Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Zuhud Dalam Pandangan Imam Ja’far Ash-Shadiq

Saya sudah pernah menulis tentang zuhud disini dan anda bisa membaca kembali dengan cara mengetik kata “zuhud” di kolom pencarian. Pada kesempatan ini kami ingin mengutip pendapat seorang ulama besar dalam bidang fiqih (Guru Imam Hanafi dan Imam Malik) dan tasawuf, menjadi imam para sufi di zamannya serta menjadi pangkal bertemunya silsilah beberapa tarekat yang berkembang saat ini, Beliau adalah Imam Ja’far ash-Shadiq.

Di zaman Imam Ja’far ash-Shadiq hidup pula seorang yang mempunyai keahlian yang sama dalam bidang fiqih dan tasawuf yaitu Sufyan As-Tsauri. Keduanya dikenal sebagai ahli fiqih dan sekaligus ahli makrifat. Keduanya  dikenal sebagai pendiri mazhab fiqih besar di zamannya; tetapi dalam perkembangan zaman, fiqihnya kalah populer dengan fiqih-fiqih yang lain, sehingga mazhab fiqih nya tidak kita kenal sampai saat ini.

Pada suatu hari Sufyan As-Tsauri mendatangi Imam Ja’far Al-Shadiq dan di dapatinya Imam Ja’far dalam pakaian yang indah gemerlap, hingga tampak bagi As-Tsauri sangat mewah. Ia merasa, Imam yang terkenal sangat salih dan zahid, tidak pantas untuk memakai pakaian seperti itu. Ia berkata, “Busana ini bukanlah pakaianmu!”. Imam Ja’far ash-Shadiq menimpali ucapan As-Tsauri dengan berkata, “Dengarkan aku dan simak apa yang akan aku katakan padamu. Apa yang akan aku ucapkan ini, baik bagimu sekarang dan pada waktu yang akan datang, jika kamu ingin mati dalam sunnah dan kebenaran, dan bukan mati di atas bid’ah. Aku beritakan padamu, bahwa Rasulullah saw hidup pada zaman yang sangat miskin. Ketika kemudian zaman berubah dan dunia datang, orang yang paling berhak untuk memanfaatkannya adalah orang-orang salih, bukan orang-orang yang durhaka; orang-orang mukmin, bukan orang-orang munafik; orang-orang Islamnya bukan orang-orang kafirnya. Apa yang akan kau ingkari, hai As-Tsauri? Demi Allah, walaupun kamu lihat aku dalam keadaan seperti ini sejak pagi hingga sore, jika dalam hartaku ada hak yang harus aku berikan pada tempatnya, pastilah aku sudah memberikannya semata-mata karena Allah.”

Sufyan As-Tsauri, bisa dibilang, mewakili pandangan sekelompok orang yang meyakini bahwa kesucian harus dicapai dengan mengorbankan segala-galanya, meninggalkan pekerjaan, memberikan seluruh harta, meninggalkan keluarga, mengasingkan diri, dan menjauhkan diri dari dunia. Konon, karena cinta dunia itu sumber segala kejahatan, akhirnya mereka memilih untuk membenci dunia.

Mujahadah dan Riyadhah gaya Sufyan As-Tsauri, tidak bisa dibilang salah, karena memang ada segolongan orang yang karena “kondisi tertentu harus menjalani model itu”, tetapi tidak dapat diterapkan sepenuhnya kepada semua orang, karena jika demikian, siapakah di antara kita yang harus membayar zakat, melakukan ibadah haji, mengurus orang yang lemah, membiayai pendidikan, melakukan penelitian ilmiah dan sebagainya ?, hanya melihat kehidupan tasawuf model ini, bisa melahirkan pendapat yang keliru dalam memandang tasawuf dan kehidupan Sufi yang oleh sebagian penentangnya, diidentikkan dengan kemiskinan, kelusuhan, dan bahkan kekotoran. Bisa bisa membuat orang takut belajar tasawuf dan menjalani kehidupan sufi karena kuatir menjadi miskin.

Imam Ja’far menunjukkan dengan argumentasi yang sangat fasih, bahwa tasawuf sejati tidak demikian. Ia menjelaskan bahwa kemiskinan yang disamakan dengan kesalihan berasal dari kekeliruan dalam memahami Al-Quran dan hadis. Tasawuf sejati bukan tidak memiliki dunia tetapi tidak dimiliki dunia. Sufi bukan berarti tidak mempunyai apa-apa, tetapi tidak dipunyai apa-apa.( Laisa Zuhud bian La tamlika Syaian , Innama Zuhud an laa yamlikaka dzalikas syaik), seperti hal ini ditegaskan oleh Imam Abil Hasan Ali Assadzili.

Kami simpulkan, apa yang dilakoni oleh Sufyan As-Tsuri adalah tahap mujahadah, meninggalkan segala kemelekatan agar mudah mencapai tujuan sedangkan apa yang ditampilkan oleh Imam Ja’far As-Shadiq adalah kelanjutan dari mujahadah, hal yang lebih berat lagi yaitu ketika Allah memberikan kekayaan dan kemakmuran tidak membuat kita lalai di dalam mengingat-Nya.

Single Post Navigation

One thought on “Zuhud Dalam Pandangan Imam Ja’far Ash-Shadiq

  1. Rani maharrani on said:

    Atas kuasa Allah saya bisa menerangkan bahwa org sufi sudah ada sejak jaman nabi.bani.israel.dan di jaman muhammad saw saya akui jikir org sufi dan khawat mereka SEPERTI yg di lakukan NABI di gua hira itulah marifat yg SEBAGIAN org tdk.paham bahkan byk yg bilang org sufi.mengada ada karena hanya SEBAGIAN AYAT yg mereka amalan jadi.tdk.paham dgn ILMU HAKEKAT yg sebenarnya wajib di lakukan.semua ada dlm.alquran hanya tertutup BATIN maka tdk bisa paham juga contoh dlm Al JIN 16 tareqat itu jln yg lurus dan syareat itu DASAR.

Tinggalkan Balasan ke Rani maharrani Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: