Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

KITA PERLU KEINDAHAN

Syekh Said Bonjol baru selesai tawajuh zuhur, duduk santai dengan Syekh Kadirun Yahya diteras surau sederhana. Syekh Said Bonjol berkata, “Inilah kehidupan saya, di depan sawah, diujungnya ada gunung, kadang saya berfikir apa Allah Ta’ala sudah lupa menjemput saya”. DI usia yang mendekati 120 tahun, tentu sambil bercanda disebutkan jangan-jangan Allah sudah melupakan saya, sudah lupa mencabut nyawa saya, begitulah candaan Beliau. Suatu saat Syekh Kadirun Yahya menceritakan kepada muridnya dalam sebuah acara, “Baru kali ini Ayah dengar ada Auliya berkata bahwa Allah memiliki sifat Lupa”, Beliau tertawa dan murid yang mendengar pun tertawa.

Syekh Said Bonjol tidak pernah mengharapkan berumur panjang meskipun Beliau tahu para sufi itu banyak berumur panjang termasuk Guru Beliau sendiri yang berumur 150 tahun yaitu Syekh Ibrahim Kumpulan, teman seperjuangan Imam Bonjol dalam perang Paderi, namun hidup sampai memasuki tahun 1900-an.

Para motivator mengajarkan kita bahwa hidup bisa kita desain sendiri, manusia memiliki kehendak bebas, Tuhan hanya meng-iyakan apa yang telah kita pilih. Para ahli hypnoterapy juga membisikkan ke telinga kita bahwa alam bawah sadar mempengaruhi 95% tindakan manusia, artinya hanya 5% alam sadar berperan membentuk kehidupan. Jika alam bawah sadar (mindset) tidak dibenahi maka kehidupan kita akan ditentukan oleh mindset lama, tidak berubah. Kemudian hari para ahli kesadaran memberikan nasehat bahwa kehidupan kita tidak akan menjadi baik selama kita tidak bisa melampaui diri sendiri, dan angka-angka kesadaran pun muncul dan berusaha dicapai oleh orang yang mempercayainya. Harus non dualitas katanya agar bisa berdamai dengan diri dan diri pun dibagi lagi yang kalau kita bahas detail nya maka tulisan ini berubah judul nanti jadi Kesadaran dan pembacanya menjadi orang-orang tidak sadar semua.

Para Motivator, Ahli Hynoterapy dan Ahli Kesadaran diperlukan oleh para penggemarnya dan orang-orang yang sedang gandrung disana. Maka dunia yang luas ini memiliki kamar-kamar atau sekat-sekat yang dihuni oleh orang dengan kesenangan berbeda. Tidak bisa kita paksa satu pemahaman kepada orang lain, meskipun itu kita anggap sangat multak benarnya.

Kaum sufi seperti Syekh Said Bonjol tidak pernah berjumpa dengan motivator, tidak pernah berusaha menghipnosis dirinya dimasa lalu untuk menjadi lebih baik di masa depan, juga tidak sibuk dengan angka-angka kesadaran, tapi begitu bahagia hidupnya sampai di usia tua sampai dia merasa Allah sudah begitu baik memberikan anugerah umur, diberikan hidup berlanjut diterima, andai dipanggil juga diterima dengan bahagia.

Sufi itu punya aturan sendiri, kamar sendiri yang begitu khas, dimasukkan paham dari luar akan membuatnya menjadi rusak, nampak baik di awal namun hancur pada akhirnya. Bagaimana kita mengajarkan suatu kesadaran kepada orang yang telah berada di alam atas sadar, hidup sepenuhnya indah bersama Tuhannya. Motivasi apa yang diperlukan oleh Rabi’ah al-Adawiyah sang Sufi perempuan jika keinginan menikah pun tidak lagi membuat dia termotivasi, hanya larut dalam cinta kepada Tuhannya. Ahli hypnoterapi apa yang diperlukan oleh Mansur AL-Hallaj jika hidup dan mati sama bagi dia, dia sudah bisa memandang dunia ini dalam pandangan Tuhan, tidak memilik harga sama sekali.

Belajar ilmu-ilmu memperbaiki diri yang di impor dari luar dengan nama berbagai jenis itu seperti anak-anak menonton film action, meniru seolah-olah menjadi pendekar, padahal tidak pernah nyata. Laksana melihat fatamorgana di sahara yang disangka sungai bening. Ketika matahari tenggelam, sungai bening itupun berubah kembali menjadi padang pasir yang tandus, itulah fatamorgana.

Kita memerlukan ilmu pengetahuan untuk menjadi diri lebih baik namun kita lebih memerlukan lagi keindahan agar hidup bisa lebih dinikmati dan bahagia. Kita tidak akan pernah bisa bangga kepada Islam jika melihatnya dari sudut pandang sejarah apa adanya. Kita akan terkejut jika tahu fakta tentang kematian anak perempuan Nabi yang begitu disayang Beliau, kisah yang tidak pernah diceritakan di mimbar mesjid. Pembunuhan para sahabat Nabi dan terus berlanjut sepanjang sejarah Islam. Maka Islam selalu dilihat sudut pandang Indah untuk merawat rasa kagum karena Islam memang indah, hanya rusak oleh para pengamalnya.

Jika Islam dipelajari secara tekstual, hanya menyerap ilmu tanpa masuk unsur iman di dalam maka Islam tidak indah, hanya menjadi ilmu saja. Itulah yang dirasakan oleh kaum orientalis dan juga Liberalis, Islam tidak indah.

Bulan tidak akan bisa dinikmati meski saat purnama sekalipun jika kita melihat dengan detail menggunakan teleskop. Kita akan terganggu kepada kenyataan bahwa bulan yang indah itu hanya tumpukan gunung batu dan pasir.

Maka hidup pun terkadang menjadi tidak indah jika sudut pandang terlalu detail, terlalu lengkap sehingga kita ingin tahu segala hal tentang misteri di dalam diri kita, di alam ini.

Hidup akan begitu bermakna dan mengalir ketika kita telah mengenal Allah, merasakan kehadiran-Nya dalam setiap kehidupan, itulah hakikat hidup.

Gejolak dan gelombang yang kita alami selama masih berada di dalam kapal tetap itu merupakan keindahan, tidak perlu tahu seberapa tinggi ombak, kita hanya menikmati saja di dalam kapal, itulah keindahan.

Di akhir pertemuan Syekh Said Bonjol menatap Syekh Kadirun Yahya dengan tersenyum dan mereka sama-sama tersenyum. Syekh yang satu adalah seorang profesor, Dokter, Jenderal dan ahli banyak hal, sedangkan syekh satu lagi tidak pernah menyelesaikan pendidikan dasar pun. Keduanya hidup di zaman berbeda, dibimbing oleh Guru berbeda namun memiliki spirit yang sama.

Mereka berbicara hal-hal sederhana dan senyum keduanya memancarkan vibrasi yang luar biasa ke alam ini. Syekh Said Bonjol tidak pernah belajar fisika kuantum tapi energi yang dimiliki Beliau begitu luar biasa sehingga rutin Syekh Kadirun Yahya berkunjung kepada Beliau. Mereka disatukan oleh hal sangat sederhana yaitu Spirit Keihlasan, Spirit Tuhan.

Keduanya bersepakat bahwa ditengah dunia yang rumit ini, kita perlu keindahan. Terkadang memang tidak harus kita tahu berapa deras air laut, berapa kecepatan angin dan unsur apa saja yang terkandung di pasir, kita hanya perlu meluruskan kaki dipasir menikmati indahnya laut karena kita memang memerlukan keindahan bukan kerumitan.

Single Post Navigation

2 thoughts on “KITA PERLU KEINDAHAN

  1. Ping-balik: KITA PERLU KEINDAHAN – SUFIMUDA_37

  2. Kren Abangku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: