Napak Tilas Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc

ayah-ymm

Prof Dr. H. S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc

Riwayat hidup Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc berikut menurut saya sangat lengkap yang di tulis oleh Anwar Rangkayo Sati saksi hidup dan merupakan murid sekaligus menantu dari Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi dan di kemudian hari  Beliau juga  mengakui S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc sebagai guru nya . Ayahanda Guru merupakan panggilan dari murid-murid Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc kepada Beliau dan Nenek Guru adalah panggilan murid-murid Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc kepada Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi. Tulisan ini di tulis pada tanggal 08 Desember 1986, tentu saja semasa Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc  masih hidup. Beliau berlindung kehadirat Allah pada tanggal 9 Mei 2001 dan di makam kan di Surau Qutubul Amin Arco, Jawa Barat.

Tulisan ini merupakan kiriman dari  Saudara R.Darmawan <

rodhar76@gmail.com>, saya ucapkan terimakasih atas kemurahan hatinya dan tulisan ini pertama sekali disampaikan oleh Bapak Anwar Rangkayo Sati pada acara hari Guru ke-70. Tulisan ini telah saya sempurnakan setelah saya cocokkan dengan keterangan langsung dari Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc, Bapak Anwar Rangkayo Sati dan Bapak Zyauddin Sahib yang hadir pada hari Guru ke-70 tanggal 20 Juni 1987 di Surau Darul Amin  Medan.  Agar pembaca tidak bosan maka tulisan ini saya bagi menjadi dua bagian dan tulisan ini menurut saya merupakan tulisan terlengkap tentang sejarah ber guru Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc. Namun demikian jika ada kesalahan dan kekeliruan silahkan memberikan kritik di komentar atau kirim ke email : sufimuda@gmail.com.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk murid-murid Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc dan juga untuk seluruh pembaca Sufi Muda:

 

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM

 

Dengan terlebih dahulu mengucapkan Astaghfirullah al’aziim yang sedalam-salamnya, serta membaca Al Fatihah dan Qulhu atau surat Al Ikhlas yang dihadiahkan kepada rohaniah silsilah Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah serta diiringi pula dengan shalawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, maka saya beranikan diri untuk menulis risalah yang saya anggap sangat berharga ini, untuk memnuhi permintaan dari saudara-saudara seperamalan saja yang diberi judul NAPAK TILAS…

Dengan tidak melupakan sifat ’ubudiyah atau sifat kehambaan, hina, papa, daif dan lemah saya pandang diri saya sekecil-kecilnya sehingga menjadi nol kosong melompong yang menurut hemat kami tidaklah bernilai sebesar rambut dibelah tujuh pada sisi Allah SWT, Rasul dan Aulia-Nya. Sangat miskin hatinya daripada ilmu-ilmu dan amal dan jauh sekali daripada kesempurnaan adab yang menjadi pokok utama di dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.

Dikarenakan oleh hal-hal yang saya uraikan di atas dengan penuh kerendahan hati, terlebih dahulu saya memohon maaf yang sebesar-besarnya keharibaan Ayahanda Guru, sekira tulisan kami ini tidak berkenan di hati Ayahanda Guru, tidak tepat sasarannya, kurang lengkap keterangannya dan lain sebagainya, karena maklumlah sesuai pula dengan pepatah orang tua kita ”Dek Lamo Lupo, Dek Banyak Ragu”

Sesuai dengan judul Risalah ini, maka saya mulailah menguraikan apa-apa yang langsung saya ketahui dan mendengarkan sebagai berikut:

Pada tahun 1947 yang bulan, hari dan tanggalnya tidak teringat lagi, Nenek Guru H.SS Muhammad Hasyim Al Khalidi bersama saya (Anwar Rangkayo Sati) sebagai murid atau Khadam beliau, berangkat dengan bus umum dari Sawah Lunto ke Bukit Tinggi dengan maksud dan tujuan menemui salah seorang murid beliau yang tergolong intelek yaitu Sdr. Zyauddin Sahib, jabatannya sebagai kepala kantor pos besar di Bukit Tinggi.

Bahwa Sdr. Zyauddin Sahib pada waktu itu mendapat musibah, mertua lelaki beliau meninggal dunia dan jenazahnya dibawa ke rumah tempat tinggalnya Sdr. Zyauddin Sahib di lorong Saudagar No. 46 A pasar Atas bukit tinggi. Jadi kedatangan YMM Nenek guru memperlihatkan hati yang duka, muka yang sabak turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa diri Sdr. Zyauddin Sahib.

Sdr. Zyauddin Sahib jauh sebelumnya telah lama berkenalan dengan Bp. Kadirun Yahya M.A, guru SPMA dan bertempat tinggal di Aur Tajungkang Bukit Tinggi. Di samping jabatan beliau sebagai guru SPMA, beliau pun merangkap sebagai perwira menengah dengan pangkat Mayor pada komandemen Divisi IX Banteng Sumatra bagian persenjataan dan kami melazimkan memanggil beliau waktu itu Pak Mayor. Diangkatnya beliau sebagai perwira menengah bagian persenjataan dikarenakan beliau adalah ahli kimia. Sekarang beliau telah memperoleh gelar dan untuk lebih lengkapnya disebut Prof. Dr. Haji Saidi Syekh Yahya Muhammad Amin. Dalam kesempatan beberapa hari Nenek guru berada di rumah Sdr. Zyauddin Sahib, beliau mengajak teman beliau yaitu Bp. Kadirun Yahya MA bertemu muka dengan Nenek Guru dan kesempatan baik ini dimanfaatkan oleh beliau dan beliau berulangkali datang berbincang-bincang dan berceramah kaji tasawuf dengan Nenek Guru.

 

Ayahanda Masuk Tarekat

ayah-ymm04Pada suatu hari, kalau kami tak salah bertepatan dengan petang Kamis malam Jum’at Sdr. Zyauddin Sahib memohon kepada Nenek Guru berkenan mengadakan wirid tawajuh pada hari tersebut. Permintaan Sdr. Zyauddin Sahib diperkenankan oleh Nenek Guru. Lalu beliau dengan segera menemui teman-temannya mengajak datang ke rumahnya untuk ikut bertawajuh. Teman-teman yang ditemui:

1.      Sdr. Ghulam Gaus yang menghubungkan Sdr. Zyauddin Sahib dengan  Nenek Guru di rumah Ibu Saimah di Bukit Tinggi Apit No. 13 Bukit Tinggi

2.      Bp. Kadirun yahya MA

Selesai shalat Isya’ yang langsung diimani oleh Nenek Guru, maka tawajuh pun segera akan dimulai. Sdr. Ghulam Gaus tidak lagi datang dan hadir hanya kami 4 (empat) orang, yaitu Nenek Guru, saya sendiri (Anwar Rangkayo Sati), Zyauddin Sahib dan Ayahanda Guru.

Anehnya Ayahanda Guru belum lagi dibaiat masuk Thariqat Naqsyabandiyah, telah diizinkan ikut bertawajuh dan sebelum tawajuh dimulai, saya bisikkanlah dahulu secara ringkas sekali kepada Ayahanda Guru apa yang akan diamalkan selama bertawajuh.

Selesai bertawajuh yang lamanya + setengah jam, lalu Ayahanda Guru menyampaikan perasaan atau pengalaman yang beliau alami selama bertawajuh tersebut kepada Nenek Guru, lalu Nenek Guru menjawab dengan singkat dan padat : ”Masuk Thariqat …!”.

Saya jadi bertanya-tanya di dalam hati saya, mengapa Ayahanda Guru belum lagi dibaiat masuk Thariqat Naqsyabandiyah kok sudah diijinkan ikut tawajuh. Sedangkan selama ini belum pernah kejadian. Rupanya kasus pada Ayahanda Guru ada keistimewaan dari Nenek Guru. Tentu ada hikmah yang terkandung, bak pepatah mengatakan : ”Kalau tidak ada berada, tidaklah tempua bersarang rendah”.

Akan saya tanyakan langsung kepada Nenek Guru, saya takut kalau-kalau salah menurut adab, lalu saya tafakkur dan merenungkannya secara mendalam. Akhirul kalam … berkat syafaat Nenek Guru, terbukalah hijab saya dan saya bacalah yang tersiratnya, apa yang dibalik keistimewaan yang diberikan Nenek Guru kepada Ayahanda Guru. Nenek Guru berkata kepada Ayahanda Guru, ”Kapan saja anak datang untuk bersuluk akan saya layani walaupun Cuma satu orang” dan janji itu Beliau penuhi di kemudian hari ketika Ayahanda Guru pertama sekali ikut suluk

Kesimpulannya adalah sbb :

Kedatangan Nenek Guru ke Bukit Tinggi secara lahiriah menemui Sdr. Zyauddin Sahib yang sedang mendapat musibah, tetapi secara hakikinya bertemu dan menemui salah seorang yang bakal menjadi ulama intelek, ahli sufi, besar dan ulung, yang lengkap ilmu pengetahuannya baik dunia maupun akhirat yang akan menjadi penyambung, penerus, dan pewaris dari silsilah Tharikatullah ’Ubudiyah Naksyabandiyah Khalidiyah yang berpusat di Jabbal Qubaisy Mekkah yang cocok pula dengan jamannya, yaitu zaman mutakhir, zaman teknologi modern yang akan menjadi ikutan bagi para mahasiswa, para sarjana, para intelektuil, para pejabat pemerintah baik sipil maupun ABRI, dan lain-lain. Orang tersebut tak lain adalah Ayahanda Guru Prof. Dr.H.SS. Kadirun Yahya MA, Msc, Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi Medan.

Tidaklah berkelebihan rasanya saya sampaikan dalam risalah singkat ini, keistimewaan-keistimewaan lainnya yang diberikan oleh Nenek Guru kepada Ayahanda Guru, untuk lebih menguatkan hasil renungan saya tersebut di atas, dan keistimewaan-keistimewaan lainnya tersebut akan menyusul pada lanjutan risalah ini.

Pada tahun 1947 itu juga setelah Nenek Guru kembali ke Sawah Lunto, datanglah Ayahanda Guru ke rumah Ibu Saimah di Bukit Apit No. 13 Bukit Tinggu untuk masuk thariqat. Ibu Saimah sekarang sudah almarhum (wafat tgl. 21-12-1985) adalah keponakan kandung Nenek Guru. Pada waktu sebelum Nenek Guru naik haji ke Mekkah tahun 1918 dan dibuang ke Boven Digoel tahun 1928-1932, almarhumah Ibu Saimah selalu berada di samping Nenek Guru dan ke mana saja Nenek Guru bepergian selalu dibawa dan beliau bertemu dengan Ompung Hutapungkut (Maulana H. SS Sulaiman) Guru Nenek Muhammad Hasyim dan Ayah Nenek Syekh Muhammad Baqi. Ayahanda Guru masuk thariqat dipimpin langsung oleh kalifah Nenek Guru, yaitu Inyiak Gadang (Almarhum). Alm Inyiak Gadang semasa hayat beliau, di samping sebagai khalifah Nenek Guru, juga sebagai seorang pendekar ulung yang sangat ditakuti dan disegani oleh masyarakat pada waktu itu, karena Nenek Guru juga seorang pendekar ulung, jago silat kawakan yang tak ada tolok bandingnya.

Setelah selesai Ayahanda Guru masuk thariqat, sesuai pula dengan situasi keamanan waktu itu, dengan bercokolnya pemerintah kolonial Belanda di kota Padang dan membunuh wali kota Padang Bagindo Aziz Chan, di samping kesibukan Ayahanda Guru dengan tugas-tugas Beliau utama sekali sebagai perwira menengah bagian persenjataan maka secara zahir Beliau boleh dikatakan belum dapat berulang menemui Nenek Guru ke Sawah Lunto.

Pada waktu itu Pemerintah Kolonial Belanda menduduki kota Padang dan sesuai dengan perjanjian Linggarjati, daerah pendudukannya hanya sampai dekat lintasan kereta api di Tabing + 7 km dari pusat kota Padang. Kemudian Belanda mengkhianati perjanjian Linggarjati dan bulan Juli 1947 dibunuhnya walikota Padang Bagindo Aziz Chan dan mereka melakukan serangan lagi sampai diadakannya pula perjanjian yang kedua yang disebut perjanjian Renville dan daerah pendudukannya berbatas di Batang Tapakis Kec. Lubuk Alung Kab. Padang / Pariaman.

Karena Belanda sangat berhasrat sekali hendak mengulangi kembali penjajahannya di bumi persada Indonesia yang kita cintai ini, maka kembali Belanda berkhianat melakukan serangan terhadap RI yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 yang disebut pada waktu itu Agresi Belanda Kedua yang dimulai pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 dan Belanda waktu itu telah mendarat dengan pesawat Catalina di Danau Singkarak.

Pada hari Kamis tanggal 23-12-1948 dengan mengambil langkah pada 08.30 pagi WSU (sekarang jam 09.00) mulailah Nenek Guru meninggalkan kota Sawah Lunto bersama anak-anak dan istri dan salah seorang di antaranya termasuk saya, berdarurat ke daerah pedalaman RI yaitu ke Nagari Lunto Kecamatan Sawah Lunto Kabupaten Sawah Lunto (Sijunjung). Di negeri ini banyak pengikut Nenek Guru, di antaranya yang telah dituakan :

1.      Khalifah Jini Gelar Lenggang

2.      Khalifah Bakar Gelar Karib Sutan

3.      Khalifah H. Abd. Rauf

Ketiga Khalifah tersebut kenal baik dengan Ayahanda Guru dan sama-sama suluk pada suluk pertama Ayahanda Guru dengan Nenek Guru di Alkah Nenek Guru di Kubang Sirakuk Sawah Lunto tahun 1950.

Ayahanda Guru beserta keluarga meninggalkan kota Bukit Tinggi berdarurat ke daerah pedalaman RI dalam daerah Kabutapaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, dan Kabupaten Tanah Datar.

Menurut cerita yang saya dengar langsung dari Ayahanda Guru, bahwa Beliau selama berdarurat selalu suluk-suluk saja atau berkhalwat dan setiap tentara-tentara Belanda sampai ke tempat Ayahanda Guru, mereka hanya melihat hutan belukar saja. Begitu juga dari Nenek Guru saya dengar pula kalau tentara Belanda sudah sampai ke Pondok Nenek Guru, mereka melihat lautan yang sangat luas.

Memperhatikan kejadian-kejadian tersebut di atas, jelas bagi kita bahwa kedua Beliau-Beliau tersebut di atas adalah ahli/kekasih Allah SWT yang selalu dilindungi dan mendapat perlindungan dari Allah Yang Maha Kuasa, Maha akbar, Maha Agung, dan Maha Suci, begitu juga bagi mereka yang selalu berhampiran dan selalu kontak dengan Beliau akan selalu dilindungi dan mendapatkan perlindungan sesuai dengan fatwa Nenek Guru ”Barang dihampiri diperoleh”.

Selama tidak berjumpa dengan Nenek Guru, Ayahanda Guru sangat rajin mengamalkan zikir ismu zat karena memang hanya zikir itulah yang beliau terima dari Nenek Guru. Suatu saat Ayahanda Guru sampai ke sebuah surau tua dan disitu beliau beramal dalam waktu lama. Kebetulan juga di surau itu ada seorang syekh beserta 12 muridnya ikut berzikir disitu. Syekh tersebut berzikir di kubah sedangkan Ayahanda Guru berzikir di samping surau.

Kemudian Syekh tersebut meminta Ayahanda Guru memimpin suluk, tentu saja tawaran tersebut Beliau tolak secara halus karena memang saat itu Beliau tidak mengerti sama sekali tentang ilmu suluk. Ayahanda Guru berkata, ”Saya tidak berani, silahkan tuan musyawarahkan dengan  Guru saya (syekh Hasyim) kalau Beliau mengizinkan maka saya berani melaksanakannya”. Kemudian Syekh tersebut berkomunikasi secara rohani dengan Nenek Guru, 3 hari kemudian syekh tersebut datang dan berkata, ”udah boleh engku mudo, udah boleh!” 

Dalam suluk Syekh tersebut berkata, ”Hai engku mudo tolong tawajuhkan murid den ko (Hai anak muda tolong tawajuhkan murid aku ini)”. Pada waktu itu Ayahanda Guru belum lagi diangkat jadi khalifah bahkan suluk pun belum pernah sehingga Beliau bingung bagaimana harus melaksanakan sesuatu yang belum diajarkan. Akhirnya Ayahanda Guru menawajuhkan murid-murid Syekh tersebut namun karena seluruh energi zikir ditumpahkan maka seluruh yang ditawajuhkan itu pingsan. Selesai tawajuh Ayahanda Guru orang yang pingsan, ajaibnya seluruh yang pingsan sadar kembali. Pada waktu itu Ayahanda Guru masih berumur 33 tahun. Penomena ini sangat luar biasa, belum khalifah sudah menawajuhkan.

Kemudian rombongan syekh beserta murid-murid nya pindah ke kampung lain termasuk Ayahanda Guru ikut juga dan tersiarlah kabar akan diadakan suluk lagi, kebetulan saat itu datang bulan puasa maka berbondong-bondong orang kampung ikut suluk. Masyarakat kampung meminta Ayahanda Guru untuk menyulukkan mereka namun Ayahanda Guru tidak menerima permintaan itu dan Ayahanda Guru tinggal disebuah surau dan zikr sendiri. Kemudian orang kampung datang kembali kepada Beliau meminta untuk ikut suluk akhirnya Beliau penuhi dan pada saat itu banyak pula syekh-syekh yang datang ikut suluk dengan Beliau dan Para Syekh mengakui bahwa suluk yang dipimpin oleh Ayahanda Guru sangat luar biasa.

Bersambung…..

136 Tanggapan

  1. 1. Tangan Allah diatas tangan mereka ( QS.Al Fath, ayat 10) ( Wajah Allah diatas wajah mereka).
    2. Kalau mereka melihat, Aku matanya. (Hadist Qudsi, HR.Bukhari)
    3. Kalau mereka mengambil, Aku tangannya (Hadist Qudsi,HR Bukhari)
    4. Kalau mereka berjalan, Aku kakinya (Hadist Qudsi HR Bukhari)
    5. Kalau mereka digempur musuh, Aku lawannya (Hadist Qudsi HR.Bukhari)
    6. Rahmat-Ku Aku titipkan padanya untuk ditaburkankan pada Ummat Ku (HR Al Qudha’ie dari Abi said)

  2. Al Qur’an :
    Liman sya’a minkum ay yastaqim
    (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus (QS:Suraah At Takwir-28)
    Wa ma tasya’ una illa ay yasya allahu rabbul-a’lamin
    Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
    dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam (QS:Suraah At Takwir-29)

  3. assalamualaikum,
    saya sangat tersentuh dengan isi dari blok anda ini,bagaimana saya bisa belajar,bisakah anda memberitahukan tempatnya?bagaimana saya harus memulainya,

    semoga ALLAH menuntun saya betemu dengan kekasihnya,amiin ya ALLAH

  4. to saudara Dhimas radhitya ramadhan mungkin anda bisa kontak dengan adminnya,atau kepada abang Rinto Rian

  5. saya terpanah membaca risalah ini. smg bacaan ini mampu membuat saya tekun dan serius serta istiqomah dalam mengamalkan zikrullah yang telah saya terima. Syukron. smg Allah melimpahkan pahala yang tak terhingga kepada penulis dan yang bersangkutan dengan itu. amin

  6. bagi kita semua murid2Nya, yg penting sekarang!!! hari atau pagi ini, siapa insan kamil yg dikendaki Allah SWT pada saat ini yg ruhaninya berisikan : nurun ala nurin yg berbentuk manusia (Mursyid)

    itulah yg harus kita temui dan kita pakai sebagai wasilah agar semua ibadah (wirid, suluk, tawajuh dll) sampai ke “sisiNya”
    tanpa itu rasanya tidak mungkin sampai karena itulah hukum Allah (undang2 dunia dan akhirat)
    amin

    • Guru Mursyid itu harus ada “figure” nanusia biasa seperti kita2 dia makan dan minum, dia tidur , dia berkata kata, dia berkeluarga dan berketurunan, bahkan diapun bekerja dan berkarya serta bermasyarakat; dan akhirnya Sang Guru Mursyid pun suatau saat kembali ke Sisi Allah Ta ala karena tugasnya sudah selesai. Pertanyaannya masihkan Beliau menyandang tugas itu sampai sekarang setelah berpulang ke Rahmatullah? Dalam artian apakah Sang Nurun alanurin masih dititipkan kepada Beliau walau telah berlindung?

      Secara tradisi sejak Nabi dan Rasul Junjungan Kita, Sang Nur selalu diwariskan kepada Sang Penerus atas kehendak Allah Ta ala kepada yang Sang Penerus yang masih hidup dari ummat yang Dia kehendaki dengan cara hanya Dia sendiri yang tahu. Jadi sebenarnya, hanya yang ditunjuki saja yang tahu kepada “Siapa” Sang Nur telah diwariskan. Saya mengapresiasi langkah “Sufi Muda” yang telah menginisasiasi Blog ini tapi belum cukup menggugah untuk mencari “Who” is the next wasilah carrier. Kalau Alam Semesta Belum kiamat artinya masih ada yang berzikir “Seperti Nabi” yang sudah tentu isinya “Nur Muhammad” yang membawa segala amal ibadal Anak Cucu Adam kesisi Allah Ta ala.

      Saya takut “Sufi Muda” nantinya, mohon ma af, dipertanyakan Allah Ta ala dipengadilan Akhirat kelak kenapa tidak mengajak para pembacanya untuk berbuat demikian. Apa “Sufi Muda” sudah tahu siapa? Atau “Sufi Muda” termasuk amal ibadahnya yang sudah sampai “ke sisi Nya”? Kalau saya belum tahu dan rasa rasanya saya yang bodoh dan hina dina penuh dosa ini “masih jauh panggang dari api” saya masih memerlukan “figure” yang bisa saya gugu dan tiru untuk membimbing saya melalui proses persepsi dlm bentuk nasihat, kritik atau bahkan hardikannya yang dapat saya dengar melalui telinga, sy lihat tauladannya melalui mata saya kemudian saya rasakan kehalusan kulitnya yang sempat sy sentuh melalui jabatan/cium tangan kemudian masuk kedalam alam pikiran saya serta alam rasa (positive thinking and feeling) yang dapat mempengaruhi perilaku dalam tindak tanduk saya sehari (behaviour pattern) agar sy tetap dijalan yang lurus sehingga keberadaan Guru Mursyid spt sdh diuraikan diatas mutlak. Mohon ma af, saya mungkin masih sampai sini saja kaji. Hanya kepada Allah Ta ala kuserah segala galanya Dialah tempat aku memohon redho Nya.Amien

      • Ass.
        Ulasan yang menarik,.. tapi Sdr.Haluan pasti menyadari bahwa Dia adalah “Rahmatalil’a-lamin” (Menebar Rahmat dari seluruh alam),…
        (Lihat Al Qur’an)
        Rahmat di alam dunia~Rahmat pula di alam Barzah~dan Rahmat di alam akherat.
        Membekas CahayaNya ,…disetiap pada Para WaliNya (masing-masing) zamannya, bukan sperti cahaya matahari yg di tamsilkan dalam kisah Nabi Ibrahim,.. hanya terlihat diwaktu siang di kala malam ia menghilang.

        Renungkan-lah,.. Sesungguhnya Wali Allah, tiada bersedih hati (Lihat Al Qur’an),… Mengapa Wali Allah dianggap bersedih hati oleh (Firman) Allah,..? Beliau-beliau (itu) bersedih hati meninggalkan para murid-muridnya dgn ajaran-ajaran tauhid yang murni karena memang Beliau termasuk Wasilah Carier.

        Renungkan-lah,..Sesungguhnya Nabi Muhammad itu sampai saat ini masih ada menjawab jika ada umat (ini) yang bershalawat.

        Wass, sMoga catatan saya (ini) ada manfaatnya dan kpd Sdr.Haluan maaf-kan saya.

  7. sy slh satu murit ayah handa guru yang masi ismusat dan belum mengerti tolong bantu sy dari kasmir masuk tarekat naqsyabadi di bontang pemimpinx cabang samarinda namax q lupa ……..ada yg menganjal di hati saya ……apaka aku yakin ,tidak yakin , atauka q sebenarx takut dan pura pura tidak tidak yakin ….yg jelas q salut…..

  8. Rindu Ayah

  9. Bg.Kasmir, anda tetap dalam istiqomah berdzikir…dan datangi surau terdekat dengan kediaman anda,…sambil terus berharap dan berdo’a agar Allah SWT, memberikan petunjuk agar dimudahkan berdzikir dengan “metode” Ayahanda Guru.
    Wassalam.

  10. ya ALLAH limpahkanlah rahmat dankemuliaan yang tinggi dari sisimu kepa YM AYAHNDA GURUKU prof dokt khadirun yahya ahlilsilsilah yg kubawa ini.amiiin

  11. …terharu aku membaca riwayat napak tilas NENEK GURU (UNYANG ARCO) dalam bertarekat.., mohon ijin share bang sufi muda.., wassalam., usman nansyur (palu)

  12. illahi anta maksudi waridho kamatlubi

  13. Ab. Sufi Muda….., kami menunggu kisah lanjutannya..

  14. selamat hari Guru ,,,,

  15. kenapa kita tidak ikut zikir ala rasulullah SAW saja ???

  16. sungguh hebatnya kekuasaan allah, SWT ayah ananda bersyukur dapat mengenal sosok seperti ayah. salam ananda sehalus”nya nanda keharibaan ayahanda guru.
    terimakasih untuk yang membuat ini smua. terimakasih bang.

  17. aamiin,,,,,,,,

  18. ya ok mantap…..

  19. Mohon izin…n slm hormat tuk smua…

  20. mohon ampun saya AYAH…. mudahkan saya ikut suluk AYAH…
    sejak 2006 ga pernah suluk
    mohon bimbingan dan syafaat untukku AYAH.

  21. Reblogged this on iwansm.

  22. aku RINDU AYAH.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 13.955 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: