Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Gagalnya Ideologi Kekerasan Dalam Islam

Oleh : Ulil Absar Abdalla

Banyak kalangan yang khawatir bahwa dieksekusinya Amrozi dkk akan melambungkan status mereka sebagai seorang “syahid” atau martir di mata umat Islam. Beberapa kalangan was-was jika mereka dihukum mati, alih-alih akan memotong akar-akar ideologi kekerasan, hukuman itu justru akan membuat ideologi mereka menjadi menarik di mata umat Islam, terutama di kalangan anak-anak muda.

Menurut saya, kekhawatiran semacam ini sama sekali tak beralasan. Untuk sementara, mungkin saja kematian Amrozi dkk akan menaikkan emosi umat Islam, terutama kalangan yang sejak dari awal memiliki simpat pada ideologi para pelaku pengeboman di Bali itu, meskipun tak serta merta mesti setuju dengan tindakan mereka. Tetapi, lambat-laun, Amrozi dkk akan hilang dari memori umat Islam. Dalam beberapa tahun saja, nama Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Imron akan segera dilupakan oleh umat Islam.

Salah satu perkembangan menarik setelah peristiwa 9/11 adalah bahwa hampir terjadi penolakan serentak di semua kalangan umat Islam, terutama kalangan yang moderat yang merupakan mayoritas dalam umat Islam, terhadap ideologi Al-Qaidah. Meskipun kita menjumpai simpati terhadap figur Osama bin Ladin di sebagian kalangan Islam, tetapi secara umum kita melihat suatu penolakan yang nyaris kompak terhadap tindakan Osama itu. Ratusan ulama dari berbagai sudut dunia Islam mengeluarkan fatwa yang dengan serentak menolak dan mengutuk tindakan para pelaku terorisme yang memakai nama Islam. Di mana-mana, kita mendengar suatu penegasan yang nyaris kategoris bahwa Islam adalah anti tindakan teoriristik, apalagi jika membawa korban masarakat sipil yang sama sekali tak berdosa (al-abriya’).

Di Indonesia sendiri, setelah bom Bali, kita mendengar kutukan yang serentak dari semua tokoh-tokoh agama dan masyarakat, terutama kalangan Islam, terhadap tindakan nista itu. Memang ada banyak kalangan Islam yang secara apologetik mencari-cari alasan yang secara tak langsung hendak “memahami” dan, dengan demikian, secara implisit juga “membenarkan” tindakan pengeboman itu. Tetapi, suara dominan di kalangan Islam hampir seluruhnya menyatakan bahwa tindakan Amozi dkk itu salah secara kategoris dari sudut pandang ajaran Islam.

Dengan kata lain, kalangan Islam arus utama sama sekali tak memberikan persetujuan atas tindakan kekerasan itu. Simpati terhadap Amrozi dkk tentu ada.
Sejumlah kalangan Islam juga mencoba memahami tindakan Amrozi dkk dalam kerangka “teori konspirasi” di mana pihak Barat (dalam hal ini Amerika dan sekutunya) dipandang sebagai yang berada di balik peristiwa itu. Tetapi, “apologetisme” semacam itu sama sekali tak bisa menolak fakta bahwa kalangan arus utama dalam Islam tetap mengutuk tindakan kekerasan tersebut. Ideologi Amrozi dkk sama sekali tak didukung oleh umat Islam arus utama.

Saya kira ini yang menjelaskan, antara lain, kenapa hingga sejauh ini kelompok-kelompok kekerasan seperti Jamaah Islamiyah dan ideologi yang menyangganya sama sekali tak pernah mendapatkan tempat yang mantap di kalangan Islam arus utama.

Sementara itu, perkembangan lain juga layak mendapat perhatian kita. Pada saat reputasi kelompok-kelompok Islam radikal-pro-kekerasan mengalami kemerosotan tajam, kita melihat perkembangan lain yang justru menarik, yaitu melambungnya reputasi sejumlah partai Islam dalam kancah politik resmi. Dalam kasus Indonesia, hal ini bisa dilihat dari maraknya Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Gejala serupa juga kita lihat di sejumlah negeri Islam yang lain.

Perkembangan ini, menurut saya menandakan satu hal: bahwa umat Islam lebih memberikan “endorsement” pada perjuangan Islam secara “damai” melalui arena politik normal, seraya mengutuk metode kekerasan yang hanya akan membawa dampak fatal bagi umat Islam sendiri.

Hukuman yang diberikan kepada tokoh FPI, Rizieq Syihab, baru-baru ini makin memperkuat kecenderungan yang kontrap-kekerasan ini. Hukuman itu boleh kita pandang sebagai paku terakhir yang ditancapkan pada peti-mati ideologi kekerasan atas nama Islam. Dengan mantap saya bisa mengatakan bahwa ideologi Osama bin Ladin, Amrozi, Rizieq Syihab dll. telah gagal memperoleh dukungan dari umat Islam arus utama. Ideologi itu telah gagal.

Dengan mengatakan demikian, bukan berarti bahwa dukungan atas ideologi kekerasan hilang sama sekali dalam tubuh umat Islam. Dukungan itu akan selalu ada, tetapi tak akan pernah menjadi pandangan dominan dalam tubuh umat Islam. Penolakan kategoris atas ideologi ini yang kita lihat hampir di semua sudut dunia Islam makin membuat posisi ideologi itu terpinggirkan. Ideologi Osama pelan-pelan akan menjadi “residu” yang lambat-laun kehilangan relevansi dan ditinggalkan sama sekali oleh kalangan umat Islam.

Sementara itu, perkembangan dalam tubuh umat Islam sendiri dalam arena internasional makin mengarah pada “dialog antar peradaban”. Baru-baru ini,
misalnya, Raja Saudi menuan-rumahi suatu peristiwa yang saya anggap sangat historis dalam sejarah negeri Saudi, yaitu konferensi yang diniatkan untuk
mendorong dialog antaragama. Dilihat dari sudut pandang ideologi Wahabisme (ideologi resmi negeri Saudi) yang sangat tertutup dan eksklusif, tindakan Raja
Abdullah dari Saudi itu sangat berani dan bersifat terobosan. Raja Saudi konon akan menyeponsori acara serupa dalam waktu yang tak terlalu lama lagi di PBB.

Momentum yang mengarah kepada dialog antarperadaban ini makin mendapatkan ruang setelah terpilihnya Presiden Barack Obama. Retorika kampanye presiden-terpilih Obama saat pemilu kemaren sangat menekankan kebijakan luar negeri yang lebih membuka dialog ketimbang memaksa pihak lain dengan laras senjata seperti kita lihat pada Presien Bush saat ini.

Dengan sedikit optimis, saya bisa mengatakan bahwa era Bush, Osama bin Ladin, Ayman Al-Zawahiri, Dr. Azahari, Amrozi, Imam Samudra, Rizieq Shihab dll.
pelan-pelan mulai memudar. Kita sedang menjelang era lain yang jauh lebih “dialogis”. Pelaku-pelaku utama dalam era ini bukanlah mereka yang menenteng
senjata AK-47 di tangan kiri dan Kitab Suci di tangan kanan lalu meneriakkan Allahu Akbar seraya membunuhi nyawa-nyawa yang tak berdosa. Pelaku utama dalam era baru ini adalah mereka yang siap berjuang di kancah resmi, di panggung politik normal, berani adu pendapat, berani melakukan kompromi, seraya secara kategoris menolak kekerasan.

 

Sumber : islamlib.com

Single Post Navigation

11 thoughts on “Gagalnya Ideologi Kekerasan Dalam Islam

  1. yudistira on said:

    ya TUHAN ……….
    sudah cukuplah kekacauan diatas bumi ini.
    tolong siramilah semangat perdamaian di hati kami semua dan juga pada hati2 pemimpin didunia ini.

    ya TUHAN….
    tolong hancurkanlah orang2 yang masih mengusung kekerasan, dendam, iri, dengki, hasut dimuka bumi ini, sekalian dengan para pengikut2nya ya tuhan….

    ya TUHAN…
    tolong berilah kesejahteraan kepada SUFIMUDA dan orang2 sepertinya yang senantiasa selalu menjaga dan mengajak orang2 kepada kedamaian dan cinta kasih.

    amin….ya rabbal ‘alamin.

  2. Setujuu.. Kalau sesuap nasi diberikan pada kita, kita balas dengan sepiring nasi. Kalau ditampar pipi kiri kita, balas gampar pipi kanannya. Jangan mau kalah, sebab Islam tidak pernah kalah (kalau bener2 Islam loh).
    Kalau sufimuda memberikan seartikel ilmu pada kita, kita balas dengan seribu koment. hehehe 🙂

  3. sudah cukuplah aksi aksi seperti amrozi dkk salut buat king Abdullah sudah saatnya wahabi kembali ke ajaran Rasulullah yang hakiki, sesama muslim adalah saudara jangan merasa benar sendiri seperti yang sudah sudah bhineka tunggal islam bermacam macam pemahaman tetap satu islam

  4. @yudistira
    untuk bait kedua saya lebih suka berdoa :
    Ya Tuhan
    tolonglah, selamatkanlah dunia akhirat dan berikanlah petunjuk, rahmat dan hidayah, cinta dan kedamaianMU kepada orang-orang yang masih mengusung kekerasan, dendam, iri, dengki, hasut di muka bumi, sekalian dengan pengikut-pengikutnya ya Tuhan. Amin.

    *karena kalau doa ‘agar hancur’ dikabulkan tidaklah otomatis berhenti dari tindakan2 tersebut, karena tindakan “yang tidak benar” adalah sama dengan “kehancuran itu” sendiri*.
    Doa mengharap agar orang lain hancur sama saja dengan ‘doa kekerasan’.
    Orang yang ‘tidak benar’ tetapi dikabulkan doanya selamat dunia akhirat pastilah menjadi ‘orang benar’, karena selamat akherat syaratnya adalah ‘menjadi orang benar’.

    • Membaca pendapat saudara atau doa yang saudara panjatkan, saya jadi teringat pada peristiwa Rasulullah SAW saat beliau dilempari batu di kota Thaif. Beliau tidak menyetujui tawaran malaikat yang pada saat itu menawarkan, apakah Nabi berkenan kalau kota itu dihancurkan? Tapi beliau hanya memohon ampunkan orang- orang di kota itu, karena mereka belum mengerti dan harapan beliau kelak anak- anak cucu merekalah yang akan mengerti.Hal seperti itu muncul karena kemuliaan akhlak beliau dan kasih sayang beliau pada sesama.

  5. sesuai stempel gue…

    ^__^V
    PiiSS

    ^___^V
    PiiSSS

    Dunia ini akan terlihat lebih indah dan menakjubkan dalam kedamaian…sodara-sodara!!!

    kuliah minggu mode : ON

  6. Asumsi lumayan menarik walau tak menyentuh akar persoalan “mengapa amrozi memilih jalan itu?”. Konteks persoalan juga terlalu sempit untuk digeneralisasikan karena persoalan Palestina, Irak, Afghanisthan, Pakistan, Nigeria (mungkin) dan penjajahan yang dilakoni negara Islam tak mendapat tempat di asumsi ini.

    Islam agama yang damai, karena itu ketika melihat cara ini ditempuh oleh orang Islam adalah mencari sebab dan musababnya, bukan pada metode dari akibatnya. Ini tidak tergantung pada agama. Toh Amerika juga memilih bukan hanya jalan kekerasan, tapi lebih jauh dari itu, jalan perang, ketika WTC digempur habis Alqaeda. Obama sendiri terus terang mengatakan akan membunuh dan memburu Osama. Jadi persoalannya bukan pada ideologi kekerasan, bukan pada metode, tapi pada substansi persoalan. Saya pun sangat meragukan betulkah ada “ideologi kekerasan” dalam islam, seperti yang disebut Ulil ini?

    Saya tak setuju dengan pemboman Amrozi cs itu, tapi saya lebih memandang mereka hanya butir-butir dari kemarahan umat Islam yang disemai di tanah yang subur: kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan penjajahan.

    tapi tentu, tafsir tentu tak akan sama.

    salam

  7. Musuh” islam boleh melakukan kekerasan dan membunuh ribuan umat islam tanpa dalih apapun..hanya karena mereka islam..(israel apakah akan membantai orang palestina klo mereka bukan muslim ? Kayaknya nggak deh..) sementara orang islam tdk boleh melakukan kekerasan meskipun harga dirinya diinjak”, keluarganya dihancurkan, masyarakatnya dijejali dgn segala bentuk kemaksiatan bahkan syariat agamanya diobrak-abrik, diganti dgn alasan sdh tdk relevan dgn perkembangan jaman..begitu bang ulil ? Terus dimana letak keadilan..masak umat islam hrs selalu mengalah dgn dgn musuh” islam ? Apa kata dunia ? Saya tdk menyebut musuh” islam itu non muslim..Contoh di Solo, seandainya MMI dan laskar islam lainnya tdk ada, solo udah jd sarang preman..beberapa kali terjadi pertempuran antara preman dan laskar sampai akhirnya para preman segan, takut dan tdk pernah mengusik umat islam..sebelumnya mereka mabuk di samping masjid bahkan berani menyerbu masjid..klo tdk dihadapi dgn kekerasan hrs dgn apa bang ? Polisi ? Nggak tahu kemana mereka..susah kali nyari polisi klo pas ada kejadian..bukan saya mendukung kekerasan, tp eksistensi FPI, MMI dan laskar” islam lain jg sangat diperlukan untuk menegakkan wibawa umat islam..dan saya kira kekerasan tetap merupakan upaya terakhir yg mereka lakukan setelah upaya” lain gagal..smoga Allah senantiasa melindungi kita dr kaum munafik, orang musrik dan kafir..amin

  8. bagus…!saya sbgai orang awam klo diijinkan mo ada masukan dikit.
    Islam butuh citra kelembutan disatu sisi
    Tp islam juga butuh wibawa& Ketegasan(bukan kekerasan membabibuta) pd sisi yg laen..
    Kekerasan islam hanya ada disaat ia “DISERANG” musuh dgn kekerasan.
    Islam bukan untuk menyerang.
    Kalau pun islam hrus MENYERANG duluan,ya pasti Dengan Kelembutan..kebijaksanaan.memegang dalil “rahmatanlilalamin.”
    Jadi Islam itu bisa Lembut bisa keras.
    Jadi Pemimpin gaya lembut islam dengan pemimpin gaya keras islam hrus krjasama(musyawarah)
    Islam hrus tau kapan harus lembut kapan harus keras.krna sama2 penting.!!!qt harus SABAR untuk tidak brtengkar ssma islam.
    *gaya kerasnya Islam Hrus beda dgn gaya kerasnya orang Kafir(musuh islam)
    Saya tidak mau kalo islam diadu domba(insya Allah tidak trjadi)
    Saat islam Beda pendapat lalu betengkar..nah disana qt hati2,waspada pasti ada musuh menyusup(syetan)..tahan diri,brtengkar hentikan..karena bertengkar itu Dosa.
    Krna yg tadinya benar bisa jadi salah. ingat.Sorga itu krna Rahmat Allah,bukan krna bertengkar.(Amarah)
    Dlu IBLIS dikutuk krna SOMBONG,
    jadi islam harus rendah Hati..tapi keras hati trhadap musuh..wsslmkm

  9. ahmad alhasani on said:

    sumbernya islam liberal . hahaha kenapa di masukkan ke artikel wahai sufi muda… ini bukan sufi liberal kan ?

  10. Muhammad Denivan on said:

    Oh, Salam liberal, pak sumbing. Masih juga mencecar ya ? Kenapa gak cari kerjaan lain aja ? Apa sih enaknya menghujat FPI ?

    Dan lagi, MENGAPA BIBIR ANDA SUMBING DAN OPINI ANDA SEPERTI OPINI ORANG BERMULUT KAMBING ?

    Debat saya tentang hal apapun. Kirimi saya email tentang apapun adanya dan saya, Insya Allah, kalau diizinkan Allah, akan membuat anda semua taubat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: