEACE

  5. Mas Abu Kholid,
    Anda dapat mengambil kesimpulan seperti itu dari mana dan dari siapa ? Anda sadar bukan jika anda menulis…
    Apa yang akan dia lakukan selanjutnya dengan penemuan barunya itu ? dia mungkin akan berkata : ” aku telah mencapai wujud tuhan bahkan aku telah menyatu dengannya. Inilah hakikat dan aku tidak terikat lagi dengan syari’at karena itu adalah kewajibannya orang-orang awwam. Dengan pencapaian ini maka gugurlah segala kewajiban syari’at bagiku dan tidak berlaku lagi hukum-hukum syari’at itu bagiku “…
    Anda menulis “dia mungkin akan berkata”, kata kata “mungkin” itu nggak bisa dijadikan landasan. Apakah kata kata “mungkin” bisa dijadikan kesimpulan ?
    Apakah anda pernah menyelam di dalam lautan pacifik di kedalaman 1000 meter di bawah permukaan laut ? Jika anda tidak pernah menyelam kesana kemudian anda bilang ke orang orang “mungkin” disana ada ikan ini & itu, ada batu ini & itu kemudian anda mengambil kesimpulan tentang lautan pacifik ….
    Kira kira apa pendapat orang kepada anda terhadap kesimpalan anda padahal orang tahu kalo anda nggak pernah kesana ?
    Anda kenal dan tahu sufi dari mana ? Pernah menyelami Sufi ?
    Jikalau anda yakin bahwa sufi itu sesat dan ahli neraka, maka anda harus komitmen dan konsisten utk tidak lagi mengambil hujjah hujjah & pelajaran dari buku buku karangan Imam Al-Ghazali, karena beliau adalah tokoh Sufi papan atas.
    Bukankah Rasululloh pernah dawuh, tanyalah sesuatu itu pada ahlinya….
    Tanyakan cara buat makanan yg enak pada ahli masak, tanyakan cara buat baju yg bagus pada penjahit (designer baju), tanyakan cara buat gedung yg bagus dan kuat pada Engineer Teknik Sipil, tanyakan cara buat pesawat pada Engineer Pesawat…dst
    Demikian juga dalam hal agama…tanyakan masalah agama pada ahlinya..baik fiqih, azbabun nuzul, sejarah, peristiwa dan macam macanya..termasuk sufi atau tasawuf…
    Wassalam

  6. hudman.kincai on said:

    ASSALAMUALAIKUM WARAH MATULLA HI WABARAKAUH

    saya dari golongan awam, umur saya 27 th,

    jangan lah kita berburuk sangka,
    karena apa apa yg kita ketahui belum tentu orang lain mengetahuinya, dan apa apa yg orang lain ketahui belum tentu kita ketahui,

    ALLAH maha menentukan diantara kita,

    apa apa yg menurut kita benar belum tentu benar menurut orang lain, dan apa apa yg menurut kita salah belum tentu salah bagi orang lain.

    dan apa apa yg belum kita ketahui jangan lah kita cepat menyalah kannya, dan jangan pula kita cepat membenarkan

    dalam berbicara tentang ilmu Allah, hendaklah kita Arifbillah,

    kita hendak lah berpegan dengan apa yg di berikan ALLAH SWT kepada kita, dan apa apa yg tidak kita ketahui hendak lah kita bersabar mentalaah nya,

    melihat posted diatas saya merasa ingin mengutif sedikit pengetahuan saya.

  7. Buat Saudaraku Trio, maaf jika saya mau tanya kepada anda atas penolakan anda dengan peryataan saya diatas. Apa yang dilakukan oleh orang sufi yang sudah sampai tingkat hakikat bahkan ma’rifat , apakah syari’at itu masih berlaku lagi padanya ? ini saya tanyakan agar kata ” mungkin” dari saya menjadi kata ” pasti “.

    • wah hebat ada yang tau uda sampai apa belom hakikat makrifat saluuuuuuut

    • Syariat itu masih berlaku cuman namanya sedikit ditambah jadi syari’atullah.

    • "JPE"pro79 on said:

      mf ya.. saya sedikit mengomentari.. apabila INSAN sdh sampe kepada Tingkatan Makrifat.. otomatis yang dibawahnya kerangkum semua donk.. kaga ada yang tertinggal.. tetapi ibadahnya orang makrifat jelas berbeda dengan orang Syariat dari segi essensinya.. itupun kalo kita memandang semuanya secara terpisah.. seumpama buah.. orang Makrifat lebih mengutamakan ISInya dari pada KULITnya.. he… LOVE&PEACE…. “JPE”pro79

      • SantriGendeng on said:

        ”JPE”pro79, Yth.
        dan saudara semua yg saya hormati.
        bang Sufi , ma,af.

        baiknya kita gak usah meributkan Pakaian,
        karena Tuhan sendiri tidak melihat pakaian, akan tetapi amal perbuatan dan ketaqwa,an.

        mari kita berbuat baik utk sesama ,utk bangsa dan negara.
        kita luruskan Aqidah dan ketauhidan kita masing -masing ,lingkungan sekitar kita.

        Kata Sahabat saya ; Pustaka Hati. di blog ;Mas Sabdalangit.
        Meninju Yang Kosong tidak …… terasa sakit.

        mohon ma,af , mari kita Iling dan Waspada.
        salam Hormat.

        • "JPE"pro79 on said:

          Tiada apapun jua yang Dilihat ALLAH pada DIRI seorang INSAN selain apa yang tertanam didadanya.
          Apa yang tertanam didalam didada seorang Insan itu..???
          Tiada lain dan tiada bukan adalah Kalimah “SIRR” warisan Baginda Muhammad Rasullulah yang telah disampaikan kepada empat Sahabatnya.. dan kemudian diwariskan kepada Waliyullah dan guru-guru yang Mursyid.. untuk disampaikan kepada Insan yang berhaq mendapatkannya..
          Dengan mendapatkan Rahasia SIRR inilah maka Pengakuan Insan Bahwasanya ia telah mengenal akan DIRInya sudah mendapatkan pengesahan dari ALLAH itu sendiri..
          Seumpama kita telah kenal dengan presiden dan presiden pun telah kenal juga dengan kita.. he.. LOVE&PEACE…

    • Seorang sufi sampai derajat apapun yg diterimanya tetap menjalankan Syariat.
      “Syariat tapi tidak bertariqat akan menjadi fasik, demikian juga bila bertariqat tapi tidak bersyariat akan menjadi kafir jindik”

      supaya kita tetap tenang hatinya kita dengarkan yuk Nasehat seorang sufi dibawah ini :

      http://syaechudiniyah-bogor.com/video.html

      wassalam

      Jadikan perbedaan utuk meraih Rahmat Allah, bukan Murka Allah.

  8. rahman on said:

    jon kenapa belum ada balasan nya…..

  9. Wa’alaikum salam. Buat saudaraku hudman.kincai semoga Alloh memberi petunjuk kepada anda. Saya setuju dengan pernyataan anda agar kita jangan berburuk sangka kepada orang lain dan Allohlah Maha menentukan diantara kita. Anda pasti yakin sekali bahwa pegangan kita, umat islam adalah Al-Qur’an dan As-sunnah yang shohih. Oleh karena itu mari kita melaksanakan agama ini berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah tersebut agar tidak tersesat sebagaimana Sabda Nabi SAW :
    “Inni taroktu fiikum ma in tamasaktum biha lan tudhillu ba’di, kitabullah wa sunnatii ( sesungguhnya telah aku tinggalkan pada kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya maka tidak akan kalian tersesat sepeninggalku yaitu kitabullah dan sunnahku)” (HR. Malik dan Al-Hakim dari abu huroiroh ra). Saran saya agar anda belajar tentang agama ini dari orang yang benar-benar memahami kedua wahyu Alloh tersebut dan senantiasa menyandarkan perkataan dan amalnya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan kepada orang yang menyandarkan agama dan amalannya berdasarkan perasaan, terawangan, kisah-kisah khurofat yang tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mudah2an Alloh senantiasa membimbing anda, saya dan segenap kaum muslimin kepada jalan yang haq. amin

  10. rahman on said:

    ASSALAMUALAIKUM WARAH MATULLA HI WABARAKAUH

    buat saudara q human kincai boleh kah saya berkenalan sama anda…..????

  11. Mas Abu Kholid,
    Kalo ada orang sufi yg merasa sampe pada tataran hakikat & makrifat tapi ndak melakukan syariat itu bukan orang sufi.
    Sufi sejati adalah tetap menjalankan Syariat…..
    Sholat, puasa, zakat dan semua syariat itu tetap dijalankan….karena hukumnya wajib.

    Ke masalah “mungkin” anda itu adalah “pasti”….lho lho koq berani beraninya anda mengatakan pasti padahal anda ndak pernah mengalami apa yg sdh pernah dialami oleh orang sufi ?

    Bagaimana pendapat anda terhadap orang yg anda tawari minum kopi, tapi dia tidak pernah minum kopi, kemudian dia bilang kopi itu ngga enak…soalnya warnanya hitam.

    Kalo men”judge” sesuatu itu rasakan dulu, anda bisa bilang gula itu manis apakah karena katanya orang2 ? karena baca literatur ? atau karena rasakan sendiri gula itu manis ? garam, cuka, cabe, petis dan semuanya….apakah bisa kita katakan rasanya hanya dgn mengatakan katanya si anu & si una ?

    Sakit hati karena putus cinta ….. bisakah dirasakan oleh kita jika mengatakan menurut literatur karangan si anu & si una ?

    Tenteramnya hati saat kita ibadah mendekat kepada Alloh….bisakah dirasakan oleh kita jika mengatakan menurut kyai anu & una ?

    Semua itu bisa kita rasakan jika kita sudah menjalani dan merasakannya….

    Saya batasi di sini sebatas cara kita taqarrub kepada Alloh….jgn tanya gimana rasa bir, daging babi, zina, nyolong, nyopet, membunuh dan semacamnya….itu beda bahasan.

    Kembali ke masalah di atas, orang2 sufi menemukan caranya bagaimana mereka bisa merasa dekat kepada Alloh dan tentram hatinya berbeda2 tiap orang. Wali songo mempunyai latar belakang yg berbeda2…tapi bisa mendapatkan cara mendekatkan diri kepada Alloh dgn tentram dan nyaman..

    Saya mau tanya sama anda….setelah Kanjeng Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, apakah tugas malaikat Jibril memnyampaikan wahyu sdh selesai ?

    Salam

  12. BABILORENG on said:

    Ass. Wr. Wb.
    Buat mas Kholid dan lainnya boleh………………
    Percaya kepada Alqur’an hukumnya wajib bukan ?
    Kalau Tak Percaya hukumnya apa ?
    Silahkan fahami kisah ini !!!

    Setiap hari Malaikat Izrael dan Nabi Idris beribadah bersama. Suatu kali, sekali lagi Nabi Idris mengajukan permintaan. “Bisakah engkau membawa saya melihat surga dan neraka?”

    “Wahai Nabi Allah, lagi-lagi permintaanmu aneh,” kata Izrael.

    Setelah Malaikat Izrael memohon izin kepada Allah, dibawanya Nabi Idris ke tempat yang ingin dilihatnya.

    “Ya Nabi Allah, mengapa ingin melihat neraka? Bahkan para Malaikat pun takut melihatnya,” kata Izrael.

    “Terus terang, saya takut sekali kepada Azab Allah itu. Tapi mudah-mudahan, iman saya menjadi tebal setelah melihatnya,” Nabi Idris menjelaskan alasannya.

    Waktu mereka sampai ke dekat neraka, Nabi Idris langsung pingsan. Penjaga neraka adalah Malaikat yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah semasa hidupnya. Nabi Idris tidak sanggup menyaksikan berbagai siksaan yang mengerikan itu. Api neraka berkobar dahsyat, bunyinya bergemuruh menakutkan, tak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibanding tempat ini.

    Dengan tubuh lemas Nabi Idris meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Kemudian Izrael membawa Nabi Idris ke surga. “Assalamu’alaikum…” kata Izrael kepada Malaikat Ridwan, Malaikat penjaga pintu surga yang sangat tampan.

    Wajah Malaikat Ridwan selalu berseri-seri di hiasi senyum ramah. Siapapun akan senang memandangnya. Sikapnya amat sopan, dengan lemah lembut ia mempersilahkan para penghuni surga untuk memasuki tempat yang mulia itu.

    Waktu melihat isi surga, Nabi Idris kembali nyaris pingsan karena terpesona. Semua yang ada di dalamnya begitu indah dan menakjubkan. Nabi Idris terpukau tanpa bisa berkata-kata melihat pemandangan sangat indah di depannya. “Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah…” ucap Nabi Idris beulang-ulang.

    Nabi Idris melihat sungai-sungai yang airnya bening seperti kaca. Di pinggir sungai terdapat pohon-pohon yang batangnya terbuat dari emas dan perak. Ada juga istana-istana pualam bagi penghuni surga. Pohon buah-buahan ada disetiap penjuru. Buahnya segar, ranum dan harum.

    Waktu berkeliling di sana, Nabi Idris diiringi pelayan surga. Mereka adalah para bidadari yang cantik jelita dan anak-anak muda yang amat tampan wajahnya. Mereka bertingkah laku dan berbicara dengan sopan.

    Mendadak Nabi Idris ingin minum air sungai surga. “Bolehkah saya meminumnya? Airnya kelihatan sejuk dan segar sekali.”

    “Silahkan minum, inilah minuman untuk penghuni surga.” Jawab Izrael. Pelayan surga datang membawakan gelas minuman berupa piala yang terbuat dari emas dan perak. Nabi Idris pun minum air itu dengan nikmat. Dia amat bersyukur bisa menikmati air minum yang begitu segar dan luar biasa enak. Tak pernah terbayangkan olehnya ada minuman selezat itu. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah,” Nabi Idris mengucap syukur berulang-ulang.

    Setelah puas melihat surga, tibalah waktunya pergi bagi Nabi Idris untuk kembali ke bumi. Tapi ia tidak mau kembali ke bumi. Hatinya sudah terpikat keindahan dan kenikmatan surga Allah.

    “Saya tidak mau keluar dari surga ini, saya ingin beribadah kepada Allah sampai hari kiamat nanti,” kata Nabi Idris.

    “Tuan boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti, setelah semua amal ibadah di hisab oleh Allah, baru tuan bisa menghuni surga bersama para Nabi dan orang yang beriman lainnya,” kata Izrael.

    “Tapi Allah itu Maha Pengasih, terutama kepada Nabi-Nya. Akhirnya Allah mengkaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit, dan Nabi Idris menjadi satu-satunya Nabi yang menghuni surga tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Isris berusia 82 tahun.

    Firman Allah:

    “Dan ceritakanlah Idris di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi, dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Al-Anbiya:85-86).

    ***
    Pada saat Nabi Muhammad sedang melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj ke langit, beliau bertemu Nabi Idris. “Siapa orang ini? Tanya Nabi Muhammad kepada Jibril yang mendampinginya waktu itu.

    “Inilah Idris,” jawab Jibril. Nabi Muhammad mendapat penjelasan Allah tentang Idris dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 85 dan 86, serta Surat Maryam ayat 56 dan 57.

    Wassalam.

    • manusia bodoh on said:

      Asalamu’alaikum wr wb

      Alhamdulillah, Terimakasih Mas babiloreng atas kisah pencerahannya…
      semoga ini sangat bermanfaat bagi saya… dan bagi kita semua..

      Semoga cahaya Hidayah dan Ridho Alloh SWT selalu menyertai kita semua…amieen

      wasalamu’alaikum wr wb

  13. Buat saudara trio, setelah Nabi SAW wafat maka tidak ada lagi nabi setelahnya dan tentu saja wahyu telah selesai karena wahyu itu hanya diturunkan kepada para nabi dan rosul. Alloh berfirman :
    ” ma kaana muhammadun aaba ahadim mirrijalikum walakin rosulalloohi wakhotaman nabiy ”
    ( tidaklah muhammad itu bapak dari salah seorang laki-laki diantara kalian akan tetapi dia adalah rosululloh dan penutup para nabi) (S. Al-Ahzab : 40).
    Apakah anda punya keyakinan lain ? Kemudian jika anda katakan : ” Kalo ada orang sufi yg merasa sampe pada tataran hakikat & makrifat tapi ndak melakukan syariat itu bukan orang sufi. Sufi sejati adalah tetap menjalankan Syariat…..Sholat, puasa, zakat dan semua syariat itu tetap dijalankan….karena hukumnya wajib “.
    Mudah2an anda jujur mengatakan yang demikian. Saya juga mau tanya kepada anda dan orang-orang sufi, Dimana Alloh ?

    Buat Saudara babil oreng, Wa’alaikum salam. Percaya kepada al-Qur’an hukumnya wajib, berhukum kepadanya hukumnya wajib dan yang mengingkarinya adalah kekafiran. Setahu saya tidak ada nama izrael, yang ada adalah malaikat maut. Dari mana sumber kisah itu? sebutkan rujukannya. Jika anda berdua masih merujuk kepada Al-qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber hukum dalam aqidah, ibadah, mu’amalah, dll. Saya tidak akan mempermasalahkannya sebagaimana Sabda Nabi SAW :
    “Inni taroktu fiikum ma in tamasaktum biha lan tudhillu ba’di, kitabullah wa sunnatii ( sesungguhnya telah aku tinggalkan pada kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya maka tidak akan kalian tersesat sepeninggalku yaitu kitabullah dan sunnahku)” (HR. Malik dan Al-Hakim dari abu huroiroh ra). Yang saya permasalahkan adalah keyakinan sufi seperti wihdatul wujud. Terus terang saya menentangnya dengan keras.
    Untuk anda berdua, Saya khawatir anda terjerumus kepada paham tersebut karena jalan yang anda lalui ini mengarah kesana. Beberapa literatur sufi yang saya baca isinya mengarah kesana karena itu saya memperingatkan anda dan orang-orang seperti anda dari dari ajaran ini dalam rangka saling nasehat-menasehati kepada sesama kaum muslimin. Demikian

  14. Alhamdulillah…
    Mas Abu Kholid, kalau menurut anda wahyu sdh selesai berarti malaikat Jibril sekarang sdh pensiun dari pekerjaanya menyampaikan wahyu Alloh… lha terus ngapain aja beliau ? apakah berpangku tangan saja sampe kiamat ? padahal beliau adalah panglima / pemimpin para malaikat….

    Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi, seperti dalil yg anda tulis di atas. Saya sangat meyakini hal tsb, dan saya yakin juga bahwa anda meyakini hal tsb. Kalo anda yakin akan hal itu apakah anda masih yakin juga Nabi Isa as akan turun ke bumi di akhir jaman nanti ?

    Tentunya seperti bertolak belakang ya…kita yakin Kanjeng Nabi Muhammad adalah khataman Nabiyyin, khotamul anbiya….tapi kok masih ada Kanjeng Nabi Isa akan turun lagi….apakah belum sempurna tugas Kanjeng Nabi Muhammad sebagai Rahmatan lil’alamiin…sehingga Nabi Isa as mau balik lagi ke bumi…

    Anda tanya di mana Alloh ? Saya yakin anda tentu lebih tahu dari pada saya karena anda selalu mengatakan berpegang teguhlah kepada Quran dan hadits. Bukankah di Alquran disebutkan…Alloh dekat dgn kita..bahkan lebih dekat dari urat leher…
    Surat apa dan ayat berapa…saya gak hapal…

    Anda khan selalu berpegang pada Quran & Hadits dan tidak mau yang lain, apakah anda tidak percaya pada ijtihad para aulia atau wali Alloh ?

    Wihdatul wujud itu apa mas ? Apakah sama dengan manunggaling kawula gusti ?

    Orang Sufi itu insya Alloh hapal Surat Al Ikhlas ayat 4…dan kita haqqul yakin dgn itu.

    Kalo anda bilang khawatir saya dan mas babi loreng terjerumus ke dunia sufi…..saya malah khawatir anda gak ikutan kejerumus kayak kami ke dunia sufi….he…he…he…Alhamdulillah saya kejerumus ke dalam dunia sufi…kenapa ? ya itu tadi ndak bisa diungkapkan dgn kata2 …tapi dirasakan…he..he..he..

    Terimakasih mas Abu Kholid atas nasehat2nya…

    Salam

  15. BABILORENG on said:

    Ass.wr.wb.

    Golongan Jin Iri Hati Dengan Ratu Balqis

    Ratu Balqis adalah seorang wanita yang sangat cantik dan mempunyai akal yang cerdas, oleh sebab itulah golongan jin merasa iri hati dengannya. Mereka mengatakan bahawa Ratu Balqis itu mempunyai dua aib, pertama tubuhnya pendek dan kedua betisnya seperti betis unta.

    Maka Nabi Sulaiman memerintahkan supaya para Jin mengubah sedikit singgahsana Ratu Balqis, lalu beliau menyuruh pula membangun sebuah mahligai yang dibuat dari kaca. Bahagian bawah mahligai tersebut dan kelilingnya mengalir sungai-sungai dengan berisikan ikan-ikan, di atas air itu dibuat sebuah jambatan daripada kaca.

    Ketika Ratu Balqis dan rombongan tiba, Nabi Sulaiman bertanya kepadanya: “Apakah ini singgahsanamu? Ratu Balqis menjawab: Mungkin! Ia tidak mengatakan ya, kerana dilihatnya ada sedikit perubahan. Tetapi tidak mengatakan bukan, disebabkan ada sebahagian yang serupa dengan singgah-sananya. Dari jawapan Ratu Balqis itu, tahulah Nabi Sulaiman as bahawa ia adalah seorang wanita yang berakal sempurna serta bijaksana.

    Kemudian Nabi Sulaiman as menyuruh tamunya itu masuk ke dalam istana. Ketika Ratu Balqis melihat ke dalam istana, ia melihat seakan-akan ada aliran air, sehingga ia mengangkat kainnya, sehingga betisnya tersingkap. Nabi Sulaiman as melihat betisnya itu, maka tidak ada satu aibpun seperti yang disampaikan oleh golongan jin.

    Nabi Sulaiman berkata kepada Ratu Balqis: “Ini adalah sebuah mahligai yang licin, ia dibentuk daripada kaca.” ketika Ratu Balqis menyaksikan betapa hebatnya Nabi Sulaiman, ia berkata dalam hatinya: “Walaupun kerajaanku luas, singgahsanaku indah dan megah, bala tenteraku ramai, namun jika dibandingkan dengan semua yang aku saksikan ini, seakan-akan milikku tidak bererti.

    Kemudian ia berkata seperti yang diungkapkan di dalam Quran, firman Allah SWT surah An Naml ayat 44 bermaksud: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah Tuhan semesta alam.” Setelah itu Ratu Balqis pun berkahwin dengan Nabi Sulaiman as. Peristiwa pernikahan Nabi Sulaiman dengan Ratu Balqis ini terjadi pada hari Jumaat.

    Begitu besarnya kerajaan Nabi Sulaiman as. yang mana angin sebagai kenderaannya, manusia dan jin sebagai tenteranya, burung sebagai pembantu dan teman-teman bercakapnya, binatang-binatang buas sebagai buruhnya dan para malaikat sebagai utusannya.

    Nabi Sulaiman as mempunyai satu padang, sebahagian tanahnya terbuat daripada emas dan sebahagian lagi daripada perak. Jika tenteranya berbaris di padang itu, maka panjang barisan itu tidak kurang dari seratus parsakh. Sedangkan luas tempat tinggalnya adalah sebulan perjalanan.

    Kemudian golongan jin membuat untuknya sebuah permaidani daripada emas dan perak. Pada permaidani tersebut terdapat dua belas ribu mihrab, pada setiap mihrab terdapat kursi daripada emas dan perak, kemudian duduk di atas tiap-tiap kursi tersebut seorang yang alim dari ulamak Bani Israil.

    Pada setiap hari dimasak kira-kira seribu unta, empat ribu lembu dan empat puluh ribu kambing. Nabi Sulaiman juga mempunyai piring-piring yang besar bagaikan kolam dan periuk yang tetap berada di atas tungku.

    Firman Allah SWT:
    “Para jin membuat untuk Nabi Sulaiman apa yang dikehendaknya dari bangunan yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk yang tetap berada di atas tungku.” (Saba’: 13) Begitu besarnya nikmat dan kelebihan Nabi Sulaiman as. Namun begitu kelebihan dan kenikmatan umat Nabi Muhammad SAW yang beriman, di dalam Syurga nanti disediakan tempat-tempat tinggal dan darjat, kebun-kebun, sungai-sungai dan buah-buahan. Di dalamnya diperolehi segala sesuatu yang menyenangkan jiwa dan mata. Di dalamnya juga terdapat sesuatu yang tidak pernah terlintas oleh fikiran manusia.

    Dikisahkan bahawa serendah-rendah darjat tempat umat Nabi Muhammad SAW di dalam Syurga itu ialah seratus kali luas kerajaan Sulaiman as. Malah lebih baik, kerana Syurga adalah tempat yang abadi. Di dalamnya tidak ada matahari, kesejukan, kesakitan, kesusahan serta lain-lain penderitaan. Di Syurga adalah tempat yang abadi, kesenangan tanpa batas, pemberian tanpa dihitung, penerimaan tanpa ditolak.

    Ada Syurga yang dinamakan dengan Darussalam, di dalamnya mempunyai keselamatan tanpa adanya kebinasaan, kenikmatan tanpa malapetaka, kecintaan tanpa permusuhan, kemuliaan tanpa kehinaan serta bermacam-macam lagi kenikmatan yang sukar untuk diungkapkan.

    Kemudian Syurga Jannatunna’im. Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa disediakan di sisi Tuhan mereka Syurga kenikmatan. Di dalamnya para hamba-hamba-Nya bertempat tinggal, para nabi menjadi sahabatnya, tinggal kekal dalamnya dengan kurnia yang berlimpah ruah. Tidak ada kesusahan di dalamnya, terdapat bidadari cantik dan jelita, mahligainya tinggi dan tempat yang luas.

    Syurga Firdaus, disediakan bagi orang-orang yang tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu, menjauhkan diri daripada perbuatan maksiat, tidak membuat kemungkaran serta menjalankan segala yang diperintahkan Allah SWT. Allah SWT menjadikan penghuni Syurga ini sebagai kekasihNya.

    Di dalam Syurga Firdaus terdapat empat sungai, iaitu sungai dari air tawar, sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai dari air arak yang lazat rasanya dan sungai air madu. Di dalamnya juga diperolehi berbagai macam buah-buahan. Ada lagi empat mata air iaitu: Salsabil, Zanjabil, Rohiiq dan Tasniim. Ada lagi dua mata air yang mengalir dan dua mata air yang memancar, iaitu Al-kaafuur dan Al-kautsar. Di dalamnya juga diperolehi segala sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati.

    Firman Allah SWT:

    “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.”
    (Al-Qamar: 54-55)

    Wasalam BABILORENG

  16. SantriGendeng on said:

    benar sekali bang Sufi Muda yg saya hormati,

    dan dlm ta,limul muta,alim. jg di kisahkan , bahwa ,jika pingin memperoleh ilmu yg bermanfa,at [ futuh ilmu]
    di antaranya adalh ta,dzim sama guru.
    mudah -mudahan kita semua ada di dlm nya,

  17. Belum sempat menulis lagi yah ….

    • ya nulis aja..biarlah mengalir….tulislah apa yg memang harus tertulis…mohon pada Sang Maha Berkehendak….supaya and dikehendaki olehNya utk bisa menulis…

      kalo nurutin gak sempat ya…gitu itu,,,gak sempat terus …

      Salam

  18. mamo cemani gombong on said:

    RINDUUUUUU……………..kamu kaya ratu bilqis gak ya ?????

  19. mamo cemani gombong on said:

    assalamuallaykum…..mas Abu Kholid aku yakin anda orang pintar . tolong betul2 CARILAH KEBENARAN yang iklas . tataran anda mungkin di atas ustad atau kiai maka berdiskusilah dgn guru mursyid . setelah itu baru menyimpulkan . maaf turut nimbrung . ilmu ALLOH tidak ada batasan semoga anda menemukan kebenaran sejati . artikel sufi muda dibaca jangan sepotong2 mas jadi dijamin nggak merinding . di situ banyak sejarah, kisah , dan ajaran agama yang bisa diambil hikmahnya . se kali lagi maaf . wassalamuallaykum.

  20. untung on said:

    mau tanya dong abang2 sekalian…
    kalo Syaikh Siti Jenar itu sesat ga ya?? soalnya dari dulu bikin orang penasaran terus…
    tks atas jawabanya…ditunggu…

  21. kacamata kuda on said:

    Lakasana orang buta yg bertanya apa bedanya warna hijau dan kuning…

  22. cangak on said:

    hidup adalah perjuangan,manusia di lahirkan ke dunia untuk menyelesaikan masalah.
    masalah morang hidup berakhir ketika manusia masuk pada liang lahat.

  23. FAQIR PENGEMBARA KSA on said:

    S@lam rindu..utk…Bang sufimuda…….Selama ini guru menguji muridnya…..kini sang murid menguji gurunya……Selama ini Allah menguji kita dan kini kita menguji Allah dgn Sifat2nya….kita hidup utk makan atau makan utk hidup….semua bilangan ganjil atau genap akan selalu genap bila disamping kanan ada nol ( 0 )…10….20….30…..dst. jadilah ilmuwan didlm laboratorium anda sendiri……mengamati dan bereksperimen utk diri sendiri….jika kita suka berkebun akan menikmati bunga2 yang indah menawan….Berfikir dan Sabar itu lebih baik.,,,,stop berdebatan……..salam rindu damai utk Bang SufiMuda From “Fakir Pengembara KSA”

  24. Bocah Dongo on said:

    …ckckckckckck weleh2x aku heran!!
    Kadang2 orang sar’i dan haqiqi sperti air dan minyak… pd hal klo ingin hidup sempurna, raga (syariat) dan nyawa (hakekat) harus bersatu, apalah artinya klo hanya sepihak saja…raga tanpa nyawa apa itu namanya…atau nyawa tanpa raga…iiih serreeem. dan yg pling sempurna keduanya tidak lain adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. slam knal bt smua…

  25. senasinaraya on said:

    Asalamu’alaikum wr wb

    Alhamdulillah, Terimakasih bang Sufi Muda atas kisah pencerahannya…
    semoga ini bermanfaat bagi saya… dan bagi kita semua..

    Semoga cahaya Hidayah dan Ridho Alloh SWT selalu menyertai kita semua…amieen

    wasalamu’alaikum wr wb

  26. bedhor on said:

    mari kita urusi diri kita sendiri……jangan2 apa yg kita ucapkan malah salah semua….!!!!diam lebih baik daripada berucap menjadikan perselisaihan sesama muslim….

  27. FAQIR PENGEMBARA KSA on said:

    Salam mas….dan……mbak…..Panjul……anda benar…….ma’afin aku yaaaaaa……….! Kadang aku tak bisa membedakan …..”merasa benar dijalan yang sesat & merasa tersesat dijalan yang benar”……..negatif…..positif……positif……negatif…….dan kita akan mencari selamanya……tidak ada yang mempersalahkan dan dipersalahkan….tidak ada kesedihan maupun kegembiraan…..Dunia ini panggung sandiwara ………ceritanya mudah berubah…..Keputusan ada di Sutradara Agung……Salam rindu buatmu From “Fakir Pengembara KSA “

    • wahai saudaraku tidak ada yang salah dan dipersalahkan jadi tidak pantas engkau meminta Maaf semuanya benar,karena kita hanyalah Sifatnya yg tiada daya dan upaya karena semuanya laku adalah lakuAKU.Mengenal Aku sangatlah mudah tapi Riyadah dalam kehidupan sehari2 sangatlah susah.
      Nasehat buat saudaraku… Orang yang Ma’rifat tapi masih berma’rifat sama halnya belum berma’fifat. Cobalah mulai sekarang berhenti membaca kitab2, semakin baanyak yang saudara baca semakain bingung kita meriyadahnya dalam kesehariannya, sehingga kita selalu sibuk dengan teori2 dan dalail2 sehingga lupa kita akan prakteknya.. Mulai sekarang coba baca dan fahami kenyataan yang ada KITABUL WUJUD. mudah2an saudaraku dapat petunjuk dan rahmad.
      Salam persaudaraan dan kenikmatan from PANJUL

  28. wujud khayal on said:

    Assalamu’alaikum wr wb, saudara2ku di SM

    saya masih kurang paham dengan cerita diatas, asumsi saya malah ke ajaran martabat tujuh,

    Barangkali ada saudara2ku disini yang mau menjadikan nya sebuah artikel agar kita dapat membahas dan men diskusikannya bersama.

    Untuk mas Untung, menurut pendapat saya, Syaikh Siti Jenar itu ga sesat, cuma pemahaman tentang wahdatul wujud itu sangat sensitif, Wallahu a’lam

  29. BABILORENG on said:

    Ass. Wr. Wb.

    Mas Abu Kholid atas nasehat dan saranya saya ucapkan terima kasih.
    sekilas kesimpulan setelah sampean mengomentari di blok ini saya mengharap kepada aanda !!! belajarlah lebih luas dan dalam jangan hanya begitu saja !!! kalau ilmu yang kau miliki kau sudah merasa puas kau tak akan masuk surga!!!
    Surga itu harganya mahal ibadah seumurmu sampai kau tutup mata kau tak akan masuk surga. dan perlu kami tegaskan lagi belajarlah ilmu Ketuhanan jangan ilmu kamanusiaan. yang sampean pelajari itu hanya ilmu manusia. Al-Quran dan hadis sudah menjadi Tuntunan siapa saja termasuk penganut apa saja. Cuman Bedanya kalangan Sufi tidak pernah mengatakan dan menonjolkan kalau ilmu yang dimiliki dasarnya Al-Quran dan Hadist.
    Kalangan sufi juga tidak merasa dengan ilmunya lantas meninggalkan syariat. bahkan rata-rata kalangan sufi merasa tidak lengkap sariatnya sehingga enggan untuk mengatkan bahwa dia termasuk pengamal syariat yang kuat.
    Sampean sering mengatakan Al-quran dan Hadist kau tak tahu bahkan ada yang tanya litelaturnya. Gimana kujawab kaupun tak mengerti.
    Untuk itulah Nabi Musa yanga merasa dirinya Nabi bisa ditinggalkan begitu saja Oleh Khidir. yang bukan seorang Rasul.
    Jadi yang namanya Ilmu yang datang Nya dari Allah tidak bisa diukur oleh apa saja termasuk Al-Quran itu sendiri.
    Nanti kau (Abu Kholid) tanya lagi yang mana????
    Saya contohkan sedikit saja Ayat yang mengatakan “Yassin” Siapa yang tahu apa kau tahu ???! Al-Quran Sendiri juga ndak tahu.
    Semua manusia termasuk Guru sampean tak akan tahu maknanya.
    Jangankan kita manusia biasa yang sok tahu ini …
    selagi Nabi Musa saja yang diberi mukjizat lebih saja tak boleh sombong. Tersesatlah orang orang yang menyombongkan dirinya.

    Maaf semoga bermanfaat.
    Wassalam.

  30. Hmm menarik sekali komen2nya terutama buat ust abdul kholid. Justru teman2 orang seperti ini mari kita sama 2 do’akan biar mendapat hidayah Allah untuk bisa mengikuti/masuk sufi/thariqat. Jika sudah mengenal sufi orang ini bakal paling jago menambahkan dalil2 dari Alquran & Hadist dengan sangat gamblangnya yg mana kalo kita mau jujur kita2 masih kurang pemahamannya ttg dalil Alquran& Hadist tersebut. PEACE

  31. SantriGendeng on said:

    Yth.KangMas Sufi Muda.
    Yth.Kang Mas Sabda .
    Yth.saudara Pustaka hati.
    serta saudara saudara yg budiman yg hamba hormati.

    dgn segala kerendahan diri.
    Mohon Ma,af yang sebesar -besarnya. lahir dan batin.
    atas penyakit hati ini.[kekotoran hati hamba]
    sekali lagi mohon ma,af yg sebesar-besarnya.
    salam hormat.

  32. Ass,Wr,Wb,,,
    Sebelumnya maaf kalau saya salah masuk komentar,,,hanya terdorong keadaan dan situasi yang saya sendiri tidak mengerti,,,,mudah-mudahan para sufi muda bisa memberikan sedikit pencerahan,,,,dan petunjuk atas kebingungan ini,,,,,
    Saya sedang kebingungan suatu hal mengenai ilmu hikmah antara yang hak dan bathil,hubungan antara dunia nyata dengan ghoib,kebingungan membedakan perbedaan ruuhi waliAllah dengan para Jin,,ataupun khodam,,,dan kebingungan mencari dan menanyakan keterangan-keterangan mengenai ini semua,,,,,barangkali teman-teman semuanya bisa memberi petunjuk harus kemana saya pergi dan bertanya…tolong apabila yang tahu konfirmasi ke hp saya di 085210555505,
    Terima kasih sebelumnya atas perhatiannya,,
    Wass…

  33. adaSufiMuda…adaSufiTua….

  34. Kasihan si anak itu, hanya diberi putri raja, andai saja ia terus belajar… pasti Allah akan memberikan diri-Nya.

    Ketika seorang murid sedikit menoleh ke duniawi, maka saat itulah talak satu dari Allah.
    Ketika seorang murid mengambil duniawi, maka saat itulah talak dua dari Allah.
    Ketika seorang murid mengejar duniawi, maka saat itulah talak tiga dari Allah, dan Allah telah mencampakkan murid itu.

    (kembali ke cerita).

  35. Sufi???…menurut sepengetahuan saya…

    Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

    Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.

    Dan segalanya datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

    Dan Ingatlah dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi Tenang.

  36. soffwan aji on said:

    Assalaamualaikum , saya ingin ikut memberikan pendapat mengenai sufi, sufi atau tidak sufi yang berhak menilai hanyalah Allah Swt, yang terpenting adalah mencintai Allah Swt, dengan cara mencontoh Rosulullah Saw. itu pendapat saya mohon tanggapannya, terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: