Nasehat,  Tasauf

BEDA TAREKAT DAN PERDUKUNAN

Tarekat adalah metodologi untuk mendekatkan diri kepada Allah, output dari pelaksanaan metodologi itu adalah bagaimana seorang hamba bisa mengenal Allah dan sentiasa Bersama-Nya sejak dari alam dunia yang fana ini sampai ke alam akhirat yang kekal abadi. Karena jalan yang ditempuh itu sangat berat dan mirip-mirip mustahil (jika tanpa bimbingan Guru Mursyid), maka tujuan dari bertarekat harus selaras dari tujuan akhir yaitu karena Allah. Jika seseorang menekuni tarekat memiliki niat lain maka nanti dalam perjalanan dia akan bergeser pelan-pelan dari tujuan utama kepada tujuan yang muncul kemudian sehingga tidak akan sampai kepada tujuan akhir.

Maka hal pertama yang ditanyakan kepada orang yang menekuni tarekat adalah, “Apakah anda bertarekat (menempuh jalan ini) karena Allah?”. Pertanyaan sederhana itu harus dijawab dengan tegas lewat kata-kata dan dalam perjalanan selanjutnya harus pula di implementasikan dalam tindakan yang mengarah kesana. Jika menekuni tarekat itu agar keramat, kebal dan disegani orang, tujuan salah ini akan membawa dia melenceng dari tujuan utama yang sangat mulia yaitu mengenal Allah dan kekal abadi bersama-Nya.

Berbeda dengan perdukunan (apapun bentuknya) yang bertujuan untuk memenuhi ambisi jiwa manusia yang rapuh dengan begitu banyak keinginan. Orang ingin terkenal disuruh amalkan isim-isim atau mantera-mantarea. Orang kebal  disuruh amalkan sesuatu dan melaksanakan sesuatu, tujuannya sangat jangka pendek dan untuk memenuhi Hasrat jiwa manusia yang begitu rapuh dan rentan. Seseorang ingin membalas dendam, maka dukun adalah solusi paling cepat, hasilnya musuhnya celaka/mati atau usahanya menjadi bangkrut. Melihat orang lain menderita dan dia senang adalah wujud jiwa rapuh yang disusupi setan.

Perdukunan yang pada hakikatnya adalah bagaimana terkoneksi dengan setan dalam praktiknya tidak selalu bersifat negatif. Babi ngepet, pelihara tuyul agar menjadi kaya mungkin bentuk-bentuk praktek perdukunan yang kita ketahui secara umum. Namun bisa jadi seorang yang taat ibadah, disuruh oleh kiayinya menjaga shalat jamaah 5 waktu, tidak batal wudhuk 24 jam, mengamalkan ayat-ayat tertentu dengan tujuan menjadi kaya atau keramat bisa jadi itu juga perdukunan karena tujuannya beribadah sudah melenceng. Terlalu naif kita menganggap orang berpakaian hitam memakai blangkon itu dukun sementara yang berjubah putih dan bersurban adalah seorang wali. Tidak sesederhana itu karena dukun juga membutuhkan penerimaan di Masyarakat sehingga bisa jadi pakaiannya disesuaikan. Jika saat ini orang sedang gandrung dengan pakaian Islami maka dukun akan memakainya agar dalam praktiknya lebih dipercaya.

Alam Sadar, Alam Bawah Sadar dan Alam Atas Sadar.

Prof. Dr. Sayyidi Syekh Kadirun Yahya, seorang Guru Mursyid yang memiliki murid diseluruh pelosok nusantara bahkan diluar negeri mengatakan bahwa agama itu harus bisa dilaksanakan di alam sadar, alam bawah sadar dan alam atas sadar. Jika kita hanya melaksanakan agama di alam sadar (syariat) maka ini tidak akan mampu mencapai alam atas sadar (alam Rabbaniyah) sehingga di alam itu agama dalam bentuk hapalan itu akan lumpuh, bahkan untuk mencapai alam bawah sadar pun tidak mampu. Seorang professor yang hapal Al-Qur’an alumni universitas Islam Timur Tengah dan seorang buta huruf tidak tamat SD, ketika keduanya tidur sama-sama bodoh, ketika ditanya apapun tidak bisa dijawab karena dia sedang berada di alam bawah sadar (alam tidur atau alam mimpi). Artinya jika kita hanya beragama dalam tataran syariat saja, hanya melaksanakan ibadah zahir maka jangankan di bawa ke alam barzah (alam kubur), di alam dunia pun dalam kondisi tertentu sudah tidak berlaku lagi.

Syariat Islam atau aturan fiqih itu berfungsi agar manusia bisa tetap beragama di alam sadar dan tidak diseret ke alam bawah sadar (perdukunan). Ketika seorang dukun memberikan syarat untuk menjadi sakti harus mengambil lidah bayi yang meninggal dunia di bawah usia 40 hari (dengan menggali kubur bayi), maka alam sadar dia mampu berfikir jernih bahwa tindakan itu bertentangan dengan agama, itulah fungsinya syariat. Alam bawah sadar itu adalah alam yang dimasuki ketika kesadaran seseorang menurun. Orang bisa melihat hantu karena dia sedang mengalami tekanan jiwa, baik trauma maupun ketakutan. Orang bisa disantet karena jiwanya rapuh.

Orang yang mempunyai kegiatan rutin yang positif setiap hari seperti menjaga shalat, rutin membaca al-Qur’an, ikut pengajian akan lebih sulit disantet karena dia terjaga di alam sadar. Walaupun dalam kondisi tertentu bisa juga terkena santet karena dimensi setan memang lebih tinggi dari dimensi manusia. Atas dasar itulah kenapa santet dan seluruh kemampuan ilmu hitam terhebat di dunia tidak akan mampu mencelakakan orang yang istiqamah zikir (tarekat) karena orang tarekat itu dimensinya berada di alam atas sadar, tidak tersentuh sama sekali.

Sama halnya dengan alam bawah sadar yang hanya bisa dimasuki ketika kesadaran seseorang menurun maka alam atas sadar juga demikian juga, dalam hal ini akal tidak lagi dominan. Akal hanya berfungsi di alam sadar, ketika di bawa kealam atas sadar, akal menjadi lumpuh dan tidak berfungsi sama sekali. Maka pelajaran agama yang begitu banyak di dalam akal fikiran tidak akan mampu dibawa ke alam atas sadar, alam Malakut dan Alam Rabbani. Akal itu hanya mampu mencerna apa yang telah diciptakan Allah dan tidak mampu memahami Allah. Maka syarat menjadi makrifat itu bukan cerdas tapi patuh. Patuh dalam hal ini adalah patuh kepada Ulama Pewaris Nabi yang mengerti metodologi untuk menembus alam atas sadar.

Atas alasan inilah Imam AL-Ghazali dan para penempuh jalan kebenaran lainnya bisa sampai ke alam atas sadar setelah alam sadarnya dihentikan. Al-Ghazali sadar bahwa ilmu-ilmu agama yang dia pelajari hanya untuk kehidupan di dunia yang lebih baik, agar hidup teratur bukan sebagai bekal kelak dia di akhirat. Al-Ghazali kemudian menjadi tahu kenapa Nabi Muhammad SAW mampu melihat surga dan neraka ketika Beliau masih hidup di dunia, karena Beliau sudah mampu menempuh alam sadar sadar.

AL-Qur’an dengan tegas menyebut di surah paling utama yaitu Surah AL-Fatihah bahwa Allah itu adalah Malikuyaumiddin, Raja Akhirat. Maka logikanya siapapun yang ingin berjumpa dengan-Nya harus mampu pula menempuh alam akhirat. Atas alasan itulah walaupun seseorang 40 tahun di pasantren atau universitas Islam tidak akan bisa mengenal Allah, tidak mampu memandangnya karena Allah memang tidak berada di dalam dunia yang fana ini. Maha Abadi hanya ada di alam keabadian, yaitu alam akhirat yang bisa diakses oleh siapun manusia yang hidup di dunia ini asal dia tahu metodologinya.

Syariat Islam sangat bagus untuk menjaga manusia hidup di dunia ini menjadi teratur, tidak terseret ke alam bawah sadar yang dimurkai Allah dan tidak selaras dengan kehidupan dunia ini. Syariat Islam berfungsi untuk menjaga fisik seseorang tetap Islam, tidak melanggar perintah Allah. Seorang yang mengerti agama tentu tidak akan mudah terjebak di dalam perdukunan. NAMUN Iblis itu adalah alumni universitas langit, mantan malaikat utama, pernah tinggal disurga, tentu akan lebih mudah lagi bagi dia untuk menggoda manusia agar di murkai Allah. Jika perdukunan hitam dengan wujud yang aneh tidak bisa diterima oleh sebagian orang Islam, maka disodorkan perdukunan putih yang Islami, sangat halus dan tidak disadari manusia. Bisa jadi perdukunan itu dalam bentuk amalan-amalan zikir yang juga diamalkan oleh orang tarekat, tapi di amalkan tanpa bimbingan dari Rasulullah SAW karena rohaninya tidak tersambung kepada rohani Rasulullah SAW.

Dukun dikemudian hari ber-metamorfosis menjadi seorang ustad atau tokoh agama agar ”dagangan” perdukunannya bisa diterima oleh masyarakat. Seluruh amalan yang bertujuan jangka pendek akan mudah terseret ke alam bawah sadar. Orang yang jiwanya pemarah, angkuh, pendendam akan mudah terseret ke alam bawah sadar. Maka disitulah agama dalam bentuk syariat bekerja, mencegah manusia untuk tidak masuk ke dalam bawah sadar atau alam setan.

Jika seorang melaksanakan agama di alam sadar dengan istiqamah kemudian dia menemukan Guru Mursyid yang sejati dan membimbingnya tahap demi tahap maka dia akan sampai ke alam atas sadar, segala misteri hidup yang dialami di alam sadar akan menemukan jawaban di alam atas sadar.

Al-Islam adalah agama sempurna yang bisa membimbing jasmani dan rohani manusia. Manusia ber-Islam di dalam sadarnya dan kemudian juga bisa ber-Islam di alam atas sadarnya. Jika manusia hanya ber-Islam di alam sadar sudah pasti ketika dibawa ke alam atas sadar, segala ilmu agama yang dia pelajari, ibadah yang dilaksanakan akan lumpuh total tidak berfungsi sama sekali. Manusia yang hanya beragama di dalam sadar tentu tidak bisa sama sekali menjawab pertanyaan malaikat di dalam kubur karena akalnya sudah tidak berfungsi. Syariat Islam memberitahukan kita bahwa yang menjawab nanti adalah amalan kita. Di dalam tarekat yang menjawab semua pertanyaan itu ya diri kita sendiri yang sudah mampu memasuki alam-alam berikutnya.

Hidup di dunia ini sangat singkat sekali di bandingkan alam atas sadar yang sangat abadi. Terlalu konyol kalau kita terlena di alam sadar ini apalagi terlena di alam bawah sadar yang 100% ilusi. Segera bangun dari tidur. Kehidupan di dunia ini kata Nabi SAW adalah ibarat mimpi, setelah mati baru kita terjaga atau terbangun. Maka ketika hidup di dunia ini harus ada Pembimbing yang mampu “Membangunkan” kita dari mimpi dunia yang melalaikan. Nabi juga mengatakan bahwa orang berzikir dan orang tidak berzikir bagai orang hidup dengan orang mati. Zikir apa yang membuat manusia kualitasnya sangat berbeda itu? Zikir yang membangunkan rohani manusia untuk bisa berangkat ke alam lebih tinggi adalah zikir yang dipakai oleh Rasulullah SAW dan kemudian diwariskan kepada Khalifah Nabi sampai ke zaman kita saat ini.

Semoga Bermanfaat…

4 Comments

Tinggalkan Balasan ke BudisufiBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca