Tasauf

Sudahkah saya Ber “ISLAM KAFFAH” (Bag. 3)

Sudah lama saya tidak melanjutkan tulisan tentang Islam Kaffah yang telah saya tulis dua bagian. Pada bagian terakhir masih membahas masalah syariat dan sebenarnya kelanjutan dari tulisan tersebut (tentang thareqat, hakikat dan makrifat) telah dibahas dengan lengkap tapi dalam judul yang berbeda makanya saya tidak lagi menulis Judul seperti di atas.

Menarik sekali komentar yang diberikan oleh pengunjung sufimuda beberapa hari yang lalu yang menulis bahwa Guru Mursyid harus bertaqliq kepada Guru Fiqih karena guru mursyid hanya mengerti tentang tarekat saja sedangkan guru fiqih luas pengetahuannya. Tentu saja kebanyakan orang yang belum mendalami thareqat akan berpandangan seperti itu. Ketika kita memisahkan antara ke empat pilar penyokong Islam yaitu syariat, tarikat, hakikat dan makrifat disinilah nanti letak kekeliruan kita dan tentu saja kita tidak akan bisa mengamalkan Islam secara keseluruhan atau di istilahkan islam secara kaffah.

Ilmu fiqih yang kita kenal sekarang bersumber kepada al-qur’an dan hadist berdasarkan ijtihad para ulama. Pelopor ilmu fiqih adalah Imam Jakfar Shaddiq, beliau adalah pendiri mazhab Jakfari sekaligus Mursyid yang kelak melahirkan  dua tarekat besar yaitu Qadiriah dan Naqsyabandiyah sekaligus beliau adalah salah seorang imam syiah selengkapnya coba baca disini.

Dari Imam Jakfar Shaddiq inilah kelak lahir 4 mazhab besar yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali. Pendiri Mazhab Hanafi adalah Imam Abu Hanifah, nama asli Beliau adalah Nu’man bin Tsabit bin Zauthi dari penduduk Kabil yang lahir tahun 80 H dan wafat tahun 150 H. Beliau pernah belajar dan berguru pada salah Imam Ja’far ash-Shadiq Abu Hanifah pernah berkata, “Kalau bukan karena dua tahun (berguru pada Imam Ja’far ash-Shadiq as) maka niscaya binasalah Nu’man.” Nu’man adalah nama asli dari Abu Hanifah . Beliau juga pernah berkata: “Aku tidak dapati orang yang lebih faqih dari Ja’far bin Muhammad”. (Lihat kitabnya (Ahlussunnah): al-Musuan, al-Makharij dan Fiqh Akbar).

Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas dilahirkan di Madinah tahun 93 H berasal dari kabilah Yamaniah. Sejak kecil beliau rajin menghadiri majlis-majlis ilmu, beliau sejak kecil telah menghapal Al-Qur’an. Beliau belajar dari para sahabat dan tabi’in, hingga ia tumbuh menjadi ulama terkemuka terutama di bidang fiqih. Malik adalah orang yang paling mengerti di bidang hadis di Madinah saat itu. Paling mengetahui tentang keputusan-keputusan Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Aisyah. Atas dasar itulah ia memberikan fatwa. Dia sangat berhati-hati dalam berfatwa. Terlebih dahulu, dia pasti mengadakan cross check pada ulama-ulama sezamannya yang berjumlah 70 ulama dalam memutuskan fatwa. Dia wafat pada usia 86 tahun. (Lihat Kitab Fiqih Lima Mazhab, bab Malik bin Anas). Imam Malik pernah berkata: “Tidak ada mata yang dapat melihat dan tidak ada telinga yang dapat mendengar serta pikiran yang melintas akan adanya orang yang lebih pandai dan lebih berilmu selain dari Ja’far ash-Shadiq.” (Lihat kitabnya Maliki (Ahlussunnah): al-Muwaththa)

Mazhab Syafi’i merupakan mazhab paling banyak di anut oleh ummat Islam di Indonesia termasuk para pengikut Thareqat Naqsyabandi didirikan Imam Syafii. Nama lengkap Beliau Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Beliau dilahirkan di Gazzah (Palestina sekarang) tahun 150 H. Belajar pada ulama-ulama hadis di Mekkah. Usia 20 tahun dia meninggalkan Mekkah untuk belajar ilmu Fiqih dari Imam Malik, kemudian dia berangkat ke Iraq dan belajar pada murid-murid Abu Hanifah. Setelah wafat Imam Malik tahun 179 H beliau pergi ke Yaman untuk mengajar di sana, diangkat oleh Harun ar-Rasid sebagai guru di Baghdad, setelah itu beliau dikenal secara lebih luas. Tahun 198 H, beliau berangkat ke Mesir dan mengajar di masjid Amr bin Ash dan dia wafat di sana. (Silahkan lihat kitab Fiqih Lima Mazhab, bab Imam Syafi’i).

Mazhab Hanbali di dirikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal asy-Syaibani. Dilahirkan di Baghdad tahun 164 H. sejak kecil dia menuntut ilmu di mana Baghdad saat itu sebagai pusat ilmu. Beliau mulai belajar bahasa Arab, Al-Qur’an, hadis, sejarah, dan seterusnya. Belajar pada Imam Syafi’i di kota Basrah. Beliau mempunyai kitab hadis yang dinamakan Musnad. Wafat di Baghdad tahun 241 pada usia 77 tahun. (Silahkan lihat kitab Fiqih Lima Mazhab, bab Imam Ahmad).

Seluruh ilmu fiqih yang kita kenal sekarang ini tentu saja bersumber kepada 4 mazhab yang mengambil ilmunya kepada Imam Jakfar Shaddiq baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Tentu saja Imam Jakfar Shaddiq tidak hanya mengajarkan Syariat (fiqih) semata-mata namun juga mengajarkan Tareqat dan hakikat sehingga salah seorang murid Beliau Imam Malik pernah berkata : Barangsiapa berfiqih/bersyariat saja tanpa bertasawuf niscaya dia berkelakuan fasik (tidak bermoral) dan barangsiapa bertasawuf tanpa berfiqih/bersyariat niscaya dia zindiq dan barangsiapa yang melakukan kedua-duanya maka sesungguhnya dia adalah golongan Islam yang hakiki.

Kenapa seorang Ahli Fiqih harus mempunyai Guru Mursyid?

Ilmu Fiqih atau syariat hanya mengajarkan kepada kita hal-hal yang bersifat lahiriah semata tidak akan pernah menyentuh sampai kepada persoalan rohani sementara seluruh ibadah dalam agama terdiri dari  zahir dan bathin. Sebagai contoh dalam syariat hanya menjelaskan tata cara pelaksanaan shalat, dan hal-hal yang berhubungan dengan rukun syarat sah shalat. Di sana tidak dibahas tentang bagaimana pelaksanaan shalat khusyuk. Sehingga kalau anda bertanya kepada ulama yang Cuma memahami syariat tentu saja anda tidak pernah akan menemukan jawabannya kerena orang yang anda tanyai juga tidak pernah merasakan shalat khusyuk.

Suatu saat didepan anda dihidangkan daging yang sudah dimasak dan anda tidak tahu apakah daging itu haram atau halal, apakah ilmu fiqih bisa membantu anda? Apakah anda mesti membawa segudang kitab untuk menyelidiki apakah itu daging lembu atau babi? Dipotong dengan memakai nama Allah atau tidak?. Kawan, ilmu fiqih saja tidak cukup, kalau anda sudah sampai ke tahap Muraqabah maka secara otomatis Allah akan memberikan petunjuk langsung kepada anda apakah daging itu haram atau tidak.

Syariat hanya membahas tentang Nama-nama Allah dan segala sifat-Nya namun tidak pernah ada pelajaran tentang bagaimana kita menuju kehadirat-Nya. Kalau anda bertanya kepada ulama fiqih, “Kapan saya bisa jumpa dengan Allah?” pasti jawabannya sangat spekualatif, “di akhirat nanti kita semua pasti berjumpa dengan Allah”. Dan kalau anda memberanikan diri bertanya, “Dimana Allah? kalau kita shalat kan mesti jelas siapa yang disembah” sudah tentu pertanyaan ini tidak ada jawabannya dan kalau pertanyaan ini anda tanyakan kepada Ulama Wahabi sudah pasti anda dikatakan sebagai orang gila dan penghina agama dan anda akan di usir dari majelis nya. Bagaimana kalau anda bertanya kepada ulama Tasawuf, kepada Guru Mursyid tentang “Dimana Allah dan kapan saya bisa jumpa Allah?” maka pasti anda diberikan sebuah senyum indah dan Beliau berkata, “Nak, mari aku tuntun engkau kehadirat-Nya sebagaimana aku dituntun oleh guruku dan sebagaimana Junjungan Nabi Muhammad dituntun oleh Jibril AS”.

 

81 Comments

  • padimuda

    Ampuun Tuhaaan. Jadi inget waktu dulu sebelum menempuh jalan sufi, sering aku mengagung2kan syariat dan menghina sufi. Betapa aku dulu merasa cukup dengan AlQuran dan Hadist saja (sepemahaman otak yang kerdil ini) untuk bisa menggapai arsy Nya.
    Sungguh bodoh aku kalau tak mau bersyukur karena telah dipertemukan dengan Mursyid yang langsung menuntunku sampai kehadiratNya. Sungguh merugi aku kalau tidak mau berterima kasih pada Guruku yang telah menghantarkanku bercengkrama di MahligaiNya. Melihat-lihat IstanaNya saja, sudah merupakan keindahan tak tertandingi. Apalagi melihatNya.
    Terima kasih Guru, terima kasih.

    Thanks sufimuda sudah merefresh ruhaniku.

  • 10

    BISMILLAHIROCMANNIRROCHIM
    @ SUFI MUDA

    setuju banget??? alasan yang masuk akal untuk bertemu dengan sang pencipta ya harus pake ilmu nya tarekat
    pengin bisa maling ya harus belajar lewat ahlinya maling pasti kita pinter maling supaya ndak ketangkep
    pengin pinter masak ya harus belajar pada tukang masak biar masakannya enak
    pengin bisa ngobati orang ya harus belajar ilmu kesehatan biar jadi dokter hebat
    pengin bisa ajaran wahabi harus belajar pada ahli…… wahabi tentu anda jadi ahli wahabi pasti jadi………( ah nggak mau ah!!!)
    pengin bisa mengenal/melihat/ ber interaksi dengan ALLOH ya harus belajar pada kekasih ALLOH

  • sufi gaul

    betulsekali sufimuda…..
    intinya,…adalah…
    apapun ilmu yang kita mau pelajari haruslah belajar kepada ahlinya…
    atau harus mempunyai seorang Guru yang benar-benar ahli dan sudah meriset semua ilmu yang akan dia sampaikan kepada murid-muritnya..
    apalagi di bidangilmu agama,…
    jangan sampai kita salah memilih Guru pembimbing, tapi carilah Guru yang bisa menjamin bahwa apapun ibadah yang kita lakukan jaminannya adalah SURGA, sehingga kalau ada Guru yang tidak bisa menjamin sampai kesana,,,……
    menurut saya ga usah belajar dengan mereka….
    karna hanya kebongan belaka yang akan disampaikan oleh Dia.

  • jablai_wex

    SETUJUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU\
    BUANGETTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT
    Biasanya yg nanya ke bang sufi kaya gitu kategori hamba baca n hamba s……….(tau ah gelap…….)………………..

  • rona

    Salam wa Rakhmah

    Saudaraku mas Sufimuda, suatu kehormatan bagi saya apabila komentar saya dijadikan pembahasan tsb diatas. Dalam keyakinan syi’ah Imamiyah, seorang muslim harus bertaklid kepada seorang Mujtahid yg masih hidup (Marja’ Taqlid). Mujtahid adalah orang yg luas ilmu pengetahuannya di bidang keagamaan dan pemerintahan seperi fiqih, ushul fiqih, ushuluddin, tauhid, akhlak, kemyarakatan dlsb. Kalau dalam bahasa tasawuf yaitu syariat, tharikat, hakikat dan ma’rifat. Seorang Mujtahid harus dijadikan rujukan bagi seluruh umat Islam dalam memutuskan suatu perkara dalam segala kehidupan individu, kemasyarakatan (sosial) sampai kehidupan bernegara, misalnya pernikahan, perceraian, hukum, zakat, perniagaan, shadaqah, memutuskan perkara dalam pemerintahan dlsb. Disinilah saya mengatakan bahwa mursyid atau guru mursyid harus bertaklid kepada seorang Mujtahid yg luas ilmu pengetahuannya. Maka terbentuklah negara yg berdasarkan syariat Islam.(tidak ada negara yg berdasarkan : hakikat Islam, tharikat Islam, ma’rifat Islam)

    Salam

  • asep

    Salam kenal

    Alhamdulillah…Insya Allah apa yg anda katakan benar. Saya hanya ingin menambahkan seandainya seluruh umat Islam menyadari akan kebenaran apa yg diyakini oleh syi’ah Imamiyah yakni garis kepemimpinan (Imamah) umat Islam setelah Rasulullah saw wafat dilanjutkan oleh para Imam as dari Ahlulbait Nabi saw untuk setiap zaman sampai kehadiran Imam Mahdi as.
    Hal tersebut merupakan ketentuan Allah swt dalam Al Qur’an dan hadist Nabi saw bahwa kepemimpinan umat yg meliputi kewenangan keagamaan dan sekaligus kewenangan pemerintahan (politik) sebagai hak dari Ahlulbait Nabi saw yg diangkat dan ditetapkan oleh ketentuan Allah swt melalui Rasulullah saw (QS Al Maidah: 67, hadist Tsaqalain, hadist Ghadir Khum, QS Al Azhab: 33, hadist as-Safinah dll), Sehingga terbentuklah negara yg berdasarkan Syariat Islam.

    Ah, ternyata saya hanya berandai-andai, hanya dalam angan-angan, bagaikan fatamorgana, lelah rasanya jiwa raga ini, mengikuti kemana langkah perjalanan manusia-manusia suci yakni Nabi Muhammad dan Ahlulbaitnya yg suci sampai akhir zaman. Ternyata langkahmu adalah perjalanan duka sepanjang zaman. Tak terasa air mata ini mengalir, menetes membasahi pipi, dan hatipun yg kelu, mulutpun membisu dalam keheningan malam.

    Akan tetapi saya merasa kebenaran ini akan segera terwujud, karena hal tsb merupakan ketentuan Allah swt dalam Al Qur’an dan hadist Nabi Muhammad saw. Tidak akan bisa dirubah oleh siapapun yg ada di alam semesta ini.

    Wasalam

  • abuzahdan

    Salam Kenal,
    Subhanallah, Allah Maha Benar, Dia selalu benar, tidak lah seseorang diangkat Allah sebagai mursyid jikalau orang tersebut tidak memahami hukum hukum Allah dan tidak pula dia sampai ke derajat itu jikalau tidak mengerti hakekat Allah yang sebenarnya. Tidak perlu ada keraguan, seorang mujtahid tentu paham hukum-hukum Allah sehingga dia hidup berdasarkan hukum hukum tersebut sehingga dia menjadi seorang yang wara, begitu pula seorang sufi mereka tahu betul Allah itu Maha Pengasih terhadap hambanya maka mereka pun merasa tidak pantas kalau hidup mereka mengabaikan apa yang menjadi perintahNya dan apa yang menjadi laranganNya, tidaklah seorang sufi melainkan hanya Allah lah yang dia cintai. Seorang kekasih tidak pernah mengabaikan apa yang diminta oleh yang dicintainya.
    Ilmu Allah begitu luas, hanya kita sebagai manusia masih belum bisa memahamiNya.
    Hanya Allah Yang Maha Benar.
    wassalam.

  • yudistira

    Hanya ALLAH maha Benar…….

    kalau ingin tahu kebenaran, maka kita harus bersama ALLAH.
    Mursyid adalah orang yang senantiasa sudah berkekalan dengan ALLAH, sehingga setiap langkanya selalu disertai oleh ALLAH.

    yang saya tahu yang punya kapasitas untuk itu adalah GURU yang sudah ma’rifat kepada ALLAH,
    untuk bisa berma’rifat kepada ALLAH tentunya sudah melalui tahapan tariqat dan hakikat….

  • Abu Taufiq

    Dijelaskan panjang lebar juga orang tidak paham tentang Mursyid….

    Hanya yang diberi petunjuk aja yang bisa berjumpa dengan Wali Mursyid…

    Apabila kamu tidak mengetahui terhadap sesuatu tanyalah kepada Ahli Zikir, jangan tanya kepada ahli fikir…

    Ahli Zikir = Sufi = Mursyid = ‘Arifbillah = Mujaddid (pembaharu agama) = Mujtahid = isi sendiri dah…

  • rona

    @asep

    Salam kenal kembali

    Saya jadi terharu membaca tulisan anda. Memang kang Asep kita harus bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT didalam menanti dan menunggu kehadiran Imam Mahdi AS yg kelak akan mendirikan pemerintahan mahdaniyah yg mendunia seperti yg dikabarkan dalan nash-nash Al Qur’an dan hadist Nabi SAW, sehingga seluruh umat Islam menjadikan Islam secara Kaffah dalam semua aktifitas amal dan ibadahnya.

    Apabila kita menafakuri secara arif dan bijaksana sepeninggal Rasulullah SAW. Banyak peristiwa-peristiwa menyedihkan yg terjadi kepada para Imam AS dan Sayyidati Fathimah az Zahra AS yg dilakukan oleh para sahabat yg ingkar kepada ketentuan Allah SWT dalam Al Qur’an dan hadist Nabi SAW seperti kang Asep katakan dalam QS Al Maidah: 67, hadist Tsaqalain, hadist Ghadir Khum, QS Al Azhab: 33, hadist as-Safinah dll.

    Biarkanlah yg sudah terjadi memang harus terjadi. Hal itu juga sudah merupakan takdir dan ketentuan dari Allah SWT untuk menguji orang-orang yg beriman dan bertaqwa kepada yg meyakini akan kebenaran ayat dan hadis tsb sampai sekarang hingga akhir zaman, saat hadirnya Imam Mahdi AS

    Saya juga membaca komentar-komentar kang Asep selama ini yg berhubungan dengan ajaran Ahlulbait Nabi SAW dalam menyajikannya didukung oleh nash-nash Al Qur’an dan hadist Nabi SAW.

    Saya hanya bisa berharap kepada Allah SWT untuk para Ahli Zikir = Sufi = Mursyid = ‘Arifbillah = Mujaddid (pembaharu agama) = Mujtahid atau kepada Mazhab dan Golongan yg berbeda, agar dibukakan segala hijab yang menghalanginya selama ini dan diberikan ilmu kepahaman dalam menelaah dan mengkaji tentang agama Islam.

    Saya juga memohon kepada Allah SWT, agar seluruh umat Islam diberikan Taufik dan Hidayah-Nya atas kebenaran tsb. Insya Allah.

    Dan kepada kang Asep, semoga Allah SWT memberikan keteguhan Iman dan Islam dalam menghadapi segala ujian dan cobaan dari Allah SWT. Amin ya Allah ya Rabbal’alamin.

    Salam

  • Anak Gaul

    Yang paling pokok Rona dan Asep dibukakan hijab agar bisa jumpa Allah di dunia ini, jadi gak terlalu bermimpi lagi jumpa ama imam mahdi yang gak jelas itu ….

  • asep

    @Rona

    Alhamdulillah…Semoga anda juga selalu ada dalam lindungan dan bimbingan Allah swt dari segala macam ujian dan cobaanNya. Memang umat Islam yg mayoritas akan sangat sulit untuk menerima kebenaran tsb. Mungkin inilah yg dinamakan :

    “Islam akan kembali asing pada akhir zaman”

    Banyak sudah yg dikatakan oleh para Ahli Zikir = Sufi = Mursyid = ‘Arifbillah = Mujaddid (pembaharu agama) = Mujtahid atapun Ulama dari berbagai mazhab dan golongan yg berbeda pemahamannya terhadap Islam tentang Islam secara Kaffah. Apabila mereka tidak merujuk kepada ajaran Ahlulbait Nabi saw yg berlandaskan kepada ketentuan Allah swt dalam Al Qur’an dan hadist Nabi saw yg muttawair dan shoheh sesuai dengan sanad dan matannya, sepertinya tidak akan menemukan apa yg diharapkannya.

    Akan tetapi walau bagaimanapun juga, mereka adalah saudara kita juga umat Islam yg di satukan dengan kalimat Syahadat. Biarkanlah perbedaan itu menjadi pembendaharaan bagi Umat Islam. Janganlah perbedaan tsb menjadikan kerenggangan diantara sesama umat Islam. Yang penting sekarang adalah menjaga persatuan dan kesatuan umat dalam mewaspadai pihak-pihak luar Islam yg lebih berpotensi menghancurkan eksistensi Islam.

    Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

    Wasalam

  • Sufi Gila

    @asep @rona
    mas asep … mas asep … ternyata masih tetep aja komentarnya hehehehe …. bangga sih boleh2 aja terhadap ahlul bait tapi jangan tutup pintu ilmu selain dari jalur ahlul bait … bahwa sebenarnya pernyataan anda bahwa hanya dari jalur ahlul bait yang benar itu cuman sekedar klaim aja …. mereka para penempuh jalan ruhani adalah mereka yang telah merasakan manisnya mereguk samudera hakikat dan ma’rifat … dan itu tercermin dari sifat-sifat Allah yang nampak dalam prilaku mereka … penyayang pengampun pengasih dan lain2 … tanda dzikr itu telah jadi maka meyatulah siat Allah dalam diri si mahluk … dzikr asma … dzikr sifat …. dzikr zat ….

    dan bukankah selalu dilazimkan oleh Imam Ja’ far As Shodiq dalam ceramahnya dengan menyebut umatnya dengan sebutan wahai anak-anak ku sekalian …. maka dari situ seharusnya kalian memahami bahwa anak-anak yang dimaksud atau ahlul bait yang dimaksud adalah keluarga ruhani bukan keturunan jasmani

    imam kalian aja begitu seharusnya kalian pun sama pemahamannya … tul nggak ? walaupun imam Ja’ far juga salah satu jalur keguruan tharikat Naqsyabandiyah dan Qodiriyah

    yg jelas nggak usahlah kita berdebat … kalau udah kenal Allah itu sebenernya udah nggak perlu diskusi ini itu kok … bikin ruwet … yg perlu diskusi itukan yang bingung belum kenal sama Allah ….

  • Sufi Gila

    Aku sedang jatuh cinta

    Cinta yang sungguh nikmat tiada berbatas
    Hingga setiap kali hatiku menyebutMu
    Terhentak bangun seluruh urat, nadi, tulang, kulitku
    Merebak hangat mengalir dari ujung hingga ujung
    Menyentuh rasa terdalam akan inginku untuk bersamaMu
    Melenyapkan seluruh hendak atas segala yang semu
    Aku dalam kasih sayangMu
    Nyaman terbebat,
    Terbuai sarat,
    Terpikat pekat,
    Udara yang berat atas hadirMu.

    Aku sedang jatuh cinta

    Cinta yang memasung, menyayat perih
    Hingga setiap hembus nafasku melafazkanMu
    Seakan dadaku sesak, penuh dan tercabik
    Aku seperti kumbang yang mendekati api lalu hancur binasa
    Atau lilin yang indah tersulut lalu leleh tak berbentuk
    Atau pasir yang menunggu jemputan ombak lalu hilang terbawa
    Cinta mengiris tajam,
    Mengikat erat,
    Mengerat karat,
    Menggerus lamat,
    Jiwa yang merinduMu.

    Aku sedang jatuh cinta

    Cinta yang menyanjungku ke tepian langit,
    Membuai dengan ekstasi cahaya Illah
    Hingga enggan diri beranjak dari sajadah,
    Takut akan hilangnya perasaan
    Yang kini terpatri membalut sukma.
    Semurni embun cintaMu menyapa,
    Lara mereda,
    Indah meraja,
    Lembut mendera,
    Hati yang gersang tanpaMu.

    Aku sedang jatuh cinta

    Cinta yang membudakku tanpa welas,
    Hingga setiap saat kening menyentuh bumi,
    Tak ada lagi kesombongan yang tersisa
    Karena Kau telah melucuti kebanggaanku,
    Tak ada ketegaran yang tegak berdiri
    Karena Kau telah mengukuhkan kekuasaanMu.
    Cinta yang menghujam,
    Membasahi pipi,
    Melantunkan sedan,
    Melenyapkan tawa,
    Karena hinanya diriku di hadapanMu.

    Aku sedang jatuh cinta

    Nikmat dan Perih
    Menyanjung dan Membudak
    Aku tak peduli
    Karena aku sedang jatuh cinta

  • hamba'79

    @ Asep

    “Islam akan kembali asing pada akhir zaman”

    itu kapan ya mas asep..???
    akhir zaman….
    zaman siapa…sebelum nabi..setelah nabi..sebelum turun imam mahdi..setelah turun imam mahdi..setelah kiamat..atau sebelum kiamat…

    Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

    Wasalam..

    ^__^V
    PiiSS

  • Sufi Gila

    o ya mas sufi muda saya ada kisah napak tilas perjalanan SS Kadirun Yahya M. A. yg ditulis oleh Uwak Anwar Rangkayo Sati salah satu khadam SS Muhammad Hasyim … mungkin bisa menjadi telaah perjalanan dan menjadi penuntun langkah ke depan … karena kisah ini berawal sejak SS Kadirun Yahya M. A. berumur 27 tahun dan masuk thariqat lalu di umur 30 tahun saat suluk pertamanya sudah membawa murid keharibaan SS Muhammad Hasyim hingga umur 35 tahun dan diangkat menjadi Syech … ke mana saya kirimkan ?

    Sufi Muda :
    Dikirim ke sufimuda@gmail.com, makasih atas kesediaannya

  • asep

    @Hamba’79

    Imam Mahdi as mempunyai 4 fase kehidupan :

    Fase pertama thn 255 H – 260 H, hidup dengan ayahnya Imam Hasan al-Askari as.

    Fase kedua thn 260 H (Ghaib Sugra) – 379 H, sejak wafat ayahnya hingga berakhirnya kegaiban pendek (Ghaib Sugra)

    Fase ketiga thn 379 H – Ghaib Kubra

    Fase keempat Gaib Kubra – Masa kemunculan diakhir zaman untuk memenuhi janji pemerintahan mahdaniyah yg mendunia seperti yg dikabarkan dalan nash-nash Al Qur’an dan hadist Nabi saw.

    Wasalam

  • asep

    @Hamba’79

    Ma’af, jawaban fase kehidupan Imam Mahdi as ditujukkan kepada Anak Gaul.

    Adapun “Islam akan kembali asing pada akhir zaman”
    Tanda-tandanya diantaranya : Islam hanya tinggal namanya saja, Al Qur’an hanya tinggal bacaan dan tulisan saja, sulit membedakan hadist shoheh dan hadist palsu, banyaknya bid’ah-bid’ah dalam agama, bercampurnya antara yg hak dengan yg bathil dll.

    Wasalam

  • padimuda

    asep, cuma minta klarifikasi, Untuk tanda2 diatas.
    Gimana hadis/ayat yang menyatakan “diakhir zaman sulit membedakan hadist shoheh dan hadis palsu?” Soalnya beneran ga tau neh. Biasa, males baca buku hehehe:P
    Tolong yah. Thanks before.

    Sekalian hadis/ayat mengenai fase kehidupan imam mahdi sebelumnya kalo ada. Thanks lagi

  • asep

    @Padimuda

    Cara membedakannya coba baca dulu hubungan antara ayat dan hadist seperti : QS Al Maidah: 67, hadist Tsaqalain, hadist Ghadir Khum, QS Al Azhab: 33, hadist as-Safinah dll, yg berhubungan dengan Ahlulbait Nabi saw (di internet juga banyak) kemudian membandingkannya dengan mazhab/golongan yg lain.

    Fase kehidupan Imam Mahdi terdapat dalam Musnad ibn Hambal, jil 2 hal 176, Sunan Ibn Majah jil 1 hal 444-445, Faidzh al-Qadir jil 4 hal 459, Sunan Turmudzi jil 3 hal 116, Kanzul Ummal jil 3 hal 446, Kamaluddin 431,434,474, Al Gaybah Syech Thusi hal 21, 165, 217, Rijal al-Kasyi hal 481, 451, Rijal Abu Dawud hal 272, 273, Wasail asy-Syiah jil 17 hal 72, Falah as-Sail karya Sayid Ibn Thawus hal 183, Tarikh Ghaibat ash-Shughra karya Sayid Muhammad Shadr hal 269, Kitab Hayat al-Imam Hasan al-Askari karya Syeckh Thabarsi hal 313-326, dll.
    Kalau dalam Al Qur’an terdapat dalam QS al-Isra: 71-79, QS. al-Anbiya 73, QS al-Baqarah: 124, QS al-Qashas:5 dan 75, QS al-Furqan: 74, QS Yasin: 12, QS an-Nisa: 41, QS an-Nahl: 84 dan 89, QS al-Maidah: 117, dll.

    Wasalam

  • jablai_wex

    to. acep yg pintar……………….

    “Imam Mahdi as mempunyai 4 fase kehidupan :

    Fase pertama thn 255 H – 260 H, hidup dengan ayahnya Imam Hasan al-Askari as.

    Fase kedua thn 260 H (Ghaib Sugra) – 379 H, sejak wafat ayahnya hingga berakhirnya kegaiban pendek (Ghaib Sugra)

    Fase ketiga thn 379 H – Ghaib Kubra

    Fase keempat Gaib Kubra – Masa kemunculan diakhir zaman untuk memenuhi janji pemerintahan mahdaniyah yg mendunia seperti yg dikabarkan dalan nash-nash Al Qur’an dan hadist Nabi saw.”

    Wasalam

    Mau tanya nih fase Ke Tuhan gimana ya………….kok perasaan kang acep kalo mengisi kolom ini komentarnya masih merujuk katanya buku itu katanya ini katanya itu katanya kang acep sendiri gimana udah belum kearah sana belom…….klo hanya ulasan buku belaka dr dulu sekarang keponakan sy dipesantren pun tau ulasan kang acep gituan……Yang perlu diketahui pandangan kang acep dengan orang yang coment disini ini berbeda satu sama lain kalangan sufi mengetahui karna dengan rasa…….trus kalo saya mengatakan bahwa Imam mahdi itu sekarang itu ada dan nabi isa itu ada disaat ini…..trus kang acep masih mengacu pd ulasan diatas ternyata beda dng sebenarnya diakhir jaman (hati2 kang……..nanti jd terlalu pintar) Andai (menurut ahli Bolu JADUL)”Kue bolu itu kalo dibiarkan 3 hari jd gak enak N EXP” (gak punya kulkas dulunya) ternyata setelah dikaji menurut jaman sekarang ini hrs dimasukan kulkas,setelah diuji dan timbulah rasa ternyata bolu itu enak dan masih bertahan hingga 3 minggu” HAJIBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBB……
    “Begitu perumpamaan bagi orang2 yg berfikir,” bukan trus kebanyakan mikir gak selesai2 akhirnya……Begitu juga islam itu ilmiah n amaliah……..
    YANG SETUJU AMA JABLAI DIAM DIAM AJA YANG GAK SETUJU YA DIAM DIAM JG…….

  • jablai_wex

    KANG ACEP PINTAR EUH……….Y

    Kang acep ditempat sy pastur pun tau gituan. Malah Hafal alquran……gak percaya cek aj sendiri……….cuma satu aja yg gak tau menuju kesana GIMANA ………………………………….?RASANYA MAK NYUS, CAKEP BANGET……..GAKK BISA DIURAIKAN………

  • jablai_wex

    TO.RONA yg baik

    “Saya hanya bisa berharap kepada Allah SWT untuk para Ahli Zikir = Sufi = Mursyid = ‘Arifbillah = Mujaddid (pembaharu agama) = Mujtahid atau kepada Mazhab dan Golongan yg berbeda, agar dibukakan segala hijab yang menghalanginya selama ini dan diberikan ilmu kepahaman dalam menelaah dan mengkaji tentang agama Islam.”

    seharusnya

    Saya hanya bisa berharap kepada Allah SWT untuk para Ahli Zikir = Sufi = ‘Arifbillah =syi’ah Imamiyah= Mujtahid atau kepada Mazhab dan Golongan yg berbeda, DAN JUGA SAYA agar SELALU dibukakan segala hijab yang menghalangi selama ini dan diberikan ilmu kepahaman dalam menelaah dan mengkaji tentang agama Islam.

    ITU BARU MAK NYUS………………………………

  • asep

    @jablai_wex

    Ya terserah anda saja dalam memahaminya, saya hanya mengingatkan saja. Saya mengerti dan memahami apa dan maksud tujuan anda bahwa dalam forum diskusi ini hanya ditujukan kepada orang-orang yg telah merasakan berjumpa dengan Tuhannya. Akan tetapi kok begini sikapnya terhadap orang yg belum bertemu dengan Allah swt? Harusnya anda lebih arif dan bijaksana dalam menyikapinya, karena telah merasakan berjumpa dengan Tuhan atau mungkin inilah hasil dari tharigah tsb? Tuhan yg manakah? Harusnya kalau sudah merasakan berjumpa dengan Allah swt menurut saya harusnya lemah lembut dalam menyampaikannya disertai dengan akhlak yg mulya dan budi pekeri yg baik. Siap menerima perbedaan pendapat, lapang dada, sabar, qona’ah, syukur, rela, ridho, ikhlas karena Allah swt. Karena ilmu Allah swt meliputi segala sesuatu. Kalau saya sih baik dan buruk atau hak dan bathil. Itu semua ujian dan cobaan dari Allah swt bagi orang yg beriman dan bertakwa. Saya juga berterimakasih kepada anda telah mengingatkan cara berma’rifat kepada Allah swt. Dalam semua peristiwa tentu ada hikmahnya. Mohon ma’af apabila ada kata-kata yg salah dalam menyampaikannya.

    Kalau menurut versi anda, kehidupan Imam Mahdi itu gimana?

    Wasalam

  • padimuda

    @asep,
    Maksud saya, ada gak hadist/ayat tentang tanda2 akhir zaman yang menyatakan bahwa diakhir zaman nanti akan susah membedakan hadis shoheh dan hadist palsu.
    Kalau ada tolong dishare please.

    Saya sudah cek di terjemahan Quran utk ayat2 yg asep sebutkan, tapi kok ga ada yah yg menjelaskan perihal kegaiban Al Mahdi? Adanya pengangkatan seorang saksi / Utusan/ Wali/ Imam/ Mursyid/ kekasihNya di setiap umat oleh AllahSWT, bukan berdasarkan keturunan atau diangkat oleh manusia lain.
    Kalo dalam kitab2 yg asep sebutkan, ada hadist tentang fasa keghaiban Al Mahdi gak? atau penafsiran para pengarang kitab tsb saja?
    Thanks info nya.

  • asep

    @Padimuda

    Kalau menurut anda setelah membandingkan ayat dan hadist tsb diatas shoheh atau palsu? Demikian pula dengan fase kehidupan Imam Mahdi as, ayat dan hadist tsb shoheh atau palsu?

    Wasalam

  • padimuda

    @asep,
    Saya kurang faham mengenai hadis diatas. Tapi kalau dari ayat yang asep sebutkan (Al Maidah: 67, Al Azhab: 33), tidak ada kaitannya dengan tanda2 kalau “di akhir zaman akan susah membedakan hadist shoheh dan palsu.”

    Demikian pula dengan Ayat Quran yang asep sebutkan diatas (QS al-Isra: 71-79, QS. al-Anbiya 73, QS al-Baqarah: 124, QS al-Qashas:5 dan 75, QS al-Furqan: 74, QS Yasin: 12, QS an-Nisa: 41, QS an-Nahl: 84 dan 89, QS al-Maidah: 117)
    , tidak ada penafsiran tentang fase kehidupan Al Mahdi.

    Ma’af kalau ternyata nantinya saya yang salah mengartikan. Tapi saya cek memang begitu adanya.

    Thanks

  • asep

    @Padimuda

    QS Al Maidah: 67, hadist Tsaqalain, hadist Ghadir Khum, QS Al Azhab: 33, hadist as-Safinah dll.

    Mungkin cara pemahaman dan penafsirannya anda berbeda, sehingga tidak bisa membedakan mana hadist shoheh atau hadist palsu? dan penafsirannya juga demikian.

    QS al-Isra: 71-79, QS. al-Anbiya 73, QS al-Baqarah: 124, QS al-Qashas:5 dan 75, QS al-Furqan: 74, QS Yasin: 12, QS an-Nisa: 41, QS an-Nahl: 84 dan 89, QS al-Maidah: 117

    Ayat-ayat tsb adalah yg menerangkan keberadaan Imam Mahdi as yg dijanjikan dan kegaibannya dalam Al Qur’an yg termasuk didalamnya fase kehidupan Imam Mahdi as. Mungkin anda berbeda penafsirannya.

    Kesimpulan : kalau kita mengkuti perkembangan sejarah umat Islam sedunia dari berbagai mazhab dan golongan. Tentu akan sulit untuk membedakan mana hadist shoheh atau hadist palsu? mana ayat yg benar atau yg salah dalam penafsirannya? Soalnya setiap mazhab dan golongan tsb berbeda cara pemahamannya. Hal tsb membuktikan tanda akhir zaman.

    Wasalam

  • Anak Gaul

    Wah jadi seru nich perdebatannya 🙂
    @asep
    Semakin ente berkomentar tentang banyak hal kok semakin ketahuan kalau ente kagak ngerti sama sekali tentang satu hal pun.
    Bicara Imam Mahdi, trus memaksakan imam mahdi dalam versi anda capee dech 🙁

    Anda belum tahu ya kalau Imam Mahdi itu dah datang? makanya jangan suka baca kitab2 lama jadi ketinggalan zaman 🙂

    Akan tetapi kok begini sikapnya terhadap orang yg belum bertemu dengan Allah swt? Harusnya anda lebih arif dan bijaksana dalam menyikapinya, karena telah merasakan berjumpa dengan Tuhan atau mungkin inilah hasil dari tharigah tsb? Tuhan yg manakah? Harusnya kalau sudah merasakan berjumpa dengan Allah swt menurut saya harusnya lemah lembut dalam menyampaikannya disertai dengan akhlak yg mulya dan budi pekeri yg baik

    Itu komentar anda untuk Jablai wex, mantab Kang Asep, kalau udah kalah debat jadi merajuk 😀

    Orang yang berjumpa dengan Allah harus lemah lembut?
    Tahukah anda bahwa Saidina Ali pernah memotong tangan orang, Nabi pernah menyuruh membunuh orang?
    Nabi Khidir membunuh anak kecil?

    Lemah lembut itu untuk yang enggak keras kepala, kalau yang keras kepala seperti ente ya kagak perlu lemah lembut. Di sanjung2 kagak ngerti mendingan di jitak sekalian biar tersadarkan bahwa pemahaman ente itu masih pemahaman anak SD yang coba menasehati anak kuliahan ya nggak nyambung donk.

    Nasehat saya kepada Kang Asep, perbanyak istiqhfar, mohon ampun kepada Tuhan agar terbuka hijab, agar menemukan kebenaran yang sebenarnya.

  • asep

    @Anak Gaul

    Tentunya bersikap lemah lembut kepada saudaranya kaum muslimin, bersikap tegas kepada kaum kafirin.

    Alhamdulillah…terimakasin atas nasehatnya.
    Yaa Allah, ampunilah aku atas semua dosa-dosaku.
    Yaa Allah, teguhkan imanku dari semua ujian dan cobaan-Mu.
    Amin ya Allah ya Rabba’alamin.

    Wasalam

  • padimuda

    @asep
    Banyaknya penafsiran yang berbeda menunjukkan perbedaan pemahaman akal manusia terhadap Maunya Allah SWT. Ibarat seorang profesor kimia menyuruh mengambil air bersih. Kebetulan seorang petugas cleaning service dan asistennya mendengar permntaannya, mungkin maunya profesor adalah air murni H2O atau air yang sudah disuling, tapi cleaning service membawakan air sumur atau ledeng yang bening. Asistennya sudah paham maunya profesor langsung membawakan H2O atau air sulingan. Sebab pemahaman keduanya mengenai arti bersih berbeda. Kedua air tsb sama2 bersih seistilah masing2, tapi mana yang dipilih Profesor? tentunya yang sesuai dengan maunya profesor yaitu yang dibawakan oleh asistennya. Disini juga terlihat bahwa orang yang dekat dengan profesor (si asisten) sudah paham betul mau si prof dan bisa dengan benar menterjemahkan dengan pas semua perintah si prof.
    Sama halnya penafsiran al Quran dan Hadist, tentunya kebenaran hanya milik Allah dan rasulNya beserta para Auliya’2 Nya (KekasihNya). Bukan milik sarjana agama atau pemimpin pesantren, atau pemimpin negara, atau jabatan2 lainnya. Apalagi kebenaran penafsiran dari kita (saya maksudnya), sangat perlu dipertanyakan kedekatan kita dengan Allah saat menafsirnya. Mending ikut tafsiran orang yang sudah dekat dengan Nya aja hehehe…

    So, kembali ke akhir zaman, saya pernah baca hadis2 akhir zaman, cuma belum pernah tau hadis yang menyatakan bahwa: ‘diakhir zaman akan sulit membedakan hadis shoheh dan hadis palsu’ meskipun kenyataannya sekarang demikian. Tadinya saya pikir asep pernah baca atau tau hadis yang jelas menyatakan begitu.

    Back to laptopnya Al Mahdi a.s.
    Sekali lagi saya buka dan cek ayat2 dari asep, dan tetap tidak bisa mengkaitkannya dengan fase keghiban Al Mahdi.
    Tentang adanya pemimpin umat di tiap zaman, IYA. tapi tentang fasa keghaiban Al Mahdi, TIDAK. Yang saya tau ada hadis mengenai kehadiran Imam Mahdi di akhir zaman yang mensejahterakan manusia hingga ditiadakannya zikir di muka bumi ini. Tapi belum pernah denger hadis ttg fase keghaibannya.
    Mohon sharing ilmunya.

    Thanks

  • asep

    @Padimuda

    Mohon ma’af ada kesalahan mengenai 4 fase kehidupan Imam Mahdi as. Untuk lebih lengkapnya yang benar, sbb :

    Fase pertama, yaitu sejak kelahiran pada thn 255 H hingga kesyahidan ayah beliau Imam Hasan Askari as pada thn 260 H. Imam Mahdi as pada saat itu berusia kira-kira 5 thn.

    Fase kedua, yaitu sejak ayahnya wafat thn 260 H hingga berakhirnya masa kegaiban pendek (Ghaib Sughra) pada thn 329 H. Fase ini berjalan kurang lebih 70 thn.

    Fase ketiga, yaitu sejak masa kegaiban panjang (Ghaib Kubra) dimulai sejak wafatnya wakil beliau yg keempat pada thn 329 H. Fase ini berlangsung hingga hari kemunculan beliau yg akan membangun kondisi politik dan sosial yg baru.

    Fase keempat, yaitu pada masa kemunculan yang dimulai sejak berakhirnya masa kegaiban panjang (Ghaib Kubra) dan ini adalah janji pemerintahan mahdaniyah yang mendunia seperti yg dikabarkan dalan nash-nash Al Qur’an dan hadist Nabi saw.

    Tadinya mau disingkat, eh…ternyata salah dalam membaca dan memahaminya. Maklum mata ini nanar lihat ke komputer terus. Akan tetapi yg penting ada mengenai fase kehidupan Imam Mahdi as tsb diatas.

    Hadistnya bisa ditemukan kalau kita mengikuti dan memahami ajaran Ahlulbait Nabi saw (Syi’ah Imamiyah), seperti contoh dibawah ini:

    Peran Imam Hasan Askari as dalam pemberitaan kelahirannya saat memberitahukan kepada Ahmad bin Yakub, beliau berkata :

    “Seorang bayi telah lahir dari keluarga kami, hal ini hendaknya menjadi rahasia bagi dirimu dan tersembunyi bagi seluruh manusia” (Kammaluddin hal 434)

    Hal ini dilakukan oleh Imam Hasan Askari as karena situasi dan kondisi saat itu begitu mencekam dan untuk menjaga agar bayi yg lahir ini tetap hidup dan selamat dari tangan-tangan keji penguasa thagut Bani Abbas agar terhindar dari rangkaian usaha pembunuhan. Supaya diketahui bahwa sebelumnya para Imam Ahlulbait Nabi saw, semua syahid dibunuh dan diracun oleh penguasa Muawiyah dan Abbasiyah.

    Contoh lain hadist dari Imam Hasan Askari as yg memberitahukan kegaiban Imam Mahdi as dan memerintahkan mereka untuk merujuk pada wakil-wakil beliau untuk umum, yaitu Utsman bin Said. Imam Hasan Askari as menyampaikan pada sekelompok sahabatnya tentang Imam Mahdi as yg masih kecil. Beliau berkata :

    “Inilah imam kalian setelahku dan dia adalah khalifahku atas kalian. Taatilah dia dan kalian jangan bercerai berai sepeninggalku, maka kalian akan celaka dalam agama kalian. Ketahuilah bahwa kalian kelak tidak akan melihatnya setelah hari ini hingga sempurna umurnya. Terimalah dari Utsman apa yang disampaikannya, turuti perintahnya, terimalah ucapannya, karena dia adalah wakil imam kalian dan seluruh urusan kembali kepadanya”
    (Al Gaybah Syech Thusi hal 217)

    Demikianlah diantaranya hadist dari para Imam Ahlulbait Nabi saw, dari sekian banyak hadist yg diriwayatkan oleh para Imam Ahlulbait Nabi saw.

    Wasalam

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca