Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Sufi Kaya


Rasulullah saw dalam kehidupan Beliau tercatat sebagai orang yang hidup sederhana, bahkan cenderung kepada kehidupan kaum fakir. Beliau tidak menyukai kemewahan dan itulah jalan hidup yang dipilih oleh Rasul yang kemudian di contoh oleh para sahabat dan orang-orang shaleh pada generasi selanjutnya. Nabi dengan posisi sebagai kepala negara dan juga jenderal yang membawahi sekian banyak prajurit, akan sangat mudah bagi Beliau untuk hidup mewah dengan segala fasilitas yang bisa Beliau peroleh. Namun Beliau telah memilih kesederhanaan sebagai pilihan hidup, sesuai dengan doa Beliau ketika diberikan pilihan apakah menjadi seorang Nabi yang Raja atau sebagai Nabi yang hamba, Rasulullah memilih menjadi Nabi yang hamba.


Pilihan hidup Nabi tersebut menginspirasi kehidupan para sahabat, sejarah menceritakan kepada kita bagaimana luar biasa sederhana gaya hidup Umar bin Khatab, di saat kekuasaan Islam di zamannya sudah demikian besar, Umar tetap menjadi sosok yang sangat sederhana. Para sufi berasal dari Ahlul Suffah yaitu para sahabat yang tinggal dan mengabdi di mesjid Nabi, hidup dengan penuh kesederhanaan, ikhlas beribadah dan tidak memikirkan duniawi kemudian meneruskan gradisi ini kepada generasi selanjutnya.


Kalau para peneliti orientalis menyimpulkan bahwa kaum sufi muncul dan terbentuk akibat kekecewaan ummat terhadap gaya hidup mewah dari kekhalifahan Islam dinasti umayyah tidak sepenuhnya benar. Kondisi itu hanya menyuburkan komunitas sufi, orang-orang yang rindu akan kesederhaan hidup Rasul yang zuhud kemudian bergabung dalam komunitas sufi sehingga semakin lama semakin besar dan tersebar ke seluruh dunia. Jauh sebelum Bani Umayyah hidup dengan gaya kekaisaran, jauh dari nilai-nilai Islam, sejak zaman Nabi sufi sudah ada dan mendapat perhatian istimewa dari Nabi. Tradisi hidup dan mengabdi sahabat yang berjumlah lebih kurang 40 orang itu kemudian di teruskan sampai zaman sekarang, ada sekian orang yang mengabdikan hidupnya kepada Guru Mursyid, tinggal bersama Guru, membantu dan menimba ilmu langsung dari Guru dan kemudian mengaplikasikan dalam kehidupannya.


Ahlul Suffah mendapat perhatian istimewa dari Nabi, mereka mengetahui ilmu langsung dari Nabi karena kehidupan mereka sepenuhnya diberikan kepada Nabi. Anas bin Malik menceritakan kalau mereka dipanggil oleh Nabi, mereka berlari memenuhi panggilan Nabi. Ciri khas pengabdian dari Ahlul Suffah itu masih bisa kita temui sampai saat ini, di surau-surau, di alkah-alkah zikir, di zawiyah, di pasantren dan lain-lain. Lewat tulisan ini saya menitipkan salam penuh kasih kepada para sahabat yang masih tekun belajar, mengabdikan hidup untuk membesarkan nama-Nya, hanya dengan cara itu kita akan mengerti hakikat Ikhlas dan hakikat Ilmu.


Pertanyaan yang harus terjawab adalah, apakah untuk mengerti hakikat Tuhan dan untuk menjadi seorang sufi harus hidup fakir dan melarat?


Bersambung…

Single Post Navigation

One thought on “Sufi Kaya

  1. Candra on said:

    Pertanyaan Yang Terakhir sangat menarik untuk direnungi.

    Ditunggu kelanjutanya Ab.SM:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: