Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

RAMADHAN DAN TAKBIR KEMENANGAN

Kita telah berada di penghujung Ramadhan dan segera akan memasuki 1 Syawal dimana ummat Islam diseluruh dunia merayakan Idul Fitri, merayakan kemenangan melawan hawa nafsu, melawan dirinya sendiri, bermujahadah selama sebulan penuh lewat Puasa, ‘Itikaf, Shalat Tarawih, membaca Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya yang telah diberi tuntunan oleh Rasulullah SAW. Tujuan melaksanakan ibadah lebih banyak di bulan Ramadhan itu tentu saja untuk meningkatkan kualitas jiwa manusia itu sendiri menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa. Taqwa dalam makna sederhana adalah tidak merasa berat mengerjakan ibadah, menjadi kebiasaannya.

Tentang puasa kami telah membahas banyak bisa dibaca kembali tulisan-tulisan lama namun tentu saja sebanyak apapun kita bahas tentang puasa tidak akan bisa memberikan gambaran sempurna tentang puasa itu sendiri. Tidak mungkin orang awam tiba-tiba bisa melaksanakan puasa khusus (khawas) tanpa ada Guru yang membimbing dan menuntunnya. Ibarat pelajaran, walaupun melewati waktu 40 tahun jika sekolahnya SD tetap ilmu yang didapat sekitar ilmu SD tidak mungkin bisa menyerap ilmu universitas.

Menjadi renungan bagi kita semua yang telah melewati tahun demi tahun berada di bulan Ramadhan berulang kali namun ibadahnya tidak pernah berubah sama sekali. Pernahkah kita bertanya dalam hati, apa beda Ramadhan tahun ini dengan tahun yang lalu?

Sama dengan melaksanakan shalat misalnya, berulangkali dilakukan sejak akil baliq namun itu hanya perulangan saja, melakukan hal yang sama dengan intensitas yang lebih banyak, itu saja. Tidak pernah di periksa shalatnya apakah sudah khusyuk, sudah sesuai dengan standar shalat Nabi? Jangan lagi mencari alasan kalau Nabi itu berbeda tidak mungkin kualitas kita sama dengan Nabi, itu hanya alasan pembenaran saja. Sebab Nabi berpesan “Shalat lah kalian sebagai mana Aku shalat”, maknanya Shalat kita WAJIB PERSIS SAMA seperti Nabi shalat dalam hal gerak (zahir) maupun rasa (bathin).

Ibarat kita mempraktekkan rumus tertentu yang diciptakan oleh seorang Profesor maka HASIL nya WAJIB sama dengan apa yang didapat oleh profesor. Jika hasilnya tidak sama maka ada kesalahan di dalam metodologinya, paling tidak harus ada pembimbing yang pernah berguru kepada sang profesor. Begitulah dengan ber-agama, ibadah apapun harus ada yang membimbing agar kualitas ibadah itu PERSIS SAMA dengan kualitas ibadah Nabi, kita harus menemukan GURU yang sanad keilmuan dan sanad kerohanian bersambung, tidak terputus sampai kepada Nabi SAW.

Kunci khusyuk shalat tentu saja bukan digerak zahirnya karena di dunia ini ada berbagai macam model gerak shalat. Antara Mazhab Hanafi dengan Mazhab Syafii berbeda caranya mulai dari berwudhuk sampai dengan pelaksanaan shalat. Rukun Shalat yang 13 perkara yang diajarkan kepada kita sejak kecil itu tentu saja aturan di dalam Mazhab Syafii, hal yang tidak ditemukan sebanyak itu di Mazhab lain.

Karena kunci khusyuk shalat itu pada rohani maka yang wajib kita fokuskan adalah bagaimana rohani kita ini menjadi bersih sehingga ketika melaksanakan ibadah apapun tidak lagi menghayal, mengingat selain dari Allah. Ketika didalam shalat kita terbayang hal-hal bersifat duniawi; anak istri, teman, pekerjaan maka sudah pasti shalat tidak khusyuk dan tertolak, shalat berpuluh tahun ujung nya nanti masuk neraka.

Untuk menghadirkan RASA yang persis sama dengan Nabi baik di dalam ibadah maupun di luar ibadah tentu WAJIB kita miliki Seorang Pembimbing yang bisa menuntun kita mencapai tahap itu. Nabi kita sebagai manusia pilihan pun memiliki Mursyid yaitu Jibril as, tentu kita manusia yang awam lebih wajib lagi mempunyai pembimbing.

Di penghujung Ramadhan ini kami mengajak kita semua untuk merenungi dalam-dalam tentang ibadah-ibadah yang telah kita lakukan, apakah sudah benar atau hanya mengikuti tradisi yang sudah kita dapatkan sejak kecil.

Bagi orang yang sudah mengenal Allah dalam makna sebenarnya, dia tidak akan sibuk lagi memikirkan surga neraka apalagi sibuk mencari Lailatul Qadar. Mereka para pecinta Tuhan lebih sibuk melayani Tuhannya dalam ibadah dan dalam keseharian. Jika sudah bersama Allah, masihkah kita meminta selain Dia? Jika kita masih meminta hal-hal yang kami sebutkan tadi bisa dipastikan anda belum beserta Allah, hanya berserta dalam ucapan dan dalam keyakinan akal saja.

Saya sudah lama tidak menulis (tulisan terakhir 21 Desember 2020), jika tulisan ini anda baca sore hari, saya mengucapkan selamat berbuka puasa dan pada kesempatan ini juga mohon maaf lahir bathin. sMoga kita semua benar-benar mendapat kemenangan hakiki, menang melawan diri sendiri, menang melawan setan yang selalu bersamayam di dalam dada insan sehingga Takbir di Malam Idul Fitri betul-betul Takbir yang keluar dari hati sanubari yang tidak ada lagi unsur syetaniah disana…

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin!

Single Post Navigation

6 thoughts on “RAMADHAN DAN TAKBIR KEMENANGAN

  1. Terimakasih yg mendalam GURU utk kasih sayangNYA yg tiada henti membimbing kami Yg bodoh ini. 😇

  2. Amin
    Terimakasih Abangda

  3. Ya Allah bang…
    Iya bang, Mohon maaf lahir dan batin juga ya bang…. Dan teruntuk sahabat sahabat yang lain semua, mohon maaf lahir dan batin 🙏
    Semoga kita semua selalu diberkati dan dirahmati gusti Allah… Aamiin aamiin aamiin ya Allah yra…. Alfatihah

  4. Mohon maaf lahir dan bathin, Bang…

  5. Kiem Rast on said:

    Terimakasih banyak guru atas bimbingannya, saya pribadi selalu menanti tulisan-tulisan guru yang pasti akan selalu membuka hati dan pikiran saya menjadi lebih baik dan luas dalam berpikir.
    tapi mohon maaf yang sedalam-dalamnya, akhir-akhir ini guru sudah jarang menulis seperti terdahulu dan sebelumnya. saya berkata seperti ini karena tulisan guru walaupun satu atau dua paragraf sangat bermanfaat sekali bagi saya, mungkin bagi sahabat-sahabat disini juga 🙏😁
    Mohon maaf lahir dan bathin 🙏😁

  6. Mustofa on said:

    Bang, masa iya shalat berpuluh tahun tertolak ujungnya masuk neraka. Apa tdk sebaiknya dikatakan terap senantiasa beeusaha khusyu’, kl pun tdk apakah Allah Yang Maha Rahman Rahim bs tdk menyangi hambaNya yg meskipun belum berhasil khusyu’ paham, pintar, cerdas, shaleh spt Hang Sufi Muda, tapi tetap besar harapan, bersangka baik Allah zetap menyanginya tdk menolak nolak dan pasti memaaukkan ke dalam neraka …maafkan saya Bang Sufi Muda…lama tdk membaca tulisan baginda …

Tinggalkan Balasan ke Kiem Rast Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: