Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

HOAX (Bag. 2)

Objek hoax bisa bermacam-macam dan akhir-akhir ini kita merasa terganggu dengan isu penculikan anak untuk diambil ginjal atau organ penting lainnya. Informasi ini sedemikian cepat tersebar tanpa memberi kesempatan kepada kita untuk menelusuri kebenarannya. Ketika menerima hoax apalagi menyangkut hal-hal sangat penting seperti keselamatan diri dan keluarga, akal sehat tidak bisa bekerja normal, maka akal “reptil” lah yang bekerja merespon.

Otak manusia tersusun dari 4 jenis, salah satunya Brainstem (Batang Otak). Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.

Batang otak dijumpai juga pada hewan seperti kadal dan buaya. Oleh karena itu, batang otak sering juga disebut dengan otak reptil. Otak reptil mengatur “perasaan teritorial” sebagai insting primitif. Contohnya anda akan merasa tidak nyaman atau terancam ketika orang yang tidak Anda kenal terlalu dekat dengan anda. (aktivasiotak).

Kalau anda dipukul orang, maka secara reflek anda akan menghindar, begitu juga ketika anda dilempar dengan tiba-tiba, secara cepat anda menghindar, itulah kerja otak reptil, untuk memberikan perlindungan kepada manusia.

Sama halnya ketika masuk informasi yang anda anggap berbahaya, termasuk hoax di media sosial, otak reptil terlebih dulu merespon. Tanpa sadar informasi itu anda terima menjadi sebuah kebenaran dan langsung anda bagikan kepada orang lain sebagaimana anda menghindari lemparan atau pukulan secara fisik.

Disamping otak reptil sebagai sebuah system kerja otak juga terdapat Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Carl Gustav Jung  menyebutnya sebagai “Alam Bawah Sadar” atau ketidaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang dan perilaku tulus lainnya.

Alam bawah sadar sangat mudah dipengaruhi oleh informasi yang diterima oleh otak. Kalau anda terus menerus mengisi alam bawah sadar anda dengan informasi negatif maka hasil kerja fikiran serta badan ada menjadi negatif, dan itu tidak anda sadari sama sekali.

Kabar buruknya lagi bahwa alam bawah sadar tidak bisa membedakan mana nyata mana fiktif. Manakala informasi penculikan anak anda baca dan yakini maka itu direspon oleh alam bawah sadar sebagai sesuatu yang nyata. Hukum Ketertarikan “Law of Attraction” akan bekerja dengan kuat, menarik hal-hal tentang penculikan itu ke dekat anda akhirnya nanti anda benar-benar mengalami seperti informasi yang anda terima.

Salah satu dari 24 hukum alam (Law of Universe) adalah Hukum Tabur-Tuai. Kalau anda menanam sebutir padi, maka sesuai hukum Tabur-Tuai, anda akan mendapatkan puluhan bahkan ratusan butir padi, begitu hebat alam ini bekerja untuk kemakmuran manusia. Alam tidak mengenal baik dan buruk, anda mendapatkan apapun yang anda tanam. Kalau anda menanam sebutir biji ganja, maka anda akan memanen ratusan biji ganja pula. Alam tidak mendifinisikan tanaman ganja sebagai sesuatu yang terlarang, apapun yang anda tanam akan tumbuh dan menghasilkan.

Kami sambung lagi nanti malam…

Single Post Navigation

4 thoughts on “HOAX (Bag. 2)

  1. Dalam istilah lain, mungkin tidak semua hal yg engkau lihat benar apa tak lagi cuman mendengarkan. Saya betul-betul berharap semoga bahasa media bisa dipahami, hari ini siapa yg tdk menginginkan pemberitaannya menjadi laris manis. Kedua penyuguhan berita yg sejenis ini membuat orang-orang semakin ketakutan & semakin tertutup terhadap org lain. Kalaupun benar-benar terjadi cukup org tertentu yg tahu! Bukankah anak2 & org tua akan semakin paranoid dgn berita semacam ini???

  2. Abangda, tulisan yg menarik sekali… Saya kebetulan sedang menyimak tentang neuro science dan tiba tiba Abang membahas otak manusia…seolah Abang tau apa sedang saya pikirkan… 🙂

    Pendapat ilmuan ttg otak ini seperti membalikkan persepsi yg umum dipahami bahwa otak itu beda dg hati. Akal berhubungan dg proses otak dan hati kaitan nya dg perasaan/ emosi.
    Tetapi ternyata semua itu diproses di dalam otak dan bukan di dalam hati.
    Kata hati sendiri mungkin agak rancu, apakah itu organ hati (liver) atau jantung (heart). Atau mengacu pada istilah dalam bahasa arab yaitu qalb.

    Abangda, ada hadits yg mengatakan demikian:

    “…didalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah itu baik (sehat) seluruh tubuhpun akan menjadi baik. Namun, jika segumpal darah itu sakit, seluruh tubuh pun akan menjadi sakit. Ketahuilah segumpal darah itu adalah qalb…”

    Apakah menurut Abang segumpal darah yg disebut qalb itu sebenarnya adalah otak?

    • Itu lah yang disebut “sehati” 🙂

      Hadist itu menurut saya lebih kepada fisik, bulan qalbu dalam arti ruhani.
      Dalam al Qur’an, Kata2 “berfikir”, “merenung” berhubungan akal jumlahnya 3 x lipat lebih banyak dari perintah shalat dan puasa, artinya fungsi akal sangat dipentingkan.
      Ayahanda pernah berkata, “kecerdasan akal apabila disinari cahaya Allah maka akal jauh lebih cerdas lagi. Enstein andai akalnya disinari cahaya Allah akan berlipat lagi kecerdasannya”.
      Sy juga yakin, Hati yang dimaksud bukan terletak di dada spt dalam tarekat, krn itu hanya sebagai penanda saja.
      Hati dalam makna hakiki adalah kesadaran total, rasa seluruh badan dan jiwa.
      Secara sains diyakini segala pusat rasa ada di otak, bukan di hati.
      Ada baiknya disepakati dulu makna hati. Kalau makna hati sebagai pusat rasa, maka fungsi otak lebih tepat dari pada fungsi hati secara zahir.
      Mungkin b. Arkana ada uraian lain?

  3. Abangda….

    “…Hati dalam makna hakiki adalah kesadaran total, rasa seluruh badan dan jiwa….”

    saya setuju ini…
    menurut saya, meskipun proses berpikir atau olah akal manusia letaknya di otak, tetapi saya ragu bahwa otak adalah organ akal atau organ berpikir manusia.
    harus ada kesatuan atau keseluruhan badan (jasad) dan jiwa (ruh)… barulah otak menghasilkan pemikiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: