Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Tobat (7)

doa1Seorang hamba tidak layak meninggalkan tobat hanya karena takut terjerumus dalam dosa yang lain. Sebab hal itu merupakan was-was setan yang ditiupkan ke dalam hati hamba agar dia menunda-nunda tobat. Sudah semestinya hamba segera bertobat dan tidak menunda-nundanya. Sebab ajal sungguh tersembunyi, hamba tidak tahu kapan kematian akan datang mengagetkannya, tidak pula dia tahu kapan sakit akan menimpanya, sakit yang mengantarkannya kepada kematian. Sudah semestinya hamba berusaha keras melakukan pertobatan. Sumgguh, modal pokok Islam beriman adalah iman, dan iman bisa lenyap bila tiada tobat dan terjerembab di lembah dosa. Sehingga dia abadi di neraka Jahanam.

Al-Iman al-Ghazali r.a. berkata, “Siapa yang tidak bersegera bertobat dengan menunda-nundanya, dia berada di antara dua bahaya besar yang amat mengkhawatirkan. Pertama, gelap semakin berlipat meliputi hatinya karena maksiat hingga berkarat dan tidak bisa dihapus. Kedua, didahului sakit atau mati hingga dia tidak memiliki keluarga untuk berusaha menghilangkan karat tersebut.”

Karena itu ada keterangan di dalam atsar, “Sesungguhnya jeritan penghuni neraka kebanyakan disebabkan oleh perilaku menunda-nunda tobat. Dan kebanyakan jeritan mereka adalah, ‘O…sungguh malang orang yang menunda-nunda .’ Orang yang hancur binasa tidak hancur binasa selain karena menunda-nunda. Tidak ada yang selamat selain orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qalbun salim).”

Maka segeralah bertobat sebelum menginjak tempat yang amat menakutkan. Oh, betapa tempat itu sungguh sempit, tak ada kelapangan, pasti berbahaya, jalannya sungguh pekat, tempat-tempat membinasakannyademikian samar, huniannya kekal, deritanya abadi, teriknya dipurnakan, jeritannya amat tinggi menyayat, minuman penghuninya timah panas, dan siksanya sungguh lestari. Zabaniyyah melebur jasad mereka, lalu Hawiyah menghimpun mereka. Di dalamnya mereka melolong, menjerit-jerit meneriakkan kesengsaraan. Jilatan api terus menyambar-nyambar, membakar mereka. Di sana mereka berangan-angan lalu menjadi lenyap dan tak lagi ada, tetapi sungguh mereka tak akanpernah lepasdari siksa. Kedua kaki mereka diikat hinga ke ubun-ubun, wajah mereka menghitam oleh kehinaan maksiat. Mereka memanggil-manggil dari lorong-lorong dan labirinya karena siksa tak henti mendera, ‘Wahai Malik, ancaman itu sungguh nyata telah menimpa kami. Wahai Malik, api sudah dinyalakan untuk kami. Wahai Malik, nanah sudah mengalir dari kami. Wahai Malik, besi belenggu telah memberati kami. Wahai Malik, kulit tubuh kami telah terkelupas. Wahai Malik, keluarkanlah kami darinya, kami sungguh tidak akan kembali (berbuat dosa)!” Namun setelah sekian lama, Malik hanya menjawab, “Tidak mungkin. Sudah terlambat. Tidak ada yang keluar dari tempat kesengsaraan ini. Tetap di  sana, rasakanlah murka Dia.”

 
Ya Rabb, anugerahillah aku tobat hingga aku bertobat

dan ampunilah aku, sungguh dosa-dosa yang telah menyusahkan aku

Matikanlah diriku dalam pelukan agama Muhammad

Hidupkanlah hatiku di hari-hari hati menjadi hidup

Wahai Sang Penawar penyakit, sembuhkanlah sakitku

Ya Illahi, aku sungguh bermohon kepada-Mu

Obatilah hatiku dari penyakit yang telah menutupinya

Sungguh, para tabib telah kebingungan dengan penyaktku

Wahai Sang Pengobat hamba, anugerahilah aku kedekatan

tak mungkin aku kecewa saat aku mengharap Engkau

Hentikanlah kegelincinganku dan berdermalah kepadaku dengan kedekatan

Sungguh penyakitku akan sembuh dengan kedekatan dari-Mu

Betapa rusak malam saat aku bermaksiat kepada-Mu

ia telah berlalu menyisakan dosa untukku

Apalah muslihatku, aku sungguh telah bermaksiat kepada-Mu karena bodoh

bagaimana aku tidak malu, padahal Engkau sungguh senantiasa mengawasi

 

Bersambung

Single Post Navigation

5 thoughts on “Tobat (7)

  1. selama masih didunia
    selama masih hidup dan
    selama hidup didunia
    itulah KESEMPATAN kita

  2. demi masa…
    ingat 5 perkara
    sbelum 5 perkara
    sehat sblum sakit
    muda sblum tua
    kaya sblum miskin
    lapang sblum sempit
    hidup sblum mati

  3. mohammad taufiqur Rohman on said:

    Hati ini serasa sesak mengingat dosa bosar yg penrnah hamba lakukan. lama dalam kehampaan bahkan nyaris dalam kebinasaan. ternyata Alloh masih mengirim teman yg ternyata membawa kabar ketentraman. dikenalkan akan Guru yg manjai mursyid walaupun kini beliau telah berlindung di SANA…
    Alloh….berlinang airmataku ini jangan hanya sebagai desal sesaat..tinggal aku berusaha menjadi murid yang istiqomah sehingga ampunan kudapat dr cahaya yg tak terhingga…..Ilahi anta maqsudi waridhoka mathluubi..

  4. Ruslianto on said:

    Ass.
    Taubat seseorang itu (hanya) diterima oleh Allah SWT “sebelum ajal (sakratul maut) datang”, Oleh sebab itu salah satu syarat untuk bertaubat (itu) ialah tekad bulat seseorang untuk meninggalkan dosa kahir dan bathin serta maksiat dgn tidak mengulanginya lagi untuk selama-lamanya ,.. Hm Saya teringat sebuah karya teman dikawasan Batam , mengatakan “Selamatkan Nyawa mu Yang Selembar itu”.

    Bagi seorang yg sudah sekarat, tidak mungkin persyaratan (Tobat) ini terpenuhi…… ibarat mata sudah tak melihat , punya telinga dah-pun tak mendengar,…. kasian,.. Lidah-pun terasa kelu, …… datang (pula) orang syariat yg dungu,.. ditalkin kannya uwak yg sekarat itu. manalah mendengar lagi ,.. kasian, ustad oh ustad. kecuali orang ahli tarekat ia dapat mentalkin-kan rohani yg sekarat (itu) ,… nyambung wak ya nyambung lah.

    Seorang yg berbuat maksiat itu “menutup mata hati” dan dapat merusak iman, harus segera bertaubat. Mengulur-ngulur kan taubat, berarti memperbesar penutup mata hati, yang jika hal tsb dibiarkan berlarut-larut akan lebih sulit lagi untuk membersihkannya.

    Al Qur’an :
    Dan tiadalah taubat itu diterima oleh Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran . Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.
    An Nisaa ayat 18.

    Sabda Rasulullah s.a.w :
    Sesungguhnya kebanyakan teriakan penghuni neraka itu adalah dari penundaan-penundaan (Al Hadist)

    Sabda Rasulullah s.a.w :
    Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu membersihkan kejahatan-kejahatan sebagaimana air membersihkan kotoran (H.R Abu Naim).

    Wass, sMoga bermanfaat dan kpd Bg.SM salam hangat.

  5. Agus jaya on said:

    Sangat bermanfat khususnya bagi kt yg belum mengetahui tentang ilmu tasauf/tarekat seperti sy dan tdk ada pernah nyantri dan slama ini banyak orang yg salah meng artikan tentang ilmu tasauf/tharekat,dgn membaca artikel ini sy menjadi yakin bahwa kt hrs mempelajari dan mengamalkan ilmu tasauf dalam rangka meningkatkan Iman dan taqwa kt /Takarub kpd Alloh SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: