Tasauf

SHALAT KHUSYUK SALAH KAPRAH

Pertanyaan yang sering sekali ditanyakan oleh pengunjung sufimuda kepada saya lewat email adalah bagaimana shalat bisa menjadi khusyuk, apakah kita bisa melaksanakan shalat khusyuk dan ada juga yang berpendapat bahwa hanya nabi Muhammad SAW berserta sahabat-sahabatnya dan ulama salafush shalih saja yang benar-benar bisa melaksanakan shalat dengan khusyuk selain dari mereka tidak ada yang bisa melaksanakan shalat khusyuk.

Terhadap pendapat terakhir saya kurang setuju karena kalau memang cuma Nabi dan para sahabat yang bisa shalat khusyuk maka hampir semua orang dimuka bumi ini akan masuk neraka wail, dengan demikian fungsi Al-Qur’an dan hadist sia-sia, juga peran ulama sebagai penyambung dakwah dan sebagai pewaris ilmu nabi juga tidak akan berguna sama sekali.

Khusyuk menurut Guru Ngaji Saya

Saya masih ingat ketika masih kelas 1 SMP waktu itu masih berumur 12 tahun, saya diajarkan cara shalat khusyuk oleh guru ngaji. Beliau mengatakan untuk bisa mencapai shalat khusyuk kita harus mengetahui makna dari ayat-ayat yang dibaca dalam shalat, kemudian harus kita hayati dalam hati. Antara ucapan dan gerak badan harus selaras, mengucapkan harus benar-benar masuk kedalam hati bukan hanya di bibir saja. Kemudian Beliau memberikan tanda-tanda shalat kita itu sudah khusyuk. Ketika mata kita menatap ke sajadah perhatikan dalam-dalam, nanti akan ada bayangan bulat samara-samar, saat itulah shalat kita menjadi khusyuk.

Saya meyakini apa yang diajarkan oleh guru ngaji saya, saat muncul bayangan bulat itu saya sangat senang karena saya yakin sekali kalau shalat saya sudah mencapai tahap khusyuk dan ketika bayangan itu tidak muncul maka saya jadi sedih. Saya yakin sekali apa yang diajarkan oleh guru ngaji, karena beliau adalah alumni salah satu pasantren terkenal di daerah saya.

Metode shalat khusyuk yang disampaikan oleh ustad saya itu tidak ada bedanya dengan metode pelatihan shalat khusyuk yang disampaikan oleh ustad Abu Sangkan. Setiap sore saya menyempatkan diri untuk menonton acara di Metro TV tentang pelatihan shalat khusyuk yang dibawakan oleh ustad Abu Sangkan.

Seperti juga guru ngaji saya dulu, Abu Sangkan berkeyakinan bahwa shalat khusyuk itu identik dengan ketenangan dan hilangnya kesadaran. Abu Sangkan mengatakan bahwa ketika bertakbiratul ihram kita harus membuang ingatan kita terhadap apapun. “Tidak ada Guru Mursyid, tidak ada Syekh Tarikat dan tidak ada zikir yang ada hanyalah Allah semata-mata”. Persis sekali yang diajarkan oleh guru ngaji saya, cuma Abu sangkan menyampaikannya lebih lengkap disertai dengan kajian-kajian ilmiah. Apa memang demikian shalat khusyuk?

Shalat khusyuk bukanlah mengosongkan pikiran seperti dalam meditasi yoga, karena kalau kita memaksakan pikiran untuk kosong pada saat itulah timbul nafsu kita dan syetan sangat halus dan sangat lihai untuk menyusup di alam bawah sadar kita. Sama juga orang yang mencapai shalat khusyuk lewat alat-alat elektronik, mendengarkan lagu yang dibuat khusus agar kerja otak menjadi berimbang antara kiri dan kanan. Cara seperti ini memang akan mencapai ketenangan akan tetapi kita juga harus pertanyakan lagi apakah memang ketenangan seperti itu yang dinamakan khusyuk, dan apakah memang demikian yang dikehendaki oleh Allah SWT?

Khusyuk di atas dengan berbagai jenis pelatihan bagaimanapun masih pada tataran akal dan kita merasa khusyuk menurut sendiri. Ustad Abu Sangkan menulis buku dengan judul “Spiritual Salah Kaprah” untuk mengkritik ESQ, pelatihan lewat musik untuk menstimulasi otak yang bersifat instant dan kita tidak pernah bisa mencapai kesempurnaan spiritual yang dilakukan oleh kaum sufi, demikian pendapat Abu Sangkan.

Menurut saya pelatihan shalat khusyuk yang diperkenalkan oleh Abu Sangkan juga masih dalam tataran otak dan pemikiran, karena menafikan sama sekali fungsi Mursyid dan sudah pasti yang di dapat bukan Nur Allah akan tetapi ketenangan yang tidak tahu berasal dari unsur apa. Berbicara masalah rasa (tenang, damai, dll) itu masih bersifat sangat subjektif. Maka saya menyebutkan pelatihan khusyuk ala Abu Sangkan sebagai Shalat Khusyuk Salah Kaprah.

 

Khusyuk Menurut Sufi

Menurut golongan sufi, khusyuk itu bukan tidak mengingat sesuatu, akan tetapi seseorang dikatakan khusyuk apabila dia terus menerus bisa memandang wajah Allah SWT. Kalau kita ingin menghilangkan pikiran terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan bukan berarti kita mengosongkan pikiran sama sekali karena di dunia ini tidak ada yang kosong. Setiap yang kosong itu mesti di isi oleh dua unsur; Haq atau Bathil.

Shalat khusyuk adalah kondisi dimana sang hamba bisa berdialog dengan Tuhannya di alam rabbani, maka disebutkan “Shalat itu adalah Mi’raj bagi orang mukmin”. Pada saat shalat maka rohani kita akan terangkat ke Alam Rabbani, alam yang ada hanya Allah SWT.

Mengingat wajah Muryid dalam shalat bagi seorang pemula jauh lebih terbimbing sebelum seseorang mencapai maqam makrifat dari pada mengosongkan fikiran yang justru sangat mudah disusupi oleh syetan tanpa kita sadari. Wajah Guru Mursyid yang kamil mukamil dan khalis mukhlisin tidak akan bisa ditiru oleh syetan dan kalau ada syetan yang mencoba meniru wajah Mursyid akan langsung terbakar. Jangankan Guru Mursyid, photonya saja tidak akan bisa didekati oleh jin dan sejenisnya termasuk para dukun yang menyembah jin. Kalau seorang Guru Muryid belum mencapai tahap itu berarti kadar dan keotentikan kemursyidannya perlu dipertanyakan lagi.

Kunci pertama untuk bisa mencapai shalat khusyuk adalah Makrifatulllah, mengetahui hakikat Allah sehingga selalu bisa berdialog dalam shalat. Tanpa mencapai tahap makrifat bagaimanapun canggihnya pelatihan shalat tidak akan mencapai shalat khusyuk yang sesungguhnya karena dalam hati masih bersemayang dan berbisik-bisik syetan yang sangat berbahaya seperti yang disebutkan dalam surat An-Naas.

Bagi pengamal Tarikat, bermakrifat kepada mursyid merupakan awal dari tercapainya shalat khusyuk karena sesungguhnya makrifat kepada Mursyid adalah awal dari makrifat kepada Allah. Daripada anda mengeluarkan biaya yang banyak untuk pelatihan shalat khusyuk dan belum tentu mencapai alam Tuhan lebih baik anda berbaiat kepada salah seorang Guru Muryid yang akan membimbing anda kehadirat Allah SWT. Pelatihan shalat khusyuk mungkin diperlukan oleh orang-orang yang tidak menekuni Tarikatullah agar shalatnya lebih tenang. Pelatihan ini tidak diperlukan sama sekali bagi orang yang telah mempunyai Guru Mursyid apalagi yang telah mencapai tahap makrifat. Apabila anda telah bermakrifat (berjumpa) dengan Allah SWT masih perlukah anda berlatih shalat khusyuk?

Berlatih sopan santun tata cara menghadap Raja hanya diperlukan bagi orang yang akan berjumpa dengan Raja, pelatihan itu tidak diperlukan lagi bagi orang yang telah duduk bercengkerama bersama Raja, karena segala aturan terserah kepada Raja. Mengatur tutur kata berbicara dengan Raja diperlukan oleh orang yang akan menjumpai raja dan tidak akan diperlukan oleh orang yang berulangkali berjumpa dengan raja, karena segala dialog itu terserah kepada kehendak Raja.

Semoga Maharaja Manusia akan selalu memberikan kita kesempatan kepada kita untuk terus bisa singgah di istana-Nya, menikmati perjamuan-Nya dan bisa melayani tamu-Nya. Amien ya Rabbal ‘Alamin

 

412 Comments

  • gusrif

    menurut pendapat saya sholat bisa khusuk itu kalau tahu kemana menghadapnya (inni wajjahtu wajjahiya lillaDZI (menghadap pada DzatNya) dan bukan lillahi (asmaNya). Untuk itu syahadatnya harus dipahami dg benar, saksi harus tahu yg disaksikan kalao nggak gitu saksinya ntar palsu lho…

    • Ajat sudrajat

      ….menurut saya sih kalo pingin sholat khusuk mah gampaaang syaratnya..tinggal anda ikhlas…(yang susah itu ikhlasnya..saya juga sampai sekrang bleum bisa untuk ikhlas..susah bro hi,hi) karean tidak munkgin ikhlas kalo ga cinta, ga mungkin cinta kalo ga sabar, ga mungkin sabar kalo ga pasrah..dan ga mungkin pasrah kalo ga iklash ….hi,hi gitu aja kok repoot…sekarang agan-agan semua sudah bisa ikhlas beloom…untuk iklhas ga perlu dah pake mursyid…untuk pasrah ga perlu dah pake latihan..latihan mah cuma teori…ha,ha…sory saya mah suka canda…

  • sufi baru

    @mas chairil
    kalo dasarya cuma ikhlas,,banyak kok org dari agama lain yang ikhlas2 dan baik,,tp apakah mereka masuk sorga..?

    saya setuju bahwa kita harus makrifat dulu…paham dan mengerti hakikat siapa yg kita sholati itu..
    bahkan imam ali pernah berfatwa..”aku tidak akan menyembah tuhan yang tidak aku lihat..”nah bagaimana ini…?

    nabi muhammad pernah bersabda bahwa ” awaluddin makrifattullah,akhiruddin makritullah.” awal beragama itu mengenal allah,akhir beragama pun bersama allah.

    dan diawal pengenalan islam nabi hanya mengajarkan makrifat dulu terhadap allah..baru syariat yg lainnya..
    makanya kalau sudah mencapai tahap itu dan pemahaman secara hakikat itu sudah sempurna…maka semuanya akan bisa kita temui berada pada guru mursyid..sehingga kita akan bisa merasakan wajah allah dimana mana,.dan dalam sholat pun akan sempurna karena wajah kita sudah kita hadapkan ke wajahNYA…

    ilahi anta maksudi waridhoka mtlubi..

    • gus khoyum

      @sufi muda
      kalo anda sudah tahu makrifat, Anda kok masih ngomongkan surga. dan masih saja ngmong agama lain, coba Anda telaah proses penciptaan manusia…
      jadi janganlah ngomongkan surga atau Neraka….itu urusan Tuhan jadi jika melakukan sesuatu itu harus ikhlas…
      gak usah mengharapkan sesuatu….
      wong Tuhan memberikan kita nafa itu aja gratis…kita baru bisa berbuat baik saja dah ngomongkan surga….

      Melok Allah saja (dialek jawa) laailaha illallah….
      wassalamualaikum saja….

    • arief fauzi

      En. Ibrahim sila renungkan maksud ayat ini: “Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dia akan mendapat petunjuk, sesiapa yang tidak diberi petunjuk maka dia tidak akan KENAL WALI MURSYID” surah Al-Kahfi.
      Maksudnya: cari petunjuk ini pasti anda akan dapat melihatnya.

  • aziz.ofrebellion

    aduhhhh
    aku tambah bingung kie mas././
    yang bener yang mana sich???
    kog main nya pake opini subyektif semua?!?!?

  • Ahmad

    Sopo koen kulo mahluk njenengan wes temen nyeksen aku,inggeh mboten wonten pengeran kejobo namong panjenengan.yowis saiki koen tak colno nang ndonya lek kepingi balek nang aku kanti slamet goceono taliku sing tk bentang onok ndonyo wes mlakuo ojok ndelok memburi maneh

  • blue_N

    asslm…
    sy tlah lama mbaca artikel2 SM…
    byk hal yg kudptkn yg slma ne blm prnh kutemukn,yg tlah mbuat hatiku trbuka tuk mngenal dunia sufi…
    tp smpe skrg sy mrsa blm bs brtemu dgnNYA…
    mgkn krn sy blm menemukn mursyid…
    sy sngt brharap SM bs mprtemukn sy dgn seorg mursyid yg kamil mukamil….
    smoga Allah mridhoi niatku…
    Amien…

    trims sblmx…

  • Much

    Pertama, Mas Sufi Muda, artikel jenengan sangat bagus, namun sayang masih ada unsur EMOSI disitu, jadi bisa menjadi CACAT bagi seorang SUFI. Karena seofang SUFI Tidak akan menyalahkan orang lain.

    Kedua, perlu jenengan CATAT bahwa Ustad Abu Sangkan tidak pernah mengajarkan atau menyampaikan bahwa sholat khusyuk itu harus menghilangkan KESADARAN. Beliau bahkan selalu mengingatkan bahwa SHOLAT itu HARUS SADAR. Kalau tidak SADAR berarti tidak sah sholatnya.

    Ketiga, jika Mas Sufi Muda menganggap Ustad Abu Sangkan salah besar dengan sholat khusyuknya dan menganggap apa yang disampaikan itu masih MENTAH, jenengan jangan asal main tulis saja, karena itu bisa menjadi FITNAH. Saya menyarankan, sampaikan sanggahan Mas itu langsung kepada Ustad Abu, atau bisa datang langsung ke Beliau di Shalat Center, Jati Bening, Jakarta. Nanti Mas Sufi Muda bisa berdiskusi langsung dengan beliau. Kalau memang beliau salah, maka Mas Sufi akan menjadi orang yang BERJASA karena bisa memberikan PENCERAHAN.

    Keempat, inti dari ISLAM itu adalah rakhmatan lil alamin. Sudahkah Mas Sufi Muda menegakkan dan menjalankan Rakhmatan Lil Alamin itu sendiri??

    Demikian mas komentar saya. Mohon maaf, saya ini orang bodoh, jangan marah ya mas.

  • Jack King

    Bismillahirrohmanirrohim.
    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Tuan Sufi Muda yg terhormat.
    Kegairahan anda mendalami sufisme sangat saya hargai.

    Mungkin akan lebih sempurna jika anda melihat sudut pandang sufisme dari “sudut ilmiah”. Sekilas itu bertentangan, tetapi pada hakikatnya adalah sama.

    Tetapi bagi saya, melihat segala sesuatu harus dari segala sudut.

    Kita harus “seluas jagat raya” agar bisa paham ttg sesuatu.

    Dan bayangan, imaji atau ingatan tentang sesuatu… sama sekali bukanlah sesuatu itu.

    Ia hanya bayangan, dan tetap akan jadi bayangan….

    Barakallahu,
    Wassalamualaikum.

  • agus setyawan

    Aku merasa sholat khusyuk seperti kita sedang memancing ikan, tidak tahu di saat mana, kapan kita memperoleh ikan, Kita ibaratkan khusyuk itu ikan. Pada sholat , mungkin khusyuk diperoleh langsung begitu kita baru mau mulai Takbairotaulihraom, saat rukuk, saat duduk iftirosi dengan 8 permohonan, atau sampai salam kita tidak mendapatkan justru kita di beri khusyuk saat berdoa, atau bahkan kita tidak memperoleh rasa khusyuk sampai selesai sholat dan beardoa. Persis seperti orang memancing ikan tak mendapatkan hasil seharian memancing.
    Bagaimana tips untuk memperoleh kekhusyukan dari awal mulai sholat ? Atau paling tidak setiap sholat mendapatka khusyuk, bagaimana ?

  • ilham

    Bagaimana jika dalam sholat berjamaah kita dituntut khusyu’ tetapi terkadang dan sering imam kita lebih cepat dri pada gerakan sholat kita,terkadang bacaan yg dibaca jadi tergesa di dalam hati sehingga mengurangi khusyu’ itu sndiri.

    saya juga pernah diimami oleh orang yang menurut sya sangat berhati2 dlm membaca ayat Al-Qur’an dlm sholat berjama’ah,sya menikmati bacaannya,saking lamanya jeda dalam setiap gerakan maupun bacaan,banyk makmum yg menggerutu di belakang saf saya(saya jdi terganggu),sehingga skrng ini klo sholat jum’at/sholat tarwih kbanyakan makmumnya sedikit krna tak kuat dngn berdiri dlm sholat mereka…menurut sy klo kita betul2 menghayati,kita tdk akn merasa lelah,letih berdiri justru sebaliknya…….

  • maryudi

    mas sufi muda yang d maksud mursyd dlm bayangan selama sholat itu apakah orang atau wajah qt sendiri kl membanayngkan orang berarti qt masih sirik mengingat selain allah dlm sholat……apakah yg d maksud solat khusuk itu aplikasi solat dlm kehidupan sehari hari…..mohon penjelasan

  • Andri

    Ah Ndak Usah Panjang Lebar Ah ……………………………
    Pokoknya Betul Itu Kata Sufi Muda Kalo Mau Sholatnya Khusuk
    Marilah Masuk dan Mengamalkan Tarikat Gitu Apa Ya Bang ….
    Mohon Ampun Kalo Saya Salah

    Salam ….

  • "JPE"pro79

    Apapun amal saleh ataupun ibadah kita.. kaga bakalan bernilai dihadapan yang Haq apabila kita belum sempurna mengenal DIRI.. Kenalilah DIRI kita masing-masing dengan cermat.. baik dan sebenar2nya…
    ALLAH itu Laisyakamaslihi syai’un.. (Mutlak dan tidak bisa diutak-atik lg..)
    Nur Muhammad (Ahmad) adalah Nyata kebenaranya (Didalam Al-Qur’an dan Hadist dan kita sebagai umat Islam percaya akan hal tersebut)
    INSAN.. Inilah dia intinya.. kenyataannya dan manifestasinya…
    Sehingga kesudahanya adalah tidak ada Yang disembah.. dan tidak ada yang menyembah…
    Sholat itu adalah “pelajaran” saja dan itu adalah salah satu jalan agar bisa lebih dekat.. bagi yang masih dalam perjalan untuk Mengenal DIRI.. belum sampai pada tahap Makrifat…

    • pokemon

      sekedar pengingat saja….

      benar adanya yang disembah dan yang menyembah itu satu… tapi ini dalam konteks “pakaian Khalifah Yang HAQ/ pewaris ilmu Rasul / WALIYA MURSIDA….dan ini setiap zaman cuma ada satu manusia saja…….

      jadi bagi manusia lain ini hanyalah sekedar ilmu /pengetahuan yang tidak dapat dimanisfestasikan dalam bentuk ibadah apapun karena “yang disembah dan menyembah adalah satu hanyalah pakaian manusia pilihan/khalifah haq diatas bumi….

      firmanNYA: apabila masih ada satu manusia (satu orang pewaris ilmu haq rasulullah)) menyebut laillaha ilallah maka tidak akan kiamat dunia…..

      bukti: pada saat tsunami aceh… sekian ribu manusia mengucapkan laillaha ilallah tapi ucapan la illaha ilallah mereka tidak mampu menghalau datangnya tsunami

      FIrman lainNYA: akan kuciptakan seorang khalifah diatas bumi…. (hanya seorang lho..)

      selain kahlifah yang haq(imam) … semuanya adalah pengikut (makmum) dimana makmum tidak mungkin menggunakan metode yang disembah dan menyembah adalah satu…

      disinilah fungsi imaman dan makmuman itu…..

      bukti :
      perbuatan rasul dan para sahabat…..dimana para sahabat ” menggunakan wajah rasul sebagai media .. bukan wajah mereka pada saat shalat..(inni wajahtu wajhiya lilladzi……) karena yang disembah dan menyembah satu hanyalah Rasulullah saja……dan sepeninnggal beliau ilmu tersebut jatuh kepada Pewaris HAQ berikutnya….demikian seterusnya samapai di zaman ini….sebagaimana janji ALLAh: aku yang menurunkan (alqur’an) dan kuwajibkan diriku menjagaNYA…( Seorang khalifah diatas bumi)

      hadits dari aisyah: mau liat alqur’an berjalan?? lihatlah rasulullah…..

      Kesimpulan :
      masalah menyembah dan disembah satu adalah ilmu manusia pilihan (manusia yang ditunjuk dan djaga langsung oleh ALLAH SWT)…. dan tidak dapat dipraktekkan/dimanifestasikan dalam peribadatan kita sebagai pengikut…..dan

      apabila sebagai pengikut/makmum kita praktekan dalam peribadatan maka inilah yang tergolong perbuatan menuhankan diri sendiri.

      wassalam…..

  • tedi

    alhamdulillah Alloh maha benar begitu banyak persi manusia mengenai sholat khusyuk, saya yakin Alloh benar dan maha sempurna, mari kita mencapai kempurnaan dan kebenaran hakiki. manusia hanya mencari dan berproses mencapai kesempurnaan. begitu pun sholatnya manusia. mudah2an kita mendapat pengampunan dan keridhoan Nya. Amiin

  • Rachmad Syam

    semua komentar yg kalian berikan itu semua mungkin benar tapi jangan lupa lho pondasi dasar dari diterimanya ibadah kita yaitu darah dan daging ditubuh kita harus bersih dari yg namanya ‘haram’, okelah kita dapat menguasai smua cara khusyuk dalam beribadah tapi kalo dalam kehidupan sehari2 slalu memakan makanan dari hasil yg tidak diridhoi Nya jadi percuma kan.

  • Tri

    Allah know the best, kalo menurut saya selagi segalanya untuk ALLAH SWT, insyallah baik….yaaa tentunya dengan cara yang baik pula….selagi kendali nya adalah niat baik tulus dan ikhlas..mudah2an akan sampai kepada NYA, apakah itu melalui “sholat khusuk”, tariqat, bahkan dengan sesuatu amal yang mungkin menurut kita sangat simple dilakukan…

    Apapun methode yang hebat hebat tapi salah niat…jadi tidak baik kan…

    Sekali lagi, ALLAH know the best, apa yang terbaik untuk setiap kita…per individu..

    Salam

  • Mar

    Assalamualaikum,… saya akan berikan beberapa keterangan semoga dapat di mengerti : 1). dalam sholat paham dengan rukun yang 13 ( yang utama makrifat dengan yg namanya niat). 2).mengerti yang wajib dan yg sunnah. 3).tahu meletakkan setiap bacaan bukan cuma bibir dan hati saja. 4).makrifat benar dengan Syahadatnya bukan hanya bibir saja. ini baru bisa kita di bilang beramal dengan ilmunya, karna amal tanpa ilmu akan sia-sia.. begitu katanya. semoga bermanfaat wassalam

  • Mar

    assalamualaikum,… kita tidak usah mencari apa yang namanya khusyu dalam sholat, tapi kita cari benarnya saja dalam kita mengerjakan sholat yang sebenar-benarnya “benar” . karena pertanggung jawaban kita pada Dia, bukan pada siapa-siapa. jadi cari guru yang dapat mengajarkan yang saya sampaikan.

  • Mar

    assalamualaikum,… marilah kita mulai segala sesuatu dari yang benar yang bisa kita pertanggung jawabkan langsung kepadaNya,jangan ada lagi perantara sekalipun dia rasul ( kita hanya perlu berterimakasih dan mendo’akan mereka saja ) seperti yang banyak di sampaikan dalam setiap pertemuan majelis apapun ( agamais ).

  • agus yuwanto

    assalamu’alaikum..
    Hakekat Sholat bisa mengerti rahasia Allah. Hikmah, karomah & barokah sholat akan selalu terbawa dalam perilaku di diluar dan di dalam sholat itu sendiri, setiap nafas dan denyutan nadi. Kedua keadaan itu saling berhubungan dan saling mendukung. “Hidayah” hanya dari Engkau Allah, “Lillahi taala” menjadi rahasia-Mu yaa Allah.. dan hanya Engkau yang bisa menilainya. Tuntunlah hambamu ini pada tempat yang pantas mendapatkan hidayah-Mu yaa Allah…
    Laillaa ha Ilallah, Muhammadurosulullah…

  • Ahmad

    Masya Allah, saya betul-betul tertarik berada dalam silaturahmi sebagai sesama Muslim. Izinkan saya ikut bergabung.

    Lillah atau hanya untuk Allah memiliki makna bahwa manusia tidak memiliki hak untuk disembah. Anda, saya, atau siapa pun adalah makhluk-Nya. Karena itu, manusia tidak dibolehkan untuk menyembah manusia. Kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa perilaku kita harus merujuk kepada Mursyid, maka pendapat itu benar. Hanya saja, sekalipun dalam tahap belajar, bila sudah mendudukkan Guru sebagai pijakan dalam solat, maka sesungguhnya tidak ada nash yang membenarkan.

    Dengan menggunakan kalimat ‘lillahi robbil ‘alamin,’ sudah sangat jelas bahwa solat kita hanya dihadapkan kepada Allah Azza wa Jalla semata, bukan kepada yang lainnya. Saudaraku, antum menafsirkan makna kalimat tersebut bukan dalam konteks solat. Kalau untuk hal lain, dalam perjalanan manusia menuju Allah Azza wa Jalla, maka menyandarkan kepada Guru Mursyid dapat diizinkan. Mengapa? Karena untuk dapat menuju kepada-Nya harus melalui perantaraan seseorang yang sudah Diperkenankan oleh Allah Azza wa Jalla. Melalui beliau, seorang murid tidak akan dibiarkan diganggu oleh setan. Saya sependapat. Tetapi bila diarahkan dalam kaitan dengan pelaksanaan solat khusyu’, saya akan mengklarifikasi dengan penjelasan seperti ini: “Solat khusyu’ adalah solat yang menjadikan kita merasa butuh untuk melaksanakannya, seolah tidak ada lagi waktu yang tak berarti bila kita mengejar perjumpaan dengan-Nya. Dengan perasaan yang sedemikian menggairahkan ketika dapat merasakan kehadiran-Nya. Seluruh kebutuhan manusia di luar solat seakan tak lagi memiliki arti yang bernilai apa-apa. Maka, di saat keadaan jiwa terbangun dengan sikap berserah diri di hadapan-Nya, kita sudah berada dalam suasana berada di Hadirat-Nya.”

    Pertanyaan selanjutnya, boleh jadi antum mengajukan cara praktis untuk berada dalam jiwa seperti itu, bagaimana seseorang yang menjalankan atau menunaikan solat hingga dia termasuk merasakan solatnya khusyu’? Pengalaman seseorang yang sudah berada dalam solat khusyu’ adalah solat yang mengingat Allah pada saat dia membacakan bacaan solat bersatu dengan gerakan solat, kemudian hatinya bersama dengan bacaan dan gerakannya. Jadi, bacaan dan gerakan solat berada dalam satu kesatuan dengan hatinya. Seseorang yang membaca takbir harus dikeraskan bersamaan dengan gerakan tangan yang disatukan dengan pemaknaan bacaan takbir sampai merasakan ada-Nya di hati. Saya menyebut solat khusyu’ adalah solat ingat.

    Saya, tentu saja, tidak seperti kebanyakan ahli ibadah. Maksud saya, seseorang yang disebut ahli adalah seseorang yang sudah betul-betul menguasai bagaimana dengan pekerjaannya (baca: ibadah). Secara praktis, saya bukanlah ahli ibadah. Hanya saja, ketika menunaikan solat, saya berupaya memaknai setiap gerakan dan bacaan. Sebagai contoh, ketika mengucapkan kalimat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in,” salah satu ayat surat al-fatihah, bibir saya melisankan kemudian hati saya berupaya memaknainya sebagai berikut, “Duhai Allah, hamba adalah makhluk-Mu yang tak pantas untuk menghadap-Mu. Namun, aku tahu Engkau adalah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, dan hanya kepada-Mu kami merendahkan diri dengan segenap jiwa dan ragaku, lalu hanya kepada Engkau jua kami memohonkan apapun dari seluruh kebutuhanku. Allah, duhai Tuhanku Yang Maha Pemberi, tolonglah kami yang terbaik dari sisi-Mu.” Saat yang tepat untuk mengutarakan pertolongan kepada Allah melalui solat di antaranya adalah ketika membacakan ayat tersebut. “Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan solat,” salah satu ayat yang diarahkan ketika manusia harus bersabar menerima ujian dari Allah.

    Sekali lagi, saya bukanlah patut menjadi rujukan dalam hal ibadah. Saya hanya mencoba untuk berbagi dalam pemaknaan solat yang menjadikan kita dapat mencapai solat khusyu’. Wallahu ‘a’lam.

    Syukron katsiron, semoga dapat bermanfaat bagi semua Muslim yang menunaikan solat bukan sekedar melaksanakan kewajiban, melainkan benar-benar membutuhkan untuk menghadap ke hadirat-Nya.

    Ahmad
    http://puisihatiorangpilihan.blogspot.com
    http://agamahatidanilahi.blogspot.com

  • yokinop

    Assalamualaikum.

    Subhanallah walhamdulillah Allahuakbar.Menurut saya sholat khusyuk akan di dapat apabila hati penuh dengan kebesaran,kecintaan,dan cahaya ALLAH itulah hati yang selamat.
    Walaupun seseorang itu kaya namun kebendaan2 tersebut tak membuat hatinya lupa bahkan makin bertambah akan kecintaanya kepada ALLAH pasti sholatnya dan bahkan ibadahnya yang lain akan luar biasa,sebagaimana sahabat Abdurrahman bin Auf R.Anhu.
    Begitupun sebaliknya walaupun kebendaan2 tdk ada di dlm kehidupan kita (sedikit) namun dalam hati kita makin timbul kebesaran,kecintaan kpd ALLAH SWT maka sholatnya dan ibadah yg lain makin luar biasa,sebagaimana umumnya kehidupan para sahabat R.Ahuma ajmain.
    Bukankah anak istri dan permasalahannya adalah kebendaan2.Pekerjaan dan permasalahannya adalah kebendaan,harta dan permasalahannya adalah kebendaan,Pangkat dan jabatan dan permasalahannya adalah kebendaan.Untuk itu harus kita akui bahwasanya agar hati terselamat dari kebendaan2 yg dapat menggantikan kecintaan kepada ALLAH di dalam hati kita maka perlu adanya guru mursyid sebagai pembimbing hati menuju makrifatullah dgn catatan berdoa dan berusahalah mohon petunjuk kepada ALLAH SWT agar ditemukan kita dgn guru mursyid yg shohih.
    Perlu diketahui mendidik hati bukan berarti kita tidak boleh berjumpa manusia malah sebaliknya kita harus berdakwah sebagaimana umumnya para sahabat dan salafus sholeh karena itu adalah salah satu tarikat mereka (Dakwah ilallah).
    Yakinlah apabila hati kita telah mendapatkan petunjuk dan makrifatullah maka kehidupan kita dalam bimbingan ALLAH SWT,wujud kehidupan nabi Muhammad SAW dan para Sahabat R.Ahuma sehingga Imaniah,Ubudiyah,Muasyaroh,Muamalat,akhlak kita dapat menyenangkan ALLAH dan Rosulullah serta para penduduk langit dan bumi.
    Nabi Muhammad mendidik para sahabat sehingga menjadi manusia yg terbaik 13 tahun,begitupun pula para Tabiin belajar kepada para sahabat,begitu pula Tabiit Tabiin belajar byk kepada para Tabiin pd jamannya.Semoga ALLAH SWT membimbing kita keridhonya berkah kemuliaan kekasihnya Muhammad SAW dan jalanya para Sahabat R.Ahuma bagaikan bintang2 di langit.

    Wassalamualaikum

  • tenyaho

    Khusyu’nya sholat itu tidak bisa diprogram, atau direncanakan, dibayangkan, diimajinasikan atau dikhusyu’-khusyu’kan. Semakin anda berusaha keras untuk mengkhusyu’-khusyu’kan, semakin liar pikiran anda. Jadi jangan anda fikirkan bagaimananya, tetapi lihatlah Yang Mememerintah anda sholat, Allah Rabbul ‘Izzah.
    Jika anda memang tidak bisa khusyu’, ridholah kepada takdir Allah swt, bahwa saat itu belum dikhusyu’kan oleh Allah swt. Kerelaan atas takdir itulah yang menghantar anda khusyu’.
    Karena itu jangan menvonis anda sudah khusyu’, dan membuat gambaran khusyu’ seperti ini dan itu. Tidak ada jaminan, orang yang sudah berpengetahuan tinggi sholatnya pasti khusyu’. Orang yang ikut training sholat khusyu’, tidak ada jaminan sholatnya pasti khusyu’. Karena khusyu’ itu dari Allah Ta’ala, bukan rekayasa pemikiran hamba-Nya. Dan tidak boleh membuat finalisasi khusyu’ (khusyu’nya sudah puncak).

  • Ajat sudrajat

    Bolehkan nambah hi,hi kalo boleh tanya nih sebenarnya anda sholat itu untuk apa dan untuk siapa? kenapa harus sholat? apa yang di cari dalam sholat? kenapa banyak orang yang sering sholat…sering juga bohong dan berbuat dosa? apakah Allah rugi kalo kita tidak sholat? hi,hi..jadi sholat itu apa? …kalo sholat jangan cari khusuk….saya udah lama cari khusuk ga dapat dapat tuh..

  • mutiarazuhud

    Mas Ajat Sudrajat, bukan sholat cari khusyuk namun kita berupaya dan dengan pertolongan Allah, agar dapat sholat dengan khusyuk

    [23:1]Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
    [23:2] (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya
    (QS Al Mu’minun [23]:1-2)

  • taufik herjanto

    g usahlah memperdebatkan metode untuk menggapai kekhusyukan sholat, yg penting kita beribadah kpada Dia Yang Menguasai Kehidupan, tidak usah mengharapkan apa pun dalam ibadah, ikhlaskan diri, pasrahkan diri, sadarkan diri bahwa kita tidak ada apa-apanya selain Allah…

    itu saja dari saya yg masih awam….

Tinggalkan Balasan ke agus setyawanBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca