-
Bangunlah Dari Mimpi! (1)
“Manusia di dunia ini sesungguhnya sedang tidur. Manakala mati, mereka bangun” Ali bin Abi Thalib Tuhan memberikan akal kepada manusia agar manusia mampu berfikir secara baik tentang alam dan ciptaan Tuhan sehingga bisa memberikan manfaat kepada manusia. Dengan akal manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Akal manusia dengan kemampuan yang begitu luar biasa mampu menyerap dan mengolah informasi sehingga menghasilkan hal-hal yang luar biasa.
-
Berdamai dengan Diri Melalui Thariqah Menuju Kedamaian Hakiki
Thariqah adalah pertama, untuk meningkatkan kedudukan atau maqamatil ‘ubudiyyah secara individu, sehingga sadar dan meningkatkan kesadaran apa saja kewajiban-kewajiban yang diperintah oleh Allah dalam meningkatkan taat kepada syari’atillah yang disertai khidmah (pengabdian) kepada Allah Ta’ala. Kedua, meningkatkan ketaatan dan khidmahnya kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang disertai mahabbah (cinta) kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ketiga, mengetahui dan mengerti thariqah sebagai pengantar menuju jalan Allah dan Rasul-Nya. Keempat, thariqah adalah menghasilkan buah bernama tasawwuf dalam rangka tashfiyatul quluub (membersihkan hati) wa tazkiyatun nufus (menyucikan jiwa). Penyakit hati diantaranya dengki atau hasad, sombong (takabbur), riya’, dan lupa kepada Allah serta lupa kepada Rasul-Nya. Sehingga, menyebabkan individu tidak mencapai maqamatil ihsan karena iman…
-
Tentang Kasyf-2
Kasyaf dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT. Hal itu ditekankan oleh Yusuf ibn Ismail An-Nabhani dalam karya monumentalnya berjudul “Jami’ Karamat Al-Auliya”. Dalam kitab yang memuat biografi 695 wali (di luar wali-wali yang muncul di Asia Tenggara) itu, terlihat jelas betapa para wali rata-rata memiliki kemampuan untuk menggapai mukasyafah. Termasuk di dalamnya Imam Ghazali, Ibnu Arabi, dan Imam Syafi’i. Bentuk kasyafnya bermacam-macam. Sesuai kondisi objektif kehidupan para wali tersebut. Rasulullah SAW juga pernah menegaskan, “Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak mengajak kalian untuk banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.”
-
Tentang Kasyf-1
Tanggal 13 Mei Tahun 2009 yang lalu saya pernah menulis tetang salah satu ilmu yang penting dalam tarekat yaitu Kasyf. Menurut bahasa, kasyf berarti terbuka atau tidak tertutup. Untuk Lebih jelas uraian tentang kasyf bisa anda baca disini. Berikut adalah tulisan yang ditulis oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah/Wakil Menteri Agama. Beliau bukan hanya orang yang memahami tasawuf secara taori tapi juga sebagai pengamal, silahkan di baca…
-
Sufi Kaya-2
Kehidupan Nabi yang begitu sederhana, kehidupan sahabat yang begitu bersahaja dan kehidupan para sufi yang faqir tercatat dalam sejarah mengikuti gaya hidup Nabi dan para sahabat, lalu apakah menjadi seorang sufi harus fakir, miskin dan melarat?. Sufi adalah orang yang tidak akan pernah bisa dikenal di zamannya, tidak akan pernah diketahui identitasnya kecuali oleh orang sejenis dengan mereka.
-
Sufi Kaya
Rasulullah saw dalam kehidupan Beliau tercatat sebagai orang yang hidup sederhana, bahkan cenderung kepada kehidupan kaum fakir. Beliau tidak menyukai kemewahan dan itulah jalan hidup yang dipilih oleh Rasul yang kemudian di contoh oleh para sahabat dan orang-orang shaleh pada generasi selanjutnya. Nabi dengan posisi sebagai kepala negara dan juga jenderal yang membawahi sekian banyak prajurit, akan sangat mudah bagi Beliau untuk hidup mewah dengan segala fasilitas yang bisa Beliau peroleh. Namun Beliau telah memilih kesederhanaan sebagai pilihan hidup, sesuai dengan doa Beliau ketika diberikan pilihan apakah menjadi seorang Nabi yang Raja atau sebagai Nabi yang hamba, Rasulullah memilih menjadi Nabi yang hamba.
-
Menguak Kembali Definisi Tasawuf
Dalam sejarah perkembangan nya, Sufi dan Tasawuf beriringan. Beberapa sumber dari kitab-kitab yang berkait dengan sejarah Tasawuf memunculkan berbagai definisi. Definisi ini pun juga berkait dengan para tokoh Sufi setiap zaman, disamping pertumbuhan akademi Islam ketika itu. Namun Reinold Nicholson, salah satu guru para orientalis, membuat telaah yang terlalu empirik dan sosiologik mengenai Tasawuf atau Sufi ini, sehingga definisinya menjadi sangat historik, dan terjebak oleh paradigma akademik-filosufis. Pandangan Nicolson tentu diikuti oleh para orientalis berikutnya yang mencoba menyibak khazanah esoterisme dalam dunia Islam, seperti J Arbery, atau pun Louis Massignon. Walaupun sejumlah penelitian mereka harus diakui cukup berharga untuk menyibak sisi lain yang selama ini terpendam.