Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Melihat Allah di Dunia

allahPertanyaan paling menggoda bagi seluruh ummat manusia adalah apakah Allah bisa di lihat di dunia? Atau adakah kemungkinan Allah bisa dilihat di dunia?. Seperti yang pernah saya tulis 7 tahun lalu dalam tulisan Seputaran Masalah Melihat Allah bahwa dalam hal melihat Allah ada 3 pendapat yaitu : Allah bisa di lihat di dunia dan akhirat, Allah Tidak bisa di dunia tapi bisa disaksikan di akhirat dan Allah Tidak bisa di lihat di dunia dan akhirat, ke 3 pendapat itu sama-sama mempunyai mempunyai dalil yang kuat. Kalau keyakinan bahwa Allah tidak bisa dilihat sama sekali di dunia ini maka tidak ada pertanyaan lebih lanjut, Allah pun akan menguatkan keyakinan tersebut. Tapi orang yang meyakini bahwa Allah ada kemungkinan bisa di lihat akan muncul pertanyaan berikut, “Bagaimana cara melihat Allah?” atau “Apa rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar saya bisa melihat Allah?” atau “Kemana saya berguru agar saya bisa menyaksikan wajah Allah yang Maha Agung?”.

Berikut ada sebuah pendapat yang perlu kita telaah bersama, pendapat yang memberikan keyakinan akan Melihat Allah di dunia dan alasan kenapa manusia pada umumnya tidak bisa melihat Allah:

Prof. Dr. Muhammad Tahir al-Qadri, ulama Pakistan pendiri Idarah Minhajul Qur’an di Lahore, memiliki kiat untuk bisa “melihat” Allah di dunia. Ia menguraikan makna ihsan secara berbeda dalam bukunya Islamic Philosophy of Human Life. Ketika malaikat Jibril bertanya tentang Iman dan Islam kepada Rasulullah saw. lalu dijelaskan oleh beliau, Jibril berkata, “Kamu benar.” Lalu Jibril bertanya lagi, “Apakah ihsan itu?” Rasul menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Dia, maka bila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” Jadi, ihsan adalah beribadah dengan merefleksikan sifat Allah, al Bashir, Yang Maha Melihat.

Tetapi bagaimana kita bisa beribadah seolah-olah melihat Dia? Menurut Prof. Tahir al-Qadri, kalimat hadis tadi harusnya dipenggal secara berbeda, bukannya fa in lam takun tarohu, tetapi fa in lam takun, tarohu. Terjemahnya ialah, “Maka bila kamu tidak ada, kamu akan melihat Dia”. Allahu Akbar.

Rupanya penghalang untuk bisa melihat Dia adalah sikap mendewakan diri. Ketika seseorang masih mempertahankan keberadaannya, masih mementingkan eksistensinya, masih mendahulukan kepentingannya, ia tidak akan bisa “melihat” Allah. Ia tidak akan bisa menghayati kebesaran-Nya. Ia tidak akan bisa mengerti keadilan-Nya. Ia tidak akan bisa menyaksikan keindahan-Nya. Ia tidak akan bisa merasakan kehangatan kasih sayang-Nya. Maka untuk bisa khusyu’ seolah-olah melihat Dia, kita harus meleburkan diri, menghancurkan diri, bagaikan gunung yang sirna mencair oleh tajalli, cahaya Allah. Semakin larut kita menghampakan diri dalam fana, semakin jelas wajah Allah bagi mata hati kita. Ihsan adalah Zero Mind Process. Lenyapkan dirimu, kamu akan “melihat” Allah. Wallahu A’lam.  (Percikan Iman)

Pendapat Prof. Dr. Muhammad Tahir al-Qadri ada benarnya, karena alasan utama Musa AS terhalang melihat Allah adalah karena keakuannya, lihatlah cara Musa meminta, “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku, agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Rabb berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman”. [Al A’raf :143]

Kebanyakan orang yang meyakini bahwa Allah tidak bisa dilihat di dunia mengambil ayat di atas dengan cara memotong “Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku”, kemudian menguraikan panjang lebar, bahwa sekelas Nabi Musa saja tidak sanggup melihat Allah konon lagi kita, padahal kalau Ayat tersebut di pahami secara utuh disana sangat jelas bahwa Nabi Musa dapat melihat Allah, sehingga spontan Beliau berkata, :”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman”.

Allah tidak memiliki penghalang sedikitpun, penghalang (hijab) itu ada pada diri manusia, ketika penghalang itu terangkat maka manusia akan bisa menyaksikan wajah-Nya, wajah yang wajib di ingat dalam shalat dan ibadah lain. Ketika penghalang tersebut terangkat barulah manusia benar bersyahadat, menyaksikan keagungan Allah tanpa ada keraguan di hati. Penghalang itu hanya bisa terangkat dengan cara Dzikrullah (mengingat Allah) dengan metode yang telah diajarkan Rasulullah SAW.

sMoga Bermanfaat.

Single Post Navigation

76 thoughts on “Melihat Allah di Dunia

Navigasi komentar

  1. Budi tasik on said:

    Hatur nuhun bang sufimuda

  2. sholat malam saja bos,ndak usah baca buku buku….

    • Shalat media untuk menyembah Alalh bukan melihat Allah, kalau belum terbuka hujab mo 1000 tahun shalat malam juga gk bisa melihat Allah.
      Urutan nya baca surat al-‘ala

      • oh…..begitu, namanya juga sufi masih muda….baru bisa baca buku ya…

        • Nak Agung…
          Disini tempat berkumpul para penikmat, tidak lagi bicara ttg membaca apalagi belajar membaca.
          Kalau nak Agung mo belajar membaca, silahkan cari guru yg bisa mengajari, kalau udah bisa tulis baca dan sudah agak dewasa kelak boleh gabung disini…
          Mudah2an nak agung bisa paham nasehat saya..

        • Abangda….
          terima kasih untuk artikelnya, sepertinya saya sudah membaca semua artikel Abang yang terkait topik ini….
          dan saya rasa, kesadaran untuk memahami makna Ihsan yang sebenarnya adalah jalan terbaik bagi seorang awam agar dapat menerima tasawuf dan tareqat….

          dan Smoga Abang terus diberiNya kesabaran untuk meng-handle komentar-komentar aneh…. 🙂
          yg kadang membacanya saja bikin saya emosi…

          • betul, Pemahaman Ihsan tidak selama bermana “seolah-olah”. Dalam kajian lain kata “seolah-olah” diartikan sebagai “sebenar-benar”.

            dan kita juga membalas komentar menurut keinginan yg memberi komentar. Sekali kali bersikap spt anak2 kadang di perlukan 🙂

            • lebih baik jangan di tanggapi. percumah! karena mereka ga paham.
              biarkanlah dulu nanti sampai tiba waktunya
              jika tuhan menghendaki tentunya.

              pengalaman sy macam2 orang yg sy temui
              ada yg pintar agamanya n biasa2 saja dgn mudah menerima ini (tasauf)
              ada juga ygn pintar agamanya tp ga nyambung2 juga
              kesimpulan sy mereka blom mendapat…. jadi tinggalkan sj dulu

              tanggapi saja komentar yang mengindikasikan mencari

              nasihat dari imam al-gazali
              “jangan berdebat dengan orang Bodoh”

        • ilham saraan on said:

          Bodohnya mahluk ini…kenapa “Aku” tak nampak aku sangat dekat sangat hampir tidak ada hijab..jangan kau bilang manusia itu melihat, manusia itu buta punya mata yang melihat itulah “Aku”-“aku”mendengar, manusia Tuli punya telinga yang mendengar itu “Aku”banyak kesempurnaan Aku..apakah kau belum juga melihat. kemana wajah kau hadap disitu aku (albaqarah 115) pengartiannya lihat disebalik kau lihat.

    • agung ini pantesnya jadi muridnya ustad sukino mta surakarta,hahahaha..jangan ikut2an baca kl belum siap.

  3. dwi budi stiono on said:

    Terima ksih pak sufi, semoga saya bisa seperti bapak

  4. Mbah Dartiem on said:

    Zat yang tidak ada seumpamanya- Tan keno kinoyo ngopo, – Lai isha kamislihi sai’un. Hanya oleh seorang Guru Suluk yang kamil mukamil, maka seorang salik dapat dibimbing sampai kepada “Keputusan Kaji”.

  5. Alhamdulillah.., mencerahkan kembali dengan Zero Mind Proses.. Terima kasih Abangda.

  6. Alhamdulillah…trims bang sufimuda,jazakallah khairan….

  7. Tommy Lubis on said:

    Terimakasih Bang Sufi Muda

  8. muhammad ghozali on said:

    Bismillahirrohmaanirrohiim.. Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji. Ru’yah menurut bahasa berarti,”Annazar bil aini au bil-qalbi”(melihat dengan mata atau dengan hati).Ru’yatullah berarti melihat Allah dengan penglihatan mata atau penglihatan hati.

    Apakah Allah bisa dilihat?, bisakah itu terjadi? dan di manakah Ia bisa dilihat? Semua ini merupakan perbincangan antara Ahlussunnah dan Mu’tazilah yang akan menjadi pokok pembahasan dalam masalah ini .

    PENDAPAT PERTAMA
    Mu’tazilah dan berbagai kelompok yang sepaham dengannya, seperti Jahamiyah, Khawarij, Syiah Imamiyah, dan sebagian Murjiah mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala, dan itu mustahil dan mumtani’ (tidak boleh terjadi) pada Allah .

    Di antara argumentasinya adalah sebagai berikut:
    1. Firman Allah ;

    لاَ تُدْرِكُهُ اْلأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ اْلأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

    Dia (Allah) tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [Al An’aam:103]

    Wajhuddilalah (pengambilan dalil) dari ayat ini.
    Qadhi Abdul Jabbar berkata dalam kitabnya Syarah Ushul al-Khamsah hal.232: “Allah menafikan al-idrak (pencapaian) dengan penglihatan mata, ini menunjukkan bahwa Allah tidak bisa dilihat oleh pandangan mata kapanpun dan di manapun juga.

    Juga ayat ini dalam kontek al-madh (pujian) kepada Allah, bahwa Dia tidak bisa dilihat mata. Kalau dikatakan bahwa Dia bisa dilihat, maka akan berlawanan dengan kontek ayat itu sehingga tidak ada makna dari pujian itu.

    2. Firman Allah.
    وَلَمَّا جَآءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

    Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa:”Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku, agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Rabb berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman”. [Al A’raf :143]

    Wajhuddilalah (pengambilan dalil) dari ayat ini.
    • Allah Azza wa Jalla memakai kata-kata “lan tarani” (Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku) yang berfungsi sebagai ‘nafy ta’bid” (peniadaan untuk selamanya), kalau tidak dapat dilihat oleh Musa, juga selamanya tidak bisa dilihat oleh orang lain.

    • Firman Allah Azza wa Jalla, “Dan Musapun jatuh pingsan”, seandainya ru’yatullah boleh terjadi, kenapa Musa lansung pingsan sebelum melihat Allah?.

    • Firman Allah Azza wa Jalla, Maka setelah sadar kembali, dia berkata: ”Maha Suci Engkau”. Ar-Razi berkata: ”Musa bertasbih untuh mentanzihkan (menyucikan) Allah Azza wa Jalla dari perbuatan sebelumnya, yaitu permintaan melihat Allah Azza wa Jalla, dan tanzih tidak terjadi kecuali dari kekurangan, dengan demikian maka melihat Allah Azza wa Jalla menunjukkan kekurangan dan hal itu mumtani’ (tidak boleh terjadi) pada hak Allah Azza wa Jalla.”

    • Perkataan Musa dalam ayat di atas: ”Aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” menunjukkan bahwa permintaan melihat Allah Azza wa Jalla dianggap dosa oleh Musa sehingga harus bertobat kepada-Nya, dan tobat tidak dilakukan kecuali dari perbuatan dosa.

    3. Permintaan melihat Allah Azza wa Jalla dianggap sebuah kezaliman. Seperti yang dialami oleh Bani Israil sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

    فَقَالُوا أَرِنَا اللهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ

    “…..mereka berkata: ”Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya…” [An Nisa:153.]

    Di sini Allah Azza wa Jalla mengadzab orang yang meminta melihat_Nya, bila hal itu diperbolehkan niscaya Dia tidak akan mengazabnya. Ayat senada juga ada pada surat Al Baqarah ayat 55.

    4. Firman Allah Azza wa Jalla dalam Al-Quran surat Assyura ayat:51

    وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاء حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاء إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

    Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. [Assyura:51]

    Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla berbicara dengan manusia hanya lewat wahyu, atau di balik tabir [hijab], atau lewat utusan-Nya. Kalau Allah Azza wa Jalla boleh dilihat, niscaya Dia tampakkan diriNya lansung dan tidak perlu lewat perantara atau di balik tabir.

    5. Secara akal bahwa semua yang dilihat mesti akan berbekas di penglihatan dalam bentuk atau rupa, sedangkan yang demikian mustahil bagi Allah Azza wa Jalla dan Maha Suci Allah Azza wa Jalla dari yang demikian.

    PENDAPAT KEDUA
    Menurut Ahlussunnah bahwa Allah boleh dilihat dan bisa dilihat dengan mata kepala di akherat kelak.

    Diantara dalil-dalil yang menguatkan tentang yang demikaian adalah sebagai berikut:

    1. Firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 143 yang telah lewat.
    Wajhuddilalah (pengambilan dalil)dari ayat ini, adalah:
    • Di sini Musa meminta untuk melihat Allah, kalau yang demikian itu tidak diperbolehkan, apalagi sesuatu yang mustahil, maka tidak mungkin dilakukan oleh seorang Nabi. [Lihat kitab Haadul Arwah oleh Ibnu Al Qayyim hal.223]

    • Dalam ayat ini tidak ada yang menunjukkan larangan meminta melihat Allah,karena kalau itu sesuatu yang tidak boleh niscaya Allah akan melarang Musa untuk melakukannya,sebagaimana Allah melarang Nabi Nuh yang meminta supaya anaknya diselamatkan dari banjir. [Baca QS.Hud;46-47]

    • Allah mengatakan, ”lan tarani” (Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku), bukan menunjukkan Allah tidak bisa dilihat, justru sebaliknya. Sebab kalau ru’yatullah suatu yang tidak mungkin, terjadi niscaya Allah akan memakai lafaz nafi yaitu,”La tarani” (Kamu sekali-kali tidak akan melihat-Ku).

    • Abu Said Ad Darimi dalam kitab bantahannya terhadap Jahmiyah mengatakan: ”Tidak bisa dilihat”, yaitu di dunia, karena mata kepala manusia yang tercipta dari sesuatu yang akan binasa tidak sanggup memandang sesuatu yang baqa’[kekal], tetapi pada hari kiyamat Allah akan memberikan penglihatan yang abadi, agar mampu melihat yang Maha Abadi (Allah) di tempat yang abadi (SurgaNya)”.

    • Sesungguhnya dalam ayat ini Allah mengaitkan ru’yatullah dengan sesuatu yang mubah [boleh], atau mungkin terjadi, yaitu tetapnya gunung. Mengaitkan sesuatu yang boleh atau mungkin, menunjukkan sesuatu yang dikaitkan (Ru’yatullah) boleh atau mungkin.
    .
    • Allah Azza wa Jalla mengatakan ,”Tajalla” yang berarti menampakkan diri,
    Al Qurthubiy dalam tafsirnya Juz IV/ 278 mengatakan: ”Maksudnya Allah Azza wa Jalla ingin memberikan pelajaran kepada Musa, bahwa dia tidak mampu untuk melihat Allah, karena gunung yang begitu kokoh saja bergetar akibat Allah menampakkan diriNya. Kalau kepada gunung yang benda mati saja Allah bisa menampakkan diriNya maka kenapa kepada hambaNya yang shalih tidak bisa? apalagi tidak mungkin dilakukanNya?.

    2. Firman Allah Azza wa Jalla.

    قَالَ يَا مُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِي وَبِكَلاَمِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ

    Allah berfirman: “Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara lansung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang-orang yang bersyukur [Al-A’raf : 144]

    Imam Ismail Al Barusuni dalam tafsirnya Ruhul Bayan Juz III halaman 239 mengatakan: “Allah memerintahkan Musa untuk menjadi orang-orang yang bersyukur, seperti firman-Nya: “Hendaklah kamu termasuk orang yang-orang yang bersyukur”, karena bersyukur akan memberikan tambahan, sebagaimana firman Allah:

    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ .

    Sesungguhnya jika kamu bersyukur,pasti Kami menambah (nikmatKu) dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azabKu sangat pedih. Ibrahim : 7]

    Dan tambahan yang akan diberikan Allah adalah bisa melihat Allah, sebagaimana firman-Nya.

    لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ .

    Bagi mereka yang berbuat kebaikan surga dan tambahan. [Yunus : 26]

    Dan tambahan yang dimaksud dalam ayat ini adalah melihat Allah.

    3. Firman Allah dalam surat Al An’am ayat 103 (telah disebutkan di atas).
    Al Alusiy dalam tafsirnya Ruhul Maani Juz IV halaman 244 mengatakan: “Kalimat ”Al-Abshar” dalam ayat ini adalah jamak dari “Bashar” yang berarti penglihatan, dapat dipakai untuk penglihatan mata atau penglihatan hati. Sedangkan kata ”Al idrak” artinya pencapaian terhadap sesuatu, dan kata ”Al idrak” mengandung makna lebih dalam dari kata melihat dan inilah yang dinafikan oleh Allah.

    Ayat ini juga dalam kontek pujian yang menunjukkan bahwa melihat Allah boleh dan mungkin, sebab kalau sesuatu itu tidak mungkin, untuk apa dipuji. Di sini Allah bisa dilihat, tetapi mampu menghijab pandangan untuk mencapainya merupakan sebuah kekuasaan yang patut dipuji. Sebab sesuatu yang dari asalnya tidak bisa dilihat, maka ketika tidak dapat dilihat tidak menjadi sesuatu yang istimewa yang perlu di puji.

    Ibnu Qayyim menambahkan: “Memakai ayat ini sebagai dalil bahwa Allah bisa dilihat lebih tepat dan benar, bahkan ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan Allah tidak bisa dilihat. Karena ayat ini dalam kontek pujian, dan itu diberikan kepada sesuatu yang ada (maujud), karena sesuatu yang tidak ada sama sekali (ma’dum mahdah) tidak layak untuk diberikan pujian, karena itu bukan termasuk kesempurnaan (al-kamal) bagi Allah.”

    Dan al idrak (pencapaian) maksudnya adalah al ihathah (mengetahui semuanya dari segala aspek), dengan demikian al idrak adalah sesuatu yang mempunyai arti lebih dari ru’yah.

    Sebagaimana firman Allah.

    فَلَمَّا تَرَاءى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ .

    Maka setelah dua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa; ”Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul. [Asyuaraa : 61]

    4. Firman Allah.

    لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

    Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahan. [Qaaf : 35]

    Ibnu Katsir dalam tafsirnya Juz VIII/330 mengatakan: “Sesungguhnya “Al mazid” (tambahan) yang Allah berikan kepada hambaNya di atas segala yang dikehendakinya seperti yang dimaksud dalam ayat di atas adalah nampaknya Allah bagi mereka.”

    5. Firman Allah.

    وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ . إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

    Wajah-wajah (orang-orang mukmin) waktu itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. [Al-Qiyamah : 22-23]

    Abu Hasan Al Asyari dalam kitabnya Al-Ibanah hal.12 mengatakan: “Kata “Nazhirah” yaitu ‘Raiyah” yang berarti melihat. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ,bahwa Rasulullah dalam menafsirkan ayat “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) waktu itu “Nadhirah”, yaitu berseri-seri, “Kepada Tuhannyalah Nazhirah (melihat), Yaitu melihat wajah Allah.

    6. Ayat-ayat yang memakai kata –kata “Liqa’” (pertemuan). Seperti firman Allah.

    فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

    Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mepersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya. [Al-Kahfi:110]

    Ayat-ayat yang menyatakan “Liqa’” (pertemuan) juga ada pada surat Al Baqarah : 223, 249, dan Al Ahzab : 44.

    Liqa (pertemuan) yaitu bertemu dengan Allah, dengan cara mereka akan melihat Allah dan Allah akan melihat dan mengucapkan salam kepada mereka, dan Allah akan berbicara dengan mereka. [Lihat kitab As-Syari’ah oleh Imam Al Ajurri hal.252]

    Adapun Dalil-Dalil Dari Al Hadis Adalah Sebagai Berikut.
    1. Jarir bin Abdullah berkata.

    قَالَ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِالهِi كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا لاَ تُضَامُّونَ أَوْ لاَ تُضَاهُونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا ثُمَّ قَالَ فَ ( سَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ) (كتاب :كتاب مواقيت الصلاة باب :باب فضل صلاة الفجر رقم الحديث :547 الجزء :1 الصفحة 209 ,صحيح البخاري

    Jarir bin Abdullah berkata: “Kami duduk bersama Rasulullah, kemudian beliau memandang bulan yang sedang purnama, lalu beliau bersabda: ”Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu sebagaimana engkau melihat bulan, tidak ada yang menghalangimu untuk melihat-Nya, kalau kamu mampu tidak meninggalkan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya maka lakukannlah. [HR.Bukhari Muslim]

    2. Sabda Nabi yang maksudnya.
    Sesungguhnya engkau akan melihat Tuhanmu dengan mata kepala sendiri,”[HR.Bukhari Muslim]

    3. Sabda Nabi yang berbunyi.

    إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ الهُe تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ (صحيح مسلم باب :باب إثبات رؤية المؤمنين في الآخرة ربهم سبحانه (كتاب :كتاب الإيمان )) رقم الحديث : الجزء 1: الصفحة : 163

    Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, Allah Taala berfirman: ”Apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan Aku tambahkan?”. Mereka berkata: “Bukankah Engkau telah memutihkan muka kami dan memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?”. Kemudian Allah membuka tabir, dan tidak ada sesuatu yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai dari pada melihat Tuhannya Yang Maha Tinggi. [HR.Muslim, dari Shuhaib)]

    JAWABAN TERHADAP ARGUMENTASI MU’TAZILAH DAN KELOMPOKNYA
    Sebagian dalil mereka sudah dijawab dengan dalil-dalil dari Ahlus Sunnah sebagaimana di atas. Adapun tambahannya adalah sebagai berikut.

    1. Pingsannya Nabi Musa disebabkan karena ketidakmampuannya melihat Allah, dan ini bukan berarti Allah tidak bisa dilihat.

    2. Tasbihnya Musa setelah sadar dari pingsannya, bukan menunjukkan penyucian dari kekurangan Allah, justeru menunjukkan kekurangan dan kelemahan Nabi Musa yang yang tidak mampu melihat Allah di dunia, dan tidak semua yang bisa dilihat berarti tidak baik atau kurang.

    3. Nabi Musa mengatakan: ”Saya bertobat”, Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya JuzVII/27 mengatakan: “Sudah disepakati oleh semua umat bahwa perkataan ini bukan disebabkan karena Musa melakukan maksiat.”

    4. Kaum Nabi Musa diadzab ketika mereka meminta melihat Allah, karena permintaan mereka adalah sebuah tantangan kepada nabinya dan itu dilakukannya dengan penuh kesombongan dan keingkaran dan menganggap semua itu suatu yang mustahil. [Lihat Al Ibanah hal.15]

    5. Perkataan mereka yang mengatakan bahwa setiap yang terlihat akan memberikan bekas yang berbentuk dan berwarna adalah “Qiyas ma’al fariq” yaitu kiyas yang terdapat banyak perbedaan karena membandingkan Al -Khaliq [pencipta] dan makhluk-Nya dan kiyas seperti ini adalah bathil, karena Allah berfirman yang artinya:

    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya [As-Syuraa : 11]

    BISAKAH ALLAH DILIHAT DI DUNIA?
    Jumhur ulama’ mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di dunia. Berbeda dengan kelompok Musyabbihah(orang yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya), juga sebagian As’ariyah dan orang –orang Shufi, yang mengatakan bahwa Allah bisa dilihat dengan mata kepala di dunia, bahkan bisa mushafahah (berjabatan tangan) dan mulamasah (bersentuhan) dengan Allah, sebagaimana yang terdapat pada kitab Sirajut Thalibin hal.133. Mereka mengatakan: ”Orang-orang yang ikhlas akan bisa melihat, bahkan memeluk Allah di dunia dan akherat, kalau mereka menginginkan yang demikian”. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan!!.

    Orang-orang Shufi menganggap bahwa ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah) yang ada dalam hatinya sebagai ru’yatullah dengan mata kepala. Padahal terkadang syaitan membayang-bayanginya, dan mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan.

    Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya At-Tawassul Wal Washilah hal.28 berkata: ”Terkadang seorang hamba melihat Arsy yang besar yang ada gambar, juga melihat ada orang yang naik dan turun di arsy tersebut, dan menganggapnya itu malaikat, dan menganggap gambar itu adalah Allah, padahal itu adalah syaitan. Seperti ini sering terjadi sebagaimana yang dialami oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani, beliau bercerita: ”Suatu hari ketika saya selesai beribadah saya melihat arsy yang agung, di dalamnya ada cahaya dan ada seorang yang memanggil, “Wahai Abdul Qadir Jailani saya adalah Tuhanmu dan saya sudah menghalalkan kepadamu semua yang Aku haramkan sebelumnya.”

    Syaikh Abdul Qadir Jailani balik bertanya, apakah Engkau Allah yang tiada Tuhan selain Engkau? Hengkanglah Wahai musuh Allah!.Kemudian cahaya tadi terpencar dan berobah menjadi kegelapan kemudian keluar suara yang mengatakan, “Wahai Abdul Qadir engkau telah selamat dari tipudayaku dengan pengetahuanmu tentang agama, saya sudah berhasil memperdayakan tujuh puluh orang dengan tipu daya ini.” Ketika beliau ditanya bagaimana anda mengetahui bahwa itu adalah syaitan, ia menjawab karena dia mengatakan bahwa Allah sudah menghalalkan kepadaku semua yang diharamkan sebelumnya kepada yang lain, dan saya berpendapat bahwa syariat Muhammad tidak mungkin dirobah dan diganti”.

    Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang orang yang mengatakan bahwa dirinya pernah melihat Allah dengan mata kepala di dunia,beliau menjawab: “Barangsiapa di antara manusia yang mengatakan bahwa para wali atau selainnya bisa melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia maka ia adalah seorang Mubtadi’ yang menyesatkan,yang berlawanan dengan Kitab dan Sunnah dan ijma’ salaful ummah, apalagi kalau menganggap dirinya lebih afdhal dari Musa, maka dia harus disuruh taubat kalau mau,kalau dia menolak maka boleh dibunuh,wallahu A’lam. [Majmu’ fatawa VI/512]

    Maka tidak boleh seseorang cepat terkecoh dengan orang yang bergelar wali atau ahli shufi.

    Imam As-Syaukani dalam kitabnya Al-Wali mengingatkan: ”Tidak boleh seorang wali beranggapan bahwa semua yang terjadi padanya, berupa kejadian atau mukassyafat (pembukaan tabir) adalah semuanya karamah dari Allah, karena bisa saja semua itu datang dari syaitan, maka wajib menilai dan mengukur semua perkataan dan perbuatannya dengan Kitab dan Sunnah, kalau sesuai maka itu adalah kebenaran dan karamah dari Allah,kalau itu bertentangan dengan Kitab dan Sunnah maka hendaklah menyadari bahwa ia tertipu oleh syaitan.”

    Adapun dalil jumhur yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di dunia adalah sebagai berikut:

    1. Firman Allah surat Al-A’raaf ayat 143 terdahulu. Ibnu Katsir mengatakan: ”Bahwa penafian ru’yatullah khusus di dunia, karena adanya dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah bisa dilihat di akhirat.”

    2. Firman Allah dalam surat Al anam ayat 153 . Imam Ahmad dalam kitab bantahannya kepada Zanadiqah dan Jahamiyah hal.13-14, berkata: “Makna ayat ini adalah tidak ada yang bisa melihat Allah di dunia kecuali di akherat. Ibnu Khuzimah dalam kitab tauhidnya hal.185 menambahkan: “Bahwa Allah tidak bisa dicapai oleh penglihatan penduduk dunia sebelum mati”.

    3. Firman Allah dalam surat Asy-Syu’ara ayat 51, yang menyatakan bahwa Allah hanya berbicara dengan para rasulNya dengan wahyu atau di balik tabir atau dengan malaikat. Kalau melihat Allah tidak bisa terjadi pada rasul-Nya, maka apalagi pada manusia yang lain.

    4. Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 55, dan yang senada dengan ayat ini, yang menyatakan bahwa Bani Israil meminta Musa untuk bisa melihat Allah dengan jelas diazab oleh Allah, karena disamping mereka memintanya dengan penuh kesombongan dan penantangan, juga mereka memintanya di waktu yang tidak mungkin terjadi. Apabila kepada Nabi Musa saja tidak bisa terjadi maka apalagi kepada yang lainnya.

    Adapun Dalil Dari Sunnah
    Hadits-hadits yang lewat menyebutkan bahwa Allah hanya bisa dilihat pada hari kiyamat. Itulah sebabnya pertanyaan sahabat juga memakai kata ”Apakah Allah bisa dilihat pada hari kiyamat?” dalam pertanyaannya kepada Rasulullah, seperti hadis berikut:

    Diriwayatkan oleh Abu Hurairah,para Sahabat berkata:

    يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    Ya Rasulullah! Apakah kita akan melihat Allah pada hari Kiyamat? [HR.Bukhari dan Muslim]

    Riwayat lain dari Abu Sa’id Al Khudri, para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah kita akan melihat Allah pada hari kiyamat? [HR.Bukhari Muslim]

    Juga hadits Rasulullah yang mengingatkan umatnya terhadap Dajjal, beliau bersabda:

    مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ

    Sesungguhnya di antara dua mata Dajjal tertulis kata “kafir” yang bisa dibaca oleh setiap orang mukmin, yang dapat menulis, atau buta huruf.

    Dan beliau berkata: ”Ketahuilah bahwasanya tidak ada seorangpun di antara kamu yang bisa melihat Tuhannya sampai dia mati. [HR.Muslim]

    Di sini Rasulullah sedang berbicara dengan para sahabat bahwa mereka tidak bisa melihat Allah sampai mati ,kalau sahabat saja dikatakan oleh Nabi tidak bisa melihat Allah sebelum mati, apalagi manusia yang lain.

    APAKAH RASULULLAH PERNAH MELIHAT ALLAH DI DUNIA
    Qadhi Iyyad dalam kitabnya ”Assyifa fi ta’rifi huququl Musthafa” juz.I/119-124, menyebutkan beberapa perbedaan ulama’dalam masalah ini.

    Pertama : Ibnu Abbas dan riwayat dari Ka’ab bin Malik, juga dinisbahkan kepada Anas bin Malik, Ikrimah, Hasan, Rabi’, dan juga Abu Hasan Al Asy’ari dan Qadhhi Abu Ya’la dari Hanabilah mengatakan: “Rasulullah pernah melihat Allah (Ketika menerima perintah shalat diwaktu mi’raj), mereka berhujah dengan hadits-hadits tentang ru’yah yang tidak mengkhususkan dengan mata tetapi secara mutlak (umum) seperti:

    1. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saya melihat Tuhanku”. [HR.Ahmad]

    2. Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah: “Dia benar-benar dan pernah melihatnya dalam bentuk yang lain, ia berkata: “Nabi sudah melihat Allah dua kali, di Sidharatul Muntaha, kemudian diwahyukan kepadanya perintah shalat.. [HR Thurmudzi, hasan]

    3. Hadits tentang Isra’ miraj Nabi, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Dhamir (kata ganti) pada kata-kata dana ( mendekat ), auha (mewahyukan ) dan raahu ( melihat ) kembali kepada Allah. Dengan demikian maka Rasulullah pernah melihat Allah.

    4. Al-Haitsami dalam Majmu’ Az-zawaid juz 1 hal 79, meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas: “Sesungguhnya Muhammad melihat Rabb-Nya dua kali, pertama dengan mata kepalanya, dan kedua dengan mata hatinya”.

    5. Beliau juga berkata: “Muhammad melihat Allah”, Ikrimah bertanya: “Apakah beliau bisa melakukannya?”, ia menjawab: “Ya, Allah menjadikan Kalam (berbicara) dengan Musa, hullah (persaudaraan) dengan Ibrahim dan An-nazhar (melihat) kepada Nabi Muhammad. Diriwayatkan juga oleh At-Thabrani di Al-Awsath, tetapi di dalamnya isnadnya ada perawi bernama Hafs bin Amru yang dilemahkan oleh Imam Nasai)

    6. Imam Nawawi mengatakan, inilah pendapat yang kuat, menurut kebanyakan Ulama. Yaitu Rasulullah melihat Allah dengan mata kepalanya di malam Isra mi’raj. Sesuai dengan hadits Ibnu Abbas terdahulu. Beliau juga menyebutkan beberapa alasan penguatannya, di antaranya masalah ini termasuk masalah yang tidak dapat dicerna oleh akal. Maka apabila hadits Ibnu Abbas itu shahih, ia harus dipegang. Juga Ibnu Abbas menetapkan bisanya ru’yatullah bagi Nabi, sedangkan hadits Aisyah menafikan(meniadakan) dalam kaidah al-mutsbat muqaddamun ala annafi (penetapan lebih dahulukan dari peniadaan). Dan shahabat apabila menetapkan satu pendapat, kemudian ada shahabat yang lain yang berbeda, maka perbedaan itu tidak dijadikan hujjah.

    Kedua: Rasulullah tidak pernah melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia.

    Inilah pendapat yang dipegang Aisyah dan yang masyhur dari Ibn Mas’ud, Abu Hurairah, dan Abi- Dzar juga sebagian muhadditsin, fuqaha, dan mutakalimin. [Llihat Syarah Thahawiyah oleh Abi al-izzi hal 137].

    Diantara dalil- dalilnya adalah
    1. Hadits Aisyah yang diriwayatkan Masyruq, ia berkata:

    مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ

    “Barang siapa mengatakan bahwa Muhammad melihat Tuhannya, maka ia telah berdusta besar pada Allah. [HR. Bukhari Muslim]

    2. Hadits Abi Dzar -yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Syaqiq-, dia berkata:

    سَأَلْتُ رَسُولَ الهِ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ

    Saya pernah bertanya kepada Rasulullah, apakah engkau telah melihat Allah”, beliau menjawab: “Cahaya yang menghalangi-ku untuk melihatNya. [HR. Muslim]

    Dalam riwayatkan lain dikatakan:

    رَأَيْتُ نُورًا

    Saya hanya melihat cahaya. [HR. Muslim]

    3. Hadits Abu Musa, di dalamnya disebutkan.

    حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

    HijabNya adalah cahaya, jika hijab itu dibuka niscaya terbakar-lah di antara makhlukNya oleh cahaya mukaNya sejauh pandangan. [HR Muslim]

    Sedangkan yang pernah dilihat oleh Rasulullah adalah Jibril Aliahissallam, bukan Allah sebagaimana Hadits Abu-Hurairah dan Aisyah.

    4. Hadits riwayat Abu Hurairah dalam firman Allah:

    وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى

    Dan ia telah melihatnya dalam bentuk yang lain (An-Najm:13), Rasulullah mengatakan bahwa belaiu melihat Jibril. (HR. Muslim )

    5. Diriwayatkan oleh Asybani, dia bertanya kepada Dzur bin Hubaysih tentang tafsir ayat 13 surat An-Najm , dia berkata: Ibn Masud memberitahukannya bahwa Nabi melihat Jibril mempunyai 600 sayap.

    Juga hadits Aisyah, ia menyatakan, bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya dia adalah Jibril yang sebelumnya tidak pernah saya lihat dalam bentuk aslinya kecuali dua kali. Saya melihatnya turun dari langit yang keagungan penciptaanya memenuhi langit dan bumi.”

    6. Dua hadits ini cukup untuk menjelaskan bahwa Nabi tidak pernah melihat Allah di dunia, karena kedua hadits tersebut shahih dan sharih. Berbeda dengan hadits yang dipakai pendapat pertama, haditsnya mutlak. juga seperti hadits Syuraiq masih dipertanyakan sanad maupun matan, karena Syuraiq sendiri menurut Ahlul Hadits tidak hafidz (kuat hafalannya) (Lihat Fathul- Bari juz 13, hal 484 ). Adapun tarjih (pendapat yang dianggap kuat) Imam Nawawi termasuk tarjih tanpa hujjah yang kuat dan tepat.

    Ketiga : Tawaquf (tidak mengatakan Rasulullah telah melihat Allah). Ini yang dilakukan oleh Qadhi ‘Iyadh.

    Sebagian Ulama mencoba untuk mempertemukan dua pendapat tersebut, dengan mengatakan bahwa orang yang meniadakan ru’yatullah maksudnya Nabi tidak melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri. Dan yang menetapkan ru’yatullah maksudnya Nabi melihat Allah dengan mata hatinya. Karena tidak adanya dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan As-sunnah yang menyatakan bahwa Rasulullah melihat Allah dengan mata kepala beliau, dan Rasulullah sendiri tidak pernah memberitahukan kepada shahabatnya, seandainya beliau pernah melihat Allah dengan matanya niscaya akan menceritakan shahabatnya. [Lihat Majmu’Fatawa juz 6, hal 509-510). Juga tafsir Ibn Katsir juz 6, hal 452]

    MELIHAT ALLAH DENGAN MATA HATI
    Ulama sepakat bahwa Rasulullah n pernah melihat Allah dengan hatinya, berdasarkan hadits diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatNya dengan hatinya” [HR.Muslim]

    Abu Dzar meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya dan tidak pernah melihatnya dengan mata kepalanya.

    Ibrahim At-Taimi meriwayatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihatnya dengan hatinya dan tidak pernah melihat dengan matanya.

    Imam Nawawi berkata: “Melihat Allah dengan hatinya adalah penglihatan yang benar, yaitu Allah menjadikan penglihatannya dihatinya atau menjadikan hatinya mempunyai penglihatan sehingga dia bisa melihat Tuhannya dengan benar, sebagaimana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. [Syarah Shahih Muslim juz3, hal 6].

    Adapun selain Nabi, seperti Shahabat dan tabi’in, maka salaf sepakat bisa terjadi bagi hati seorang mukmin sebuah mukasyafat (membuka tabir) dan musyahadat (persaksiaan), yang sesuai dengan keimanan dan ma’rifatullah. Karena seorang yang mencintai sesuatu akan membekas dalam hatinya dan merasa selalu dekat dalam hatinya. Sebagaimana jawaban Rasulullah tentang ihsan:

    أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

    Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau engkau tidak melihatNya, maka Dia melihatmu.[HSR. Bukhari, Muslim, dan lainnya-Red]

    Syaikhul Islam meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

    Syaikhul Islam menambahkan sesungguhnya Allah dilihat sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan inilah pendapat saya, dan pendapat imam-imam kita. Berbeda dengan pendapat orang-orang yang jahil yang ada di sekitar kita. [Majmu’Fatawa V/79]

    Seperti Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan hati dan bukan melihat-Nya tapi mengetahui-Nya dengan hati. [Maqalaat Islamiyah I/118]

    MELIHAT ALLAH LEWAT MIMPI
    Para sahabat dan tabiin dan salaf mengatakan bahwa ru’yatullah lewat mimpi adalah hak dan bisa terjadi. Sebagaimana hadits tentang mimpi Rasulullah melihat Allah dengan lafaz yang berbeda di antaranya:
    Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ,Rasulullah bersabda:

    رَأَيْتُ رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ

    Saya pernah melihat Tuhanku dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [HR.Tirmidzi dan Ahmad]

    Juga di dalam hadits yang lain.

    أَتَانِي اللَّيْلَةَ رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ

    Semalam saya didatangi oleh Tuhanku dalam bentuk yang sebaik-baiknya” [HR.Tirmidzi dan Ahmad]

    Diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal, Rasulullah bersabda.

    فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ

    Tiba-tiba aku bertemu dengan Tuhanku dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [HR.Tirmidzi dan Ahmad]

    Syaikh Islam berkata: ”Terkadang seorang mukmin bisa melihat Allah ketika tidurnya dalam bentuk yang berbeda, sesuai dengan kafasitas keimanan dan keyakinannya. Apabila keimanannya kepada Allah kuat dan benar, maka ia akan melihat Allah dalam bentuk yang baik, tapi bila imannya kurang maka ia akan melihat Allah sebatas imannya itu. Dan penglihatan lewat mimpi berbeda dengan penglihatan ketika tidur. [Majmu’Fatawa juz III/390]

    Namun demikian bukan berarti orang yang pernah bermimpi melihat Allah boleh melanggar syari’ah atau dijamin masuk surga, karena tidak ada ketentuan yang demikian dari Rasulullah. Adapun perkataan Ibnu Sirin yang diriwayatkan Ad-Darimi no 249, yang menyatakan: ”Barang siapa yang bermimpi melihat Allah maka akan masuk surga”, tidak bisa dijadikan hujjah, karena tidak adanya sanad yang bersambung kepada Rasulullah, dan tidak seorangpun dari sahabat yang menyatakan demikian.

    RUYATULLAH PADA HARI KIYAMAT
    Sebelumnya telah disebutkan bahwa Ahlussunah sepakat bahwa ru’yatullah pada hari kiyamat adalah hak menurut Al-Quran dan Sunnah. Tetapi apakah ru’yatullah pada hari ini khusus bagi orang mukmin saja atau yang lainnya juga?. Ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.

    Pertama.
    Ruyatullah pada hari kiyamat untuk semua orang baik mukmin maupun kafir.Mereka berhujjah dengan keumumman ayat yang menjelaskan pertemuan dengan Allah seperti ayat:

    يَا أَيُّهاَ اْلإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلىَ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلاَقِيهِ

    Hai manusia sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh memuja Tuhanmu,maka pasti kamu akan menemui-Nya. [Insyiqa’ : 6]

    Kata”Insan” dalam ayat di atas menunjukkan jenis yaitu anak Adam. Sebagaimana yang ditafsirkan oleh sebagian ahli tafsir seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari dan Al Qurthubi. Mereka berdalil dengan hadis Abi Said terdahulu, yang menyatakan bahwa manusia akan melihat Allah pertama kali, kemudian dikatakan kepadanya supaya setiap kaum mengikuti apa yang dia sembah di dunia. Dan ini adalah ru’yah yang umum kepada semua manusia.

    Kedua;
    Melihat Allah hanya bagi orang menampakan keimanannya baik dia mukmin atau orang munafik. Mereka berdalih dengan hadits Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa Allah akan menampakkan diriNya dalam bentuk yang diketahui oleh orang yang menyembahNya, kecuali mereka yang menyembah matahari, bulan dan salib.

    Ketiga;
    Hanya orang yang mukminlah yang akan bisa melihat Allah, karena Allah mengatakan:

    كَلآَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

    Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat)Tuhannya. [Al Mutaffifin :15]

    Dan pendapat inilah yang paling kuat. Adapun pendapat pertama yang menyatakan bahwa semua manusia bisa Ru’yatullah, yang dimaksud adalah yang pertama kali yaitu Ru’yatullah yang umum, tetapi kemudian dihijabi/dihalangi. Ru’yatullah itu juga berbeda. Yang paling hakiki adalah Ru’yatullah di dalam surga yang menjadi tambahan bagi orang mu’min, inilah yang dikuatkan oleh hadits Sa’id Al Khudri: “Kemudian Al Jabbar (Allah) mendatanginya dalam bentuk yang berbeda dengan bentuk awal mereka melihatNya (Majmu’ Fatawa VI/503)”.

    KESIMPULAN
    Dari pembahasan ini bisa disimpulkan bahwa Allah tidak bisa dilihat, tetapi tidak pernah dilihat dengan mata kepala baik, oleh nabi Musa maupun Rasulullah di dunia. Allah hanya bisa dilihat di dunia dengan pandangan hati atau lewat mimpi sesuai dengan kapasitas keimanan dan keyakinannya kepada Allah. Adapun pada hari kiamat Allah akan dilihat oleh seluruh mahluk-Nya. Tetapi Ru’yatullah yang hakiki yang menjadi tambahan kenikmatan, hanya bisa dirasakan oleh orang mukmin setelah mereka masuk kedalam surga.

    Ya Allah! perkenankan kami untuk bisa merasakan kenikmatan untuk melihat wajah-Mu yang agung, Amin!

    Rujukan:
    1. Majmu’ Fatawa,Syaikh Islam Ibnu Taimiyah,Matbaah Riyad tahun 1382 H.
    2. Attawassul wal Washilah,Ibnu Taimiyah cet.Daar Arabiyah Tahun 1390H
    3. Tafsir Ibnu Katsir,cet.Daar Fikr 1389H
    4. Ru’yatullah ,DR.Ahmad bin Nashr Al Hamd,cet.Ummul Quram1411H
    5. Sirah Ibnu Hisyam, ,cet.Daar Fikr 1389H

    • @ghozali…uraian yang bagus & lengkap… terutama bagi yg menyukai dalil…

      mungkin sedikit koreksi pada Kesimpulan:
      ” Dari pembahasan ini bisa disimpulkan bahwa Allah tidak bisa dilihat, tetapi tidak pernah dilihat dengan mata kepala baik, oleh nabi Musa maupun Rasulullah di dunia….”

      seharusnya:
      Dari pembahasan ini bisa disimpulkan bahwa Allah BISA dilihat, tetapi tidak pernah dilihat dengan mata kepala baik, oleh nabi Musa maupun Rasulullah di dunia….”

      • ilham saraan on said:

        Salam
        apakah kita semua telah lupa sehingga menyimpulkan dalil2x, kesampingkan itu semua di Alqur’an dan Sunnah Rasul tidak ada mengajarkan bagaimana mengenal Allah sebelum alquran diturunkan dan perintah yg lainnya selama 13 tahun Penghulu kita Nabi Muhammad bin Abdullah mengajarkan Tauhid “awal ber agama adalah mengenal tuhannya.
        “Pertanyaan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah
        siapa engkau sebenarnya…?
        Nabi Muhammad bin Abdullah menjawab : “aku Adam abu bashar, aku Muhammad Abu Arwah,———-Aku Ahmad bilal Mim, jika mim hilang berati Ahad bukan, tapi nabi tidak berkata aku yg ahad melainkan disebaliknya. Allah SWT sangat jelas sangat nyata tak ada hijab lah…manusia yg tdk dapat melihat Allah karena disangkanya yg melihat itu kepunyaanya.

    • kita sudah mengerti ulasanya..ketika penjelasanya memakai dalil Ibnu Taimiyah,Ibnul Qayim,Syehk Utsaimin,Bin Baz,Al Abani….
      dan saya belum pernah mendegar riwayat para ulama2 Salaf.. ini bertemu dengan rasullulah…

    • Rujukan takwil hujahnya para ulama salafi yg selalu saja menyudutkan kaum sufi .Mana mungkin para pengikut salafi mengerti mengerti ajaran sufi sedangkan pokok prinsip tauhidnya saja sudah berbeda dengan kaum sufi dan aswaja .
      Kalau ajaran kaum sufi itu lebih menekan kan untuk mengenal tuhan agar bs menjalankan syariat lbih hikmat ,kalau tidak mengenal tuhan lantas kepada siapa selama ini kita beribadah ? ?
      “Barang siapa yg mengenal dirinya maka ia mengenal tuhannya “

  9. farid sudibyo on said:

    asalammualaikum Bang sufi muda….
    semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah kepada Bang sufi muda amin….
    saya sdh membaca semua tulisan di blog ini, rasanya seperti menemukan mata air di hati yg gersang ini. Alhamdulilah saya sudah jalankan metode yg abang sampaikan. dan saya sdh bertemu dgn salah satu guru tarekhat serta menjalankan dzikir yg telah diberikan dan sudah di baiat. Sangat terasa sekali bahwa sejatinya yg menjadi kunci awal adalah ber mujahadah ( membersihkan hati dari nafsu kita ) , mohon maaf jika pendapat saya tdk berkenan. Dan alhamdulilah dalam perjalanan saya banyak hal” yg tidak terduga yg saya alami. terutama lewat mimpi. dan yg saya alami kondisi saat ini saya merasa selalu di awasi oleh Allah SWT. mohon doanya Bang Sufi muda,
    hati selalu merasa diawasi Oleh Allah SWT namun saya sedih di dalam pengawasan tersebut kadang saya belum bisa mempersembahkan hal-hal kebaikan baik beribadah dan bersosial dlm lingkup kerja dan masyarakat. Terkadang Nafsu masih membelenggu hati, itu yg membuat saya sedih.
    Bang Sufi mohon pencerahaanya………..
    bagaimana agar saya selalu bisa istikomah dalam beribadah…..?
    Kesimpulan dari saya kondisi hati ” baru pada tahap selalu dalam pengawasan Allah SWT ” . Padahal saya ingin peningkatan sampai dengan bertemu dengan Allah SWT. mohon maaf Bang Sufi Muda saya kurang bisa menulis , sebelumnya saya mengucapkan terima kasih.

    Salam sukses dunia dan akherat …….

    • Wa’alaikum salam

      Istiqamah tidak datang dgn instan, ini di dapat lewat proses panjang, jatuh bangun, sampai benar2 berada di maqam tsb.
      Begitu berat istiqamah sehingga banyak orang sufi berpendapat bahwa istiqamah dalam ibadah jauh lebih tinggi dari karomah.
      Sesuai hadist Nabi, “Amalan yg di cintai Allah adalah amalan sedikit tapi di lakukan dgn istiqamah”
      Saya berdoa semoga Anda sampai kepada tahap Musyahadah, memandang wajah-Nya tanpa ada keraguan di hati.
      Salam

      • farid sudibyo on said:

        Terima kasih Bang Sufi Muda atas Jawaban dan Pencerahannya…..
        terutama atas doa nya. Insya Allah … allah SWT akan menuntun diri ini ke tahap Musyahadah….amin amin amin ya robalalamin…..
        Tentunya lewat proses panjang yg Bang Sufi sampaikan ( saya jd intropeksi ternyata apa yg saya jalankan belum ada apa”nya tp sdh minta yang lebih ) .

        Ya Allah aku sangat meridukanmu……
        Kepasrahanku belum engkau terima…..
        Nafsu masih membelenggu hati……
        Aku ingin bercengkerama denganMu….
        Agar dalam Sholat ku hanya wajahmu yg dapat kupandang…

        Sekali lagi mohon doanya Bang Sufi Muda, jg dari saudara-saudara yg sefaham terutama : Bang Rusliyanto, Pengembara Jiwa, Asep , Fakir Pengembara dan lainnya. smg Allah selalu membimbing kita semua untuk menuju RidhoNYA.
        Amin…….ya Rob….

  10. subhanallah walhamdulillah

  11. indah…! belum kenal, namun sudah dapat saling menyapa dlm iman. syukurlah….. shohib2 sufimuda

  12. Assalamualaikum wr.wb,
    Apabila kita masih berada pada tahapan dzat Allah ,kita tidak akan sampe kepadaNYA.
    Allah berfirman kepada nabi musa a.s pada surat taha ayat 11-14.
    “Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku” [QS. Thaha : 11-14].

    Dengan ayat ini ,tanggapan saya adalah:
    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku” [QS. Thaha : 11-14].

    Bahwa sesungguhnya jangan menyembah dzat Allah,lafadz Allah,sifat-sifat Allah tetapi sembah saja lah Allah.Apabila kita shalat apakah dzat Allah,lafzd Allah dan sifat-sifat Allah yg kitah sembah?tentu tidak bukan?hanya Allah semata.
    Tidaklah pantas bagi nabi musa a.s untuk sujud kepada api bukan?

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid

  13. encep wahyudin on said:

    malaikat muqorobin memetik gitar
    mngiringi insan mnaiki tangga langit
    mngukir lailatul qodar dilangit trdekat
    di sidrat muntaha insan terfana
    matahari mmancar cerah
    batin brteriak ru’yah
    pnjaga diluar trtidur nyenyak
    lamanya waktu bercumbu.

    salam buat semua cendikiawan mukmin.
    putra galunggung tasikmalaya

  14. abangnda, agung suruh makan aja bang

  15. encep wahyudin on said:

    ru’yatullohi taala piddunya bi aenil qulub,
    darimana datangnya lintah
    dari sawah turun kekali
    dari mana datangny cinta
    dari mata turun kehati.

    sabda nabi saw:
    ma’ridat modal dasarku
    akal agamaku
    cinta dasar hidupku.

    agama itu akal,tiada agama bagi org yg tdk brakal.mhon koreksi saudara2ku.salam santun galunggung tasikmalaya

  16. Assalamualaikum Wr Wb, Bang SM, saya sudah hampir 5 th mengikuti blok ini Terima kasih bang SM atas pencerahannya, kadang2 bingung bila tidak dimengerti kadang2 tercengang bila dimengerti maklum saya belum pernah menemukan mursyid sampai saat ini, Maaf Bang sufi Muda saya ingin bertanya tentang uraian diatas. yang dimaksud dengan melihat tuhan disini adalah memandang diri sendiri – dan melepaskan diri atau dengan kata lain sesuai dengan Hakekat Sembahyang yang pernah ditulis tahun lalu didalam Hakekat Sembahyang yg perlu dihilangkan yaitu Af’al, Asma sehingga ZatNyapun melebur jadi dirinya.Apakah ada persamaan uraian diatas sama hakekat sembahyang, tolong dijelaskan. Terima kasi bang SM. Bila cara penyampaian ini salah dalam menanyakan hal ini, Mohon dimaafkan.

    Wassalam

    Sahlan

    • Wa’alaikum salam
      Saya menghaturkan terimakasih atas kesabaran membaca tulisan2 disini sepanjang 5 tahun. Saya berdoa kepada Allah, semoga suatu saat kita bisa dipertemukan oleh Allah dalam kasih dan sayang-Nya, amin ya Rabbal ‘Alamin.

      Barangsiapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya
      Barangsiapa yang kenal Tuhan nya maka binasa dirinya.
      Memandang Wajah Allah tentu dengan mata hati, atas bimbingan Guru.
      Tahalli, Takhali dan Tajjali, di tanam, di rawat baru bertajalli Nur Allah dalam diri.
      Melihat Allah adalah memandang Dzat-Nya dengan cahaya-Nya,
      Hanya cahaya matahari yang sampai kepada matahari, hanya cahaya Allah yang sampai kepada Allah.
      Kenapa kita bisa melihat matahari? karena mata kita normal, yg terpenting ada pancaran cahaya matahari sendiri, tanpa kedua unsur ini mustahil kita bisa melihat matahari.
      Persamaan dgn Allah, manusia hanya mampu melihat keagungan wajah-Nya ketika mata hati nya baik (melalui proses dzikir), sehingga cahaya Allah masuk ke dalam hati, dengan itu dia bisa menyaksikan (Syahadah) Dzat-Nya.

      Uraian saya di atas tentu tidak akan bisa mewakili pengalaman spiritual orang2 yg telah sampai ke maqam syahadah, namun paling tidak uraian itu sudah mendekati.
      Memandang Allah tidak akan pernah di dapat dgn dipahami, karena akal tidak akan mampu sampai kepada Dzat-Nya, hanya dgn bimbingan orang yang sudah sampai kepada Allah (Guru Mursyid) hal tsb bisa terwujud.
      Demikian

  17. assalamualaikum, bung Sudi Muda, Alhamdulillah saya masih bisa baca tulisan2 bung SM, setiap hari hal pertama yg saya lakukan sebelum bekerja adalah membuka blog ini. jadi setiap hari saya menantikan tulisan2 yang dahsyat dari bung SM. Terimakasih telah berbagi ilmu buat kami, semoga bung SM diberikan kesehatan dan panjang umur sehingga ilmu2 nya sampai pada kami. Amiin

  18. berharap suatu saat saya bisa bertemu dengan abangnda, mohon bimbingan dan doa nya, semoga Allah ridlo…. aamiin… saya dari solo dan saat ini berdomisili di tangerang

  19. luar biasa kajiannya… semoga bisa ikut nimbrung bareng sama para ahlinya disini

  20. Mohon maaf apabila ada yg tdk berkenan.

    mengutip pepatah Jadilah seperti padi makin berisi makin menunduk, makin berilmu maka hindari “rasa” ingin diakui keilmuannya (mengingatkan darimana dan milik siapa “ilmu dan pengetahuan” sebenarnya berasal, tergelincir sedikit “rasa” setipis sutra perbedaannya, akan mengantarkan pada takabur diri, tuhan tertinggal) Mereka yang sebenar-benarnya paham atas ilmu ketuhanan ujung-nya adalah “Diam dalam paham” serta “memakai dalam perbuatan”. Bermuzakarah / diskusi / tukar pendapat adalah ciri khasanah islam tapi tidak saling mencari benar salah karena setiap orang berbeda-beda “paham tentang-NYA”. Indahnya berbagi dalam islam juga patut dipahami, tidak seperti berbagi suami / istri. Karena ketika bicara ttg akhirat adalah sendiri-sendiri tidak berjamaah tapi termasuk golongan / kaum bagaimana (menurut saya klo mengutip kisah2 ttg surga neraka waktu kecil diceritakan tingkatan dan nama-nama surga neraka ?)

    Saya hanya manusia biasa pangkat kopral, ingin ketemu tuhan pangkat jenderal tentu tidak mudah. Yang saya lakukan saat ini hanya “memantaskan diri sendiri” agar pantas ditemui jenderal.

    Mohon pencerahan dan permakluman terhadap saya yg masih hijau.

  21. sahlanlan on said:

    Assalamulaikum WEr Wb, Bang Sufi Muda, Makin lama membaca blog ini makin nikkmat. sekali lagi mohon dijelaskan bagaimana dedanya antara hidup dengan Roh. Trima kasih Sufi Muda.

    • wa’alaikum salam
      Sdr. Sahlanlan.. terimakasih
      Sy belum paham maksud pertanyaannya, beda hidup dgn roh?

      • sahlanlan on said:

        Assalamualaikum Wr Wb, Bang Sufi Muda.
        Maksud pertanyaan saya yg di atas egini Bang SM, utuk mencapai kehidupan yang nikmat,damai dan indah syaratnya harus mengenal TuhanNya. Yang saya tanyakan, Apakah Roh/Nyawa inilah yg perlu dipelihara atau diawasi sehingga dia akan mengenal dirinya / mengenal TuhanNya ? Terima kasih Bang S M .

        Salam

        Sahlan

        • Benar, karena yang akan kembali kepada Allah kelak adalah rohani bukan jasmani, makanya rohani harus berkekalan dengan cahaya Allah sehingga ketika berpisah dgn jasad juga terus berkekalan dgn Allah

        • mohon maaf mas sahlan dan sufi muda,,,,,dari pertanyaan mas sahlan itu apa benar ada berkaitan dengan mengenal diri akan mengenal tuhan nya itu berkaitan dengan nafsu? perang yang paling besar apakah memerangi nafsu ? dan apabila nafsu tidak bisa diperangi apakah bisa sampai ke allah? mohon penjelasannnya…wasalalm

  22. hampir dua tahun yang lalu saya selalu asyik dengan tulisan-tulisan anda (mengunjungi sufimuda.net ketika masih mahasiswa).
    semua berubah ketika saya bekerja, saya melupakan apa yang sebenarnya saya butuhkan (lupa dengan web sufimuda.net hehehe/sibuk dengan dunia).

    Tapi, Alhamdullillah ALLAH berkenan lain, saya mulai sadar bukan dunia yang saya butuhkan walaupun dunia dapat kuraih dengan mudah. saya merasahkan suatu kehampaan, kegersangan, ketakutan yang luar biasa.
    Begitu banyak dosa yang saya perbuat, alangkah hinanya diri ini dengan kerusakan yang saya perbuat. Ternyata bukan dunia yang saya cari.

    Tiba-tiba saya mearasa kaget ada email masuk (perihal tulisan abang gurumu adalah guruku) dan mengarahkan saya kembali ke tulisan anda bang SM. Saya bersyukur dipertemukan dengan anda kembali dan harapan saya muncul kembali untuk bertatap muka dengan abang sufi muda.

    Faqir yang hina ini minta di do’akan agar selalu istiqomah untuk selalu berusaha mraih kasih dan cinta ALLAH.

  23. Assalmu alaikm bang sufi,,smg bangda selalu dlm rahmat allah,yg sy ingin tanyakan,knapa di saat baginda nabi saw,menerima perintah solat jibril tdak ikut ke sitrotul muntaha klo tdak salah,,Apa sbabnya,,mhn penjelasan,

  24. Assalamu’alaikum.

    Salam kenal..
    Terimakasih saya ucapkan buat pak SufiMuda yang diRahmati Alloh, yang telah mencurahkan ilmunya melalui artikel ini.
    Smoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin…

    Salam santun.

  25. Ass..bang,saya baru2 ini membaca blog tulisan sm ini.luar biasa..saya seperti mendapatkan ketenangan hati.terus terang ibadah saya minim sekali.kira kira adakah bacaan amalan zikir yg dipelajari?trims

  26. asalamualaikum wwb.salam penuh rahmad sekalu dan tetap dalam kesadaran saudara ku sufi muda?dalam artikel kali ini cukup sangat membingungkan karna saudaraku banyak masih ada rasa takut,jadi tidak bisa menulis arti sesungguhnya?allah adalah nama yg kita ciptakan untuk yg maha kuasa sementara yg maha kuasa itu satu untuk semua semua menjadi jadi semua yg tampak itu adalah allah,semua yg tak tampak juga allah jika allah nama dimanakah yg punya nama?

  27. Allahu Akhbar x 3

    Jazakallahu khairan jaza’

  28. ALLAHU AKBAR x 3
    Jazakallahu khairal jaza’

  29. amin ya allah…ya rohman…ya rohim…ya mujibas sailin….

  30. ketahuilah sob, bro, sis, tong, etc…..

    Dimensi TUHAN itu Maha Tinggi
    Allahuakbar (Dia maha besar atas segala sesuatu)

    melihat Tuhan simplenya begini sob…

    kalau kita melihat matahari langsung, mata kita akan BUTA! tapi
    kalau pakai wasilah (perantara media kamera kemudian disalurkan ke TV akan kelihatan itu matahari) pasti bisa!

    ga akan paham kalau ga ikut tariqat (thariqat yang benar)

    klu masih ga paham juga, ya sudahlah… tinggalkan aja dulu, kerjakan saja yang kita pahami dulu. Seiring waktu semoga dikaruniai MELIHAT ALLAH di DUNIA

    hanya Mata Hati yang sanggup melihat-Nya selama di Dunia

    “Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan” (Qs. Al-Isra [17]:72)

    dengan mata hati kita bisa tau anak/orang lain bohong apa tidak, kecuali hatinya sakit/buta seperti Dajall

    jangan dikira Dajal itu cacat sebelah, salah anggapan seperti ini, apa susahnya dia (Dajall) operasi mata.

    Dajjal BUTA MATA HATINYA yang DZAHIR TIDAK BUTA!

  31. Terimakasih atas cerita2 yang telah dipostkan.
    Saya bersyukur Allah telah memberikan saya kesempatan untuk membacanya.
    Semoga Anda menjadi manusia yang Di Cintai-Nya.

  32. Assalamualaikum wr.wb,

    pembicaraan saya dengan Allah soal surga saat nabi Adam dan siti Hawa berada disana.

    Iya Allah, surga adalah kenikmatan ,kedamaian hidup kekal tetapi mengapa ada kejahatan yg memyebabkan Nabi adam dan siti Hawa keluar dari padanya.
    Bukankah Engkau telah mengeluarkan iblis dari surgaMU?

    jawab Allah S.W.T , setelah Adam dan Hawa turun ke dunia ,telah KU janjikan kepada mereka dan anak cucu mereka surga yg BARU.
    Barang siapa mengikuti iblis akan KU lemparkan semuanya ke neraka jahanam untuk selama-lama.
    Surga yg baru KU janjikan kepada hamba-hambaKU yg sholeh, mereka akan hidup kekal untuk selama-lamanya dan tidak ada lagi penderitaan dan gangguan iblis dan para pengikutnya.

    sholatlah untuk memgingat Aku.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid

  33. Assalamu’alaikum wr wb

    Salam kenal, Sufi Muda
    Saya sangat senang sekali dengan postingan2 di blog ini,,, yang mengarahkan untuk lebih dekat kepada-NYA.. dan saya sangat mengharap bantuannya untuk kiranya bisa ikut berguru di Guru Mursyid .”Syeikh Syarif Hidayat Muhammad Tasdiq”
    Apakah majlis yg sama dengan Guru yg sama, bisa saya ikuti di kota lain?
    Saya berdomisili di kota Trenggalek-Jawa timur,, dikota manakah saya bisa mengikuti Majlis yg sama dg Guru Mursyid yg sama, yg kiranya dekat dengan tempat tinggal saya?
    Mohon di bantu,,,
    Terima kasih atas saran2nya…
    Wassalamu’alaikum wr wb

  34. Bang sufi numpang iklan

    Menjelaskan Horikul Adah
    Horikul Adah sukses ibadah
    Setelah lulus sukses ibadah
    Alloh izinkan horikul adah

    Tingkat amal sarat rukunnyah
    Waro zuhud beristiqomah
    Sabar tabah segala pitnah
    Dalam beramal sunah rosulnyah

    Walau sendiri tanpa muridnyah
    Karena murid belum waktunyah
    Amal sendiri soheh dan esah
    Sampai sukses ketemu Allohnyah

    Mempermainkan horikul adah
    Alloh azab dengan ilmunyah
    Ilmu jadi balad tentaranyah
    Nyiksa pemain horikul adah

    Bagi yang murni horikul adah
    Kepada Alloh di apah sajah
    Isu gossip gibah pitnah
    Jadi santapan amal ilmunyah

    Horikul adah beri syapaah
    Bagi setiep penolongnyah
    Walau ta ikut amal ibadah
    Alloh hargai tiep jasanyah

    Banyak yang bilang enak katanyah
    Tetapi coba jalani sajah
    Jika ta ada tawpik hidayah
    Rido Alloh tidaklah mudah

    Menilai gampang menjadi pitnah
    Menggampangkan enak ya samanyah
    Sebaiknyah pelajarilah
    Kaipiat toat soheh dan esah

    Wajib taqlid iman aqidah
    Taqlid kepada ahli ma’ripah
    Bukan sotoy nunjuk diah
    Tapi mahami sarat rukunnyah

    Mulai dari baca sahadah
    Wajib ain iqror tasdiqnyah
    Juga sarat rukunnyah
    Sampai paham sahadat esah

    Begituh juga sarat solatnyah
    Jangan solat roman sajah
    Sarat sebab dan rukunnyah
    Taklip dan wad’I pelajarinyah

    Nuntut ilmu kebutuhannyah
    Rido Alloh dan rohmatnyah
    Bukan pinter ukurannyah
    Tetapi toat pada rosulnyah

    Setelah rosul ujung zamannyah
    Wali abdal penerus da’wah
    Imam Mahdi taqlidannyah
    Julang mengimpormasi sajah

    Mrotes Alloh kebanyakannyah
    Mereka nilai Alloh salah
    Salah ngutus perkiraannyah
    Saking bodoh yaqin aqidah

    Pabila bodoh yaqin aqidah
    Instan lepel pandangannyah
    Ulam kondang ke juluknyah
    Tida paham musrik akidah

    Bila sudah musrik aqidah
    Katah duniya mereka ngatah
    Tida paham soheh dan esah
    Paham juga cuwek sajah

    Amanat rosul pada umatnyah
    Pada umat kurun ahirnyah
    Nuntut ilmu jaga napsunyah
    Semanget usaha ekonominyah

    Nuntut ilmu penyelamatnyah
    Mengikuti ahli ma’ripah
    Dengan taqlid dapet berkah
    Mengenal Alloh siapah sajah

    Adapun Alloh sesungguhnyah
    Ezat suci dan ilmunyah
    Rasa merasa rumasa salah
    Selalu belajar apah sajah

    Musuh dari horikul adah
    Ego congkak kesombongannyah
    Alloh juga mereka pitnah
    Jika ta cocok idiologinyah

    Musuh Alloh si pemitnah
    Gengsi dengan menanyakannyah
    Merasa paling tau esah
    Memaksa Alloh beri pahlanyah

    Alloohu’alam

  35. Assalamualaikum. Saya sudah lama membaca tulisan sufi muda dan semua keterangan alhamdulillah saya bisa cerna dgn baik, namun ada pertanyaan yang muncul ketika SM menjawab pertanyaan sdr sahlan sebelumnya dimana bang SM menjawab bahwa yang akan kembali kepada Allah adalah rohani bukan jasmani, lalu bgmna dengan nasib jasmani kita ? bukankah kalimat INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROOJI’UN berarti kita berasal dari Allah termasuk jasmani dan rohani dan akan kembali kpd Allah termasuk jasmani dan rohani kita, mohon penjelasannya, al’afwu minkum, jazakallahu khairan katsiiran.

  36. Ping-balik: Melihat Allah di Dunia | Deas ciamis

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: