Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Bid’ah”

ORANG KAYA

Sejak menekuni tarekat sampai saat sekarang ini, hal menarik yang saya perhatikan di komunitas tarekat adalah mereka tidak pernah membahas pahala. Kebalikan dari kelompok-kelompok diluar tarekat yang sangat bersemangat mengejar pahala. Tidak mungkin anda menemukan orang-orang tarekat sibuk membahas pahala shalat subuh, pahala shalat tahajud apalagi pahala zikir. Kenapa demikian? Baca selengkapnya…

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Makna Bid’ah

Pernyataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid’ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid’ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur’an dan as-Sunah. Adapun maulid  walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur’an dan as-Sunah.

Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan as-Sunah.

Baca selengkapnya…

mari kita melakukan BID’AH!!!

Salah satu senjata ampuh dari golongan Wahabi untuk menyerang pemahaman diluar keyakinan mereka adalah dengan menggunakan sebuah kata…. BID’AH. Wahabi/Salafi merasa golongan paling benar dan paling berhak menafsirkan hukum-hukum Islam sehingga di awal munculnya mereka menolak mentah-mentah semua mazhab dari ahlul sunnah yang sudah begitu lama mengakar dalam masyarakat Islam. Walaupun Muhammad bin Abdul Wahab pendiri Wahabi berlatar belakang mazhab Hambali namun dia tidak pernah mengakui sebagai pengikut mazhab Hambali. Dia lebih senang menyebut diri sebagai “Mawahhid” orang-orang yang bertauhid.

Baca selengkapnya…

Hamba Baca, Hamba Syetan dan Hamba Tuhan (Bag-2)

Coba anda iseng bertanya  kepada anak kelas 1 SD, “berapa 3-5?” Pasti dia balas nanya, apa pertanyaannya gak salah tuch? “Maksudnya  5-3 ya?” Dan anda kembali mengajukan pertanyaan yang sama, “pertanyaannya sudah benar, tiga kurang lima”, dengan bingung anak SD itu mengamati jari nya, kemudian dia mengatakan kepada anda : “Mana mungkin bilangan kecil bisa mengurangi bilangan besar?” kemudian karena anda sudah SMP dan tahu perhitungan seperti itu dimana hasilnya adalah (-2) “negatif 2” kemudian anda memaksakan ilmu anda kepada anak SD, apa yang terjadi? Pasti sang anak SD tersebut akan menyalahkan anda, dan menuduh anda sebagai orang yang suka mengada-ngada, yang kalau dalam ilmu agama anda disebut sebagai pembuat pembuat bid’ah J

Siapa yang salah?

Baca selengkapnya…

Hamba Baca, Hamba Syetan dan Hamba Tuhan

Di dunia ini banyak orang merasa menjadi hamba Tuhan, kalau kita ke mesjid, biasanya ada papan pengumuman yang menampilkan nama-nama orang yang memberikan sumbangan untuk mesjid, kalau sumbangan dalam jumlah besar ditulis nama penyumbangnya, misalnya, dari “Haji Polan”, atau dari “Kiayi Anu”, akan tetapi kalau sumbangannya dibawah Rp. 50.000,- biasanya cukup menulis inisial, dari “Hamba Allah”. Karena malu sumbangannya kecil lantas dia bersembunyi dibalik nama “Hamba Allah”, rasanya gampang sekali orang mengaku jadi hamba Allah, apa benar seorang yang memberikan sumbangan dalam jumlah tertentu bisa secara otomatis menjadi hamba Allah? Atau Cuma pengakuan kita aja sementara Allah tidak mengakui kita sebagai hambanya? Pertanyaan ini perlu menjadi bahan renungan untuk kita semua, sesuatu yang terkadang tidak lagi menjadi perhatian karena sudah menjadi suatu kelaziman, lebih jauh saya coba memberikan pertanyaan yang lebih spesifik, “Sudahkah kita menjadi hamba Allah?”, apa kriteria seseorang itu bisa digolongkan sebagai Hamba Allah?.

Baca selengkapnya…

Post Navigation