Tasauf

SHALAT KHUSYUK SALAH KAPRAH

Pertanyaan yang sering sekali ditanyakan oleh pengunjung sufimuda kepada saya lewat email adalah bagaimana shalat bisa menjadi khusyuk, apakah kita bisa melaksanakan shalat khusyuk dan ada juga yang berpendapat bahwa hanya nabi Muhammad SAW berserta sahabat-sahabatnya dan ulama salafush shalih saja yang benar-benar bisa melaksanakan shalat dengan khusyuk selain dari mereka tidak ada yang bisa melaksanakan shalat khusyuk.

Terhadap pendapat terakhir saya kurang setuju karena kalau memang cuma Nabi dan para sahabat yang bisa shalat khusyuk maka hampir semua orang dimuka bumi ini akan masuk neraka wail, dengan demikian fungsi Al-Qur’an dan hadist sia-sia, juga peran ulama sebagai penyambung dakwah dan sebagai pewaris ilmu nabi juga tidak akan berguna sama sekali.

Khusyuk menurut Guru Ngaji Saya

Saya masih ingat ketika masih kelas 1 SMP waktu itu masih berumur 12 tahun, saya diajarkan cara shalat khusyuk oleh guru ngaji. Beliau mengatakan untuk bisa mencapai shalat khusyuk kita harus mengetahui makna dari ayat-ayat yang dibaca dalam shalat, kemudian harus kita hayati dalam hati. Antara ucapan dan gerak badan harus selaras, mengucapkan harus benar-benar masuk kedalam hati bukan hanya di bibir saja. Kemudian Beliau memberikan tanda-tanda shalat kita itu sudah khusyuk. Ketika mata kita menatap ke sajadah perhatikan dalam-dalam, nanti akan ada bayangan bulat samara-samar, saat itulah shalat kita menjadi khusyuk.

Saya meyakini apa yang diajarkan oleh guru ngaji saya, saat muncul bayangan bulat itu saya sangat senang karena saya yakin sekali kalau shalat saya sudah mencapai tahap khusyuk dan ketika bayangan itu tidak muncul maka saya jadi sedih. Saya yakin sekali apa yang diajarkan oleh guru ngaji, karena beliau adalah alumni salah satu pasantren terkenal di daerah saya.

Metode shalat khusyuk yang disampaikan oleh ustad saya itu tidak ada bedanya dengan metode pelatihan shalat khusyuk yang disampaikan oleh ustad Abu Sangkan. Setiap sore saya menyempatkan diri untuk menonton acara di Metro TV tentang pelatihan shalat khusyuk yang dibawakan oleh ustad Abu Sangkan.

Seperti juga guru ngaji saya dulu, Abu Sangkan berkeyakinan bahwa shalat khusyuk itu identik dengan ketenangan dan hilangnya kesadaran. Abu Sangkan mengatakan bahwa ketika bertakbiratul ihram kita harus membuang ingatan kita terhadap apapun. “Tidak ada Guru Mursyid, tidak ada Syekh Tarikat dan tidak ada zikir yang ada hanyalah Allah semata-mata”. Persis sekali yang diajarkan oleh guru ngaji saya, cuma Abu sangkan menyampaikannya lebih lengkap disertai dengan kajian-kajian ilmiah. Apa memang demikian shalat khusyuk?

Shalat khusyuk bukanlah mengosongkan pikiran seperti dalam meditasi yoga, karena kalau kita memaksakan pikiran untuk kosong pada saat itulah timbul nafsu kita dan syetan sangat halus dan sangat lihai untuk menyusup di alam bawah sadar kita. Sama juga orang yang mencapai shalat khusyuk lewat alat-alat elektronik, mendengarkan lagu yang dibuat khusus agar kerja otak menjadi berimbang antara kiri dan kanan. Cara seperti ini memang akan mencapai ketenangan akan tetapi kita juga harus pertanyakan lagi apakah memang ketenangan seperti itu yang dinamakan khusyuk, dan apakah memang demikian yang dikehendaki oleh Allah SWT?

Khusyuk di atas dengan berbagai jenis pelatihan bagaimanapun masih pada tataran akal dan kita merasa khusyuk menurut sendiri. Ustad Abu Sangkan menulis buku dengan judul “Spiritual Salah Kaprah” untuk mengkritik ESQ, pelatihan lewat musik untuk menstimulasi otak yang bersifat instant dan kita tidak pernah bisa mencapai kesempurnaan spiritual yang dilakukan oleh kaum sufi, demikian pendapat Abu Sangkan.

Menurut saya pelatihan shalat khusyuk yang diperkenalkan oleh Abu Sangkan juga masih dalam tataran otak dan pemikiran, karena menafikan sama sekali fungsi Mursyid dan sudah pasti yang di dapat bukan Nur Allah akan tetapi ketenangan yang tidak tahu berasal dari unsur apa. Berbicara masalah rasa (tenang, damai, dll) itu masih bersifat sangat subjektif. Maka saya menyebutkan pelatihan khusyuk ala Abu Sangkan sebagai Shalat Khusyuk Salah Kaprah.

 

Khusyuk Menurut Sufi

Menurut golongan sufi, khusyuk itu bukan tidak mengingat sesuatu, akan tetapi seseorang dikatakan khusyuk apabila dia terus menerus bisa memandang wajah Allah SWT. Kalau kita ingin menghilangkan pikiran terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan bukan berarti kita mengosongkan pikiran sama sekali karena di dunia ini tidak ada yang kosong. Setiap yang kosong itu mesti di isi oleh dua unsur; Haq atau Bathil.

Shalat khusyuk adalah kondisi dimana sang hamba bisa berdialog dengan Tuhannya di alam rabbani, maka disebutkan “Shalat itu adalah Mi’raj bagi orang mukmin”. Pada saat shalat maka rohani kita akan terangkat ke Alam Rabbani, alam yang ada hanya Allah SWT.

Mengingat wajah Muryid dalam shalat bagi seorang pemula jauh lebih terbimbing sebelum seseorang mencapai maqam makrifat dari pada mengosongkan fikiran yang justru sangat mudah disusupi oleh syetan tanpa kita sadari. Wajah Guru Mursyid yang kamil mukamil dan khalis mukhlisin tidak akan bisa ditiru oleh syetan dan kalau ada syetan yang mencoba meniru wajah Mursyid akan langsung terbakar. Jangankan Guru Mursyid, photonya saja tidak akan bisa didekati oleh jin dan sejenisnya termasuk para dukun yang menyembah jin. Kalau seorang Guru Muryid belum mencapai tahap itu berarti kadar dan keotentikan kemursyidannya perlu dipertanyakan lagi.

Kunci pertama untuk bisa mencapai shalat khusyuk adalah Makrifatulllah, mengetahui hakikat Allah sehingga selalu bisa berdialog dalam shalat. Tanpa mencapai tahap makrifat bagaimanapun canggihnya pelatihan shalat tidak akan mencapai shalat khusyuk yang sesungguhnya karena dalam hati masih bersemayang dan berbisik-bisik syetan yang sangat berbahaya seperti yang disebutkan dalam surat An-Naas.

Bagi pengamal Tarikat, bermakrifat kepada mursyid merupakan awal dari tercapainya shalat khusyuk karena sesungguhnya makrifat kepada Mursyid adalah awal dari makrifat kepada Allah. Daripada anda mengeluarkan biaya yang banyak untuk pelatihan shalat khusyuk dan belum tentu mencapai alam Tuhan lebih baik anda berbaiat kepada salah seorang Guru Muryid yang akan membimbing anda kehadirat Allah SWT. Pelatihan shalat khusyuk mungkin diperlukan oleh orang-orang yang tidak menekuni Tarikatullah agar shalatnya lebih tenang. Pelatihan ini tidak diperlukan sama sekali bagi orang yang telah mempunyai Guru Mursyid apalagi yang telah mencapai tahap makrifat. Apabila anda telah bermakrifat (berjumpa) dengan Allah SWT masih perlukah anda berlatih shalat khusyuk?

Berlatih sopan santun tata cara menghadap Raja hanya diperlukan bagi orang yang akan berjumpa dengan Raja, pelatihan itu tidak diperlukan lagi bagi orang yang telah duduk bercengkerama bersama Raja, karena segala aturan terserah kepada Raja. Mengatur tutur kata berbicara dengan Raja diperlukan oleh orang yang akan menjumpai raja dan tidak akan diperlukan oleh orang yang berulangkali berjumpa dengan raja, karena segala dialog itu terserah kepada kehendak Raja.

Semoga Maharaja Manusia akan selalu memberikan kita kesempatan kepada kita untuk terus bisa singgah di istana-Nya, menikmati perjamuan-Nya dan bisa melayani tamu-Nya. Amien ya Rabbal ‘Alamin

 

412 Comments

  • ajib

    masya Allah ..
    mbak Nurisah tahu aja kalau jidatku item, aku langsung terkapar kena tembak nich ..
    tapi bener sekali kok mbak , walaupun jidatnya item tidak berarti shalatnya khusyu
    Contohnya ya saya sendiri, ok terima kasih tausihnya

  • Aria

    “Bagi Saya Allah itu Maujud kepada tiap2 sesuatu, sehingga kemana saja kita memandang di situ lah wajah Allah”

    Wah, enaknya. kalaulah begini bagus juga rabithahnya diganti ama britney spears atau drew barrymore, lebih mantap!

    kalau penerapan yang salah kaprah bisa bahaya itu ayat.

    hanya bagi yang sudah besertaNYA setiap saat lah baru berlaku ayat itu.

    Bagaimana kalau kita tidak bisa seperti demikian? gampang. TUHAN tidak menurunkan perumpamaan “tali ALLAH” bukan tanpa alasan. Bahkan semua perumpamaan di dalam Al-Qur’an bermakna yang dalam.

    Kalau kita bukan petugas PLN, tidak berwenang atas kita untuk masuk ke areal pembangkit listrik untuk mengakses listrik. kan sudah disediakan dirumah masing2. tinggal pastikan apakah berhubung atau tidak ke jaringan PLN.

    Semua “cok/steker/alat” untuk berhubung ke ALLAH SWT sudah tersedia di dada kita masing2.cuma. Behubungkah alat anda itu ke ALLAH SWT? kalau belum, jangan coba2 merabith britney spears dulu, rabithlah mursyid yang kamil mukamil, karena BELIAU bersama ALLAH SWT setiap saat, setiap detik. “tanganKU ditangannya”.

    Maka apabila kita merasa sudah cukup melepas diri dari mursyid bukankah kita sudah bisa menjadi mursyid itu sendiri? bukankah kita “agak” sombong jika mengatakan di forum yang bisa di akses diseluruh dunia ini bahwa kita sudah bisa seperti mursyid?bukankah mursyid itu tidak ada sombong lagi di hatinya? bahkan dirinya sendiripun sudah fana kepada TUHANNYA?

    Kiranya cukuplah iblis saja yang di usir dari surga karena tidak mau sujud kepada adam, janganlah kita menjadikan diri kita sebagai cucu2 iblis hanya karena kita merasa mampu langsung kepada ALLAH tanpa “WASHILAH” lagi.

  • Aria

    ketika para malaikat diperintahkan sujud kepada adam di surga jaman dahulu kala, apakah mereka sujud kepada ALLAH atau kepada ADAM?

    ketika bintang2 sujud kepada yusuf apakah mereka sujud kepada ALLAH atau kepada YUSUF?

    ketika kedua orang tua yusuf akhirnya berjumpa yusuf yang sudah menjadi raja dan mereka sujud di kakinya apakah mereka tidak syirik karena sujud kepada manusia sedangkan ayah nabi yusuf yaitu nabi ya’kub adalah seorang nabi yang seharusnya sudah ma’rifat?
    bukankah mereka2 semua pada hakikatnya sujud kepada ALLAH?

    kenapa ALLAH memilih hamba2NYA untuk disuruh sujud, bukan kepada diriNYA? atau jangan2 kata2 KAMI dalam Al-Qur’an justru bermakna AKU dan MUHAMMAD? Bukankah MUHAMMAD adalah penghulu sekalian alam, bukankah ALLAH SWT adalah seru sekalian ALAM?

    Ah, tidak usahlah kita terlalu bernafsu menggapai ALLAH SWT dengan kemampuan kita sendiri, tidak usahlah kita terlalu bernafsu menjadi seperti para nabi (nabi ya’kub aja berwasilah kepada nabi yusuf)
    cukuplah GURU kita saja wasilah yang satu, GURU yang jangankan orang aslinya, fotonya saja ditakuti jin seantero jagad. GURU yang ada walaupun kita pergi ke ujung dunia, GURU yang tau kerinduan dalam hati kita walaupun kita tidak menzahirkannya, GURU yang menjawab ketika kita bertanya dalam hati kita, GURU yang menjadi teman ketika semua yang lain sirna. GURU yang amat baik hati lagi mulia budi pekertinya, GURU yang amat kasih sayang kepada murid2nya

    GURUku,… i miss u so much,… so much.

    • muhammad thahir

      sujud malaikat dan iblis kepada adam adalah karena perintah Allah.
      Sujud matahari, bulan dan 11 bintang (Ayah=yakub, Ibu, dan 11 saudara) kepada Nabi Yusuf adalah mimpi sewaktu Nabi Yusuf masih kecil. Ini merupakan mimpi Nabi Yusuf. Sujud yang dimaksud dalam ayat tsb adalah tunduk terhadap ketentuan/aturan/hukum dimasa Nabi Yusuf.
      Tak ada perintah untuk menjadi Rasullullah atau GURU sebagai wasilah/perantara untuk beribadat kepada Allah SWT. Kita melakukan solat hanya untuk Allah dan di dalamnya tidak ada wasilah/perantara Rasul SAW apalagi GURU.
      Yang patut ditakuti adalah hanya Allah SWT, bukannya Rasul SAW apalagi GURU apalagi fotonya GURU.
      Masya Allah, bertobatlah, dan kembali kepada Tauhid yang benar…… Ingatlah makna La Ilaha Illa Allah…. Tak ada Tuhan selain Allah.. Jangan menjadikan Rasul SAW atau GURU sebagai tandingan Allah atau menjadikan Rasul SAW atau GURU sebagai wasilah/perantara beribadat kepada Allah… Anda akan tersesat.

      • Mima

        ehem.gampangannya mas thahir, Rasul bersabda yang intinya kalo ingin shalatnya benar, tirulah/contohlah sholat ku.Itu penggambaran secara bodoh”an, Rasul seolah guru kita. makanya disuru nyontoh beliau agar mengerti.Darimana Rasul tau? ya lewat perantara Jibril, ketika dituntun Jibril mulai dari tata cara berwudhu yang baik.Jibril darimana?
        ya dari Allah! enggak mungkin maunya Jibril sendiri.
        itu penjelasan gamblangnya.

  • MUSH

    sholat khusyuk/tidak yang tahu hanyalah Allah, manusia mengerti sedikit hal dari ilmu Allah yang maha luas, yg terpenting beribadahlah hanya karena Allah mungkin itu yang akan membawa kekhusyukan hakiki, jangan sampai kita menyembah kekhusyukan itu sendiri dan menomerduakan yang kita sembah. Marilah berlatih ikhlas dan sabar dalam setiap amal jangan pernah menimbang amal dengan segala sesuatu yang sebenarnya tak akan pernah kita pahami dengan satu dua kali pemahaman, karena sesuatu itu barangkali akan sedikit demi sedikit datang kepada kita sebagai bagian dari ilmu Allah untuk cahaya keimanan kita selama kita menjalankan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Terima kasih.

  • Kang Kolis

    أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

    لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الأخر وذكر الله كثيرا

    “Benar-benar telah ada dalam diri utusan Allah keteladanan yang sempurna, yaitu bagi orang yang mengharapkan ridha Allah, kebahagiaan akhirat, dan sering mengingat tanda-tanda kebesaran Allah”.

    Rasul Allah adalah suri tauladan yang paling baik untuk diteladani oleh siapapun.

    Mengikut ayat di atas, setidaknya, orang yang meneladani Rasul Allah itu dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu 1) golongan orang-orang yang semata-mata hanya mengharap ridha Allah, 2) golongan orang-orang yang mengharap imbalan kebaikan di akhirat, dan 3) golongan orang-orang yang berzikir kepada Allah demi memperoleh perasaan bahagia dan damai dengan zikir itu sendiri.

    Orang yang hanya mengharapkan ridha Allah (dan tidak mengharapkan imbalan apa-apa dari-Nya), adalah orang yang terdekat dengan-Nya. Kemudian orang yang mengharap kebahagiaan akhirat (jadi ada permintaannya dari Tuhan) adalah derajat kedekatan yang berikutnya. Derajat kedekatan yang berikutnya lagi, orang yang hanya melihat kehebatan diri dalam hubungan dengan Allah (dengan mengingat tanda-tanda kebesaran-Nya).

    Kira-kira, berdaasrkan kualitas shalat kita, di level berapakah derajat kedekatan kita dengan Allah?

    Kedekatan dengan Allah adalah kenikmatan, dengan demikian kedekatan dengan Allah dapat dikatakan sebagai Surga dalam istilah syara’.

    Lalu kira-kira kita ingin Surga yang mana ya?

    Kalau Sufi, Rabiah al-Adawiyah, ia pilih level yang paling atas, ngga tau kalau Abu sangkan dan kita…

    Ketiga-tiga model sebagaimana disebutkan di atas, ada seluruhnya pada diri Rasul Allah, sehingga patutlah kalau surga itu ada dalam genggamannya

    • muhammad thahir

      Surga tidaklah mungkin berada dalam genggaman Rasul Allah…… Tapi berada dalam gengaman yang punya yaitu Allah SWT.

      Sufimuda Menanggapi :

      Anak kecil pun tahu kalau surga di tangan Allah, sudah pernah anda berjumpa dengan Allah sebagai pemilik surga itu?

  • bonty

    udahlah semua agama itu nggak akan menemukan tuhan tanpa mengetahui metodologi pencapaiannya. Tuhan itu tinggi dan dimensinya maha tinggi pula, jadi yang mau kesana harus tau channel dan frekwensinya.

    sekarang buat yang pada debat di sini, apa yang bisa mencapai matahari?? apakah helium, hidrogen, oksigen??? tidak yang bisa sampai ke matahri itu adalah cahanya sendiri

    Sekarang kalian berbicara tentang rasul muhammad yang agung, dan kalian ngerasani abu sangkan, apa kalian pernah ketemu dengan Rosul??? nggak mungkinlah, berarti kalian bukan ISLAM, tapi bagaiman kita menemukan Nuurun ala Nuurin yang ada pada diri muhammad, kalo bentuk , casing fisiknya pasti nggak bisa liat tapi carilah nuurun ala nuurin itu dengan metodologi tariqatullah.

    • muhammad thahir

      channel atau frequensi manakah yang dimaksud? Bukankah Islam itu adalah channel yang di ridoinya. Jadi kita akan mencontoh Islam sebagaimana cara Rasul SAW berislam. Memang kami tidak bertemu dengan Rasul SAW, tapi peninggalan berupa Al-quran dan sunnahnya itulah yang menjadi panutan.

  • Parman

    aku percaya dengan apa yg disampaikan dan diajarkan oleh Abu Sangkan, karena belum pernah rasa khusyu’ itu dalam sejarah diajarkan oleh kurukulum di sekolah manapun di Indonesia – ini tentang rasa Ikhsan, yang mana aplikasinya adalah didalam kehidupan itu sendiri – aku percaya !

  • Parman

    ketika kita mau membuka diri sedikit tentang arti menghargai, mungkin tidak ada yang namanya perang…….. kita semua saudara. satu ras manusia utuh. sakitmu adlah sakitku. kedamaianmu dalah punyaku juga – saatnya kita tidak perlu gontok-gontokan, kita saudara – Allah Maha Tahu atas hambaNya. matur nuhun.

  • abu Mufasya

    Ass.WrWb.
    MasyaAllah…jari-jari untuk menulis dan hati kita sedang di tenggeri syaithon….astaghfirullah…

    Semua komentator sungguh telah memahami apa yang menjadi perbincangan, semoga semua komentar dilandasi untuk menyampaikan dan berharap hanya mendapat ridho dari sang Maha Guru…Allah SWT dan semoga Allah mengembalikan balasannya sesuai niat dan maksudnya…amin

    Ya Allah ampuni kami semua, beginilah kualitas keimanan kami kepadaMu, terimalah kecintaan kami kepadaMu dengan cara Kami…jadikanlah ENGKAU dan para KekasihMu sebagai Pembimbing kami, dan pautkanlah hati-hati kami kepada sesama saudara kami, karena sesungguhnya jalan kema’rifatan Mu terbentang dari salah satu pintu ke ridhoan hamba-hambaMu yang lain…

    Salam Kenal
    Wass.

  • Rindu Damai

    aku percaya dengan apa yg disampaikan dan diajarkan oleh Abu Sangkan, karena belum pernah rasa khusyu’ itu dalam sejarah diajarkan oleh kurukulum di sekolah manapun di Indonesia – ini tentang rasa Ikhsan, yang mana aplikasinya adalah didalam kehidupan itu sendiri – aku percaya !

    Bung Parman
    Yang harus kita percaya itu hanya kepada Allah dan Rasul-Nya bukan kepada abu sangkan 🙂

    Kalau anda berumur panjang, saya meramalkan 3 tahun ke depan teori shalat khusyuk ala abu sangkan itu akan ditinggalkan orang dan digantikan dengan yang lain. Begitulah hukumnya.
    Seperti populernya seorang da’i, era Zainudin MZ sudah berlalu dan digantikan dengan Da’i2 artis ala ustad Jefri dll…

    Sufi Muda harus hati2 mengkritik shalat khusu’ ala abu sangkan, ntar fans berat nya marah lho 😀

    Salam Damai

  • Parman

    Rindu damai !
    Aku jelas-jelas menulis “menerima apa yang disampaikan oleh…… ” bukannya “menerima siapa yang menyampaikannya….” mengertikah anda rindu damai? semoga Allah memberikan hidayah kepadamu, saudaraku.
    Saya tidak melihat Abu Sangkan-nya tapi apa yg disampaikan, itu yg terpenting. manusia bisa saja salah karena hanya Muhammad rasulullah Uswatun Khasanah. selain beliau tidak ada, akan tetapi apakah saya harus apriory terhadap apa-apa/ilmu-ilmu yang disampaikan oleh orang-orang yng memang bekerja di jalan Allah? – tentu saja tidak, ini adalah pilihan hidup untuk menuju ke Allah

    Mas/Mbak Rindu Damai, biarlah saya dengan apa yg saya yakini untuk menuju Allah seperti anda juga dengan keyakinan anda sendiri – saya tidak mau untuk menjelek-jelekan jalan yang memang menuju ke Allah karena Allah itu Maha Meliputi, Baik Buruknya perbuatan hanya Allah yang tahu. semoga kita semua Saudara Seiman tidak perlu gontok-gontokan – kita dalam satu keimanan menuju ke Allah. terima kasih atas tanggapannya

    Wassalam

  • Parman

    hitam putih, baik buruk, susah senang, itu semua hanyalah ilusi manusia saja – mari umat islam kita bersatu dalam damai terlepas apa yang anda sandang menuju Allah – kita semua SAUDARA

  • asep

    Salam kenal,
    @ semua yg ada diblog ini,

    Shalat khusuk, hemmmm … mikir dulu gimana yah? pasti mengikuti contoh Rasulullah Saw. Mengosongkan akal fikiran dan jiwa kemudian mengingat Allah Swt, merasakan kehadiranNya, berdialog denganNya, bahkan melihat wajah Allah Swt? mungkin juga. Tapi caranya bermacam-macam ada yg pake niat ada yg tidak, ada yg sedekap ada yg tidak, ada yg Qunut ada yg tidak dsb. Oh iya baru ingat ! caranyadulu yg harus benar, tanyakan aja kpd Insan Kamil Mukamil seorang Musyid yg sudah mencapai Makrifatullah, apa benar? jangan bertanya kepada rumput yg bergoyang.. he he. Shalat khusyuk, mungkin setelah melaksanakan shalat dalam kehidupan sehari-harinya bisa mengamalkan Amal Ma’ruf Nahi Munkar, karena sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Ya Allah, tunjukkanlah kami semua kpd orang-orang yang benar dan taqwa. Siapa orang-orang yg benar itu? cari aja sendiri, karena semuanya dalam proses perjalanan menuju Allah Swt.

    Wassalam Wr. Wb.

  • ajak-ajak

    Minta maaf sebesar-besarnya,, bukan bermaksud mem-beo tapi kok begitu baca link ini mendadak jadi inget ceritanya sufimuda:

    Ada seoekor gajah yang besar badannya. Suatu hari ada orang yang mau memberikan minum kepada sekawanan gajah termasuk gajah yang besar tadi dengan memakai selang air sebesar kelingking. Sang gajah protes, Bagaimana mungkin kami bisa cukup minum dari selang yang kecil ini, untuk saya sendiri saja tidak cukup”.

    ga tau deh kenapa? Apa aku merasa telah menjadi seekor gajah? atau kemasukan jin gajah? halah…

    Yang jelas,, terimakasih buat sufimuda yang sudah berkenan memandikan saya si gajah sombong. Ternyata airnya banyak sekali yah? Dan segar pula!

    Tapi ma’af, banyak temen2 saya yang ga mau ikutan mandi,, mungkin mereka belum tahu sumber air yang dipakai sufimuda. Mungkin dikirain selang sufimuda cuma dari satu Toren (tanki air).

    Sering-sering donk mandiin aqyu… ^_^

  • Parman

    Bagimu Jalanmu dan bagiku jalanku – yang penting mari mandi bersama-sama di kedalaman ma’rifatullah
    bagi Sufi Muda salut anda telah mempertemukan kami di-kebersama-an dalam lautan cinta ilahi

    wass

  • asep

    @ajak-ajak

    Salam jumpa lagi, dima’afkan yg lebih besar lagi.
    Hemmm…mikir baca cerita sufimuda, sampai berkerut kening saya, apa maknanya ya? oh iya, mas Parman awas airnya kotor !!!
    Saya juga mohon ma’af sebesar-besarnya apabila ada salah.

    Wass. Wr. Wb.

  • Parman

    to @ajak-ajak
    sama-sama mas, saya sebagai manusia biasa tak luput dari salah, semoga kita semua dipertemukan dalam lautan cinta Ilahi.

    terima kasih mas atas pengiling-ilingnya.
    saya bicara ini (ttg metodenya ust Abu Sangkan) memang tak luput dari sejaranh panjang pencarian cinta Ilahi
    suatu saat saya kan bercerita panjang ttg perjalanan hidup saya hingga menemukan beliau. suatu saat nanti.

    wassalam

  • abdullah

    Kalau ente-ente sholatnya dah pada bener….harusnya bangsa indonesia (yang notabene sering membanggakan sebagai bangsa dengan populasi umat islam terbesar di dunia) dah jadi bangsa yang paling maju di dunia…..

    Tapi kenyataannya…..lihat aja sendiri…..

  • M.Yam

    Assalamu alaikum

    Saya hanya priharin pada teman2, kalau kita belum pernah ngrasain Khusuknya sholat tapi kok ribut bedebat tentang khusu’

    seperti dua orang buta yang membicarakan cewek cantik yang di pijatnya. kita yang denger kedua orang itu berdebat pastilah ketawa terpingkal2.

    daripada pada ribut2 mending dateng saja Ke Shalat Center , Abu Sangkan Open hause disana setiap hari selasa, boleh diskusi sama beliau
    Jl Kemang sari IV no.5 Kemangsari jati bening jam 12-17

    Ingat Din ada 3 Unsur
    Rukun Islam Syariat, Rukun Iman(percaya), Ihsan(bersaksi)
    Kalau Kita Mengaku bisa menerus bisa memandang wajah Allah SWT dan Gak pernah Shalat kan sama Dengan Kejawen karena ngak Melaksanakan syariat, Orang Barat barat juga banyak lho Yang Hapal Quran, bisa Sholat tapi belum bisa di sebut Islam , makanya kalau mau sempurna ketiga unsur diatas haruslah berjalan dengan benar dan tidak boleh dipisahkan

    demikian pendapat saya yang masih belajar ini
    bila ada kesalahan mohon dimaafkan…

    wasalam

  • mujahidahwanita

    Apa yang sesungguhnya kalian perdebatkan, setiap orang mempunyai hak masing-masing untuk mengemukakan pendapatnya, tinggal kebijak sanaan kita dalam menerimanya

    Sesungguhnya bukan sholat nya yang salah kaprah, Tetapi orang2 nya lah yang salah kaprah.

    Kalian telah mencoreng agama kalian sendiri.
    Kalian tidak sadar dengan perkataan kalian yang tidak baik itu, tidak mencerminkan sebagai umat muslim dan Umat dari Nabi muhammad Saw.

    Kalian telah merusak apa yang Nabi Muhmmad SAW telah perjuangkan, dengan seluruh jiwa dan raga serta harta benda Beliau.

    Seandainya saja Nabi Muhammad SAW masih ada, Beliau akan sedih s melihat Para umatnya yang terpecah belah dan saling berselisih, saling menghujat dan menjatuhkan.

    Jangan jadikan perbedaan itu menjadi sangat berbeda.
    Tetapi jadiakanlah perbedaan itu menjadikan Rahmat.

    Agar dapat kembali mempersatukan Umat.

    Salam perdamaian

  • al rizali

    udah lah..ga usah MUNA, apalagi mujahidawanita,gaya sok ngarti aja, sok dewasa, sok mbela’in islam,….padahal….???..
    ente klo mau tau,Nabi Muhammad itu ga MATI,DIA selamanya
    ada, jadi yg salah yu sapa?
    siapa suruh ngupas tentang rahasia ISLAM/TUHAN lewat dunia maya,
    ya jadinya kaya gini nih..tipe kaya kalian ini yg bakalan merusak
    & menghancurkan ISLAM, yg namanya dunia maya,bukan orang muslim aja yg bisa monitor, tp non muslimpun juga ikut nimbrung, jd tolong hentikan smua tentang penjabaran mengenai rahasia islam lewat internet. ini smua gunanya tuk menjaga persatuan umat muslim

  • mujahidahwanita

    @ al rizali

    Alhamdulillah….

    Terimakasih atas kritikannya…. yang membangun.

    Anda benar ttng Muhammad Saw, bahwa beliau pada Hakikatnya tidak lah mati. Seperti itu pulalah apa yang saya yakini. akan tetapi Maksud saya ttng:

    ========================================
    Seandainya saja Nabi Muhammad SAW masih ada, Beliau akan sedih s melihat Para umatnya yang terpecah belah dan saling berselisih, saling menghujat dan menjatuhkan.
    ========================================

    Adalah untuk mengingatkan mereka2 yang masih awam, karena mereka tidak mengettahui akan Hakikat Muhammad Rosulullah Saw.

    Semoga Islam bisa bersatu, tidak saling menghujat dan menjatuhkan walau berbeda dari segi pandangan dan pemahaman

  • Parman

    Assalamualaikum

    Astaghfirullah……. Astaghfirullah…..Astaghfirullah….
    seandainya kita mau sedikit terbuka untuk menghargai……. kita akan bersatu

    marilah…… saudaraku ayo kita bersatu, demi Dzat Yang memegang setiap Jiwa Manusia.

    untuk SUFI MUDA, lihatlah…..renungkan… apa yang sudah terjadi. Jangan berdebat soal ini lagi.

  • matahati

    cobalah berada dalam kusyu.. dialami.. insyaAllah tidak akan ada pertanyaan.. krn smua adalah jawaban.. semua adalah kefahaman.. 🙂

  • ajak-ajak

    salam kembali untuk parman dan asep.
    Bersih-kotornya air relatif. Air lumpur kotor buat kita, tapi bersih buat kerbau. Air sumur pun masih kotor buat dokter tapi cukup bersih buat penduduk desa. Air lautan yang Maha Luas dinilai kotor oleh seekor gajah seperti saya pada awalnya, tapi setelah dimandikan, ternyata segar dan bersih2 aja tuh.

    al rizali, rahasia sudah jelas bukan untuk disebar luaskan (bukan rahasia lagi donk). Tapi jalan untuk menuju ke Yang Maha Rahasia itulah yang kita tapaki. Mudah-mudahan dengan pembahasan semacam ini, banyak ikhwan2 kita yang bisa menemukan jalan ‘lurus’ menuju Yang Maha Rahasia dan tidak tersesat. Itulah perlunya menemukan penunjuk jalan yang sudah biasa melewati jalan rahasia.
    Yah dengan diskusi seperti ini salah satunya (Amiiin)

  • tetangga sebelah

    assalamualaikum

    hmm…klo ada yg bilang tenang dalam shalat itu bkn sesuatu kondisi dmn mmg Allah yg memberinya, sy kira itu pemikiran yg salah yaa…krn dlm Al Quran sja d sebutkan bhwa Allah akan menyambut kt dgn caraNya n ketenangan itu slh1 sambutanNya, sy pikir klo kt mmg bnr2 iklas n pasrah thdp duniawi d kala kt shalat n tetap b’dzikir menyebut asmaNya..Allah pasti akan menyambut kitah n bukan tdk mgkn klo Allah berkehendak, kt pun akan menjumpaiNya n merasakan sambutannya.

    Klo d tanya gmn siy sambutan Allah??
    yaa itu tergantung dari tiap2 org yg merasakannya, n blum tentu jg rasa itu bisa d sebutkan dlm kata2.

    sudahlah…gak usah memperdebatkan masalah metode, cara ato apapun itu ttg cara mendekatkan diri ke Allah, yg penting kitah yakin ma Allah n sungguh2 u/bsa berjumpa dgnnya…apa gak yakin klo kita pun bisa merasakan apa2 sja yg pernah nabi2 rasakan ttg perjumpaan beliau dgn Allah??
    Allah itu Maha Segalanya, klo kitah mau n yakin insya Allah tidak ada yg tidak mgkn u/Allah berkehendak…baik ttg shalat yg benar n berdekat diri dgnnya.

    Klo merasa khusyuk itu tidak ada ato “perasaan hebat” itu tidak ada, sya rasa itu sudah slh1 bentuk bahwa tidak mempercayai Allah n kehendakNya.

  • dir88gun

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    – Apakah Anda ingin mengetahui penyebab hancurnya sistem kapitalis?
    – Apakah Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang situasi dan kondisi masyarakat saat ini secara global?
    – Apakah Anda ingin mengetahui tentang sistem apakah yang bisa memecahkan berbagai persoalan dalam situasi dan kondisi saat ini?

    Apabila Anda menjawab “ya!”, maka hadirilah undangan…

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    Liqo’ Syawal Umat Islam 1429 H
    Bersama Hizbut Tahrir Indonesia

    dengan tema,
    – “Saatnya Kapitalisme Hancur dan Khilafah Tegak”

    yang Insya Allah akan dilaksanakan pada,
    – hari____: Ahad
    – tanggal_: 26 Oktober 2008
    – pukul___: 08.30-11.00
    – tempat__: Masjid Al-Akbar, Surabaya

    yang diselenggarakan oleh,
    – HTI DPD Jawa Timur

    contact Person
    – Anwar Jabir (081 13465967)

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    …yang Insya Allah akan mampu menjawab pertanyaan Anda mengenai ketiga hal di atas.

    Terima kasih atas perhatian yang telah Anda berikan.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Sufi Muda :
    Makasih atas infonya

  • M.Yam

    From: DODY ISKANDAR dinata
    Subject: Jagal Pemikiran

    Sekedar tanggapan diskusi sholat salah kaprah…

    Jagal Pemikiran

    Alkisah, ada anak kecil yang suka buang sampah sembarangan. Seperti biasa,
    sehabis makan jajanan ia membuang sampah seenaknya. Tetapi naas, tiba – tiba ia
    ditegur orang tinggi besar bin sangar, Hei…jangan buang sampah sembarangan !
    sambil mengingatkan si anak, orang itu membuka kancing bajunya.

    Si anak melihat tato dibadannya. Sekilas ada tulisan JAGAL…dan gambar mirip
    gagang kapak

    Waduh gawat, jangan -jangan preman ini mau menghajarku gara-gara aku buang
    sampah sembarangan..ih, liat tatonya aja seyyemm deh..ada tulisan JAGAL… dan
    kayaknya ada gambar ..ss…sse… senjata tajam. Pasti dia ..pasti dia pembunuh
    kejam berdarah dingin hi….

    Si anak gemetar ketakutan sambil memejamkan mata…

    Orang itu semakin mendekat. Sambil menaruh baju di pundak, ia memegangi kepala
    anak itu…

    Lalu…

    Dengan elusan lembut di kepala, ia menasehati anak itu, ” Dik, mbok jangan buang
    sampah sembarangan ya…abang udah capek mbersihin…

    Karena merasa diperlakukan dengan lembut, si anak memberanikan diri membuka
    mata. Tepat di hadapnnya, orang tinggi besar itu bertelanjang dada dengan tato
    di badan.

    Ups, si anak terkesiap setelah melihat dengan jelas tulisan tato di dada orang
    itu.

    Ternyata bertuliskan ‘ JAGALAH KEBERSIHAN lengkap dengan gambar dua gagang sapu
    melintang….sama sekali jauh dari kata seram…

    Sesuatu yang luarnya terlanjur dianggap kasar, kotor dan kejam ternyata penuh
    kelembutan, suka kebersihan dan santun.

    Yah hanya karena salah menduga…salah kaprah…..

    **

    Memang kelemahan utama kita dari dulu adalah keahlian memotong pembicaraan untuk
    disesuaikan dengan prasangka sendiri. Keahlian derivatif turunannya adalah
    menyortir kalimat tanpa mau mencari tangkapan makna atas keseluruhan konteks
    pembicaraan. Hal ini juga berlaku pada tulisan atau pemikiran.

    Seringkali kita keras bin kaku dalam menyimpulkan tulisan hanya karena ada
    salah satu dari ratusan kalimat yang tidak sinkron dengan konsep otak kita.
    Sehingga kita menafikan kebenaran kalimat lain yang ada dalam tulisan itu.

    Sesungguhnya kalau kita menyadari, ini adalah warisan para penganut orientalis
    yang selalu berorientasi dengan ketidakterimaan “aku” kecil dan pendapat
    golongan. Serumit apapun bahasan ilmiahnya, akhirnya hanya mengerucut pada
    kalimat pokoknya begini tidak begitu, pokoknya begitu tidak kayak yang gini.

    Sayangnya kita sendiri terjebak ikut-ikutan menggunakan pola ini dalam mengkaji
    kebenaran agama. Akhirnya, tahap paling akut kita juga sering berani korup
    terhadap ayat ketika ayat itu tidak sesuai dengan tafsir kehendak nafsu kita.

    Seperti yang kerap terjadi pada surah An nisa ayat 3 tentang bolehnya laki-laki
    nikah lebih dari satu. Seorang laki – laki yang normal kayak saya kalau di
    tawari nikah empat pasti wooow…mau dong. Tapi ketika Al Quran menantang bahwa
    apakah engkau termasuk orang yang adil ? apakah engkau telah menunjukkan
    kemampuan adil ?

    Lhagadah…para cendekia agama yang rata-rata laki- laki kok nggak pernah bahas
    detail apa yang dimaksud adil, dimana parameternya, apa hukumnya berlaku tak
    adil. haramkah atau sekedar keluar fatwa yang memaknakan ah manusia pasti ada
    khilafnya.

    Atau adakah semacam keseriusan bahasan seperti RUU pornografi bahwa sangsi tidak
    adil adalah bla bla bla dengan sekian ratus pasal yang mendukung berdasar
    analogi An Nisa 3 itu sendiri, bahwa tidak adil adalah berbuat aniaya.

    Sehingga setiap perbuatan aniaya pasti ada ganjaran fisiknya. Semisal denda
    sekian puluh juta atau sebesar- besarnya kurungan ayam…eh maksudnya kurungan
    badan lima tahun penjara. Tapi ya boleh juga sih ditaruh di kurungan ayam agar
    sang jago nggak gampang gagah berkokok ke sana-kemari.

    Dan sesungguhnya hak dari ayat itu tentang keadilan sudah dijelaskan pada ayat
    sebelumnya ( An Nisa ayat 2 ) yaitu tentang kewajiban2 kita merawat dan
    memperhatikan anak yatim. Kemudian baru naik ke masalah wanita itu sendiri.
    Memaknakan bahwa sebelum kita bersenang -senang, kewajiban sosial harus
    dijadikan landasan sebuah kemukminan seseorang. Karena mukmin setingkat lebih
    naik lagi daripada muslim.

    Intinya ayat surah ini ada dalam kejujuran batin kita. Apakah tangkapan atas
    surat ini mengajarkan pendidikan keadilan yang memang harus dilatih pada diri
    setiap orang yang ingin jadi mukmin, ataukah hanya mengajarkan bolehnya
    bersenang – senang dengan lain jenis kelamin.

    Kalau saya sih cuman bilang, mosok sih Quran cuman mengandalkan hal dangkal atas
    kesenang-senangan daripada kesungguhan pengajaran tentang kesadaran kemukminan.
    Walaupun kenyataannya setiap lelaki ( sudah pasti termasuk saya ) kalau hanya
    bilang urusan gitu pasti pengen kayak raja jaman dulu yang punya selir sampai
    puluhan. He…he..itu kalau kita hidup hanya nuruti nafsu.

    Waduh kok mbahas polyphony lagi….

    Uraian contoh tsb hanya sekedar sebagai gambaran betapa dahsyat efek dari
    memotong pembicaraan. Bahkan dampaknya lebih dahsyat dari sekedar memotong
    rejeki. Sebab di dalamnya sudah pasti terkandung ketidaksabaran, ketidakakuratan
    data, tingginya ego, ketidakluasan cara memotret space seseorang yang akhirnya
    berbuntut fitnah.Yang disayangkan seberapapun daya intelek atau keimanan
    seseorang akhirnya hanya berujung like or dislike.

    Jadi dalam konteks salah kaprah sholat bukannya membela Pak Deka, Pak Abu
    Sangkan atau siapa saja. Tetapi mari belajar tidak memotong, menyortir
    pembicaraan, tulisan ataupun pemikiran seseorang. Pelajari dulu pesan
    batinnya.Dan mari menghargai ide seseorang apa adanya sampai tuntas layaknya
    murid yang mendengar ajaran mursyid sampai tuntas tanpa berani menyela.

    Karena sesungguhnya segala sesuatu yang memancing diri kita untuk berfikir
    adalah guru. Masalahnya hanya umpan pancingan itu lezat atau pahit.

    Mungkin saja saya sekedar bermimpi muluk untuk menghilangkan tabiat ini. Lha
    wong kenyataanya firman Tuhan saja masih sering kita sela . Apalagi omongan
    -omongan model warung seperti tulisan ini.

    Akhirnya kita ini kayaknya semakin intens berdiskusi atau ndakik mempelajari
    Quran, tetapi hati makin gundah, jiwa terjun bebas terhenti bermaqam di nafsu
    amarah. Sebab kita masih suka menjadi jagal atas pemikiran orang lain ataupun
    ayat.Sehingga pesan makna sesungguhnya tak pernah sampai membuka hati kita.

    Tapi sudahlah, ayo belajar jangan hanya berhenti pada ilmu, filosofi,
    tafsir-tafsir, karya, atau spiritual saja. Tapi belajar hargai manusia. Karena
    ilmu tanpa ilmuwan tak akan ada harganya. Seni tanpa seniman tak akan berasa.
    Tafsir tanpa tafsir-wan tak akan bermakna apa-apa. Spiritual tanpa spiritual-wan
    juga jadi kertas fotokopi tanpa ada suasana kekhusyukannya.

    Sebab para wan-wan itulah yang bikin hidup lebih hidup. Tanpa Pak Wan segala
    sumber ilmu pengetahuan tak bisa kita tangkap dan hadirkan di sini.

    Tak lain karena kita belum begitu yakin bahwa Allah lah sesungguhnya yang
    memberi pengajaran langsung terhadap sang jiwa yang bermukim di setiap ruh
    manusia. Walaupun begitu banyak ayat yang menjelaskan akan hal itu secara
    mukhamat…..

    Last, Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, Ana indadzhoni abdi.. berkenalanlah
    dengan berbagai manusia secara baik – baik maka engkau akan bertemu Tuhan yang
    baik. Bukan Tuhan yang suka merengut. Karena Tuhan sesuai persangkaan si
    hamba…wallahu alam

    Wassalam, semoga baik-baik selalu

    Dody Ide

  • sufimuda

    Terimakasih Mas M. Yamin atas kunjungan dan komentarnya….
    Komentarnya luar biasa…
    Semoga apa yang disampaikan di atas akan bermanfaat untuk semua…
    Pada dasarnya Agama terkhusus masalah Tasawuf tidak bisa diperdebatkan karena setiap manusia itu punya sifat tidak ingin mengalah, semua ingin menang dan mempertahankan pendapat sendiri.
    Semoga juga tulisan shalat khusyuk salah kaprah akan bisa membuka hijab orang-orang yang telah menjalani Thariqat untuk terus istiqamah menjalankan apa yang telah diketahuinya dan juga akan menjadi bahan renungan untuk kita semua.

    Saya jadi ingat pepatah lama :
    “Di atas langit ada langit”

    Setiap teori pemikiran akan digantikan oleh pemikiran yang lebih baik, namun yang terpenting bagi kita adalah bagaimana bisa berjumpa dengan Pemilik Langit agar seluruh pelajaran pemikiran itu menjadi final…

    Wasalam

  • Abu Little Cak Hut

    Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu………..

    ya…semenjak saya mengenal ayat ini setahun yang lalu saya seperti baru kenal diri sendiri…ternyata “sejatining manungso” sangat dalam sekali…

    Alhamdulillah….
    Maturnuwun ya Alloh…Engkau telah menuntunku mengenal Guru yg mengajarkan ayat di atas…..

    Salam….
    saya yg baru belajar….

  • ajak-ajak

    Ya Allah,,,
    terima kasih sudah berkenan menerima hamba di ArsyMu.
    Mohon dimudahkan agar hamba dapat kesana lagi secepatnya dan sesering yang Engkau izinkan.
    Tak kan pernah puas dalam memandang Mu.
    Tak kan ada letih saat bersujud di kakiMu.
    Tak kan singgah bosan kala bermesra dengan senyumMu
    Tak kan ternilai lembut elus-belaiMu pada pundakku.

    Kangen,,,

Tinggalkan Balasan ke Rindu DamaiBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca