Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Surga Anak-anak

anggurBegitu pemurah Allah swt sehingga di bulan penuh berkah ini, Dia memberikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang melaksanakan ibadah di bulan ini. Selama sebulan, kita di motivasi oleh Tuhan untuk mengerjakan ibadah-ibadah yang telah diperintahkan-Nya. Lalu apakah tujuan dari ibadah hanya semata-mata untuk mendapatkan ganjaran?

Bagi pemula, merupakan hal yang wajar dia termotivasi dengan berbagai macam “hadiah” yang dijanjikan, surga dengan segala kenikmatannya, bidadari-bidadari, makanan yang berlimpah dan lain-lain. Sudah menjadi takdir ketentuan dari Allah bawah Islam awalnya diturunkan di kalangan bangsa Arab yang profesi utamanya adalah pedagang, sehingga sangat termotivasi dengan konsep pahala yang di ceritakan dalam al-Qur’an. Shalat wajib di gandakan 70 kali dan shalat sunnat di hitung wajib, secara hitung-hitungan, ini tawaran yang sangat menggiurkan dan sulit untuk di tolak. Di surga akan ada sungai air bersih dan jernih, sungai madu dan sungai susu yang mengalir secara terus menerus, hal yang langka di dapat di negeri Arab saat itu, sebuah tawaran yang sulit di tolak oleh bangsa pedagang yang menghitung segala sesuatu berdasarkan untung rugi.

Pahala bagi orang yang mati dalam jihad disediakan 40 orang bidadari, akan sanggup membakar semangat orang Arab untuk mengorbankan nyawanya demi agama, terutama orang-orang yang baru memahami Islam dari kulit saja. Tawaran 40 bidadari cantik tentu hal yang tidak bisa di tolak sama sekali, tawaran yang menarik. Terkadang akal sehat kita pun berkata, “Dalam kondisi sakit gigi saja orang tidak lagi selera melihat perempuan cantik, konon lagi sudah mati”. Begitulah agama, harus dipandang dalam berbagai dimensi termasuk dimensi kecerdikan Nabi memotivasi orang Arab zaman itu untuk mendukung agama yang baru tumbuh.

Bagi para sahabat Nabi yang dekat dan mencintai Nabi, tawaran-tawaran seperti itu tidak memberikan pengaruh sedikit pun, mereka berjuang karena mereka mencintai Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan mereka terhadap Rasul melebihi kecintaan mereka terhadap diri sendiri dan keluarganya, nyawa pun akan diberikan untuk Rasul yang sangat dicintainya. Andai Nabi mengatakan kalau berjuang di jalan Allah tidak mendapatkan apa-apa pun mereka akan tetap membela agamanya karena atas dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Zaman terus berubah, masa terus berganti, namun jenis manusia yang beribadah berbagai macam akan terus ada. Ada yang beribadah karena motivasi imbalan yang luar biasa, ada yang beribadah karena takut ancaman dan tentu ada yang beribadah karena rasa cinta kepada-Nya. Harus jujur kita akui, bahwa kita semua berangkat dari jenis beribadah karena takut dank arena mengharapkan imbalan, semua orang bergerak dari arah sana. Ada yang tetap di sana, ada yang kemudian pindah kepada dimensi berikut, dimensi cinta dan sayang.

Karena Agama mempunyai dimensi yang bertingkat, pemahaman terhadap agama juga memiliki tingkatan masing-masing. Surga yang dijanjikan oleh Allah pun dipahami secara berbeda. Ada yang memahami secara tekstual, apa yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadist diartikan secara harfiah, sehingga tergambar surga dalam bentuk visual, rumah yang indah, kasur yang cantik, tanaman yang berbuah sepanjang masa dan tentu saja lengkap dengan bidadari-bidadari yang cantik. Gambaran surga secara apa adanya dari teks ini yang disebut oleh Abu Yazid sebagai “surga anak-anak” dan Rabi’ah Al-Adawiyah berani menolaknya. Abu Yazid al-Bisthami ketika berada dalam puncak kegembiraan, dia berbisik, “Apakah itu surga? Surga hanyalah mainan dan kesukaan anak-anak. Aku hanya mencari Dzat Allah. Bagiku surga bukanlah kenikmatan yang sejati. Dzatnya menjadi sumber kebahagiaanku, ketentraman yang menjadi tujuanku.

Sementara kaum bijak memaknai surga adalah pancaran dari cahaya Allah swt yang masuk ke dalam qalbu orang beriman, sehingga hidupnya akan menjadi surga yang abadi. Surga pada hakikatnya adalah beserta dengan Allah karena seperti yang di jelaskan dalam hadist bahwa kenikmatan tertinggi penduduk surga adalah memandang wajah Allah. Jadi surga itu bukan di peroleh setelah mengalami kematian sebagai yang dipahami secara tekstual oleh sebagian besar orang. Surga itu harus selesai di dunia, harus di dapat dunia sehingga tidak menjadi bahan tebak-tebakan lagi dalam hidup, tidak menjadi seperti permainan judi, untung atau rugi, surga atau neraka.

Kaum sufi dan pengamal tarekat dalam keseharian tidak pernah membicarakan tentang surga, hanya membicarakan tentang Tuhan semata. Barangkali karena mereka merasakan rohani mereka telah berada disana, di dalam kenikmatan abadi yang berasal dari sisi Allah. Seperti ucapan seorang Guru Sufi, “Kita ini adalah orang-orang akhirat yang sedang bermain-main di muka bumi”.

Barangkali benar bahwa dunia ini hanyalah tempat bermain semata. Bermain tentu bagi orang yang telah selesai dengan segala urusannya. Bagi yang belum selesai maka jangan coba-coba bermain karena waktu sangat terbatas, selesaikan dulu segala kewajiban baru boleh bermain dengan suka hati.

Tidak ada orang yang menolak surga, termasuk kaum sufi tapi kita harus sepakat dulu tentang makna dari surga. Kalau surga hanya melulu tentang bidadari yang membangkitkan syahwat seperti yang sering kita dengar ceramah para pendakwah, barang kali biarlah surga yang dijanjikan itu untuk orang yang memang sangat bernafsu. Kalau surga yang dimaksud adalah air jernih, kolam indah, susu, madu dan lain-lain, mari bersungguh-sungguh berbisnis di dunia karena kalau anda kaya raya semua itu akan bisa anda dapat di dunia ini.

Dan kalau surga yang dimaksud adalah beserta dengan Allah dimana hamba selalu berada dalam “pangkuan-Nya”, cahaya Ilahi mengalir keseluruh tubuh sehingga mampu memadamkan neraka dalam dirinya sehingga kedamaian selalu ada di hati dari dunia sampai akhirat, barangkali kita semua akan berusaha menggapainya lewat mujadah, perang terus menerus melawan hawa nafsu yang selalu menjadi penghalang antara kita dengan Sang Kekasih. Ketika kemenangan dicapai, dimana saling berpandang-pandangan antara yang dirindui dengan para perindu, perang pun akan terus berlanjut, perang mempertahankan hubungan dengan Sang Kekasih agar tidak tercampak keluar dari rahmat-Nya, sebagaimana kisah pahit yang pernah dialami oleh leluhur semua manusia yaitu Adam as.

Semoga tulisan di hari Jum’at penuh berkah ini bermanfaat untuk semua, amin ya Rabbal ‘Alamin!

Single Post Navigation

14 thoughts on “Surga Anak-anak

  1. Terima kasih atas ulasannya, memperluas pengertian tentang konsep pahala dan dosa.

  2. Subhanallah, terimakasih atas pencerahannya bangda Sufi Muda…

  3. muhammaddthebjo on said:

    as-salamu’alaikum wr wb,,,? bang apakah menghadirkan mursid itu tidak menyukutukan ALLAH swt. LAA SARIYKALAHU WA BIJALIKA UMIRTU WA ANAMINAL MUSLIMIIN. tidak ada sekutu baginya dan dengan itu aku diperentah kan tidak menyekutukan nya, dan aqu dari golongan org muslim. trimakasih jwbnya.

    • Wa’alaikum salam
      Tidak, para sahabat menghadirkan wajah Rasulullah dalam ibadahnya, ummat setelah Nabi menghadirkan wajah ulama pewaris Nabi.

      Penjelasannya panjang, coba search kata mursyid di atas, banyak artikel2 yg saya tulis menjelaskan ttg mursyid.

      • dwisaputra on said:

        mohon maaf tuan sufi… menghadirkan mursyid kalau menurut pendapat yang saya pahami ingat ajaran yang diajarinya… dalam beramal dan beribadah…. maafkan saya yang dhoif ini…

        • Pengamal tarekat memahami menghadirkan Mursyid sebagai Rabithah Mursyid, menggabungkan rohani murid dgn rohani Guru. Rabithah dalam pelaksanaan sederhananya dgn mengingat…
          Mengingat Guru Mursyid.
          Untuk memahami lebih tepat ada baiknya langsung berguru kepada Guru Mursyid sehingga semuanya menjadi jelas.
          Yang tidak bisa diserupai oleh setan adalah wajah ulama pewaris Nabi, kalau amalannya masih bisa di tiru.
          Demikian

  4. subhanallah, ya ALLAH tunjukanlah kami jalan yg luruS
    yaitu jalannya orang-orang yg kau beri nikmat.bukannya jalan orang-orang yg kau murkai. dan bukan pula jalannya orang-orang yg sesat.aamiin

    trimakasih bang sufi pencerahannya.

  5. Maksih bnyak tuan sufi ,,smg dalam pengabdianku padanya tidak karna mengharap imbalan yg dia janjikan ,tp semata2 mengharap cintanya amiin ,jazakallah ,,slm tuan sufi

  6. Bang SM;
    terima kasih, artikel yg mencerahkan, sekaligus mencemaskan…. 🙂

    sekedar ulasan untuk yg ini:
    “…..agar tidak tercampak keluar dari rahmat-Nya, sebagaimana kisah pahit yang pernah dialami oleh leluhur semua manusia yaitu Adam as….”

    saya pernah baca terjemahan buku M. Iqbal *, “Reconstruction of Religious Thougth in Islam”… ada bbrp hal yg saya pahami terkait komentar Abang yg saya quote di atas,

    dicampakkannya Adam as. dari surga (jannah) tidak dipandang sebagai suatu kejatuhan (nasrani memahaminya sebagai dosa asal). tapi justru kejatuhan itu lebih merupakan kebangkitan.

    kebangkitan manusia dari wujud primitif nya menjadi manusia yang merdeka dan bebas yang mampu bersikap ragu dan membangkang.
    tindakan Adam as. adalah bentuk tindakan pembangkangan pertama oleh manusia terhadap perintah Allah.

    pembangkangan Adam as. ini juga merupakan tindakan pertama manusia melakukan pilihan bebas. (free will). itulah sebabnya pelanggaran Adam as. ini diampuni oleh Allah. (QS Al A’raf 19 – 25).

    bumi tempat Adam as. dicampakan dari surga, bukan lah suatu kancah penyiksaan. tempat dimana manusia secara kodrat adalah jahat dan dipenjarakan akibat dosa asal (sebagaimana intepretasi nasrani).

    *) M. Iqbal adalah cendekia islam dari india (1877-1938), terkenal dengan sebutan Nietzsche dari timur.

  7. Ruslianto on said:

    Qur’an Suraah At Taubah ayat 72 ;
    Wa’adallahul mu’miniina wal mu’minat jannatin tajri min tahtihal anhaaru khalidina fiiha wa masaakina tayyibatan fi jannati ‘adn(in), wa ridwaanum minallahi akbar(u), zalika huwal fauzul ‘azim(u).

    Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga “Adn. sedangkan keridaan dari Allah (itu) adalah lebih besar.Yang demikian itulah satu kemenangan yang besar.

    LEBIH TINGGI DERAJAT RIDHO ALLAH DARI PADA SORGA.

    Para Pengamal Tarekat tidak mencari Sorga tapi Mengharap Ridho Allah, karena didalam keridhaanNYA meliputi Sorga Yang Ta’ Terhingga.
    Memang cerdas pengamal tarekat itu ?
    Wass.

    • Maaf lahir batin, Bang Rusli, Bang SM dan Abang-abang yang lain…
      senang bisa join lagi setelah lama off…

      jadi ridho Allah adalah indikator nya ya, Bang…
      seindah-indahnya surga adalah jika mendapat keridhoan Nya, dan lebih menakutkan dari neraka jika tidak mendapatkan ridho Nya…

  8. Masya Allah, artikel yg menyentuh,

  9. Masya Allah, artikel yANg cukup menyentuh,

  10. Subhanallah,,mohon doanya supaya setan dan iblis yg menghalangi orang ibadah diusir dari hati sy,,
    Sy tidak lancar mengaji, rata2 sy mengaji lewat dakwah yg tertulis,tetapi sy punya Guru Ruhani sehingga sy terbimbing untuk memahami ilmu yg dibahas disini..
    Salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: