Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

SYI’AH-SUNNI YANG PENTING JUMPA ALLAH

Setelah Abu Bakar dipilih menjadi khalifah, Abu Sufyan datang menghadap Ali bin Abi Thalib RA. Dengan penuh kemarahan ia berkata,”Mengapa kekhalifahan diserahkan kepada orang yang paling rendah status dalam kabilah Quraisy dan orang yang paling terhina (Abu Bakar RA)”.

Kemudian ia melanjutkan kata-katanya dengan rasa marah, “Demi Allah, jika kamu izinkan, aku akan kumpulkan kuda dan orang-orang untuk memeranginya.”

Akan tetapi Imam Ali kw menjawab,”Wahai Abu Sufyan, selama ia menjaga Islam dan pemeluknya, maka tidak apa-apa jika ia yang memegang kekhalifahan. Dan aku menilai bahwa Abu Bakar adalah orang yang layak untuk menjadi khalifah”. (lihat Al-Haakim juz 3, hal. 78).

Sungguh luar biasa sikap para sahabat Nabi SAW yang bisa saling menghormati dan tidak gila kekuasaan seperti yang ditunjukkan oleh Imam Ali kw. Sangat berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang merasa menjadi pengikut Beliau, merasa menjadi pembela Ahlul Bait akan tetapi yang tertanam dalam hati hanya kebencian dan dendam berkepanjangan dan diwariskan dari generasi ke generasi sampai hari ini. Kekejaman Muawiyah bin Abu Sufyan beserta Dinasti Umayyah nya terhadap keluarga Nabi menimbulkan kepedihan berkepanjangan dan kemudian tanpa disadari menyebabkan perpecahan dalam ummat Islam.

Saya dan juga pengamal Thareqat Naqsyabandi lain nya bukan lah orang-orang yang terikut dalam pertentangan tersebut. Oleh Guru saya diajarkan bahwa semua sahabat Nabi itu adalah orang-orang pilihan yang sangat berjasa dalam mengembangkan Agama Islam. Seluruh Thareqat yang ada saat ini bersumber kepada dua sahabat yaitu Abu Bakar RA dan Ali Bin Abi Thalib kw.

Dalam Do’a Pusaka yang selalu dibacakan disaat penutupan suluk/’itikaf didalamnya selalu disebutkan 4 wali utama yaitu Syekh Abdul Qadir Jailani dan Syekh Junaidi Al-Bahgdadi yang silsilah Thareqatnya bersambung kepada Imam Ali kw serta Syekh Abu Yazid Al-Bisthami dan Syekh Bahauddin Naqsyabandi yang silsilah Thareqatnya bersambung kepada Saidina Abu Bakar RA.

Mempertentangkan Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat merupakan suatu tindakan yang kurang bijaksana karena Thareqat itu telah melampaui paham-paham syariat yang dikembangkan oleh kedua aliran. Bisa jadi seorang pengamal Thareqat Qadiriah yang silsilahnya bersambung kepada Imam Ali kw tidak ikut aliran syiah dan juga sebaliknya bisa jadi pengamal Thareqat Naqsyabandi yang silsilahnya bersambung kepada Abu Bakar RA ikut kepada paham Syi’ah, itu merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sufi Muda bukanlah forum untuk membela Sunni meskipun pelaksanaan syariatnya tunduk kepada Mazhab Imam Syafi’i sebagai mazhab yang paling banyak pengikutnya di Indonesia. Biarlah pertentangan masa lalu itu terkubur bersama sejarah karena orang-orang yang berlaku tidak adil terhadap Ahlul Bait yang mulia pun telah di azab oleh Allah SWT.

Terakhir, jika kita masih mempertentangkan antara Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat menandakan bahwa kita  belum mengerti sepenuhnya apa itu Thareqat karena sesungguhnya Thareqat itu adalah murni metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Allah nya orang Sunni dan Allah nya orang Syi’ah, dan sudah pasti Allah nya Nabi Muhammad SAW. Dari pada memperdebatkan jalan mana yang paling cepat sampai kepada-Nya lebih baik jalani salah satu jalan (thariq) dan setelah sama-sama sampai di Taman Surga marilah kita saling senyum dan bertegur sapa, marilah kita sama-sama melayani-Nya dengan senang hati. Semoga Allah SWT akan memberikan kesempatan kepada kita semua untuk terus bisa memandang wajah-Nya dari dunia sampai ke akhirat kelak, Amien Ya Rabbal ‘Alamin

Single Post Navigation

55 thoughts on “SYI’AH-SUNNI YANG PENTING JUMPA ALLAH

Navigasi komentar

  1. ajak-ajak on said:

    ampun Tuhan,,,,
    Itulah salahku, lagi-lagi salahku.
    Selalu salah, selalu lupa bahwa Allah itu ESA.

    Thanks sudah mengingatkan sufimuda.

  2. Itulah Umat Rosulullah Saw. Yang mengerti akan Beliau,,,, yang tidak membeda2kan Sahabat yang satu dengan yang lain.

    Dan sungguh masing2 memilki kemuliaan tersendiri di pandangan Allah dan Rosul-Nya.

    Allahumma Ya Allah Shalawat dan salam atas Junjungan kami Nabi yang Ummi yang menjadi rahmat sekalian Alam dan kesejahteraan juga senantiasa atas para Keluarga dan Sahabat2 Beliau serta para Umat2 yang setia sepanjang zaman…………………..

    Aamiin……Aamiin…….Aamiin…. Ya… Robbal Aalamiin..

  3. dmikianlah sharusny sbgmn yg dkatakan oleh sufi muda. sy cukup yakin bhw yg akan dan sdg mndalami atau menjlani sbg seorang sufi insya allah tdk akan prnah trjebak dgn sgla “hal2” yg mnjd prtikaian. dan jk ad yg brtny umpamany ttg soal mazhab mk sy akan mnjwb ikut kpd mazhab rosulullah. penekanan dr ajaran sufi “pnsucian qalbu”. dan jk brbcr triqatny mk ialah alqur’an. dan isi dari tariqat yg sdrhana ialah hrs brisikan taubat, sholat n zakat. u/ pnggambran nilai tauhid murni kt mmbaca prjalann rabi’ah al ad

  4. Subhanallah.. Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya….

    Allah Maha Esa dan Maha Kuasa, Kekuasaan BELIAU tunjukkan dengan menganugerahkan kepada Insan Yang BELIAU kehendaki.. ALLAH Maha Esa, dan satu-satunya TUHAN bagi seluruh sekalian alam, bagi seluruh faham dan aliran… tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad Rasul Pesuruh-Nya…

    salam sekalian saudara, mari kita melihat Allah yang Maha Esa bagi semua, Allah yang Maha Nyata bagi yang telah di beri petunjuk-NYA…

    …. 🙂

  5. Sufimuda is the best 😉

    andai semua ulama mempunyai wawasan seperti Sufimuda
    pasti dunia ini seperti layaknya surga yang pernah diceritakan oleh para Nabi 😉

  6. alhamdulilah… semoga ALLAH memberi rahmat dan anugerah yg melimpah di dunia dan di akhirat kepada para pendahulu para nabi dan rasul, ulama, khalifah, para sufi.. selain komentar di blog, alangkah baik’y sufimuda untuk memberi ilmu islam kepada orng sekitar agar mereka tidak sesat… 🙂 salam kenal,

  7. yudistira on said:

    maha benar ALLAH dengan segala firmanNYA:-)

  8. ” 4JJ ” Illahi Anta Maksudi Wa Ridloka Matlubi

  9. saya wagiran, baiat pada pada tarekat qadriyah, amalannya banyak dari imam syafii, tetapi kalau subuh ikut imam sholat yang nggak pake qunut.

  10. Mempertentangkan Sunni dan Syiah dalam bingkai tarekat adalah upaya pemecahan kepada dunia tasawuf. patut diperhatikan, bahwa yang melakukan hal2 tersebut justru bukan penganut salah satu tarekat melainkan orang di luar tarekat yang mempelajari dunia sufi melalui buku, bacaan dan pendapat. Alhamdulillah, kita2 penganut tarekat sama sekali tidak mempermasalahkan hal2 tersebut. seperti judul tulisan ini, ‘Syiah Sunni yang penting ketemu ALLAH’.

    ‘Ya ALLAH, panjangkanlah umur pengelola blog ini, berkahkanlah setiap langkahnya,mudahkanlah rezekinya, sehatkan tubuhnya, agar selalu bisa memberikan pencerahan dan cahaya MU di belantara dunia maya ini’

    Amiin.

  11. ajak-ajak on said:

    amiiiiiiiin
    ,,,,,,,,,,,,,,,,,, 🙂

  12. Sayangnya perbenturan antara dua kubu tersebut masih kerap terjadi di lapangan, Mas Sufimuda… 😉
    Jadi, tulisan Anda ini, atau bahkan tulisan-tulisan kita, siapapun itu, yang berusaha mengarahkan pada kerukunan, hanya akan menjadi retorika semata. Ini yang kita sayangkan. Yah, kita contohkan dalam perbuatan saja, ya, mas sufi 😉
    .
    salam

  13. sufimuda on said:

    Menyatukan syi’ah sunni adalah hal yang mustahil jika masih berbicara pada tataran fiqih karena memang keduanya berbeda.

    Saya ingin mengajak keduanya tidak mempertentangkan kedua paham dalam bingkai Tasawuf khususnya Tarekat karena dalam Tarekat itu bukan lagi membicarakan persoalan hukum akan tetapi lebih kepada persoalan RASA dan MERASAKAN…

    Tulisan di atas saya tulis mengingat di sufimuda beberapa hari yang lalu sudah mulai muncul perdebatan tentang masalah keutamaan sahabat Abu Bakar dan Ali dan tentu saja kalau perdebatan ini diteruskan akan meluas menjadi perseteruan Sunni dan syi’ah.

    Tasawuf Amali yang di praktekkan di dalam Tarekat tentu saja tidak lagi memperdebatkan hal-hal seperti itu karena ketika awal kita menyatakan diri menjadi murid Guru Mursyid disaat itulah kita mulai melangkahkan kaki menuju dunia baru, di mulai dengan TAUBAT, dilanjutkan dengan MUJAHADDAH mudah2an akan sampai kepada MAKRIFATULLAH.

    Ketika berbicara masalah Kerohanian, baik Sunni maupun Syiah pasti akan menemukan titik temu, karena KEBENARAN itu tidak bisa dimanipulasi oleh apapun….

    Trimakasih esensi atas komentarnya, mari kita wujudkan sikap toleransi kita dalam perbuatan 🙂

  14. Ass. Wr. Wb

    @Sufimuda @semuanya

    Alhamdulillah…., setelah membaca dan memahami seluruh posting tsb diatas, saya menjadi mengerti atas sikap saudara-saudara sekalian terhadap ajaran Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw, yang menjadi dilema bagi saya pernyataan anda dibawah ini :
    ————–
    Sangat berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang merasa menjadi pengikut Beliau, merasa menjadi pembela Ahlul Bait akan tetapi yang tertanam dalam hati hanya kebencian dan dendam berkepanjangan dan diwariskan dari generasi ke generasi sampai hari ini. Kekejaman Muawiyah bin Abu Sufyan beserta Dinasti Umayyah nya terhadap keluarga Nabi menimbulkan kepedihan berkepanjangan dan kemudian tanpa disadari menyebabkan perpecahan dalam ummat Islam.
    ============
    Karena saya secara langsung maupun tidak langsung mengemukakan / menyampaikan ajaran Ahlul Bait Nabi Saw, maka saya harus bertanggung jawab dihadapan Allah Swt lahir bathin dan saudara-saudara sekalian untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya yaitu demi Allah tidak terbersit dari hati yang paling dalam sekalipun untuk mengajak kepada seluruh umat Islam dimana saja kepada perpecahan umat Islam baik secara sadar maupun tak sadar.
    Mungkin itu hanya perkiraan dan perasaan saudara-saudara sekalian dalam hal menyikapinya. Dan yang perlu digarisbawahi adalah pernyataan tsb diatas janganlah dijadikan sandaran / rujukan untuk menghasut seluruh umat Islam.
    Saya menyeru dan mengajak hanya untuk persatuan umat Islam saja, demi tegaknya “Syariat Islam” dialam semesta ini. Karena agama Islam diturunkankan ke alam semesta ini untuk menjadikan agama yang “Rahmatan lil’alamin”, diantara jin dan manusia.
    ——————-
    Mempertentangkan Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat merupakan suatu tindakan yang kurang bijaksana karena Thareqat itu telah melampaui paham-paham syariat yang dikembangkan oleh kedua aliran.
    ==========
    Sekali lagi saya tidak mempertentangkan kedua aliran tsb dalam bingkai thariqat. Harusnya saudara-saudara sekalian berterimakasih, karena ada yang mengingatkan mengenai ajaran Ahlul Bait Nabi Saw.
    Bagi pemahaman saya tidak ada batasan dalam menyikapi berbagai ranah ilmu baik itu syariat, thariqat, hakikat dan ma’rifat. Semua itu haruslah berhubungan / berkesinambungan satu dengan yang lainnya. Sehingga tidak menimbulkan polemik dalam ranah ilmu agama Islam tsb. Janganlah sekali-kali mengatakan tharikat telah melampaui paham syariat. Itulah yang kurang bijaksana, berarti masih ada batasannya.
    ——————–
    Terakhir, jika kita masih mempertentangkan antara Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat menandakan bahwa kita belum mengerti sepenuhnya apa itu Thareqat karena sesungguhnya Thareqat itu adalah murni metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Allah nya orang Sunni dan Allah nya orang Syi’ah, dan sudah pasti Allah nya Nabi Muhammad SAW. Dari pada memperdebatkan jalan mana yang paling cepat sampai kepada-Nya lebih baik jalani salah satu jalan (thariq) dan setelah sama-sama sampai di Taman Surga marilah kita saling senyum dan bertegur sapa, marilah kita sama-sama melayani-Nya dengan senang hati. Semoga Allah SWT akan memberikan kesempatan kepada kita semua untuk terus bisa memandang wajah-Nya dari dunia sampai ke akhirat kelak, Amien Ya Rabbal ‘Alamin
    =============
    Nah, pernyataan inilah yang paling keliru dalam mencari kebenaran yang hakiki. Ada nash yang mengatakan ” Islam ibarat tubuh manusia, apabila salah satunya sakit, maka yang lainnya juga ikut sakit ” dan ” Sampaikan walau satu ayat “. Janganlah mengenal Allah Swt menurut pemahamannya masing-masing. Karena Allah Swt sudah mempunyai sistim yaitu bahwa garis Imamah sesudah Rasulullah Saw dilanjutkan oleh para imam dari Ahlul Bait Nabi Saw sampai kehadiran Imam Mahdi Afs yang dinantikan/dijanjikan untuk kesejahteraan umat manusia seluruhnya (untuk semua agama yang ada di alam semesta ini)
    Dengan nash tsb, saya mencoba untuk mengingatkan mengenai pemahaman ajaran Ahlul Bait Nabi Saw, karena tidak ada suatu nash pun yang melarang untuk menyampaikannya, kecuali orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran.

    Demikianlah semoga berkenan. Apabila ada kata-kata/tulisan yang salah, mohon ma’af yang sebesar-besarnya.

    Walahu’alam Bishawab.

    Wass. Wr. Wb.

  15. kak,, saya mau tanya., hari ini di tv one ada debat islam, topik’y tentang jihad atau terorisme,.. menurut ka”k, pelaku bom bali itu termasuk yg mana?

    Sufi Muda :

    Pelaku Bom Bali adalah orang2 yang ingin masuk surga lewat jalan kekerasan, kalau yang menyuruh saya ngebom Bali itu Rasulullah SAW maka saya akan melakukannya karena Rasulullah SAW bisa menjamin saya masuk surga dan kita harus mematuhi Rasul.
    Tapi yang menyuruh nge Bom bali sekarang ini saya kawatir adalah orang2 yang tidak mengenal Tuhan sama sekali.
    Andai Amrozi cs telah bermakrifat kepada Allah saya yakin dia tidak akan nge Bom bali, karena kalau mau masuk surga kan lebih enak dan lebih terjamin lewat Taman Surga, bukan begitu kawan2 🙂

  16. @Arif

    Pelaku bom Bali adalah termasuk kedalam pemahaman Islam yang ekstrim.

  17. sufimuda on said:

    Garis Imamah setelah Rasulullah menurut saya ya Abu Bakar kemudian diteruskan oleh Salman Al Farisi kemudian diteruskan oleh Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar kemudian diteruskan oleh Imam Jakfar Shaddiq (Termasuk juga salah satu Imam Syi’ah) kemudian diteruskan oleh para Ahli Silsilah sampai sekarang, dan untuk saat ini GURU saya sebagai silsilah terakhir, silsilah-36.
    Jadi Imamah itu jangan dipersempit hanya dengan ahlul bait yang garis kerohaniannya ditentukan oleh garis keturunan..
    Kalau Ali seorang Imam belum tentu anaknya bisa jadi imam, belum tentu juga cucu nya bisa jadi Imam…
    Beda dengan Ahli Silsilah, Imam Rohani (Mursyid) tidak dipilih orang banyak, tidak berdasarkan keluarga, akan tetapi berdasarkan petunjuk Tuhan lewat Mursyid sebelumnya

    Mas Asep bagaimanapun anda, saya melihat anda tetap seorang syi’ah dan yang susah nya anda menurut saya (maaf) anda belum pernah menekuni Tarekat, saya berani mengatakan demikian setelah saya membaca komentar2 anda selama ini di sufimuda.

    Kalau anda merasakan ketenangan, kebenaran dan bisa berjumpa dengan Allah di syi’ah, silahkan teruskan. Cuma saya sedikit mengingatkan bahwa kalau anda menekuni sesuatu jangan setengah-setengah, jangan memahami syi’ah hanya dari membaca buku saja tapi ber guru lah kepada orang yang benar2 paham dengan Syi’ah agar anda tidak menjadi orang yang bingung di kemudian hari.

    Saya telah menemukan Kebenaran yang luar biasa di sini lewat Guru bimbingan Guru saya. Kalau masalah syari’at dan ilmu2 lain maka seluruh pemikiran dalam Islam saya pelajari, tidak terkecuali syi’ah. TAPI kalau mengenai kerohanian, saya cukup dengan satu MURSYID…

    Salam

  18. Ass. Wr. Wb.

    Saya mengetahui ajaran Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw dari adik saya yg suatu saat meminjamkan sebuah buku dan banyak lagi buku-buku lainnya dari berbagai mahzab dan golongan. Kemudian saya membadingkannya dan mengikuti perkembangan dunia Islam sampai saa ini.
    Berdasarkan pengalaman itulah saya mengambil kesimpulan bahwa dengan berpegang teguh kepada Al Qur’an dan ‘Itrah Ahlulbait Nabi Saw (Tsaqalain), maka umat Islam di alam semesta ini akan menemukan kebenaran.
    Kalau mengenai thariqat, itu hanya sebagian kecil dari ajaran Ahlulbait Nabi Saw. Setiap hari dan setiap waktu juga saya berthariqat dalam beribadah mencari kebutuhan hidup didunia baik lahir maupun bathin.
    Guru saya banyak yaitu dengan cara mengambil hikmah dari apa yang terjadi di alam semesta ini.
    Saat ini saya bertaqlid kepada para alim ulama ( Mujtahid ) perawi hadist dari ajaran Ahlulbait Nabi Muhammad Saw. Seperti apa yang dikatakan Imam Mahdi Afs sebelum masa kegaibannya panjang ( Ghaib Kubra ) :
    ” Adapun pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa yang akan datang, merujuklah mengenai hal itu kepada perawi hadist kami. Sesungguhnya mereka adalah hujjahku terhadap kalian dan aku adalah Allah atas kalian ” ( Imam Mahdi Afs )

    Alhamdulillah…terimakasih kepada Sufimuda yang telah sudi berbagi ilmu, semoga itu semua akan memberi hikmah bagi saya. Sekali lagi terimakasih telah memberi ruang dan waktunya di blog ini.

    Apabila ada yang salah, saya mohon ma’af.

    Wassalam Wr. Wb.

    Pesan :
    Hanya dengan sebuah buku kecil, Alhamdulillah… saya mendapat taufik dan hidayah dari Allah Swt, sehingga mengenal dan memahami ajaran Ahlulbai Nabi Saw.
    Motto :
    Janganlah mengabaikan hal kecil dan sepele, karena siapa tahu akan membawa kepada taufik dan hidayah dari Allah Swt.

  19. Ralat ;

    ” Adapun pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa yang akan datang, merujuklah mengenai hal itu kepada perawi hadist kami. Sesungguhnya mereka adalah hujjahku terhadap kalian dan aku adalah Allah atas kalian ” ( Imam Mahdi Afs )

    Seharusnya :

    ” Adapun pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa yang akan datang, merujuklah mengenai hal itu kepada perawi hadist kami. Sesungguhnya mereka adalah hujjahku terhadap kalian dan aku adalah hujjah Allah atas kalian ” ( Imam Mahdi Afs )

  20. sufimuda on said:

    Assalamu’alaikum wr. wb
    Mas Asep,
    Saya juga banyak membaca buku-buku tentang syi’ah, tentang ahlul bait dan juga sering mengunjungi situs syi’ah namun saya merasa ilmu saya tentang itu masih sangat kurang karena belum berjumpa dengan yang pengamal dan Ahli nya.

    Saya sangat berterima kasih andai Mas Asep mau berbagi dengan saya tentang syi’ah lewat email saya sufimuda@gmail.com

    Guru saya berfatwa : Pelajarilah Seluruh ilmu agar engkau sempurna mentauhidkan Tuhan

    Salam

  21. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
    Bismillah Khairil Asma
    Allahumma Shalli ala Muhammad wa ala Aali Muhammad

    Kami mengundang Mas Asef, Sufi Muda, dan saudara-saudara semua untuk berkunjung
    ke website kami :

    http://www.hasanhusein.blogspot.com

    Wassalam

  22. Betul sekali, Bung Sufi Muda. Sudah seharusnya kita melupakan lembaran hitam dalam sejarah Islam masa lampau. Lalu bersama-sama kita berjalan menuju hadiratNya. Soal kendaraan yang kita pakai, itu terserah pilihan masing-masing. Boleh Sunni, boleh Syiah. Terima kasih atas tulisan Anda yang sangat mencerahkan ini. http://jagatalit.wordpress.com

  23. sufimuda on said:

    Suatu kehormatan bagi saya atas kesediaan Mas Billy mampir ke mari 🙂
    Informasi2 tentang Islam Damai yang Mas Billy sampaikan lewat blog nya memberikan pencerahan kepada kita semua…

  24. Don Ruri on said:

    Bang Sufi:
    Info yang daleeeeemmm

  25. Kalo menurut saya jangan terlalu jauh dari mata air…
    jadi air yg di ambil itu masih terjaga kemurnian dan kesuciannya…
    jangan terlau jauh dari matahari…supaya panas yg membakar benar2 menghanguskan keakuan dan kesombongan..
    dan menyalakan api cinta di hati…
    jangan membawa air ke mata air..gak ada gunanya…
    reguk sebanyak-banyak nya ….
    jangan bawa api ke matahari…sia-sia, gak kepakai…
    tapi bakar diri anda dgn api cinta saudaraku..

    Love & Respect
    Gustav

  26. Alhamdulillaahirabbil’aalamiiin
    Washalaatuwassalamu ‘alarrasulil kariim wa Muhammadan ‘abduhu warasuluhu laa nabiya ba’da

    Ya Allah,puji syukur engkau yang telah memberikan kami anugrah berupa akal dan ilmu untuk di pergunakan pada jalan-jalan yang membawa rahmat.
    Sungguh tidaklah Engkau menurunkan ilmu
    kepada setiap hamba yang Engkau kehendaki melainkan agar di dalam menganalkan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas karena Engkau…
    Dan dengan Qudrat Iradhat Engkau…. semata.

    Semoga sholawat dan salam sentiasa tercurah kepada junjungankita Nabi Besar Muhammad SAW

    Trimakasih yang terdalam kepada Junjungan nabi besar Muhammad SAW, yang melalui Beliau segala ilmu tersampaikan kepada umat-umatnya

    Alhamdulillah robbil’alamin puji syukur tiada terkira ke Hadirat Allah SWT, yang telah memberikan pelajaran kepada manusia dengan perantaraan kalam.

    Yang apabila lautan menjadi tinta untuk menuliskan ilmu Allah Ta’ala maka belum cukup lagi untuk menuliskannya…

    Walaupaun di tambah lagi air lautan menjadi 7lautan, juga belum cukup untuk menuliskannya

    *Salam sang pencari “cinta” sejati

  27. Assalamualaikum wr.wb

    KULIAH JUGA IBADAH
    Bismillah…
    Dalam masyarakat, termasuk di kalangan ulama2 serta mubaligh2nya, sepertinya telah menjadi darah daging sebuah pernyataan yaitu: “Kejarlah akhirat, tapi kejar pula dunia. Fifty-fiftylah, 50% untuk dunia, 50% untuk akhirat”. Pada mereka yang berfahaman fifty-fifty ini hanya dengan melaksanakan sembahyang, haji, puasa, doa, baca Al Quran itu saja yang dikiranya amalan akhirat. Sedangkan bila bertani, berdagang, berkebun, berternak, menjadi pejabat, pekerja pabrik, memimpin masyarakat dianggap sebagai amalan dunia. Dengan demikian amalan dunia itu tidak perlu lagi diselaraskan dengan ajaran Islam. Seolah-olah amalan dunia dan amalan akhirat itu terpisah. Perkara dunia sendiri, perkara akhirat sendiri.

    Kekeliruan ini perlu dibetulkan. Mari bersama-sama kita kaji ketidakbenaran dalam memberikan pengertian dunia dan akhirat. Sebelum itu, mari kita lihat pengertiannya yang sebenarnya satu persatu.

    Apa itu dunia? Dunia yang dimaksudkan di sini ialah sesuatu yang dibuat atau dikerjakan yang tidak mendatangkan pahala di akhirat atau tidak mendapat keredhaaan Allah SWT.

    Apa itu akhirat? Akhirat ialah sesuatu perkara yang dibuat atau yang dikerjakan sehingga kita mendapat pahala dan ganjaran atau mendapat keridhaan Allah SWT. Amalan atau pekerjaan akan menjadi amalan akhirat bila mengikuti lima syarat berikut:

    1. Niatnya betul.
    2. Perkara yang hendak dilakukan tidak melangar syariat
    3. Pelaksanaan mengikuti syariat
    4. Hasilnya tidak digunakan untuk hal yang melanggar syariat
    5. Tidak meninggalkan ibadah asas dalam ajaran Islam (Shalat, Puasa, Zakat).

    Tegasnya, sesuatu perkara atau pekerjaan yang kita laksanakan akan jadi amalan akhirat (diberi pahala) bila memenuhi lima syarat tadi. Jika sebaliknya, jadilah amalan itu sebagai amalan dunia. Artinya tidak mendapat keredhaan ALLAH SWT (ia tidak dapat pahala). Bahkan adakalanya amalan tersebut bisa membawa kepada dosa.

    Sekarang kita lihat bagaimana kegiatan kuliah yang kita jalani bisa menjadi sebuah ibadah kepada ALLAH dan menjadi amalan akhirat.

    1. Niatnya betul Niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah untuk merasakan kebesaran Tuhan. Boleh juga berniat untuk melepaskan diri dari kebodohan atau menuntut ilmu fardhu kifayah sehingga dapat menyelesaikan masalah umat Islam dalam bidang ekonomi, sains dan teknologi, dan seni budaya. Jangan belajar karena menginginkan gaji, nama atau pangkat, untuk bermegah-megah dan ingin masyhur. Ketika diniatkan besok kalau lulus bisa kerja di perusahaan multi nasional dan bisa dapat gaji, maka kuliah selama 4 tahun (kalau lancar) hanya akan jadi amalan dunia dan tidak akan berarti apa-apa di akhirat.

    2. Ilmu yang dipelajari mesti sah mengikut syariat dan tidak melanggar syariat. Contohnya: ilmu usuluddin, fiqih, kedokteran, engineering, pertambangan, dan lain-lain. Jangan belajar ilmu yang haram seperti ilmu sihir.

    3. Pelaksanaannya mengikuti syariat Islam. Umpamanya tidak bergaul bebas lelaki Perempuan, tidak membuka aurat.

    4. Hasil dari belajar tadi, ilmunya digunakan untuk manfaat diri dan masyarakat. Masyarakat jadi cerdik dan tidak jahil dengan adanya mereka. Baik dengan lahirnya pakar-pakar dalam Ilmu Islam atau ilmu kemahiran seperti engineer, perawat, dokter, guru, peneliti, dan berbagai spesialisasi lainnya. Dengan demikian, semua ini dapat membantu membangun syiar Islam di semua aspek kehidupan dan Islam akan jadi mulia dengan adanya ahli-ahli ilmu yang bertanggungjawab.

    5. Dalam belajar tadi, jangan sampai meninggalkan ibadah-ibadah yang asas seperti mempelajari ilmu fardhu ain, sembahyang, dan puasa. Terkadang, karena sibuk belajar dalam kuliah atau mengerjakan tugas, shalat kita lalaikan atau dilaksanakan di akhir waktu. Jika demikian adanya, walaupun 4 syarat terdahulu sudah dapat dilaksanakan tetapi ketika syarat terakhir ini diabaikan maka belajar kita hanya akan jadi amalan dunia saja.

  28. wadhuh,, mas hina kelana, mending sampeyan kirim artikel aja ke sufimuda. Kalo copy paste di kolom comment ini malah males bacanya.

  29. Anak Gaul on said:

    Yang di tulis hinakelana itu opo sich?
    kok kaya kultum di mushala dekat rumah saya aja….
    nggak berbobot gitu lho …

  30. young sufi on said:

    Sgala puji bagi Allah, tuhan semesta alam.
    Yang maha pengasih dan maha penyayang.
    Yang Memiliki hari pembalasan.
    Hanya kepadaMu aku beribadah dan hanya kepadaMU aku meminta Pertolongan.
    Tunjukilah aku ke jalan lurusMu.
    Jalan orang – orang yang Engkau beri nikmat bukan jalan orang – orang yang sesat dan bukan pula orang yang Kau murkai.
    Amiin….
    Dari surat al-faatihah tersebut ini terlihat bahwa tujuan setiap mahluk hidup adalah mengabdi kepada sang pencipta dengan terus berada di jalan Allah melalui metode yang benar sehingga kita meraih ridho Allah berupa kenikmatan didunia maupun diakhirat kelak. Bukan mencari perbedaan ataupun berselisih dalam satu kesepahaman dan tujuan berthariqah adalah mendekatkan diri kepada Allah bukan mencari perselisihan atau perbedaan diantara umat.

  31. young sufi on said:

    Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan Penyayang
    Sgala puji bagi Allah, tuhan semesta alam.
    Yang maha pengasih dan maha penyayang.
    Yang Memiliki hari pembalasan.
    Hanya kepadaMu aku beribadah dan hanya kepadaMU aku meminta Pertolongan.
    Tunjukilah aku ke jalan lurusMu.
    Jalan orang – orang yang Engkau beri nikmat bukan jalan orang – orang yang sesat dan bukan pula orang yang Kau murkai.
    Amiin….
    Dari surat al-faatihah tersebut ini terlihat bahwa tujuan setiap mahluk hidup adalah mengabdi kepada sang pencipta dengan terus berada di jalan Allah melalui metode yang benar sehingga kita meraih ridho Allah berupa kenikmatan didunia maupun diakhirat kelak. Bukan mencari perbedaan ataupun berselisih dalam satu kesepahaman dan tujuan berthariqah adalah mendekatkan diri kepada Allah bukan mencari perselisihan atau perbedaan diantara umat.

  32. Setuju dg sufi muda. Perbedaan antara Sunni dan Syi’ah jangan dijadikan alasan untuk berpecah belah dan bermusuhan

  33. Sayangnya, Sunni dan Syiah sampai saat ini tak kunjung dapat rukun. Yang anehnya, jika Syiah jelas ada komandannya yakni negeri Iran, maka kalau Sunni siapa ya komanda pergerakkannya, apakah negeri Arab Saudi atau negeri-negeri Arab lainnya? Sayangnya, negeri-negeri Arab tak punya satu komando, wajar jika kalah pamor dengan Iran.

    Untuk itu, sebaiknya Sunni dengan Syiah menjalin kerja sama di Timur Tengah untuk tidak saling menyerang, sehingga negeri-negeri Arab itu tidak meminta ‘pertolongan’ dengan negara superpower seperti Paman Sam.

    Mari berdamai di dunia baru bertemu di akherat?

  34. yahya ridwan on said:

    kembalilah kepda alqur’an dan assunnah menurut pemahaman salafush sholeh itu

  35. ia berkata,”Mengapa kekhalifahan diserahkan kepada orang yang paling rendah status dalam kabilah Quraisy dan orang yang paling terhina (Abu Bakar RA)”.

    Kemudian ia melanjutkan kata-katanya dengan rasa marah, “Demi Allah, jika kamu izinkan, aku akan kumpulkan kuda dan orang-orang untuk memeranginya.”

    kalau menurut saya,itu bukan sekali perkataan yang keluar dari Sayyidina Ali……

    setelah mempelajari dan bertanya2 kepada orang tepat……ijinkan saya menyimpulkan bahwasannya Sayyidina Ali R.A tidak mungkin berkata seperti itu.

    Pastinya Sayyidina Ali R.A juga menghormati Sayyidina Abu bakar R.A.

    beliau ( Sayyidina Ali R.A ) bukan manusia yang tamak and haus akan dunia….beliau adalah ulama dan sahabat Rosul yang Masya Allah…..

    alangkan tidak mungkin bila Sayyidina Ali R.A berkata seperti yang ada diatas….

    Asstagfirullah…..

  36. kamarul arief manan on said:

    Nabi Muhammad SAW mengajarkan Syayidina Abu Bakar r.a dzikir kohfi dlm qolbu menyebut Allah agar tentram hatinya di dalam gua persembunyian ketika dikepung musuh dan mengajarkan dzikir jahar kpd Syayidina Ali r.a menyebut secara lesan kalimat Lailahaillallah agar iman semakin kuat, jadi keduanya saling melengkapi, seperti diamalkan tarekat Qadariyah Naqsabandiah oleh pondok Suryalaya yg saat ini dibimbing Mursid Abah Anom di Tasik Malaya, yg menggabungkan kedua tarekat tsb adalah Syech Sambas, imam masjidil haram dari sambas kalimantan. Alhamdulilah pengikutnya semakin banyak diseluruh dunia, bahkan manakib dan khatamannya sdh sering dilakukan di masjidil haram Mekah, kembali napak tilas ke Syech Sambas sbg imam masjidil haram yg mencetuskannya, damai krn gabungan suni dan syiah dlm satu amalan tarekat Qadariyah Naqsabandiah. Kita sbg bangsa Indonesia patut bangga krn seorang putra Indonesia dpt menggabungkan 2 tarekat besar tsb, smg manfaat rahmatan lil alamin mencetak insan2 kamil dimuka bumi, amin.

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: