Tasauf

Syarat dan Kriteria Mursyid Menurut Prof. Dr. S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc

Seorang ahli fiqih yang sudah boleh disebut ulama disamping ilmu dan pengalaman dalam hukum hukum Islam juga memimpin sebuah lembaga keagamaan mendatangi saya ingin mempelajari tasawuf dan menekuni tarekat. Terjadi diskusi yang sangat menarik dan dari diskusi tersebut, ternyata beliau sudah banyak membaca tentang tasawuf/tarekat dari berbagai macam buku termasuk karya-karya klasik. Kebetulan beliau juga penggemar kitab kuning (kitab klasik) karangan ulama-ulama dulu. Ada sebuah pertanyaan yang menarik bagi saya dan bagi kalangan pengamal tarekat pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan dan dianggap tabu. Beliau bertanya, “Kalau saya mengamalkan zikir tarekat, berapa lama saya bisa jadi Mursyid?

Bagi kita yang telah menekuni tarekat tentu saja pertanyaan seperti itu ganjil karena kita semua tahu bahwa tidak ada seorang murid yang bercita-cita jadi Mursyid. Seorang Mursyid bukanlah hasil dari beramal, bukan pula karena pengetahuannya tentang tarekat, bukan lamanya menekuni tarekat akan tetapi seseorang diangkat jadi Mursyid semata-mata karena Allah SWT. Saya yakin pertanyaan diatas ditanyakan juga oleh sebagian pembaca sufi muda.

Dalam beberapa Tarekat termasuk Naqsyabandi memang masih ada pengangkatan  banyak Mursyid seperti Tarekat Naqsyabandi Al Khalidi yang ada di Aceh dibawah pimpinan Syekh Muhibuddin Wali bin Syekh Muhammad Wali Al Khalidy. Seorang yang telah di izinkan untuk memimpin suluk diberi gelar mursyid sedangkan dibawahnya disebut wakil mursyid dan dibawahnya di sebut khalifah sedangkan pimpinan secara keseluruhan dan menjadi Mursyid dari seluruh jamaah disebut Saidul Mursyid. Biasanya pengangkatan Mursyid dilakukan setelah selesai suluk. Oleh Saidul Mursyid mengijazahkan Mursyid, wakil mursyid dan khalifah kepada orang-orang yang dianggap layak menerimanya. Setiap suluk terkadang diangkat 2 orang Mursyid, 3 orang wakil mursyid dan sejumlah khalifah sesuai dengan kebutuhan daerah.

Oleh karena tradisi adanya pengangkatan lebih dari seorang Mursyid seperti yang saya ungkapkan di atas maka wajar kalau orang bertanya kapan dirinya bisa menjadi mursyid dengan tujuan ingin membimbing manusia ke jalan Tuhan.

Di dalam Tarekat Naqsyabandi pimpinan Prof. Dr. H. S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc tidak ada pengangkatan Syekh atau Mursyid karena cuma ada satu Mursyid yaitu Beliau sendiri. Gelar khalifah pun tidak lagi dipopulerkan karena Baliau kawatir gelar itu akan membuat muridnya menjadi sombong dan jauh dari sifat-sifat ubudiyah. Beliau dengan rasa kerendahan hati merasa tidak berhak mengangkat khalifah. Beliau pernah mengatakan, “Biarlah gelar khalifah itu Allah sendiri yang memberikannya”.

Tentang kriteria dan syarat-syarat untuk menjadi seorang Mursyid, Prof. Dr. H.S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc dalam bukunya, Ibarat Sekuntum Bunga Dari Taman Firdaus berkata:

“Syarat-syarat bagi seorang mursyid amatlah berat, dan kalau saya ditanya, apakah saya telah memenuhi syarat untuk mursyid? Maka jawabnya amat berat untuk mengatakan “ya”, atau kalau ingin jawaban yang mudah saja, “tidak tahu” Karena sebenarnya bukan saya sendiri  yang harus menilai kualitas saya (begitulah beratnya kriteria seorang mursyid) namun saya melaksanakan tugas dengan sepenuh tenaga, sepenuh jiwa dengan hati yang sebulat-bulatnya. Siap melaksanakan suruh dari pada guru saya yang juga merupakan suruh dari Allah dan Rasul, yaitu menegakkan Dzikrullah dalam diri pribadi saya dan dalam pribadi umat. Jadi beliau-beliau yang diataslah yang menilai akan kualitas diri saya”.

Selanjutnya menurut Beliau, kriteria guru mursyid dapat dilukiskan atau digambarkan secara riil ke dalam tujuh butir antara lain sebagai berikut :

  1. Pilih guru kamu yang mursyid, (dicerdikkan oleh Allah), bukan oleh yang lain-lain dengan mendapat izin Allah dan ridha-Nya.
  2. Ia adalah kamil lagi mukamil (sempurna lagi menyempurnakan) karena karunia Allah.
  3. Yang memberi bekas pengajarannya, (kalau ia mengajar atau berdo’a, maka berbekas pada murid, si murid berubah ke arah kebaikan).
  4. Masyhur ke sana ke mari. Kawan dan lawan mengatakan “Ia seorang Guru besar”.
  5. Tidak dapat dicela oleh orang yang berakal akan pengajarannya, yakni tidak dicela oleh al Qur’an dan al Hadist serta ilmu pengetahuan.
  6. Yang tidak kuat mengerjakan yang harus, umpamanya membuat hal-hal yang tidak murni halalnya.
  7. Tidak setengah kasih akan dunia, karena bulat hatinya. Ia kasih akan Allah, ia bergelora dalam dunia, bekerja keras untuk mengabdi kepada Allah SWT bukan untuk mencintai dunia.

Seorang mursyid merupakan orang yang wara’ dan sangat hati-hati dalam hal-hal yang belum jelas kedudukan hukumnya. Hatinya tidak condong kepada dunia dan selalu berkekalan dalam zikirullah. Apapun gerak dan tindakannya selalu memohon izin dan petunjuk dari Allah SWT.

Beliau juga pernah menggambarkan kedudukan seorang mursyid ibarat seorang yang mengendari kuda dengan kecematan tinggi dengan memegang gelas yang airnya penuh. Kuda harus dipacu dengan kencang sedangkan air tidak boleh tumpah setetespun.

Demikian kriteria mursyid menurut Prof. Dr. H.S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc, mudah-mudahan akan bisa memberikan gambaran kepada kita semua tentang mursyid dan menurut saya apa yang Beliau kemukakan sudah mewakili dari sekian banyak kriteria mursyid yang pernah dikemukakan oleh para syekh tarekat dari dulu sampai sekarang. Akan tetapi dikesempatan lain akan saya tulis juga kriteria dan syarat mursyid menurut syekh lain termasuk Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Muhammad Amin al Kurdi dan Syekh Ibnu Athailah as Sakandari sebagai bahan perbandingan untuk kita semua.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat untuk kita semua, amien ya Rabbal ‘Alamin.

253 Comments

  • Wedok

    ilmu allah itu kalo di ibaratkan samaudra yang tak BERTEPI
    walaupun air yang ngalir dari sungai itu beda warna,air comberan,air kencing dll(karena masih air) kalo berkumpul di samaudra ya lebur jadi SATU
    Kalo yang nyisip itu minyak, kapanpun gak bisa nyatu
    gih to kang

  • lanang

    @ wedok
    sesama penerima takdir dilarang mendahului pemilik takdir
    jangan hilangkan sifat rahman dan rahim Allah, dia itu ada tidak ngantuk, tidak tidur & tidak lupa seperti kita.
    air dan minyak itu, tidak ada apa2nya di depan Allah yang kuasa.

  • 10

    BISMILLAHIRROCHMANNIRROCHIM
    @kang lanang

    udah tau bedanya air dan minyak kang? harusnya bisa nyatu gak ya?
    apa ya harus jalan sendiri sendiri

  • sultan

    mengenal blog ini sungguh adalah sesuatu yang patut disyukuri ..dan hanya atas rahman rahim para guru saja kita dapat bertemu. dari pembahasan mursyid oleh walimuda yang saya baca menurut saya dah top abis….semoga blog ini bisa lebih ditingkatkan lagi (misalnya ada fasilitas chating) ….guna lebih mempererat ukhuwah islamiyah kita semua……

  • lanang

    @teen
    kalau bu teen mau berhenti di hukum alam, saya persilahkan bu…
    jangan lihat alamnya bu.. lihatlah si pembuat alam itu
    jangan terpesona pada diri bu.. terpesonalah pada pembuat diri
    bacalah dirimu, ada yang menciptakanmu

  • lanang

    mas wedok ini ada2 saja guyonnya, mau tanya kok sama orang awam kaya saya??? salah alamat mas.. kalau mau tahu, tanya saja sama yang sudah pasti tahu prihal ruh.
    saya itu tidak pernah mengurus ruh, karena ruh bukan urusan saya, kalau mas wedok mau mengurusnya, ya.. silahkan saja..

    ngomong2 soal ruh, tandanya ruh itu apa ya?
    adanya diluar apa didalam tubuh atau ada dikedua2nya?
    memangnya mas wedok sudah ketemu?
    lelaki apa perempuan? cantik apa ganteng ya rupanya?
    kenapa kok dikasih makan ya? emangnya ruhnya masih bayi atau pengangguran atau sudah sepuh, jadi tidak bisa cari nafkah sendiri?
    fitrahnya ruh itu bagaimana mas? & hakikatnya ruh itu bakal kemana ya?

    semoga pertanyaan2 diatas, untuk sekalas mas wedok sudah mampu menangkapnya
    wassalam

  • lanang

    @mas wedok atau mas sufi muda dst,
    sebenarnya masih ada pertanyaan2 pamungkas yang akan saya sampaikan namun karena waktu dan lain hal maka urungkan. trimakasih sudah mau ngobrol bareng & mohon maaf lahir bathin. untuk yang masih sakit hatinya berarti memang hatinya anda lagi sakit, maka bersegeralah berobat biar lekas sembuh, sekiranya pertanyaan2 diatas tidak diperkanan saya persilahkan untuk dihapus saja. wassalam.

  • Robot's36

    Salam,
    Baca komentar 2 diatas, ana jadi kangen sama Liga Inggris. Formasi komentar 3-5-2. All out attack. Direct pass.
    Formasi lawan 6-3-1 counter attack. Long pass.
    Kick and run, kick and run, kick and run,,,,,
    :o))

    Ada yang bertanya – dijawab – thanks
    Ada yang bertanya – dijawab – nanya detail – dijawab – thanks
    Ada yang bertanya – dijawab – nanya lainnya – dijawab – thanks
    Ada yang bertanya – dijawab – gak terima – ya sudah
    Ada yang bertanya – dijawab – gak terima – jawab detail – nanya lainnya – dijawab- ?
    Ada yang bertanya – dijawab – gak terima – debat – debat – debat – debat – debat – debat – ~~~~~

    Gimana kalo:
    Bertanya – dijawab – gak terima – ya silahkan buat blog sendiri.
    hehehheehe,,,
    Kidding guys.

    Merasa hina itu mulia, merasa miskin itu kaya, merasa bodoh adalah bijaksana, merasa baru belajar adalah dewasa, And vice versa

    Mudah-mudahan ada manfaat yang diambil buat kita semua. Mudah-mudahan tidak ada yang merasa pinter dan pura-pura minta nasehat cuma supaya bisa menasehati. Mudah-mudahan tidak ada yang menutup hidung disaat dirinya sendiri kentut. Mudah-mudahan diselamatkanlah seluruh ummat Muhammad SAW di muka bumi..

    Amiiin

  • ken

    asslamualaikum

    terus mengembara mas lanang temukan dasar samudra dan ujungnya langit

    salute, tp ingat bawa bekal ya biar gak kelaparan and kehausan di jalan

  • Adam

    Sesungguhnya menyembah Allah itu tidak seperti menyembah berhala, dan sesungguhnya memuji Allah tidak seperti memuji berhala. Menyembah Allah hanya bisa dengan jalan taat pada-Nya (Taqwa), dan memuji Allah hanya bisa dengan menjadi orang yang terpuji. Tidak pernah ada surga di akhirat nanti bagi orang-orang yang tidak ikhlas dan berserah diri pada-Nya, tidak juga bagi yang buta pada-Nya. Semoga Allah memberikan cahaya terang di hati-hati kita semua kepada jalan-Nya yang lurus…

  • ajak-ajak

    @Adam
    benar sekali. Salah satu kenapa Nabi terakhir diturunkan di Arab karena ramainya penyembah berhala disana waktu itu (dan mungkin sekarang juga).
    Kalau menyembah Allah sambil membayangkan makhluk, atau mengangan2kan ‘Allah bagaikan ini, itu dsb’ adalah sama seperti menyembah berhala. Ya kan?
    Itulah perlunya kita mengenal dan tahu pasti wajah ALLAH di dunia ini dan memandangNYA disaat kita menyembah dan memujiNYA.
    Baru namanya kita tidak buta padaNYA.

  • hyperdrive

    ^ ^ ^ ^
    ^ ^ ^ ^
    ^ ^ ^ ^
    ^ ^ ^ ^
    ^ ^ ^ ^

    Hasad dengki telah merusak blog ini.

    ingatlah bahwa hasad dengki memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar. (buat saya nih…)

    Ck… ck…

    Bener tuh kata adefadlee….
    nyamuk makin banyak disini. suka menggigit dan menghisap darah…. namun bukan menyalahkan nyamuk… memang kita disini belum mampu mengusir nyamuk….

    (ayo, nyanyi)
    Banyak nyamuk dirumahku
    gara-gara aku
    ga pake obat nyamuk…

    wakakakakak

  • cari

    mas sufi muda kemana ya?
    lagi suluk kali ya….?

    mass……..
    banyak nyamuk di blogmu…….

    (ayo, nyanyi)
    Banyak nyamuk dirumahku
    ……………….

  • ajak-ajak

    iya,, sufimuda lagi itikaf sepertinya.
    YM nya juga ga pernah aktif tuh.
    Kalo itikaf brarti sekitar awal maret baru lahir lagi tulisan2 barunya. Meanwhile, baca2 artikel lainnya yg edisi lama di blog ini ternyata asik juga loh. See DAFTAR ISI.

  • Zahara

    Halllllooooooooo….

    SufiMudaaaa…Yuhuuuuuu

    SufiGilaaaa…where are u brothers????

    Waduuuhhh…”Da party getting started ” neh…

    Dijawab atuh kang pertanyaan-pertanyaan abang-abang yang ada di atas sono , pada kmana??

    Guys…. Mungkin gak seh pertanyaan-pertanyaan smart itu cuma buat ngetes kita smua? Buat ngetes sbanyak apa Jabarut. Malakut sma Rabbani “menguasai”?

    Hayooo dicek hyuuk..

    Kalo masih ngamuk-ngamuk it’s means…….???

    \\(^o^)//

  • Zahara For teruterubozu-298.blog.friendster.com

    Halllllooooooooo….

    SufiMudaaaa…Yuhuuuuuu

    SufiGilaaaa…where are u brothers????

    Waduuuhhh…”The party getting started ” neh…

    Dijawab atuh kang pertanyaan-pertanyaan abang-abang yang ada di atas sono , pada kmana??

    Guys…. Mungkin gak seh pertanyaan-pertanyaan smart itu cuma buat ngetes kita smua? Buat ngetes sbanyak apa Jabarut. Malakut sma Rabbani “menguasai”?

    Hayooo dicek hyuuk..

    Kalo masih ngamuk-ngamuk it’s means…….???

    \\(^o^)//

  • Didiet513

    Ass wr wb
    @aa
    Maksudnya muktabar apanya??
    Jangan takut2 bertanya……… insya Allah disini akan banyak yang menanggapi mulai dari yang biasa, ga tau apa-apa, yang kasar, halus atau malah karena terlalu “tinggi” malah bikin kita makin ga ngerti.
    Wass wr wb

  • sufi baru

    ass..salam kenal buat teman2 semuanya..kayaknya udah banyk teman baru nih di blog ini..memang kita baru saja melakukan perjalanan rohani (suluk) di bimbing oleh guru mursyid di kota batam….alhamdulilah ….

    dari tadi saya baca banyak sekali komentar2 dari teman2
    alhamdulilah itu pertanda dengan adanya perbedaan2 itu akan membuat hidup lebih indah dan bermakna ..

    ilmu tasauf adalah ilmu yang sangat halus dan dalam penjabarannya dan itu tidak bisa selesai hanya dengan saling komentar dan saling emosi di blog ini..

    kepada teman2 yang betul2 ingin mempelajarinya hendknya bertanya dengan sopan kepada orang yang sudah menjalaninya dan sudah berjumpa dengan guru mursyid yang kamil mukamil khalis muchlisin dan berpangkat wali kutub di muka bumi ini seperti abang SUFI MUDA misalnya.

    hendaklah kita berpikiran luas bahwa ilmu allah itu sangatlah luas sekali..bukan hanya ilmu tauhid ,fiqih, muamalah,tapi ada juga tasauf dll. jadi tidak ada hak kita untuk menjelek2 kan dan merasa benar dengan apa yang kita punyai..karena hanya ridho allah lah yang kita tuju.

    silakan di pelajari dengan benar dan carilah orang yang tepat dan kompeten untuk itu…

    ilahi anta maksudi waridhoka mathlubi
    wassalam..

  • Shairul

    Salam buat Abg yang menulis,

    saya bersetuju dengan penulisan di atas kerana sebetulnya mursyid itu bukan di pinta atau meminta.
    Ianya lahir dari kehendak ALLAH yang Maha ESA dan PERKASA.

    Fizikal dan Attitude Mursyid adalah kerana ALLAH S.W.T dan apa yang dilakukan oleh Mursyid ialah apa yang dilakukan di dalam wassilah yang mana atas sekali hierarchy tersebut terus menuju kepada apa yang dikehendaki oleh ALLAH.

    semoga ketemu di dalam artikel yang lain,

  • aaboed

    Ass. wr.wb; mhn maaf sebelumnya atas segala kesalahan.

    dalam hemat saya pribadi – Mursyid tidaklah “mengangkat diri sendiri” melainkan “diangkat” – pada hakikatnya pastinya oleh Alloh Ta’ala melalui Baginda Rasul SAW, zhahirnya (biasanya) melalui Gurunya/Mursyid sebelumnya.

    “pertemuan” kita dengan Mursyid pun biasanya melalui beberapa proses – ada yang ‘mencari’, ada yang ‘dicari’ – sebagaimana Sayyidina Rumi QS mengatakan, “bukan hanya orang kehausan yang mencari Air kehidupan, melainkan Air kehidupan pun berkeliling mencari mereka yang kehausan”.

    namun; hijab kita (utamanya diri saya pribadi) adalah EGO – hawa nafsu. merasa diri benar, merasa diri tidak butuh bantuan, merasa diri bisa. pada saat si EGO ini naik, maka naik pulalah ‘hijab’ itu – hijab hati yang menutup celah relung bagi masuknya Nur Ilahi. baru ketika diri kita merasa ‘kosong’, merasa ‘bodoh’, merasa ‘rendah diri’, merasa ‘butuh’, atau – mau ‘tawadhu’ di hadapan Alloh SWT – maka insyaAlloh, dengan perkenanNya belaka kita akan dipertemukan dengan Mursyid yang telah ditakdirkan untuk kita.

    ibarat seorang murid butuh Guru/Mursyid adalah;
    para sahabat butuh Baginda Rasul SAW sebagai guru mereka; Alloh membuat Kanjeng Rasul SAW membutuhkan Jibril sebagai Guru beliau; dan Alloh membuat umat manusia membutuhkan Nabi dan Rasul sebagai guru mereka.

    karena itulah, manusia pertama (Nabi Adam AS) diciptakan sebagai Nabi, karena beliau adalah manusia yang pertama kali dan harus bisa “mengajari dirinya sendiri”, Allohu Alam Bisshowab.

    untuk kemudiannya, umat manusia dijadikan membutuhkan para Guru Kebenaran, para Guru Kehidupan, yaitu para Nabi dan Rasul, dan para pewarisnya yaitu para Auliya Alloh.

    biasanya – dan ini yang saya pribadi alami – EGO selalu membuat kita merasa “bisa” dan “mampu” – sedangkan pada hakikatnya, kita ini tidak bisa dan tidak mampu. wong untuk bisa bicara saja kita butuh ‘guru’ yaitu orang tua kita, moso’ untuk mempelajari agama tidak butuh guru.

    manusia sering berkata, “langsung ke Alloh!” padahal untuk connect ke internet saja kita butuh ‘wasilah’ berupa jaringan kabel dan server. bisa langsung ‘colok’ ke Yahoo tanpa jaringan?

    manusia sering berkata, “langsung ke Alloh!” padahal untuk mengenal Alloh, manusia membutuhkan Muhammad Rasul Alloh.

    manusia sering berkata, “langsung saja ke Nabi SAW!” padahal jarak kehidupan kita dengan beliau terbentang 1400 tahun lamanya.

    koneksi itu ada di depan kita, ada di hadapan kita. bukalah pintu mata hati kita, dan mari kita sama-sama (utamanya diri saya pribadi) belajar tawadhu lagi, sehingga sama-sama kita bisa ‘nyolok’ komputer pribadi kita ke Server Alloh Ta’ala yang Maha Luas.

    semuanya saling sambung menyambung; waris mewarisi; karena jika hubungan itu terputus, mau kemana kita ‘colokkan’ kabel itu? merasa diri sedemikian digjaya sehingga bisa ‘menarik kabel’ langsung ke langit tanpa bantuan orang lain yang memiliki jaringan yang telah established?

    mohon maaf atas segala kesalahan,

    Allohu Alam Bisshowab.

    Ilahy anta maqshudi,
    wa ridhoka mathluby…

  • aaboed

    @ sufimuda;

    terimakasih atas penulisan blognya, semoga abang dirahmati Alloh Taala dan YMMA. jika boleh saya mau minta izin untuk copy paste beberapa artikelnya dan mempublikasikan blog ini?

    terimakasih banyak, wassalam…

    Sufi Muda :

    Silahkan

  • ikhwan

    alhamdulillah………. rupanya q byk teman yg s iman, kemaren2 sblm aq ketemu blog ini aq kira aq cuma sendiri hidup di sebuah kota kecil, ……………….. moga di akhirat nanti kt semua dikumpulkan dgn org yg kita cintai, nurun ala nur, sayiddul wujud muhammad rasullah saw

  • tanya

    memang begitu….

    saia mo tanya:

    apakah ‘penyambung’ antara murid dengan mursyidnya?

    apakah tanda hubungan seorang murid dengan mursyidnya ‘bersambung’ ?

    apakah yang bisa mebuat hubungan seorang murid dengan mursyidnya terputus?

  • aaboed

    @ tanya:

    saya mencoba menanggapi, apapun tanggapan saya belum tentu benar, ini hanya pendapat pribadi belaka, dan tidak mewakili pendapat golongan apapun :

    apakah penyambung antara murid dengan mursyid?
    …ialah “ikatan hati”…

    apa tanda hubungan murid dengan mursyid bersambung?
    …adalah “kehadiran dalam dzikruLloh”…

    apa yang bisa membuat hubungan seorang murid dengan mursyidnya terputus?
    …ketika sang murid mengaku “guru” dan merasa diri tidak membutuhkan gurunya lagi…

    mohon maaf atas segala kesalahan, Allohu Alam Bisshowab.

  • ikhwan

    buat aaboed, ………… sekali lg aq setuju dgn pndpat km d atas,… pemutus antara murid dan guru adalah sombong, ini adalah pnyakit hati. awal nya cuma gengsi, gengsi adalah pnyakit hati yg samar2 sgt bbahaya

  • tanya

    terima kasih pada mas aboed atas jawabannya

    ada jawaban versi awamnya ga?
    atau apa keterangan dari jawaban mas aaboed diatas?

    ikatan hati itu “bagaimana” sih?

    jawaban yang ke2 maksudnya apa?
    mohon jelaskan lebih panjang….

    tp yang ketiga saya bingung.
    Untuk menghilangkan mazmumah (membersihkan hati) perlu bantuan mursyid bukan? apalagi sifat sombong, rajanya sifat mazmumah. orang sholeh saja masih punya sifat sombong, hanya orang dengan tingkatan iman haq (orang taqwa) yang sudah Tuhan cabutkan sifat sombongnya.

    kalo jawabannya begitu, tentu orang yg masih punya sifat sombong, belum bermusyidpun sudah langsung terputus dengan sang mursyid….

    jadi???

  • aaboed

    @tanya (n others) :

    apapun jawaban saya, ketahuilah bahwa saya belum tentu benar, dan apapun jawaban saya, tidak mewakili pendapat golongan/faham/jama’ah apapun; ini murni jawaban saya pribadi. jika ada yang salah atau kurang jelas, itu pastinya berasal dari ego saya pribadi, mohon maaf sebelumnya.

    secara sederhana, ikatan hati dapat diartikan “cinta”. ketahuilah, bahwa “cinta” adalah ikatan emosi yang paling kuat yang dapat mempertautkan antara sang pecinta dengan yang dicintainya. ad diinu mahabbah = agama adalah cinta. Kanjeng Rasul SAW bersabda, “setiap orang akan bersama yang dia cintai”. mencintai guru/waliyam mursyida/awliya Alloh/al ulama warosatul anbiya’ adalah sebuah jalan/jalur – saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai suatu “wasilah cinta” kepada Alloh Ta’ala.

    “kehadiran dalam DzikruLLoh” ibarat ketika kita memanggil seseorang, orang itu memperhatikan panggilan kita dan menjawab panggilan kita. atau ketika anda bertanya kepada saya, saya “hadir” untuk menjawab pertanyaan anda, dan juga sebaliknya. meskipun pada zhohirnya kita berdua (dan yang lainnya) adalah “ghoib” (tidak bertemu secara langsung secara fisik) namun pemikiran kita masing-masing telah “hadir” dalam forum Sufi Muda yang mulia ini melalui “wasilah Internet”.

    “hadir”, dalam perspektif saya yang bodoh dan terbatas ini, adalah “terjalinnya hubungan yang dimaksudkan” atau dalam bahasa lain dapat dikatakan bahwa kita tidak sekedar melakukan “monolog” (berdzikir memanggil Alloh namun tanpa kepastian apakah yang dipanggil mendengar atau menanggapi) namun adalah sebuah “dialog” – hubungan timbal balik. sebagaimana ayat Qur’an berkata, “adzkuruni, adzkurkum” – ingatlah Aku/berdzikirlah akan Aku maka niscaya Aku akan ingat pula/berdzikir pula padamu. hal ini tidak dapat diketahui melalui kata-kata, melainkan “dirasakan melalui hati” (ad dzawq). ini masalah “perasaan” – sebagaimana rasa “cinta” tidak dapat dipahami melalui kata-kata melainkan harus “dialami” untuk dapat “dimengerti”.

    dalam hemat saya, setiap orang butuh Guru. butuh Mursyid, butuh Pembimbing. jikalau kita dapat memahami dan ma’rifatuLloh tanpa Guru, mengapa halnya Alloh Ta’ala mesti mengirim Kanjeng Rasul SAW untuk menjadi Guru kita?

    mengenai sombong, saya pribadi tidak akan mengomentari karena bagi saya pribadi kalimat pertanyaan tersebut adalah sebuah kesimpulan yang telah ditarik sendiri oleh sang penanya, sehingga tidak membutuhkan jawaban….

    menurut saya pribadi, sebelum membahas mengenai “pemutusan”, semestinya kita membahas dahulu mengenai “penyambungan”. setelah kita “memahami” atau “merasakan” apa itu “penyambungan batin” barulah kita dapat memahami apa itu “pemutusan hubungan batin”.

    ibarat rasa “pedas”, tidak dapat dipahami hanya dengan membaca kata P E D A S belaka; ia hanya dapat dipahami dengan “berhenti bicara dan berkata2 mengenainya” dan “langsung praktek” makan cabe…barulah kita paham apa itu “pedas” dan apa itu “manis”.

    mohon maaf atas segala kesalahan, Allohu Alam Bisshowab.

  • AL-Muqarram Ahli Silsilah-36

    Allahu Akbar….Allahu Akbar…Allahu Akbar….Wa Lillahil Hamd….

    Kita Maha bersyukur kepada Yang Maha Akbar bahwa sampai sekarang kita masih diberi-Nya Kurnia untuk selalu menghampirkan diri dan berhampir pada sisi-Nya dan masih diberi-Nya kesempatan untuk memperbaiki segala kekurangan amaliah kita sehari-hari.
    Selaku Ahli Silsilah-36 yang juga merupakan Al-Ulama Warisatul Anbiya serta berstatus sebagai Ulama yang Waliyam Mursyida saya punya tanggungjawab untuk menyampaikan kebenaran ini pada Abang dan kakak yang saya kasihi di manapun berada. Ada persoalan yang harus Kami luruskan di sini :

    AL-Muqarram YMM.Ayahanda Guru Prof.DR.H.SS.Khadirun Yahya Muhammad Amin AL-Khalidy An-Naqsyabandi tidak pernah mewariskan kepada anak-anak kandungya Nurun Alaa Nuriin yang tertanam dalam Arwahul Muqaddasah beliau yang dulu diambil secara estafet dari dada Muhammad Rasulullah S.A.W sampai kepada Saidina Abu Bakr Siddiq r.a terus sampai kepada Ayah Guru kita. Hal ini terbukti dengan tidak adanya kekeramatan Allah SWT dalam diri anak kandung YMM.Ayahanda Guru yang pernah ditunjukkan YMM.Ayah pada saat dia memegang tampuk Ke-Mursyidan ke-35 seperti menghidupkan orang yang telah mati, menebalkan lapisan ozon dan membersihkan kontaminasi udara dengan cara menyalurkan Kalimatullahi Ilya Ulya ke seluruh jagad raya,dan berbagai macam lainnya kebesaran illahi yang kaya. Hal ini tentu saja hanya dapat dilakukan oleh manusia yang telah disiapkan oleh Allah untuk jadi AL-Ulama Warisatul Anbiya (tetapi bukan waris dalam bidang fiqh) melainkan waris dalam bidang Nurun Alaa Nuriin. Nurun Alaa Nuriin adalah radar pada sisi Allah, bergetar pada sisi Allah maka bergetar saat itu juga. Ingatkah Abang dan Kakak sekalian akan bunyi Qur’an “Laualzanaahu Qur’an…” Jika Kami turunkan Qur’an itu di bukit niscaya akan kalian lihat bukit itu hancur berantakan karena takutnya kepada Kami” disini Allah SWT menegaskan tidak akan mampu bukit menahan getaran Maha UltraSonoor dari Allah SWT yang disalurkan melalui Nurun Alaa Nurin dari sisi-Nya. Sudah cukuplah dalil bagi kita untuk menarik kesimpulan bahwa anak-anak YMM.Ayah Guru tidak pernah ditunjuk oleh Allah dan diwariskan YMM.Ayah Guru Nurun Alaa Nuriin, Hal ini dapat kita lihat pada Alm.Iskandar Zulkarnain (Anak Kandung YMM.Ayah) yang awalnya hanya memposisikan dirinya sebagai pimpinan Yayasan Prof.DR.H.Khadirun Yahya lama kelamaan memposisikan dirinya sebagai Mursyid dan duduk di dalam Mihrab YMM.Ayah, oleh karena tidak ada Nurun Alaa Nuriin yang notabene faktor Unlimited dari Allah dalam diri Alm. Maka hidup beliau berakhir dengan teragis karena tidak sanggup menanggung bala,dosa,penyakit dari murid-muridnya semua, dan masa kepemimpinan beliaun hanya lebih-kurang 3 tahun saja, padahal YMM.Ayah pernah mengatakan rata-rata masa kepemimpinan seorang Mursyid adalah 1 abad. Saya berani mengatakan ini karena pada saat Alm.Iskandar Zulkarnain di mandikan badannya lembam-lembam seperti habis kena pukul. Tidak susah kok untuk mencari Ahli Silsilah yang Haq yang dipilih Allah setelah YMM.Ayah, caranya siapapun yang mengaku Mursyid coba duduk Mihrab-mihrab besar YMM.Ayah seperi Darul Amin, Qutubul Amin, Baitul Amin selama 3 thn saja kalau tidak terjadi apa-apa pada dirinya maka dia itulah Ahli Silsilah sebenarnya, maka dari itu COBA HIMBAU PADA H.ABDUL KHALIK FADJUANI, SH AGAR MELAKUKAN ITU niscaya dia tidak akan berani karena dia juga tahu kalau dirinya bukan Ahli Silsilah yang Haq. Wahai para anak-anak kandung YMM.Ayah dia sayang pada kalian maka dia tidak pernah menunjuk kalian untuk jadi Mursyid sebab jadi Mursyid resiko dan konsekuensinya tinggi. Lihat setelah kepergian YMM.Ayah, para Technokrat dan Pejabat banyak yang hengkang karena mereka sudah tahu kebenaran hal yang saya sampaikan ini.
    Cobalah undang saya duduk di Mihrab YMM.Ayah agar terbuktilah saya bukan seorang gila yang penuh omong kosong. Tetapi ingat tatkala hal itu terbukti tidak pernah terbersit sebiji zarah pun di hati saya untuk menguasai Yayasan Prof.DR.H.Khadiun Yahya.

    Teruslah beramal jangan bosan-bosan saya sudah di amanahkan YMM.Ayah untuk selalu mendoakan dan membimbing kalian setiap saat, bertanyalah apa saja kepada saya bila ada persoalan yang kalian hadapi karena itu sudah tugas yang diberi pada saya.

    Allahu Akbar….Allahu Akbar…Allahu Akbar….Wa Lillahil Hamd….

Tinggalkan Balasan ke 10Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca