MOOD, ISTIQAMAH dan AHIMSA

Abuyazid al Bisthami setiap malam membaca al-Qur’an dengan cara teramat unik, kaki di ikat di atas sementara kepala tergantung kebawah. Al-Qur’an di baca tanpa henti sampai darah keluar dari matanya, Ketika darah keluar barulah di berhenti membaca Qur’an. Abu Yazid telah hapal al Qur’an sejak umur 10 tahun dan kemudian melanjutkan cara membaca al quran seperti di atas, bukan lagi untuk menguatkan hapalannya tapi sebagai bentuk mujahadah, melawan dirinya sendiri.
Rabi’ah al-Adawiyah konon kabarnya shalat malam sampai 400 rakaat, tidak peduli dalam kondisi apapun dan seorang sufi lain melaksanakan shalat 200 rakaat diatas salju, sebuah tindakan aneh dalam pandangan awam, Tindakan berlebih-lebihan jika yang menilainya adalah kelompok di akhir zaman ini yang malas ibadah kemudian melegalkan malasnya lewat “sunnah”, hanya melaksanakan ibadah yang pernah Nabi kerjakan (itu pun menurut versi mereka).
Syekh Nazim al-Haqqani konon kabarnya melaksanakan suluk selama 6 bulan tanpa henti, tidak berjumpa dengan istri yang baru dinikahinya, makan sekedar sampai Beliau sangat kurus. Pernah juga seorang Syekh selama 6 bulan zikir dalam kondisi tidak pernah melihat cahaya matahari, hanya dalam kegelapan, ditemani sebatang lilin saja.
3 contoh ahli ibadah yang telah keluar dari kelaziman orang awam dan menjadi ahli zikir diatas tidak cocok di diskusikan kepada kelompok yang memang malas beribadah kemudian mencari dalil hanya amalan yang mudah-mudah saja, amalan berat akan dimasukkan kepada kategori Bid’ah.
Apa yang kami sampaikan di atas bentuk mujahadah atau melatih kedisiplinan diri agar bisa melewati batas kemalasan manusia yang cenderung mengajak kita kepada kemungkaran dan dosa yang dimurkai oleh Allah. Disiplin bukan hanya di dalam dunia sufi tapi berlaku secara umum. Orang yang tidak mampu mendisiplinkan diri akan menjadi orang kebanyakan, diombang ambing oleh derasnya arus dunia.
Kita sering mendengar orang mengeluh, memberikan alasan tidak melakukan sesuatu, “Saya lagi tidak mood”, atau “Saya hanya bisa melakukan A kalau mood saya bagus”. Orang-orang yang sering menjadikan mood sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu maka bisa dipastikan orang tersebut tidak akan sukses, bahasa halusnya menjadi orang kebanyakan.
Disiplin awalnya kita pandang sebagai sesuatu yang mengikat, membuat kita tidak bebas. Tapi jika disiplin itu sudah kita lakukan justru kita menjadi orang yang bebas melakukan apa saja. Orang yang dari kecil melatih keahlian gitar misalnya, dia akan bebas berkarya dikemudian hari tanpa dihalangi oleh ketidakmampuan dia dalam bergitar. Orang yang rajin menempuh Pendidikan akan merasakan manfaatnya dikemudian hari, dia bisa memilih berkarir dimana saja, dan membuat dia sukses karena memang dari awal sudah disiplin.
Salah satu kendala terbesar dihadapi oleh bangsa ini adalah system kita memungkinkan orang tidak professional menduduki posisi penting, menjadi pemimpin utama dan “penyakit” dari si pemimpin itu ditularkan kepada bawahannya. Orang yang tidak mempunyai kemampuan memimpin namun karena memimiliki uang (lebih parah di sponsori oleh orang lain) menjadi kepala daerah misalnya, maka bisa dibayangkan betapa tersiksa dia menduduki posisi yang seharusnya di duduki oleh orang yang telah terlatih, mahir dan telah melewati disiplin diri bertahun tahun.
Untuk bisa mencapai kesuksesan duniawi diperlukan sebuah disiplin untuk mencapainya, maka untuk bisa mencapai Kebebasan Diri, bisa beserta dengan Yang Maha Mutlak diperlukan disiplin yang lebih besar lagi. Maka orang Sufi menyebutnya sebagai MUJAHADAH (Jihad Tanpa Henti) sepanjang hidup dia berlatih terus sehingga menjadi mahir. Orang yang telah disiplin di dunia ini dibawah bimbingan Mursyid akan dengan mudah menyeberangi alam berikutnya yang lebih berat lagi, dia sudah terbiasa melakukkan semasa hidup di alam dunia.
Atas alasan itu pula kenapa setiap murid yang menempuh jalan kepada Allah (Tareqatullah) di beri tugas atas PR dalam jumlah zikir tertentu, untuk melatih kedisiplinan dia. Seorang yang sudah terlatih disiplin dalam zikir akan terlatih disiplin pula di dalam kehidupan dunia, hubungan keduanya adalah Paralel, terhubung. Orang yang sukses di dalam berguru sudah pasti akan sukses pula hidup di alam dunia ini.
Junjungan kita Nabi Muhammad SAW juga merupakan orang sangat disiplin, dalam usia 25 tahun Beliau sudah menamatkan seluruh amalan para Nabi sebelumnya, sangat disiplin dalam ibadah dan senantiasa berkhalwat, mengasingkan diri dalam waktu tertentu dari hiruk pikuk dunia. Karena sangat ahli dalam ibadah, Beliau kelak bisa menyelesaikan segala persoalan dengan keahlian tersebut, secara spiritual hal yang tidak banyak diketahui orang terutama musuh-musuh Beliau. Orang hanya tahu Nabi memenangkan setiap pertempuran karena pasukannya disiplin dan terlatih tapi orang tidak mengetahui kekuatan doa Nabi dan cara memperoleh kekuatan tersebut.
Nabi SAW pernah tersenyum kepada menantunya Sayyidina Ali yang sangat bersemangat untuk berjihad, menghancurkan musuh di medan perang. “Ali”, kata Nabi, “Musuh yang kau kalahkan itu telah terlebih dahulu dikalahkan oleh Abu Bakar”. Ali maju ke medan perang secara fisik sementara musuh itu telah terlebih dulu dihancurkan oleh Abu Bakar dengan zikirnya.
“Apa yang kalian lihat ini adalah hasil olah spiritual-ku bertahun-tahun” demikian ucapan Mahatma Gandhi terhadap keheranan orang kenapa bisa India merdeka dari Inggris, negara adikuasa, padahal Gandhi hanya melakukan hal sangat sederhana yang siapapun bisa melakukannya. Orang tidak mengatahui apa yang telah Gandhi lakukan bertahun-tahun sebelum Gerakan Ahimsa dimulai.
Ahimsa merupakan gerakan anti-kekerasan atau yang sebelumnya disebut sebagai non-violence. Ahimsa sebagaimana diajarkan dalam Bhagawad Gita, merupakan sikap untuk tetap melawan kejahatan namun dengan pertimbangan atas penghargaan hak asasi. Gerakan ini berupaya untuk menyebarkan kebaikan dan perdamaian pada seluruh manusia, terlepas identitasnya.
Ahimsa akan sia-sia jika itu hanyalah gerakan fisik semata tanpa diiringi oleh spiritualnya Gandhi sebagaimana juga jihad Nabi Muhammad SAW hanya menjadi perang dengan kekerasan jika tanpa di iringi dengan spiritual Nabi. Tulisan ini tidak untuk menyandingkan ajaran Hindu dengan ajaran Islam, tidak pula mencampur-adukan keduanya.
Tulisan ini untuk menyadarkan kita semua bahwa setiap gerak ada energi yang menyertai dan tidak ada energi yang terjadi dengan tiba-tiba, semua ada proses. Orang terkadang hanya melihat Zahir tanpa bisa menyelami bathin.
2 Comments
Humas MAS MAS Ainul Amin Tebing tinggi
MASYA ALLAH
Adi___☆
Masya allah