Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

TASAWUF PERENNIAL, KEARIFAN KRITIS KAUM SUFI MENYIBAK HAKIKAT KEAGAMAAN

(Ahmad Risdianto,ST)

Pengantar

Perennial adalah kebijaksanaan abadi, hikmah abadi atau dapat disebut dengan hakikat abadi. Terma ini karena mengandung makna yang mengkerucut sebagai kebajikan yang banyak ingin dicapai oleh manusia, oleh agama, maka dia mengejawantah dan menjelma menjadi sebuah aliran yang banyak digeluti dan diminati oleh para pemikir. Karena digeluti oleh para pemikir yang tentunya punya kerangka dan metodologi tertentu yang logic, rasional, empiris maka terbawalah perennial ini menjadi berpadan dengan filsafat, karena filsafat sendiri adalah sebuah kerangka atau metodologi berfikir yang logis, sistematis, empiris dan radix, yang membicarakan sebuah persoalan secara radikal (sampai keakar) sebuah permasalahan.

 

Filsafat Perennial cenderung dipengaruhi oleh nuansa spiritual yang kental. Hal ini disebabkan oleh tema yang diusungnya, yaitu  “Hikmah keabadian” yang hanya bermakna dan mempunyai kekuatan ketika ianya dibicarakan oleh agama. Makanya tidak mengherankan baik di barat maupun Islam, bahwa lahirnya filsafat perennial adalah hasil    telaah kritis para filosof yang sufi (Mistis) dan sufi (mistis) yang filosof pada zamannya. Filsafat perennial telah ada sejak kemunculan agama, yang mengandung banyak sekali kebajikan.

 

Perennial lahir oleh  perpaduan antara Filsafat sebagai sebuah metodologi berfikir dengan mistisisme sebagai Spiritual Experience yang penuh hikmah dan ketersingkapan. Dalam Hikmah abadi,  yang dalam terminologi bahasa Arab disebut al-hikmah al-atiqah –, memberikan gambaran bahwa dimensi spiritual dalam agama adalah sesuatu yang sangat penting karena Spiritualitas yang berdimensi pada empati dan kasih sayang adalah jantung agama dan jantung agama adalah dimensi esoterik (qalb/batini) yang mencerminkan kasih sayang TUHAN, yang memungkinkan manusia meninggalkan sifat egoisme, kerakusan, kekerasan, dan ketidaksantunan. [i]

 

Aldous Huxley dalam bukunya The Perennial Philosophy menjelaskan bahwa yang pertama sekali menggunakan Frase “Perennial Philosophy” adalah Leibniz, walaupun pada hakikatnya telah ada sejak dulu kala. Berkat Huxleylah Filsafat Perennial menjadi terkenal di Barat. Tetapi, bagi Seyyed Hossen Nasr – yang juga seorang tokoh filsafat perennial-  sebagai sebuah mazhab filsafat dan mistisime, menjadi terkenal dan terus diperbincangkan sampai hari ini  dikalangan Barat dan Islam adalah berkat kerja keras para pionirnya yang disebut Seyyed sebagi the Master (Para Guru) yaitu Rene Guenon, Ananda Coomaraswamy dan Fritjof Schuon. [ii]

Tentang filsafat perenial atau Hikmah Abadi, Huxley menjelaskan: “Prinsip-prinsip dasar Hikmah Abadi dapat ditemukan diantara legenda dan mitos kuno yang berkembang dalam masyarakat primitif di seluruh penjuru dunia. Suatu versi dari Kesamaan Tertinggi dalam teologi-teologi, dulu dan kini, ini pertama kali ditulis lebih dari dua puluh lima abad yang lalu, dan sejak itu tema yang tak pernah bisa tuntas ini dibahas terus-menerus, dari sudut pandang setiap tradisi agama dan dalam semua bahasan utama Asia dan Eropa.”

Jadi, jelas, bahwa tema utama Hikmah Abadi adalah ‘hakikat esoterik’ yang abadi yang merupakan asas dan esensi segala sesuatu yang wujud dan yang terekspresikan dalam bentuk ‘hakikat-hakikat.[iii]

Hikmah abadi kalau kita telusuri secara mendalam akan berujung dan berpangkal pada Yang Maha Transenden dan IaNya adalah TUHAN. Disinilah segala Keabadian berawal  dan berpuncak karena segala keabadian adalah TUHAN itu sendiri. Pengetahuan ini hanya dapat diperoleh   melalui jalan spiritual sebagai ilmu yang utama diantara ilmu-ilmu lain. Seperti dikatakan Guenon bahwa ilmu yang utama sebenarnya adalah ilmu tentang spiritual. Ilmu yang lain harus dicapai juga, namun ia hanya akan bermakna dan bermanfaat jika dikaitkan dengan ilmu spiritual. Menurut Guénon, substansi dari ilmu spiritual bersumber dari supranatural dan transenden (TUHAN).[iv]

Nurcholish Madjid mengatakan bahwa manusia menurut fitrahnya adalah makhluk agama. Sifat itu berpangkal dari naluri alamiahnya untuk menyembah atau mengabdi kepada suatu objek atau wujud yang dipandangnya lebih tinggi daripada dirinya sendiri atau menguasai dirinya. Dan naluri ini sesungguhnya merupakan penyaluran dari dorongan yang jauh dibawah sadarnya yang mendalam, yaitu dorongan gerak kembali kepada Tuhan akibat adanya perjanjian primordial dengan penciptanya itu di alam ruhani. Inilah hakikat filsafat perennial sebenarnya.[v]

 

Wujud nyata pengaruh pengalaman spiritual manusia yang amat jauh dibawah sadar itu ialah dorongan batin yang amat kuat untuk menyembah. Dalam diri mnusia ada kerinduan yang besar sekali untuk kembali kepada Tuhan, memenuhi janjinya dalam kalimat persaksian tersebut tadi, inilah – sekali lagi –  hakikat dari filsafat perennial yaitu dorongan untuk beragama. Sehingga membendung dorongan itu ialah pekerjaan melawan alam atau natur manusia, maka tidak akan berhasil. Contohnya ialah eksperimen komunisme yang kini terbukti gagal.

 

Karena dorongan itu tidak dapat dibendung, ia akan mencari saluran mana saja. Jika tidak tersalurkan dengan baik, dorongan itu akan muncul dalam bentuk-bentuk amalan dan praktik penyembahan yang merugikan diri manusia sendiri. Menurut rancangan Ilahi, manusia adalah puncak ciptaan Tuhan, makhluk yang paling mulia. Karenanya manusia janganlah sampai melakukan sesuatu yang mengurangi harkat dan martabatnya sebagai makhluk yang paling mulia itu, dengan tidak tunduk atau menyembah kepada apapun selain Allah, Tuhan yang Maha Esa saja.[vi]

 

Tasawuf Perennial vis a vis Filsafat Perennial

 

Salah satu saluran yang penting untuk mengapresiasikan dan mengamalkan segala bentuk penyembahan atau pengabdian atas wujud yang dirasa lebih dari diri manusia yaitu Tuhan sebagaimana tujuan dari Filsafat Perennial adalah Tasawuf. Dalam Islam, tasawuf adalah praktek keagamaan yang penuh dimensi esoterik, hikmah-hikmah abadi agama hanya akan tersingkap melalui jalan ini. Sedangkan jalan Syari’at adalah jalan yang penuh eksoterik (tampilan luar, Formalitas, kulit) yang tidak akan pernah bisa menjangkau hikmah dan tujuan abadi agama, apalagi dalam fenomena ketersingkapan.

 

Kautsar Azhari Noer mendefinisikan  bahwa tasawuf perennial adalah Tasawuf yang ideal, tasawuf mistis, tasawuf yang benar-benar tasawuf, tasawuf sufi, tasawuf yang bersumber dari al-Quran dan sunnah, yaitu tasawuf sebagai jalan spiritual menuju Allah, berintikan akhlak mulia, mendekatkan manusia pada Allah, tetap setia pada Syari’at, menekankan keseimbangan antara aspek-aspek lahiriah dan batiniah, material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi, berpihak pada orang-orang lemah dan tertindas..[vii]

 

Tasawuf adalah dimensi spiritual tertinggi dalam Islam. Spiritualitas adalah sunnatullah dan hukum alam yang tidak bisa dilawan, dia berasal dari sesuatu yang ada (maujud) untuk mengenal dan mengetahui yang maujud itu. Yang selalu membicarakan yang Suci (The Secred), Yang satu (The One). Seperti distingsi (pembagian) filsafat yang dilakukan Huston Smith, yang membagi filsafat kepada dua tradisi besar yang sangat kontras, yaitu “filsafat tradisional”  dan filsafat modern. Dimana filsafat tradisional yang lebih terkenal dengan “the perennial philosophy” adalah filsafat yang selalu membicarkan yang suci dan yang satu dalam seluruh manifestasinya, seperti dalam agama,  filsafat, sains dan seni. Sedangkan filsafat modern, justru sebaliknya, yaitu membersihkan “Yang Suci” dan “Yang Satu” dari alam pemikiran agama, filsafat, sains dan seni, sehingga keeempat alam tersebut telah benar-benar dikosongkan dari “Yang Suci”  atau dilepaskan dari kesadaran terhadap “Yang Satu”. [viii]

 

Berdasarkan pembagian Huston Smith diatas, maka jelaslah dimana urgensitas tasawuf itu sebenarnya. Disinilah letak ketinggian tasawuf bahkan dari Filsafat tradisional sekalipun. Karena selalu membicarakan Yang Satu, Yang Suci tanpa ada sebuah praktik, metode dan jalan adalah sesuatu yang belum final, sehingga perlu ada kelanjutan dan finalisasi dari itu semua dan itu adalah tasawuf. “The Perennial” yang sebenarnya ada dalam tasawuf, bukan dalam filsafat, karena dalam tasawuf punya metodologi yang jelas, terarah untuk tidak hanya membicaran, tetapi juga mengenal secara realitas,Logis dan empiris “Yang Suci” dan “Yang Satu” dan selalu berada bersama “Yang Satu” dan “Yang Suci” dalam segala masa, konteks, ruang dan waktu. Bukankah metodologi mengenal dan menciantai “Yang Satu” dan “Yang Suci” dalam tasawuf telah memenuhi syarat-syarat sebuah pengetahuan modern ?.

 

Tasawuf dengan para sufi sabagai pionernya adalah golongan-golongan yang kritis dan berjasa dalam menyibak hakikat-hakikat kegamaan untuk mencerahkan umat. Betapa banyak orang yang tekun menjalankan perintah-perintah agama, akan tetapi tanpa tahu apa maknna hakikat dari ibadah yang dilaksanakan, hanya golongan sufilah yang bisa menjelaskan ini dan hanya dengan jalan sufi yang terorganisasikan dalam thariqat yang mampu memuaskan dahaga pengetahuan umat yang ingin mengetahui dan mengenal Tuhan sebagi “Yang Punya” segala hakikat, kalau sudah kenal dengan “Yang Punya” segala  hakikat, otomatis akan mengetahui segala hakikat keagamaan.  Ini adalah hukum logis, “dekat dengan api pasti panas” , kalau tidak panas bukan api “dekat dengan es pasti dingin”, kalau tidak dingin bukan es.

 

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang sepadan dan menjangkau segala jenis ilmu, mulai dari yang social sampai dengan yang eksact.  Karena Islam itu adalah Ilmu dan amal, memadukan kecerdasan akal dengan kepekaan hati. Dan sufi bukanlah orang yang meninggalkan dunia, tetapi mereka ingin mengguncangkannya, mereka tidak menghindari masalah, tetapi menyonsong dan menyelesaikannya. Mereka tidak membenci rasio, mereka malah meningkatkan dan memperluas kemampuan rasio. [ix]


[i]. Azyumardi Azra, Filsafat Perennial, Kolom Resonansi Harian Kompas ( 12 September 2006)

[ii] Adian Husiani, Hikmah Abadi: Apa Itu ? Catatan Akahir Pekan (CAP) www.Hidayatullah.Com ( 14 Oktober 2006)

[iii] Ibid

[iv] Ibid

[v]. Nurcholis Madjid, dalam Budhy Munawar Rahman : Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Penerbit : PT. Raja Grafindo Persada, 2004, Kata Pengantar,… Hal. xv

[vi]. Ibid

[vii]. Kautsar Azhari Noer, Tasawuf Perennial. Kearifan Kritis Kaum Sufi,Penerbit PT. Serambi Ilmu Semesta, 2003, hal. 13

[viii] Budhi Munawar Rahman, Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Penerbit : PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hal 103

[ix] Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif, ceramah-ceramah di kampus, Penerbit : Mizan, 20004, Hal. 99

Single Post Navigation

7 thoughts on “TASAWUF PERENNIAL, KEARIFAN KRITIS KAUM SUFI MENYIBAK HAKIKAT KEAGAMAAN

  1. sufimuda on said:

    tulisannya menurut saya sangat bagus. bahasanya tajam, menyentuh lansung kepusat kesadaran. terutama kesadaran dalam memahami hakikat keagamaan yang selalu terbatasi oleh sisi normatif agama yang kadang membuat kita terhalang untuk memahami agama yang sebenarnya.

    • terus terang saya belum bisa mencerna tuntas tulisan di artikel ini… istilah perennial ini saya dengar pertama kali dari kang Jalal…

      tapi membaca komentar Bangda ini:

      ” ….tulisannya menurut saya sangat bagus. bahasanya tajam, menyentuh langsung kepusat kesadaran… ”

      saya jadi ketawa geli…. 🙂
      bisa aja Abangku satu ini…. 🙂

  2. woau keren dong jadi sufi….. bisa kayak alinea terakhir 🙂 “memadukan kecerdasan akal dengan kepekaan hati. Dan sufi bukanlah orang yang meninggalkan dunia, tetapi mereka ingin mengguncangkannya, mereka tidak menghindari masalah, tetapi menyonsong dan menyelesaikannya. Mereka tidak membenci rasio, mereka malah meningkatkan dan memperluas kemampuan rasio”

  3. Ping-balik: TASAWUF « Argostar’s Blog

  4. andi yudianto on said:

    Saya setuju dengan pemikiran bahwa keberagamaan kita lebih aktual kalau kita bisa memberikan karya buat mayarakat.ketuhanan dalam diri kita tereksplorasi keluar dengan mengikuti kejadian di lingkuangan sehari-hari. tasawuf bagi anak muda adalah bagaimana menepa pemikiran untuk berguna bagi orang lain.trims untuk mas budhi apa kabar? lama ndak ketemu saya di ponpes darul ulum sekarang. ada yang tahu email mas budhi ? he is my cousin

  5. mukhtar alfaqir on said:

    Hilang sudah dahagaku dan hilang sudah rasa laparku tatkala membaca artikel ini.jalan keabadian tersingkap penuh makna.didepan masih banyak jurang2 yg memisahkan kita.kita tetap berjalan mencari buah2 segar diblog Sufimuda.Wasalam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: