Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Potret Umar Bin Khattab Ketika Membaca Al Qur’an

Umar bin Khattab terkenal dengan keberaniannya. Bahkan, ia termasuk sahabat Rasulullah SAW yang paling keras dan galak. Tidak pernah melihat satu kemungkaran pun, kecuali ia menghancurkan kemungkaran itu dengan tangan dan keberaniannya. Karena itulah, ia dikenal dengan sebutan al-faruq yang berarti orang yang suka membedakan antara yang hak dan yang batil.

Namun, meski ia terkenal dengan sifatnya yang keras dan berani, ketika mendengar atau membaca ayat Al Qur’an, ia termasuk orang yang sering menangis dan lemah. Al Qur’an betul-betul telah memberikan pengaruh luar biasa terhadap diri dan jiwanya.

Dalam sebuah riwayat dari al-Hasan disebutkan bahwa Umar bin Khattab apabila membaca ayat-ayat Al Qur’an tentang siksa api neraka atau tentang kematian, ia sangat takut. Lalu menangis tersedu-sedu sehingga tubuhnya jatuh ke tanah. Setelah itu, ia tidak keluar rumah selama satu atau dua hari, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia sedang sakit.

Abdullah bin Syadad bin al-Had berkata: “Aku mendengar tangisan Umar bin Khattab yang tersedu-sedu, padahal saati aku itu berada di barisan yang paling akhir ketika shalat Shubuh. Ia saat itu membaca surat Yusuf”.

Alqamah bin Waqash al-Laitsi juga berkata: “Aku pernah shalat Isya di belakang Umar bin Khattab. Lalu ia membaca surat yusuf. Ketika ia membaca ayat yang menerangkan tentang Nabi Yusuf, ia menangis tersedu-sedu sehingga suara tangisannya itu terdengar dengan jelas, padahal aku saat itu berada di barisan paling belakang.”

Suatu hari Umar bin Khattab mendengar orang yang sedang shalat Tahajud membaca surat al-Thur. Ketika orang tersebut membaca ayat: “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolak” (Al-Thur: 7-8), Umar berkata: “Itu adalah sumpah Allah yang pasti benar.” Mendengar itu, ia segera bergegas menuju rumahnya, dan ia sakit selama satu bulan sehingga orang-orang menjenguknya. Mereka tidak mengetahui sebab yang menyebabkannya sakit”.

 

Sumber : At-Takhwif minan Nar Karya Ibnu Rajab, hal 30)

Single Post Navigation

18 thoughts on “Potret Umar Bin Khattab Ketika Membaca Al Qur’an

  1. ajak-ajak on said:

    No comment,, just want to T_T

  2. Wahai Tuhanku. Jadikanlah aku seperti Saidina Umar r.a.
    Amieenn…

    Tolong, Guru….

  3. Nuri F.Nisyah on said:

    Benar2 menakutkan apabila Allah telah bersumpah untuk memurkai kita, semoga kita dijauhkan dari murkaNya, dan hal-hal yg membuat Dia murka.. Dekatkan diri, kenali Dia, sayangi Dia, cintai Dia, kasihi Dia..

  4. Didiet513 on said:

    Ass wr wb

    Para sahabat pilihan Rasulallah memang manusia manusia pilihan yang sulit dicari penggantinya. Untuk jaman sekarang ini hanya segelintir orang yang bisa menyamainya namun mereka semua tersamar dengan hijab manusia biasa lainnya, “Sesungguhnya wali Allah itu disembunyikan dengan hijab basyariah”.

    Beliau Umar Ibnu Khatab memang bersosok lasak namun dibalik sosok itu tersimpan hati yang suci, lembut dan tenang sehingga apabila beliau mendengar nama Allah disebut seketika hatinya bergetar. Keluarlah airmata keimanan. Ingatlah dia akan segala perbuatan dosa yang dilakukannya dimasa lalu dan takutlah dia akan azab yang digambarkan Allah.

    Semoga kita semua dapat belajar dari riwayat hidup beliau, yang akan terus diwariskan dari generasi kegenerasi sampai menjelang kiamat nanti.

    Wass wr wb

    • amin samoga dia slalu dirahmati ALLAH”akupun juga sering sholat di masjidil haram semua imama apabila sedang membaca ayt suci tentang hizab ALLAH semua imam mesjid pada nangis”herman kagum dgn orang yg benar2memahami tentang isi alqur”an

  5. saya ingin ketemu wali quthub yang bisa membersihkan jiwaku dari ketakutan akan penderitaan kematian, neraka dll.dan juga menolong saya dalam kehidupan dunia.

  6. Umar is the best…

  7. adi pagar on said:

    suryalaya dalam bahasa sinar…artinya sifat…kajian sampai sifat. untuk selamat itu harus sampai pada Dhat…

  8. FRANCE BERNAT on said:

    pohon pisang paling tau berapa pelepahnya…

  9. umar bin khattab?

    konon dia adalah pahlawan paling berani. tapi tak satu riwayat pundalam sejarah yang menceritakan keberaniannya di medan perang. tak sepenggal cerita pun diriwayatkan orang tentang tindak gagahnya di peperangan. mohon koreksi kalau saya salah, mohon pula sertakan buktinya.

    sejarah perang di antara orang2 arab itu sangat detil. kita bisa tahu rincian kisah yang terjadi dalam suatu perang, misalnya perang badar, uhud, dsb.; kita bisa tahu siapa berduel menghadapi siapa;; siapa yang membunuh siapa; dsb. coba silakan cari riwayat tentang “keberanian” umar. nggak akan ada.

    umar bin khattab itu cuma sahabat yang perilakunya kasar, grusa-grusu, sering bikin blunder. itu semua tercatat dalam sejarah.

    kritislah!

  10. herman ingin komaentari alfaruk”jgnlah mengatakan umar hanya bisa krasa-krusu”begini yahh”’sewktu rasulullah meninggal umar mengatakan barang siapa yg mengatakan rasulullah meninggal aku akan membunuhnya”waktu itu yg bisa buka bicara hanya orang yg paling sabar diantara sahabat rasulullah”yaitu abubakar”yg menjatuh kan persia mesir yaman dll”itu semua kerna barkat ALLAH dan umar”sewaktu rasulullah dalam mihraj”rasulullah berdoa ya ALLAH tolong jadikan umar atuw abujahal sebagai pendampingku”ALLAH menetapkan umar sebagai pendamping ny maka waktu itu umat islam jadi lebih kuat”

  11. Ping-balik: Potret Umar Bin Khattab Ketika Membaca Al Qur’an - mEiN kAMpf

  12. SAPIHITAM on said:

    Ass. WR.WB, Bang Didit. salam bersama …..

    Menangis saat mendengar kalimah Allah ( Ayat Alqur an ) bergetar dan menangis tersedu. saat sholat. bahkan terdengar suaranya sampai kebelakang…
    Kalau jaman sekarang sih masih kok yang banyak menangis tersedu ……… Namun nggak tahu nangisnya karna apa ??
    Bisa kok dibikin-bikin … bisa karena banyak dosanya. atau ingin dipuji agar bisa dibilang memahami ayat Allah seperti Yang dilaukan Umar. jadi yang bahas jangan nangisnya. Isi yang sampai-sampai Umar menangis.
    Selamat berjuang menegakkan kalimah Allah.

  13. Endrayana on said:

    Untuk Sdr. sapihitam……..
    Saya berpendapat menangis ketika membaca / mendengar lantunan Ayat-Ayat ALLAH SWT …. mengerti/tidak maknanya (Insya Allah) jauh lebih baik daripada cuek…..atau mereka yang sudah gak pernah belajar tapi mencela…..Semoga kita mendapat hidayah-NYA. Amiin.

  14. Buat saya, Khalifah ke-2 itu memiliki aura wibawa yang menyatu dengan jiwanya. selain karena dengan keberaniannya, Umar (*radhiallahu anhu) juga dikaruniai dengan kecerdasan.
    latar belakangnya yang “suram”, membuatnya paham dengan sistem kaum jahiliah, kaum yang memerangi islam dan bernafsu untuk membunuh Nabi Muhammad (*shallu alaih)
    Karena itu, tentu Umar dengan mudah membaca segala tindak-tanduk yang bakal dilakukan kaum kiri untuk membenamkan Islam dan Muhammad dari permukaan bumi.
    Maka tak ayal, sesaat setelah dia masuk islam karena lantunan ayat-ayat qauliyah-Nya, dia dipilih Muhammad sebagai pendampingnya.
    Dengan keberanian dan wibawanya yang kerap menyatu kemanapun ia melangkah, bukan hanya manusia yang merunduk, syaitanpun “terkencing-kencing” jika melihatnya.
    Sifat keberanian itu dimanfaatkannya saat duduk sebagai khalifah menggantikan Abu Bakar (*rhodiallahu anhu)
    Dia melakukan ekspansi besar-besaran ke luar arab saudi dalam menyebarkan agama-Nya. karena dia yakin, kalau ajaran yang dibawa Rasulullah itu merupakan tuntunan yang wajib dijalankan oleh manusia jika ingin menuju kebahagiaan.
    Selain menyebarkan ajaran islam, dibalik keberaniannya, dia juga sosok manusia yang sangat memahami apa yang dirasakan orang lain. sebagai khalifah, dia rela tidur di atas pelepah kurma, berjalan di malam hari guna mencari informasi dan membantu rakyatnya yang susah..
    Karena itu, untuk pemimpin di negeri ini khususnya, dan segenap pemimpin (karena kita juga adalah pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri-red), Dia, Umar bin khattab adalah salah satu pemimpin yang patut dan layak kita contoh. dan berharap untuk nex periode, Indonesia memiliki pemimpin sepertinya..amin..
    Karena itu, saya adalah salah satu orang yang mengidolakannya….

  15. siswanto on said:

    Ya اَللّهُ seretlah kami dalam golongannya

  16. siapapun yg mencela Umar bin Khattab biasanya Syiah, Atau trdaftar dlm DOT,(Daftar orang TOLOL) kasian kasian kasian

  17. Ruslianto on said:

    Sang Amirul mukminin
    Suatu periode dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.
    Putus asa mendera dimana-mana. Saat itu, Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya seksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari , diinstruksikan penyembelihan onta-onta untuk dipotong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan kala itu menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran ditangan ini”.
    Badaipun berlalu,… Tahun abu pun berlalu. Daerah kekuasaan Islam bertambah luas, pendapatan negara semakin besar. Masyarakat semakin makmur.
    Apakah umar berhenti berpatroli? Masih dengan jubah kumal, umar didampingi pembantunya berkeliling merambahi rumah- rumah berpelita. Kehidupan keluarga umar, .. namun masih saja pas-pasan. Padahal para gubernur di beberapa daerah hidup dalam kemewahan. Para sahabat, mulai berkasak-kusuk, mereka mengusulkan untuk memberi tunjangan dan kenaikan gaji yang besar untuk Umar selaku amirul mukminin. Namun, para sahabat tidak berani menyampaikan usul ini langsung kepada umar. Lewat Hafsah putri Umar, yang juga janda Rasulullah, .. begitu usul ini disampaikan. Sebelumnya mereka berpesan supaya tidak disebut nama-nama mereka yang mengusulkan.

    “Siapa mereka yang mempunyai pikiran beracun itu, akan ku datangi mereka satu persatu dan menamparnya dengan tanganku ini,” berangnya kepada Hafsah Janda Rasulullah Saw.
    Selanjutnya tatapannya meredup,…….. dipandanginya putri kesayangan itu, “Anakku, makanan apa yang menjadi santapan suamimu, Rasulullah?” Hafsah terdiam, pandangannya terpekur di lantai tanah.
    Ingatan hidup indah bersama sang purnama Madinah Salallahu alaihiwasallam,…, tergambar. Terbata-bata Hafsah menjawab, “Roti tawar yang keras, ayah. Roti yang harus terlebih dahulu dicelup ke dalam air, agar mudah ditelan”.
    “Hafsah, pakaian apa yang paling mewah dari suamimu,” seraknya masih dengan nada kecewa. Hafsah semakin menunduk, pelupuk mata sudah tergenang. Terbayanglah tegap manusia sempurna, yang selalu berlakubaik kepada para istrinya. “Selembar jubah kemerahan, ayah, karena warnanya memudar. Itulah yang dibangga-banggakan untuk menerima tamu kehormatan”. Pada saat menjawab, kerongkongan Hafsah tersekat, menahan kesedihan.
    “Apakah, Rasulullah membaringkan tubuh diatas tilam yang empuk?” pertanyaan ini langsung dipotong Hafsah “Tidakk!” pekiknya. “Beliau berbantal pelepah keras kurma, beralaskan selimut tua. Jika musim panas datang, selimut itu dilipatnya menjadi empat, supaya lebih nyaman ditiduri. Lalu kala musim dingin menjelang, dilipatnya menjadi dua, satuuntuk alas dan bagian lainnya untuk penutup. Sebagian tubuh beliau selalu berada diatas tanah”. Saat itu meledaklah tangis Hafsah.
    Mendengar jawaban itu, Umar pun berkata, “Anakku! Aku, Abu Bakar dan Rasulullah adalah tiga musafir yang menuju cita-cita yang sama. Mengapakah jalan yang harus kutempuh berbeda? Musafir pertama dan kedua telah tiba dengan jalan yang seperti ini.” Selanjutnya Umar pun menambahkan “Rasulullah pernah berkata: Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat meninggalkannya”.
    Pada saat kematian menjelang lewat tikaman pisau Abu Lu’Lu’a, budak Mughira bin Syu’bah, ringan ia bertutur, “Alhamdulillah, bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang muslim”. Mata yang jarang terlelap karena mengutamakan rakyatnya itu menutup untuk selama-lamanya. Umar pun syahid, dalam usia 60 tahun. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun.
    Dari berbagai sumber.
    Wass.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: