Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Benarkah Nabi Menikahi Gadis Di Bawah Umur?

**Yusuf Hanafi

Kaum Muslim seringkali disudutkan oleh pertanyaan berikut, “Akankah Anda menikahkan puteri Anda yang baru berumur 7 atau 9 tahun dengan seorang lelaki tua yang telah berusia 50 tahun?” Mereka mungkin akan terdiam karena bingung atau justru marah karena tersinggung. Lalu, pertanyaannya selanjutnya adalah, “Jika Anda tidak akan melakukannya, bagaimana Anda bisa menyetujui pernikahan gadis ingusan berusia 7 atau 9 tahun bernama ‘Aisyah dengan Nabi Anda, Muhammad bin ‘Abdillah?”

Mayoritas umat Islam mungkin akan menjawab bahwa “menikahi gadis di bawah umur” seperti kasus di atas dapat diterima masyarakat Arab kala itu. Jika tidak, masyarakat tentu akan keberatan dengan pernikahan Nabi Muhammad dengan ‘Aisyah, puteri Abu Bakr al-Shiddiq yang masih kanak-kanak.

Nabi Muhammad merupakan uswah hasanah (teladan yang baik) bagi seluruh umat Islam—di mana perilaku, tindakan, dan peri kehidupannya selalu dijadikan sebagai acuan dan rujukan. Namun sekali lagi, dalam konteks ”menikahi gadis di bawah umur ini”, kaum Muslim seolah dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Sebab bagaimana pun, mayoritas Muslim takkan pernah berpikir—apalagi melakukan tindakan—menikahkan anak perempuannya yang baru berusia 7 atau 9 tahun dengan seorang pria dewasa yang lebih pantas menjadi bapak atau bahkan kakeknya. Jika ada orang tua yang setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, meski tidak semua, akan mencibir dan memandang sinis, terlebih kepada pria uzur yang tega menikahi bocah di bawah umur.

Namun belum lama ini, umat Islam Indonesia dihebohkan oleh pemberitaan kasus pernikahan gadis di bawah umur. Pujiono Cahyo Widianto, seorang miliarder beristeri satu dan berusia 43 tahun asal Semarang yang lebih populer disapa Syekh Puji, menikahi bocah berusia 12 tahun bernama Lutviana Ulfa pada 8 Agustus 2008 lalu. Lebih heboh lagi, Syekh Puji yang juga berstatus sebagai pengasuh Ponpes Miftahul Jannah itu berencana menikahi dua gadis ingusan lain dalam waktu yang tidak terlalu lama untuk mengenapkan jumlah bilangan isteri yang dikoleksinya menjadi 4 (empat).

Ketika berita itu merebak ke permukaan, pro-kontra pun bermunculan. Mayoritas menolaknya sekaligus menuding Syekh Puji mengidap paedophilia, yaitu karakter kejiwaan yang mempunyai ketertarikan seksual terhadap anak di bawah umur. Tak ketinggalan, MUI juga menfatwakan perihal keharaman tindakan Syekh Puji yang mengawini gadis ingusan di bawah umur itu.

Syekh Puji tak tinggal diam. Dia berdalih bahwa tindakannya itu sesuai dengan tuntunan syariat karena pernah dicontohkan Nabi Muhammad tatkala menikahi ‘Aisyah. Syekh Puji tak sendiri. Pembelaan untuknya, di antaranya, datang dari Fauzan al-Anshari (dulu Kepala Departemen Data dan Informasi MMI) dan Puspo Wardoyo (pemilik Rumah Makan Wong Solo yang pernah memperoleh Poligami Award). Keduanya malah berujar lantang, umat Islam yang mengingkari pernikahan seperti itu berarti mengingkari sunnah Nabi, dan pada gilirannya akan membahayakan keimanannya.

Merespon polemik tersebut, tulisan ini akan menelaah sekaligus menguji kembali catatan-catatan sejarah klasik Islam yang dipakai sebagai dasar keabsahan menikahi gadis di bawah umur. Juga, untuk melihat bagaimana sesungguhnya perspektif Alqur’an tentang persolan tersebut. Harapannya, akan diperoleh pandangan yang obyektif dan berimbang dalam menyikapinya.

Kontradiksi Seputar Usia ‘Aisyah

Sebagian besar hadis yang mengisahkan pernikahan Nabi dengan ‘Aisyah diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah. Hadis-hadis tersebut, antara lain: “Khadijah wafat 3 tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Rasul SAW sempat menduda kurang lebih 2 tahun sampai kemudian menikahi ‘Aisyah yang kala itu berusia 6 tahun. Namun Nabi SAW baru hidup serumah dengan ‘Aisyah saat gadis cilik itu telah memasuki usia 9 tahun” (HR. Al-Bukhari).

Riwayat lain yang menceritakan hal serupa dengan informasi sedikit berbeda adalah: “Nabi SAW meminang ‘Aisyah di usia 7 tahun dan menikahinya pada usia 9 tahun. Seringkali Nabi SAW mengajaknya bermain. Tatkala Nabi SAW wafat, usia ‘Aisyah saat itu baru 18 tahun” (HR. Al-Bukhari).

Sejarahwan Muslim klasik, al-Thabari dalam Târikh al-Umam wa al-Mulûk mengamini riwayat di atas bahwa ‘Aisyah (puteri Abu Bakr) dipinang Nabi pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga dengannya pada usia 9 tahun. Pada bagian lain, al-Thabari mengatakan bahwa semua anak Abu Bakr yang berjumlah 4 orang dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya. Jika ‘Aisyah dipinang Nabi pada 620 M (saat dirinya masih berusia 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623 M (pada usia 9 tahun), hal itu menunjukkan bahwa ‘Aisyah dilahirkan pada tahun 613 M. Yakni, 3 tahun sesudah masa Jahiliyah berakhir (tahun 610 M).

Padahal al-Thabari sendiri menyatakan bahwa ‘Aisyah dilahirkan pada masa Jahiliyah. Jika ‘Aisyah dilahirkan pada masa Jahiliyah, setidaknya ‘Aisyah berusia 14 tahun saat dinikahi Nabi. Pendeknya, riwayat al-Thabari perihal usia ‘Aisyah ketika menikah dengan Nabi tidak reliable dan tampak kontradiktif.

Kontradiksi perihal usia ‘Aisyah saat dinikahi Nabi akan semakin kentara jika usia ‘Aisyah dihitung dari usia kakaknya, Asma’ binti Abi Bakr. Menurut Ibn Hajar al-‘Asqallani dalam Tahdzîb al-Tahdzîb, Asma’ yang lebih tua 10 tahun dari ‘Aisyah meninggal di usia 100 tahun pada 74 Hijrah. Jika Asma’ wafat di usia 100 tahun pada 74 H, maka Asma’ seharusnya berumur 27 tahun ketika adiknya ‘Aisyah menikah pada tahun 1 Hijrah (yang bertepatan dengan tahun 623 M).

Kesimpulannya, berdasarkan riwayat di atas itu pula dapat dikalkulasi bahwa ‘Aisyah ketika berumah tangga dengan Nabi berusia sekitar 17 tahun.

Kontradiksi lain seputar mitos usia kanak-kanak ‘Aisyah tatkala dinikahi Nabi dapat dicermati melalui teks riwayat Ahmad bin Hanbal berikut. Sepeninggal isteri pertamanya, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehatinya agar menikah lagi. Lantas Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada dalam pikiran Khaulah. Khaulah kemudian berkata, “Anda dapat menikahi seorang perawan (bikr) atau seorang janda (tsayyib).” Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis perawan (bikr) tersebut, Khaulah menyebut nama ‘Aisyah (HR. Ahmad).

Bagi orang yang mengerti bahasa Arab, dia akan paham bahwa kata bikr tidak digunakan untuk bocah ingusan berusia 7 atau 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis ingusan yang masih kanak-kanak adalah jariyah. Sebutan bikr diperuntukkan bagi seorang gadis yang belum menikah serta belum punya pengalaman seksual—yang dalam bahasa Inggris diistilahkan “virgin”. Oleh karena itu, jelaslah bahwa ‘Aisyah yang disebut bikr dalam hadis di atas telah melewati masa kanak-kanak dan mulai menapaki usia dewasa saat menikah dengan Nabi.

Perspektif Alqur’an

Sebagai Muslim, merupakan kewajiban untuk merujuk sumber utama dari ajaran Islam, yakni Alqur’an. Apakah Alqr’an mengijinkan atau justru melarang pernikahan dari gadis ingusan di bawah umur? Yang jelas, tidak ada satu ayat pun yang secara eksplisit mengizinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat yang dapat dijadikan inspirasi untuk menjawab persoalan di atas, meski substansi dasarnya adalah tuntunan bagi Muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Meski demikian, petunjuk Alqur’an mengenai perlakuan terhadap anak yatim itu dapat juga kita terapkan pada anak kandung kita sendiri.

Ayat tersebut adalah: “Ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (mampu mengelola harta), maka serahkan kepada mereka harta bendanya” (QS. al-Nisa’: 6).

Dalam kasus anak yang ditinggal wafat oleh orang tuanya, seorang bapak asuh diperintahkan untuk: (1) mendidik, (2) menguji kedewasaan mereka “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan pengelolaan keuangan sepenuhnya. Di sini, ayat Alqur’an mempersyaratkan perlunya test dan bukti obyektif perihal tingkat kematangan fisik dan kedewasaan intelektual anak asuh sebelum memasuki usia nikah sekaligus mempercayakan pengelolaan harta benda kepadanya.

Logikanya, jika bapak asuh tidak diperbolehkan sembarang mengalihkan pengelolaan keuangan kepada anak asuh yang masih kanak-kanak, tentunya bocah ingusan tersebut juga tidak layak, baik secara fisik dan intelektual untuk menikah. Oleh karena itu, sulit dipercaya, Abu Bakr al-Shiddiq, seorang pemuka sahabat, menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 tahun, untuk kemudian menikahkannya pada usia 9 tahun dengan sahabatnya yang telah berusia setengah abad. Demikian pula halnya, sungguh sulit untuk dibayangkan bahwa Nabi SAW menikahi gadis ingusan berusia 7 atau 9 tahun.

Ringkasnya, pernikahan ‘Aisyah pada usia 7 atau 9 tahun itu bisa bertentangan dengan prasyarat kedewasaan fisik dan kematangan intelektual yang ditetapkan Alqur’an. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa cerita pernikahan ‘Aisyah gadis belia berusia 7 atau 9 tahun dengan Nabi, itu adalah mitos yang perlu diuji kesahihannya.

Di samping persoalan-persoalan yang telah dikemukakan di atas, seorang wanita sebelum dinikahkan harus ditanya dan dimintai persetujuan agar pernikahan yang dilakukannya itu menjadi sah. Dengan berpegang pada prinsip ini, persetujuan yang diberikan gadis belum dewasa (berusia 7 atau 9 tahun) tentu tidak dapat dipertanggung-jawabkan, baik secara moral maupun intelektual.

Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr meminta persetujuan puterinya yang masih kanak-kanak. Buktinya, menurut hadis riwayat Ibn Hanbal di atas, ‘Aisyah masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika mulai berumah tangga dengan Rasul SAW. Rasul SAW sebagai utusan Allah yang suci juga tidak akan menikahi gadis ingusan berusia 7 atau 9 tahun, karena hal itu tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan Islam tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Besar kemungkinan pada saat Nabi SAW menikahi ‘Aisyah, puteri Abu Bakr al-Shiddiq itu adalah seorang wanita yang telah dewasa secara fisik dan matang secara intelektual.

Mitos yang Meragukan

Sebetulnya dalam masyarakat Arab tidak ada tradisi menikahkan anak perempuan yang baru berusia 7 atau 9 tahun. Demikian juga tak pernah terjadi pernikahan Nabi dengan ‘Aisyah yang masih berusia kanak-kanak. Masyarakat Arab tak pernah keberatan dengan pernikahan seperti itu, karena kasusnya tak pernah terjadi.

Menurut hemat saya, riwayat pernikahan ‘Aisyah pada usia 7 atau 9 tahun oleh Hisyam bin ‘Urwah tak bisa dianggap valid dan reliable mengingat sederet kontradiksi dengan riwayat-riwayat lain dalam catatan sejarah klasik Islam. Lebih ekstrim, dapat dikatakan bahwa informasi usia ‘Aisyah yang masih kanak-kanak saat dinikahi Nabi hanyalah mitos semata.

Nabi adalah seorang gentleman. Dia takkan menikahi bocah ingusan yang masih kanak-kanak. Umur ‘Aisyah telah dicatat secara kontradiktif dalam literatur hadis dan sejarah Islam klasik. Karenanya, klaim sejumlah pihak yang menikahi gadis di bawah umur dengan dalih meneladani sunnah Nabi itu bermasalah, baik dari sisi normatif (agama) maupun sosiologis (masyarakat).

Jikalau riwayat-riwayat seputar pernikahan Nabi dengan ‘Aisyah yang masih kanak-kanak itu valid, itu juga tak bisa serta-merta dijadikan sandaran untuk mencontohnya. Tidakkah Nabi itu memiliki previlige (hak istimewa) yang hanya diperuntukkan secara khusus untuknya, tapi tidak untuk umatnya? Contoh yang paling gamblang adalah kebolehan Nabi menikah lebih dari 4 orang isteri.

 

**  Penulis adalah dosen Jurusan Sastra Arab dan peneliti aktif di Universitas Negeri Malang. Saat ini tengah menempuh Program Doktor Tafsir-Hadits di PPS IAIN Sunan Ampel Surabaya.

sumber : islamlib.com

Single Post Navigation

55 thoughts on “Benarkah Nabi Menikahi Gadis Di Bawah Umur?

Navigasi komentar

  1. Salam..cinta..
    Saya sih kayanya setuju2 aja kan diantara keduanya yang paling penting adanya rasa cinta dan kasih sayang diantara syeh puji dan ulfa, tapi yang terbaik yang sperti terjadi sekarang ini, dititipin dikedua ortunya, sampai dengan usia yang boleh sesuai dengan UU Perkawinan dinegara ini

  2. Artikel di atas perlu kita cermati dan renungkan. Masalahnya Adalah demi menjaga nama baik agama. Bukankah itu bagian dari dakwah? bagaimana hendak mengajak orang memeluk islam kalau umatnya menunjukkan perilaku penyimpangan seksual paedofil?

    Kayaknya saya setuju dengan artikel di atas. rasanya ada puluhan wanita yang rela dinikahi nabi dengan sukarela, masa sih mau milih anak ingusan? apa enaknya coba?

    ^__^

    Piss

  3. Ping-balik: KOLEKSI SYEKH PUJI « TOPIK WARNA-WARNI

  4. artikel d atas sngt2 bgs skl u/ mnggugah anggpan2 lama yg bs jd slm ini adl salah. sy pribd ntah mngpa jk yg brkenaan dgn “prlaku rosulullah” sy anggp adl sll benar. akhlaqnya adl alquran, jk ad yg salah mk smata2 krn “ktidak tahuan” diri yg mlihatnya. sprt kisah baginda khaidir dg musa as. musa tdk akn prnh mngrti apa yg dlakukan bgnda khaidir as.

  5. …. ^_^ ….

  6. Ass. Wr. Wb.

    Setelah Nabi Muhammad Saw menduda selama 2 tahun, kemudian menikah dengan wanita-wanita lainnya untuk menghormati para sahabatnya demi persatuan umat dalam menyebarkan agama Islam yang waktu itu masih relatif muda dalam perkembangannya.
    Bahwa ‘Aisyah dilahirkan pada tahun 613 M. Yakni, 3 tahun sesudah masa Jahiliyah berakhir (tahun 610 M), setelah Rasul Saw hijriah dari Mekkah ke Madinah selama 1 tahun.

    Dalam kasus syekh Pujiono, Puspo Wardoyo, Aa Gym dll inilah contoh- contoh korban propaganda hadist palsu. Bahwa polygami adalah sunnah Rasul Saw. Padahal Nabi Saw hidup berumah tangga bersama Siti Khadijah sampai akhir hanyatnya, bahkan menduda selama 2 tahun. Berarti monogami lah yg menjadi sunnah Rasul Saw, bukannya polygami. Ada yg mendapat penghargaan lagi. Innalillahi wainna illahi roji’un. Ini juga merupakan kelemahan umat Islam yg mayoritas untuk diluruskan.

    Demikianlah, semoga menjadi bahan renungan dan intropeksi bagi para ulama yg menjadi panutan masyarakat.

    Wass. Wr Wb.

  7. Ibnu Hajar Al-Batawie on said:

    …Lalu ada Hak Istimewa Nabi yg tidak bisa kita “Foto Copy” begitu saja untuk kita tiru.

    Mungkinkan Orang terkemuka sekelas Abu Bakr al-Shiddiq menikahkan anaknya di bawah umur (yg belum pantas) untuk menjadi pendamping Rosululloh ?

  8. gitu aja kq repot….
    apa devinisi dewasa/baligh mnrut Al Qur’an
    wassalam

  9. Rasululloh manusia yang sangat istimewa dan mulia, kita baca dengan nurani kita saja.. Jangan seperti Puspo ayam goreng atau Pujiono yang ngaku Syekh.. Koq mau jadi kayak nabi, jualan ayam ajalah..

  10. saya kira para ulama (agama dan aliran apapun) sebaiknya memang mencapai pencerahan rohani dulu. setelah itu baru boleh mengaku wali nabi atau apalah, sosok yg bisa betul-betul memberi pencerahan. semestinya kenal Tuhan dulu, baru ngajak orang lain berkenalan, sehingga tidak malah menjerumuskan. barangkali…

  11. terkadang orang banyak salah mengartikan

  12. Ping-balik: RESEP KAYA SYEKH PUJI « Mr”PAMUJIE”

  13. kalo itu emang halal kenapa tidak kita harus melihat sesuatu dari 2 sisi halal dan haram….kenyataan sekarang banyak kok yang menikah kontrak yang jelas-jelas sudah diharamkan oleh nabi….

    Semoga Allah melindungi agama Islam dari segala Fitnah dunia saat ini…

    sukses selalu mas

  14. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
    Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!

  15. @ ASEP

    Dalam kasus syekh Pujiono, Puspo Wardoyo, Aa Gym dll inilah contoh- contoh korban propaganda hadist palsu. Bahwa polygami adalah sunnah Rasul Saw. Padahal Nabi Saw hidup berumah tangga bersama Siti Khadijah sampai akhir hanyatnya, bahkan menduda selama 2 tahun. Berarti monogami lah yg menjadi sunnah Rasul Saw, bukannya polygami. Ada yg mendapat penghargaan lagi. Innalillahi wainna illahi roji’un. Ini juga merupakan kelemahan umat Islam yg mayoritas untuk diluruskan.

    Kayaknya semua hadis dibilang palsu..di propaganda lah..ama kang asep…
    jadi yang benar adalah HADIS KANG ASEP ???
    ayolah sep..AA Gym bukan ustad atau ulama biasa..dia hidup dan dibesarkan di lingkungan pesantren…begitu juga dengan ulama dan ustad yang telah melakukan polygami untuk menjalankan sunah NABI…
    nah KANG ASEP darimana ??? Jangan2 kang Asep tidak mampu berpolygami ( Niat mungkin ada ) tapi belum mampu…

  16. Maaf… berat hati untuk urun rembug masalah ini, seberat hati untuk tidak mengikutinya… Hanya satu soalan yang saya ajukan.
    Apa kata anda kalau seandainya Nabi Muhammad memang betul-betul mengawini aisyah dalam usia 9 tahun? Apakah Nabi mengidap paedophilia? Tidak Gentleman?
    Tentu jawapannya adalah tidak. Tapi bagaimana menjelaskannya?
    Terimakasih

    Sufi Muda :

    Kalau menurut saya apa yang dilakukan Nabi itu merupakan perintah Tuhan, jadi kita hanya mendengarkan dan mematuhi saja. 🙂

  17. Salam

    @hamba’79,

    Kayaknya semua hadis dibilang palsu..di propaganda lah..ama kang asep…
    jadi yang benar adalah HADIS KANG ASEP ???
    ayolah sep..AA Gym bukan ustad atau ulama biasa..dia hidup dan dibesarkan di lingkungan pesantren…begitu juga dengan ulama dan ustad yang telah melakukan polygami untuk menjalankan sunah NABI…
    nah KANG ASEP darimana ??? Jangan2 kang Asep tidak mampu berpolygami ( Niat mungkin ada ) tapi belum mampu…
    ———————
    Coba anda baca dan pahami bahwa Rasul Saw menduda 2 thn, kemudian nikah lagi. Sedangkan Aa Gym atau para ustad dan ulama lainnya yg polygami? Aa Gym yg masih punya istri, kemudian nikah lagi dengan yg lebih cantik dan kaya lagi. Jangan-jangan Aa Gym mata keranjang dan mata duitan. Tidak menjamin orang-orang yg hidup dikalangan pesantren akan selalu benar. Iya, dulu juga saya punya niat berpolygami karena sudah mampu baik lahir maupun bathin. Akan tetapi setelah mengetahui bahwa Rasulullah Saw pernah menduda selama 2 thn. Yah, sekarang mengikuti sunnah Rasul Saw aja monogami, gitu lho.
    Kalo pemahaman saya yang benar adalah hadist menurut ajaran Ahlubait Nabi Muhammad Saw.

    Wasalam

  18. itu kiyai2 seperti kiyai musyhrat dan kiyai puji, harus dubuang di penjara nusa kembangan utk selamanya.
    –mereka2 itu yg selalu mengotori nama islam dimata dunia. mereka itu hanya gila dan memiliki hawa-nafsu utk meniduri anak yg belum akal dan balik (dibawah umur). — itu kiyai2 cabul, tak bermoral dan tak mengetahui apa itu islam sebenarnya……kiyai2 tak pantas mengambil nabi SAW yg sangat mulia dan instimewa sebagai contoh, karena dihati kiyai2 hanya terdapat penipuan, kerupsi, pemerkosaan, kebiadaban….. marilah sudara2ku yg seiman, kita berjuang demi melenyapkan golongan2 kiyai biadad dan tak bermoral ini…… rusly

  19. heran juga ya……………
    para kiyai2 sekarang mencontoh nabi yang enak2nya aja ……..
    poligami dibilang ingin mencontoh nabi….
    padahal emang untuk memenuhi nafsunya aja.

    mbok ya yang dicontoh itu zikirnya nabi,
    ibadahnya nabi, dan budi perkerti nabi.

  20. Fakir Al-banjary on said:

    Come on bro… jangan pada marah2 dong.. yang pingin poligami mbok ya silahkan.. pengen nikah cepat silahkan.. mau monogami ya okee.. daripada katanya monogami tapi dibelakang istri selingkuh, daripada nikah sesuai aturan Undang-undang nunggu umur 16 tahun tapi sebelumnya udah dibobol duluan.. dikampung-kampung banyak kok yang nikah muda (tapi yang pasti udah akil baligh) ga diributin.. kalo dipolling tentang poligami pasti yang banyak memberikan suara ga setuju adalah kaum ibu-ibu. Dikantor gw aja polling membuktikan begitu kok, asli!!! Peace bro……

  21. Anak Gaul on said:

    mmm… gua mah setuju aja dengan poligami he he

  22. Blog anda, jujur saja, jauh dari nama`sufimuda`.
    Lebih cocok dg julukan `sufitua` 🙂

    Mungkin yg selalu muda adalah `spirit` jihad.
    Sementara yg dipelajari adalah ilmunya orang2 `dekat`.
    Pemahaman `orang2 tua` inilah yg seringnya dianggap sesat.

    Jika ingin mengikat syariat dan hakikat,
    tentu saja semua sisi harus berhubungan erat.
    Ibarat tali yg di tambat,
    agar perahu tak lupa mendarat.
    Mengayuh di samudra ma`rifat,
    sejatinya mencari selamat.

    Semoga Allah selalu melindungimu sobat.

  23. saya pikir kang asep teh bijak ternyata ego nya masih tinggi…wahai asep sadarlah engkau……

    bagi yang tidak setuju dengan polygami ya silakan…bagi yang setuju ya mangga saja lah…terus jangan lah kita men-cap seseorang dengan sebutan sebutan..kalian dan saya sendiri belum bisa seperti kiayi kiayi ataupun ustad ustad ..kita kan hanya jago ngomong..he …seperti saya ini

    tks

  24. kepada mas aryf…juga terliiiahat seperti orang bijak padahal sampean juga masih mengedepankan kebenaran versi sampean…jika sampean tau makrifat tolong sampaikan dalam bentuk tulisan. kapan kita harus makrifat, kapan kita disisi hakikat dan kapan kita disisi syariat,,,dan tarekat apa yang cocok menurut kang aryf…kapan pula harus menggabungkan hal hal diatas..tolong beri kami penjelasan

    tks

  25. Abu Taufiq on said:

    Apa Makrifat bisa ditulis?
    bukankah ribuan kata tidak akan bisa mewakili indahnya Wajah Allah, lalu bagaimana mungkin kita bisa mengungkapkan Makrifat?
    Kalau Makrifat dalam pengertian teori bisa diungkapkan dan banyak buku2 nya.

  26. Saya pribadi tidak percaya dengan mitos bahwa Nabi Muhammad SAW Yang Mulia menikahi Aisyah RA dalam usia 7-9 tahun. Terlebih setelah saya baca artikel di inilah.com edisi 17 dn 18 Nopember 2008 oleh Bpk. Romad Anjar. Bagi teman-teman silahkan cek di sana. Mudahan berguna untuk menangkis isu-isu yang sengaja digunakan untuk menyudutkan Islam.

  27. tujuan pernikahan adalah rekreasi yaitu untuk kesenangan dan prokreasi yaitu untuk mendapatkan keturunan.Secara medis umur 12 tahun belum matang secara fisik dan psikis,bagaimana mau menikmati kesenangan dengan gadis yang secara fisik dan psikis belum matang tentu saja cara pandang antara umur 43 tahun dengan 12 tahun sudah berbeda apalagi bila hamil rahim sebagai tempat tumbuh kembang anak belumlah siap karena si ibu sendiri masih membutuhkan nutrisi untuk tumbuh dan kembang..Puji mungkin bisa mengambil jalan yang baik dengan cara dipinang dululah ulfah setelah matang secara fisik dan psikis baru dinikahi itupun kalau ulfah tidak berubah pikiran he he he

  28. 🙂
    saya bukan penganut tarikat kok.
    dari dulu mpe skrg.
    komen saya di atas utk bung sufi muda,
    lha kok jd anda yg sewot?

    mau dibilang bijak atawa sesat, terserah.
    satu yg pasti, hidup saya dan hidup anda, bukan ditangan saya maupun anda dan bukan pula ditangan siapa2 ^^

  29. Postingan yg menarik :-).

    Sejarah spt ini tdk akan pernah sepi seiring perkembangan zaman.
    Hal tersebut berlaku baik bagi penempuh jalan tarekat maupun jalan pemahaman.
    Termasuk bagi penjelajah ilmu murni maupun disiplin ilmu terapan.
    Tentunya tdk dibatasi hanya bagi pemeluk agama, juga berlaku utk yg enggan bertuhan.
    Tak ada satupun yg dinafikan, karena semua adalah mahluk dan ciptaan.

    Berlaku juga bagi penziarah keselamatan abadi.
    Maupun para musafir dijalan kebenaran hakiki.
    Rintangan yg dihadapi, sangatlah sukar dan mendaki.
    Dengan jalan zahir maupun bathin, tak kenal lelah tanpa henti.
    Tidak ada yg mudah utk mendapat ketenangan hati.
    Dan tidak pula sulit bagi orang yg rela menjalani.
    Selebihnya hanya kemampuan membedakan mana yg asli dan imitasi.
    Tetapi tetap istiqamah utk tidak terjebak pada imitasi maupun yg asli.
    Jika memilih imitasi, maka binasalah diri.
    Silau pada yg asli, lalai menuhankan pribadi.
    Semuanya berpasangan, selalu ada dua sisi.
    Semua sama namun berbeda tapi satu jua, selalu silih berganti.
    Satu utk semua, semua utk berbeda, bersesuaian situasi dan kondisi.
    Dimanapun ada selalu meliputi, awal dan akhir tiada bertepi.
    Tak menyerupai sesuatu, kemanapun dicari tiada terwakili.

    Antara ada dan tiada, berdiri sendiri.
    Ruku dan sujud tanda berserah diri.
    Duduklah diri di dasar kursi.
    Keluarlah diri, bersemayam di hati.
    Bersatu hati, insan sejati.
    Hanya Dia yg kekal yg wajib diakui.
    kekasih abadi selalu menyerahkan diri.

    Ya Allah hanya Engkau yg kami Agungkan.
    Mummad itu KekasihMu, rahmat bagi alam sekalian.
    Tiada kata yg sanggup kami lukiskan
    Untaian mutiara hanya penanda syukur dan penyerahan.

    Darussalam 20 Nov 2008

  30. dng aisyah usia aisyah 9 th,tapi dihubungan intimnya pada waktu 11 th

  31. Mau download Ebook Sufi dan buku Ulama Klasik, silahkan kunjungi http://www.pustaka-sufi.blogspot.com semoga menjadikan kita menyadari khazanah islam Klasik yang sudah dilupakan kebanyakan umat manusia. Trims untuk admin Sufi Muda.

  32. sarung kutak kutak on said:

    pernah kepikir nga bagai mana beratnya hidup aisyah sepeninggal nabi…….. karena nga ada yang berani menikahi janda nabi .

  33. sarung kutak kutak on said:

    pernah kepikir nga bagai mana beratnya hidup aisyah sepeninggal nabi…….. karena nga ada yang berani menikahi janda nabi .

  34. Ping-balik: PESONA SYEKH PUJI « Gueanyun’s Blog

  35. Rasulallah saw. hidup 2 th sebagai janda setelah wafatnya Siti Khatijah bukan berarti menunjukan bahwa beliau saw. melarang orang poligami. Bukan hanya Rasulallah saw. saja yang mempunyai isteri lebih satu, banyak para sahabat, Tabi’in dan para ulama dari salaf dan khalaf mempunyai isteri lebih dari satu. Didalam syari’at itu dibolehkan selama mereka melakukan adil (dalam bidang materi) terhadap sesamanya dan tidak lebih dari empat isteri sekaligus. Allah swt.sendiri telah mengizinkannya : “…maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua,tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…” (QS [4]:3.

    Kita sebagai muslimin mengapa harus menentang ajaran Islam yang sudah nyata dan jelas dibolehkannya lelaki kawin lebih dari satu (bila dia bisa berlaku adil). Kita jangan ikut2an dengan ajaran kaum Nasrani yang melarang poligami malah melarang rahibnya untuk kawin!!

    Sedangkan hadits mengenai umur siti Aisyah waktu kawin dengan Nabi saw. itu memang diperselisihkan oleh para ulama.

    Yg lebih ngeri zaman sekarang ini baik di negara Barat maupun timur banyak gadis dibawa umur (10-14 th) telah hamil tanpa suami yg resmi, ayah kawin dengan anaknya, kakek kawin dengan cucunya dll. Inilah yang harus kita luruskan.

  36. kalau suami boleh jatuh cinta lagi., kalau istri kayak nya bisa juga jatuh cinta lagi, cuma nggak punya power …kasihaaan

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: