Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Sabar, Tunggu Waktunya Tiba! (Selesai)

Makrifat bukan merupakan ilmu tapi sebuah anugerah, sebuah pencapaian hasil dari mujahadah hamba sehingga Allah berkenan memperlihatkan keindahan wajah-Nya kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh karena itu makrifat tidak bisa diperoleh dengan hasil diskusi apalagi perdebatan. Makrifat tidak akan pernah bisa diperoleh dengan membaca buku dan meneliti kitab-kitab tasawuf bahkan semakin banyak akan semakin sulit untuk mencapainya.

Makrifat hanya bisa diperoleh dengan bimbingan Guru yang telah mencapai tahap itu. Seorang Guru yang telah berulang kali menempuh perjalanan kesana sehingga kemudian dia bisa menjadi pemandu para murid-muridnya sehingga bisa selamat sampai ke tujuan. Seorang Guru yang telah berulang kali menempuh perjalanan itu tentu saja akan paham dimana letaknya lembah dan bukit, sangat paham dimana jalan licin dan berbahaya sehingga seluruh khalifah yang dibawa nya akan selamat sampai ke tujuan.

Tanpa bimbingan seorang yang ahli dan sudah pernah kesana maka bisa dipastikan perjalanan yang ditempuh akan tersesat dan tidak mencapai tujuan. Ada sebuah syair terkenal di kalangan Sufi, “Kaum Sufi adalah orang yang sudah sampai kehadirat-Nya kemudian dia kembali untuk menyampaikan berita gembira”.

Pengetahuan Agama pada tataran hapalan bisa menghambat seseorang mencapai makrifat pernah disampaikan oleh Imam Al-Ghazali “Kitab ibarat tongkat untuk membantu berjalan, ketika sudah bisa berjalan maka tongkat itu tidak diperlukan lagi bahkan bisa menghambat perjalanannya”. Kemudian Al-Ghazali menyindir orang-orang yang terlalu kuat memegang kitab seperti memegang tongkat sehingga seumur hidup, dia tidak pernah bisa berjalan sama sekali, lumpuh seumur hidup.

Kajian-kajian tentang makrifat pun tidak ubahnya seperti seorang yang memegang tongkat, semakin dikaji ilmu makrifat semakin jauh dirinya dari makrifat itu sendiri. Ilmu Tarekat sendiri sebagai sarana atau langkah dalam menggapai tarekat bukan berisi kajian-kajian tapi amalan-amalan. Inti dari Tarekat adalah mengamalkan dzkir secara terus menerus kemudian melanjutkan dengan Suluk/I’tikaf, dari sana nanti Allah langsung memberikan pemahaman kepada hati hamba-Nya, melimpahkan cahaya-Nya sehingga mata bathin bisa menembus alam tanpa batas, berjumpa dengan Allah SWT.

Sebagai ilustrasi untuk mudah dipahami, Tarekat ibarat seekor kambing yang masih kecil, dzikir adalah makanannya sedangkan pertumbuhan mencapai tahap dewasa (kambing menjadi besar) adalah makrifat. Yang dilakukan oleh seorang penggembala adalah memberikan makanan secara teratur kepada kambingnya sehingga seiring berjalannya waktu kambingnya otomatis akan menjadi besar. Penggembala tidak boleh memikirkan kapan kambing besar, bagaimana bentuk kambing setelah besar, berapa ukurannya karena kalau itu yang difikirkan maka dia akan lupa memberikan makan untuk kambingnya sehingga kambig tersebut tidak tumbuh dengan normal bahkan mati.

Sama halnya dengan belajar tarekat, yang menjadi fokus seorang murid bukan kepada makrifat tapi kepada amalan-amalan dzikir yang merupakan makanan bagi rohaninya untuk tumbuh besar sehingga mampu berjalan ke tempat tujuan. Seorang Guru sufi memberikan nasehat kepada muridnya, “Jangan kau fikirkan kapan kambing mu besar, beri saja dia makan dengan teratur maka otomatis akan menjadi besar”.

Bagi murid yang belum memahami dan merasakan makrifat, masih terasa gelap, teruskan saja dzikr. Ketika rohani murid tersambung dengan rohani Guru maka secara otomatis rohaninya akan sampai kehadirat Allah walaupun dia belum menyadarinya. Orang yang baru mulai berguru ibarat bayi, dia sudah sampai ke kota yang dituju tapi dia belum bisa melihat, belum bisa mendengar dan merasakan keindahan kota. Seiringin berjalannya waktu, pasti dia akan bisa memandang kota yang begitu indah, kota yang sebenarnya sudah dilewati berulang kali semasa dia masih bayi yaitu ketika dia digendong dengan mesra dan penuh kasih oleh Gurunya.

Sahabat sekalian, teruskan saja dzikir, seluruh Guru Sufi memberikan nasehat yang sama, “Perbanyak Dzikrullah, Perbanyak mengingat Allah”. Jangan pedulikan dengan makrifat apalagi sekedar kaji karena itu akan melalaikan anda dari tugas pokok anda yaitu melaksanakan amanah Guru, memperbanyak dzikir, memberikan makanan kepada rohani agar dia tumbuh. Teruslah dzikir dan satu hal yang harus diingat, semua itu membutuhkan waktu seperti bunga yang akan mekar dan seperti kambing yang akan tumbuh menuju dewasa.

Ketika ada orang menggoda anda dengan pertanyaan-pertanyaan gaib maka ucapkanlah, “Saya tidak sempat menjawab pertanyaan itu karena saya sedang menyibukkan diri dengan mengingat Allah”. Dan ketika ada orang bertanya apakah anda sudah mencapai tahap makrifat maka jawablah dengan santai, “Sabar, Tunggu Waktunya Tiba!”.

Single Post Navigation

16 thoughts on “Sabar, Tunggu Waktunya Tiba! (Selesai)

  1. musafir on said:

    Luar biasa abang sufi muda, ulasan abang sufi muda membuat kami terus bergairah mengikuti tarekatullah 🙂

  2. suryanto on said:

    Alhamdulillah tulisan ini sangat berarti, menyadarkan saya akan pemahaman makrifat dengan baik dan jelas, terimakasih bro…

  3. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, semoga Allah SWT memberkati kita sumua, jazaa kumullahu khoir

  4. Bang Sufi Muda jd smua mursyid mengatakan hal yg sm ya ?Sbb guru sy jg prnh mngatakan:”sabar aj,nnti klo sdh saatnya jg akan tau…”

  5. Bang minta ijin saya mau share ke facebook saya untuk setiap ada tulisan yang baru, boleh apa tidak

  6. belajar sufi on said:

    Membaca tulisan ini…mengingatkan kembali kpd alm kakek juga alm bpk kami …kebetulan dia menjalankan kesufian jd sebetulnya dr kecil kami ini secara tdk langsung di perkenalkan …bagaimana menjalankan kebiasaan tarekat dg bimbingan guru …hanya saja klo d tanya mereka hanya tersenyum…cmn slalu bilang hrs sabar dlm hidup ini…kebiasaan yg merka lakukan seakan tanpa beban di jalankan dg lillahita’ala…alhamdulillaah menemukan blog ini…ty SM

  7. mohon ijin Copas bang

  8. firman on said:

    Wow,i like this..
    Terima kasih Abangda SM.

  9. buthoali on said:

    Rasulullah SAW berkata, “Matikan dirimu sebelum engkau mati”…….”I Like this”

  10. terima kasih bang…. mohon doanya

  11. Sabar, Tunggu Waktu nya Tiba..
    Mantap tausiyah nya Bang SM.
    Saya jd ingat lagu Iwan Fals..

    “Sabar,,,sabar,,,sabar
    Dan Tunggu
    Itu jawaban yg kami terima..
    ,,,,

    Tapi benar Bang SM, semua memang butuh akan kesabaran..

    Mohon do’a nya Bang SM,
    Wassalam

  12. Ruslianto on said:

    Ass. Bangda Sufi Muda
    Kebetulan saya bertemu dengan seorang sodara,.. baru pulang dari negeri Batam,..katanya ketemu dengan Guru Sufi yang karomah,… dan ia diberikan sebuah skema/peta tentang “waktu-waktu” tertentu untuk melangkah, dalam seminggu… (demi waktu).
    Apakah ini yg namanya hakekat demi waktu..? (sesungguhnya setiap waktu manusia beriman dicoba ?).
    atau,.. Sabar,.Tunggu waktunya tiba,…(seperti judul diatas?)

    Wass : Alangkah indahnya, – jika sudi Bangda SM, memberikan ….. dan Kami pun sedikit tercerahkan.

  13. Dasril on said:

    ilmu yg sangat bermanfaat bila kita fahami teruslah berbagi untuk rahmatanlil ‘alamin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: