Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

NABI MUSA DAN PENGGEMBALA

Nabi Musa a.s. adalah satu-satunya Nabi yang mendapat sebutan kalimullah. Yakni yang diajak berbicara langsung oleh Allah SWT. Nabi Musa a.s. juga sering disebut-sebut  sebagai nabi yang sangat cerdas dan kuat secara fisik.

Suatu hari Nabi Musa a.s. sedang berjalan menyusuri lembah di sebuah kaki bukit. Nabi Musa a.s. sedang melakukan perjalanan menuju kota. Tapi tiba-tiba beliau menghentikan langkahnya, karena mendengar seorang pengembala. Orang itu telihat sedang asyik becakap-cakap. Nabi Musa a.s. heran karena orang itu bercakap-cakap sendiri. Tapi, yang membuat Nabi Musa a.s. lebih heran lagi, setelah beliau perhatikan si penggembala terlihat sedang asyik bercakap-cakap dengan seseorang. Tapi siapa orang yang diajak bicara?

“dimanakah Engkau, agar aku bisa menjahitkan pakaian-Mu. Aku dapat menambal kaos kaki-Mu. Aku bisa menyiapkan tempat tidur-Mu. Aku bisa menyemir sepatu-Mu. Dan agar bisa membuatkan susu hangat buat-Mu,” ujar si penggembala.

Nabi Musa a.s. kemudian mendekati orang itu dan bertanya kepadanya, “siapa yang sedang engkau ajak berbicara?”

“Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan yang menciptakan bumi dan langit. Tuhan yang menciptakan siang dan malam,“ jawab orang itu. Nabi Musa a.s. terperengah kaget. Beliau konan berang. Lalu beliau serta-merta marah dan berkata dengan suara tinggi, “Berani-beraninya engkau berkata dengan Tuhan seperti itu! Engkau sungguh telah melecehkan Tuhan! Sumpal ucapanmu. Dan jangan sekali-kali engkau berkata seperti itu lagi nanti Tuhan mengutuk semua orang di muka bumi ini karena dosamu.” Demkian kata Nabi Musa a.s.

Mendengar ucapan Nabi Musa a.s. orang itu seperti tersambar geledek. Dia terguncang dan hampir-hampir saja ambruk. Dia benar-benar ketakutan. Dia tidak pernah berpikir kalau ucapan yang tulus dari bagian hatinya yang paling dalam itu adalah sebuah penghinaan.

“Apakah kamu pikir Tuhan itu manusia? Sehingga butuh sepatu, pakaian, dan minum susu serta yang lainnya?”

Laki-laki itu hanya bisa menyangga dirinya sendiri. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Mulutnya tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.

“Tidak! Tuhan itu Maha Sempurna. Dia tidak membutuhkan apa pun!” jelas Nabi Musa a.s.

Laki-laki itu hanya mematung.

Nabi Musa kemudian meneruskan perjalanannya ke kota. Hati Nabi Musa a.s. merasa telah berhasil meluruskan orang yang berbuat salah kepada Allah SWT.

Setelah ditinggal Nabi Musa a.s., laki-laki itu menangis dan memohon ampun kepada Allah SWT. Dia pergi ke sebuah tempat yang sunyi dan terpencil di kaki bukit. Dia menangis dan menangis. Dia begitu menyesali perbuatannya. Perbuatan yang menurutnya lancang.

Setelah beberapa hari melakukan perjalanan dan Nabi Musa a.s. belum tiba di kota, Allah SWT menegur beliau, “Apa yang membuatmu harus mengusik ketenangan-Ku? Engkau telah menyakiti orang yang mencintai dan setia dengan-Ku.”

“Mengapa engkau pisahkan antara pecinta dan Yang Dicinta?”

“Apakah engkau lupa, kalau engkau diutus untuk menyatukan pencinta dan sang Kekasih? Bukan untuk menceraiberaikan!”

“Ingatlah, sesungguhnya orang yang terikat sopan-santun itu sama sekali tidak sama dengan orang yang diikat oleh cinta. Orang yang mencinta tidak mengetahui agama kecuali sang Kekasih itu sendiri,” Allah SWT berpesan.

Nabi Musa a.s. mendengarkan setiap kalam Allah SWT yang bernada teguran itu dengan penuh takzim. Beliau barulah menyadari kesalahannya.

Musa kemudian mencari orang yang ditemui di lembah. Nabi Musa a.s. begitu ketakutan dengan apa yang menimpa orang itu. Nabi Musa a.s mencemaskan kalau-kalau di mati bunuh diri karena perasaan bersalahnya. Nabi Musa a.s. ingin meminta maaf atas kelancangan dirinya dan menyampaikan pesan dari Allah SWT. Dan setelah pencarian yang lama, Nabi Musa a.s. berhasil menemukan orang itu. Ketika beliau mendekati orang itu, nabi Musa a.s. pun memohon maaf kepadanya. Orang itu kemudian menegakkan kepalanya memandangi Nabi Musa a.s.

‘Aku punya pesan penting untuk engkau,” kata Nabi Musa a.s. “Allah SWT telah berpesan kepadaku bahwa engkau bebas untuk berbicara apa saja dengan Tuhan-Mu. Tidak perlu lagi ada sopan santun. Engkau boleh berbicara apa saja dengan cara yang engkau sukai.”

Nabi Musa a.s. kemudian mengambil nafas. Laki-laki itu hanya terdiam.

“Dan aku minta maaf karena kebodohanku. Ternyata apa yang aku kira menghujat itu akidah dan cinta adalah yang dapat menyelamatkan dunia,” lanjut Nabi Musa a.s.

Tapi, Nabi Musa a.s. dibuatnya kaget. Kenapa? Orang itu katanya sudah berjanji kepada dirinya tidak akan berkata-kata apa pun.

“Aku telah lampaui tahap kata-kata dan kalimat. Aku tidak ingin mengatakan apa pun. Hatiku ini sudah tercerahkan. Aku tidak bisa mengatakan apa pun tentang perasaan  hatiku ini.”

Nabi Musa a.s. hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan orang itu. Orang itu kemudian mengambil langkah dan meninggalkan Nabi Musa a.s. pandangan Nabi Musa a.s. terus mengiringi setiap langkahnya hingga sosok orang itu menghilang.  

Penafsiran

Cerita diatas saya kutip dari Buku Seri Teladan Humor Sufistik, Karya Tasirun Sulaiman, Penerbit Erlangga, 2005.

Yang menarik dari cerita diatas betapa seorang nabi seperti Musa yang senantiasa berdialog dengan Tuhan terkadang bisa keliru memahami Bahasa Hati seorang Pecinta Ilahi, bisa salah mengartikan keakraban seorang yang dimabuk rindu dengan Tuhan.

Kalau lah nabi Musa pernah keliru memaknai bahasa cinta para Pecinta Ilahi, bagaimana dengan orang-orang zaman sekarang yang merasa dirinya alim hanya dengan membaca, bukankah akan lebih sulit lagi memaknai bahasa Para Pecinta? Bukankah lebih banyak lagi makian dan cacian yang terlontar dari mulut mereka kepada Para Pecinta? Bukankah akan lebih mudah lagi bagi mereka untuk menuduh Para Pecinta sebagai pembuatan bid’ah dan memberikan stempel “Aliran Sesat  kepada keyakinan mereka?

Terkadang sering kali kita merasa menjadi pembela agama, sehingga harus membentuk sebuah front untuk mengganyang orang-orang yang berseberangan dengan kita dengan dalih membela kebenaran, membela agama, padahal cuma membela kelompoknya, membela dirinya sendiri. Terkadang juga banyak orang  merasa menjadi pembela Tuhan, padahal ketika berniat membela Tuhan secara tidak langsung telah melenyapkan sifat Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Akbar dan mendudukkan Tuhan kepada posisi sebagai pesakitan dan tiada berdaya. Alangkah damainya hidup ini kalau kita lebih banyak  mengkoreksi diri sendiri dari pada sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Saya jadi teringat kata-kata bijak dari seorang penyair sufi Hamzah Fanshuri, “KEMBALI-LAH MENJADI DIRI, AGAR LEBIH BERARTI”. Salam Damai Selalu

Single Post Navigation

30 thoughts on “NABI MUSA DAN PENGGEMBALA

  1. salam
    Tuhan tak perlu pembelaan, seandainya di dunia ini sujud semua tak menambah keagungan-Nya pun seandainya ingkar semua tak mengurangi keagungan-Nya. yang terpenting mungkin selalu berusaha di jalan-Nya mencari pilihan dan keputusan yang sesuai dalm koridor ridho-Nya *halah sok tahu gw*

  2. Salam
    Sekedar saran anak muda, baiknya ga perlu dimoderasi..biar seruu..Peace akh 🙂

  3. sufimuda on said:

    oke 🙂

  4. Rindu Damai on said:

    makin seru aja…
    damai yuuk 😉

  5. 😮 Nabi Musa gak pernah baca sufimuda ya 🙂
    disufimuda ada tulisan TUHAN JUGA MANUSIA?
    hehehehe

  6. Aykal Alex on said:

    wah… total pengunjungnya udah 30.000 nih….
    udah pecah rekor nih sufi muda… :-))

  7. abahselatan on said:

    Bila cinta kepada Sang Kekasih hidup di dunia saja, kita rela berbuat apasaja., apalagi bila telah terasuk cinta kepada Tuhan yang Maha Dasyat, cinta yang dalam dari lubuk Qalbi, cinta dari sang pemuja kepada yang di CINTA.. tanpa di ketahui oleh orang lain yang terdekat dengan insan pemuja cinta…

    banyak orang mengakui cinta kepada Tuhan, dimana sebenarnya dia hanyalah seorang pendusta…..
    dan pendusta Tuhan lah sekarang yang dilindungan oleh orang-orang yang menganggap dia itu sebagai pembela agama… dan sebenarnya mereka telah tertipu oleh godaan fisik sang pendusta….

    salam cinta…cinta yang terdalam…

    abah

  8. aku mencintai MU tuhan ku
    ingin sekali aku mengucapkan itu, namun aku ragu, benarkah aku mencintaimu.

    Mohon SUFIMUDA berikan tips untuk dapat mencintai NYA…
    maksih
    🙂

  9. salam bang sufimuda

    bang sufimuda zaman skrg banyak orang yang mengaku telah beriman, sayang, cinta sama Tuhannya. tapi kok moralnya masih bobrok. makanya ngak salah bumi indnesia tercinta ini yang katanya kaya raya tapi rakyatnya banyak menderita …. dan bencana melanda dimana-mana..

  10. mencintai “Tuhan”, “TUHAN”, “tuhan”..??
    Hanya yang telah bersama Tuhan yang mengerti TUHAN
    Sufimuda pasti mau kasih tipsnya

    smurf juga ngak mengerti caranya.. Mohon Sufimuda beri arahannya 🙂

  11. moonlight on said:

    Cinta…
    adalah memberi..
    tak peduli, akankah DIA menerima atau menolak..
    tak peduli, akankah ia sampai pada NYA atau tidak..

    andai aku punya sesuatu untuk kuberi..

  12. sufimuda.I.Luv.You on said:

    ajariku mencintaiMU..
    ajariku menyayangiMU..
    ajariku merindukanMU..
    oh TUHAN ku…

  13. abahselatan on said:

    Gombal……. 😉

  14. 😀 awal-awal ya gombal
    kemudian……… gombal lagi
    kemudian……… gombal lagi dan akhirnya..

    cape’ ah

    lama-lama… 😉 abah pasti tahu jawabannya
    hehehehehe

  15. salam sejahtera bang sufimuda……
    kadang kita tidak tau apa yang tersirat dalam suratan
    yang sering kita sok tau tentang suratan yang tdk tersirat ……………….
    sehubungan dengan tulisan di atas kayaknya kalo kita hanya memakai fikiran belaka seperti jakasembung (alias tidak nyambung diotak)
    setelah diresapi rupanya menurut saya…..
    ampun_tuhan kalo salah, pancaran (sinyal, gelombang, frekwensi) apapun namanya selalu (eh…. pasti) ditangkap oleh yang NYA…………………
    tinggal effeknya bagi yang memancarkan sinyal ( +, -) dan yg pasti NUR dan ZAT YANG MAHA KUASA pasti tau dengan bahasa apapun.
    ampun_tuhan kalo salah

  16. hi hi
    dinda lupa ya
    kalo ragu berarti ada setan kan katanya?
    jadi ragu rupanya ya…

  17. rumit juga ya memahami cinta 😉

  18. sufimuda on said:

    cinta itu memang tidak bisa dipahami Mas Memet, tapi dirasakan, ah sampean ini macam gak pernah pacaran aja 😉

  19. sufimuda on said:

    Benar Mas Arif, yang tersirat aja kita bingung apalagi yang tersembunyi 🙂
    Bukankah firman Allah itu mengandung tidak makna:
    1. Tersurat
    2. Tersirat
    3. Tersembunyi

  20. Berarti yang dilakukan gembala itu betul ya?

  21. sufimuda on said:

    betul mas edi 🙂

  22. moonlight on said:

    abahselatan,
    org pacaran aja banyak gombalnya..
    tp kan gak semuanya gombal..
    pasti 1-2 ada jg yg keluar dengan sebenarnya dr hati eh qalbu yg paling dalam :-p

  23. 🙂
    i Love U..
    terima kasih SUFIMUDA…
    terimaksih buat saudara-saudara semua..
    Tiada daya dan upaya..
    Mohon safaat MU selalu
    agar hilang keraguan ini
    agar dapat diri ini menjadi pengembala Sang Pencinta

  24. Sufi muda

    terus..terus sebarkan dan sampaikan cerita2 ini..
    agar semua orang tahu
    agar semua orang mengerti
    arti damai dalam hidup

    love and peace

  25. kalo riwayat itu memang benar, itu syariat untuk umat nabi musa as. kaidah menyatakan assyar’u manqoblana laisasyar’un lana jadi pedoman kita haruslah ajaran yg dibawa oleh nabi muhammad saw. boleh saja mengambil hikmah dari kisah itu tetapi haruslah ditimbang dulu dgn syari’at untuk kita sbg umat muhammad saw.

  26. ajak-ajak on said:

    Ibarat kata orang jatuh cinta: Tahi kambing pun terasa coklat. Apalagi yang beneran coklat…
    Pokoknya semua adalah Dia dan untuk Dia.

    Jadi inget, Aku sama pacarku juga sering ngobrol pakai bahasa rahasia biar orang lain g ngerti. Bisa ga ya aku sama Tuhan janjian bikin bahasa rahasia yang cuma Kami berdua aja yang ngerti.

  27. yudistira on said:

    ============================================
    kalo riwayat itu memang benar, itu syariat untuk umat nabi musa as. kaidah menyatakan assyar’u manqoblana laisasyar’un lana jadi pedoman kita haruslah ajaran yg dibawa oleh nabi muhammad saw. boleh saja mengambil hikmah dari kisah itu tetapi haruslah ditimbang dulu dgn syari’at untuk kita sbg umat muhammad saw.
    ============================================

    maaf ya mas farid,
    sebenarnya mas ini agamanya apa ya……………………
    setahu kami nabi musa itu juga salah satu nabi nya orang islam.
    jadi menurut hemat kami ajaran yang disampaikan oleh nabi musa juga ajaran islam yang datangnya dari satu sumber yaitu ALLAH SWT.

  28. salam…!!

    apa tidaknya bagi bumi selagi bayangan manusia masih menyertai disetiap pergerakan semua kehidupan selagi berada dibawah sinar..matahari.

    melihat….tawa dan canda tersimpan derita dan tangis.
    sungguh
    apa jadinya bumi jika tidak ada seorang penjahat
    apa jadinya bumi jika tidak ada seorang polisi
    apa jadinya bumi jika tidak ada seorang fakir miskin dan yatim piatu.
    apa jadinya bui jika tidak ada orang bijak dan suka tolon-menolong.
    apa jadinya bumi jika tidak ada seorang pemimpin
    dan apa jadinya bumi jika tidak adanya bencana didalam bumi terncita ini.
    ……Hilang tiada rasa dan kehidupan…….

    salam…!!

  29. abu amatullah on said:

    Ana mau tanya, cerita diatas diriwayatkan siapa ya? Trus rawi2 nya bisa tolong disebutkan???….Kaya majalah bobo aja, cerita gak bersanad…

  30. Sangat Menarik Untuk di cerna lebih mendalam, Makasih akan saya kaji lebih jauh lagi mengenai kisah nabi musa dan pengembala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: