Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

GANJA dan SUFI

Asmat, baru saja bertobat. Ia mulai menyadari masa lalunya dengan narkoba menyesatkan dirinya. Ketika mulai masuk dunia Sufi, Asmat justru kembali ke narkoba lagi.
“Kamu kok begitu sih Mat? ”tegur kawannya, Darwis.
“Saya lakukan eksperimen, siapa tahu saya berdzikir sambil mengganja, tambah uueeenak, melayang dzikirku…”
“Kamu memang sudah edan makan semir Mat…”
“Coba Wis, kamu coba. Nganja sambil dzikir pasti enak tenan…”
Darwis nggak habis pikir pandangan Asmat yang kontroversial ini.
“Kamu sudah ghurur Mat. Kamu terkena tipudaya…?”
“Bagaimana kamu bilang begitu. Kan banyak orang berdzikir yang dicari nikmatnya dzikir, bahkan kalau perlu bisa nangis-nangis segala…”
“Lhahadala…Itu to yang membuatmu begitu…”
“Jelaskan?”
“Dzikir itu tujuannya agar bertemu Allah, Musyahadah kepada Allah, hadir di depan Allah. Bukan mencari nikmatnya dzikir atau…. Bisa-bisa kamu melayang nggak karuan campur syetan nanti…”
“Campur syetan bagaimana Wis?”
“Kamu nge-ganja, pasti kamu mengkhayal. Sedangkan hatimu tidak ingin sama sekali bersenang-senang dengan kenikmatan khayalmu, hatimu hanya sedang mengingat Allah, bagaimana bisa nyampe pada Allah, kalau yang kau unggulkan, kau senangi selera nafsumu?”
Asmat bengong lagi….
“Sudah begini saja, teruskan nge-ganjamu. Apa kamu nanti bisa bertemu Allah atau bertemu syetan…Coba! Nanti kalau kamu dicabut nyawamu saat kamu nge-ganja sambil dzikir, kamu husnul khotimah apa su’ul khotimah, saya nggak mau ikut-ikut akh…”
Asmat lalu menyedot sekuat-kuatnya ganja yang di tangannya. Semakin lama ia mengkhayal semakin bergentar jantungnya, semakin gelisah dan gundah jiwanya. Diam-diam ia bisa membedakan mana hasrat nafsu dibalik ibadah, hasrat nafsu dengan kemanjaan dan khayalan, dan hasrat hati yang sesungguhnya.
“Wiisss…! Darwiiiiiiiisss! Kamu dimana Wis!…”
Asmat berteriak sekencang-kencangnya.
“Aku sejak tadi disini Mat. Di dekatmu….”
Asmat terkejut dan mulai menangis sesenggukan.

 

 

Sumber : http://www.sufinews.com

Single Post Navigation

9 thoughts on “GANJA dan SUFI

  1. Liman Ahabba Ayuhsyara Ma’al aulia

    Wayuidu alaina mim barokatihim wasrorihim wanwarihim wakaromatihim wa ulumihim fiddarain
    ya awlia Allah Aminu du’ a ana

  2. Nikmatnya dzikir gak terkira cuman gak sembarang dzikir.
    Harus ada pembimbingnya dong dan membekas di akhlak sanubari.

  3. sufimuda on said:

    setuju 🙂

  4. iya… setuju 🙂

  5. QA management on said:

    harus ada Mursyid pembimbingkah? 🙂

  6. Rindu Damai on said:

    ya dunk 😉

  7. Wakakakakakakakak gokil banget cerita nya. Wakakak. Tak segampang membalik daun kelor, dan cerita tersebut mengatakan di dalam air yang bersih bukan berarti air yang suci, namun pasti mengalir air yang suci

  8. Hmm, justru menurut gw gokil banget komentarnya karonk. Ga jelas ujung pangkalnya. Coba biasakan berfikir donk mas karonk. Jangan asal posting2 komentar aja.

  9. Jenggot on said:

    cerita diatas sebenarnya banyak kita jumpai di kehidupan bertarikat,ha,hi,hu,he,ho.ada yg air doa
    dicampur vodka dsb.Justru cerita diatas terkadang jadi Pr bagi para senior(yg dituakan) jangan sampai cerita cerita Seperti itu terulang kembali,tapi jadi seru juga sih ha,ha,ha biar pada kapok.Mohon ampun YA ALLAH, Mohon ampun Tuanku Guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: