TUHANKU TUHANMU TUHAN KITA

 

Kenapa kita berdoa selalu menengadahkan tangan dan memandang ke atas? Karena kita meyakini Tuhan berada di atas sana, berada di langit yang tinggi dan sulit di jangkau oleh makhluknya. Seluruh agama mempunyai ajaran seperti itu dan hampir semua kita mempunyai persepsi yang sama tentang Tuhan yaitu: Tinggi, Agung, Mulia dan tak terjangkau. Islam menggambarkan sifat-sifat Tuhan dalam 20 sifatnya, Wujud, Qadim dan seterusnya juga menggambarkan nama-Nya lewat Nama-Nama Tuhan yang baik yang kita sebut dengan Asma Al Husna yang berjumlah 99 Nama. Setelah kita menghapal nama-nama-Nya, mengetahui sifat-sifat-Nya, sudahkah kita benar-benar mengenal-Nya? Bisahkah kita mengenal sesuatu tanpa melihat? Mungkinkah Tuhan yang Maha Tinggi itu tidak bisa dilihat? Lalu untuk apa Dia menciptakan kita kalau memang Dia selalu berada pada posisi untouchable?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak mungkin bisa di jawab lewat akal dan kita tidak bisa menemukan jawaban dengan sendirinya. Agama (dalam tataran syariat) mengajarkan kita tentang Tuhan tapi tidak secara langsung memberikan kita tuntunan kepada-Nya. Akal akan menemukan kebuntuan bila berhadapan dengan yang namanya Tuhan karena akal memiliki keterbatasan. Akal hanya bisa mengolah informasi yang diterima dari Panca Indera, padahal Tuhan adalah diluar jangkauan panca indera.

Kita sering kali melupakan pertanyaan “Bagaimana cara kita berjumpa dengan Tuhan?” karena kita lebih tertarik memperdebatkan “Apakah Tuhan bisa dilihat?” atau tentang “Bisakah Tuhan dilihat di dunia ini?. Kedua pertanyaan terakhir memberikan gambaran kepada kita tentang seseorang yang bingung dan putus atas belum bisa keluar dari keterbatasannya. Orang yang mempertanyakan tentang kemungkinan melihat Tuhan tidak akan menemukan jawaban apa-apa selain bertambah nafsunya dalam menemukan dalil-dalil yang mengingkari bahwa Tuhan bisa dilihat. Saya pernah mengalami hal serupa, dimana pertanyaan saya sebenarnya bukan untuk menemukan jawaban akan tetapi justru untuk mendukung argumen saya bahwa Tuhan memang tidak bisa dilihat sama sekali.

Hampir sebagian besar penganut agama di dunia ini bisa dengan mudah menemukan Tuhan mereka, Yesus Kristus, Sidharta Gautama, Krisna atau Dalai Lama adalah orang-orang yang di posisikan sebagai Tuhan atau manifestasi Tuhan atau inkarnasi dari Tuhan. Lalu bagaimana dengan Islam?

Islam hanya mengenal Tuhan yang bernama Allah, yang tidak pernah bisa dilihat dan tidak pernah bisa dijangkau. Al Islamamu ya’lu walaa yu’la ‘alayhi, Islam adalah agama tertinggi dan penutup semua agama, begitulah Nabi bersabda dan demikian juga kita semua meyakininya. Lalu apakah makna ketinggian itu berarti Islam juag mempunyai Tuhan yang sangat tinggi sehingga tidak pernah terjangkau dan tersentuh oleh hamba-Nya? Apakah memang pemahaman Tuhan seperti ini yang di inginkan Tuhan atau yang diajarkan Nabi Muhammad kepada ummatnya? Atau ajaran sebenarnya dari Rasulullah tentang Tuhan sangat rahasia sehingga tidak semua orang Islam mengetahuinya. Ajaran Islam tentang Tuhan yang sangat rahasia ini akhirnya tergeser oleh pemahaman syariat semata sebagai arus besar dan kenderaan politik dinasti-dinasti Islam tempo dulu.

Saya lebih cenderung dengan pendapat bahwa Rasul mengajarkan kepada para sahabat-Nya untuk berjumpa dengan Allah bukan hanya menyebut nama dan menghapal sifatnya saja. Ketika bilal diletakkan batu di atas perutnya dan ditanya siapa Tuhannya, dengan penuh percaya diri dia menyebut “Ahad” seakan-akan dia melihat sang Ahad. Saat peristiwa itu terjadi, sayangnya kita tidak berada disana, kita hanya membaca riwayat yang di tulis kemudian, apakah Bilal benar-benar mengucapkan kata “Ahad” atau “Ahmad”? Kalau Bilal mengucapkan nama Ahmad yang tidak lain sama dengan Muhammad berarti Bilal telah mengucapkan nama Tuhan lewat nama kekasih-Nya.

Al Qur’an menceritakan kepada kita ketika tukang sihir Fir’aun berhasil dikalahkan oleh Musa, kemudian mereka sujud kepada Musa dan Harun sambil berkata, “Kami beriman kepada Tuhan Musa dan Tuhan Harun”. Apakah mereka beriman kepada Tuhannya Nabi Musa dan Tuhannya Nabi Harun atau mereka mengakui Musa dan Harun sebagai perwujudan Tuhan sebagaimana juga Fir’aun. Sebutan Tuhan Musa bisa jadi sama dengan sebutan Tuhan Allah atau Tuhan Yesus seperti yang diyakini oleh ummat Kristiani.

Seluruh Agama mempunyai Tuhan yang amat nyata untuk disembah, hanya Islam yang tidak pernah nyata Tuhannya, siapa yang benar dan siapa yang salah?

Kita tidak akan menemukan jawabannya dalam syariat, karena kalau kita memandangnya dari kacamata syariat maka langsung timbul selera kita untuk berdebat menyalahkan tuhan-tuhan agama lain dan menganggap Tuhan kita yang gaib itu yang paling benar. Sebenarnya kalau kita dengan teliti mempelajari agama, Tuhan dengan sangat jelas memberikan kepada kita penjelasan bahwa Tuhan itu amat nyata namun kita belum bisa dengan benar menangkap pelajaran itu.

Kalau anda mempelajari Tasawuf dengan cara ber guru kepada seorang Mursyid dan terus menerus berzikir sampai Tuhan berkenan memperkenalkan diri-Nya, maka anda akan merasakan betapa Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya, betapa agung dan hebatnya Islam dan betapa Mulia dan luar biasanya para Ulama pewaris Nabi yang mampu menyimpan rahasia terbesar dari Agama dan kemudian mampu menyalurkan kepada ummat Islam agar terbebas dari kegelapan.

Tapi sayang seribu kali sayang, tidak semua ummat Islam tertarik dengan Tasawuf bahkan ada sebagian kelompok dengan bangga mencaci maki pengamal Tasawuf/Tarekat dan menganggap sebagai aliran sempalan. Kemudian mereka dengan bangga menyembah Tuhan menurut pikiran mereka. Tidak pernah sedikitpun terpikir dalam hati apakah caranya menyembah Tuhan ini sudah benar. Memang tidak semua pengamal Tasawuf sampai kepada Makrifatullah, berjumpa dengan Allah, paling tidak jalan yang ditempuhnya sudah benar dan minimal dia bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hatinya.

Kalau kita belum sepenuhnya mengenal Tuhan dan dengan nyata melihat-Nya, maka Shalat tidak ubahnya seperti senam ala Arab, bertawaf keliling Kabah hanya meneruskan tradisi zaman zahiliyah semata. Seluruh ibadah kita tanpa sadar semuanya menyekutukan Tuhan. Tidak ada dosa yang paling besar yang tidak terampuni selain dari Syirik (menyekutukan Tuhan). Maksud hati menuduh pengamal Tasawuf berbuat syirik tanpa sadar kita sendiri penuh dengan kemusyrikan.

Saya masih ingat pertanyaan kedua yang ditanyakan ketika ingin menekuni Tarekat adalah, “Apakah anda pernah menuntut ilmu kiri (perdukunan), pernah ke dukun, mengambil jimat-jimat dari dukun?”. Kalau pada saat itu masih ada jimat di badan langsung di suruh lepaskan dan dijelaskan juga bahwa yang Haq dengan yang Bathil tidak akan pernah bertemu. Satu kali kita mendatangi dukun/paranormal maka 40 hari ibadah tidak diterima Tuhan. Itulah dasar Tauhid dalam Tasawuf yang saya pelajari. Kemudian banyak sekarang praktek perdukunan dicampur adukkan dengan ajaran Agama termasuk dengan ilmu Tasawuf agar bisa diterima masyarakat inilah yang merusak ilmu Tasawuf sehingga masyarakat menganggap Tasawuf identik dengan kesaktian dan gaib semata. Jika anda ingin menekuni sebuah Tarekat selidiki terlebih dahulu nama Tarekatnya apakah termasuk kedalam salah satu Tarekat muktabarah dan apakah Mursyidnya mempunyai silsilah (tali keguruan) yang bersambung sampai ke Rasulullah SAW. Dua hal ini sangat penting sekali agar kita tidak terjebak ke jalan yang keliru.

Lalu bagaimana dengan kami yang belum mengenal Allah?

Teruskanlah ibadah, karena sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan tidak ada satupun diantara kita yang berhak mengklaim tentang kebenaran. Seringlah bershalat Tahajud bermohon kepada-Nya agar dipertemukan dengan orang yang bisa mengantarkan kepada-Nya. Orang yang belum bertemu dengan Wali Mursyid adalah orang disesatkan Tuhan (maka segeralah menjadi orang yang diberi petunjuk agar rahmat dan karunia-Nya senantiasa mengalir selebat hujan dari langit). Carilah metode yang bisa mengantarkan langsung kepada-Nya, bersungguh-sungguh dijalan itu. Pastilah mendapat kemenangan dunia dan akhirat!

Tulisan ini semoga dapat menjadi obat dan membangunkan kita dari ketidaksadaran untuk segera dengan sungguh-sungguh mencari dan keluar dari keterbatasan.

Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim membukakan hijab siapapun yang membaca tulisan ini.

Amin Ya Rabbal Alamin…

132 Tanggapan

  1. @iseng

    Islam kan mengatur seluruh sendi kehidupan manusia lahir bathin dari yg terkecil s/d yg terbesar, berarti semua lapisan masyarakat hrs mengetahuinya siapa sih sebenarnya pemimpin Islam yg sesuai dgn perintah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW?

    Yah, sy mengerti dan paham kapasitas bang Iseng dgn pemahamanya yg mempunyai Mursyid yg penuh rahasia itu. Ma’af yah sy telah mengganggu ketenangan abang.

    Sy juga berterima kasih krn abang telah berbagi waktu dgn sy utk sharing, mohon ma’af apabila ada kesalahan.

    Salam damai

  2. @aris….:
    bang aris saya sejujurnya mengatakan bahwa masalah siapa waliyamursida saya juga belum kenal dasn tau pastinya, .. yang saya pahami baru sebatas teori/metode saja. semoga kita diperkenankan nantinya tuk mengenal KEKASIHNYA.

    karena domisili bang aris di jawa coba cari guru besar Naqsyabandiah yang saya sebutkan namanya diatas….. saya dengar beliau mempunyai surau besar di bintaro…..kalo saya mengetahui beliau dari teman saya yang mengirimkan beberapa cd fatwa beliau ……..tuk berkunjung kesana saya belum sempat bang aris karena pekerjaan dan domisili saya di sulawesi selatan.

    bisa juga bang aris menanyakan kepada bang sufi muda karena guru beliau berasal dari satu guru juga. dengan nama yang saya sebutkan diatas….
    .
    semoga referal saya bermanfaat untuk pencarian anda.

    oh ya… apakah bang aris punya bloq juga?

    salam dalam rahmat bagi sekalian alam

  3. @aris:
    Klo menurut sy dgn akal dan iman manusia dapat mencapai kesempurnaan, krn dgn keduanya manusia dpt mengenal Allah SWT melalui sifat-Nya, nama-Nya, makhluk ciptaan-Nya dll.

    (jawab)
    benarlah perkataan akang diatas….tidak ada yang salah jika kita bertuhan dengan metode akal yang demikian . jangan beranggapan metode itu salah. hanya saja metode dari akal itu bukan ukuran mutlak tuk menjadi kebenaran apalagi menuju kesempurnaan karena akal dan rasa tidak mampu meciptakan iman yang sempurna dalam diri kita.

    iman.
    “tidaklah dikatakan beriman sebelum AKU uji” …kata ALLAH. iman itu bukan perasaan(rasa), bukan hasil pemikiran(akal) tetapi iman adalah sesuatu karunia yang berasal dari yang haq yang akan disalurkan / diberikan setelah kita melewati ujianNYA. ….

    maksud dari nabi khidir melarang musa AS bertanya adalah sebagai salah satu metode/cara mematikan pikiran dan perasaan (akal dan rasa) .inilah rahasia tuk mempelajari ilmu nabi khidir berdasarkan petunjuk ALLAH.

    tingkatan iman
    dalam perjalanan isra miraj kita ketahui maqam nabi ISa AS dilangit ketujuh dan maqam nabi musa dalam suatu riwayat dikatakan berada dilangit ke 3..(ada juga yang mengatakan langit ke 5 )

    secara ringkas maqam kita sesuai dengan pengenalan dan iman kita kepada ALLAH SWT…. apabila kriteria ibadah kita dan ujianNYA yang kita jalani sesuai dengan maqam langit pertama, maka dilangit pertama-lah rohani kita bersemayam. dan seterusnya. setiap maqam memiliki kriteria (Qada dan Qadar) dan ujian tertentu. semakin tinggi makam maka semakin tinggi pula ujian dan tingkatan iman yang diberikan kepada kita.

    ini menunjukan kesempurnaan beriman nabi musa yang tidak mampu melepas akal dan rasanya berada dibawah maqam nabi isa AS dan hanya mentok di langit ke 3/5.

    jika kita bandingkan dengan maqam rohani Rasulullah dan para waliyamursida yang bersanding dengan ALLAH (arsy) maka makam akal dan rasa terpaut sangat jauh sekali…

    sampai disini maka kembali kepernyataan awal :
    kesempurnaan karena akal dan rasa tidak mampu meciptakan iman yang sempurna dalam diri kita.
    termasuk dalam diri ini.

    wasssalam

  4. Ass.Wr.Wb.
    Makasih bang iseng pencrhannya,nyantol cnget nih dihati.
    Abis duduk ya bang,cerah sekali,kayak hujan turun.
    Salam dari jawatimur.

  5. @gotengs:

    weits… abangku ini paling bisa deh bikin “kuda liar” di dalam diri jingrak2..hehehehe….

    tidaklah pantas jika ada setitikpun pencerahan dari saya….melainkan semuanya kembali kepada rasulNYA sebagai pembuka dan pemberi pencerahan dlm diri abang dan juga dirj kita2 termasuk diri saya pribadi.

    mohon doa selalu bersama dalam upaya mendukung khalifahNYA diatas bumi (akan ada hari2 dimana rahasia akan dibuka…)

    salam sayang
    dari makassar

  6. ILMU
    ‘al ilmu nuurun’
    H : ilmu itu bercahaya, yaitu yang cahayanya menerangi lahir hingga batin
    JAdi dengan adanya ‘terang’ ‘caang’ segala sesuatu akan terlihat jelas, segala sesuatu akan tersingkap rahasia-nya…

    Isi-nya ilmu :
    Al ilmu naafii’un, huwal ladzii fish shuduuri syai’an
    H : Yang namanya ilmu itu dapat melapangkan/membuka/’menjembarkeun’ diri.

    jadi apabila kita mempelajari ilmu ternyata ilmu itu belum dapat ‘ngajembarkeun hate’…. ya… sebaiknya kita kaji lagi sudah benarkah ilmunya… ataukan sudah sampai inti-nya itu ilmu…

    ilmu itu bukan hanya hak di propesor atau di orang-orang pinter akan tetapi bisa tumerap pada setiap diri yang dapat merasakan diri-nya menjadi ‘jembar’/lapang/nyaman…..
    atau dimana keadaan kita menjadi nyaman / tenang/ ‘muthmainnah’ setelah mempelajari suatu ilmu maka dapat dikatakan bahwa ilmu itu sudah ‘larap’ / menyatu…..
    (tolong di ‘loading’ ilmu ‘iman’ dan ‘islam’…. mangga diraksa ku nyalira naha parantos larap atanapi nuju ngalarapkeun atanapi parantos larap)…
    bila belum larap agar ditingkatkan usaha untuk memahaminya…
    bila nuju ngalarapkeun jangan pernah berhenti hingga berhasil…
    bila sudah larap… istiqomah-lah..

    Syarat nyiar ilmu
    Syaratnya nyiar ilmu / mencari ilmu itu ada 6 perkara :
    1. Dakaaa’in
    hartosna Cerdas
    2. Wa Hirsyin
    hartosna Kataji, kabita, hayang, ingin akan suatu ilmu, tidak dalam keadaan terpaksa melainkan dengan keikhlasan hati.
    3. Wa jihaadin
    hartosna semangat, bersungguh-sungguh, tidak mudah bosen dan tidak gampang putus asa…. (masak belajar iman sama islam putus asa ya… ^_^). Prinsip dimana tekun rajin pasti ada hasilnya…
    4. Wa Bulyaatin
    hartosna loba bekel (cukup bekalnya)… bekal yang termasuk utama dalam menjalankan ilmu adalah
    a. Sabar
    b.Tawakal
    c. Pasrah
    d. ikhlas
    5. Wa Irsyaadin wa istaadin
    hartosna kudu ka guru anu ngarti, maham kana hukum-hukum Al Qur’an anu nyata, anu sasuai sareng hukum-hukumNa Al Qur’an.
    Jadi laku lampahna eta guru teh sasuai sareng anu di carioskeun ku Al Qur’an
    6. walituz zamaani
    hartosna kudu panjang waktu, jangan dibatasi waktunya (masak belajar iman islam dari dunia hingga akhirat dibatas-batas waktunya.

    JAdi tegesna hasil dari ilmu ini harus ‘Ijaabun’ hartosna kudu ngadatangkeun pangartian, tiasa ngajembarkeun, manfaat…..

    terutama manfaat dari dunia hingga akherat…..

    manfaat dalam meningkatkan kadar dalam beribadah kepada Alloh ta’ala

    alhamdulillah sudah di jakarta lagi,salam wahai saudara2ku

  7. pakareba bung iseng……

    mhn maaf baru nongol lagi ,saya semalam baru nyampe jakarta lagi.rupanya makin rame saja bahasannya,maju teruuuus.imi iseng juga nih ,sesudah memahami apa yang bung isemg jelaskan di atas.ada satu pertanyaan ,berarti bung iseng sudah tahu wujudnya “manusia” apa bos wujudnya manusia? ,kita mulai dari pengenalan diri dulu, baru kita mengenal allohnya

    tabe pun ingsun

    budak angon

  8. bismillah…

    assalamualaykum..

    tahan nafsu hati,tahan nafsu amarah,tahan nafsu lidah…

    mari bersama dalam satu rel, yaitu

    La ilaha illallah… Muhammad Rosul allah…

    Amalkan yang wajib… Langgengkan yang sunnah…

    Berdoalah pada Alloh agar dilanggengkan,,,

    Karena dia Maha pembolak balik hati.

    Sementara Iblis selalu menggoda iman dan asyik dalam nafsu kita..

    Mintalah hati kita agar selalu padaNya…

    Ya Alloh Ya Alloh… YA Nur,,, YA Nur….

    Hamba sudah selayaknya menghamba bukan,,,,??

    Surga dan neraka bukan urusan kita… LAyaknya kita waktu lahir…

    Apakah dulu kita meminta umur sekian,,, pria atau wanita??

    Biarlah hamba menghamba… dengan apa adanya usaha hamba…

    Bukankah tujuan kita itu sama?? Allah semata??

    wassalamualaykum ^^

  9. @ budak angon:
    alhamdulillah baik2 aja bang..semoga demikian juga dengan abang dan keluarga .

    apakah wujud manusia itu??? ya sesuai dengan sangka hambaKU…. kata ALLAH. nah silahkan bang angon menggunakan paham bang angon mengenai wujud manusia. saya yakin bang angon sudah punya kriteria dan jawaban sendiri mengenai hal itu.

    kalo boleh saya-lah yang patut bertanya pemahaman bang Angon mengenai wujud manusia .semoga berkenan memberikan keterangan

  10. @isworo…:

    jangan ditanggapi terlalu serius bang is… dari pada ngayal yang bukan2 kan mending nulis koment di blog ini… skalian nyalurin nafsu dikit2..kasian juga kalo selalu dibelenggu …… hihihihihi…

    mat kenal dan salam satu tujuan tuk mengenal ALLAH

  11. beda keyakinan, ijin mapir..

    wujud manusia :
    ada kepalana,badanna,kakina,matana,hidungna,tanganna..

    hi..hi… sok bang angon bang heula sayang…lanjutkeun….

    oya
    kepulauan sunda besar memang ada, tp teteup pulaunya pulau jawa…he.he..bcanda ya

  12. mas is .
    salam kenal juga dari saya,sama jangan terlalu di ambil pusing saya sama bung iseng kan cuma iseng2 aja. kami tidak memakai nafsu/emosi .karena kami tahu batas2nya.saya jamin itu,secara sepintas memang kayak debat kusir sebenarnya kami ingin mengundang lebih banyak lagi saudara2 yang berminat menempuh jalan.berbagi cerita atau sharing lah bahasa sekarang.

    mas berkat trinitas

    salam kenal juga ,saya tidak pernah membeda bedakan agama apakah islam,nasrani,atau apapun ,karena saya menyadari saya aja belum benar bagaimana saya bisa menuduh orang lain ,pribadi saya sendiri aja salah,saya hanya berprinsip kita manusia,yang saya maksud bukan itu ,itu mah badan /jasad kasar dengan bagian2nya.yang saya maksud ” wujud manusia” karena kita harus mengenal diri dulu sebelum mengenal tuhannya, di si alkitab , surat MATIUS DAN KORINTUS ada perintah unuk mengenalnya( ketuklah daku maka akan aku bukakan pintuku,berjalanlah kau kepadaku maka aku akan lari kepadamu……dst|) coba saudaraku berkat trinitas baca lagi alkitabnya

    salam kangen sama bung iseng dan keluarga di makasar
    bung frekwensinya diturunin dulu,saya mah paham ama karakter orang sana yang lain belum tentu kasian yang lainnya disangkanya kita …….he……he………jawabannya saya simpan dulu ,bung iseng tanya 2 dulu lah…,klo engak ada baru saya jelaskan .tks

    mohon maaf bila ada kata menyayat rasa
    mohon maaf bila ada ucap menusuk kalbu
    mohon maaf bila bahasa yang tak biasa karena kurangnya tata
    tiada niat tuk menghujat. boro2 pinter bener bodo aja saya kagak punya,

    salam rohmaatan lil alamien

    tabe pun ingsun
    ]
    heulang

  13. Salam damai,

    bagai menemukan oase di tengah gurun…

    mantap, bos heulang, karena anda telah mencuplik kitab suci, ini sy petik jg yg lainnya :

    Ex 33:11
    The Lord would speak to Moses face to face as a man speakes with his lord

    emang dari jaman buhun sampai kini,masalah mengenal Tuhan sangat menarik,bikin penasaran, sampai mati penasaran..ada lagunya lagi..

    yg sanggup sy simpulkan dari diskusi saudara2 di atas :
    -apa iya bisa menemukan allah
    -siapa yg dikasihiNya yg bisa mengenalkanNya ( bhs anda wali mursyida)
    -tuk menemukan allah, maka kenalilah manusia

    siapakah manusia itu ? wujudnya yg mana..

    pertanyaannya kelihatan sepele, tp trus terang runit jg,

    klo dibilang Sesuai Sangka HambaKu (jawaban sdr iseng ), maka seolah2 manusia tsb blom kenal dirinya sendiri sehingga tdk bisa memperkenalkan diriNya, disisi yg lain katanya perlu mati untuk mengenal…. allah, jd klo mati yg dikenal bkn dirinya sendiri tapi allahNya,

    wah njelimet jg ya bos….mana aku mana AKU,

    klo dibilang jasad nya, td bos heulang udah nyalahkeun, ya emang sih

    manakah yg dibilang Sangka HambakU
    mana yg dibilang Diri manusia-ku
    mana yg dibilang Allah-Ku
    manakah Aku

    wah..lanjut dah bos…umpannya sudah sy makan nih..

    Salam damai….

  14. @berkat trinitas….:

    mat kenal juga ama bos berkat…

    apa iya bisa menemukan allah?????
    Yang saya dan bang heulang diskusikan itu ada juga perintah TUHAN MELALUI MULUT YESUS KRISTUS yaitu tawarikh 1 dan 2 yang menyuruh manusia tuk mencari wajah dan kerajaan ALLAH DISINI…DIBUMI INI BUKAN DIAKHIRAT…….

    siapa yg dikasihiNya yg bisa mengenalkanNya ( bhs anda wali mursyida)??????
    kita ambil contoh YESUS kristus adalah penunjuk jalanNYA/Rasul/utusan. makanya yesus berkata: “tidak akan sampai kepada bapaKU tampa melalui AKU”…..
    jadi setiap zaman selalu saja ada satu manusia memiliki HAQ mutlak sebagai pengantar/utusan untuk sampai ke pada tuhan.(gak adil dong tuhan kalo dizaman kita2 ini tidak ada manusia lagi yang seperti itu………) setiap yang satu berlindung/meninggal maka ada lagi satu penggantinya. dan itu hanya satu gak lebih gak kurang. makanya yang kenal ALLAH dan jalan itu hanya satu…..

    Siapakah manusia itu wujudnya yang mana?????
    kira2 mayat itu kalo kita cincang masih bisa berteriak gak ya???….. masih bisa lari gak ya??…nah ini berarti sumber gerak/kehidupan itu bukanlah yang terbuat dari tanah berupa jasad/zahir…..tapi sesuatu yang tidak dimiliki oleh mayatlah yang menciptakan gerak,merasakan sakit……yang biasa kita sebut batin.

    tetapi menganggap batin dan segala atributnya saja yang disebut manusia adalah naif adanya….. dikatakan manusia karena terdiri dari WUJUD ZAHIR DAN BATIN….kalo hanya batin bukan manusia namanya.. (kalo mau rincinya batin itu masih bisa dikategorikan lagi…tapi masalah itu ya tanyakan sama akang heulang…. dia tuh suka mencari tau masalah detil2 …gak puas kalo cuman keterangan sebatas kata “lahir dan batin” saja…….tul gak kang??)

  15. @ kang sayang heulang..:
    pa kabar akang heulang….jadi kangen, rindu dan tambah sayang aja makanya mau gontok2an ama akang lagi neh biar ALLAH gak cemburu sama akang……hihihihi..

    jangan salah paham akang…tidak ada setitikpun saya tertarik tuk mengetahui wujud manusia….yang merupakan landasan akal dan rasa.. palagi berpaham kenal diri maka kenal tuhan…..yang ujungnya bertuhan kediri………..kalau tidak ketemu MURSYID yang HAQ
    ..
    untuk membuktikan bahwa diri kita siap berkorban demi ALLAH maka ikutilah dan carilah utusanNYA didunia….. disanalah pengorbanan kita laku dan nilainya sama dengan berkorban kepada ALLAH.. tidak perlu belajar ilmu huruf dan maqam apa yang ada di dalam badan manusia, mulai dari kepala sampai kaki….tidak ada jaminan disitu….. karena semuanya melalui hisab,…..hanya SYAFAAT_LAH yangb bisa melepaskan kita dari Hisab/Timbangan ALLAH..

    gambaran manusia yang haus akan ilmu ketuhanan …….dicarinya terus ilmu itu….semakin dalam semakin ditemukannya ilmu itu semakin banyak….setiap dia menemukan ilmu ..maka akan muncul ilmu baru (…hehehehehe….ALLAH menciptakan ilmu yang tidak terbatas dan tak pernah habis jika terus dicari …..) yang akhirnya dia tidak sadar… sudah puluhan tahun diperdaya Nafsu tuk menekuni ilmu dan lupa mencari WASILAH/Manusia utusan ALLAH…mau mencari disaat itu tulang udah keropos…..akhirnya tinggalah dia berharap agar dengan ilmu dan ibadahnya bisa menyelamatkan dirinya dari azab ALLAH.

    sungguh perjudian yang tidak pantas….. seandainya waktu berpuluh tahun digunakan untuk mencari utusan ALLAH…maka itu lebih berarti …..

    “apabila engkau datang berjalan aku datang berlari…”
    kalimat ini laku apabila kita datang berjalan ke utusan maka ALLAH akan membimbing rasulnya tuk berlari menghampiri kita maka samalah dengan ALLAH menghampiri kita………..bukan diartikan kita berjalan ke ALLAH….ALLAH sendiri berlari menghampiri kita……mustahilllah Allah mau repot2 seperti itu…buat apa dia milih hamba/utusan/pembantunya kalo dia harus turun langsung….????

    semoga umur kita tidak habis hanya membahas ilmu pencipta dan ciptaannya tanpa pernah bertemu dengan utusan sebagai satu2NYa pembuka pintu kepadaNYA…………..

  16. @ heulang
    damang kang,sedang berkelana kemanakah akang, sahabat saudara menanti disini

  17. jika boleh, “menuhankan”,
    kepercayaannya kepada Tuhan, yang menganggap kepercayaannya itu sebagai
    satu-satunya yang benar dan menyalahkan kepercayaan orang lain. Orang
    seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan
    yang sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang
    lain yang dianggapnya salah. Ibn al-‘Arabi menyebut Tuhan yang
    dipercayai manusia

    “Tuhan kepercayaan” (ilah al-mu’taqad), “Tuhan yang dipercayai”
    (al-ilah
    al-mu’taqad), “Tuhan dalam kepercayaan” (al-ilah fi al-i’tiqad), “Tuhan
    kepercayaan” (al-haqq al-i’tiqadi), “Tuhan yang dalam kepercayaan”
    (al-haqq al-ladzi fi al-mu’taqad), dan “Tuhan yang diciptakan dalam
    kepercayaan” (al-haqq al-makhluq fi al-i’tiqad).

    Kata i’tiqad data mu’taqad, yang dalam tulisan ini diterjemahkan dengan
    “kepercayaan”, berasal dari akar ‘-q-d, yang berarti merajut, membuhul,
    mengikat; mengikatkan dengan sebuah buhul; memasang, mengumpulkan,
    menggabungkan, mengunci; mengecilkan, menyempitkan, mengerutkan;
    mengarahkan, memusatkan; melengkungkan, melekukkan; bertemu, berkumpul;
    mengadakan pertemuan, mengadakan rapat, mengumpulkan; membuat
    perjanjian, mengikat kontrak. Kata i’tiqad sendiri, secara literal
    (harfiah) atau figuratif (majazi), berarti menjadi terikat atau
    tersusun
    dengan kuat. Maka i’tiqad, “kepercayaan”, adalah suatu “ikatan” yang
    diikat dengan kuat dalam kalbu atau pikiran, sebuah keyakinan bahwa
    sesuatu adalah benar. Bagi Ibn al-‘Arabi, “kepercayaan” adalah sebuah
    (peng)ikatan (binding) dan (pem)batasan (delimitation) Wujud Yang Tak
    Terbatas, Wujud Absolut (al-wujud al-muthlaq), yang dilakukan oleh dan
    berlangsung dalam subyek manusiawi.

    Kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya ditentukan dan diwarnai oleh
    kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas pengetahuan itu tergantung
    kepada “kesiapan partikular” (al-isti’dad al-juz’i) masing-masing
    individu hamba sebagai bentuk penampakan “kesiapan universal”
    (al-isti’dad al-kulli) atau “kesiapan azali” (al-isti’dad al-azali)
    yang
    telah ada sejak azali dalam “entitas-entitas permanen” (al-a’yan
    al-tsabitah), yang merupakan bentuk penampakan diri (tajalli) al-Haqq
    (yaitu Tuhan). Tuhan menampakkan diri-Nya kepada hamba-Nya sesuai
    dengan
    kesiapan sang hamba untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan yang
    akhirnya “diikat” atau “dibatasi” oleh dan dalam kepercayaannya sesuai
    dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian, Tuhan yang
    diketahui oleh sang hamba adalah identik dengan Tuhan dalam
    kepercayaannya. Dapat pula dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya
    adalah identik dengan kepercayaannya.

    Tuhan memberikan kesiapan (al-isti’dad), sesuai dengan firman-Nya, “Dia
    memberi segala sesuatu ciptaannya” [Q. s.Thaha/20:50]. Maka Dia
    mengangkat hijab antara Dia dan hamba-Nya. Sang hamba melihat-Nya dalam
    bentuk kepercayaannya; jadi Tuhan adalah identik dengan kepercayaannya
    sendiri. Baik kalbu maupun mata tidak pernah melihat sesuatu kecuali
    bentuk kepercayaannya tentang Tuhan. Tuhan yang ada dalam kepercayaan
    itu adalah Tuhan yang bentuk-Nya diliputi oleh kalbu; itulah Tuhan yang
    menampakkan diri-Nya kepada kalbu sehingga Dia dikenal. Maka mata tidak
    melihat selain Tuhan kepercayaan.163 “Tuhan kepercayaan” adalah gambar
    atau bentuk Tuhan, atau pemikiran, konsep, ide, atau gagasan tentang
    Tuhan yang diciptakan oleh akal manusia atau taklidnya. Tuhan seperti
    itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya,
    Zat-Nya, tetapi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia sesuai dengan
    kemampuan, pengetahuan, penangkapan, dan persepsinya. Tuhan seperti itu
    adalah Tuhan yang “ditempatkan” oleh manusia dalam pemikiran, konsep,
    ide, atau gagasannya dan “diikat”-nya dalam dan dengan kepercayaannya.

    “Bentuk”, “gambar”, atau “wajah” Tuhan seperti itu ditentukan atau
    diwarnai oleh pengetahuan, penangkapan, dan persepsi manusia yang
    mempunyai kepercayaan kepada-Nya. Apa yang diketahui diwarnai oleh apa
    yang mengetahui. Dengan mengutip perkataan al-Junayd, Ibn al-‘Arabi
    berkata: “Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya” (Lawn al ma’
    lawn ina’ihi). Itulah sebabnya mengapa Tuhan melalui sebuah hadits
    qudsi
    berkata: “Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku” (Ana ‘inda
    zhann ‘abdi bi).164 Tuhan disangka, bukan diketahui. Dengan kata lain,
    Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuannya. Tuhan
    tidak diketahui dan tidak dapat diketahui. Menarik untuk memperhatikan
    lanjutan firman Tuhan dalam hadits qudsi yang dikutip ini, yaitu: “Maka
    hendaklah ia [sang hamba] bersangka baik tentang Aku” (Fal-yazhunn bi
    khayran).
    Maka berhati-hatilah agar anda tidak mengikatkan diri kepada ikatan
    (‘aqd) [yaitu kepercayaan, doktrin, dogma, atau ajaran] tertentu dan
    mengingkari ikatan lain yang mana pun, karena dengan demikian itu anda
    akan kehilangan kebaikan yang banyak; sebenarnya anda akan kehilangan
    pengetahuan yang benar tentang apa itu yang sebenarnya. Karena itu,
    hendaklah anda menerima sepenuhnya semua bentuk
    kepercayaan-kepercayaan,
    karena Allah Ta’ala terlalu luas dan terlalu besar untuk dibatasi dalam
    satu ikatan tanpa ikatan lain, Dia berkata: “Kemana pun kamu berpaling,
    di situ ada wajah Allah”, [Q 2:115] tanpa menyebutkan arah tertentu
    mana
    Teologi apofatik, atau mistisisme apofatik, adalah suatu cara berpikir
    atau aktivitas mental yang digunakan oleh banyak mistikus atau Sufi
    untuk menempuh perjalanan menuju Tuhan dan sekaligus untuk menyuarakan
    protes keras terhadap kelancangan dan keangkuhan para teolog dan para
    filsuf yang menganggap bahwa mereka mempunyai konsep, ide, atau gagasan
    tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diri-Nya. Teologi apofatik adalah
    peringatan bagi orang yang mereduksi Tuhan menjadi sesuatu yang
    rasional
    belaka. Teologi apofatik menunjukkan bahwa orang yang memandang bahwa
    dengan nalarnya ia mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Tuhan
    adalah orang yang membatasi Tuhan dalam bentuk khusus menurut
    pengertian
    yang ditentukan oleh akalnya. Padahal Tuhan tidak dapat dibatasi.
    Bentuk
    Tuhan yang ditangkapnya adalah bentuk yang dicocokkan dengan “kotak”
    akalnya. Ia menolak bentuk Tuhan yang tidak cocok dengan bentuk dan
    ukuran “kotak” akalnya. Ia menyalahkan orang lain yang mempercayai
    Tuhan
    dalam bentuk lain. Ia tidak menerima apa pun sebagai kebenaran jika
    bertentangan dengan akalnya. Ia telah mempertuhankan akalnya. Orang
    seperti ini, kata Ibn al-‘Arabi, adalah “hamba nalar” (‘abd nazhar),
    bukan “hamba Rabb” (‘abd rabb).

  18. SALAHKU, SALAHMU, SALAH KITA SEMUA….
    BENARKU, BENARMU, BENAR KITA SEMUA…
    NGACOKU, NGACOMU, NGACO KITA SEMUA…

    LIEUR….LIEUR….
    Kebablasan ieu mah!!! Lalawora kacida!!!

  19. “Yang tidak ada” mana mungkin bisa mengenal “Yang Maha Ada”..
    “Yang Maha Ada” mengenali “Yang Maha Ada”..
    Sandiwara..

  20. than aan memberikan yang terai buat kita

  21. amin ya robbal alamin

  22. [...] TUHANKU TUHANMU TUHAN KITA [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 14.594 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: