Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Kebijaksanaan Sufi diantara Wahabi dan Ahlussunah

Dalam menempuh perjalanan kepada-Nya (Thareqatullah) diperlukan seorang pembimbing yang telah benar-benar ahli untuk bisa membawa para murid sampai selamat kehadirat-Nya, sosok ini kita kenal sebagai Mursyid. Seorang Mursyid minimal dia harus seorang Wali Allah (kekasih Allah), artinya tidak semua Wali Allah bisa menjadi Mursyid dan kalau memakai logika ini Mursyid yang tidak mencapai kualifikasi seorang Wali Allah akan menjadi Mursyid syariat saja, mengajarkan tasawuf tapi tidak bisa membawa rohani murid untuk sampai kehadirat Ilahi. Tidak sedikit orang yang hanya bermodal banyak membaca kitab tasawuf, paham maqam-maqam di tasawuf, mengerti definisi yang sering dipakai dikalangan sufi kemudian dengan berbekal ini dia menceritakan ilmu yang dibaca kemudian orang-orang secara bertahap menjadikannya sebagai Mursyid.

Berbeda dengan ilmu zahir (syariat) yang mengandalkan akal fikiran untuk mencerna pengetahuan, ilmu bathin (hakikat) itu sangat halus, diperlukan kehati-hatian di dalamnya, melenceng sedikit langsung jatuh ke jurang kehancuran. Ilmu zahir tidak memerlukan pembuktian atas apa yang diketahui sedangkan ilmu bathin harus bisa membuktikan segala yang dia tahu dan dia ajarkan. Ilmu zahir dengan mudah menceritakan tentang karomah Wali sedangkan ilmu bathin adalah membimbing sampai mencapai tahap karomah itu, walau pun itu bukan tujuan utama.

Orang yang bukan pelaku (pengamal tasawuf) akan kelihatan dari cara dia menyampaikan ilmu walaupun ilmu yang diceritakan tersebut berasal dari sumber yang asli, dari hasil praktek para ulama sufi. Orang yang sudah mengamalkan dan sudah mencapai tahap sempurna di dalam pengamalannya cenderung menyampaikan hal yang bisa dipahami oleh orang, tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Memang ilmu sufi itu bukan ilmu konsumsi umum, disampaikan di tempat yang khusus dan dikalangan khusus pula.

Ada sebuah ungkapan bahwa seorang Wali atau Seorang Sufi pun Tidak Pernah Mau Diperlakukan Khusus ditempat Yang Umum. Guru saya pernah menasehati, “Jangan kau hormati aku secara berlebih di Bandara (Tempat Umum) nanti orang-orang tidak nyaman”. Seorang Wali sangat menjunjung tinggi nilai Ukhwah Islamiah (persaudaraan muslim) itulah sebabnya saya selama berguru tidak pernah mendengar dari mulut Beliau mengatakan kelompok ini sesat, kelompok sana kafir. Ketika Beliau menyampaikan pendapat yang berbeda pasti nanti di ujung kalimat disisipkan kata, “Tapi kita tetap menjunjung tinggi nilai Ukhwah Islamiah, berbeda tapi tetap bersatu”. Itulah sebabnya Seorang Sufi hanya mau diperlakukan khusus ditempat yang khusus, di surau/alkah/zawiyah milik mereka atau tempat zikir milik mereka, bukan di mesjid umum yang justru akan menimbulkan fitnah dikalangan umat Islam.

Atas dasar itulah maka terkhusus untuk kalangan pengamal tarekat hendaknya bisa instropeksi diri untuk tidak sibuk mengurus kesalahan orang namun sibuk mengurus kesalahan diri sendiri. Aneh terlihat kalau seorang pengamal tarekat berperilaku seperti orang wahabi yang suka menyalahkan orang lain. Wahabi itu memang berbeda, mereka hanya tahu amalan zahir, ruhani mereka kering sehingga jiwa mereka memberontak, wujudnya ya seperti itu; merasa benar sendiri dan mencari kesalahan orang lain atau kelompok lain. Kemudian ada yang mengaku sebagai sufi kemudian berperilaku seperti wahabi, itu kan aneh?

Kalau seorang yang mengaku kelompok ahlussunnah yang belum bertarekat kemudian berperilaku seperti wahabi itu juga wajar, karena masih anak-anak dalam beragama. Seorang anak kecil mati-matian mempertahankan pendapat bahwah Ayahnya lah yang paling hebat, karena dia hanya mengenal laki-laki dewasa itu hanya Ayahnya. Jika kelompok mengaku Ahlussunnah sangat membenci Wahabi sampai ke hati paling dalam , lalu dimana letak nilai kemulyaannya?

Maka lewat tulisan ini saya mengajak semua, terkhusus wahabi agar segera menyudahi cara beragama yang ke kanak-kanakan tersebut, karena kita sudah berada di akhir zaman. Berhentilah mencari kesalahan kelompok lain karena anda dihadirkan di dunia bukan untuk menjadi sebagai Hakim yang mewakili kekuasaan Allah. Anda lahir untuk bisa memperbaiki diri, beribadah dengan benar dan mengenal Allah dengan sebaik-baiknya. Sebentar lagi masuk bulan Maulid (Rabiul Awal), jangan lagi iri dengki dengan orang yang melaksanakan maulid, itu yang mereka rayakan kan hari kelahiran Nabi anda juga? Percayalah dengan saya bahwa semakin banyak ilmu yang dipelajari akan semakin toleran seseorang. Lihatlah Ustad Adi Hidayat, latar belakang ilmu awalnya wahabi tapi kemudian Beliau membaca banyak referensi akhirnya menjadi seorang yang toleran. Ilmu Syariat itu tidak mutlak karena berasal dari kumpulan argumentasi karena itu diperlukan kebijaksanaan kita untuk menghargai perbedaan sebagaimana sikap ulama-ulama terdahulu.

Kira-kira apa lah untungnya menyampaikan pendapat bahwa kedua orang tua Nabi kelak berada dineraka? Selain hanya untuk menyakiti pengikut Muhamamad SAW. Seperti kami sampaikan tadi bahwa segala sesuatu itu tidak semua harus disampaikan secara umum. Kajian-kajian akademis tentang Islam hanya layak disampaikan di mimbar kampus, disana sudah masuk golongan khusus. Perdebatan tentang apapun dianggap biasa saja tanpa ada yang tersinggung. Ketika seseorang menyampaikan ilmu-ilmu yang menjadi makanan kaum akademisi dikalangan umum disitulah awal keretakan dikalangan ummat Islam. Menyentuh dan memelihara anjing misalnya, kalau merujuk kepada teks-teks kitab klasik itu masih berbeda pendapat tapi seorang Dosen UIN yang hidup di Indonesia penganut mazhab Syafi’i kemudian menggendong anjing, itu hal yang tidak wajar.

Andai seorang sufi menyampaikan semua yang dia rasakan dan dia ketahui, maka akan muncul kehebohan dan kegoncangan tidak berkesudahan di kalangan ummat Islam. Coba renungkan kata-kata Sayyidina Husen RA, “Seandaikan aku sampaikan yang aku ketahui, niscaya kalian menuduhku sebagai penyembah berhala”. Kaum sufi sangat paham makna dari ucapan Sayyidina Husen RA, hal yang tidak akan mungkin bisa dipahami oleh kelompok lain.

Dan junjungan kita Nabi Muhmamad SAW dengan bijak berkata, “Sampaikanlah segala sesuatu menurut kadar di penerima”. Maka bagi kalangan ahli fiqih silahkan sampaikan seluas-luasnya ilmu yang dimiliki karena segala ilmu fiqih itu adalah argumentasi ulama terdahulu yang memang harus disampaikan dan tidak akan menimbulkan kegaduhan, dengan syarat fiqih imam hanafi jangan diajarkan ke penganut imam syafii. Untuk ilmu syariat berlaku, “Sampaikanlah walau satu ayat”.

Menutup tulisan ini, Fiqih, Tauhid dan Tasawuf adalah 3 pilar islam yang hanya bisa dilaksanakan dengan sempurna dengan mengamalkan Tarekat. Seorang yang mengamalkan/mempraktekkan ilmu tasawuf lewat bimbingan Guru Mursyid di tarekat itulah disebut SUFI sedangkan orang yang hanya membaca kitab tasawuf kemudian mengajarkan juga lewat menyampaikan pembacaan kitab, si pendengar dan si pembaca itu namanya Ahli Ilmu Tasawuf BUKAN Sufi.

Single Post Navigation

3 thoughts on “Kebijaksanaan Sufi diantara Wahabi dan Ahlussunah

  1. Budisufi on said:

    terima kasih guru

  2. Farid Sudibyo on said:

    Barokallah fii umrik…, alhamdulilah terima kasih Bang Sufi muda atas pencerahannya . Smg bang sufi muda selalu beserta Allah SWT . Mohon doanya agar saya selalu istikhomah menjalankan tasawuf dgn bimbingan guru. Saya tidak berani mengatakan guru saya seorang mursyid , tetapi dari kreteria” yg selalu saya baca di tulisan Bang Sufi Muda . Setidaknya ada kesamaannya…wasalam..

  3. Bahasan yg hanya bisa dipahami oleh para pelaku tarekat, diluar itu mustahil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: