Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Belajar Dari Taubat Abu Nawas

 

Dalam Eknsiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam diterangkan bahwa Abu Nawas sebenarnya lebih dikenal sebagai sastrawan kondang, yang nafas-nafas kehidupannya ia habiskan di Istana Harun Al-Rasyid dengan segala kemewahannya. Dalam blantika sastra nusantara, ia tampil sebagai sosok yang jenaka, cerdas dan kaya dengan humor-humornya yang segar.

Abu Nawas, atas wasiat orang tuanya yang menjadi seorang penghulu, dipesan agar mencium telinga ayahnya apabila saat kematiannya tiba. Jika membersit bau harum yang menyenangkan, teruskanlah profesi orang tua sebagai penghulu. Tapi jika keluar bau busuk yang membuat orang muntah, maka jauhilah profesi itu untuk selama-lamanya. Ketika sang ayah wafat, bau busuklah yang keluar dari telinganya. Dengan itu Abu Nawas itupun enggan menjadi penghulu, biarpun Khalifah Harun Al-Rasyid memintanya.

Dalam cerita lain juga disebutkan bahwa nama lengkap Abu Nawas adalah Al-Hasan bin Hani Al-Hakami. Dia adalah seorang sastrawan istana, kelahiran di Ahwas, Iran, tahun 130 Hijriah/747 Masehi. Ibunya seorang wanita miskin yang bekerja sebagai tukang cuci kain wol yang terbuat dari bulu domba. Sedangkan ayahnya adalah seorang serdadu Dinasti Bani Umayyah pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad, Khalifah pemungkas pada Dinasti ini.

Karena lahir di Ahwas, Abu Nawas merasa dirinya lebih seorang Persia daripada seorang Arab. Padahal sebagian besar hidupnya berada di beberapa kota yang kental dengan kebudayaan Arab, Bashrah, Kufah dan Baghdad. Ia bahkan pernah tinggal ditengah-tengah masyarakat Badui di tengah lautan padang pasir dengan tujuan agar dia dapat merasakan nilai-nilai sastra Arab yang asli. Kepenyairannya sudah terlihat sejak usia dini berkat bimbingan seorang penyair berbakat, Waliban bin Al-Hubab dan Khulaf Al-Ahmar. Ia pun belajar Al-Qur’an dan Hadist secara tekun seperti lazimnya anak-anak pada masa itu.

Kepenyairannya telah mempengaruhi jalan hidupnya. Sungguh pun sejak kecil mendapat ganjaran agama yang baik, ternyata Abu Nawas tampil sebagai seorang penyair yang “hura-hura”. Ia salah seorang penganut faham hedonisme, yaitu faham yang lebih mengutamakan kesenangan dunia semata-mata. Lidahnya sering terpeleset. Tidak segan-segan Abu Nawas mempelesetkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dia pun, karena ulahnya itu pernah diajukan ke pengadilan, karena tuduhan menghina Al-Qur’an. Salah satu bait syair yang dinilai menghujat Al-Qur’an itu adalah sebagai berikut:

Biarlah mesjid-mesjid itu dipenuhi oleh orang yang shalat

Ayolah kita minum khamer sepuasnya

Tuhan pun tak pernah mengatakan “Neraka Wail bagi para pemabuk”

Tuhan hanya berfirman “Neraka wail bagi orang yang shalat”.

Dengan sikapnya yang keterlaluan itu menimbulkan kemarahan umat. Abu Nawas dipandang telah melecehkan agama dan akan dijatuhi hukuman mati. Beruntunglah pada saat itu khalifah yang berkuasa, Harun Al-Rasyid yang bijaksana memberi grasi pada Abu Nawas dan masih memberikan kesempatan taubat.

Abu Nawas termasuk seorang penyair yang bergajul, namun pada akhir hayatnya ia bertaubat dari segala dosa-dosanya. Ia mengaku secara tulus di hadapan Tuhan tentang dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Pengakuan tersebut disenandungkan lewat sebuah syair berikut:

Oh, Tuhanku,

aku tak layak menjadi penghuni surga

Tapi, aku tidak tahan di neraka jahim

Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku,

Sebab Engkaulah Maha Pengampun dari dosa-dosa besar

Tuhan, dosaku bagaikan bilangan pasir

Berilah aku kesempatan taubat Wahai Yang Maha Agung

Sementara umurku selalu berkurang tiap hari,

Malah dosaku terus bertambah, bagaimana aku menanggungnya?

Tuhanku,

Hamba-Mu yang penuh dosa kini telah datang pada-Mu mengakui dosa-dosanya dan memanggil nama-Mu

Jika Engkau ampuni, dan Engkau berhak mengampuninya

Sekiranya Engkau tolak,

Siapa lagi yang kami harap selain Engkau?”

Itulah lantunan syair Abu Nawas dalam pengakuannya terhadap segenap dosa yang pernah dengan sengaja ia perbuat. Suatu pengakuan yang benar-benar keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Suatu penyesalan yang benar-benar tumbuh dari hati yang sadar akan kelalaiannya.

Dari lantunan syair Abu Nawas tersebut, satu pelajaran yang paling berharga yang dapat kita petik adalah bahwa suatu pertaubatan memang harus terlahir dari kedalaman hati yang telah benar-benar mengakui bahwa ia adalah sang pendosa, tak bisa luput darinya, yang secara sengaja maupun tidak telah melakukannya. Dari sini, maka dalam taubat unsur kesadaran harus dijadikan pondasi pertama. Bisa dilihat, dalam syair tersebut betapa seorang Abu Nawas telah sadar betul akan segala kekurangan, kejahatan dan keburukan dari segala perangai hidupnya. Dia sadar karena kondisi diri yang seperti itu, dia tidak pantas sama sekali untuk mendapatkan Firdaus sebagai balasan baik bagi orang-orang shalih. Dia sadar sepenuhnya bahwa banyaknya dosa yang dia lakukan, banyaknya keburukan yang ia sandang dan banyaknya kelalaian yang dilakukan tidak menjadikannya pantas menjadi ahli surga, yang walaupun jika Tuhan dengan segala kemurahan hati-Nya telah memasukkan dia kedalam taman harapan abadi tersebut.

Dan kalau kita mau sadar dengan sesungguhnya, tidak hanya seorang pendosa saja yang tidak pantas saja yang tidak pantas mendapatkan surga Allah itu, juga kita yang selama ini menganggap diri sebagai orang baik-baik tidak pantas mendapatkan tempat tersebut. Apa yang bisa kita banggakan dari diri kita, amal perbuatan dan keistimewaan kita sehingga kita yakin betul bahwa kita sangat pantas untuk menghuni surga? Apakah amal perbuatan kita? Sekali-kali tidak! Berapa banyak amal perbuatan kita yang itu bisa dijadikan ongkos masuk surga. Antara amal perbuatan manusia dengan kenikmatan yang akan diperoleh di dalam surga sesungguhnya tidak sebanding. Bahkan jika kita hitung, seandainya seumur hidup kita hanya melakukan peribadatan tersebut kita ukur dengan berapa banyak kenikmatan di akhirat kelak. Berapa banyak pahala shalat yang telah kita kumpulkan, sementara itu berapa banyak pula kenikmatan Allah yang diberikan secara cuma-cuma, bahkan tanpa diminta yang berupa udara yang setiap detik kita hirup. Berapa banyak telah kita kumpulkan pahala-pahala puasa, zakat, haji, bersedekah, berbuat baik terhadap orang lain, mengaji, mengajar dan berbakti kepada orang tua tapi betapa banyak pula karunia Allah yang telah kita peroleh yang berupa hidup dengan segenap fasilitasnya yang semuanya diperuntukkan buat kita. Sungguh itu tidaklah sebanding. Dan hal itu disadari sungguh oleh Abu Nawas. Dalam hati yang peling tulus dia mengakui betul bahwa dia bukanlah seorang hamba yang pantas menghuni tempat surga itu, yang walau dia mempunyai pahala sebanyak lautan dan sebesar pegunungan.

Suatu saat Nabi bersabda,”Kalian tidak masuk surga lantaran amal perbuatan kalian!”

Tidak juga kau, Nabi?” tanya salah satu sahabat.

Aku juga tidak, kecuali aku masuk surga dengan lantaran rahmat-Nya”.

Banyaknya pahala ternyata tidak bisa menghantarkan seorang hamba untuk bisa memasuki surga. Banyaknya pahala ternyata bukanlah satu-satunya jaminan yang bisa dibanggakan untuk mendapatkan kenikmatan surga. Lantas, pantaskah kita yang masih banyak bergaul dengan kamaksiatan dan selalu bergumul dengan kesalahan itu menduduki tempat yang dijanjikan oleh Allah untuk para kekasih-Nya itu?

Satu sisi Abu Nawas sangat menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang ideal untuk masuk surga, tetapi pada sisi yang lain pun ia sadar dengan sepenuhnya bahwa dia tidak kuat untuk menanggung bebas siksa yang akan dijalaninya di neraka. Satu kesadaran bahwa dia benar-benar banyak dosa dan satu pengakuan bahwa dia tidak akan kuasa menerima siksa. Lantas, apakah yang bisa dilakukan oleh seorang Abu Nawas dalam kondisi seperti itu?

 

Bersambung….

 

Single Post Navigation

48 thoughts on “Belajar Dari Taubat Abu Nawas

Navigasi komentar

  1. Ya…Tuhan..

    Ampunilah segala dosa-dosaku…
    Pahalaku sangat sedikit….

    Tanpa Rahmat Mu…
    aku bukan apa-apa..

  2. quantumillahi on said:

    Terima kasih bang Sufimuda untuk terus mengingatkan kita agar selalu memperbaiki niat kita dalam mengabdi kepadaNYA

  3. hamba'79 on said:

    Tuhan..Oh Tuhan..
    Kemana saja boleh asal bersama-MU
    Apa saja boleh asal dengan-Mu
    Siapa saja boleh asal ada-Mu
    Buat apa saja boleh asal untuk-MU
    Tuhan…oh Tuhan…

  4. Terima kasih Bang Sufi Muda……….

    Sungguh sebuah pelajaran bermakna bagi kami untuk selalu intropeksi diri ….

    Mohon diluruskan niat kami Tuhan…..

  5. jelatang on said:

    ya TUHAN….mohon ampuuuuuuun beribu-ribu ampun….

  6. gotengs on said:

    Astaghfirullahalazim..minta ampun aku akan ALLAH,sesungguhnya ALLAH sangat pengampun lagi pengasih,lagi penyayang.Minta ampun aku sekalian dosa aku,dosa lahir dn dosa bathin…

  7. sufi gila on said:

    salam cinta dan damai saudaraku

    marilah kita kembalikan semangat kita untuk berjalan bersama …. beriringan …. menebarkan dzikrullah di muka bumi … dg perkenan seluruh ahli silsilah …. dg syafaat seluruh ahli silsilah ….. dengan meminggirkan perbedaan mencari persamaan dan bersatu padu mewujudkan cinta dan damai di bumi nusantara ini … biarlah kita kembalikan semua pada hukum Allah … mereka yang memang berkhianat pastilah akan mendapat murka Nya …. mereka yang hanya mengaku ngaku sebagai rantai silsilah pasti akan mendapat peringatan …..

    wahai saudaraku … inilah seruan bagi semua …. kalianlah penerus visi dan misi seluruh ahli silsilah berapapun kadar kalian masing2 …. apakah dari jalur imam Abu Bakar ataukah Imam Ali …. itu bukan masalah karena intinya adalah sampai kehadirat Allah melalui wajah kekasih Nya … kalaulah di zaman Rasul pewaris itu begitu banyak maka zaman ini juga begitu …. manakah yg Qutub itu bukan masalah kita …. masalah kita adalah patuhlah pada hati nurani kita yg dihiasi dengan dzikrullah ….

    maka bila rumit permasalahan kita …. berdzikirlah dan bertanyalah pada Allah … berpuasalah maka Allah akan tunjuki jalan …. Allah tahu siapa utusan Nya yg paling pas untuk mendampingi kita masing2

    salaaaaaaaam damai

  8. Ibnu Turob on said:

    Ya Allah…..
    apalah artinya surga jika ENGKAU murka kepadaku…
    dan apalah artinya neraka jika ENGKAU tetap menyayangiku…

    Ya Allah…
    jadikanlah rasa cinta dan rasa takut ini hanya kepadaMu, bukan kepada makhluqMu,
    bukankah surga dan neraka adalah makhluqMu..

    jadikanlah kejelekan-kejelekan yang hamba perbuat,
    sebagai kejelekan orang yang ENGKAU cintai…
    dan janganlah ENGKAU jadikan kebaikan-kebaikan yang telah ENGKAU berikan,
    sebagai kebaikan orang yang ENGKAU murkai..

    Ya Allah…
    hamba yaqin, sebesar apapun dosa yang telah dan akan hamba perbuat, tak akan mampu menandingi besarnya kasih sayangMu kepada hamba-hambaMu
    apalah artinya pahala yang ENGKAU berikan, jika ENGKAU murka kepad hamba.

    Ya Allah….
    ampuni selalu hambaMu yang terus berbuat dosa ini..
    tumbuhkan rasa cinta yang HAQ dihati hamba yang sedang belajar untuk mencintaiMu ini…
    karena hamba yaqin cinta hamba ini tadak akan bertepuk sebelah tangan.

    Ya Allah….
    ampuni hambaMu ini,
    karena ENGKAU pasti mengetahui bahwa cinta hamba ini terkadang masih terbagi.

    Ya Allah…
    hanya ENGKAUlah yang hamba inginkan, dan ridhoMulah yang hamba minta,

  9. Ibnu Turob on said:

    Mas SM,
    si Turob yang lemah ini selalu menantikan bimbinganmu.
    baik via email maupun melalui Blog yang di berkahi Allah ini.
    salam,
    turobulaqdam@gmail.com

  10. Ibnu Turob on said:

    bagaimana mungkin seorang hamba yang lemah yang tidak mungkin bisa melakukan amal sholeh tanpa pertolonganNya ini minta balasan setinggi surga?
    ya Allah…, sungguh kita ini memang tak tahu diri,
    bukankah bisa beramal sholeh saja sudah merupakan surga bagi kita?
    sungguh ENGKAU memang Maha Pemberi.

    smoga aku bisa selalu berKHOLWAT di Blog yang penuh Rahmat ini.

  11. Saudaraku Ibnu Turob…
    Sungguh doanya sangat menyentuh hati, begitulah seorang hamba bersikap kepada Tuhannya, harus selalu merasa bersalah dan terus menerus memohon ampunan-Nya.
    Rasulullah SAW orang yang telah pasti masuk surga sehari semalam senantiasa selalu memohon ampun kepada Allah.

    Surga yang sebenarnya tidak lain selalu berserta dengan yang punya Langit dan Bumi yaitu Allah SWT

    Guru Saya pernah memberikan nasehat, “Orang yang merendah akan ditinggikan dan orang yang merasa tinggi akan akan direndahkan”.

    Itulah sebabnya kenapa Nabi Musa pada awalnya tidak bisa melihat Tuhan karena masih bersemanyam Gunung keangkuhan dalam dirinya. Setelah Gunung itu lenyap maka lenyap pula hijab bashiriyah yang menghalangi Beliau melihat Tuhan.

    Terimakasih saudaraku sudah mampir disini dan telah memberikan komentar dan doa yang luar biasa, Insya Allah kita akan selalu bisa saling silaturahmi, dan terima kasih alamat emailnya, saya akan segera menyapa….

    Salam

  12. ajak-ajak on said:

    Sungguh kalimah taubat orang-orang yang SUDAH mengenal dan bertemu denganNYA akan jauh lebih menyentuh qalbu dibandingkan puisi dan lagu ataupun ceramah manapun.

  13. abdul salam on said:

    Ya rohman
    Betapa banyak janji yang telah kami ingkari, betapa banyak kemunafikan dan kelalaian dalam selalu mengingatMu.
    Ya Rohim
    perkenankanlah hati kami untuk bisa membalas cintami dengan cinta yang sebenar-benarnya.Bukan hanya dilisan dan di kulit hati saja, bukan pula hanya di langit2 hati kami.
    Karuniakanlah kami cinta, dan cinta itu memancarkan cahaya kehangatan yang masuk ke segala lorong hati.
    Ya Alloh jagalah hati kami, istiqomah kami, keikhlasan kami untuk mengarahkan segala hati, perasaan, pandangan, ingatan dan pikiran kita hanya tertuju padamu
    Cinta padaMu adalah karunia terbesar.
    DAn kebahagiaan hakikilah yang didapat bila bisa benar2 cinta padaMu
    Kabulkanlah janji kami ini Tuhanku.Karena sesungguhnya diri ini hanya kosong.Hanya makhluk dan hanya lapangan takdirmu
    Amalku karena kehendakMu
    Imanku karena kehendakMu
    Surga,neraka juga kehendakMu
    Wahai sang pembolak balik hati
    Sesungguhnya tiada lagi yang bisa kuharapkan tiada lagi yang aku inginkan
    Bila cintamu sudah terbuka dan begitu jelas untukku
    Jagalah aku selalu Tuhanku, karena yang menggerakkan setiap hati untuk bisa cinta padaMu hanya Engkau sendiri

  14. seorang adik pernah berkata kepadaku,

    “surga itu harus dibeli kak.
    dibeli dengan pengorbanan,
    darah,
    dan air mata”

    aku menjawab:

    “bagaimana mungkin seorang hamba
    yang pada hakikatnya adalah milikNya semata
    dapat bersombong diri
    untuk membeli sesuatu dariNya?”

    Allohu Alam Bisshowab

  15. kangBoed on said:

    Siapakah diri kita ini ???
    Sehingga dengan sombongnya selalu mengaku ngaku…
    Selalu merasa rasakan ya ya ya merasa…. segalanya

    Padahal semua sudah tertulis berjuta tahun yang lalu
    Kita ini cuma dagelan alias khayalanNYA
    Semua terjadi menurut alur cerita skenario DIA

    Semua hanya menuruti qudrat dan iradat NYA
    sehingga segala sesuatu hanya bisa terjadi karena ijinNYA
    tak ada peran kita disana dalam menentukan

    Itulah bagi yang mau berfikir tentang diri
    Akhirnya Mengerti sejatinya diri kita adalah…….
    yayaya… La Hwalla Walla Quwata……….

    Dalam ketak berdayaan dibutuhkan pegangan yang kuat
    Dalam ketidak mampuan ditarik oleh Yang Maha Mampu
    Dalam kelemahan dan kekosongan datanglah ketenangan jiwa

    Tumbuhlah pohon CINTA dalam kesejatian diri
    Terbit bagai mentari pagi pancaran Nur IMAN
    Sebagai penerang langkah dalam menyelesaikan tugas disini

    Inilah langkah pemurnian sejati
    demi mencapai sejatinya Lahwalla walla Quwatta
    Hilang lenyap dalam pelukan Sang KEKASIH

    Dan kembalinya hanya Untuk menjalankan sebuah Dharma
    Berbekal akhlakul kharimah yang terbit dari kesadaran diri sejati
    Untuk berkarya dan mencipta demi kebersamaan..

    Salam Sayang Saudaraku

  16. bang sufi muda ada yg bilang cerita abu nawas itu bohong cuma karangan aja.

  17. Tolong beri aku saran, bagaimana mengatasi diri yang sulit bertaubat? Inilah yang terjadi padaku. Menyesal itu selalu ada. Tapi beberapa waktu setelah penyesalan itu, aku justru kembali ke maksiat. Aku merasa mengekang nafsu itu terlalu sulit. Allah akan selalu menerima taubat kita bukan? Tetapi aku sebagai hambaNya justru tidak tahu diri dengan mengulang-ulang kesalahan yang sama. Apakah itu berarti aku mengolok-olok Tuhanku sendiri?

  18. ajak-ajak on said:

    @Irman
    Ada ayat .. kemanapun kau memandang, kebarat atau ketimur disana ada wajah Allah.
    Kalau anda sudah pernah bertemu dengan Allah, aplikasi ayat ini akan terasa. Bukan cuma sekedar ‘merasa’ diawasi Allah. Tapi benar2 menyaksikan Allah mengawasi kita. Dengan demikian kita akan benar2 dijaga setiap terpancing ingin berbuat maksiat, baik maksiat lhir maupun batin.
    Selama nyawa belum melewati kerongkongan, pintu taubat selalu terbuka bagi yang benar2 memohon ampunanNYA. Itulah ke Maha Pengasih dan Maha Penyayang nya Allah. Tapi jangan lupa, ALLAH MAHA PENCEMBURU dan MAHA PEDIH SIKSANYA.

    Jadi, temukan dulu cara/jalan untuk bisa menjumpai Allah,

  19. kangBoed on said:

    @ ajak-ajak
    Kalau anda sudah pernah bertemu dengan Allah, aplikasi ayat ini akan terasa.
    ————————————————————————–
    Mau duunnnkkk ketemu ALLAH
    AJAK-AJAK dunk kalo mo ketemuan lagi
    Seperti apa yaaaa ???

  20. ajak-ajak on said:

    kangBoed,
    hehehe,, saya aja diajak kok. Tanya dulu sama yg ngajak saya, boleh gak … 😛
    rasanya seperti menghisap rokok…:D

  21. kangBoed on said:

    waaah mas Ajak Ajak tulung ajak ajak saya dunk… tanya ya sama yang ngajaknya yayaya boleh tuuh katanya ajak ajak saya ,, ooo… Allahnya lagi ngisap rokok… eee rasanya seperti menghisap rokok.. kok berarti saya khan perokok berat tuh waaah apa begitu yaa… mohon bocorannya dunk buat yang dah bertemu Allah kalau boleh saya juga pengen tahu Allahnya ada dimana, bentuknya seperti apa kaya kita atau kaya apa yaaa… jelasin ya mas ajak ajak biar saya gak bodoh terus nih kepala rasanya membayangkan Allah yang bathil terus khan sekali kali pengen tahu mendengar orang kok bisa ketemu dengan ALLAH yang HAQ pleaaaaaseee
    Salam Hormat

  22. ajak-ajak on said:

    hahahaha,,,, boleh juga kangBoed.. Lucu… lucu.. (serius aku ketawa baca koment nya) heheheheh…

  23. kangBoed on said:

    kok katanya dah ketemu ALLAH… eee malah ngetawain yang oon gimana sih sampeyan entu…

  24. @ajak2 &kang Boet. Mbok ya o a

  25. ga_percaya on said:

    Melihat Allah itu bukan dengan mata kepala tetapi dengan mata hati. Hati yang belum bersih dari mazmumah ga akan bisa “melihat” Allah.

    BOHONG aje ente-ente smua sudah bisa melihat Allah. karena saya merasa ente-ente yang ngakunya sudah melihat Tuhan masih sama dengan saya: masih banyak mazmumah di hati. BOHONG BESAR.

  26. ajak-ajak on said:

    kangBoed,
    kok katanya dah ketemu ALLAH… eee malah ngetawain yang oon gimana sih sampeyan entu…
    ———————————————————–
    Koment saya yang mana ya yang bilang saya dah ketemu Allah? Kan dah kangBoed tulis diatas yg saya bilang:
    Kalau anda sudah pernah bertemu dengan Allah, aplikasi ayat ini akan terasa.

    Itu kan saran buat Irman, kalau mau terasa ya bertemu Tuhan dulu. Nah, saya sudah bertemu atau belum, hehehe,, urusan saya sama Tuhan saya kang.
    Yang jelas saya juga diajak kok. 😛

    ga_percaya,
    Melihat Allah itu bukan dengan mata kepala tetapi dengan mata hati. Hati yang belum bersih dari mazmumah ga akan bisa “melihat” Allah.
    ————————————————————–
    So pasti itu saudara. Allah Maha Suci, dan kalau mau bersama yg Maha Suci sudah tentu ga boleh kotor. Dan harus bersih seistilahNYA pula, bukan seistilah makhlukNYA.
    Mengenai hati masih banyak mazmumah atau nggak, bukan hak siapapun tuk menilai. Tapi kalau anda merasa berhak ya silahkan, toh bukan hak saya pula tuk melarang.

    …………”karena saya merasa ente-ente yang ngakunya sudah melihat Tuhan masih sama dengan saya: masih banyak mazmumah di hati. BOHONG BESAR.”……………
    Seandainya anda belum mengenal TV trus saya katakan bahwa saya dari Jakarta bisa menonton sepak bola di Barcelona secara langsung, sudah pasti anda akan bilang BOHONG BESAR. Begitu anda pernah menonton TV barulah anda akan mengakui perkataan saya.

    Saya jadi ingat kisah setelah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sayyidina Abu Bakar bilang: Semua yang dikatakan Nabi Muhammad adalah kebenaran.
    Tapi ada tokoh arab kala itu yang tegas2 tanpa tedeng aling2 menyatakan: BOHONG BESAR.

  27. kangBoed on said:

    wah mas AJAK AJAK komentar sampeyan entu embulet yaa mutar mutar bikin bingung yang bodoh kaya saya…
    ———————————————————————————
    @ajak ajak
    Kalau anda sudah pernah bertemu dengan Allah, aplikasi ayat ini akan terasa. Bukan cuma sekedar ‘merasa’ diawasi Allah. Tapi benar2 menyaksikan Allah mengawasi kita. Dengan demikian kita akan benar2 dijaga setiap terpancing ingin berbuat maksiat, baik maksiat lhir maupun batin.

    hehehe,, saya aja diajak kok. Tanya dulu sama yg ngajak saya, boleh gak … 😛
    rasanya seperti menghisap rokok…:D
    ———————————————————————————
    waaaah bingung dah…. terserah sampeyan aja kok mutar mutar begitu… bukannya ngasih pencerahan… bolak balik aja terserah aaah mending rokokan dulu ….

  28. ajak-ajak on said:

    @kangBoed.
    Lah salahnya dimana? Tolong dibenerin donk…
    Kan “Kalau sudah … maka… ” Saya ndak ngaku2 sudah atau belum kok. Saya diajak. Jadi atau tidak, ikut atau tidak, sudah atau belum, ya lain soal.

    Saya juga lagi rokokan kok,, kita rokokan bareng ya..

  29. Rokokan tok gak no kopi + cemilanya.Kurang enak.Entar klo uborampenya dah lengkap aku ikut oon….Kwakakakaka

  30. Rokokan tok gak no kopi + cemilanya.Kurang enak.Entar klo uborampenya

  31. ajak-ajak on said:

    hehehe,, lek istilah batavia ne: kupi ame ruti. Sesama oon dilarang saling mendahului kan? xixixixixiix

  32. kangBoed on said:

    Ya udah ah, mas Musafir Gendeng kapan sampeyan keBandung hahaha…. ya udah terserah mas AJAK AJAK aja yang jelas kalau mo bertemu ALLAH lagi AJAK AJAK saya yaaa khan saya juga pengen tahu tuuuh….

  33. ajak-ajak on said:

    sip kangBoed. Siap2 aja setiap waktu sholat. Kalo di ACC, kita mi’raj bareng yuk.

  34. kangBoed on said:

    waaaaaah sampeyan entu ………. ya udah kalo ketemu Allah lagi kasih tahu ya …yayaya semoga di ACC yaa biar bisa ikut sampeyan mi’raj ketemu ALLAH weleh weleeeeh mau mauuu mauuuuu….. AJAK AJAK ya….

  35. Sebenarnya aku pengen curhat banyak seputar islam. Untuk anda yang telah menjawab pertanyaanku, boleh tidak kalau minta nomor HPnya? Tujuanku untuk tempat curhat saja dan menanyakan solusi dari masalah-masalahku. Kalau boleh, tolong dikirim ke emailku : irman.spras@gmail.com. Aku tidak ada tujuan negatif. Tolong ya. Karena aku masih butuh pembimbing.

  36. WAAAAH POSTINGAN GUE DIHAPUS 4 BIJI….. WAH GAK FAIR TUH…. SAYA HANYA TANYA SIAPA SAJA YANG BILANG PERNAH BERTEMU ALLAH JANGAN BUAT KEBOHONGAN PUBLIK…. SILAHKAN JELASKAN DENGAN SEJELAS JELASNYA DAN SEGAMBLANG GAMBLANGNYA JANGAN BISANYA NGAKU NGAKU DOANG DAN NGIBULIN ORANG SAJA……. SILAHKAN DI HAPUS LAGI BUNG SUFI MUDA,……..
    ___________________________
    SufiMuda Menjawab :
    Masalah Fair tidak Fair itu tergantung penilaian pribadi.
    Alasan Kenapa 4 komentar anda saya Hapus?

    Pertama
    Anda membuat komentar dengan isi yang sama sebanyak 4 buah di empat tempat dengan isi yang sama. Bukankah itu kurang bermanfaat?
    Bersama komentar di atas anda juga menulis komentar yang sama dua buah lagi di tempat berbeda,
    Dan Komentar anda di tempat yang salah. Kalau anda ingin berkomentar tentang melihat Allah lebih tepat di artikel :
    https://sufimuda.wordpress.com/2008/05/22/bisakah-melihat-allah/
    https://sufimuda.wordpress.com/2008/07/02/seputar-masalah-melihat-allah/
    https://sufimuda.wordpress.com/2008/09/12/allah-maha-nyata-ad-dzahir/
    Bacalah terlebih dahulu artikel2 di atas sebelum anda berkomentar.

    Kedua
    Cobalah anda baca lagi komentar yang anda tulis sebelum anda posting disini, renungkan dulu dan resapi dalam hati agar komentar anda enak di baca dan bermanfaat. Menurut saya Anda bukan ingin bertanya dan mencari kebenaran tapi hanya sekedar iseng melepaskan rasa tidak senang dengan pengamal Tasawuf. Kata-kata “Kebohongan Publik” itu terasa lucu bagi saya.
    Kalau anda beriktikat baik dan memang ingin mengetahui rahasia orang-orang yang telah Bermakrifat, saya yakin lebih memilih mengirim ke email saya daripada membuat komentar dengan huruf besar dengan kata-kata provokatif.
    Anda kurang yakin dengan Melihat Allah?
    Bukan hanya anda di dunia ini yang tidak yakin dengan itu, Ulama pun berbeda pandangan terhadap masalah ini. Sedikit sekali manusia yang diberi petunjuk oleh Allah untuk bisa sampai ke Makrifat.

    Ketiga
    Sudahkah anda pikirkan sebelum anda menggunakan nickname “MUSYIRIK”? Bukankah sebuah nama walaupun bukan nama sebenarnya ada sebuah doa yang tertanam di alam bawah sadar kita. Tuhan akan mewujudkannya.
    Musyrik adalah tindakan menyekutukan TUhan. Apakah memang anda senang dengan pekerjaan itu, atau nama itu sengaja anda buat untuk menyindir orang lain?
    Pertanyaan saya itu tidak harus di jawab, resapi dalam-dalam di lubuk hati paling dalam…

    Terakhir saya mengutip lagi komentar anda :

    SILAHKAN JELASKAN DENGAN SEJELAS JELASNYA DAN SEGAMBLANG GAMBLANGNYA JANGAN BISANYA NGAKU NGAKU DOANG DAN NGIBULIN ORANG SAJA

    Saya yakin sekali kalau anda memakai hati dan membaca artikel yang sesuai maka tidak akan menulis kata-kata di atas. Bagaimana anda tahu di kibuli wong anda sendiri belum sampai disana, lebih parahnya lagi anda tidak membaca keseluruhan artikel yang menulis tentang berjumpa Allah. Kalau mau jelas ya baca dulu donk
    Tidak ada hal yang gamblang tentang Makrifat karena Ilmu Makrifat tidak bisa dipelajari dengan Akal, tapi lewat Hati, lewat bimbingan seorang yang benar2 Ahli…

    Jadi saudaraku, saya mohon maaf kalau 4 komentar dahulu yang isinya sama dengan yang anda tulis sekarang saya hapus. Jarang sekali saya menghapus tulisan pengunjung karena selama ini komentarnya berbobot walaupun terkadang menyerang dan saya anggap itu sebagai pelajaran. SIlahkan melanjutkan komentarnya. Kalau anda benar-benar ingin mengetahui rahasia orang-orang yang telah bermakrifat saya dengan senang hati membimbing anda ke arah sana. Namun Allah SWT jua lah yang berkehendak apakah dibuka atau tidak hijab pembatas antara kita dengan DIA.

    Semoga anda tidak tersinggung dengan tanggapan saya, marilah kita mulai hari esok yang lebih cerah. Perbedaaan diantara kita merupakan rahmat, begitulah junjungan kita Rasulullah SAW memberikan nasehat lewat sebuah hadist.

    Salam

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: