Nasehat,  Pemikiran

Bisa Jadi Masih KAFIR

Kata Kafir bukan lawan dari muslim atau orang Islam tapi Kafir ber-oposisi dengan mukmin, orang percaya. Percaya eksistensi Tuhan, dan hidup hanya untuk mengabdi kepada-Nya, bukan demi materi, intelektual, jabatan, kekuasaan dan lain sebagainya. Pada zaman dahulu, orang orang yang disebut dengan sebutan kafir adalah para pembesar Quraish dan mereka yang melawan perjuangan Nabi untuk menghentikan tradisi tradisi yg negatif seperti fanatisme kesukuan, dan peperangan untuk kemudian membangun peradaban dengan basis kesetaraan dan keadilan.

Ada yang harus kita pahami barsama bahwa orang Quraisy itu bukan tidak percaya kepada Tuhan tapi mereka lebih memilih materi yang berpotensi hilang karena Tauhid atau persatuan. Di dalam buku History The Arab Karya Prof Philip K Hitti disebutkan bahwa ekonomi Mekah saat itu, berbasis pada peperangan dan turisme religi hasil peperangan. Orang orang Arab sangat fanatik dengan suku mereka, dan berperang lain untk kemudian disita berhalanya kemudian di letakkan di dalam Kabah agar mereka dapat mengunjungi Tuhan mereka itu. Nabi Muhammad datang menyerukan persatuan yg disebut dengan Tauhid, yg artinya semua manusia setara, tidak ada suku yg lebih tinggi derajat nya di banding suku yang lain.

Dengan demikian, tidak boleh ada peperangan antar suku atas dasar superioritas ataupun penaklukkan penaklukkan. Orang Quraisy terganggu ini. Potensi materi dan ekonomi mereka terganggu dengan revolusi sosial yg hendak dibawa oleh Nabi Muhammad mereka lebih memilih materi dari pada persatuan. Mereka lebih memilih potensi ekonomi, daripada kerukunan yang merupakan “iradah” atau kehendak Tuhan. Mereka lebih memilih ekonomi mereka sendiri dari pada menghentikan tradisi yg mencelakakan dan menyakiti manusia dari suku yg beda.

Orang orang seperti inilah orang yg disebut kafir yaitu orang yang menghamba pada materi, fasilitas, kekuasaan, dan bukan kepada Tuhan ( untuk persatuan dan kebenaran).

Maka ciri khas paling menonjol dari sifat Kafir ini adalah 2 yaitu Sombong dan Kikir

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (Q.S. Al Baqarah, 34)

“Yaitu orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang kafir azab yang menghinakan.” (Q.S. An Nisa, 37)

Nabi Muhammad SAW dengan semangat Tauhid, membina persatuan dan kemudian dilanjutkan dengan semangat persaudaraan (Ukhwah Islamiyah) untuk memberantas kekafiran yang ada dalam jiwa manusia akan selalu mendapat tantangan bukan hanya di zaman Beliau hidup tapi juga dizaman setelah Beliau. Manusia itu alamiahnya memang predator, suka menyerang dan menyalahkan orang lain untuk bertahan hidup, maka dengan Islam diharapkan sifat hewani ini akan luntur, cahaya Ilahi ketika menyinari hati akan membuat manusia menjadi SATU. Sebagaimana Nabi mengatakan bahwa Mukmin itu SATU, satu hati satu jiwa dan satu rasa.

Tugas kita sebagai mukmin dizaman ini adalah memerangi sifat-sifat KAFIR yang tidak disadari bersamayam di dalam dada. Terlalu cinta materi dan jabatan sehingga lupa akan tugas utama yaitu menjaga persaudaraan Islam. Sifat kesukuan dan merasa hanya kelompoknya lah yang paling benar dan paling berhak menafsirkan kebenaran, ini WAJIB kita perangi bersama.

Mukmin itu harus mandiri secara materi sehingga tidak menjadikan agama sebagai sumber penghasilan yang nanti akan membuat agama menjadi rusak. Nabi dan para sahabat menyumbangkan harta dan nyawa demi menegakkan agama jangan sampai sifat ini berubah, bukan menguatkan agama tapi malah menggerogoti agama.

Tidak ada orang yang benar-benar membela agama, kalau kita selidiki lebih dalam pada umumnya siapapun yang mengklaim bela agama sebenarnya dia hanya membela diri sendiri dan kelompoknya agar kelompok lain tidak bisa berkembang, itulah sifat KAFIR yang yang ada di zaman Jahilyah dulu.

Disini kita menjadi sadar kenapa dalam shalat Taubat (yang lazim dilaksanakan oleh pengamal tarekat) diwajibkan membaca surat Al-Kafirun…karena andai selama ini kita menuduh orang lain sebagai kafir, bisa jadi diri sendiri masih KAFIR…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: