-
Sufi Kaya-2
Kehidupan Nabi yang begitu sederhana, kehidupan sahabat yang begitu bersahaja dan kehidupan para sufi yang faqir tercatat dalam sejarah mengikuti gaya hidup Nabi dan para sahabat, lalu apakah menjadi seorang sufi harus fakir, miskin dan melarat?. Sufi adalah orang yang tidak akan pernah bisa dikenal di zamannya, tidak akan pernah diketahui identitasnya kecuali oleh orang sejenis dengan mereka.
-
Sufi Kaya
Rasulullah saw dalam kehidupan Beliau tercatat sebagai orang yang hidup sederhana, bahkan cenderung kepada kehidupan kaum fakir. Beliau tidak menyukai kemewahan dan itulah jalan hidup yang dipilih oleh Rasul yang kemudian di contoh oleh para sahabat dan orang-orang shaleh pada generasi selanjutnya. Nabi dengan posisi sebagai kepala negara dan juga jenderal yang membawahi sekian banyak prajurit, akan sangat mudah bagi Beliau untuk hidup mewah dengan segala fasilitas yang bisa Beliau peroleh. Namun Beliau telah memilih kesederhanaan sebagai pilihan hidup, sesuai dengan doa Beliau ketika diberikan pilihan apakah menjadi seorang Nabi yang Raja atau sebagai Nabi yang hamba, Rasulullah memilih menjadi Nabi yang hamba.
-
Andai Kalian Tahu Apa Yang Aku Ketahui
Rasulullah saw adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling mengetahui rahasia ilmu berhubungan dengan Allah, paling mengetahui apa yang di firman kan Allah dan rahasia di balik firman tersebut. Al-Qur’an sebagai firman Allah yang tertulis memiliki makna zahir dan makna bathin. Makna zahir akan ditafsirkan oleh ulama yang mengetahui ilmu tentang tafsir al-Qur’an sedangkan makna bathin yang terkandung dalam Al-Qur’an akan dipahami oleh hati yang telah disinari dengan cahaya-Nya.
-
Menguak Kembali Definisi Tasawuf
Dalam sejarah perkembangan nya, Sufi dan Tasawuf beriringan. Beberapa sumber dari kitab-kitab yang berkait dengan sejarah Tasawuf memunculkan berbagai definisi. Definisi ini pun juga berkait dengan para tokoh Sufi setiap zaman, disamping pertumbuhan akademi Islam ketika itu. Namun Reinold Nicholson, salah satu guru para orientalis, membuat telaah yang terlalu empirik dan sosiologik mengenai Tasawuf atau Sufi ini, sehingga definisinya menjadi sangat historik, dan terjebak oleh paradigma akademik-filosufis. Pandangan Nicolson tentu diikuti oleh para orientalis berikutnya yang mencoba menyibak khazanah esoterisme dalam dunia Islam, seperti J Arbery, atau pun Louis Massignon. Walaupun sejumlah penelitian mereka harus diakui cukup berharga untuk menyibak sisi lain yang selama ini terpendam.
-
Nama SUFI Sudah Dikenal Zaman Pra Islam
Bantahan Terhadap Orang Yang Berkata : “Kami Tidak Pernah Mendengar Nama Sufi Sebelumnya dan Nama Itu Tentu Nama Baru Diciptakan” Jika ada seseorang bertanya, “Kami tidak pernah mendengar istilah ash-Shufiyah dikalangan sahabat Rasulullah saw., tidak juga di kalangan kaum setelah mereka (tabi’in). Sedangkan yang kami ketahui hanyalah sebutan ‘Ubbad (Ahli Ibadah), Zuhhad (Ahli Zuhud), Sayyihin (para pengembara) dan fuqara’ (orang-orang fakir). Tidak pernah ada riwayat yang menuturkan, bahwa salah seorang di antara para sahabat dipanggil dengan sebutan Sufi”.
-
Wishal, Puasa 3 Hari 3 Malam
Secara umum kita mengetahui tentang definisi puasa sebagai menahan lapar dan dahaga serta dari yang membatalkan mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Seluruh puasa, baik Puasa Ramdhan dan puasa sunnat yang lain merujuk kepada definisi itu yaitu berpuasa sehari dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Lalu apakah ada puasa yang lebih dari satu hari yang pernah dilakukan Rasulullah?
-
Taqwa Dalam Pandangan Guru Sufi-2
Zaman dulu, Guru Sufi sangat ketat dalam menyeleksi calon murid, bahkan adalah calon murid yang harus mengemis selama 3 tahun dijalanan kemudian baru diterima menjadi murid. Sunan Kalijaga harus menjaga tongkat dari sang Guru dalam jangka waktu yang sangat lama sebagai ujian awal kemudian baru diterima menjadi murid.