SHALAT KHUSYUK SALAH KAPRAH
Pertanyaan yang sering sekali ditanyakan oleh pengunjung sufimuda kepada saya lewat email adalah bagaimana shalat bisa menjadi khusyuk, apakah kita bisa melaksanakan shalat khusyuk dan ada juga yang berpendapat bahwa hanya nabi Muhammad SAW berserta sahabat-sahabatnya dan ulama salafush shalih saja yang benar-benar bisa melaksanakan shalat dengan khusyuk selain dari mereka tidak ada yang bisa melaksanakan shalat khusyuk.
Terhadap pendapat terakhir saya kurang setuju karena kalau memang cuma Nabi dan para sahabat yang bisa shalat khusyuk maka hampir semua orang dimuka bumi ini akan masuk neraka wail, dengan demikian fungsi Al-Qur’an dan hadist sia-sia, juga peran ulama sebagai penyambung dakwah dan sebagai pewaris ilmu nabi juga tidak akan berguna sama sekali.
Khusyuk menurut Guru Ngaji Saya
Saya masih ingat ketika masih kelas 1 SMP waktu itu masih berumur 12 tahun, saya diajarkan cara shalat khusyuk oleh guru ngaji. Beliau mengatakan untuk bisa mencapai shalat khusyuk kita harus mengetahui makna dari ayat-ayat yang dibaca dalam shalat, kemudian harus kita hayati dalam hati. Antara ucapan dan gerak badan harus selaras, mengucapkan harus benar-benar masuk kedalam hati bukan hanya di bibir saja. Kemudian Beliau memberikan tanda-tanda shalat kita itu sudah khusyuk. Ketika mata kita menatap ke sajadah perhatikan dalam-dalam, nanti akan ada bayangan bulat samara-samar, saat itulah shalat kita menjadi khusyuk.
Saya meyakini apa yang diajarkan oleh guru ngaji saya, saat muncul bayangan bulat itu saya sangat senang karena saya yakin sekali kalau shalat saya sudah mencapai tahap khusyuk dan ketika bayangan itu tidak muncul maka saya jadi sedih. Saya yakin sekali apa yang diajarkan oleh guru ngaji, karena beliau adalah alumni salah satu pasantren terkenal di daerah saya.
Metode shalat khusyuk yang disampaikan oleh ustad saya itu tidak ada bedanya dengan metode pelatihan shalat khusyuk yang disampaikan oleh ustad Abu Sangkan. Setiap sore saya menyempatkan diri untuk menonton acara di Metro TV tentang pelatihan shalat khusyuk yang dibawakan oleh ustad Abu Sangkan.
Seperti juga guru ngaji saya dulu, Abu Sangkan berkeyakinan bahwa shalat khusyuk itu identik dengan ketenangan dan hilangnya kesadaran. Abu Sangkan mengatakan bahwa ketika bertakbiratul ihram kita harus membuang ingatan kita terhadap apapun. “Tidak ada Guru Mursyid, tidak ada Syekh Tarikat dan tidak ada zikir yang ada hanyalah Allah semata-mata”. Persis sekali yang diajarkan oleh guru ngaji saya, cuma Abu sangkan menyampaikannya lebih lengkap disertai dengan kajian-kajian ilmiah. Apa memang demikian shalat khusyuk?
Shalat khusyuk bukanlah mengosongkan pikiran seperti dalam meditasi yoga, karena kalau kita memaksakan pikiran untuk kosong pada saat itulah timbul nafsu kita dan syetan sangat halus dan sangat lihai untuk menyusup di alam bawah sadar kita. Sama juga orang yang mencapai shalat khusyuk lewat alat-alat elektronik, mendengarkan lagu yang dibuat khusus agar kerja otak menjadi berimbang antara kiri dan kanan. Cara seperti ini memang akan mencapai ketenangan akan tetapi kita juga harus pertanyakan lagi apakah memang ketenangan seperti itu yang dinamakan khusyuk, dan apakah memang demikian yang dikehendaki oleh Allah SWT?
Khusyuk di atas dengan berbagai jenis pelatihan bagaimanapun masih pada tataran akal dan kita merasa khusyuk menurut sendiri. Ustad Abu Sangkan menulis buku dengan judul “Spiritual Salah Kaprah” untuk mengkritik ESQ, pelatihan lewat musik untuk menstimulasi otak yang bersifat instant dan kita tidak pernah bisa mencapai kesempurnaan spiritual yang dilakukan oleh kaum sufi, demikian pendapat Abu Sangkan.
Menurut saya pelatihan shalat khusyuk yang diperkenalkan oleh Abu Sangkan juga masih dalam tataran otak dan pemikiran, karena menafikan sama sekali fungsi Mursyid dan sudah pasti yang di dapat bukan Nur Allah akan tetapi ketenangan yang tidak tahu berasal dari unsur apa. Berbicara masalah rasa (tenang, damai, dll) itu masih bersifat sangat subjektif. Maka saya menyebutkan pelatihan khusyuk ala Abu Sangkan sebagai Shalat Khusyuk Salah Kaprah.
Khusyuk Menurut Sufi
Menurut golongan sufi, khusyuk itu bukan tidak mengingat sesuatu, akan tetapi seseorang dikatakan khusyuk apabila dia terus menerus bisa memandang wajah Allah SWT. Kalau kita ingin menghilangkan pikiran terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan bukan berarti kita mengosongkan pikiran sama sekali karena di dunia ini tidak ada yang kosong. Setiap yang kosong itu mesti di isi oleh dua unsur; Haq atau Bathil.
Shalat khusyuk adalah kondisi dimana sang hamba bisa berdialog dengan Tuhannya di alam rabbani, maka disebutkan “Shalat itu adalah Mi’raj bagi orang mukmin”. Pada saat shalat maka rohani kita akan terangkat ke Alam Rabbani, alam yang ada hanya Allah SWT.
Mengingat wajah Muryid dalam shalat bagi seorang pemula jauh lebih terbimbing sebelum seseorang mencapai maqam makrifat dari pada mengosongkan fikiran yang justru sangat mudah disusupi oleh syetan tanpa kita sadari. Wajah Guru Mursyid yang kamil mukamil dan khalis mukhlisin tidak akan bisa ditiru oleh syetan dan kalau ada syetan yang mencoba meniru wajah Mursyid akan langsung terbakar. Jangankan Guru Mursyid, photonya saja tidak akan bisa didekati oleh jin dan sejenisnya termasuk para dukun yang menyembah jin. Kalau seorang Guru Muryid belum mencapai tahap itu berarti kadar dan keotentikan kemursyidannya perlu dipertanyakan lagi.
Kunci pertama untuk bisa mencapai shalat khusyuk adalah Makrifatulllah, mengetahui hakikat Allah sehingga selalu bisa berdialog dalam shalat. Tanpa mencapai tahap makrifat bagaimanapun canggihnya pelatihan shalat tidak akan mencapai shalat khusyuk yang sesungguhnya karena dalam hati masih bersemayang dan berbisik-bisik syetan yang sangat berbahaya seperti yang disebutkan dalam surat An-Naas.
Bagi pengamal Tarikat, bermakrifat kepada mursyid merupakan awal dari tercapainya shalat khusyuk karena sesungguhnya makrifat kepada Mursyid adalah awal dari makrifat kepada Allah. Daripada anda mengeluarkan biaya yang banyak untuk pelatihan shalat khusyuk dan belum tentu mencapai alam Tuhan lebih baik anda berbaiat kepada salah seorang Guru Muryid yang akan membimbing anda kehadirat Allah SWT. Pelatihan shalat khusyuk mungkin diperlukan oleh orang-orang yang tidak menekuni Tarikatullah agar shalatnya lebih tenang. Pelatihan ini tidak diperlukan sama sekali bagi orang yang telah mempunyai Guru Mursyid apalagi yang telah mencapai tahap makrifat. Apabila anda telah bermakrifat (berjumpa) dengan Allah SWT masih perlukah anda berlatih shalat khusyuk?
Berlatih sopan santun tata cara menghadap Raja hanya diperlukan bagi orang yang akan berjumpa dengan Raja, pelatihan itu tidak diperlukan lagi bagi orang yang telah duduk bercengkerama bersama Raja, karena segala aturan terserah kepada Raja. Mengatur tutur kata berbicara dengan Raja diperlukan oleh orang yang akan menjumpai raja dan tidak akan diperlukan oleh orang yang berulangkali berjumpa dengan raja, karena segala dialog itu terserah kepada kehendak Raja.
Semoga Maharaja Manusia akan selalu memberikan kita kesempatan kepada kita untuk terus bisa singgah di istana-Nya, menikmati perjamuan-Nya dan bisa melayani tamu-Nya. Amien ya Rabbal ‘Alamin
412 Comments
yudistira
bang jablai_wex…………………… emang ada ya dugem dialam tuhan??
mau tuch…………..
heeeeeeeeee
Kurt
Khusu itu kok sepertinya tidak bisa diajarkan yah. Ia semakan ilmu yang dihujamkan ke dalam hati manusia langsung dari Allah swt.
Kalimat Ihdinassirotol mustaqim adalah sarananya, Allah yang memberikannya … 😀
btw, Abu Sangkan itu bagus juga diajarkankepada orang2 yang memang sulit sholat .. cocok seklai buat orang2 yang sibuk sekali. kans ekarang yang instan itu yanglaku.. :
salam kenal
Dono.
Ass.wr.wb,
Saya hampir sering digoda pada saat sholat,kadang-kadang saya lihat ditikar sholat syeitan sedang berbuat sodomie atau lesbis dan makhluk-makhluk yg sangat kotor untuk mengganggu khusyuknya sholat tetapi saya tetap tersenyum sambil tertawa dalam hati, beginilah rupanya syeitan jenis ikan teri mengganggu sholatnya keturunan adam dan hawa.
Semoga bermanfaat.
Wassalam,Dono.
awe
Aslamkum…
Menarik sekali artikelnya Bang Sufimuda…. banyak orang yang sholat mencari kekhusukan dan bahkan sampai membuat pelatihan dan atau pengajian sholat khusuk… akan tetapi tak tau apakah itu sebuah kekhusyukan…. (sebuah pertanyaan yang belum bisa di jawab melalui pelatihan dan pengajian singkat ataupun private… )
akan tetapi sholat itu mempunyai metode yang sangat benar yang telah di ajarkan oleh para ulama-ulama tasawuf dari zaman ke zaman…
salam kenal jablai_wex… kalo di alam Tuhan tu bisa dugem… pasti orang sholat khusyuknya sambil dugem pada semua… :)… kalo Mas Yudistira mau ikut… saya juga bisa dong Nebeng… he..he..he… ikutan… kan enak juga sekali-sekali kita dugem.. apalagi dugem nya di alam Tuhan… ……..
…. ^__^ ….
arudi
apa susah deket ma ALLAH?????? penciptaku mohon petunjuk
fori
Subhanallah……!
semoga kita tambah semangat dan mengingat ajaran-ajaran yang mulia guru kita… amin1000x.
ini bukan menyalahkan sholatnya orang tapi menyelamatkan sholatnya orang biar gak salah kaprah tadi iyakan mas sufimuda????? sholat tegese (sholahe ilat).
tasya
buat arudi…
Abang sufi muda boleh bantu jawab ga bang buat arudi.
Semoga abang berkenan.
Susah ya deket sama Allah SWT.
ya susahlaaaaaaaaaaaaaaaaaah, kalo gampang itu bukan Allah Ta’alla dong…
Sebegitu banyak ayat2 di Al-Quran yang mewajibkan kita unduk mendekat (tapi yang seistilah Allah loh, jangan dekat seistilah masing-masing manusia atau banyak kepala, wah bisa-bisa malah mendekat sama iblis nanti).
Artinya mendekat seistilah Allah itu sulitnya minta ampun.
Tapi barang siapa yang bersungguh-sungguh dan yang diberi hidayah sama Allah ya ga terasa tiba-tiba bisa deket.
Nah, kalo yang gampang mendekat pastinya kita udah tau. Siapa itu? Ya iblislah. Iblis itu maunya dekeeeeeeeet terus ama kita…
Ga cuma deket ding, malah masuk2 lagi ke aliran darah dan sukanya berbisik-bisik di dada dan otak kita…
Hi serem.
Jadi berusahalah mendekat seistilah Allah, jangan seistilah kita masing-masing…
Kalo seistilah masing-masing jatuhnya cuma dapet debat.
Debaaaaaaaat mulu, keburu Allah-Nya tar pergi jauh deeh…
Tx, abang sufi muda, terima kasih sama semua pencerahan yang telah abang sharing sama kita semua ya bang…
sufimuda
makasih untuk semua udah kasih komentar
badai 40
satu lagi nih bang comment saya, metode shalat khusuk……
kan jadi ladang mata pencaharian.
bayangin aja berapa banyak diadakan pelatihan,
berapa biayanya….
khabarnya lagi ESQ mlah mau bangun gedung besar dan tinggi, ini smua jadi rezeki iya tohhh …..padahal sufi itu ndak perlu motivasi yang begituan…iya toh…
sekedar mengingatkan ” datangilah orang yang tidak meminta upah apapun darimu ” ini bukan ngajari pelit lo,ya
cuma biasanya Allah kasi para walinya ilmu gratis jadi pasti disebarkannya gratis juga, kalo sedeqah/? itu hal lain…iya toh…..kalo kita datang ke guru/wali ya…tetep pake ongkos sendiri….iya to…
Nurisah
Shalat khusyu dapat dilihat dari amal perbuatannya setelah shalat. Apakah shalatnya membekas dalam pandangan dan tindakannya ataukah tidak?
Tanda shalat bukan dilihat dari kening yang hitam.
Orang yang menjaga shalatnya adalah orang yang menjaga akhlaknya. Orang yang lalai dalam shalat adalah orang yang tidak menjaga akhlaknya.
Sufi wanita
Shalat khusyuk itu apa sich ……
Dan bagai mana?
Apakah sholat lima waktu ? dan sholat-sholat yang di luar lima waktu? , atau sholat yang tiada putus-putusnya.
Dari mata terbuka hingga mata tertutup
nelayan
khusu’ bukan hal yg sulit bagi siapa aja yg talah mengerti dan tahu untuk siapa sholat itu.
simple aja sih.
sholatlah seolah2 kalian melihat Allah,
apabila belum bisa maka yakinlah bahwa Allah melihat sholatmu.
sebelum sholat, anggaplah bahwa sholat yg kau lakukan itu adalah sholat terakhirmu. resapi semua bacaannya. lakukan gerakan dengan sempurna dan yang paling penting sebelum sholat yakni sempurnakan Wudlumu.
qolbu
sekedar masukan………..
kita mencari mursyd yang benar atas petunjuk siapa??????
ALLAH sajalah yang bisa menunjukan Mursyd yang benar …
kita diwajibkan berusaha saja….yang menunjukan Mursyd yg benar hanya ALLAH…..
berperasangka baiklah terhadap ALLAH…..
“Allah mengikuti prasangka hamba-Nya”
berserah diri hal terbaik pada Allah ……
berperasangka baiklah terhadap manusia….
sesungguhnya ALLAH melihat usaha hamba-hambanya……..
berdoa pada ALLAH dulu….baru cari MURSYD yg benar……
sy sendiri sedang cari MURSYD terus MAS……
tapi yakinkah itu MURSYD yg benar?????
tapi anda pasti tau itu ALLAH yang benar?????
yang membikin sesat bukan menemukan Mursyd mas tapi ALLAH……
YA ROHMAN Engkau maha berkehendak…
YA ROHIM Engkau maha segala2nya
o ya kalo soal abu sangkan sih sy mengingat baiknya saja,
siapa tahu uang hasil pelatihan dibuat untuk beribadah dan
membantu sesama…….(khusnundzon saja)..
berfikirlah jadi orang lain….jangan jadi diri sendiri….kenapa?
krn kita akan tau penderitaan orang lain…….
sufimuda
Qolbu…
Pertanyaan anda sama dengan pertanyaan: “Di dunia ini mana lebih dahulu ada, Telur atau Ayam?”
Mursyid yang benar hanya bisa di dapat dengan petunjuk Allah lewat mujahadah sementara Allah SWT hanya bisa di jumpai lewat bimbingan Wali-Nya yaitu Mursyid.
Untuk bisa yakin itu seorang mursyid tentu kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan hadist yang memberikan ciri-ciri seorang Mursyid yang benar….
Sudah pasti uang yang didapat oleh ustaz abu sangkan akan diberikan kepada jalan Allah karena beliau adalah seorang Murslim dan ustad, dan kita tidak mengurus keuangan abu sangkan.
Cuma bagi saya teknik shalat khusyuk Abu Sangkan itu salah kaprah di tinjau dari ilmu Tasawuf. Saya hanya mengkritik metode Abu sangkan bukan abu sangkannya.
Berpikir jadi orang lain itu perlu, namun jauh lebih perlu lagi kalau kita mengenal diri kita sendiri karena dengan mengenal diri maka akan mengenal Tuhan….
Para kiayi dari NU juga ada yang mengkritik metode Abu Sangkan, dan saya rasa semua orang punya hak untuk saling mengkritik dan itu wajar2 saja. Sebagai manusia Abu Sangkan juga tidak luput dari kekeliruan,
Saya berani mengkritik Abu Sangkan karena saya telah memakai metode yang lebih sempurna dari sekedar shalat
Salam
qolbu
Pertanyaan anda sama dengan pertanyaan: “Di dunia ini mana lebih dahulu ada, Telur atau Ayam?”
yang sy lihat ALLAH dulu yg menciptakan mas..
sy hanya kuatir mendewakan Mursyd….
ALLAH sendirilah yang menjadi MURSYD????
Karena Kehendak_NYA lah kita bisa sampai kepada -NYA
bukan kwantitas dan kualitas ibadah kita…..
agar kita tidak sombong dalam beribadah…..
krn ibadah dan ketaatan dan kekhusu’an ini dari Allah semata…
semoga anda mendapat ridho dari ALLAH
sebelumnya,
mohon maaf lahir batin
sufimuda
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi Akhir Zaman sebelum berjumpa dengan Allah SWT terlebih dahulu Beliau ber Guru kepada Jibril sebagai Mursyid yang membimbing Beliau kepada Allah SWT, sebagai wasilah antara Beliau dengan Allah SWT.
Ayat pertama turun kepada Nabi melalui perantaraan Jibril. Pada saat itu belum ada hadist qudsi (Firman Allah yang langsung kepada Nabi). Jadi setiap wahyu dari Allah SWT disampaikan kepada Nabi lewat jibril, kenapa mesti ada malaikat jibril? kenapa tidak langsung aja?.
Momen awalnya perjumpa Nabi SAW dengan Allah digambarkan dalam Al Qur’an adalah saat Isra’ Mi’raj menerima perintah shalat langsung dari Allah tanpa disertai Jibril.
Ini memberikan pelajaran kepada ummat-Nya bahwa untuk bisa mencapai Allah SWt itu mesti ada yang membimbing rohani. Beberapa hadist Nabi jelas sekali menganjurkan kepada kita untuk mencari orang yang telah sampai kepada-Nya untuk membimbing kita.
Kalau anda merasa langsung mencari Allah, bukankah anda akan lebih hebat dari nabi Muhammad?
Nabi Adam as diajarkan oleh Allah nama-nama benda disurga sehingga Beliau dengan ilmu yang dimilikinya menjadikan beliau sebagai makhluk yang utama di surga dan seluruh malaikat ber sujud (patuh) kepada Beliau.
Setelah Beliau turun ke dunia, maka kembali lagi Beliau belajar untuk bisa berhubungan dengan Allah dan Nur Muhammad merupakan wasilah Beliau kepada Tuhan. Dalam sejarah yang kita baca Nabi Adam mendapat perintah dari Tuhan lewat Jibril AS bukan langsung sebagaimana Beliau di surga.
Pada hakikatnya setelah sampai ke tahap Makrifat memang tidak ada lagi pembimbing rohani yang ada hanya Allah SWT dan saya sangat sepakat dengan anda, hanya Allah SWT aja dan kita berhubungan langsung dengan-Nya, akan tetapi itu kan melalui proses. Yang anda katakan bahwa Mursyid kita adalah Allah adalah benar dan itu bukan proses tapi hasil dari mujahadah kita atas rahmat dan karunia-Nya berkat bimbingan arwahul Muqadasah Rasulullah
Kalau definisi dibimbing oleh Allah SWT hanya dengan melaksanakan shalat dan ibadah-ibadah yang lain, lalau merasa sudah kenal Allah tanpa dibimbing oleh seorang Mursyid sebagaimana Rasulullah dibimbing oleh Jibril maka Allah yang akan kita jumpai adalah Allah Gaib alias Allah X, tidak akan pernah kita bisa menjumpai-Nya, tidak akan pernah kita bisa memandang wajah-Nya dalam shalat.
Merasa kenal Allah boleh2 aja, akan tetapi “merasa” dengan “kenal” itu kan beda…
Mas Qalbu….
Banyak orang yang berpendapat seperti anda, dan saya dulu sebelum belajar Thariqat juga berpendapat begitu, kita langsung menuju Allah tanpa ber wasilah. Setelah sekian lama baru saya tahu kalau pendapat saya itu keliru.
Ada satu pertanyaan yang mesti anda jawab untuk menemukan Tuhan:
Kalau anda ingin berjumpa dengan Allah,
apakah anda langsung berjumpa dengan Allah atau anda berjumpa terlebih dahulu dengan malaikat sebagai pegawainya?
Saya rasa pertanyaan itu harus dijawab terlebih dahulu barulah nanti akan menemukan jawaban selanjutnya, sebagaimana halnya kalau kita menghitung sesuatu mesti memakai rumus yang benar, kalau rumusnya awalnya salah maka berpuluh jam bahkan seumur hidup kita berhitung pasti hasilnya akan salah…
Saya juga mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin, semoga diskusi kita akan mendapat rahmat dan hidayah dari Allah SWT sebagai Zat Yang Memberi Petunjuk kepada seluruh manusia, amien..
mujahidahwanita
Assalamualaikum Wr,Wb
Salam
menurut pendapat saya berguru atau tidaknya itu sifatnya alternatif.
1. jika Allah berkehendak atas diri seseorang untuk
menemukan kebenaran sejati maka dia akan mendapatkannya walau tanpa seorang guru sekalipun dalam artian Allah sendiri yang membimbing dan menuntunya, karena tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. (bukankah pada setiap diri terdapat pancaran nur Muhammad?) tetapi hal demikian hanya tertentu kepada orang-orang yang di kehendaki menurut pandangan Allah
2. jika Allah berkehendak atas diri seseorang untuk menemukan kebenaran sejati melalui seorang penyampai yaitu guru/mursyid maka ia pun akan mendapatkannya
Dan menurut pandangan saya megenai “Di dunia ini mana lebih dahulu ada, Telur atau Ayam?” Nggak jadi soal yang mana terlebih dahulu telur/ayam , itu hanyalah sebab musabab saja t dak perlu di perdebatkan, yang perlu di ketahui mana yang terlebih dahulu adalah yang Maha Hidup di dalam diri Ayam dan telur itulah yang lebih dulu ada/ hidup.
Taqobbalallahuminna waminkum
Washiyamana washiyamakum
Minal ‘Aidin walpaidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin 1 Syawal 1429 H
Wassalam
mujahidahwanita
Jika benar Jibril adalah Mursyid/guru nabi Muhammad Saw mengapa waktu beliau mi’raj tidak bisa ikut serta?
Berarti lebih tinggi derajat jibril daripada nabi Muhammad Saw.
Sedangkan mahluk yang paling mulia, yang paling di kasihi dan dicintai Allah di seluruh sekalian alam adalah nabi Muhammad saw.
Dan mengapa beribadah harus memakai rumus , sedangkan kita beribadah tidak perlu di hitung-hitung apalagi sampai memakai rumus. apakah itu ibadah orang yang ikhlas?
imam mahdi
mohon maaf lahir batin mas….
thariqot adalah salah satu jalan untuk menuju Allah…..
sebelum malaikat jibril turun…..
Nabi muhammad mencari TUHAN dulu dengan menyepi di gua Hira…..
setelah sekian lama beliau menyepi barulah Allah menyuruh Jibril untuk memberi wahyu kpd Nabi Muhammad…..
saya sih sependapat dengan anda harus ada wasilah mas….
tapi saya yakin yang mencarikan wasilah bukan diri kita mas… tapi ALLAH
mungkin mas sdh memiliki wasilah lewat thoriqot…
sy sudah nanya mengenai thoriqot?????
mgkin kurang dalam….
tapi sy malah ketemu guru yg katanya JANDAB…..
beliau bilang yg penting kita berserah diri pd ALLAH…
dan beribadah secara Istiqomah……nanti akan tau sendiri……
watonist
@sufimuda
menurut sampeyan, “apakah setiap orang harus punya mursyid ??”
harus disini maksudnya saya, “kalau nggak punya ya berarti nyasar/sesat”.
sufimuda
Assalammu’alaikum
Saudari Mujahidah….
1. Setiap tempat memang terdapat Nur Muhammad karena pada hakikatnya Nur Muhammad itu meliputi seluruh alam. tetapi persoalannya tidak semua manusia bisa menangkap Nur tersebut. Disekitar kita itu terdapat berbagai macam gelombang radio/Televisi, tapi tidak semua orang bisa mendengarkan radio atau bisa menonton TV disebabkan dia tidak punya alat untuk menangkap gelombang. Kalau Allah menghendaki semua akan terjadi, tapi bukankah setiap yang terjadi itu berlaku menurut aturan yang dibuat oleh hukum-Nya sendiri. Untuk pintar ya harus belajar tidak serta merta Tuhan menjadikan seseorang mendadak langsung pinta demikian juga kaya harus melalu proses (hukum sunatullah).
2. Sebenarnya Saya tidak senang berdebat karena bagi saya segala sesuatu itu sudah final, cuma saya berusaha memberikan penjelasan kepada orang yang belum bisa memahaminya.
sufimuda
Saudari mujahidah…
Derajat Nabi dan Rasul itu lebih tinggi dari Malaikat….
Kalau anda di SD yang menjadi guru anda itu adalah seseorang yang tamat D1, artinya dia lebih tinggi dari anda tapi setelah anda kuliah minimal yang menjadi guru anda adalah S1.
Saya berikan perumpamaan sebagai berikut :
bahwa Jibril itu pendidikannya S2 sedangkan seorang Rasul itu adalah S3. Seorang Rasul kan tidak langsung menjadi Rasul, harus melewati tahapan-tahapan. Ketika pendidikan seorang rasul masih di S1 sangat cocok Jibril (S2) membimbingnya akan tetapi ketika sudah memasuki pendidikan S3 maka yang menjadi gurunya adalah seorang profesor yang tingkatan lebih tinggi.
Yang menjadi Guru dari Nabi Muhammad SAW itu selanjutnya adalah Allah SWT karena Beliau sudah sampai ke tahap makrifat.
Ibadah tidak memakai rumus dan tidak mennghitung-hitung?
Yang tidak boleh dihitung itu berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan, kalau rumusnya mesti ada donk.
Rukun shalat itu 13, kalau tidak memakai rumus itu kan salah, misal orang menambah jadi 17, kan jadi kacau.
Rukun Islam 5, kalau nambah jadi 6 jadi sesat.
Sebenarnya yang saya maksud rumus disitu bukan sesuatu yang bersifat eksakta (hitungan). Pengertian Rumus yang saya maksud adalah seseorang harus menggunakan RUMUS (Metode/Ilmu yang tapat/pembimbing yang jelas) agar dalam menuntut ilmu itu tidak tersesat dan salah arah.
Mas Imam Mahdi…
Mudah2an kita semua diberi kekuatan untuk terus menempuh jalan-Nya
sufimuda
Mas watonis…
Dalam Surat Al-Kahfi 17 Allah ber firman :
“Barang siapa yang diberi PETUNJUK oleh Allah, maka dialah yang mendapat PETUNJUK. Dan Barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka baginya tidak akan mendapatkan seorang WALI MURSYID”
watonist
@sufimuda
ok … saya paham, terima kasih.
jadi kuncinya ada pada Allah, dan memang beitu seharusnya.
ash shiddiq
assalammualaikum
Bismillahir Rohmanir Rohim
Alhamdulillahir Robbil ‘Alamiin
Washolatu wassalammu ala sayidina Muhammad Rosulullah SAW katsiron
Terima kasih untuk penjesan saudara2 sekalian.
saya sependapat dengan saudara2 sekalian..
tujuan kita solat adalah untuk mengingat Allah, solat juga dikatakan mi’raj nya kaum muslim, kalo saya mengartikan khusyu nya solat adalah: mengetahui siapa yg kita sembah, dan berusaha mengerti arti dari bacaan2 solat tersebut, sampai kita menikmati dan menghayati gerakan2 solat tersebut..
untuk tingkatan kita sangatlah sulit untuk mencapai kekhusyuan yg hakiki, (tidak lepas kemungkinan kita bisa mencapai maqom khusyu) metode yg saya ketahui untuk mencapai atau mendekati kekhusyuan adalah, setelah kita bertakbiratul ikhrom setidaknya kita harus menghadirkan lafaz Allah dalam pandangan kita, (ini untuk motivasi kita, bahwa ada dzat yg kita sembah) itu juga sulit kita jaga walaupun hanya 1 rokaat saja. (kecuali para nabi2, rosul2 wali2 Allah dan siapa saja yg dikehendakinya)
metode itu hanyalah untuk memberi kesan bahwa solat kita adalah hanya untuk Allah. dan wujudkan akhlak kita dengan bekas solat itu.
disetiap rokaat kita membaca (ihdinash Shirothol Mustaqiim) pasti Allah akan menunjukan jalan kepada kita, khususnya dalam pembahasan ini. dari ayat tersebut sudah terbukti bahwa Allah menunjukan kepada kita melalui blog ini,
kalo kita ga mendapat petunjuk, ga mungkin kita mau meluangkan waktu untuk membaca apalagi memposting pendapat kita..
Allah selalu memberi petunjuk kepada hambanya yg meminta, tetapi maukah hambanya itu mengikuti petunjuknya?
saya sangatlah setuju bahwa kita membutuhkan guru spritual (Mursyid kamil mukamil) untuk membimbing kita mencapai kehadirat Allah, kenapa? mungkin pada awalnya kita beribadah semata2 ikhlas untuk Allah..
contoh dalam hal berdzikir, disaat orang berdzikir dan mencapai titik fana atau dibawah kesadaran (bisa juga dalam keadaan sadar dan setengah sadar), akan ada sesuatu yg gaib datang menyapa dia, atau (membisikan atau menampakan diri) sungguh beruntung kalau yg hadir itu Malaikat Allah Ataupun Wali Allah, tetapi sangat dikuatirkan kalau yang hadir itu adalah dari golongan jin (karena jin suka kepada orang2 beribadah, jin itu akan menawarkan diri untuk membantu orang tersebut dalam keduniaannya dengan syarat pahala ibadah orang itu untuknya tanpa ada janji sekalipun) akhirnya, orang itu bisa tertipu oleh jin. yang tadinya orang itu niatnya lillahi ta’ala akan berubah mencari keduniaan (kekayaan, kekuatan, kekuasaan)
untuk itu perlunya mursyid dalam membimbing kita menuju kehadirat ilahi, karena Mursyid itu akan memberitahu kita jika ada sesuatu yg menghalangi kita menuju jalan ilahi
pasti saudara berkata, koq kenapa butuh mursyid sih? bukankah cukup Allah Pelindung kita??? kan kita berdzikir dalam keadaan ingat kepada Allah, kenapa Allah membiarkan kita, jika ada yg menghalangi kita menuju jalannya??? kenapa Allah tidak mengirim malaikatnya untuk memberitahu kita???sekali lagi kenapa harus butuh Mursyid? seakan- akan kita mendewakannya..
benar, Allah al Hafizh, al Hadi, al Alim..
tetapi Allah akan menguji keikhlasan kita, menguji niat kita, dan memberi kita pilihan..
dari pertanyaan diatas saya akan berusaha menjawab,
Q> KENAPA KITA BUTUH MURSYID?
A> Karena Mursyid yang akan membimbing kita jika ada sesuatu hal (Ghaib) yg menghalangi kita.
Q> BUKANKAH KITA SEDANG BERDZIKIR DAN SEDANG MENGINGAT ALLAH, KENAPA ALLAH MEMBIARKAN KITA, JIKA ADA SESUATU HAL YANG MENGHALANGI KITA?
A> Karena Allah memberi kita Pilihan,
fa al ha maha fujuuroha wa taqwaa haa, qod af laha man zak kaahaa, waqod khoo ba man das saahaa..
“Maka akan (Allah) ilhamkan dua perkara (jalan) mana yang buruk dan mana yang baik, sungguh beruntung orang yang mensucikan hatinya, dan merugi orang yang mengotorkannya.” (asy syamsy 8-10)
Jika kita tidak mempunyai Mursyid, mungkin kita akan tertipu oleh sesuatu hal yang Gaib yang mendatangi kita, bisa saja yg datang mengaku Zibril as atau malaikat2 lainya, atau juga mengaku Wali Allah yg diutus untuk membantu kita,
tugas seorang muryid adalah, membimbing dan melindungi kita dari sesuatu hal yang menghalangi kita dalam menuju hadirat ilahia.. Mursyid akan memberitahu secara zhohir maupun bathin tentang suatu keadaan yang kita tidak ketahui jika dalam dzikir kita terdapat sesuatu peristiwa yang membuat kita terfana. Mursyid akan melindungi kita dari gangguan sesuatu yang negatif dengan seijin Allah. maupun suatu tawaran2 yang membuat kita terlena (kesaktian, kekayaan, kekuasaan, kehormatan)
Allah hanya lah memberi kebebasan kepada kita untuk memilih jalan tersebut… jin juga makhluk Allah yang diperintahkan untuk beribadah kepada Allah, jin juga berlomba dalam mencari pahala, jin sangat suka jika ada manusia minta pertolongan kepada nya (jin) karena dia akan mendapatkan pahala dari orang beribadah tersebut, dan orang tersebut hanya mendapatkan dunianya saja, karena pahala akhiratnya sudah di lemparkan kepada jin yang membantu orang tersebut. (belum lagi pertanggung jawabannya yang minta pertolongan selain kepada Allah.)
jika jin berbuat kebaikan maka dia akan diganjar 1kebaikan, kalau manusia berbuat kebaikan maka akan diganjar berlipat2 sekehendak Allah, maka nya jin seneng membantu orang yang meminta pertolongan kepada nya, agar dia bisa mendapatkan pahala yang lebih banyak lagi
kalau kita minta bimbingan atau pertolongan kepada mursyid, itu emang dianjurkan, “saling nasehat menasehati lah kalian dengan kebenaran dan kesabaran”
“saling toong menolonglah kalian dalam berbuat kebaikan”
Mursyid juga pasti sebelumnya mempunyai mursyid lagi sampai ke Rosulullah SAW
Mursyid yang saya maksudkan disini adalah guru spiritual
yang sudah ma’rifatullah dalam arti (kamil mukamil) yang bisa mengantarkan kita menuju hadirat ilahi (ma’rifatullah)
Ma’rifatullah saya perumpamakan dengan mencari jalan dari sebuah alamat (tempat) misal, tujuan kita ke kalibata (karena rumah saya disitu hehehe) posisi kita ada di pasar minggu, kita cuma tau alamatnya saja, tetapi kita tidak tahu jalan menuju kalibata, kebetulan kita menjumpai orang yang pernah kekalibata, maka sepantasnya kita bertanya kepada orang itu dimana jalan menuju kalibata.
kalau kita tidak bertanya, kemungkinan besar kita akan tersesat atau sampai ditempat tujuan dalam waktu yang relatif lama, seharusnya kita dapat menempuh 15menit, malah menjadi 1 jam bahkan lebih.
itulah perumpamaan bahwa kita membutuhkan orang yg sudah ma’rifatullah, untuk membimbing kita, agar kita bisa mencapai ma’rifatullah juga. jadi kita bukan mendewakan seorang syekh atau Mursyid dalam membantu kita, dan sudah sepantasnya kita patut menghormati dan mencintai orang yang akan membantu kita. (semoga Allah mempertemukan kita kepada kekasihnya yang soleh (Waliullah) untuk membimbing kita menuju hadiratNya..)
Q> KENAPA ALLAH TIDAK MENGIRIMKAN MALAIKATNYA UNTUK MEMBANTU KITA.???
A> Kita ini orang Awam, kita cuma mendengar kata malaikat doang, kita belum pernah melihatnya, mata kita penuh dosa, maka nya mata kita masih terhijab, kita belum tahu malaikat seperti apa? cuma mendengar ciri2nya saja, mata kita masih bisa tertipu oleh sesuatu hal2 yang gaib, berapa banyak orang yang mengaku didatangi malaikat dan mendapat perintah suruh ini lah itu lah, ngaku mendapat wahyu, (ingat wahyu itu hanya untuk Nabi dan Rosul) berapa banyak orang yang tersesat karena tertipu oleh bisikan2??? berapa banyak orang yg awalnya lillahi ta’ala akhirnya mencari kesaktian, kekayaan, dsb??? (jika Allah Sudah mencintai Hambanya maka Allah akan menjadi mata nya untuk melihat, telinganya untuk mendengar, lisan nya untuk berkata, kaki nya untuk melangkah) jadi kita ga usah mengharapkan kesaktian atau mengharapkan hal2 yang aneh, luruskan niat kita hanya mencapai hadiratnya, mendapat ridhonya, melihat wajahnya (kekuasaan / kerajaannya) nanti Allah sendiri yang akan menganugerahi kita sesuatu hal yang belum kita ketahui, Para Waliullah yang sudah kamil mukamil akan mendapatkan Karomah, Maka nya Waliullah mampu membedakan mana jin, mana malaikat, mana ruhaniah para wali wali yang lain..
sekali lagi itulah pentingnya Mursyid, benar apa yang disabdakan Rosulullah SAW : “seseorang tanpa pembimbing, maka pembimbingnya adalah syetan”
itulah pendapat saya tentang kekhusyuan solat dan tentang perlunya pembimbing spiritual (Murysid)
akhir kata saya memohon maaf jika ada kata2 saya yang kurang berminat..
Yaa Allah bimbinglah Kami Menuju Cahaya Ilahia Mu
Perkenankanlah Kami untuk dapat berjumpa dengan para kekasihmu yang dapat membimbing kami menuju ke hadirat Mu
TaqobbAllahu Minna Wa Minkum Taqobbal Yaa Kariim
Minal A’idin Wal fa idzin… Mohon Maaf Lahir Batin
Selamat Idul Fitri 1429 H.
Wassallamualaikum
ash shiddiq
mohon maaf jika keasyikan menulis, bukan bermaksud menggurui tetapi sekedar sharing aja
terima kasih untuk Sufimuda, Qolbu, pengembara jiwa, dan semua yang sharing disini
semoga pendapat2 kita untuk memotivasi kita dalam penghambaan kepada Allah, bukan untuk mencari kemenangan dalam beragumen
karena tujuan kita adalah sama, yaitu mencari Ridho Allah
black mau
ketika kita membahas shalat maka kita akan berkutat pada metode dan dasar pembenaran dari setiap teori kita maka saya sarankan kita kembali untuk mengenal dasar – dasar yang ada pada alquran dan sunnah tentang shalat, saya menemukan beberapa konsep dasar tentang shalat :
1. Shallu kama ra’aitumuuni ushalli (shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat) ini artinya secara perbuatan kita harus meniru cara yang dilakukan oleh nabi secara fi’liah (perbuatan)
2. Aqimusshalatu li zikri (dirkanlah shalat untuk mengingatku) disini inti dari ajaran halat itu adalah berzikir dan mengingat allah sehingga jika kita shalat tanpa mengingat allah namun dengan metode mengosongkan fikiran maka keluar dari konsep alquran, namun yang jadi pertanyaan jika mengingat ALLAH apanya yang harus kita ingat? saya ingin mencontohkan ketika kita disuruh mengingat PAK ANU yang belum kita kenal dan belum pernah kita jumpai apa bisa? tentu kita akan menggambarkannya dengan orang lain, demikian juga dengan ALLAh sebelum kita bisa mengingatnya maka kita harus mengenalnya paling tidak ada orang yang menceritakan ciri cirinya sehingga ketika berjumpa kita langsung dapat mengenalinya, pelajaran ini hanya bisa di dapati di dalam ilmu tasawuf/ tariqat (fasalu ahlazzikri in kuntum la taklamuuna=tanyalah ahli zikir jika kamu tak tau)..
2. innashalata tanha anil fahsai walmunkar, shalat akan mencegah anda berbuat keji dan mungkar, bagaimana anda bisa berbuat mungkar sementar setiap detik dari umur anda anda ingat ALLAH artinya anda berada terus di dalam keadaan seperti anda shalat digambarkan di dalam alquran (allazinahum fi shalatihim daimuum= mereka orang yang kekal di dalam shalatnya).. semoga menjadi penambah wawasan wallahu a’lam …
Gozali
Ass, Wr, Wb.
Untuk : Ananda Qolbu, Sufi Muda, dan Watonist.
Setelah Saya perhatikan dan saya simak apa-apa yang ananda2 utarakan sepertinya masih belum ada kecocokan dari segi Pengetahuan tentang Ma’rifat, apakah Mutlak harus melalui Guru atau kah tidak!
Setelah saya lalui liku-liku di jalan Ma’rifat kurang lebih selama 15 tahun lamanya…., akhirnya saya menemukan jawaban dari segala Rahasia tentang Hakikat Kehidupan dalam Ma’rifat yang sempurna bahwa :
Sangat penting sekali seseorang itu dalam tahapan awal pencariannya untuk menuju kepada Allah Swt menemukan seorang Guru yang Kamil atau lebih baik lagi Guru yang Kamil Mukamil untuk membimbing Ruhaninya menuju kepada Kebenaran Allah Swt.
Tanpa melalui seorang Guru, maka darimana kah bisa di dapatkan Ilmu?
Memang benar! Apabila seseorang itu beramal ibadah apapun dengan ikhlas, sabar, tawakkal, dan ridho merekapun akan mendapatkan ma’rifat. Akan tetapi Ma’rifat itu tidak langsung turun begitu saja melainkan karena keikhlasan kesabaran ketawakalan dan ridhonya kepada Allahlah yang membuat Allah memandang serta memperhatikannya lalu Allah melalui sir hatinya dan sir calon gurunya akan mempertemukan mereka berdua. Yang kemudian melalui seorang Guru itulah ia kan mendapatkan bimbingan dan tuntunan untuk mendapatkan Anugrah Allah berupa Ma’rifat dengan Qudrat Iradat Allah Swt Semata.
Sampai berapa lamanya ia menuntut ilmu itu tergantung kemurahan Allah Swt.
Yang jelas, setelah Allah berkehendak untuk mendekatkan diri si penuntut tadi untuk lebih dekat lagi kepada-Nya, maka Allah akan memutuskan Hubungan batinnya dengan Gurunya tadi dan diperkenalkan dengan Guru yang sejati yaitu Allah Swt sendiri yang menyata kepada Nur Muhammad Saw. Lalu belajarlah ia semata2 kepada Allah Swt secara Batinnya akan tetapi Lahiriahnya tetap ada ikatan kepada Gurunya yang pertama tadi dengan ikatan tak ubahnya antara seorang Ayah dengan Anaknya.
Pada tahapan ini, ia tidak berwasilah kepada Guru pertamanya lagi melainkan langsung berhubungan dengan Tuhannya yang menjahir kepada Nur Muhammad Saw sebagai Guru Sejatinya. Akan tetapi ia tetap hormat dan cinta kepada Guru pertamanya tadi sebagai penyampai “lisannya” Allah Swt.
Itulah sir ilmu di dalam jenjang untuk menuntut pengetahuan Ma’rifat tadi.
Adapaun yang dikhawatirkan oleh Ananda Qolbu tentang mendewakan Mursyid/Guru itu memang perlu diwaspadai dan mungkin Ananda Watonist juga beranggapan demikian.
Karena…. mengagungkan Mursyid terlalu berlebihan seolah2 Mursyid itu adalah segala2nya, tanpa di sadari itu akan menjadikan hijab bagi dirinya kepada tujuan utamanya yaitu Allah Swt.
Bukan salah menghormati dan mencintai serta mengagungkannya…., akan tetapi pandanglah bahwa Batin yang ada pada Mursyid itu ada suatu ikatan pada batinnya sendiri yaitu di ikat dalam “Nur Muhammad”, jika demikian Nur Muhammad itulah yang patut di agungkan dan dimuliakan melebihi siapapun termasuk dirinya sendiri. Bukankah si Mursyid pun pandangannya tertuju kepada Nur Muhammad juga?
Karena itu perlu adanya kesadaran dalam kesadaran sehingga Allah membukakan pintu Hijab pada Diri.
Adapun mengenai Muhammad itu berguru kepada Jibril sebagaimana yang disampaikan oleh Ananda Sufi Muda itu sudah sangat baik sekali sebagai pembuka paham bagi orang2 yang masih berada di tahap perjalanan ilmu.
Akan tetapi jika Sufi Muda pun masih berpaham dan berpengertian seperti itu, berarti saya katakan bahwa Ananda Sufi Muda harus lebih banyak belajar lagi dan belajar lagi semoga Allah membukakan akan RAHASIA “TENTANG HAKIKAT NUR MUHAMMAD SESUNGGUHNYA”.
Sebagai masukan :
setelah saya menyimak dari beberapa Blog yang ada di dunia Internet ini ternyata saya menemukan ada SAtu Blog yang mengarah kapada Ilmu yang sesuai dengan pemahaman Saya dan saya sangat suka sekali .
Jika Sufi Muda berada pada Jalan Ma’rifatullah
sedangkan Blog yang saya maksud; bukan lagi mengarah kepada Jalan Ma’rifatullah melainkan Lebur di dalam Ma’rifatullah
Simak dan perhatikan baik2 semoga Ananda semuanya mendapatkan Rahmat Allah Swt.
Blog yng saya maksud adalah :
http://www.pengembarajiwa.wordpress.com
Abu Madinah
Assalamu’alaikum wr wb!
Saya mengucapkan selamat hari raya dan mohon maaf lahir bathin kepada Sufi Muda yang bagi saya merupakan sufi tua yang sudah matang dalam ilmu hakikat makrifat, dan salam kenal untuk bapak Gozali
Uraian Bapak Gozali itu sudah banyak kita jumpai dalam kitab2 tasawuf dan saya pikir tidak ada yang istimewa, kebetulan saya telah 24 tahun memimpin sebuah pasantren di Banda Aceh dan telah pula belajar tasawuf sejak tahun 1969.
Saya telah mengunjungi http://www.pengembarajiwa.wordpress.com seperti saran Bapak Gozali, uraiannya sama dengan Bapak Gozali, semua diambil dari kitab2 lama dan terkadang membingungkan. (maaf, juga membosankan)
Bingung bukan karena orang tidak sampai ke tahap makrifat cuma pembahasannya masih berkutat masalah huruf2 arab dan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang. Kalau secara teori memang bagus tapi nampaknya kurang paham dalam praktek.
Sebenarnya kalau orang mau menelusuri dan membaca dengan serius tulisan-tulisan saudara Sufi Muda sangat dalam dan akan bertemu dengan hakikat Sejati cuam selesar manusia ini kan macam-macam.
Saya salut kepada sufi muda yang tidak pernah mau melepas ikatan dari Guru nya, selalu menyanjung gurunya sebagai lazimnya orang Tarekat, kebanyakan orang merasa sudah sampai ke tahap Nur Muhammad dan Guru seperti tidak berfungsi.
Dari beberapa Tulisan yang saya baca, Sufi Muda menurut saya telah sampai ke tahap makrifat dan memang sangat paham sekali tentang ilmu tersebut.
Murid yang benar adalah selalu punya kontak dengan Guru nya, dari wajah Guru nya lah terpancar wajah Allah dan saya pikir itu tauhid yang benar dari pada sekedar mereka-reka Nur Muhammad yang tidak jelas.
Sekedar pertanyaan untuk Bapak Gozali sebagai ikatan silaturahmi diantara kita, Bapak penganut Tarekat apa dan siapa Mursyid bapak, siapa tahu kita satu guru….
Wa’alaikum salam wr wb
mujahidahwanita
Masalah sholat khusyuk belum tuntas juga yach…….
sekarang ada komen terbaru megenai mursyid.
semoga Allah membukakan pintu hijabnya bagi kita agar menemukan kebenaran megenai mursyid.
Damai….yupss damai……..jangan pakai emosi, agar tali silahturahmi kita tidak terputus.
Salam
Rindu
shalat saya masih jauh dari khusu nih ….
Gozali
Assalamu’alaikum Wr, Wb
Bismillahirrohmainrrohiim
Ya Robbii…. bil Ikhlasi, Kholis Quluubanaa, Minasyirkii Wal Isyaaniii Haqqon Takhollashot.
Semoga Allah membimbing Nur-Nya kepada kita semuanya agar menemukan dan tetap pada jalan yang dilalui Para Pencinta Allah dan dicintai Allah yaitu “Shirotol Mustaqiim”
Alhamdulillah…….., dengan Qudrat dan Iradat-Nya yang menuntun akan Saudaraku Abu Madinah’ sehingga bisa bersama2 bermuzakarah untuk menemukan Kebenaran-kebenaran Allah Swt dalam Ilmu-Nya yang tiada batas.
Dan Terimakasih sekali atas segala masukkan2nya, yang sangat halus sekali bahasanya dan menunjukkan kepribadian Saudaraku tentu lebih Halus lagi dari pada apa yang disampaikannya apalagi dengan penglaman2 yang luar biasa sehingga mampu memimpin Pesantren 24 tahun lamanya ditambah telah menimba pengetahuan tentang Tasawuf sejak 1969.
Itu menunjukkan bahwa Ilmu/Pengetahuan Saudara Abu Madinah tentang Tasawuf jauh lebih matang daripada Saya yang “Fakiru ilallah”.
Karena saya temasuk orang yang Fakir sudah layak bagi saya untuk mencari kebenaran melalui orang2 yang lebih dulu berada dalam kebenaran itu. Dan jika saya belum lurus tolong diluruskan, dan saya anggap Anda “Abu Madinah” lebih mengerti tentang jalan yang lurus itu.
Mengenai “Sufi Muda” maupun “Pengembara Jiwa” atau Blog2 yang lain yang mengupas tentang tasawuf dimata saya semuanya baik dan mencerahkan, tinggal dari sudut mana kita memandangnya, karena satu dengan yang lainnya sudah pasti terdapat hikmah di dalamnya. Jadi tidak perlu bagi kita untuk menilai mana yang lebih baik dan benar, karena yang Maha Benar itu hanya lah Allah Swt. Dan bukankah sayapun tidak mengatakan ; Pengembara Jiwa lebih baik dari pada Sufi Muda akan tetapi saya hanya mengatakan apa yang tertulis di Pengembara Jiwa sesuai dengan pemahaman Saya.
======================================
Sebagai masukan :
setelah saya menyimak dari beberapa Blog yang ada di dunia Internet ini ternyata saya menemukan ada SAtu Blog yang mengarah kapada Ilmu yang sesuai dengan pemahaman Saya dan saya sangat suka sekali .
=======================================
Adapun mengenai :
=======================================
Jika Sufi Muda berada pada Jalan Ma’rifatullah
sedangkan Blog yang saya maksud; bukan lagi mengarah kepada Jalan Ma’rifatullah melainkan Lebur di dalam Ma’rifatullah
=======================================
hanyalah sebatas pandangan bahwa satu dengan yang lainnya saling isi mengisi tanpa ada maksud meninggikan satu dengan yang lainnya. Bukankah Hukum Allah berlaku dalam kehidupan ini ada kekurangan dan kelebihannya?, apabila yang satu ada kekurangannya maka yang lain menyempurnakannya begitu juga kebalikannya. Perlu untuk “digaris bawahi” tentang kata2 saya : “begitu juga kebalikannya”. Sehingga menunjukan bahwa itulah Indahnya Islam saling berbagi dan mengisi dalam kekurangan dan kelebihannya.
Dan menurut Anda :
======================================
Uraian Bapak Gozali itu sudah banyak kita jumpai dalam kitab2 tasawuf dan saya pikir tidak ada yang istimewa
======================================
Benar Apa yang Anda katakan, bahkan saya sendiripun tidak mengistimewakan diri saya begitu pula dalam pandangan saya semuanya tidak ada yang istimewa.
Bagi saya sama saja apakah ia para Nabi, Rosul, Wali2, Arifbillah, Mursyid, Murid semuanya sama tidak ada yang beda, karena semuanya La hawla Wala Quwwata……..
Yang Istimewa hanyalah “Pemilik Seru Sekalian Alam”, dan ini semua sudah ada di kitab2 Tasawuf yang anda katakan Kitab2 yang lama. Akan tetapi perlu untuk kita renungkan di kitab manapun itu tertulis semuanya tergantung pemahaman masing2 yang membacanya dari sudut mana ia memandang.
Menurut Anda :
==================================
Murid yang benar adalah selalu punya kontak dengan Guru nya, dari wajah Guru nya lah terpancar wajah Allah dan saya pikir itu tauhid yang benar dari pada sekedar mereka-reka Nur Muhammad yang tidak jelas.
==================================
Saya sangat setuju sekali, bahwa Murid yang benar selalu punya kontak dengan Gurunya begitupun yang saya alami. Saya tidak bisa melupakan dan melepas beegitu saja Guru saya, Karena Jasa2nyalah Ilmu yang ada pada diri bisa berkembang. Bagi Saya Guru tetaplah Guru sampai kapanpun, tidak ada yang dikatakan “Bekas Guru”. Tapi bukan berarti kita harus menyembah kepada Guru melainkan kita hanya diperintahkan untuk Ta’at, Patuh, Hormat, dan Cinta.
Guru kita di SD, ia tetaplah Guru kita walau sampai kapanpun karena melalui dirinyalah ilmu tersampaikan dan berkembang sampai sekarang.
==================================
DAri wajah Guru terpancar wajah Allah, dan Anda fikir itulah Tauhid yang benar!
==================================
Kalau untuk yang satu ini saya tidak sependapat,
Memang benar Guru yang Kamil Mukamil itu telah diliputi oleh Allah karena Ia Kenal dengan Allah dan mengetahui akan Sir Hakikat Allah, sehingga memandang dirinya tak ubahnya memandang Allah. Tetapi jika dikatakan itulah Tauhid yang benar berarti itu hanyalah Fikiran Anda Saja, (dan saya fikir itulah tauhid yang benar). Bukankah Fikiran itu gudangnya sangka sangka, andai-andai, reka-reka, bayang-bayang, lamunan dsb. Jika demikian Siapakah yang menyangka-nyangka atau yang me reka-reka?
Saya lebih memilih renungan dari pada fiikiran, bukan berarti saya tidak berfikir. Akan tetapi fikiran hanya mampu mendapatkan masukkan yang berupa riil/nyata yang ditangkap melalui Indra 5, yaitu mata, hidung, telinga dll.
Sedangkan Renungan lebih spesifik karena mampu memuat yang bersifat Halus yang tidak bisa ditangkap oleh Indra 5.
Bukankah Zat Allah tidak bisa di fikirkan….????
Sudahlah…… Kita tidak usah membahas tentang fikir maupun renungan..lebih jauh, karena itu soal persepsi masing2 dan saya sangat menghargai persepsi semua orang.
Cuma intinya yang saya tidak sependapat adalah Jika memandang wajah Guru berarti memandang Wajah Allah dan itulah TAuhid yang benar.
Bagi Saya Allah itu Maujud kepada tiap2 sesuatu, sehingga kemana saja kita memandang di situ lah wajah Allah.
Tentu Anda pun sudah memahaminya…….
Silaturrahmi harus tetap terjaga di antara kita semua karena itu lah makna dari pada Li ta’arofu sebagai cermin dari pada kasih Sayang Allah.
Mohon petunjuk dari Saudara Abu Madinah untuk saya karena Anda telah lama berada pada Lautan Ma’rifat sedangkan saya masih berada pada Pesisirnya saja
Tolong diluruskan apa yang sudh saya pahami selama ini jika menurut Anda saya salah jalan.
Yaitu :
1. Jika dikatakan kita makan, minum, berjalan, beribadah, beramal dll sedangkan kita La hawla Wala Quwwata….. Tetapi jika Allah yang dikatakan makan, minum, berjalan, beribadah, beramal dll sedangkan Allah Tidak bisa dipersamakan dengan Makhluk artinya bukan Allah yang makan, minum dll. Tetapi pada kenyataannya ada kelakuan2 tsb, lalu siapa yang makan, minum, berjalan…. dll itu, bagaimana menurut Anda?
2. Menurut Anda siapakah yang ada sebelum ada segala sesuatu, belum ada langit dan bumi, siang dan malam, dunia dan akhirat, surga dan neraka, halal dan haram…,semuanya…. juga manusia, jin, malaikat, Nur Muhammad pun belum ada, bahkan Tuhan pun belum ber JABATAN Tuhan sedangkan Nama ALLAH pun belum ada siapa yang ada? dan dimanakah IA ada?
3. Siapakah sebenar2nya Tuhan Seru sekalian Alam itu yang dikatakan oleh Nabi Muhammad kepada orang kafir bahwa Tuhan ku adalah Tuhan kalian yaitu “Pemilik Seru Sekalian Alam” akan tetapi Tuhan mu bukanlah Tuhanku karena Tuhan mu adalah benda2, patung2 dll.
Ini bukanlah pertanyaan yang menyinggung atau menguji akan tetapi ini adalah pertanyaan tentang Jawaban dari pertanyaan Anda kepada Saya…
Tarikat apa yang saya Anut/ikuti dan siapakah Mursyid Saya…
Jika Anda mengetahuinya maka saya tidak perlu menyampaikan apa tarikat saya dan siapa Mursyid Saya.
Akan tetapi Tarikat apapun yang ada di Dunia ini dan siapapun Mursyid dalam beberapa Tarikat itu Saya membenarkan semuanya.
Minal A’idin Wal Fa’idzin Mohon Ma’af Lahir dan Batin untuk semuanya yang ada disini. Khusunya Ananda “Sufi Muda” yang saya cintai dan Saudaraku “Abu Madinah” yang saya hormati dan muliakan.
Allah beserta kita di dalam Ma’rifat dan Zikir.
Wassalam
qolbu
mohon maaf
kenapa kita di ciptakan???(untuk beribadah)
kenapa kita harus melebur dalam Ma’rifatullah?
karena semuanya La hawla Wala Quwwata……..
Lalu apa arti Allah bertahta diatas Arasy????
kenapa harus ada Isro’ Mi’roj???(harus naik buroq)
rasanya sulit bagi saya hanya dengan menggunakan akal pikiran saja n olah kata2 yg bagus/????
setahu sy (kemampuan sy ) hanya bisa bersyukur dari apa yg telah diberikan-Nya….(baik maupun buruk)
mohon pencerahannya
wassalam
baciet
setiap sore sepulang kerja saya langsung mengganti chanel tv untuk mendengarkan ust. abu berceramah,, pada waktu episode sholat khusuk jg sy melihatnya.. tetapi hanya bbrp kali saja saya bisa sholat dgn khusuk,, dan pd wkt episode ttg berwudhu jg setelah berbuka puasa sy lgs mempraktikannya,, subhanallah.. air itu benar2 terasa dingin di tubuh saya dan saya merasa ini adalah wudhu saya yg paling sempurna..
thx ustadz.. walau pegetahuan yg anda berikan hny melalui tv tp subhanallah pengetahuan itu sangat berarti bagi saya…
once more thx for ustadz…
tanjabok
dirikanlah shalat…
dan ikhlas, terlepas apakah tuhanMu menerimanya…
terlepas memiliki guru atau tidak…
Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang ingin mendekatkan diri padaNya… sebagai jawabanNya, Dia akan memberikan Mursyid bagimu bila jiwa mu membutuhkannya, atau Dia akan memberikan pasangan-pasangan yang lain (kompetitor, istri, murid, kawan, dll) jika memang jiwa mu membutuhkannya, atau Dia akan memberikan kesendirian bagimu jika itu yang akan mendekatkan mu padaNya…
berjalan, berlari, sehasta, dua hasta…
dirikan lah shalat, dengan cara apapun, dengan metode apapun…
dan perhatikan sunnah dari Rasul jika petunjuk dari-nya telah datang untuk memperbaiki rukun dari ibadah… dan buka hati mu agar cahaya tuhanmu membimbingmu dalam shiratal mustaqim…
—
begitu pemahaman saya, salam kenal…
Rindu Damai
Saya sepakat dengan shalat khusuk yang disampaikan oleh sufi muda dan memang hanya bisa dicapai bagi orang yang telah benar-benar bermakrifat kepada Allah. Semua orang bisa sampai kepada makrifat asal lengkap rukun syaratnya.
Pembahasan seperti ini rasa nya sudah langka dan bagus sekali dijadikan bahan renungan bersama…
Kalau mengambil wudhuk terasa dingin seperti yang dikemukakan oleh Mas Baciet dan sudah dianggap sempurna, berarti sampai disitu aja pengetahuannya. Saya pikir tanpa mendengar ulasan dari abu sangkan pun kalau ngambil wudhuk pake air dingin otomatis dingin rasa nya 🙂
Bagusnya mas baciet mendalami salah satu Tharekat muktabarah, saya yakin pandangannya akan lebih tercerahkan.
Ya, permata dengan beling (pecahan kaca) itu serupa tapi sangat berbeda….
Satu berharga milyaran sedangkan satu lagi hanyalah sampah yang tidak punya nilai…
Mudah2an aja yang kita sangka permata itu benar2 permata bukan beling, kalau tidak tahu yang mana permata carilah orang yang ahli bidang permata.
Sekalian saya ucapkan maaf lahir bathin kepada semua.
Wasalam