Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Nabi”

Kisah Nabi Sembuhkan Kebutaan Lewat Mimpi

jamaahDirinya sungguh tak menyangka bakal sembuh dengan cara istimewa. Semula orang laki-laki ini sehari-hari diliputi gelap karena kondisi matanya yang sama sekali tak dapat melihat. Dalam kebutaan tersebut, hanya satu dalam dirinya yang menyala sangat terang: semangat untuk sembahyang berjamaah.

Kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ mengisahkan, laki-laki buta itu biasa berjalan menuju masjid tanpa dipandu tongkat selayaknya penyandang tunanetra pada umumnya. Jatuh cintanya yang amat pada shalat jamaah telah meruntuhkan rasa khawatir akan celaka akibat sikap pasrahnya itu.
Namun musibah tak bisa ditolak. Suatu hari laki-laki tersebut terjatuh di jalan hingga kepalanya terluka. Perjalanan menuju masjid gagal. Ia harus dibawa kembali ke rumah untuk istirahat.
Baca selengkapnya…

Mengambil Berkah Dari Rambut Nabi

rambutnabi-1Di kalangan umat Islam menjadi hal yang biasa mengambil berkah dari sesuatu tempat atau suatu benda yang ada hubungannya dengan orang yang dekat dengan Allah atau Wali Allah. Tradisi ziarah ke makam wali sudah berlangsung sejak lama dan bertabaruk atau mengambil berkah dari benda-benda yang berhubungan dengan Wali Allah juga sudah dilakukan oleh umat Islam sejak lama. Tradisi ini bukanlah suatu hal yang di ada-adakan (bid’ah), tapi sudah ada sejak zaman Nabi. Umat di zaman Nabi sudah terbiasa mengambil berkah dari apa-apa yang berhubungan dengan Nabi, baik benda maupun bagian dari tubuh Nabi, salah satunya rambut.

Baca selengkapnya…

Muhammad SAW

“Wahai seluruh manusia, telah dalang kepadamu sekalian bukti kebenaran dari Tuhanmu (yakni Muhammad), dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (QS 4- 174).

Betapa Muhammad saw. telah menjadi bukti kebenaran. Beliau dilahirkan yatim dan dibesarkan dalam keadaaan miskin. Dia juga tidak pandai membaca dan menulis serta hidup dalam lingkungan yang terkebelakang. Namun demikian, tidak satu pun faktor negatif itu membawa dampak terhadap dirinya.
Baca selengkapnya…

Memaafkan Musuh

Perang Uhud meninggalkan kesan yang amat dalam bagi pribadi Rasulullah dan para sahabat. Tewasnya Hamzah bin Abdul Muthalib sang paman yang menjadi pembela utama mempunyai arti yang sangat besar. Sebenarnya bukan kematian itu yang menyedihkannya tetapi perlakuan yang diluar batas terhadap mayat pamannya oleh istri Abu Sufyan yang bernama Hindun. Perempuan itu benar-benar ingin melampiaskan balas dendamnya karena banyak di antara keluarganya yang terbunuh ketika perang Badar.
Baca selengkapnya…

WASILAH, Cara Berjumpa Dengan Allah

Semua manusia di dunia ini meyakini bahwa Tuhan adalah sosok yang Agung, Mulia, Sempurna dan segala gelar hebat di sandang oleh-Nya. Kalau di dunia ada Raja maka Tuhan adalah Maha Raja Diraja. Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia tersebut, sebegitu tingginya sehingga hampir semua manusia merasa mustahil untuk berjumpa denga-Nya. Hanya golongan tertentu saja seperti Nabi yang diizinkan untuk menjumpai-Nya. Bahkan dalam pandangan kelompok tertentu dalam Islam, bahkan Nabi sendiri tidak pernah berjumpa dengan Allah di dunia, dalil tentang pengalaman Musa ingin melihat Tuhan dijadikan dalil untuk membenarkan pendapat mereka. Kelompok Mu’tazilah bahkan lebih ekstrim lagi, mereka berpendapat bahwa Tuhan tidak bisa dilihat atau dijumpai baik di dunia maupun di akhirat.

Baca selengkapnya…

KONTAK ROHANI

Manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Diri rohani adalah inti daripada manusia. Diri rohani yang merupakan mitra dari diri jasadi (jasmani) dapat mengadakan kontak dengan diri rohani manusia lainnya, baik semasa masih sama-sama hidup atau sama-sama sudah mati atau salah seorang sudah mati dan yang lainnya masih hidup. Diri rohani tidak mengalami kematian, sedangkan yang mengalami kematian adalah diri jasadi.

Baca selengkapnya…

…ke TUHAN juga perlu duit!

Oleh : Abu Hafidzh Al Faruq

Saya tidak mengerti mengapa orang menjadi phobia dengan tasauf atau dunia kesufian. Sebagian informasi yang saya dapat bahwa ketakutan itu disebabkan oleh seolah olah sufi meninggalkan keduniawian untuk mencapai akhirat.  

Dari literatur yang saya baca secara harfiah sufi itu sendiri berarti kulit kambing atau pakaian dari kulit kambing (kalo salah mohon dikoreksi), yang dipakai oleh orang orang atau pengikut ajaran tasauf tempo dulu. Hal ini lebih disebabkan oleh kemiskinan mereka, karena hanya itu yang mereka punya lalu hanya itulah yang mereka pakai, bukan karena mempelajari tasauf harus miskin atau menjadi miskin sehingga mereka lebih tawadhu atau dianggap tawadhu. Image yang terbentuk oleh kondisi ketika itu terbawa sampai zaman sekarang. Saya kira itu tidak relevan karena substansi kesufian bukanlah pada ‘tidak memiliki apa apa’nya, melainkan lebih kepada kedekatan kepada TUHANnya. Mungkin kita masih ingat dengan sebuah sabda ‘beribadahlah kamu seakan akan kamu mati besok dan berusahalah kamu seakan akan kamu tidak pernah mati’. Itu adalah bukti bahwa kesufian sama sekali tidak berhubungan dengan kepapaan. Seorang saudara seperguruan pernah berujar ‘TUHAN hanya berserta orang-orang yang berduit!’. Oh.. begitu matrekah TUHAN? Kalau bersedia anda dalami sejenak mungkin anda juga akan setuju dengannya karena hal tersebut adalah sebuah interpretasi seseorang dengan bahasa kekinian sebuah sabda masa lampau yaitu ‘sesungguhnya kemiskinan itu mendekati kekufuran!’. 

Baca selengkapnya…

Post Navigation